Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Pintamu

Posted by permanas pada 2 Mei 2012

Jadi, kau menungguku?

Sejak lama
geliat rindu
geliat sepi menari-nari di mimpimu; ceritamu padaku.

Aku tahu dalamnya matamu;
ah, aku tahu bahasa tubuh itu.
Kau ingin aku membacanya.

Sendiri malam
Sendiri pembaringan
Sendiri waktu
Sendiri aku;
Katamu.

Bawa aku
Tuntun aku
Simpan aku (di hati)
Pintamu.

Ditulis dalam PUISI | Tinggalkan sebuah Komentar »

MENGEJAR DAN MIMPI

Posted by permanas pada 18 Januari 2011

Setiap saya bangun pagi saya selalu berhadapan dan berjuang untuk menarik kelopak mata saya, rasa kantuk dan rasa malas. Saya juga tahu betapa nikmatnya andai saya mengikuti rasa kantuk itu dan meneruskan tidur, menarik kembali selimut dan merajut mimpi baru hingga saya dininabobokan sampai sekan mimpi itu tidak lain adalah kenyataan saya sendiri sebagaimana saya hidup dalam realitas yang saya yakini kebenarannya. Dalam kenyataannya saya ada dalam mimpi yang saya ciptakan, bukan kenyataan yang membuat saya ada sebagaimana mestinya. Dalam kenyataan saya berperan sebagai obyek yang membuat sekeliling saya menjadi obyek yang bermakna dan diberikan makna saya bertindak sesuai dengan peraturan dan hukum universal dimana saya ada sebagaimana orang lain ada.

Saya, dalam mimpi saya, saya tidak lain adalah obyek sekaligus subyek yang menciptakan kondisinya sendiri dan memaknai dirinya sendiri, tergantung cerapan saya terhadap indera-indera bawah sadar saya merespon pikiran dan keinginan saya yang tersembunyi. Saya bisa menjadi apa dan siapa saja sesuai dengan permainan-permainan yang ada dalam pikiran, meski pola-pola kejadian tidak pernah dapat ditentukan dan diduga namun semua itu merupakan perwujudan keinginan dan ekspekstasi bawah sadar yang diam ketika saya terjaga, dan secara mengejutkan, diri-diri saya yang lain mengambil alih kontrol justru ketika saya sedang tidak terjaga, terlelap, tidur. Dan disitulah mengapa saya kadang senang tidur berlama-lama karena saya sangat menikmati ketika saya menjadi “diri” saya dalam kondisi yang benar-benar berbeda. Saya bisa melintasi dan melangkahi hukum-hukum universal dimana saya tidak harus terikat dengan hukum gravitasi atau hukum apapun yang pernah terkait dengan kehidupan dan perilaku saya dalam kehidupan nyata saya. Dalam keadaan disaat “diri” saya mengambil alih saya bisa menolak semua bentuk hukum, bahkan hukum yang terjadi dalam “kenyataan” saya sebagai pribadi lain, dalam mimpi saya tentunya. Mungkin karena itu pula ya saya akan sangat marah sekali jika seseorang mengganggu tidur saya. Apa mungkin Anda juga ya?

Sementara saya dalam keadaan sadar, mimpi itu merubah wujud dalam pikiran saya dan menjadi kompas kemana saya harus melangkah dan tindakan apa yang harus saya lakukan dan keputusan-keputusan yang senantiasa harus saya ambil demi mewujudnya mimpi saya tersebut. Antara mengejar dan mimpi akhirnya menjadi satu jalinan utuh, saya harus merajutnya sedemikian rupa sampai hal itu benar-benar ada, terjadi, dapat saya sentuh, saya rasakan, bahkan benar-benar saya alami dalam waktu bersamaan ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah ini mimpi?

Bermimpi dan mengejar mimpi adalah seperti bagaikan air dan daratan. Dalam mimpi saya benar-benar merenangi dan mencoba menelusuri kedalamannya, semakin dalam, tanpa disadari justru semakin tenggelam. Semakin saya menemukan keindahan panorama bawah air, semakin saya melupakan daratan di mana saya semestinya berada dan dengan apa seharusnya saya bernafas. Dan semakin saya tenggelam semakin sadar bahwa batasan antara udara dan air telah sebegitu jauhnya karena saya telah berada di dasarnya.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

REALITAS ABSURDITAS

Posted by permanas pada 18 Januari 2011

Absurditas manusia membawa sejarah kepada berbagai macam keadaan yang membuatnya bisa melihat ulang peristiwa dan perjalanan nasibnya sendiri. Antara menertawakan sekaligus menangisinya. Perlakuan ketidakadilan dan tindakan penindasan saling tumpang tindih antara realitas dan impian yang menopang tonggak sejarah kehidupan dan peradaban.

Bukan masalah siapa menang siapa kalah, juga bukan sekedar masalah siapa yang terkuat atas sesuatu. Bahkan realitas bisa saja sejatinya adalah absurditas terselubung yang dipercaya sebagai kenyataan bagi seseorang atau sebuah komunitas. Bisa juga itu terjadi dalam rentang waktu yang tidak terbatas, bahkan jika seseorang mulai sadar, atau katakan tercerahkan, beberapa segi yang tetap membudaya itu akan tetap hidup meski dicoba untuk dihapuskan. Tidak ada akar kebiasaan atau budaya yang dapat dihapus begitu saja. Bahkan seandainya dilakukan pembumi hangusan atas komunitas itu, tetap saja akan ada orang-orang atau nilai-nilai yang terselamatkan dengan berbagai macam cara yang tidak pernah kita dapat duga. Banyak hal di dunia ini yang belum terungkap mengenai mekanisme mengapa sebuah bentuk kehidupan dapat bertahan dan beradaptasi dengan keadaan barunya. Itulah evolusi. Bahkan absurditas pun bisa berevolusi dan sebagian dari kita mungkin akan tetap menganggapnya sebagai kenyataan yang solid, kokoh dan tidak dapat ditumbangkan.

Seperti bagaimana saya mempersepsikan fatamorgana ketika matahari membakar udara, persepsi saya dan kenyataan itulah sebuah absurditas bagi saya. Pandangan saya membelokkan pikiran saya secara fisik juga secara mental, saya mempercayai apa yang saya lihat. Toh, saya sebenarnya tidak terlalu yakin dengan benda bergerak dibalik bayangan fatamorgana tersebut. Karena semuanya berjalan sesuai kehendak alam, maka saya pun bergerak dan berpikir sesuai kehendak saya, meski adakalanya pikiran itu meleset jauh dari keadaan sebenarnya.

Saya akhirnya hanya mempercayai apa yang saya rasakan saat ini juga, sekarang. Maka realitas pun cendrung menjadi absurd karena kenyataan saya tidak harus berarti kenyataan orang lain. Begitu juga dengan orang lain, mereka hanya akan mempercayai rasa mereka sendiri tentang bagaimana memandang kenyataan seharusnya. Dan itu bisa juga saya katakan menjadi realitas ego dimana masing-masing orang hanya peduli dengan diri mereka sendiri dan akan tetap begitu selama mereka mempercayakan seluruh pengetahuannya untuk diri pribadi. Dan saya tetap berpendirian dengan apa yang sudah saya pahami, bukan pemahaman orang lain. Dan itu membuat saya damai karena saya pun akhirnya akan mempercayakan diri saya kepada saya seutuhnya.

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

TAWA SENJA

Posted by permanas pada 3 Maret 2010

Dia tepat lurus dihadapanku. Tidak terhalang orang-orang disekeliling. Aku tidak tahu ia sedang berdansa dengan siapa, aku hanya terpaku. Kepada baris gigi putih dan rapih, kepada rambut keriting dikepang satu, aku rasa panjangnya melebihi bahu. Gaun coklat menghias dirinya dengan renda-renda putih. Aku tidak tahu berapa jarak antara kami ketika sekilas mata kami saling beradu. Sedetik aku rasa. Lalu semua berjalan seperti biasa. Aku tidak melupakan. Dia masih menari tanpa iringan musik. Perhatianku tertuju kepadanya, untuk beberapa saat aku memperhatikan seluruh tingkah laku dan gerakannya saja, lainnya tidak. Seperti magnet, energiku terserap. Dia tidak mengetahui. Jadi, aku tetap duduk saja menikmati minumanku dan memuaskan pandanganku kepadanya.

Kadang aku tertawa ketika mendapati dirinya melakukan kekonyolan yang tidak disengaja seperti ketika menginjak kaki pasangannya. Mencoba menahan tawa dan mengalihkan wajahku agar ia tidak tahu kalau aku senang mengamatinya dari kejauhan. Tidak terlalu jauh jika hanya terpaut beberapa meter saja. Tapi tetap ada jarak, bukan? Tebakan yang salah. Sebenarnya tidak ada jarak antara kami, yang ada cuma ruang-ruang yang belum tersentuh, terjelajah sampai saat sekarang.  Tiba-tiba saja ia meninggalkan pasangannya tanpa acuh dan menghampiri meja tempatku sedang menikmati sore indah.

“Maaf, aku butuh minum.” Hah, aku cukup terperangah karena ia langsung mengambil minumanku dan menghabiskan begitu saja sekaligus lalu menyeka sejenak bibirnya. Benar-benar serampangan. Aku rasa ia tidak terlalu peduli dengan sikapnya sekarang, terlebih kepadaku.

“Terima kasih,” lanjutnya setelah menaruh gelas kosong ditempatnya semula.

Sepertinya aku akan membayar dua gelas dari satu gelas yang kuminum. Anggap saja aku mentraktir minum dia. Dengan cara di luar dugaan. Aku memang tidak membayangkan soreku berakhir seperti ini. Tampaknya tidak ada yang peduli selain pelayan yang mengganti gelasku dengan gelas baru. Tentu saja masih hangat. Tidak ada ruginya memang, anggap saja kami melakukan sebuah aktivitas ekonomi, sebuah barter dengan cara kuno. Ia menari dan membuatku kagum. Sebagai gantinya dia mendapatkan minuman yang dibutuhkan. Yah, setelah waktu berlalu, aku pun memutuskan melanjutkan menikmati soreku dan meneruskan membaca koran sementara pikiranku entah ke mana.

*** ***

Keberuntungan memang tidak selalu menyertai siapa pun di dunia ini, sama halnya ketidakberuntungan. Bukankah keduanya saling tarik menarik seperti dua buah kutub magnet. Justru itulah yang menyebabkan semuanya berputar secara alami. Tidak selamanya perjalanan hidup selalu lurus, pasti akan ada belokan, tanjakan, turunan, bahkan jalan buntu. Begitulah ketidakberuntungan memaknai arti keberuntungan, dan berlaku kebalikannya.

Seperti ketika sebuah suara menyeruak dari punggungku.

“Jadi, kau memang biasa berada di sini, ya?” Tadinya aku akan terkejut, urung terjadi.

“Jadi, kau juga sudah biasa ada di sini, ya?” balasku.

“Tergantung, apakah kau menganggapnya sebagai sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan. Jatuhnya sama saja.”

“Aku tidak punya jawaban untukmu kalau begitu.”

“Aneh. Hei, siapa namamu? Dan, ya, kali ini aku traktir kau minum. Waktu kemarin bukankah aku menghabiskan minumanmu,” dia tersenyum.

“Jangan, jangan sebut nama.”

“Baiklah kalau itu maumu. Tapi aku akan tetap mentraktirmu sore ini.”

“Hei, aku penasaran, siapa yang kau ajak berdansa beberapa waktu lalu dan tiba-tiba kau berhenti, menghabiskan minumanku dengan wajah kesal kemudian pergi begitu saja?”

“Pacarku, maaf, mantan pacarku.”

“Hah!”

“Kenapa?”

“Apa selalu begitu caramu memutuskan setiap mantan pacarmu. Mengajaknya berdansa, menamparnya dan meninggalkannya.”

“Aku tidak menamparnya, tapi seharusnya aku lakukan. Karena ia memang laku-laki brengsek.”

“Aku rasa kau beruntung.”

“Tahu apa kau soal keberuntungan?”

“Entahlah. Hanya sekedar bicara saja.”

“Dengar, tidak ada yang namanya keberuntungan. Yang ada hanyalah kerja keras. Cuma orang bodoh yang hanya menunggu emas jatuh dari langit dan menyebutnya sebagai keberuntungan.”

“Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah juga sebuah keberuntungan atau hal biasa saja menurutmu?”

“Entah.”

“Sudahlah kalau begitu.”

“Tapi tetap saja aku berpikir tidak ada yang namanya keberuntungan. Kebaikan atau keburukan yang saat ini kita alami adalah hasil perbuatan kita sebelumnya. Sependapatkah kau denganku.”

“Biar kutebak, kau mencari pengakuanku untuk mendukungmu.”

“Tidak. Ayo kita berdansa,” ajaknya tiba-tiba. Tanpa sepengetahuanku ia sudah menarikku. Aku tidak bisa menolak, lagi pula tidak ada salahnya.

“Apa setelah ini kau akan menamparku lalu memutuskanku?”

“Pertanyaan bodoh. Sejak kapan kau menjadi kekasihku. Kecuali itu, aku akan menamparmu kalau kau berbuat kurang ajar kepadaku.”

“Aku akan beruntung kali ini.”

“Yah, mungkin kau akan beruntung.”

“Aku pikir, orang yang beruntung adalah orang yang memiliki kebebasan atas dirinya sendiri, melakukan sesuai kehendak dirinya sendiri tanpa ada suatu paksaan dari luar.”

“Aku tarik ucapanku kalau begitu. Karena untuk saat ini, kau tidak beruntung.”

“Kenapa?”

“Bukankah kau berdansa denganku adalah karena paksaanku, di sini, tanpa musik dan tengah   diperhatikan banyak orang di kafe ini.”

“Aku akan tetap menjadi orang beruntung. Bukankah, biar bagaimana pun aku menyetujuinya. Bisa saja tadi aku menolak dan tetap duduk di sana, tetap menikmati minumanku. Bukankah sekarang aku bisa mendekatimu.”

“Kau bercanda?”

“Aku serius.”

“Aku ingin duduk sekarang.”

*** ***

Beberapa waktu lamanya aku tidak kembali ke kafe tersebut, sekedar duduk atau melewatkan sore hari di sana. Meski terkadang aku merindukan udara sore di sana dengan aroma pantai yang lekat dan dipadu suara camar laut berlomba dengan ombak. Kedamaian satu-satunya adalah ketika menyadari aku bagian dari semua itu. Suatu kepingan waktu bertaut dengan sejarah tiap-tiap orang yang berada di sana.

Sekarang aku malah sudah berada di bangku favoritku. Bangku yang menghadap ke kerumunan orang-orang, karena aku senang memperhatikan mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan mereka. Ada yang bilang, perhatikanlah seseorang dan kau akan menemukan kebiasaan dan perilaku mereka, bahkan yang terburuk sekalipun, kau akan tetap menemukannya. Kau hanya butuh kesabaran dan kejelian untuk melihat hal-hal yang tak terduga. Begitulah kebiasaanku dimulai, dengan memperhatikan orang lain. Saat ini saja aku tengah memperhatikan seorang paruh baya dengan tubuh kegemukan namun tetap memiliki kebiasan makan yang tidak terkontrol, aku tahu dari caranya makan. Ia begitu bersemangat menyantap makanan apapun yang dihidangkan kepadanya. Perkiraanku, tak lama lagi ia akan punya masalah dengan obesitas jika tetap berlaku seperti itu, atau ia memang sudah bermasalah, hanya saja belum menyadari. Dan, satu lagi yang kusuka dari bangku tetap favoritku ini, sebentar-sebentar angin membawa aroma laut di belakangku dan nyanyi camar. Bergembira berkejaran dengan ombak mencapai pantai. Untuk sesaat soreku cukup sempurna dengan cappuccino yang baru saja dihidangkan dengan dua donat bermandikan coklat dan strawberry di atasnya. Mengingat orang yang barusan kuperhatikan, aku jadi kurang bernafsu menyantapnya dan, aku rasa, aku harus mengatur ulang dietku.

“Hei, pria tanpa nama. Aku lihat kau. Sudah agak lama, bukan. Sejak, hmm… terakhir kali kita berdansa,” sapa seorang perempuan. Tentu saja aku mengenalnya, maksudku, wajahnya yang kukenal.

“Hai, tentu saja. Kau juga tak menyebutkan nama.”

“Begitulah. Shakespeare bilang, ‘Apalah arti sebuah nama. Mawar yang diberi nama lain pun harumnya akan tetap sama,’” balas dia.

“Penyair yang romantis. Kau mau minum? Biar ku pesan.”

“Tak perlu, aku sekedar lewat dan ingin memastikan apakah kau orang yang tak ingin namanya disebut beberapa waktu lalu.”

“Dugaanmu tak salah.”

“Hei, kau mau berjalan-jalan di pantai denganku?”

“Baiklah. Biar kuhabiskan minumanku dulu.”

Pasir di pantai cukup hangat, terlebih matahari mulai turun menampakkan cahaya kuning keemasan. Belum lagi awan tipis membuatnya semakin membiaskan sinarannya di sana, seolah-olah ada tirai halus mencadarinya. Aku lihat, camar itu masih bermain di atas air, sesekali menukik dan ketika terbang kembali, seekor ikan tercengkram pada kakinya. Tenang sekali alam raya bekerja, dan aku menyaksikannya.

“Kau diam,” bisiknya pelan sambil menyentuh jari telunjuknya pada hidungku. Aku agak terkejut merasakan sentuhannya. Dia hanya tersenyum, menahan tawa kupikir. Aku rasa karena wajahku terlihat bodoh sewaktu terkejut tadi.

“Sekedar meresapi sore dan menikmati saja,” jawabku menenangkan diri.

“Kau senang menyendiri, ya?”

“Apa?”

“Iya, aku lihat kau suka duduk menyendiri.”

“Aku rasa setiap manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Ada kalanya ia ingin sendiri, ada kalannya ia juga ingin bersentuhan dengan lingkungan sekitar. Tidak terkecuali aku.”

“Cukup memberi gambaran. Tebak, aku seperti apa?”

“Seorang perempuan, sejauh yang kulihat. Tapi, terkadang, penampilan pun bisa menipu. Kecuali bagi mata terlatih, itu pun tidak memberi jaminan. Sesekali, mata pun bisa meleset dalam memberikan persepsi untuk otak dan pikiran.”

“Apa kau selalu sesinis ini pada setiap orang? Tentu saja aku perempuan.”

“Hanya kepada orang-orang tertentu saja.”

“Apakah itu termasuk aku?” tanyanya agak berteriak karena sekarang ia sedang bermain dengan ombak. Sore ini akan terasa panjang dan melelahkan sepertinya, batinku mulai mengeluh. Betapa tidak, sekarang aku sedang menghadapi seorang perempuan yang namanya pun tidak pernah disebutkan. Memang aku yang meminta untuk tidak saling menyebut nama dalam perkenalan ini. Lain soal. Aku jarang menghadapi hal seperti ini. Kesenanganku adalah menyendiri.

Yang kudapat, sore ini tidak akan pernah sama lagi dengan sore-sore sebelumnya. Aku senang melihat matahari tenggelam dengan tenang. Sore ini aku bahkan tidak ingat kapan matahari tenggelam. Sudah sejak tadi mungkin, sejak mataku terlalu sibuk dengan sesosok perempuan dihadapanku. Seperti yang kubilang, tidak ada ruang diantara kami, bahkan, sekalipun kami bertentangan. Ruang-ruang itu seakan hilang. Berharap waktu berhenti dan semua berjalan lambat. Tidak tua, tidak juga muda. Gerakan adalah esensi, menjadi sebuah kemurnian tanpa batas. Keberadaan kami saat ini sekaligus menjadi kenyataan benda-benda dan makhluk-makhluk lain di sekeliling kami. Entah kalau ketiadaan. Satu-satunya keadaan adalah ketika semua menjadi satu kesatuan energi tak berhingga. Saling tarik dan menolak. Mengikat dan melesat secara terus menerus.

Dia berhenti bermain-main. Pantai di sini telah kehilangan cahaya. Namun keremangan dikejauhan membuat tempat ini seperti berada di dunia yang benar-benar lain, belum pernah terjamah. Tapi aku masih bisa lihat dia semakin mendekat. Merobek bats-batas antara kami.

“Bawa aku pergi bersamamu,” bisiknya lirih.

Aku terpaku.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

ku takkan bilang

Posted by permanas pada 27 Januari 2010

ku takkan bilang

kau kah itu

menerjang

lalu; membatu

atau

anak-anak panah menembus angin

adalah juga kau

memburu

tatapan dingin

mulut membisu

batin nanar

tapi

ku takkan bilang

kau kah itu


pedati, 270110

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Purnama di Kampung Mah Tong

Posted by permanas pada 4 November 2009

Sawaludin Permana

Musim gugur baru saja mengetuk. Daun-daun mati warna coklat tua berserakan dan akhirnya kembali mengarungi udara kosong, menemui tempat lain yang kering dan gersang. Baru saja pohon-pohon itu melepaskan keteduhannya, sekarang ia telanjang dan ranting-ranting mencakar langit. Burung yang singgah dan lelah itu tidak akan pernah kembali lagi. Kesepian cuma sebuah awal dari keterasingan yang sangat menakutkan, atau ketakutan itu yang kesepian.

Lalu, ada perempuan menyendiri mendiami tempat sunyi setelah tahu ia tidak bisa melihat untuk kedua kali. Apa yang dilihat cuma gelap, tatapan yang terbuka kelopaknya itu kosong, sinarnya pergi jauh. Ia tahu musim gugur telah sampai di telapak kakinya tapi tidak tahu keindahannya. Ingin mengerti kalau sesuatu yang pergi itu adalah untuk membiarkan yang baru lahir. Ia menatapnya, tapi kosong. Biar jendela terbuka, ia hanya merasakan angin saja, tidak mampu melihat sesuatu bergerak dengan gemulai.

“Aku tahu, aku tidak mampu melihat kembali apa-apa yang dilukiskan dunia sekarang ini, aku tidak tahu lagi apa yang membuat burung-burung menyanyi atau daun-daun bergemerisik. Lagunya hanya mampu kudengar tapi tidak tahu di mana ia menyanyi atau desirnya mengayun. Haruskah aku meratapi apa yang sudah hilang. Tidak, aku tidak sebodoh itu. Sekarang yang menuntunku hanya tangan kurus dan hanya diam memandang jendela yang aku tidak tahu apa yang sedang dilukisnya kepadaku. Aku tidak tahu,” kata Marai, rambut panjang terlepas dan jatuh mengikuti pundaknya. Wajah Marai pucat, tangannya gemetar, dingin. Baju putih yang dikenakannya seakan tenggelam bersama dirinya, jauh dari jendela. Marai seperti lukisan mati dalam bingkai yang lusuh dan tidak bercahaya.

“Waktu cahaya itu pergi dari pandanganmu bukan berarti kau tidak layak lagi meneruskan hidup, bukan berarti lentera yang kau pegang telah padam. Meski tak dapat melihat, lentera yang ada padamu akan mampu menerangi yang lain dalam gelap. Kau masih sanggup menuntun dirimu sendiri,” ucap Nang Anai ketika ia membuka pintu kamar Marai dan mendengar kata anaknya. Hati perempuan tua itu miris, meski ia tidak tahu harus berbuat apa, Nang Anai hanya mampu membesarkan hati Marai. Nang Anai merasa, hanya karena gelap, bukan berarti tidak ada cahaya bersembunyi di baliknya. Marai masih saja memandang ke luar jendela.

“Bilang, Nang, kenapa ini yang harus terjadi? Bilang, Nang, bilang,” kata Marai lagi sambil menangis. Nang Anai tidak mampu bicara dan melihat Marai menjatuhkan dirinya ke lantai meratap sejadi-jadinya. Nang ingin menghampiri, kakinya terpaku pada lantai, ia tidak sanggup melangkah untuk mengangkat kepala Marai. Perempuan tua itu hanya mampu memandangi Marai melelehkan airmatanya pada lantai kayu.

*** ***

Malam terang bulan. Saat itu kampung Mah Tong baru saja merayakan panen besar, para penduduk baik tua maupun muda saling berbaur pada alun-alun kampung dan keramaian itu diisi dengan puji-pujian dan nyanyi riang saling bercampur dengan tawa anak-anak.

Di antaranya ada Marai, gadis belia itu dengan semangat menyala melingkar bersama gadis-gadis lainnya dalam tarian mengelilingi api unggun. Tarian dipersembahkan kepada Dewi Kesuburan dan Dewa Hujan agar keberkahan yang mereka rasakan akan tetap berlanjut sampai tahun-tahun mendatang, menjauhkan petaka dan bencana dari kampung Mah Tong dan penduduk serta tanahnya yang subur membentang sampai ujung bukit.

Ada satu pasang mata terus menguntit gerak Marai ketika ia melepaskan senyumnya dengan mata berbinar saling memberi kehangatan dalam lingkaran yang tak pernah terputus selama tarian itu melingkari api unggun. Satu mata itu tidak akan pernah lepas lagi, ketika Marai sadar ada yang menguntit geraknya sejak tadi, lalu segera membalas pandangan itu dengan kehangatan yang sama, malah lebih membakar dari api di hadapan Marai. Ia tahu, ada sesuatu di antara batas yang perlahan mulai terjalin dan akan terus membentuk rajutan-rajutan halus membentang di antara mereka. Gelap kemudian berbaur dengan tubuh Marai

Jung terlihat bingung, menyusup di antara desakan-desakan keramaian yang menyembunyikan pandangannya terhadap Marai. Seakan kumpulan keramaian itu sengaja menculik Marai dari Jung, meski Jung terus menyusup dan membelah kumpulan itu. Jung hampir jatuh, tapi ada tangan halus segera menggapai tangannya. Jung terperangah mengetahui siapa yang menggenggam tangannya dengan lembut dan ramah, sama seperti senyuman dan sebaris gigi putih bersih, membuat Jung tersihir.

“Kau pandang aku begitu lama, sekarang luluhkan hatiku,” kata Marai setelah Jung sudah berdiri dan mereka berhadapan. Sama seperti adat yang biasa dilakukan di kampung Mah Tong, setiap laki-laki yang menyukai perempuan dan membuatnya jatuh hati maka laki-laki itu harus menyusun serangkaian kata untuk dapat meluluhkan perempuan yang disukanya agar dapat sampai ke dalam pelukannya. Tapi sebelum itu ia harus menaklukkan hati sang gadis.

“Apa yang harus aku katakan lebih jauh. Tanpa aku mengatakannya, kau sudah membuatku tenggelam dalam pandangan yang membakar, tapi kau tidak membuatku menjadi arang. Kau malah menghidupkanku lebih jauh dari sekarang,” balas Jung.

“Kalau begitu kau harus lebih berusaha agar dapat meluluhkan hatiku,” balas Marai dan pergi meninggalkan Jung dikeramaian.

“Apa ini berarti kau menyuruhku untuk mendapatkanmu. Ah, bodohnya aku tidak menanyakan siapa namanya. Oh, bodohnya aku,” bisik Jung dalam hati mengetahui kesempatan baik baru saja lepas dari genggamannya.  “Ahahahahaha…..! Aku jatuh cinta!” akhirnya kata Jung seakan ingin memberitahukan perasaannya kepada dunia dan meneriaki telinga malam. Itu hal biasa di kampung Mah Tong. Pasti dalam setiap keramaian, beberapa pasang muda-mudi bertemu pasti akan meneriaki kata yang sama, mereka jatuh cinta kepada apa yang telah membakarnya dan lupa kepada sekelilingnya, bahkan kepada diri mereka sendiri, termasuk Jung.

“Jung, ia selalu saja begitu,” kata seseorang yang melihat berlari serupa orang kesurupan dan menabraki orang-orang.

“Ya, musim ini bagus. Selain panen melimpah, banyak orang muda jatuh cinta. Seperti Jung, tapi ia lebih bahagia dari yang lainnya,” sambung orang tua lain lagi ketika melihat Jung sudah hilang dari matanya.

“Pemuda beruntung. Tapi siapa gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta seperti itu. Semoga saja bukan gadis-gadis seberang yang menyusup ke sini. Jika begitu, itu petaka baginya, juga bagi kita.”

“Siapa yang tahu selain Jung sendiri. Yang pasti malam ini banyak berkah terlimpahkan pada kampung kita.”

“Ya, ya, aku setuju satu hal, mungkin aku juga akan jatuh cinta.”

“Kau sudah tua. Mau kau kemanakan perempuan tua yang menemanimu sejak masa gadisnya telah kau lamar, he?”

“Tua bukan berarti tidak bisa merasakan jiwa muda sedang dirundung cinta. Aku ingin merasakan sekali lagi sebelum sesuatu terjadi padaku.”

“Aku janji akan mengantarmu ke kuburmu, tentu itu tidak akan kulewatkan dalam sejarah hidupku.”

“Begitu juga aku,” dan kata-kata itu pun saling melengkapi sampai keceriaan dan tawa membius mereka sepanjang malam.

*** ***

“Pagi ini ladang menungumu, Jung, cangkul itu harus kau tajamkan sekali lagi, sabit itu harus kau ayunkan tinggi-tinggi. Rumput telah menantangmu,” kata Nang Mhak.

“Nanti saja,” jawab Jung pelan. Sepagian itu Jung masih saja bermalas-malasan bersandar pada tiang kayu dan menggantungkan kakinya. Menantang cahaya matahari.

“Jung, kau tidak ke ladang?” panggil Phak ketika ia melintas di depan rumah Jung.

“Kau saja duluan, aku menyusul,” jawab Jung.

Yang mengganggu pikiran Jung sekarang adalah seorang gadis yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu, yang telah membuatnya jatuh hati karena senyuman dan permintaan meluluhkan hatinya kepada Jung. Sayang, Jung lupa menanyakannya.

“Jung, lekaslah pergi ke ladang. Hari sudah terlampau siang,” bujuk Nang Mhak lagi.

“Baiklah,” jawab Jung seakan berat untuk bangun dan menggapai cangkul di dekat tiang. Berjalan menuruni tangga pun dirinya seakan melayang tanpa tujuan.

Dari jauh, baru Phak saja mengayunkan cangkulnya di sana. Jung menghampiri Phak yang masih saja mengayunkan cangkulnya, Phak menoleh sebentar hanya untuk melayangkan senyum tipis, cara khas menyalami orang di kampung Mah Tong. Jung membalas senyum itu sambil duduk. Di antara tanah-tanah kosong, setelah pesta panen, sekarang juga sekosong hati Jung.

“Kau tidak ingin melepaskan cangkulmu barang sebentar, Phak?” tanya Jung akhirnya.

“Bukankah kau seharusnya segera memegang batang cangkul itu dan menghujamkannya pada tanah yang basah ini?” Phak malah balik bertanya.

“Aku belum ingin.”

“Kenapa?”

“Oh, Phak, sekarang ini kau seorang laki-laki dewasa. Kita besar bersama, bermain bersama, bertengkar dan baik lagi secara bersama-sama. Tapi kau masih tidak tahu juga?”

“Kau yang bodoh, bagaimana aku tahu kalau kau tidak beritahu aku,” balas Phak dan tetap sambil mengayunkan cangkulnya.

“Aku jatuh cinta, Phak. Temanmu ini sedang jatuh cinta,” jawab Jung sambil memegang dada dengan kedua tangannya seakan membanggakan perasaan yang sedang dirundungnya kepada Phak.

“Hah, hanya itu. Jatuh cinta,” sambung Phak tanpa ekspresi apa-apa.

“Ya, aku jatuh cinta,” kata Jung lagi membanggakan.

“Kepada siapa kau jatuh cinta kalau begitu?”

“Aku tidak tahu. Setidaknya aku mengenalinya dan akan aku cari lebih jauh tentangnya.”

“Ke mana kau akan cari tahu kalau kau cuma mengenalinya dalam gelap dan samar. Hah, aku rasa kaulah yang bodoh. Cinta memang membuat siapa saja berlaku bodoh,” kata Phak lagi.

“Setidaknya aku mencintai seorang gadis, itu yang tetap membuatku tetap waras.”

“Waras kalau kau menemui cinta yang  waras pula. Sekarang, aku rasa, kau sedang tidak waras, Jung.”

“Karena aku sedang jatuh cinta. Dan sekarang, biarkan aku sendiri untuk menikmati apa yang ingin aku rasakan. Mungkin aku akan menemukannya dalam mimpi,” jawab Jung dan meninggalkan Phak sendiri dengan cangkulnya.

“Aku tidak akan mengganggu, malah kau yang menganggu pekerjaanku sekarang. Kapan kau akan mengayunkan cangkulmu, Jung,” tanya Phak lagi.

“Nanti, Phak, nanti. Dalam mimpi.”

“Tidak dalam mimpiku.”

“Yah, tidak juga dalam mimpiku,” jawab Jung dan akhirnya sekarang Jung meninggalkan Phak yang sudah penuh keringat. Jung semakin jauh berjalan, ia masih saja mendukung cangkul di pundaknya dan tidak tahu kalau ia semakin jauh dari ladangnya.

*** ***

Pada sisi lain di kampung Mah Tong, ada sebuah sungai mengalir sejak lama di dataran itu. Dulunya sungai kecil dan tenang itu adalah parit yang disediakan untuk menjebak pihak lawan yang bersebrangan. Di bawahnya tertancap banyak bambu runcing siap melumat siapa saja yang terperosok. Ketika perang pecah, parit itu telah penuh dengan tubuh-tubuh beku dan darah membanjiri tanah dalam parit karena terlalu banyaknya tubuh terperosok. Hujan mengguyur deras mengisi celah parit sehingga membelah kampung Mah Tong menjadi dua bagian. Parit yang dulunya banjir oleh darah dari tubuh yang saling bermusuhan, sekarang berubah menjadi aliran sungai yang jernih. Ketenangannya memendam sejarah pahit dan cerita yang terus mengalir sejauh aliran itu akan bermuara. Sungai itu terlalu panjang untuk mencari pelabuhannya hingga tidak ada lagi yang ingin memikirkan terlalu jauh.

Sekarang, keheningan sungai itu diisi oleh tembang-tembang yang dinyanyikan oleh gadis-gadis yang mencuci pakaian dan merendam diri mereka dalam aliran sungai tersebut. Salah satunya adalah Marai, ia merendamkan tubuhnya di sana sambil ikut mendendang bersama dengan yang lainnya.

“Semalam memangnya kau pergi ke mana, sampai seisi kampung mencarimu, Marai?” tanya Ahm ingin tahu.

“Aku hanya ingin mencari suasana baru saja.”

“Tidak lainnya?” tanya Nhak sambil mendekati Marai.

“Aku ada bersamanya,” Sambung Mai tersenyum menggoda Marai. “Kami pergi ke pesta panen di kampung seberang, meski itu melanggar peraturan adat. Tapi kan kita tidak ketahuan. Semalam, aku lihat ia berhadapan dengan seorang pria gagah dan tampan,” tambah Mai lagi.

“Wah, benarkah seperti itu, Marai? Betapa beruntungnya kau bertemu dengannya. Apa kau mengatakan kepadanya untuk meluluhkan hatimu” tanya Ahm lagi. Marai semakin tersipu.

“Aku bilang seperti yang kau bilang, Ahm,” jawab Marai sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam air. Mendengar jawaban Marai yang lainnya semakin memandang satu sama lain, lalu mereka tertawa bersama-sama.

“Kau benar-benar gadis nakal, Marai,” kata Nhak ketika Marai sudah menyembulkan kepalanya dari dalam air sambil kembali menyiramkan air kepada Marai.

“Betapa beruntungnya pria itu,” kata Mai mencoba membayangkan bagaimana rupa wajah pria yang telah membuat Marai merasa seperti itu.

“Kau memang sungguh gadis nakal,” ulang Ahm menggoda.

“Sayangnya aku tidak tahu siapa dia,” jawab Marai dan itu membuat teman-temannya diam mendengar perkataan Marai yang terakhir itu.

“Kalau kau bersikeras, kau akan bertemu dengannya kelak,” bisik Nhak dan meneruskan nyanyinya sendiri.

*** ***

Ada dendang kecil dinyanyikan Marai di depan jendela kamarnya, ia melihat bulan itu sudah bulat penuh. Bayangan sinarnya seperti lentera redup. Marai tidak tahu apakah hatinya senang atau sedih. Ia jatuh cinta, tapi tidak tahu kepada siapa. Marai mendendang menunggui malam, atau menunggu ada yang menjemputnya. Ia ingin tidur tapi tidak bisa.

“Sayang, aku ingin berhenti berdendang dan langsung melelapkan pikiranku dan menemani tikar itu agar tidak merasa dingin. Aku ingin, tapi juga tidak ingin menghentikan dendang ini. Ataukah aku sedang merindu,” bisik Marai kepada dirinya sendiri di depan jendela yang menghadap kepada bulan dan malam yang kelam. Kamarnya meredup.

*** ***

Jung gelisah. Dalam tidurnya ia berada dalam sebuah pertempuran, Jung lihat sungai itu mengalir di antara bukit yang membelah kampung Mah Tong berubah kembali menjadi parit-parit. Jung mendengar banyak teriakan, kesakitan dan semangat yang membakar mereka untuk mengayunkan pedang. Ada satu wajah dikenali Jung lewat cerita ibunya, akrab dengan pikirannya dan tatapan itu begitu hangat, ia ingin berteduh di antara kelopak mata itu, atau Jung akan menghampiri dan mendekap erat tubuh itu. Jung berlari, ia ingin mendekat, wajah dan tubuh itu ingin dipeluk Jung. Sayang, sebelum tangan Jung sampai, tubuh itu telah terhempas jatuh ke dalam parit, sebilah pedang menyerempet tubuh itu dan melemparkannya ke dalam parit. Jung ingin menggapai dan meraih tangan yang mengembang kepadanya tapi tidak sampai dan merelakan kehilangan tatapan yang hangat kepada dirinya.

Jung tidak sanggup menatap ke bawah, ia ingin pergi dari tanah pertempuran itu dan ingin menemukan kesunyian di tempat lain, tapi tidak dilakukan, sesuatu menariknya kembali, sebuah wajah yang juga dikenali Jung beberapa waktu lalu, tapi ia tidak tahu siapa namanya.

Jung menerobos setiap teriakan yang datang ke arah telinganya dan mendorong jauh tubuh-tubuh yang jatuh ke arahnya, ia kembali ke tengah tanah pertempuran. Ada yang masih berdiam di sana, ada kelembutan yang tidak bisa dibiarkan berada di tempat seperti itu, ia ingin mengajak pergi dan menggapai tangan itu dan ia akan mengajaknya pergi. Yang dilihatnya tadi terulang kembali, baru saja Jung ingin menarik tangan itu, ada bayangan melesat dan membuat tubuh itu kembali menghempas dan masuk kembali ke dalam parit-parit. Jung diam di antara teriakan-teriakan yang terus menjelma.

“Tidaaaaaaaaaak!” teriak Jung dan langsung bangkit dari tidurnya. “Apakah ini pertanda,” bisik Jung pelan sambil menelusuri mimpi yang baru di alaminya.

*** ***

Sejak pertemuannya dengan Jung, Marai selalu menyendiri dan tidak ingin lagi keluar rumah. Kali ini, Marai keluar rumah, berjalan sendirian melewati tanah luas dan sungai yang membelah kampung Mah Tong, menyebrangi batas yang seharusnya tidak boleh dilalui. Marai melanggar batasan tanah adat dan semakin jauh dari tempatnya. Ada yang melihat Marai menyebrangi sungai itu dan memberitahu Nang Anai serta tetua kampung Mah Tong agar segera menjemput Marai supaya tidak terjadi sesuatu yang bisa mencelakai Marai. Tapi itu sudah terlambat.

Marai semakin jauh menelusuri bagian lain dari kampung Mah Tong dan menemukan apa yang ingin ditemukannya. Jung menaruh cangkulnya perlahan, seperti sentuhan itu yang menyuruhnya dan membalikkan tubuhnya. Marai sudah ada di hadapan Jung dan ia tersenyum kecil.

“Kau lupa mencariku untuk meluluhkan hatiku,” kata Marai akhirnya setelah Jung tidak bicara dan ia hanya menatap Marai. Jung masih diam.

“Bagaimana seharusnya aku meluluhkan hatimu sementara aku yang lebih dulu jatuh cinta dan membiarkanmu seorang diri dan menunggu terlalu lama. Siapa namamu?”

“Marai, Ksatria. Kau seharusnya berjuang sejak aku menyuruhmu menaklukkanku, kau tidak seharusnya membuatku terlalu lama menunggu sampai aku mencarimu. Aku melawan semua demi kau menaklukkanku,” jawab Marai.

“Apakah aku….”

“Jangan tunggu lebih lama atau sesuatu akan bergemuruh seperti halilintar dan itu akan memisahkan kita. Badainya terlalu besar untuk kuraih dan kurenangi. Kau atau aku tidak akan sanggup. Haruskah aku mengorbankan semuanya demi orang yang kutantang untuk meluluhkanku. Jawabannya adalah, kau harus menaklukanku. Maka, bawa aku sekarang.”

Tapi itu sudah terlambat, beberapa orang dari pihak Jung mengetahui itu, melihat hal demikian, Jung ingin melawan, lembut tangan Marai mencegahnya dan mengisyaratkan untuk pergi saja dari badai yang akan menenggelamkan. Jung membatalkan niatnya dan mengajak Marai pergi dari tempat tersebut, mencoba menghindar dari arak-arakan. Jung tidak mengerti, ia sendiri pun tidak mengerti kenapa hal seperti ini harus dirintangi dengan adat seperti itu. Jung melawan apa yang seharusnya tidak dilawan, tapi ia menarik tangan Marai dan sekarang ia yang akan melawannya, bukan Marai yang akan melindunginya.

“Aku tidak bisa lagi melindungimu, Jung, kurelakan kau pergi dengan restuku. Aku tidak bisa membela kalian, sekarang pergilah,” kata Nang Mhak ketika Jung datang kepada ibunya sambil membawa Marai di hadapannya. Jung tidak menyesal, waktu seakan begitu cepat berkelebat. Jung pergi membawa Marai dengan restu ibunya. Tapi Jung tidak tahu apakah restu ibunya dapat menyelamatkan dirinya dan Marai atau tidak. Jung tidak pernah tahu sampai akhirnya Jung dicegah di tengah jalan oleh arak-arakan dari pihak kampung Jung.

“Kalian telah melanggar perjanjian yang seharusnya telah mendamaikan semua yang ada di sini, kalian telah melangkahi sumpah-sumpah yang telah ditulis dalam adat. Sekarang hukum kalian tidak lepas dari semua sumpah yang diucapkan di atas leluhur kalian sendiri dan kalian telah menginjak-injak bagai sampah,” kata salah seorang tetua.

“Apa arti semua itu, sumpah itu tidak dilanggar, malah semakin dihormati bila yang dibela adalah dua hati yang dipisah hanya karena hal itu,” jawab Marai.

“Kau telah dibutakan, maka kau akan kembali dengan hati yang gelap dan pandangan yang buta,” jawab salah seorang lagi dan melemparkan debu ke mata Marai, perlakuan itu membuat Marai tidak dapat melihat dan matanya terasa perih, ia tidak sanggup lagi melihat. Marai merasa buta, gelap dan perih.

Melihat hal itu, Jung langsung membela marai dan menggapai tangan Marai agar tidak jatuh. Namun Jung ikut terjatuh melihat Marai kehilangan kendali karena pandangannya menjadi gelap dan tidak bisa mengenali Jung lagi selain dari suaranya. Akhirnya Jung melihat kesempatan, sebilah pedang yang terikat di pinggang seseorang, Jung menyambarnya dan ia ayunkan kepada orang yang telah membutakan Marai.

“Kau tidak akan berbuat bodoh, bukan?” kata seseorang.

“Tidak ada yang bodoh dalam mempertahankan apa yang telah membuatnya mampu untuk mencintai. Kalianlah yang telah dibutakan,” jawab Jung. Matanya nanar menerobos kumpulan itu. Jung menyambarkan pedangnya ke segala arah, hampir mengenai seseorang. Dan tiba-tiba saja, satu sayatan dalam mengenai pungung Jung dan membuatnya tersungkur seketika. Jung tidak lagi meneruskan apa yang ingin diperjuangkannya. Jung tidak merasa kalah.

“Kau sudah membayar dari apa yang kau langgar, dengan dirimu sendiri. Dan, kau yang dibutakan, telah kehilangan cahaya dari matamu sendiri. Kau juga telah membayarnya,” kata seseorang. “Kalian telah melihat mereka sudah membayar apa yang mereka langgar. Tidak ada lagi  urusan kalian di sini, sekarang kalian harus pergi. Tidak ada lagi hutang yang mesti dilunasi sekarang,” lanjutnya dan kumpulan kemarahan itu pergi dengan sendirinya.

“Terima kasih,” kata Marai, meski ia sudah kehilangan kedua pandangannya, tapi tidak telinganya.

“Tidak perlu. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi aku tidak dapat menghentikannya. Maafkan aku, Jung,” jawab seseorang yang ternyata adalah Phak.

“Kau sudah melakukan yang seharusnya, terima kasih, Phak,” kata Jung pelan dan setelah itu Jung pergi untuk selamanya.

*** ***

“Sekarang aku sudah menjadi orang yang didiamkan dalam kamarnya sendiri yang sempit. Biar cahaya itu meluaskannya, aku tidak mampu memandangya selain merasakan sesuatu membakar. Sayang, diri ini tidak ikut lumat dan menguap,” ucap Marai di depan jendela kamarnya.

Beberapa hari setelah itu, Nang Anai menemukan Marai tergantung kaku. Nang Anai merelakannya, itu sudah menjadi keputusan Marai sendiri, ia pergi melepaskan apa yang terasa berat di pundaknya, mencari cahaya lain, mencari apa yang telah membuatnya merasa dihargai, ia berkorban untuk kembali, untuk bersatu dengan apa yang telah dikorbankan Jung untuk dirinya. Konon, setelah Marai dikuburkan, ada yang melihat sosoknya berjalan dengan gembira dengan seseorang yang dicintainya, pada setiap purnama menggantungkan dirinya pada langit malam yang sunyi dan dingin hingga bulan berikutnya kembali muncul.

 

Tamat

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

pengkhianatan itu….

Posted by permanas pada 27 Oktober 2009

Jangan terlalu percaya jika tidak ingin dikhianati. Begitulah kira-kira yang terlintas dalam benak saya ketika mulai mempercayakan sesuatu kepada orang lain, terutama masalah emosional. Semakin lama pikiran saya itu semakin menggila dan terus menghantui, karena bukannya mustahil kepercayaan yang saya berikan itu bisa berujung kepada pengkhianatan, karena kepercayaan saya yang tanpa curiga itu. Alhasil, saya benar-benar dibuat meradang meski saya sering mensugesti diri saya sendiri bahwa semua akan baik-baik saya mengenai kepercayaan yang saya berikan kepada orang lain itu.

Permasalahan lain muncul ketika saat  membaca suatu kalimat, jangan mempercayai siapapun selain diri sendiri. Dan saya semakin mati kutu dibuatnya hanya karena sebuah masalah yang saya percayakan kepada orang lain dan itu membuat saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan dan tidak bisa apa-apa selain uring-uringan, mundar-mandir dan melongo di depan pintu tempat tinggal saya, dan pintu-pintu lain yang sengaja dibiarkan terbuka. Ketakutan saya ini semakin membuat saya habis akal, tidak bisa berpikir sedikit lebih jauh dari permasalahan percaya mempercayai, dan karena takut akan dikhianati dan dahsyatnya dampak pengkhianatan kepada diri sendiri dan lingkungan.

Anehnya, apapun masalahnya saya tetap mempercayakan pemecahan itu kepada orang lain yang saya percayakan tapi saya tidak benar-benar percaya kepadanya. Setiap gerak dan geriknya selalu saya perhatikan, tidak luput barang sejenak pun dan apapun yang ditulis, dibicarakan, di mana dia dan kapan dia pergi, informasi itu selalu saya peroleh dari sumber-sumber yang selalu saya dapatkan sesuai kebutuhan saya. lebih gila lagi, sumber-sumber itu mengatakan dengan jujur, lebih jujur dan lebih valid daripada apa yang dikatakan orang yang saya percayakan permasalahan yang saya percayakan kepadanya tapi tetap tidak saya percaya sepenuhnya. dan itu memang benar-benar gila. saya telah berubah menjadi seorang paranoid. meski beralasan ketidakpercayaan saya, tetap saja itu paranoid.

Saya, mau tidak mau, harus berdamai dengan diri sendiri,  keadaan, lingkungan, dan orang yang saya percayakan tersebut dengan mengatakan bahwa saya memang tidak pernah percaya kepadanya, meski mencoba menyerahkan masalah saya dengan tetap dimata-matai, saya tetap tidak percaya. Selesai sudah. Walhasil, saya mengikuti apa kata kalimat yang saya baca tempo hari: “Jangan mempercayai siapapun selain diri sendiri”. Dan, ya, saya tidak percaya siapa-siapa sekarang.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

musibah itu…..

Posted by permanas pada 28 Agustus 2009

apapun segala bentuk dan wujud musibah itu, jika ia datang, pikiran positif dan bijaksana bisa membuat penderitaan yang menghampiri itu bisa berubah menjadi rasa syukur kepada sang pencipta, menjadi pengingat kepada diri sendiri, menjadi berkah karena pengalaman yang disajikan membuat perenungan panjang menjadi tidak sia-sia. musibah yang datang dengan sapaan pada pundak sebagai kawan lama membuat dialog batin begitu menenangkan karena jawaban-jawaban yang terlontar adalah hasil dari apa yang telah saya perbuat sebelumnya, benih-benih kealpaan, lupa, tidak peduli, sikap sombong, semuanya hanya bentukan kecil dari apa yang telah saya lalui dan perbuat.

musibah di mata saya, tak lebih adalah kawan yang menyambangi dan bersilaturahmi karena lama tidak bertemu, bertukar pikiran. tamparannya bagi saya pribadi tak bukan adalah sentuhan halus dari kesadaran. rasa sakit yang diberikan adalah penawar rindu ketika saya terbaring sendirian, rasa itulah yang menemani saya sepanjang malam, setiap hari. bahkan ketika saya sudah sanggup bangun dari pembaringan, rasa itu tetap setia menemani kemanapun saya melangkah. ia selalu mengingatkan, seperti orang tua kepada anaknya yang memberi pukulan pelan agar tidak bermain terlalu jauh dan membahayakan diri sendiri. saya masih tersenyum.

tentu saja saya bersyukur karena saya masih dipertemukan dengan sahabat lama dan mengingatkan agar jangan lupa lagi, jangan lalai lagi. dah hasilnya, bayangannya sekarang adalah menjadi bayangan saya sendiri yang ketika menundukkan kepala yang saya lihat adalah bayangan rasa syukur karena sahabat saya selalu berada tidak jauh dari diri saya sekarang ini. dan, meski pincang dan masih menahan rasa ngilu pada tulang dan daging. rasanya itu tidak sakit dibandingkan rasa rindu yang melanda pada jiwa saya. seperti saya merasakan rindu yang dahaga kepada kekasih saya. hanya saja saya tidak mencumbunya, tapi tetap menciumnya dengan sayang. hahaha….. saya mencoba untuk tidak terlihat berjalan dengan pincang sekarang. tidak perlu iba orang lain kepada diri saya. dan, saya menelusuri taman-taman dengan rasa yang saya alami dan tanpa tongkat!

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Bangun kawan!

Posted by permanas pada 4 Agustus 2009

Bangun…..

Bangun, kawan!

Jangan mimpi menghadang jalan

Maju dan langkahkan

Ayo, lekas!

Ada janji yang harus dituntaskan

Kita pemuda; tak baik bermalas-malas

Bagi bangsa, pemuda adalah bunga dan harapan

Katakan apa yang hendak kau katakan

Kerjakan apa yang bisa kau kerjakan

Tak perlu malu dan sungkan

Mari, kita satukan tujuan dalam perbedaan

Bangun…..!

Bangun, kawan!

Hari sudah pagi menjelang

Di pundak kita nasib bangsa diletakkan

Kelak, kita akan melihat rekah kembang menjulang

Sawaludin Permana, Jakarta, 23 Agustus 2001

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Kemerdekaan

Posted by permanas pada 4 Agustus 2009

Kemerdekaan bukanlah kebebasan tanpa batas

Bukan keserakahan yang membabi buta

Juga bukan penjara kehidupan

Ia lebih dari sekedar itu

Kemerdekaan adalah perjuangan suci

Kemerdekaan adalah suara hati nurani

Kemerdekaan adalah keberanian bertindak

Kemerdekaan adalah kebenaran dan keadilan

Kemerdekaan adalah kasih sayang; seperti pelukan seorang ibu

Kemerdekaan,

Ia sesuatu yang dicita-citakan semua manusia

Yang menolak rantai belenggu.

Kemerdekaan bukan kayu yang telah menjadi arang dan abu

Ia adalah pikiran;

Dan memerlukan kelanjutan.

Sawaludin Permana, Jakarta, 11 Juni 2001

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.