Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Belajar mengeja DEMOKRASI

Ditulis oleh permanas di/pada 7 Juli 2009

D, E, M, O, K, R, A, S, I

DE…

MO…..

KRA…..

SI…….

DEMORKASI

aku sedang menyebut huruf demi huruf

lalu mengeja dan membaca perlahan-lahan

aku bahagia;

aku dapat mengeja kata “DEMOKRASI”

tapi tiba-tiba aku sedih

ketika bertanya pada banyak orang

apa itu demokrasi?

mereka menjawab,

katanya:

“kamu anak kecil

kamu belum boleh mengenal kata itu

lebih baik kamu tidur saja.

sana.”

aku pun beranjak tidur

terus bermimpi sampai tua

mencari-cari arti kata

demokrasi

sawaludin permana, Jakarta, 23 Juni 2001

Ditulis dalam PUISI | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Aku Kira

Ditulis oleh permanas di/pada 7 Juli 2009

Aku kira, kalau keadilan itu adalah kekasihku

Dan pedang di genggaman adalah sahabatku

Timbangan adalah penuntunku untuk berkata bijak

Ternyata aku salah menduga

Pedangku tumpul

Timbanganku berat sebelah

Kekasihku mulai menjauhi

Aku kira, perdamaian adalah tujuanku

Tapi, di tanganku sendiri ada sepucuk senjata

Mengarah kepada seorang bocah laki-laki yang menangis

Aku kira, di hadapanku bertebaran butiran cahaya mutiara

Kilatnya hilang dalam silau; mengilatkan mataku

Tapi, kurasa hanya kemiskinan menelikung

Aku kira, gelap tempat terbaik untuk bersembunyi

Tapi, temanku cuma ular kepala dua

Dan menyuruhku berlari

Menyembunyikan cahaya

Sekarang, aku sekarat

Karena racun-racun yang menyebar

Dari jiwa-jiwa mati

Sawaludin Permana, Jakarta, 20 Oktober 2000

Ditulis dalam PUISI | yang berkaitan: , , , , , , , , | Leave a Comment »

SUARA!!

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Belakangan hari ini banyak orang meributkan suara. Entah itu di radio, televisi, surat kabar, bahkan oborolan yang berseliweran di warung kopi, angkutan umum, sampai pusat-pusat perbelanjaan, semua orang sedang meributkan sebuah “suara”. Kalau mau dipikir sih ya, sekarang saja kita pun sedang bersuara. Hahaha, lain soal kalau yang diperbincangkan bukan suara yang seperti itu.

Ada yang bilang makelar suara, jual beli suara, patungan suara, penimbun suara, bahkan “suara siluman” juga ikut andil dalam perkara suara menyuarai ini. Ketika melihat orang-orang sibuk mendagangkan suara mereka, yang mendengar pun ikut mengkalkulasikan suaranya sendiri. Apakah akan membarternya dengan suara yang didengarnya di tengah hiruk-pikuk panggung goyang ngebor, ngecor, gergaji, atau apalah sebutannya, yang jelas, suara-suara itu timbul tenggelam dalam hingar-bingar dan kebisingan yang memekakan telinga itu.

Walhasil, siapa yang membeli dan siapa yang dibeli menjadi kabur, konsep menawarkan jual beli suara sontak mendadak pelik. Apa yang diributkan, siapa yang diperkarakan, apa memperbicangkan si apa dan apa-apanya menjadi kehilangan substansi, semua mendadak hilang ketika sound system mulai ikut-ikutan mengeluarkan suaranya, tidak mau kalah, meski ia tidak tahu apa yang sedang disuarakan, yang jelas, nyaring saja dahulu, makna dan isi disemburkan belakangan saja. Toh, asal terdengar jelas, semua orang senang, tidak gelisah, biar itu hanya beberapa jam saja setelah mengganti bajunya dengan baju yang baru saja diberikan secara cuma-cuma namun mengandung unsur yang tidak cuma-cuma itu mampu menyusupkan mimpi-mimpi dari telinga ke jantung mereka langsung tanpa operasi by pass.

Lain lagi di warung kopi seberang jalan sana, hanya karena memperbincangkan sebuah suara, apakah ia akan memberikan suaranya kepada orang lain atau tidak, tiba-tiba menjadi perkara serius. Jual beli suara ini berujung menjadi jual beli otot, tantangan berupa “elu jual, gue beli” menjadi dagangan murah meriah namun memiliki ekses yang mahal dan tidak tanggung-tanggung, nyawa pun bisa dipertaruhkan di sana hanya karena sebuah suara yang belun jelas nota benenya mau di-kemana-kan nantinya malah berujung dalam ruang UGD dengan tambahan beberapa sulaman dan jahitan di tubuh.

Dalam banyak hal kehidupan, sebuah “suara” bisa menentukan jalan hidup. Misal, sebuah suara hati dalam diri seseorang juga akan menentukan tindak tanduknya dalam menjalani kehidupannya. Tergantung apakah ia akan meng-iya-kan suara hatinya atau menolak mentah-mentah itu urusan pribadi masing-masing. Urusan satu suara pun bisa menentukan sebuah perjalanan sebuah bangsa yang sedang dalam tahap urusan demokrasi. Pilihan satu suara yang dijatuhkan sanggup menyetir roda pemerintahan dalam kurun periode tertentu, yang berimbas pada kehidupan berbangsa dan bernegara kepada warganya, yang bermula dari suara hati untuk membarter suaranya dengan orang-orang yang mewakilkan suaranya itu. Karena saking kecewanya, ada juga yang menolak membarter suaranya dengan janji-janji apapun yang diiming-imingkan ke depan wajahnya dengan tetap berdalih “suaraku adalah milikku” dan menjadi slogan yang menyebar layaknya sebuah virus, hanya karena sebuah kekecewaan kepada janji yang tidak pernah tertuntaskan telah menjadi sebuah budaya tersendiri dalam sebuah proses berdemokrasi.

Dalam kehidapan sekarang dengan teknologi yang sudah jauh melampaui angan-angan sebelumnya, bahkan dari penciptanya, suara-suara itu kini mampu bertransformasi dalam berbagai bentuk, tidak hanya didengar, dilipat, dikompres dalam arus listrik, bahkan suara itu sudah mampu menyusup dalam pikiran seseorang tanpa pernah diketahui siapa pun. Suara-suara itu lalu mentransferkan energinya mulai dari lingkup pribadi ke lingkup keluarga, lingkungan, pergaulan, sistem-sistem sosial. Suatu suara bisa saling mempengaruhi satu sama lain dan memiliki posisi tawar yang sama untuk menang, kalah, atau berada di tengah-tengah sampai menunggu kesempatan untuk menang atau beresiko kalah.

Untung kepada mereka yang memiliki otoritas sendiri atas dirinya dan suara yang dimilikinya. Kontrak politik atas suara yang dibarter bisa dimungkinkan kalau semuanya berjalan lancar, tidak hanya sekedar basa-basi dan tanda tangan di atas kertas fotokopi semata. Hanya karena sebuah suara, banyak orang rela untuk bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik lagi dari sekarang, tentunya dengan resiko kegagalan demi kegagalan. Hanya suara yang jelas-jelas keluar dari nurani sajalah tetap menuntaskan janji-janji atas suara yang telah dibarter kepadanya dan tetap bekerja keras meski gagal, dikucilkan, diabaikan.

Jadi, suara siapa yang mesti dikedepankan terlebih dahulu? Salam suara!! lhaa…??

Ditulis dalam OPINI | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Orang Biasa

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Penyamun mabuk

Terhentak Terkesima

Ketika samar;

Ia mendengar


Perempuan itu berkata:

“Aku ini orang biasa.

Tapi aku masih perawan.”



Sawaludin Permana, Jakarta, 16 Maret ‘99

Ditulis dalam PUISI | yang berkaitan: , , , , , , , | Leave a Comment »

Mereka yang tidak beruntung

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Juni 2009

Dunia ini memang dipenuhi orang-orang tidak beruntung, tapi mereka mampu bertahan dan menjalani ketidak beruntungan hidup mereka dengan tabah dan sabar. Sedikit tawa dan senyum yang mampu mereka ungkapkan, mungkin mengurangi rasa sakit mereka, meski hanya sedikit, tapi mereka bisa. Aku iri melihat kekuatan mereka melawan semua kegetiran hidup, sementara, mungkin, di sebelahku ada seseorang menyumpah serapah karena makanan yang mereka pesan tidak sesuai keinginan mereka kepada si pelayan. Hidup memang kontradiktif, hidup memang ironis, hidup memang mungkin hanya sebuah pangung dan lakon-lakon. Sayangnya, begitulah yang terjadi.

Bahkan apapun segala yang pernah kita rencanakan dalam kehidupan kita sendiri, tidak jarang semua itu menyimpang jauh dari angan-angan (aku bertepuk tangan salut kepada mereka yang berhasil mewujudkan impian-impian mereka, pasti dengan kerja keras dan bersusah payah). Tidak perlu jauh mencari contoh, tentu saja aku juga mengalaminya sendiri. Membuat rencana memang sangat menyenangkan dan memberi semangat hidup yang menggebu-gebu, namun ketika realitas ingin bicara sesuai kehendaknya sendiri, tanpa kita bisa mengendalikannya, tidak jarang dari kita terpuruk terlalu lama karena kegagalan dari rencana-rencana yang kita gaungkan kepada masa depan.

Ketidak beruntungan ternyata juga sanggup membuat banyak dari kita bisa bersikap sabar dan bijak dalam menanggapi segala situasi dan tindakan, tidak ceroboh dan gelap mata. Menanggapi setiap cobaan dengan arif adalah jalan terbaik, dan tetap pada tujuan adalah satu-satunya cara untuk tidak tenggelam dalam keterpurukan terlalu lama. Menangis sekali, hentak lima sampai sepuluh langkah, ibaratnya seperti itu. Bolehlah kita meratapi kegagalan-kegagalan kita, aku tidak malu kalau aku juga meratapi kegagalanku sendiri, lebih dari sekali, karena sudah terlalu banyak kegagalan yang kurasakan mungkin, hahaha, tapi itu tidak jadi soal. Masalahnya adalah apakah kita sanggup berdiri lagi dengan gagah dan menantang kembali masa depan dengan rencana-rencana baru, tentunya dengan tingkat kematangan yang lebih setelah belajar dari kegagalan kemarin, aku melawannya, ya, aku menantang ketidak beruntunganku sendiri dan bertaruh nasib dengan masa depan. Bukankah kita sering bilang kalau hidup hanyalah masalah pertaruhan saja, tergantung kita berani bertaruh besar atas diri kita atau tidak. Kau pesimis, kau bertaruh kecil saja, kau optimis, setidaknya kau sudah bertaruh besar dengan yakin atas dirimu, biar faktanya pun nanti kita tidak tahu apakah menang, kalah atau seri. Tapi, bukankah kita sudah menunjukkan diri kita atas pertaruhan itu. Setidaknya itulah yang membedakan kita dengan mereka yang hanya meratapi kegagalan mereka sendiri

Jadi, apakah kita akan diam menghadapi ketidak beruntungan atau malah maju kembali untuk melawannya, aku rasa itu masalah sikap masing-masing orang. Aku rasa, aku akan melawan dan menantang masa depan lagi. Biar gagal lagi, menantang lagi, gagal lagi, melawan lagi sampai hampir binasa. Setidaknya aku tahu, aku tidak tinggal diam begitu saja. Jika aku kalah, mungkin aku masih tetap bisa tersenyum karena aku bertaruh atas usaha terbaikku untuk menang. Bukankah ketidak beruntungan masih bisa mengajarkan kita untuk belajar dari pengalaman. Semoga saja aku bisa maju untuk melawan dengan pertaruhan yang lebih besar lagi. Bagaimana dengan kau?

Ditulis dalam DARI HATI | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Kerinduan Eksistensi

Ditulis oleh permanas di/pada 14 Mei 2009

Bagi sebagian orang pengakuan akan keberadaan mereka adalah penghargaan yang tak pernah ternilai. Adanya orang lain adalah berarti beradanya mereka secara utuh sebagai pribadi maupun sebagai makhluk sosial di mana mereka hidup dan berada. Sementara keterasingan diri adalah sebuah penderitaan yang menjauhkan mereka dari rasa peng-aktual-an akan keberadaan mereka. Dan keterasingan adalah apa yang mereka ingin coba jauhi di tengah hiruk pikuk peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka tidak ingin ketinggalan satu informasi apapun sebagai salah satu bentuk pengungkapan akan keberadaan mereka.

Ketika ‘sendirian’ itu sudah begitu mengikat, sesuatu memberontak. Gelisah adalah awal dari pemberontakan itu sendiri, bergulat dengan keterasingan yang berusaha untuk ditolaknya. Cara apa pun bisa ditempuh sejauh kesanggupannya untuk melawan keterasingan itu sendiri. Banyak orang menyebut keadaan seperti itu adalah sebagai sebuah pelarian. Atau, bisa saja, hanya sekedar berlari. Jika tidak ingin disebut sebagai ‘pelarian’.

Mempertentangkan eksistensi diri dengan kebutuhan sosial akan kehadiran individu dalam suatu kelompok atau lingkungan bisa saja rumit bisa saja tidak, tergantung kemauan si individu atau si selompok itu menerima atau menolak kehadiran satu sama lainnya dalam satu lingkungan yang sama. Dan penolakan memang tidak diharapkan dalam sebuah proses ‘mengada’.  Saya coba akan merujuk kepada sebuah kota besar super sibuk yang tidak pernah tidur sedikit pun, di mana waktu begitu sempitnya, sampai-sampai hanya sekedar saling menyapa pun orang sudah tidak punya waktu untuk itu. Waktu benar-benar dihitung secara cermat dan tepat, bagi mereka yang tidak ingin ketinggalan satu apa pun dalam pergerakan waktu yang tak kenal lelah, dan untuk menjadi selalu yang terdepan. Apa yang terjadi ketika suatu rasa gelisah menghentak mereka? Ya, jika saya hidup seperti itu, saya akan benar-benar merasa terasing. Saya tidak ada, saya ada jika hanya pada saat saya memburu waktu bersama orang-orang yang juga memburu waktu mereka. Yang menyamakan kami hanya ketika memburu waktu itu, setelah itu, individu-individu adalah pribadi yang tertutup. Dan satu-satunya yang ditakuti adalah kematian. Seperti ketika Heidegger bilang, “Ketakutan terbesar manusia dalam sejarah hidupnya adalah menghadapi kematian”. Jadi ketika keberadaan saya mulai terancam, saya juga mulai mencurigai kematian sebagai penyebab hilangnya keberadaan saya untuk hidup dan mengada, sampai-sampai saya mencoba menipu kematian dan mengakalinya agar keberadaan saya sendiri tetap utuh. Meski saya tahu kalau saya tidak mungkin memenangi pertarungan ketika melawan kematian atas keberadaan saya sendiri.

Hidup memang ironis, tapi merasa sendiri adalah sesuatu hal yang sangat keterlaluan dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Penolakan atas diri pribadi adalah sebuah penyiksaan yang tidak dapat diterima begitu saja. Dan kehilangan akan sesuatu yang berharga memang bisa mengurangi keberadaan diri sendiri.***

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Tanpa henti

Ditulis oleh permanas di/pada 17 April 2009

baru saja kutikam

seseorang

yang hidup dalam nadiku

sekarang,

ia malah menjadi hantu

dan merangkaki

aliran darahku

sambil terus menampar dan memaki …

“Kenapa kau menyerah?!”

berulang-ulang

tanpa henti

memperkosa nuraniku

merobek-robek logikaku

dan mencuri hatiku

aku

tak mampu

mengangkat kepalaku

permanas/Jakarta, 170409/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , | 3 Komentar »

Marry Anne Clark (1975 – 2002 ): “Aku ingin hidup sedikit lebih lama”

Ditulis oleh permanas di/pada 8 April 2009

“Dulu aku mampu berdiri, aku melihat lintasan itu menantangku. Sekarang ia merayakan kemenangannya atasku. Tapi aku masih sanggup untuk lantang duduk di sini, meski hanya menggunakan kursi roda. Aku terlalu lama merindukannya, Tom,” kata Marry pelan. Perempuan itu tampak kurus pucat, ia duduk pada kursi roda dan Tom berdiri di belakang Marry.

Dulu Marry adalah seorang pelari tercepat di kelasnya, 100 meter baginya hanya sejengkal saja dengan kakinya yang indah dan panjang. Beberapa penghargaan telah melingkari lehernya dengan berbagai medali, tangannya telah banyak memeluk rangkaian bunga yang semerbak. Namun, itu dulu, sekarang Marry cuma menatap lintasan itu menggaris kosong. Biasanya setiap pagi ia latihan di tempat itu sampai Tom, suaminya, harus menjemput dan mengingatkan agar jangan terlalu keras dengan dirinya. Dan suatu ketika, kecelakaan itu terjadi.

Marry tergelincir, membuat dirinya tersuruk ke luar lintasan dan membentur pagar penghalang dengan keras. Kakinya patah dan pergelangan kakinya menggeser hingga menyebabkan pembengkakan dan penyumbatan aliran darah. Marry sangat membutuhkan pertolongan medis dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan, di situlah awal petaka bagi dirinya. Sesuatu yang tidak diinginkan, Marry harus hidup bersama dengan penyakit yang mengerikan itu. Ia hanya menunggu penyakit itu memakannya hidup-hidup. Marry tidak akan menyerah begitu saja, tidak, Marry ingin hidup beberapa tahun lebih lama lagi bersama Tom, bersama orang-orang terdekat yang begitu Marry sayangi. Ia akan tetap berjuang. Marry tahu itu. Dan, Tom juga sangat mencintainya.

“Sudahlah, sayang, kau sudah mengalahkan lintasan itu. Baik dulu maupun sekarang, kau telah menang atasnya,” jawab Tom penuh kasih sayang kepada Marry. Tom berjongkok di depan kursi roda Marry. Tom menatap begitu dalam mata perempuan yang ada di hadapannya, ia tahu ia akan berbagi apa pun kepada Marry, begitu juga sebaliknya. Penderitaan yang mereka alami berdua.

“Tak seharusnya kesalahan itu terjadi padaku. Kalau jarum yang menembus kulitku itu telah mengandung sesuatu yang akan memakanku hidup-hidup,” kata Marry lagi. Kali ini nadanya seakan menyesali apa yang telah terjadi atas dirinya. Marry mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Ia melihat seorang perempuan muda sedang berlatih pada lintasan kesukaannya, Marry iri melihat kaki yang indah dan panjang itu, seperti miliknya. Marry menundukkan pandangannya kepada kakinya yang telah cacat. “Aku benci kaki ini, aku benci kaki ini,” hentak Marry tiba-tiba, ia ingin menolak kenyataan dirinya tapi tidak mampu untuk bergerak sejengkal pun dari kursi roda.

“Sayang, kau harus tabah. Kau tangguh, kau akan mampu melewati semua ini.”

“Sampai kapan, Tom, Sampai kapan? Kau tahu aku sudah kalah sejak terakhir kali aku melintasi lintasan itu. Aku tidak sanggup lagi, Tom.”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, kau masih memiliki aku. Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu barang sekejap pun, tidak akan, Marry, tidak akan,” rujuk Tom. Sekarang Marry mencoba bersandar dalam pelukan Tom. Ada suatu kekuatan baru menghantarkannya kepada Marry. Ia ingin bersemangat lagi, ia tahu ia tidak kalah. Perasaan ini hanya sementara. Marry tahu itu.

“Bawa aku pergi dari sini, Tom,” bilang marry. Tom melepaskan pelukannya.

“Baiklah, kau memang tidak perlu lagi melihat masa lalu di sini. Kau adalah dirimu yang sekarang ini aku lihat, sayangku,” kata Tom sambil mendorong kursi roda Marry menjauh dari lintasan merah itu. Marry agak menoleh sedikit, kembali ia melihat perempuan muda itu kini berlalu dengan gemulai, seakan ia tidak berlari, ia melayang, ia terbang, ia mengalahkan lintasan itu seperti dirinya dulu yang mengalahkannya. Marry ingin kembali ke sana, ia tahu ia sudah tidak dapat lagi, maka ia hanya menatap ke depan saja. Hidup bukanlah di belakang, Marry harus menantang sesuatu yang baru dengan melawan sekuat tenaganya sampai ia benar-benar tidak sanggup lagi untuk meneruskan semuanya.

“Ya, bawalah aku pergi, Tom. Atau, bawalah aku terbang,” bisik Marry dalam hati, ada setitik air mata membelah wajahnya yang putih pucat itu.

***

Rumah sakit Angel saat itu sedang ramai, tiba-tiba saja sebuah ambulan menyerobot masuk ke depan pintu UGD dan menarik sebuah tempat tidur dorong untuk meletakkan seorang pasien yang baru saja mengalami patah tulang dan penyumbatan aliran darah pada tulang kakinya.

“Marry Clark, seorang pelari, mengalami patah tulang dan penyumbatan pada tulang dan pergelangan kaki. Segera hubungi dr. David, ia akan menangani segera kasus ini,” kata seorang petugas medis yang mengantar seorang pasien bernama Marry Clark. Seorang perawat bergegas mengganti petugas medis itu dan dan yang lainnya segera menghubungi dr. David, ahli tulang pada rumah sakit itu.

Marry masih tidak sadarkan diri, ia pingsan. Tak lama setelah itu dr. David sudah ada di sana dan menangani kasus Marry. Dr. David dibantu beberapa orang perawat segera memasang beberapa alat elektronik penunjang kehidupan, sebuah infus sudah menggantung di sana dan detak jantung Marry terlihat tidak stabil.

“Sekarang dia sudah stabil. Kondisinya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selain kakinya. Aku akan memindai lukanya,” kata dr. David, seorang perawat segera menuruti perintah dr. David. “Adakah seseorang yang bisa dihubungi untuk memberitahukan keadaan Marry Clark di sini?” tanya dr. David lagi.

“Suaminya sedang menunggu di luar,” jawab perawat yang lain sambil menggantungkan infus dan mengikuti tempat tidur dorong di mana Marry terbaring.

***

Ruangan putih itu begitu hening, yang ada hanya suara kecil dari alat deteksi jantung Marry. ia terbujur kaku di tempat tidur yang juga berwarna putih bersih, ia masih memejamkan kedua matanya.

Tapi, ada sesuatu yang berubah, Marry berada dalam lintasan merah yang selalu ditantangnya selama ini, ia berlari, dan terus, sampai Marry merasa ia sedang tidak berlari di sana, dia terbang, Marry melayang. Gerakan itu begitu lambat, ia melihat orang yang meneriakinya supaya lebih bersemangat pada bangku-bangku yang terjajar di sepanjang pinggiran lintasan, seakan asing. Marry tidak tahu kenapa ia ada di sana, ia hanya tahu kalau ia sedang berlari, tidak, dia terbang dan melayang di sana. Marry mengalahkan lintasan itu. Marry juga melihat Tom di sana. Dan tiba-tiba saja sesuatu membuatnya kehilangan keseimbangan, kecepatan yang tinggi itu tidak dapat dikendalikan, orang-orang yang melihat kejadian itu hanya dapat berdiri kaku dan melihat Marry semakin terlontar jauh ke depan. Begitu juga dengan Tom, tangannya menggapai tapi tidak sampai ke tangan Marry, ia menggenggam kosong sementara Marry semakin terpuruk.

“Tidaaaaaakkkk…!” teriak Marry. Ia terbangun. Pandangannya hanya menatap langit-langit ruangan di mana Marry terbujur kaku di sana. Ia tidak dapat merasakan kakinya, tidak, ia bahkan tidak mampu menggerakkannya. Marry tidak dapat merasakan tubuhnya dari dari pinggang sampai ujung jari kakinya. “Apa yang terjadi dengan kakiku? Bukankah aku tadi… tidak, tidak ini tidak mungkin. Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi,” kata Marry mencoba menenangkan dirinya, ia tahu dirinya selalu dapat dikendalikan. Apakah kali ini ia akan berhasil mengendalikan dirinya, ia masih terbujur kaku pada ruangan yang hening dan sepi itu, cuma irama detak jantungnya saja yang terasa semakin kencang.

***

“Hai, Marry, kuharap kau baik-baik saja,” sapa Hill dan Clint, tetangga mereka, ketika pasangan itu berkunjung ke rumah Marry. Hill membawa beberapa makanan kecil untuk dinikmati pada acara bersantai mereka sore itu.

“Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir,” jawab Marry sambil mengayuh kursi roda ke arah mereka dan menyalaminya dengan senyuman khas milik Marry. ia tahu, Tom jatuh cinta kepada dirinya hanya karena ia selalu dapat tersenyum apa pun yang terjadi. Marry selalu mampu tersenyum.

“Di mana Tom?” tanya Clint sambil memperhatikan sekeliling ruangan dan tidak mendapati sedikit batang hidung Tom.

“Ia masih di belakang. Kalau dia mendengar suaramu pasti ia akan segera menyudahi pekerjaannya.”

“Pasti dia sedang mengutak-atik mobil rongsok itu di garasi belakang.”

“Ya, aku rasa kau tepat sekali, Clint. Tom selalu menghamburkan waktu luangnya dengan mobil tua itu.”

“Betapa bodohnya dia membiarkan seorang bidadari seorang diri di dalam sini,” pikir Clint sambil berlalu ke belakang dan memanggil tom dari garasi.

“Lelaki memang begitu, bukan. Tapi, kau juga tidak perlu risaukan hal itu, aku telah mendapat lebih dari yang kubutuhkan kepada Tom,” jawab Marry lagi dan membiarkan Clint menemui Tom.

“Apa yang sedang kau lakukan itu, Marry?” tanya Hill ketika melihat rajutan kecil pada pangkuan Marry.

“Hanya pekerjaan iseng saja,” jawab Marry dan segera menaruh rajutan itu. Ia ingin menyembunyikan perasaannya kepada Hill. Marry tidak ingin bercerita tentang perasaannya yang satu itu. Sayang, Hill sudah memperhatikan lebih dahulu, Marry tahu kalau Hill adalah satu-satunya tetangga yang memperhatikan dirinya. Sejak tetangga mereka mengetahui Marry terinfeksi penyakit itu, banyak tetangga mulai menjauhinya, bahkan mulai mengasingkannya. Tom tidak memperdulikan mereka. Bagi Tom, Marry saja sudah cukup membuatnya bahagia, apa pun yang terjadi atas diri mereka. Tom tidak peduli.

“Aku rasa tidak,” jawab Hill sambil duduk pada sofa dekat Marry.

“Apa maksudmu, Hill?”

“Aku rasa kau kesepian. Kau membutuhkan lebih dari Tom dan kami.”

“Aku…, aku tidak mengerti.”

“Kau membutuhkan kehadiran yang lain, sesuatu yang kau kandung dan kau lahirkan dari rahimmu sendiri.”

“Seorang anak? Hill, kau tahu aku tidak dapat melakukan itu sejak aku mengalami semua penderitaan ini. Terlebih dengan penyakit yang harus kulawan.”

“Kau bisa mengadopsi.”

“Dengan keadaan seperti ini. Kau sendiri? Kau sudah lama bersama Clint. Kau pun belum mampu melakukannya.”

“Kau mengalihkan pembicaraan, Marry.”

“Itu sama saja. Tapi tidak apa-apa. Hei, apa yang kau bawa itu?”

“Brownies. Kau mau?”

“Ya, beri aku sedikit saja.”

“Sebentar. Kupotongkan untukmu,” kata Hill sambil menuju ke dapur untuk mengambil pisau dan beberapa buah piring untuk potongan kecil brownies itu. Pada celah dinding jendela, Hill melihat suaminya dan Tom masih saja bercanda dan tertawa di belakang sana. “Dasar laki-laki, mereka tidak akan pernah merasa dewasa,” kata Hill dalam hati dan kembali ke dalam menemui Marry. Sekarang Marry meneruskan rajutannya. Tidak ada yang disembunyikan Marry kepada Hill. Ia rasa Hill benar akan perasaannya. Biar Tom memberi perhatian yang lebih kepadanya, tetap saja ada sesuatu yang seakan hilang dari bagian dari dirinya. Ia tidak sanggup melakukannya, meski Tom tidak terlalu mempermasalahkan hal yang satu itu.

***

“Kau akan baik-baik saja, Marryku sayang. Aku tahu kau akan begitu,” kata Tom pelan seakan membisiki Marry yang masih tertidur ketika Tom menjenguknya pagi itu.

“Permisi,” seorang perawat mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan putih itu. Bagi Tom semua yang ada di tempat itu seakan sama, bahkan pakaian suster itu pun tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Perawat tersebut melakukan pemeriksaan rutin, mengecek denyut jantung Marry dan merapikan posisi tidur Marry. Marry masih belum bergerak sedikit pun.

Tom agak menjauh dan menatap keluar jendela. Ia teringat perkataan dr. David yang memberitahu kalau Marry, setelah ia mengalami cidera itu, perkiraan dr. David meleset, pendarahan dalam kaki Marry membuatnya menjadi lumpuh. Dr. David menjelaskan kalau kasus yang dialami Marry adalah kasus yang langka dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Pikiran itu mengiang di kepala Tom ketika ia melihat keluar jendela dari kamar 209 di lantai 3, di bawahnya ia melihat seseorang dengan susah payah mengayuh kursi roda. Ia akan melihat Marry akan berlaku seperti itu. Selain mengalami kelumpuhan, ia juga didiagnosa terjangkit virus HIV dan pihak rumah sakit mengklaim bahwa peralatan medis mereka seluruhnya higenis dan memisahkan pasien berdasarkan penyakit mereka, terlebih penyakit berbahaya dan menular.

“Tuhan, kau sedang memberi ujian dalam hidup kami. Orang yang kucintai sekarang tidak bisa merasakan kakinya, ia tidak bisa lagi merasakan betapa begitu indahnya melayang dalam udaramu yang sejuk. Ia seorang pelari yang handal, tapi kau merenggut apa yang paling dibutuhkannya, kebanggaannya. Dan sekarang, ia juga harus hidup bersama penyakit yang sangat memantikan. Tapi aku tahu, kau tahu apa yang terbaik untuk kami jalani,” kata Tom dalam hati.

“Tom,” tiba-tiba Tom mendengar Marry memanggilnya dengan lirih sekali. Tom langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas menghampiri Marry. Tom duduk di samping Marry sambil menggenggam tangan kanan Marry. Marry membalasnya.

“Ya, sayangku,” jawab Tom mesra sambil memberi ciuman pada kening Marry.

“Terima kasih, Tom, karena kau ada di sini,” kata Marry lagi setelah ciuman hangat di keningnya telah memberinya sebuah kekuatan.

“Ada yang ingin kukatakan, Sayang, tapi…., ah…, aku tidak sanggup mengatakannya,” kata Tom. Ia ingin menangis, tapi tidak ingin memperburuk keadaan Marry. Ia takut.

“Tidak apa-apa, Sayangku, aku sudah tahu. Kau tidak perlu mengatakannya, aku hanya butuh kau untuk menjalani semua penderitaan ini. Kau tahu aku tangguh, bukankah aku sudah mengalahkan banyak rintangan, kau tahu aku akan mampu melewati semua ini. Aku hanya butuh kau di sampingku,” kata Marry sambil mengusap kepala Tom yang jatuh ke dalam dekapan Marry. Ia tahu, Tom ingin menyembunyikan air matanya dari dirinya. Marry selalu tahu itu.

“Dokter bilang, kau tidak akan merasakan kakimu lagi, kau lumpuh. Mereka tidak bisa mengobatimu karena kasus yang mereka temukan kepadamu sangat langka terjadi. Terakhir mereka bilang kau juga didiagnosa telah terjangkiti virus HIV. Pihak rumah sakit mengklaim kalau itu bukan kesalahan mereka. Aku takut kehilangan kau, Marry, aku tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya,” kata Tom lagi.

“Kita akan menjalaninya, Tom sayang, kau tahu itu. Aku sudah tahu, Tuhan juga tahu, kita sanggup melawannya. Aku tidak akan menuntut siapa-siapa atas kesalahan itu. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat yang pucat ini. Apakah wajahku menjadi sama dengan warna dinding itu,Tom?”

Tom mengangkat kepalanya dan menemukan Marry begitu lemah. Tom juga tahu, virus itu sudah mulai menjamah kekebalan tubuh Marry. “Kau tetap terlihat cantik, Marry-ku sayang. Ah, kau selalu tahu kalau aku jatuh cinta padamu dari kecantikan yang kulihat sekarang.”

“Kau berbohong padaku. Kau tahu aku sudah tidak lagi cantik sekarang.”

“Aku tahu.”

“Kau selalu tahu, Sayangku.”

***

“Kau harus terbiasa dengan keadaanku yang sekarang ini, Tom. Aku hanya butuh kau, tidak dengan yang lainnya,” kata Marry setelah mereka baru sampai di depan rumah. Tom membantu Marry keluar dari mobil dan mencoba berusaha duduk di kursi roda yang sudah menunggunya, dan akan menjadi teman Marry setiap hari.

“kau berhasil, Marry,” kata Tom setelah Marry duduk pada kursi rodanya. Biar kudorong,” lanjut Tom.

“Sayang, aku masih sanggup melakukan hal ini sendiri. Biarlah aku yang melakukannya, sekarang, kau ambil saja barang-barang itu di bagasi,” suruh Marry dan ia bergegas menuju rumah. Rasanya, bagi Marry, itu sudah bertahun-tahun lamanya Marry meninggalkan rumah yang dicintainya bersama dengan Tom.

“Baiklah.” Tom harus bergegas, takut Marry membutuhkannya di dalam.

Hari-hari pertama pulang dari rumah sakit agak asing bagi Marry, tapi Tom selalu mendukung. Tom selalu membesarkan hati Marry agar ia selalu kuat dalam menghadapi cobaan yang sudah menunggunya di luar sana. Berita tentang Marry cepat menyebar ke daerah sekitar, ketika Marry berjemur di halaman depan setiap pagi, orang-orang yang melewati rumah mereka, seakan ada yang berubah dalam tatapan itu. Marry tidak mengerti, tapi ia tidak peduli. Padahal sebelum ia seperti sekarang ini, banyak dari mereka mengelu-elukan dirinya atas apa yang telah diraihnya. Sekarang pandangan itu berubah, mereka semakin menjauh. Kecuali Hill dan Clint, mereka berdua selalu memperhatikan perkembangan Marry, meski mereka tahu, Marry sering terlihat sakit dan lemah.

“Kau terlihat tidak sehat, Sayang,” bisik Tom. “Lebih baik kita kembali ke dalam dan beristirahat.” Tom mendorong kursi roda Marry. Marry tidak menjawab, sesekali ia terbatuk dan nafasnya terlalu rapat.

“Aku ingin merebahkan diriku dekat jendela, Tom,” pinta Marry pelan. Tom menuruti. Memang di dekat jendela ada sebuah sofa berwarna biru muda yang nyaman disediakan Tom untuk Marry.

***

Lain hari, Marry tampak terlihat sehat dan ceria. Marry pasti selalu mengajak Tom untuk berjalan-jalan ketika suasana hatinya sedang cerah. Kesempatan itu dipergunakan dengan baik oleh Tom. Maka ia akan mengajak Hill dan Clint untuk turut serta mengobrol di taman terdekat, tidak jauh dari rumah mereka.

“Kau tampak sehat, Marry,” sapa Hill ketika mereka sudah sampai pada taman yang teduh. Semilir angin menerpa wajah Marry, ia memang sedang ceria sekarang. Tidak dengan Tom.

“Aku selalu begitu, bukankah begitu, Tom, Sayang?” tanya Marry.

“Kau tahu, kau selalu berseri sepanjang hari seperti kembang musim semi dan buah cerry yang berwarna indah. Kau selalu tahu itu,” kata Tom. Ia berbohong kepada Marry. Tom ingin pergi sejenak dari sana, bersembunyi dan menangis sebisanya. Tapi tidak, Tom tidak bodoh seperti itu, ia bukan pecundang. Ia adalah kekasih Marry, seorang perempuan yang teguh dan kuat ada ditangannya. Tom tidak akan menyia-nyiakannya.

“Ya, kau selalu begitu Marry. bukan begitu, Tom?” sambung Clint lagi sambil menyodorkan sebuah minuman kaleng kepada Tom.

“Ya, ia selalu saja begitu. Terima kasih,” jawab Tom memaksakan senyumnya.

***

“Aku ingin kembali melihat lintasan merah itu lagi, Tom. Maukan kau membawaku ke sana?” pinta Marry. Ia semakin bertambah pucat.

“Tapi lebih baik kita tunggu saja sampai kau merasa baikan.”

“Aku merasa sehat. Ayolah, Sayang, sebentar saja,” bujuk Marry. Tom tidak dapat menolaknya, takut Marry menjadi sedih.

“Rasanya sudah terlalu lama sekali, Tom. Sayang aku tidak bisa mengalahkan lintasan itu lagi. Tapi, bawalah aku ke jalur itu, Tom, bawalah aku berkeliling sekali saja. Aku rindu untuk melintasinya,” pinta Marry lagi.

“Baiklah, Sayang. Tapi apa kau nanti tidak kelelahan, kau harus selalu menjaga kesehatanmu, jangan memaksakan dirimu sendiri.”

“Kumohon, sekali ini saja.”

“Baiklah, sekali ini saja,” jawab Tom dan membiarkan dirinya membawa Marry mengelilingi lintasan merah itu.

Dalam bayangan Marry, ia mengenangkan sorakan-sorakan ramai mengarah kepadanya. Karena ia bagaikan bidadari yang lincah ketika berada di lintasan itu, ia merasa terbang, melayang, ia bahagia bisa melakukannya lagi. Biar sekarang sorakan riang itu hanya ada dalam bayangannya saja. Pandangan Marry semakin redup, sesekali Tom mendengar Marry menarik nafas, ia sedikit batuk dan lalu kembali menyandar pada sandaran kursi rodanya.

“Sebaiknya kita kembali pulang, Sayang,” kata Tom membujuk agar Marry tidak terlalu bersikeras berlama-lama di tempat itu.

“Aku lelah. Kalau begitu bawalah aku kembali. Tapi kau tahu, aku iri kepada perempuan yang ada di sana, ia memiliki kaki yang indah dan panjang seperti yang pernah aku miliki,” kata Marry.

“Kau tetap memiliki kaki yang indah dan bagus, lebih bagus dari gadis itu.”

“Kau bergurau, Tom.”

“Aku tidak sedang bergurau. Aku sungguh-sungguh, Sayang. Itu benar.”

“Aku percaya. Sekarang aku bisa merebahkan diriku.”

***

Pagi itu sungguh cerah, burung-burung merpati beterbangan dengan bebasnya, awan-awan itu berarak tenang seperti tidak ada satu hal pun yang terjadi di sana. Ketika seorang laki-laki yang berusaha tidak mengeluarkan airmatanya, berdiri sambil memandangi batu nisan yang di kiri dan kanannya membentuk pahatan anak-anak dengan sayap pada punggung mereka. Laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun untuk beberapa saat. Mencoba mengabaikan rasa kehilangan, tapi tidak sanggup dilakukannya.

Marry Anne Clark, 1975 – 2002. Di sini terbaring lelap seorang perempuan yang telah melalui hari-harinya yang berat dengan tegar dan sabar. Sekarang dan selamanya, ia telah pergi dengan damai dalam keberkahan naungan Tuhan. Istri dari Tom Clark, yang tetap mencintainya sampai kapan pun.

Begitulah Tom berdiri di hadapan batu nisan Marry. Tom meletakkan sekuntum mawar yang masih wangi, mencium batu nisan Marry seakan ia benar-benar mencium kening Marry.

“Selamat jalan, Sayang,” kata Tom pelan dan meninggalkan makam Marry dengan hati yang masih sedih.***

Ditulis dalam CERPEN | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Gagasan dalam perspektif estetika

Ditulis oleh permanas di/pada 3 April 2009

Oleh: Sawaludin Permana

Gagasan-gagasan cemerlang yang jika dikaitkan dengan sudut pandang estetika pastilah berkaitan dengan pencerapan-pencerapan makna yang dapat dituangkan ke dalam suatu hubungan interpersonal antara hasil karya cipta dengan para penikmatnya, sebut saja ketika suatu karya puisi diciptakan, atau bentuk ruang bangun dalam seni rupa, misalnya. Dalam kehadirannya yang sunyi beberapa hal memang masih terkandung di ranah hening pikiran si penciptanya dan media pikirannya sendiri yang merasakan hubungan kedekatan tersebut. Ketika suatu karya disajikan ke tengah masyarakat sebagai sasaran utama, kecuali hasil karya tersebut dibuat untuk konsumsi pribadi yang tidak memerlukan persepsi publik selain dari si empunya sebagai ‘peraji’ yang melahirkannya ke dunia ini, pikirannya memang yang mengandung semua itu, terlebih ketika berhadapan dengan dunia nyata. Justru seharusnya, dunia nyata itu, ia adalah media tempat tumbuh kembangnya gagasan yang memerlukan tempaan lebih dari sekedar tanah gembur dan subur untuk mencengkramkan akar-akar ide itu ke dalam pikiran dan cecapan para penikmatnya.

Memang, estetika, jika dijelaskan secara sederhana adalah suatu ilmu yang membahas tentang keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Gagasan, dalam segala bentuk dan manifestasinya, adalah sebuah hasil dari kerja-kerja intelektual seseorang yang masih dalam proses mewujud. Ketika gagasan merubah dirinya men-jadi sesuatu yang dapat dilihat, dirasa, diraba, atau dinikmati, maka ia sudah menjadi sebuah ‘produk kreatif’ dari gagasan itu sendiri setelah melalui proses pergumulan batin yang melelahkan.

Gagasan jika dilihat dari sudut pandangan estetik adalah suatu ide kreatif imajinatif, gagasan yang berjalan di atas benang-benang keindahan yang saling menjalin membentuk sebuah guratan estetis di dalamnya. Terlepas dari pandangan obyektif atau pun subyektif, toh, gagasan yang dihadirkan dalam suatu bentuk apa pun tetap memiliki keindahannya sendiri. Apakah itu suatu bentuk yang memang benar-benar dikatakan indah atau bentuk imajinatif dalam konsep ‘beauty inside the beast’, tetaplah memiliki nilai estetisnya sendiri.

Memang, pada dasarnya seluruh ide penciptaan mengacu pada nilai-nilai estetis. Meskipun nilai estetis itu sebenarnya bisa dikatakan relatif. Dikatakan relatif karena indah atau tidak, estetis atau tidak estetis suatu karya itu memang benar-benar tergantung dari sudut pandang si penikmat atau penggunanya sebagai sasaran dari produk kreatif itu. Bisa saja, bentuk yang abstrak atau kata dan kalimat yang tak beraturan memiliki kenikmatan dan maknanya tersendiri, tergantung bagaimana cara si penikmat menghayati hasil karya itu. ‘Menggugah kesadaran estetik’ seseorang adalah cara lain gagasan merealisasikan dirinya dalam bentuknya yang halus dan hampir selalu luput dari pandangan mata yang tidak jeli menangkap ide-ide gagasan dari sebuah rasa estetik yang memang ‘sengaja’ disembunyikan dari si penciptanya.

Jadi, apa pun bentuk dan wujud dari gagasan itu, tersimpan dalam benak imaji yang tersembunyi atau pun benar-benar mengejawantah, tetap memiliki nilai estetiknya sendiri. Salam.***dari berbagai sumber.

Ditulis dalam OPINI | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Ular dan Gagak

Ditulis oleh permanas di/pada 23 Maret 2009

Hari sabtu kemarin petang, ketika saya sedang bersantai menikmati sore yang tenang sambil meminum kopi dan membaca, tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh tamu tak diundang, tamu itu berwujud seekor ular. Meski pun hanya seekor ular kebun yang tidak berbahaya, ia tetap seekor ular. Untungnya kali ini ia sedang tidak ingin apa-apa, mungkin hanya sekedar lewat saja barangkali. Maka dengan rasa berteman, saya mengambil sapu lantai, tidak, bukan untuk memukulnya, tetapi dengan lembut saya mengarahkan si ular itu untuk kembali saja ke kebun karena percuma ia tidak akan menemukan apa-apa di tempat beradanya saya. Saya melakukan seprofesional mungkin seperti yang dilakukan dalam film-film dokumenter, jika kita melakukan kelembutan dengan lingkungan liar di sekitar kita, tentunya ia akan bertindak ramah, sepertinya hukum rimba tersebut masih berlaku di tempat saya yang notabenenya hampir sedikit sekali tanah terbuka dan rumput bisa tumbuh dengan sahaja. Ular itu tidak berbalik untuk berusaha menggigit saya, sebaliknya ia mengikuti arahan saya dengan berjalan kembali ke dalam semak-semak dekat rumah saya. Posisi saya, kaki saya dan ular itu tidak lebih dari setengah meter, jadi betapa dekatnya jika ia ingin menggigit saya, tapi tidak dilakukannya. Ular itu lebih memilih berdamai dengan lingkungannya dengan tidak melakukan kekasaran dan kebrutalan yang tidak perlu, yang jika saja ia lakukan bisa mengakibatkan nyawanya melayang secara sia-sia.

Saya jadi tersenyum sendiri, bernafas lega ketika ular itu kembali masuk ke dalam semak-semak. Untung ia bertemu dengan saya, pikir saya ketika itu, jika tidak, bisa saja kebrutalan atas dirinya dapat terjadi dan membuat dirinya kehilangan nyawa. Saya teringat ayah saya sendiri, ketika melihat sosok ular ia langsung mencari pentungan dan berusaha membunuh ular itu sebagai tamu tak diundang yang bisa membahayakan seluruh anggota keluarga. Untung saja, pikiran saya menolak melakukan pembunuhan itu. Saya lebih memilih untuk membiarkannya tetap lepas di alam dan menjadi salah satu rantai yang tidak hilang secara paksa dalam kehidupan. Saya pikir lagi, binatang ya tetap binatang dengan naluri binatang, yaitu untuk bertahan hidup dan meneruskan generasinya. Saya akhirnya mengerti kenapa kita harus menjaga lingkungan tetap lestari dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan, karena ia juga milik jutaan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi ini.

Sementara pada hari minggu sorenya, ketika saya juga sedang santai mendengarkan musik kesenangan saya, menjelang maghrib, tiba-tiba saja seekor burung gagak besar dan hitam hinggap pada palangan kayu tepat di atas kepala saya. Ya, kami saling menatap, gagak itu seakan tidak takut kepada saya, malah ia mencoba mengukur ketakutan saya kepadanya dengan tetap menatap saya dengan tajam. Akhirnya saya memberanikan diri, mencoba menggapainya, bukan untuk menangkapnya. Saya julurkan tangan saya sebagai ungkapan persahabatan, pada mulanya, ia agak enggan saya dekati, semakin dekat, ia menggigit tangan saya, ternyata tidak sakit, atau ia melakukannya dengan tidak seluruh kekuatannya, saya rasa gigitan itu sebagai ungkapan kepercayaannya kepada saya dan membalas rasa persahabatan saya kepadanya.

Lalu saya berusaha meraih kepalanya, ia masih menggigit jari-jari saya, sebagai sikap protes atas tindakan saya yang melampaui batas kepatutannya kepada gagak tersebut. Beberapa kali saya coba, dan beberapa kali ia menggigit, ia menyerah. Saya berhasil mengelus kepalanya, dan ia ternyata mengeti kalau saya tidak berusaha menangkapnya melainkan mencoba memberi saling rasa pengertian antara saya dengan dia. Jadi ia diam saja ketika saya memeriksa bagian tubuh lainnya, ini saya lakukan, apakah ia bertindak mendekati saya untuk meminta bantuan saya karena ia mengalami luka atau ia hanya sekedar menyapa saya dan bermain-main dengan saya. Ternyata tidak ada satu luka sedikit pun di tubuhnya. Saya baru tahu, ternyata di luar bulunya yang hitam semua, sampai ujung kaki dan paruhnya, di balik bulu-bulu hitam itu melapis bulu-bulu putih di dalamnya. Di mana anggapan semua orang seluruh bulu burung gagak adalah hitam semua, tidak dengan gagak yang menyapa saya sore itu. Tidak memakan waktu banyak mengenai kedekatan kami, ia sudah mempercayai saya sebagai seorang sahabat, begitu juga sebaliknya. Saya melakukannya persis seperti yang saya lakukan ketika saya bertemu dengan ular kemarin sore. Saya memberi isyarat kalau saya tidak akan berusaha menyakitinya, dan itu berhasil, hasilnya sama seperti yang saya lakukan dengan gagak yang menghampiri saya.

Saya tidak habis pikir, sebenarnya pertanda apa yang coba diberitahukan Tuhan kepada saya dengan membuat kedua binatang itu menghampiri saya, memang tidak ada yang melihat saya melakukannya, kecuali ibu saya ketika saya sedang bermain dengan burung gagak itu, tapi ia tidak berkata apa-apa sementara saya asyik bercengkrama dengan burung yang konon sulit sekali ditangkap, sore itu ia malah mendatangi saya dan bermain dengan saya. Sesungguhnya dengan bertemu dengan kedua binatang itu saja saya sudah sangat bersyukur sekali, karena melalui kedua binatang itu saya mampu berinteraksi dengan kehidupan liar di sekitar saya tanpa bersusah payah dan membayar ongkos yang mahal. Saya menyetuh burung liar itu gratis dan bersahaja. Bahkan ketika adzan maghrib sudah berkumandang, burung gagak itu masih saja mengikuti saya, sebagai ungkapan ia belum puas bercengkrama dengan saya. Saya hanya tersenyum, ia diam saja, kemudian ia berlalu terbang. Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu kembali dengan burung itu atau tidak. Yang pasti, saya akan tetap mengingatnya sebagai salah satu teman dan sahabat, begitu juga dengan ular yang saya temui. Dengan jarak yang terlalu dekat, kami memberi saling pengertian untuk tidak menyakiti satu sama lain. Ular itu tidak menggigit saya dan saya tidak membunuhnya.

Dan saya senang, telah bersahabat dengan kedua binatang tersebut. Jika gagak itu kembali bertandang, saya akan menghadiahinya sepotong roti. Dan ia mungkin akan memberikan kepercayaannya kembali kepada saya sebagai seorang kawan. Saya rasa itu cukup adil. (kisah ini nyata saya alami, 21-22 maret 2009)

Ditulis dalam UNIK | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »