Bukan hanya sekedar bermain-main
Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008
Ada dua orang anak tengah bermain-main di halaman rumah mereka, seorang yang laki-laki sibuk dengan mainan pesawat plastik dan dalam hayalannya seakan pesawat itu terbang tanpa bantuan tangannya. Seorang anak perempuan yang lebih kecil sibuk dengan mainan masakan-masakannya. Berharap ia dapat memasak makanan terlezat yang dapat dibuatnya dan akan diberikan kepada orang tuanya, atau berharap bisa membuat ramuan yang dapat membuat kakaknya berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan seandainya saja ia sedang tidak senang dengan kakaknya pada saat itu. Ada satu hal yang menarik, bahwa seorang anak kecil tidak akan pernah takut untuk berhayal meski hayalan itu bagi kita orang dewasa terlihat sangat tidak mungkin dan memang tidak memungkinkan untuk dapat terwujud. Berbeda alam pikiran anak-anak dengan orang dewasa, seiring meningkatnya usia, pikiran mereka lebih banyak terlibat dengan hal-hal berbau logika, masuk akal atau tidak masuk akal.
Masa kanak-kanak —>Sublimasi [kreativitas yang timbul antara masa kanak-kanak dan dewasa]<— Masa dewasa
Bagi seorang ahli psikologi anak, bahwa bermain-main dengan imajinasi bukan hanya sekedar bermain-main tanpa unsur apa pun. Justru unsur-unsur pendidikan akan ikut menyertai bersama dengan imajinasi yang dikembangkan sendiri oleh mereka. Istilahnya yang sekarang sedang tren ‘belajar sambil bermain’ untuk orang yang jeli dengan prospek bisnis, ini merupakan lahan yang menguntungkan jika dikembangkan dengan cermat dan bertanggung jawab. Jadi timbulah taman-taman bermain, labs-labs school, sanggar-sanggar anak, dimana orientasi bermain anak-anak diubah menjadi sebuah proses pembelajaran. Cukup menguntungkan, bukan?
Jadi kapan kita akan segera bermain bersama siapa saja tanpa memperdulikan usia. Mulailah sekarang juga. Pada saat mengungkapkan hal ini pun saya tidak menyangka bahwa disebelah saya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 5-6 tahun. Dan bukannya saya jengkel karena sikapnya, melainkan ada kesenangan sendiri ketika saya ikut masuk ke dalam imajinasi miliknya. Jadi bukannya menghentikan langkah pekerjaan saya, tapi malah memperkaya pengetahuan saya. Jadi saya pun secara tidak sadar juga ikut bermain-main dengannya. Saya rasa itu tidak ada ruginya, untuk bermain bersama-sama.
Saya jadi teringat ketika saya masih kecil, kadang bermain seorang diri adalah kesenangan yang paling indah, bagi saya. Karena dengan bermain seorang diri, apa yang dapat saya pegang menjadi sebuah mainan yagn sebelumnya tidak ada dalam pikiran saya. Jadilah saya bermain dengan mainan buatan sendiri. Tentu, bagi saya, bermain dengan hasil ciptaan sendiri merupakan kebanggaan yang tidak dapat saya pungkiri karena selain saya melihat anak-anak lainnya memiliki mainan dengan hasil membeli atau hasil buatan orang tuanya, itu bukanlah pekerjaan kreatif. Sedangkan saya hanya memiliki mainan hasil imajinasi yaitu sebuah mobil dari bambu dengan roda-roda yang terbuat dari kaleng susu bekas yang sudah berkarat. Toh bagi saya saat itu bukan betapa bagusnya sebuah mainan. Tetapi lebih pada bagaimana mainan saya itu dapat berjalan di atas roda-roda kaleng yang saya pikirkan itu. Walhasil, meski sedikit dilecehkan dan dihina sedemikian rupa karena, saya tidak tahu dimana letak kesalahan saya sesungguhnya, mainan yang saya miliki itu sungguh berbeda sekali dengan mainan yang dimiliki anak-anak lainnya pada saat itu.
Toh saya tidak pernah memungkiri, meski kadangkala perbedaan itu dapat menyulut sebuah konflik yang sangat tidak mengenakkan diri siapa pun yang bakal menghadapi perbedaan itu, risih atau cuek-cuek saja, dampaknya pasti akan tetap terasa sama. Keterasingan. Jadi saya tidak memedulikan kata-kata yang keluar dari mulut anak seusia mereka yang kadangkala janggal ketika seorang bocah yang mengatakannya. Saya pun tersenyum ketika mobil hasil tangan dan pikiran saya kembali melaju melampaui batas pikiran yang tidak biasa dari anak seusia saya pada saat itu. Jaman sudah modern masih saja ada mainan dari bambu beroda kaleng rombeng. Toh imajinasi tidak memandang apapun dan siapapun ketika ia ingin lahir ke dunia yang baru, dunia yang betul-betul lain dari dunia alam pikiran dan kenyataan. Saya pun hanya bisa kembali tersenyum kalau ternyata imajinasi saya akan baik-baik saja meski harga diri sedikit merasa terluka.
Itulah sebabnya kadangkala saya sendiri pun merasa heran ketika seseorang mencoba berbuat sesuatu dengan cara-cara yang sesungguhnya tidak pernah lazim dari biasanya, dibilang aneh dan tidak tahu aturan. Lalu dimana letak hak asasi seseorang untuk dapat berbuat sesuai dengan tuntutan hatinya, bukan tuntutan masyarakat dimana seseorang berada. Asalkan tidak melanggar tata susila, moralitas (semu yang selalu dipergunjingkan setiap ada sesuatu keanehan), kelucuan-kelucuan dan parodi nyeleneh pun menjadi sesuatu yang, katakan saja, kegilaan spontan. Toh saya tetap manusia biasa, bebas, kadang serampangan, tapi saya terus mencoba untuk selalu tetap menjadi bersifat manusiawi.