Ketika Sendirian
Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008
Ada perasaan rindutawa ketika tidak ada suara apa pun disekelilingku. Sebuah rasa yang terlalu menyayat keheningan dan diri sendiri ketika tidak ada siapa-siapa lagi untuk saling bertukar cerita, bahkan hanya untuk saling menertawakan. Semua yang tertangkap penglihatan akan sebegitu dinginnya, tidak sehangat tangan yang digenggam seseorang ketika kita membutuhkannya untuk menarik diri kita dari lubang kesunyian.
Nyanyi itu lagi yang mengalun…., tapi aku tidak bisa mengikutinya. Tanganku kaku ketika harus memetik dawai-dawai kesunyian menjadi sebuah lagu yang menenangkan seperti sebuah dongeng sebelum tidur. Ah, kadang dongeng itu pun terlalu menyeramkan dan tidak bisa membuat mataku terpejam dengan alunan kata-kata yang disuarakan.
Ketika sendiri, siang maupun malam, kau seakan tidak tahu dirimu sendiri. Aku juga tidak tahu apa yang benar-benar kumau ketika sedang sendiri. Mungkin satu-satunya yang kuinginkan adalah seorang teman. Apa arti seorang teman, aku rasa terlalu banyak artinya daripada hanya diri seorang. Ada lebih banyak yang bisa dilakukan ketimbang dilakukan dengan sendiri. Kecuali kalau kita memang sedang ingin sendiri.
Mungkin itulah yang membuat manusia menjadi makhluk sosial, kita tidak akan pernah bisa merasa lepas dari pada diri yang terkait dengan lingkungan interaksi kita sebagai manusia. Apakah terlalu sombong, atau naïf, jika manusia dapat hidup dalam kesendirian yang berlarut-larut. Mungkin saja, ya itu mungkin saja dapat terjadi. Tapi tidak selamanya, karena seseorang pasti akan membutuhkan uluran tangan orang lain untuk mengangkatnya dari lubang kesunyian yang tercipta karena ia dapat merasa dapat hidup seorang diri. Uluran tangan yang tulus yang datang dari lubuk hati kejujuran, bahkan mungkin juga dengan keadaan setengah hati tetap akan dapat menyadarkan hati yang terlalu dingin dan terlalu lama dalam kesunyian. Hahahaha, bagaimana dengan para pencinta malam, atau orang-orang yang mencari cahaya dalam keramaian malam. Apakah ada perasaan sunyi dirasakan ketika berada dalam kegamangan tawa-tawa. Bagaimana dengan topeng-topeng yang kita kenakan setiap saat setiap hari. Aku tidak tahu, tapi aku juga tidak tahu bagaimana akan menjawabnya. Terlalu banyak diri pribadi yang sengaja kupendam dan tidak pernah keluar dari kesendiriannya sendiri yang tentunya memuakkan. Bagaimana kau bila disuruh berdiam dalam pojok kamar terlalu lama. Otakmu akan terasa kaku untuk menjalankan pikiran yang segar. Bagaimana kita dapat menemukan cahaya dalam gelap. Meski ada yang bicara kegelapan dapat menghadirkan secercah cahaya yang dibutuhkan. Untuk keluar dari kegelapan?
Terlalu banyak terlintas ketika aku merasa sendiri. Hei, kenangan lama yang tersimpan dalam kotak ingatan mungkin akan merekah dengan sendirinya, biar tanah batinnya tidak pernah dapat memuaskannya, tidak ada pupuk yang dapat membuatnya menjadi sebuah ingatan yang layak untuk diingat. Aku lupa! Aku tidak mengurus ingatan-ingatan yang berharga itu, terlalu banyak logika dan perhitungan mengambil alih sisa ruangan memori dalam kepalaku. Bahkan untuk memunculkan kenangan tertentu, logika juga mengambil alih peran ini. Aku akan tersenyum lebar ketika ingatan menunjukkan saat yang menurutku menyenangkan, aku juga pasti akan mengeluarkan air mata yang benar-benar tulus kalau pribadiku tersentuh oleh ingatan menyedihkan yang telah lama, dan benar-benar aku mengalami sendiri keadaan itu. Aku lupa! Aku benar-benar lupa hingga ingatan itu menjadi usang, lusuh. Padahal ingatan itu sebegitu berharganya karena menunjukkan waktu memang tidak pernah dapat dinilai dengan apapun. Akhirnya aku sudah merasa terlalu tua ketika ingatan menunjukkan perjalanannya. Siapa yang tidak akan terkesima ketika masa tua hanya digunakan untuk mengingat-ingat perjalanannya sebagai manusia, begitu juga aku. Aku rasa aku akan mulai memilah-milah ingatan dan membuatkan album dalam kepalaku, hei tidak ada yang tidak mungkin, tetapkan prinsip ini. Dengan begitu ingatanku akan berguna untuk generasi mendatang dari diriku dan siapa saja yang membutuhkan cerita tentang perjalanan waktu.
Perjalanan waktu selalu menunjuk keadaan berbeda, seperti dua sisi mata uang, atau anak kembar identik. Aku terkadang tidak bisa menemukan mana sesungguhnya yang dapat bisa dipegang sewaktu-waktu. Sejarah atas kehidupan atau waktu nyata ketika menghadapi detik waktu yang konstan. Tidak pernah berubah dan selalu menunjukan angka-angka yang sama. Justru karena tipikal waktu yang seperti itu, kebutuhan akan perubahan selalu dituntut untuk selalu ada. Tidak ada kesenangan yang berlarut atau kesedihan berkepanjangan. Jika ada mungkin akan serasa sangat memuakkan.
Ketika sendiri, terkadang aku tidak ingin mengingat apa pun juga, termasuk diriku pada saat itu. Tapi rentang waktu selalu menguntit dibelakang. Kau tidak akan pernah bisa lari dari padanya, bukan. Akhirnya aku mencari jejak waktuku sendiri melipat dan menggulungnya dengan rapih, kumasukkan dalam kotak dan menyimpannya dalam ingatan dan kujaga dengan sebaiknya. Tidak kepada siapa pun kuperkenankan untuk membukanya, kecuali aku ijinkan. Dan hanya ketika sendiri saja aku membukanya, dan mengulangi semua prosesi khidmat dari menghargai kenangan dan waktu.