Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Mati Ketawa Cara Sastrawan

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Artikel Jumat 21 Juni 2007 |POLEMIK SASTRA

Mati Ketawa Cara Sastrawan
Oleh Mustafa Ismail | Pegiat Sastra, Pemangku Blog Sastra jalansetapak.wordpress.com

Tulisan Herman, buat saya, seperti interupsi “aneh” di sebuah diskusi yang sedang berlangsung tentang “warna lokal dan identitas lokal” .Tulisan Herman kali ini, buat saya, seperti lucu-lucuan saja.

Saya tersenyum-senyum membaca tulisan Herman RN di web ini (Kegelisahan Sastrawan, acehinstitute.org/190607). Rupanya, Herman belum puas juga dengan polemik di Serambi Indonesia tentang geliat sastra di Aceh beberapa bulan lalu. Ia masih menyimpan sejumlah unek-unek, yang anehnya, ditumpahkan lewat website ini, yang sungguh tidak tepat sebab semula polemik tentang soal itu tidak berlangsung di sini.

Saya mengibaratkan sebuah diskusi yang berlangsung di sebuah tempat, tiba-tiba ada seorang anggota diskusi yang tidak puas, meluapkan ketidakpuasan dalam diskusi lain, dengan topik lain, dengan tempat berlainan pula. Akibatnya, banyak peserta diskusi tidak tahu ujung-pangkal, bingung, serta tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan.

Tulisan Herman, buat saya, seperti interupsi “aneh” di sebuah diskusi yang sedang berlangsung tentang “warna lokal dan identitas lokal”, yang sedang berkembang ke wilayah masalah “kritikus”. Pelecut diskusi itu adalah Sulaiman Tripa, yang kemudian disambut oleh Teuku Kemal Fasha, dan kemudian saya mencoba memberi perspektif. Diskusi tentu masih berlangsung, dan hendaknya dibiarkan berkembang sesuai alurnya.

Mestinya, kalau pun Herman mau menanggapi, tentu yang “nyambung” adalah masalah yang sedang dibicarakan, bukan masalah lain yang tidak jelas ujung-pangkal. Jika pun ia mau melempar topik baru, tentulah ia harus mengurutkan dulu pikiran dan ide-idenya, dengan argumen-argumen yang kuat, secara jernih dan jelas, tidak sekedar bergumam. Tapi tulisan Herman kali ini, buat saya, seperti lucu-lucuan saja.

Tapi baiklah, karena tulisan itu sudah terlanjur muncul, dan nama saya disebut-sebut dengan luar biasa banyaknya. Saya ingin menanggapi beberapa hal saja. Ini sekedar memperjelas kembali apa yang pernah saya tulis di Serambi Indonesia.

Saya memulai dengan soal siapa yang pantas disebut sastrawan. Sebetulnya, buat saya, tidak penting lagi istilah itu. Sebab, saya menulis bukan untuk jadi sastrawan. Saya, kini, lebih ingin menjadi “penulis sastra profesional”, menulis karya (dan tentang) sastra dengan baik (cerpen, puisi, sesekali esai sastra dan budaya), dipublikasikan (lewat koran, majalah, website, atau permintaan untuk buku), lalu dapat imbalan (secara profesional pula).

Tapi, memang, tidak bisa dipungkiri banyak orang sangat ingin menjadi sastrawan. Termasuk Herman, tentu. Buktinya, ia begitu menggebu-gebu mempersolkan istilah itu. Sehingga, terkadang banyak orang– termasuk Herman– terjebak pada istilah dan melupakan substansi. Banyak orang ingin menjadi sastrawan tapi lupa untuk memperbaiki diri sehingga karya-karya yang dihasilkannya makin lebih baik.

Sebetulnya dunia sastra adalah dunia tulis-menulis, ya menulis puisi, cerpen, novel, dan sebagainya. Tugas para penulis sastra adalah menghasilkan tulisan sastra yang baik dan berkualitas. Tentu yang menilai baik dan kualitas sebuah karya sastra adalah pihak lain yang berkompeten untuk itu, misalnya pembaca terpelajar (pembaca kritis), pengamat dan kritikus sastra, juga para redaktur media massa.

Pihak yang saya sebutkan terakhir, yakni redaktur sastra media massa, tentu punya peran besar dalam melahirkan seorang sastrawan. Sebagai bagian dari dunia baca, karya sastra dipublikasikan lewat media massa. Sudah pasti, publikasi itu melewati tangan para redaktur sastra. Ratusan, bahkan ribuan karya, dalam tiap minggu bertarung untuk bisa lolos dari tangan sang redaktur.

Dalam beberapa kesempatan, saya menyebut media massa (tentunya dengan redaktur sastra yang berkompeten) adalah kompetisi paling riil untuk menguji kualitas karya seseorang sastrawan. Ini dengan asumsi semua berjalan normal dan standar dalam proses penilaian itu, tidak ada unsur pertemanan, kelompok, atau hal-hal subjektif lainnya. Jika karya seseorang belum dimuat di media itu, berarti orang itu perlu belajar lebih giat lagi.

Bagi yang pernah dimuat, juga tidak perlu tinggi hati. Sebab, boleh jadi redaktur sastra itu “hanya” memberi kesempatan untuk tampil karena ia melihat “orang ini” begitu bersemangat dan punya potensi. Tapi, jika ia langsung puas dan tidak mau belajar lagi, tentu ia tinggal menunggu waktu saja untuk tenggelam. Tidak ada yang menyelamatkan seseorang (sastrawan), kecuali orang itu berusaha untuk belajar menyelamatkan diri.

Jadi, buat saya, agak aneh jika ada penulis pemula yang baru menghasilkan beberapa karya sastra sudah membusungkan dada dan menyebut dirinya sastrawan. Apalagi, karya itu hanya dimuat di koran lokal, yang tentu saja tingkat kompetisinya sangat rendah. Juga karya-karya itu hanya dipuji oleh teman-teman sendiri. Sebetulnya, ini juga berlaku untuk bidang-bidang lain, tidak hanya bidang sastra.

Dunia kreativitas, apa pun bidangnya, adalah dunia yang bergerak. Seorang kreator dituntut untuk terus mencari dan menemukan hal-hal baru. Karya yang bagus dan menarik pada hari ini, boleh jadi besok sudah tidak bagus dan tidak menarik lagi. Seseorang yang menulis tema perselingkuhan pada tahun 1950-an itu adalah sesuatu yang baru. Tapi di era selanjutnya, apalagi kini, tema perselingkuhan adalah hal klise.

Tapi saya memuji Herman yang getol mengirim karya ke koran luar. Setidaknya itu yang saya amati di sebuah koran nasional, tempat saya bekerja. Dan tidak banyak orang seperti Herman di Aceh, yang tekun mengirimkan karyanya. Mungkin sebagian penulis pemula itu sudah “takut” duluan dengan wibawa koran-koran besar itu. Boleh jadi pula, sebagian penulis di Aceh “tidak tahan banting”, mudah kecewa dan putus asa.

Cara membuktikan itu gampang saja: berapa banyak sih penulis Aceh (tidak hanya bidang sastra) yang karyanya sering muncul di level nasional? Sangat sedikit. Hal yang sering saya dengar dari para pemula adalah: ‘Wah, susah betul ya menembus koran itu. Berkali-kali kirim tidak dimuat. Capeeek deh….. Akhirnya, mungkin, orang itu pun tidak mengirim lagi. Matilah kreativitasnya! Atau hanya puas berkutat di kandang sendiri.

Buat saya, kenyataan semacam itu sungguh mengiris hati. Ini adalah lelucon “mati ketawa cara sastrawan”. Sama sekali tidak lucu! Tapi, sudah ah, lupakan lelucon ini. Ayo Sulaiman Tripa, Teuku Kemal Fasya, dan teman-teman lain, kembali ke diskusi sebelumnya: membicarakan warna dan identitas lokal, juga soal kritikus sastra. Diskusi itu masih panjang untuk kita teruskan. Ayo, kita tambah kopi lagi…. (musis)

Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute – 2007 | Silahkan mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan isi website ini dengan menyebutkan nama penulis asli dan “Aceh Institute” sebagai sumbernya dengan link www.acehinstitute.org

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>