di sinilah kita sekarang
dalam sejarah dan ruang-ruang
yang lama kita mendekam di dalamnya
kau bilang
ada cerita lain yang
masih sembunyi
atau itu tidak pernah diucapkan
yang tak pernah tersentuh
bagaimana kau dapat tidur lelap
sementara ratapan-ratapan menyelinap
merenggut mimpimu sendiri;
kau bilang padaku
anak-anak yang kau tampung
air matanya dalam mangkuk sunyi
kau simpan dan masukkan
ke dalam tabung penamu
kau tulis kertas tersurat
tapi tidak tahu kemana
kertas-kertas itu
akan terbang
gema pun tidak memberi harapan apa-apa
sudah kita mulai
perjuangan panjang yang
tak pernah selesai
tabuhan genderang-genderang
dan hunusan senjata-senjata
yang terlepas dari sarungnya
membangunkan prajurit-prajurit malam
dengan tangan siap membunuh
jangan katakan kalau setelahnya
ada yang harus membayar mahal
atas darah seorang laki-laki
dimana ia melepaskan nyawanya
dimana sebelumnya ia adalah
seorang saudara yang merangkul
saudara lainnya
jangan katakan
kalau setelahnya ia adalah seorang musuh
terlalu lama kita mulai
perang
yang membuat isteri-isteri
jadi janda
anak-anak yang menjadi yatim sekaligus piatu
lalu terusir dari tempat mereka
karena api telah menjalari kayu-kayu
rumah mereka, dan
kemarahan yang tidak mereka tahu
kemarahan yang baru saja membunuh
ayah dan ibu mereka
tapi batu-batu tetap beterbangan
di langit yang juga tidak tahu
apa-apa
besok, setelah terbangun dari tidur
tanpa mimpi
hanya akan ada asap dan puing-puing
tanah yang mati
harapan yang menguap begitu saja
wajah layu itu
tidak dapat berkata apa-apa lagi
tepi entah dengan hari selanjutnya
disinilah kita sekarang
saudaraku
ketika tangan kita hanya memangku udara kosong
yang masih bercampur dengan asap
di mana keangkuhan dan kesombongan
larut bersama dengannya
mengakrabinya, bergaul dan bermain
dengannya
hingga bertahun-tahun
kau bilang
itu belum seberapa
dengan apa yang telah pergi
baru kita akan tahu
apa arti sebuah kehilangan
kau akan berkorban untuknya
ini lagu yang sudah dendam
ini rasa yang sudah perih
ini luka yang tak mau sembuh
meski dibalut
perihnya masih tetap sama
aku ingin bilang
ini sajak yang tak perlu kau tulis
lain waktu
mungkin masih ada senyum yang tersisa
milik anak-anak jaman yang sembunyi
dibalik rumput-rumput kering
berlari di atas tanah
bekas terbakar
di atas puing-puing
yang dulu adalah rumah mereka
sekarang, dulu itu tidak ada dihadapan
mungkin senyum itu
masih tersisa untuk dilepaskan
inilah dunia
inilah panggung dimana
ceritanya hanya ditulis takdir
dan kita hanyalah peran
yang tanpa sadar
telah ada di dalamnya
tangan-tangan tidak kasat mata itu
terus saja menggeliat di dasar malam
waktu dihentikan, namun
cerita terus didongengkan
hingga kita bagian dari sejarah-sejarah
yang menumpuk
di antara lembar-lembar
kelam dan berdebu
suatu saat tangan milik
anak cucu kita
akan menyentuh dan membukanya
dan mereka berkata
inilah sejarah yang tak pernah terlupakan
perjalanan ini tak akan pernah
menemukan ujungnya
perjuangan ini tak akan pernah berhenti
kalau kau gugur
akan ada tangan lain yang akan menegakkan
panji-panji yang kau genggam
selama kau berjuang
dan teriakan-teriakan itu
tetap menggema
sampai kau memejamkan mata
untuk terakhir kalinya
untuk mendengar suara
yang tak akan
pernah kau dengar lagi
panji-panji yang kau tegakkan
akan tetap berkelebat
pada angin yang lepas
kalau kita mau menemukan damai
kita harus siap-siap berperang
akan ada banyak kebencian
yang siap membunuh
akan ada banyak selubung
labirin yang akan menghilangkan jejak
sebelumnya sampai kita tidak tahu
di mana seharusnya kita berada
dan, hanya ada kegelapan
melingkungi
di sana kita akan merangkak dan meronta
untuk mencari titik
cahaya
yang akan menuntun
dan merobek gelap itu
sendiri
kita akan mencarinya
ya, kita akan mencarinya
tapi kita tidak sendiri
kita akan menemukan seseorang
yang merelakan dirinya
untuk mengantarkan lilin-lilin
yang menyala
yang dengan senyumnya
membawa semangat baru untuk berjuang bersama-sama
untuk mencari jalan kembali
untuk mengingatkan kesadaran kita
sebagai manusia
untuk mengingatkan kalau kita
diciptakan berbeda
untuk mengingatkan kalau
kau, aku, dan kita
adalah bersaudara
dan
disinilah kita, sobat
memandang pertiwi yang murung
tanah yang tandus
gunung yang berlubang
sungai yang hitam
dan, memandang kau
di antara reruntuhan jaman
yang harus kau bangun kembali
apa lagi yang harus kukatakan
kalau nyatanya, hanya itulah
yang dapat diwariskan
jangan pandang aku dengan
lidah yang kelu
aku tidak tahu
apakah kita akan mampu
melewati hari ini
atau tidak
atau kita akan terus
dikejar-kejar
oleh ketakutan
yang kita ciptakan sendiri
kebrutalan dan kesadisan
yang kita kirimi
surat cinta
kita tidak akan pernah tahu
apakah kita akan menjadi korban berikutnya
atau menjadi mangsa yang selalu dikejar
kau tidak mengabari aku lagi
setelahnya
tak ada lagi surat cinta yang
kau tulis untukku
kau bilang
dunia hampir kehilangan sesuatu
yang berharga
yang membuat kita tetap bertahan
kau pun mengadu
kita punya ketakutan yang sama
harapan yang sama
kemarahan dan kesedihan yang kita simpan
juga serupa
kita juga punya pertanyaan-pertanyaan
yang sama
yang mesti dijawab
apakah kita akan kalah
kita hanya punya
kebenaran yang berdiri sendiri-sendiri
sementara dihadapan
ada kebohongan-kebohongan
yang berderet dan
tersusun dengan rapih
mata panah itu sebentar lagi akan nanar
dan menjadi pemburu yang hebat
lalu aku harus mengadu kepada
siapa
sambil menggenggam hati yang
berdarah-darah
perang
adalah tragedi perjalan manusia
yang tidak terelakkan
tapi siapa yang harus menanggung perih
melihat generasi yang akan hilang
sudah tergeletak di tanah peperangan
melihat tangan seorang ibu
yang sebentar lagi harus memeluk batu nisan
dan pundak seorang bapak yang
harus mengusung keranda
kita tidak akan pernah tahu
sampai kapan damai itu harus tetap
berada di atas kertas
aku juga tidak tahu
kepada siapa aku harus mengadu
tapi tetap menunggu
di sinilah kita sekarang, sahabat
kita punya mimpi yang sama
tujuan yang serupa
harapan dan cita-cita
yang terjalin
bukan lagi dunia uthopia
kita pandang
karena kita akan membuatnya
menjadi nyata
Jakarta, 9 Juni 2005/Permanas
nb: Post Nubila Lux (latin) = habis gelap terbitlah terang