Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Februari 20th, 2008

Post Nubila Lux

Ditulis oleh permanas di/pada 20 Februari 2008

di sinilah kita sekarang

dalam sejarah dan ruang-ruang

yang lama kita mendekam di dalamnya

kau bilang

ada cerita lain yang

masih sembunyi

atau itu tidak pernah diucapkan

yang tak pernah tersentuh

bagaimana kau dapat tidur lelap

sementara ratapan-ratapan menyelinap

merenggut mimpimu sendiri;

kau bilang padaku

anak-anak yang kau tampung

air matanya dalam mangkuk sunyi

kau simpan dan masukkan

ke dalam tabung penamu

kau tulis kertas tersurat

tapi tidak tahu kemana

kertas-kertas itu

akan terbang

gema pun tidak memberi harapan apa-apa

sudah kita mulai

perjuangan panjang yang

tak pernah selesai

tabuhan genderang-genderang

dan hunusan senjata-senjata

yang terlepas dari sarungnya

membangunkan prajurit-prajurit malam

dengan tangan siap membunuh

jangan katakan kalau setelahnya

ada yang harus membayar mahal

atas darah seorang laki-laki

dimana ia melepaskan nyawanya

dimana sebelumnya ia adalah

seorang saudara yang merangkul

saudara lainnya

jangan katakan

kalau setelahnya ia adalah seorang musuh

terlalu lama kita mulai

perang

yang membuat isteri-isteri

jadi janda

anak-anak yang menjadi yatim sekaligus piatu

lalu terusir dari tempat mereka

karena api telah menjalari kayu-kayu

rumah mereka, dan

kemarahan yang tidak mereka tahu

kemarahan yang baru saja membunuh

ayah dan ibu mereka

tapi batu-batu tetap beterbangan

di langit yang juga tidak tahu

apa-apa

besok, setelah terbangun dari tidur

tanpa mimpi

hanya akan ada asap dan puing-puing

tanah yang mati

harapan yang menguap begitu saja

wajah layu itu

tidak dapat berkata apa-apa lagi

tepi entah dengan hari selanjutnya

disinilah kita sekarang

saudaraku

ketika tangan kita hanya memangku udara kosong

yang masih bercampur dengan asap

di mana keangkuhan dan kesombongan

larut bersama dengannya

mengakrabinya, bergaul dan bermain

dengannya

hingga bertahun-tahun

kau bilang

itu belum seberapa

dengan apa yang telah pergi

baru kita akan tahu

apa arti sebuah kehilangan

kau akan berkorban untuknya

ini lagu yang sudah dendam

ini rasa yang sudah perih

ini luka yang tak mau sembuh

meski dibalut

perihnya masih tetap sama

aku ingin bilang

ini sajak yang tak perlu kau tulis

lain waktu

mungkin masih ada senyum yang tersisa

milik anak-anak jaman yang sembunyi

dibalik rumput-rumput kering

berlari di atas tanah

bekas terbakar

di atas puing-puing

yang dulu adalah rumah mereka

sekarang, dulu itu tidak ada dihadapan

mungkin senyum itu

masih tersisa untuk dilepaskan

inilah dunia

inilah panggung dimana

ceritanya hanya ditulis takdir

dan kita hanyalah peran

yang tanpa sadar

telah ada di dalamnya

tangan-tangan tidak kasat mata itu

terus saja menggeliat di dasar malam

waktu dihentikan, namun

cerita terus didongengkan

hingga kita bagian dari sejarah-sejarah

yang menumpuk

di antara lembar-lembar

kelam dan berdebu

suatu saat tangan milik

anak cucu kita

akan menyentuh dan membukanya

dan mereka berkata

inilah sejarah yang tak pernah terlupakan

perjalanan ini tak akan pernah

menemukan ujungnya

perjuangan ini tak akan pernah berhenti

kalau kau gugur

akan ada tangan lain yang akan menegakkan

panji-panji yang kau genggam

selama kau berjuang

dan teriakan-teriakan itu

tetap menggema

sampai kau memejamkan mata

untuk terakhir kalinya

untuk mendengar suara

yang tak akan

pernah kau dengar lagi

panji-panji yang kau tegakkan

akan tetap berkelebat

pada angin yang lepas

kalau kita mau menemukan damai

kita harus siap-siap berperang

akan ada banyak kebencian

yang siap membunuh

akan ada banyak selubung

labirin yang akan menghilangkan jejak

sebelumnya sampai kita tidak tahu

di mana seharusnya kita berada

dan, hanya ada kegelapan

melingkungi

di sana kita akan merangkak dan meronta

untuk mencari titik

cahaya

yang akan menuntun

dan merobek gelap itu

sendiri

kita akan mencarinya

ya, kita akan mencarinya

tapi kita tidak sendiri

kita akan menemukan seseorang

yang merelakan dirinya

untuk mengantarkan lilin-lilin

yang menyala

yang dengan senyumnya

membawa semangat baru untuk berjuang bersama-sama

untuk mencari jalan kembali

untuk mengingatkan kesadaran kita

sebagai manusia

untuk mengingatkan kalau kita

diciptakan berbeda

untuk mengingatkan kalau

kau, aku, dan kita

adalah bersaudara

dan

disinilah kita, sobat

memandang pertiwi yang murung

tanah yang tandus

gunung yang berlubang

sungai yang hitam

dan, memandang kau

di antara reruntuhan jaman

yang harus kau bangun kembali

apa lagi yang harus kukatakan

kalau nyatanya, hanya itulah

yang dapat diwariskan

jangan pandang aku dengan

lidah yang kelu

aku tidak tahu

apakah kita akan mampu

melewati hari ini

atau tidak

atau kita akan terus

dikejar-kejar

oleh ketakutan

yang kita ciptakan sendiri

kebrutalan dan kesadisan

yang kita kirimi

surat cinta

kita tidak akan pernah tahu

apakah kita akan menjadi korban berikutnya

atau menjadi mangsa yang selalu dikejar

kau tidak mengabari aku lagi

setelahnya

tak ada lagi surat cinta yang

kau tulis untukku

kau bilang

dunia hampir kehilangan sesuatu

yang berharga

yang membuat kita tetap bertahan

kau pun mengadu

kita punya ketakutan yang sama

harapan yang sama

kemarahan dan kesedihan yang kita simpan

juga serupa

kita juga punya pertanyaan-pertanyaan

yang sama

yang mesti dijawab

apakah kita akan kalah

kita hanya punya

kebenaran yang berdiri sendiri-sendiri

sementara dihadapan

ada kebohongan-kebohongan

yang berderet dan

tersusun dengan rapih

mata panah itu sebentar lagi akan nanar

dan menjadi pemburu yang hebat

lalu aku harus mengadu kepada

siapa

sambil menggenggam hati yang

berdarah-darah

perang

adalah tragedi perjalan manusia

yang tidak terelakkan

tapi siapa yang harus menanggung perih

melihat generasi yang akan hilang

sudah tergeletak di tanah peperangan

melihat tangan seorang ibu

yang sebentar lagi harus memeluk batu nisan

dan pundak seorang bapak yang

harus mengusung keranda

kita tidak akan pernah tahu

sampai kapan damai itu harus tetap

berada di atas kertas

aku juga tidak tahu

kepada siapa aku harus mengadu

tapi tetap menunggu

di sinilah kita sekarang, sahabat

kita punya mimpi yang sama

tujuan yang serupa

harapan dan cita-cita

yang terjalin

bukan lagi dunia uthopia

kita pandang

karena kita akan membuatnya

menjadi nyata

Jakarta, 9 Juni 2005/Permanas

nb: Post Nubila Lux (latin) = habis gelap terbitlah terang

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Trilogi Sompret!

Ditulis oleh permanas di/pada 20 Februari 2008

Sompret 1

waktu sore

bapak pulang dengan tampang kusut

dia bilang

besok dia tidak lagi masuk kerja

di pabrik benang

matanya mengisahkan huruf besar

yang dimusuhi para buruh

P H K

lengkap dengan embel-embel

dan segala kebijakan

yang tidak pernah dapat

dimengerti olehnya

begitu juga dengan tunjangan

yang tidak jelas kasak-kusuknya

bapak cuma gerutu

”sompret!” katanya

waktu mau masak

ibu bilang sama bapak

kompor karatannya, ngadat

sumbunya buntung

ia haus

ia mogok

ia tidak mau menyala

dia mau tunjukkan sikap

bapak diam saja

”sompret!” ibu bilang

waktu mau berangkat sekolah

joni anak sulung

jono anak kedua

jeni anak bungsu

mereka datangi

bapak yang lagi diam

ibu yang lagi unjuk rasa

dan memasang poster ’dapur tidak ngebul’

mereka bilang

ongkos naik, uang jajan minta tambah subsidi,

uang sekolah belum lunas, uang buku terkatung-katung,

bahkan uang bangunan sekolah sampai sekarang masih hutang

”sompret!” bapak sama ibu bilang

”memang serba sompret!” joni, jono, dan jeni bilang

Sompret 2

betapa rancunya

melihat Indonesia sekarang ini

antara antrean panjang

dana kompensasi BBM

dan kerusuhan yang timbul karenanya

jalan-jalan menjadi ajang

pertunjukan perasaan-perasaan

dan teatrikal seadanya

dicoba untuk menguraikan

sumpah serapah

yang tak pernah dapat diungkapkan

bus-bus kota

menjadi ajang pertarungan

kenek dan penumpang

”uang narik cuma cukup buat setoran sama solar”

keluh seorang supir

”tambah ongkos berarti harus super irit buat biaya hidup”

keluh penumpang sambil tarik napas

tambah lagi jalan semakin sempit

kendaraan berjubal, macet …

’BBM naik, rakyat teriak”

ungkap sebuah poster

”sompret!”

kata demonstran

kata supir

kata kenek

kata penumpang

kata buruh

kata pengusaha

kata ibu

kata bapak

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

Sompret 3

sekarang

negara bimbang

pengusaha garuk-garuk kepala

lapangan kerja tidak ada

PHK menjadi kebijakan praktis perusahaan

rakyat sengsara

dolar naik

harga minyak bumi semakin mencekik

ekonomi kembang kempis

pabrik-pabrik gulung tikar

angka kemiskinan dan pengangguran

semakin parah

”sompret!”

belum lagi korupsi

yang sudah menggurita

menjadi warisan turun temurun

yang tidak pernah terselesaikan

sampai kapan

kita akan menjadi negara

SOMPRET … …

Jakarta, 7 Desember 2005/Permanas

NB: naskah ini pernah dilombakan pada lomba cipta puisi Minyak Tanah yang diadakan oleh Dewan Kesenian Tangerang bekerja sama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI)

Dikirim pada tanggal 8 Desember 2005 (tidak ada kabarnya)

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »