waktu baru malam
tapak senja hilang di garis horisontal
angin bilang, tarik saja awan itu
tapi tangannya terlalu malas untuk digerakkan
karena lembayung masih sedikit tersisa
di sana
lampu pinggir jalan baru nyala
terangi wajah pekerja
yang berminyak, kusam
lelah
pernahkah terpikir, melintas
mata mereka terlalu sayu
kelopak matanya redup
tawanya dipaksakan
cerita-cerita cuma dibungkus
anehnya, tak lama, diceritakan lagi
dan bocah-bocah jaman
riang sedih
diserak pinggir trotoar
seperti daun kering
dikandung desah angin
lalu roda-roda menggilas mereka
bilakah masa tidak lagi
ayunkan detiknya
cuma berita lalu
syahdan
purnama mandi cahaya
tapi masih banyak muka-muka murung
sementara dikitari pelangi lingkar
sekali lagi angin bilang
tarik saja awan itu
bintang kemudian cemburu
ini malam waktunya aku
purnama ambil bicara
adakah kamu, bintang
tinggalkan langit
mulut itu dikatup
rapat
marahnya disumpal pada
cerobong asap pabrik
pada lubang-lubang knalpot
tangannya malas untuk digerakkan
lain tempat, lain tempat, lain tempat
dan lain tempat yang lain lagi
tidak di mana-mana
di sini
sendiri
di pojok pembaringan
sepereinya merah jambu
dinding putih polos
tidak ada apa-apa
lampu setengah terang
itu bukan malam pengantin
itu bukan malam pesta
itu bukan malam dalam lagu
itu bukan itu
itu bukan ini
ini bukan apa
tapi jendelanya terbuka
tirainya disingkap
anginnya diundang
tapi masih saja terus membisik
tarik saja awan itu
tarik saja awan itu
tarik saja awan itu
tak bisa dibungkam
sendiri siapa yang ada di pojok pembaringan sana
menyandar diri pada tembok
tatap kosong itu jendela
biar lantak itu tirai
hatinya jadi dua
bertanya, bertanya, bertanya
tanyakan saja
tidak perlu siapa jawab siapa
hatinya jadi tiga
jadi empat jadi lima jadi enam
sampai hati tidak lagi hati
jiwa berontak tubuh
tubuh rantai jiwa
lainny menangis
lainnya tertawa
lainnya merintih
lainnya senyum
lainnya sadar, gila, lari, kejar, tangkap, ikat, kurung, buron
teriak
ya, teriak saja
lemahnya cuma teriak
kuatnya kosong, takut, sembunyi
curi pandang dalam gelap
mari ikut aku
bisik malam
katanya lembut
heningku cuma sedikit di ujung kesepian
tapi bisa selimuti kubah bumi dengan tenang
jangan takut
banyak lain lagi masih menunggu
gelisah belum selesai
tapi sekarang memang hening
jernih
diri lain tertangkap pada cermin sepi
ada yang masih tertidur, melamun, tidak tahu
ada yang berhandai-handai, bicara, bercengkrama
mereka itu aku
aku itu mereka
mereka itu kau
kau itu siapa
siapa itu aku
aku itu si-apa
siapa mereka siapa kau siapa aku
siapa siapa siapa
kata malam jangan gelisah
jangan hentak waktu
anak jaman lelap di balik selimut kardusnya
mimpi masih ada
nyata juga masih lari-lari
keduanya berkelahi
jaman mendelik, bangun, menguap
lalu topan menari
tanah mengadu
bawa tsunami
lalu air mata banjir
lalu jantungnya terbakar
paru-parunya penuh asap
wajahnya meringis
bukan lagi senyum
bukan lagi sahabat
bukan lagi ibu pertiwi
tarik saja awan itu
hujan jadi kecut
sakit perut langganan wc
itu belum apa-apa
bintang mau kasih tahu
alam sekarat
klep jantungnya aus
pa-ru-pa-ru-nya tuberkulose
ususnya kusut
kurang minum
tenggorokannya bisul
dia komplikasi
dokter mendiagnosa
ozon sudah bocor
pikir tukang solder
andai ia bisa ditambal seperti ember somplak
tapi malam cuma menyisakan sedikit mimpi
di pojok pembaringan
sepereinya merah jambu
dinding putih polos
tidak ada apa-apa
lampu setengah terang
tapi jendelanya terbuka
tapi malam memang cuma menyisakan sedikit mimpi.permanas/27 Agustus 2003