Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Februari 25th, 2008

pada jendela

Ditulis oleh permanas di/pada 25 Februari 2008

waktu baru malam

tapak senja hilang di garis horisontal

angin bilang, tarik saja awan itu

tapi tangannya terlalu malas untuk digerakkan

karena lembayung masih sedikit tersisa

di sana

lampu pinggir jalan baru nyala

terangi wajah pekerja

yang berminyak, kusam

lelah

pernahkah terpikir, melintas

mata mereka terlalu sayu

kelopak matanya redup

tawanya dipaksakan

cerita-cerita cuma dibungkus

anehnya, tak lama, diceritakan lagi

dan bocah-bocah jaman

riang sedih

diserak pinggir trotoar

seperti daun kering

dikandung desah angin

lalu roda-roda menggilas mereka

bilakah masa tidak lagi

ayunkan detiknya

cuma berita lalu

syahdan

purnama mandi cahaya

tapi masih banyak muka-muka murung

sementara dikitari pelangi lingkar

sekali lagi angin bilang

tarik saja awan itu

bintang kemudian cemburu

ini malam waktunya aku

purnama ambil bicara

adakah kamu, bintang

tinggalkan langit

mulut itu dikatup

rapat

marahnya disumpal pada

cerobong asap pabrik

pada lubang-lubang knalpot

tangannya malas untuk digerakkan

lain tempat, lain tempat, lain tempat

dan lain tempat yang lain lagi

tidak di mana-mana

di sini

sendiri

di pojok pembaringan

sepereinya merah jambu

dinding putih polos

tidak ada apa-apa

lampu setengah terang

itu bukan malam pengantin

itu bukan malam pesta

itu bukan malam dalam lagu

itu bukan itu

itu bukan ini

ini bukan apa

tapi jendelanya terbuka

tirainya disingkap

anginnya diundang

tapi masih saja terus membisik

tarik saja awan itu

tarik saja awan itu

tarik saja awan itu

tak bisa dibungkam

sendiri siapa yang ada di pojok pembaringan sana

menyandar diri pada tembok

tatap kosong itu jendela

biar lantak itu tirai

hatinya jadi dua

bertanya, bertanya, bertanya

tanyakan saja

tidak perlu siapa jawab siapa

hatinya jadi tiga

jadi empat jadi lima jadi enam

sampai hati tidak lagi hati

jiwa berontak tubuh

tubuh rantai jiwa

lainny menangis

lainnya tertawa

lainnya merintih

lainnya senyum

lainnya sadar, gila, lari, kejar, tangkap, ikat, kurung, buron

teriak

ya, teriak saja

lemahnya cuma teriak

kuatnya kosong, takut, sembunyi

curi pandang dalam gelap

mari ikut aku

bisik malam

katanya lembut

heningku cuma sedikit di ujung kesepian

tapi bisa selimuti kubah bumi dengan tenang

jangan takut

banyak lain lagi masih menunggu

gelisah belum selesai

tapi sekarang memang hening

jernih

diri lain tertangkap pada cermin sepi

ada yang masih tertidur, melamun, tidak tahu

ada yang berhandai-handai, bicara, bercengkrama

mereka itu aku

aku itu mereka

mereka itu kau

kau itu siapa

siapa itu aku

aku itu si-apa

siapa mereka siapa kau siapa aku

siapa siapa siapa

kata malam jangan gelisah

jangan hentak waktu

anak jaman lelap di balik selimut kardusnya

mimpi masih ada

nyata juga masih lari-lari

keduanya berkelahi

jaman mendelik, bangun, menguap

lalu topan menari

tanah mengadu

bawa tsunami

lalu air mata banjir

lalu jantungnya terbakar

paru-parunya penuh asap

wajahnya meringis

bukan lagi senyum

bukan lagi sahabat

bukan lagi ibu pertiwi

tarik saja awan itu

hujan jadi kecut

sakit perut langganan wc

itu belum apa-apa

bintang mau kasih tahu

alam sekarat

klep jantungnya aus

pa-ru-pa-ru-nya tuberkulose

ususnya kusut

kurang minum

tenggorokannya bisul

dia komplikasi

dokter mendiagnosa

ozon sudah bocor

pikir tukang solder

andai ia bisa ditambal seperti ember somplak

tapi malam cuma menyisakan sedikit mimpi

di pojok pembaringan

sepereinya merah jambu

dinding putih polos

tidak ada apa-apa

lampu setengah terang

tapi jendelanya terbuka

tapi malam memang cuma menyisakan sedikit mimpi.permanas/27 Agustus 2003

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »