OLeh : Sawaludin Permana
Seperti sifat alamiahnya, pada dasarnya setiap manusia memiliki jiwa sukarela dan tolong-menolong antara sesama, baik orang yang ditolongnya dikenal atau tidak. Dalam suatu peristiwa, ketika terdapat korban tak berdaya, tanpa komando dan aba-aba, siapa pun yang dekat dengan kejadian pasti akan berhamburan dan menolong korban yang terlibat dalam kejadian itu.
Dari contoh kecil tersebut, sudah dapat dibuktikan, sejak kita diturunkan ke dunia kita memang sudah dilengkapi sikap tersebut, yaitu sikap untuk saling tolong-menolong. Rame ing gawe, sepi ing pamrih, banyak kerja sedikit harapan akan imbalan atau malah mungkin tidak sama sekali –begitulah kira-kira gambaran kasar dari sikap kesukarelawanan.
Meski demikian, tidak semua orang dapat melakukan sikap kerelawanan, apa pun alasannya, yang pasti hanya orang-orang yang memiliki sikap empati yang tinggi saja yang mampu menjalaninya, hanya orang-orang yang dapat merasakan penderitaan orang lain secara mendalam saja mampu menggerakkan hatinya untuk mengulurkan tangan dan menarik orang yang menderita dari kesusahan. Biar pun tidak sepenuhnya lepas dari penderitaan, setidaknya dapat mengurangi.
Memang sudah dikatakan sejak awal bahwa setiap manusia dibekali sikap sukarela tersebut dan karenanya ia disebut sebagai makhluk sosial. Tapi perlu juga diingat, adakalanya seseorang itu memutuskan menolong atau tidak menolong dalam suatu keadaan peristiwa. Keputusan yang akan diambil seseorang tergantung oleh banyak hal, entah itu keadaannya, suasana hatinya, lingkungan, orang-orang sekitarnya, atau pikiran macam-macam yang berada dikepala seseorang tersebut untuk memutuskan ia mau menolong atau tidak menolong, bahkan bisa acuh tak acuh. Itu berarti menunjukkan bahwa cuma orang yang berempati saja pada suatu peristiwa dan dengan sikap ke-suka-rela-an yang sudah terlatih saja yang dapat terjun langsung memutuskan menolong tanpa pikir panjang.
Mari kita ambil satu contoh serderhana, kali ini kita berada dalam sebuah angkutan umum dan ada tukang minta-minta berjalan sambil mengulurkan tangan untuk mengharapkan belas kasihan orang-orang yang berada dalam angkutan umum tersebut. Kita bisa lihat –kalau kita duduk pada bangku paling belakang- siapa saja yang memberi, siapa yang tidak. Siapa yang besar memberi dan siapa yang paling sedikit. Sampai tangan itu menyodor kearah kita dan melihat tumpukan uang ditangan pengemis itu dihadapan kita. Apakah kita akan merogoh kantong kita mencari lembaran uang dengan nominal besar atau sekedar uang recehan dengan nominal paling kecil yang ada dalam kantong, seandainya saja kita mengingat-ingat jumlah uang yang berada dalam kantong, karena hal ini penting untuk pencatatan pengeluaran –seandainya juga Anda seorang pencatat pengeluaran keuangan pribadi Anda dengan sangat teliti sekali- lalu kita memberikan sebagian rejeki kepada pengemis itu, padahal ditangannya sudah menumpuk uang kertas dan receh yang diberikan orang-orang kepadanya? (Anda atau pun saya tidak perlu menjawabnya sekarang).
Tapi seandainya kita tepat berada dalam situasi demikian, bukan simulasi, apakah Anda akan memberi? Apakah akan berpikir panjang lebar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memberi atau tidak? Meski, seandainya, pengemis itu masih beberapa langkah dari hadapan Anda. Apakah Anda akan meliarkan mata dari kaki sampai ujung rambut pengemis itu sebelum menjatuhkan sekoin recehan ke tangan pengemis tersebut, bahkan selembar uang sepuluh ribuan?!
Saya tidak mencoba untuk berusaha menghakimi siapa-siapa dalam hal ini, apakah Anda atau saya adalah orang yang tulus atau tidak tulus, itu hanya masalah pilihan saja. Yang mau coba saya tekankan adalah bagaimana sikap kesukarelaan itu dapat muncul dalam suatu keadaan atau peristiwa dalam diri seseorang. bahkan mungkin dalam aspek kehidupan sosial yang lebih besar lagi ketimbang hanya sebuah kecelakaan mobil umpamanya.
Bagi saya, apa pun lembaga-lembaga yang diusung seseorang, motivasi dan sikap politis atau tidak politis apa pun yang diemban, mengharapkan tanda jasa, imbalan atau benar-benar tulus tidak mengharapkan apa-apa dalam melakukan tindak kesukarelaan. Sikap itu akan selalu ada pada diri orang-orang yang memang memiliki rasa sosial dan empati yang tinggi, dalam setiap jaman!***