Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Juli, 2008

“Suka-Rela” Seorang Sukarelawan

Ditulis oleh permanas di/pada 18 Juli 2008

OLeh : Sawaludin Permana

Seperti sifat alamiahnya, pada dasarnya setiap manusia memiliki jiwa sukarela dan tolong-menolong antara sesama, baik orang yang ditolongnya dikenal atau tidak. Dalam suatu peristiwa, ketika terdapat korban tak berdaya, tanpa komando dan aba-aba, siapa pun yang dekat dengan kejadian pasti akan berhamburan dan menolong korban yang terlibat dalam kejadian itu.

Dari contoh kecil tersebut, sudah dapat dibuktikan, sejak kita diturunkan ke dunia kita memang sudah dilengkapi sikap tersebut, yaitu sikap untuk saling tolong-menolong. Rame ing gawe, sepi ing pamrih, banyak kerja sedikit harapan akan imbalan atau malah mungkin tidak sama sekali –begitulah kira-kira gambaran kasar dari sikap kesukarelawanan.

Meski demikian, tidak semua orang dapat melakukan sikap kerelawanan, apa pun alasannya, yang pasti hanya orang-orang yang memiliki sikap empati yang tinggi saja yang mampu menjalaninya, hanya orang-orang yang dapat merasakan penderitaan orang lain secara mendalam saja mampu menggerakkan hatinya untuk mengulurkan tangan dan menarik orang yang menderita dari kesusahan. Biar pun tidak sepenuhnya lepas dari penderitaan, setidaknya dapat mengurangi.

Memang sudah dikatakan sejak awal bahwa setiap manusia dibekali sikap sukarela tersebut dan karenanya ia disebut sebagai makhluk sosial. Tapi perlu juga diingat, adakalanya seseorang itu memutuskan menolong atau tidak menolong dalam suatu keadaan peristiwa. Keputusan yang akan diambil seseorang tergantung oleh banyak hal, entah itu keadaannya, suasana hatinya, lingkungan, orang-orang sekitarnya, atau pikiran macam-macam yang berada dikepala seseorang tersebut untuk memutuskan ia mau menolong atau tidak menolong, bahkan bisa acuh tak acuh. Itu berarti menunjukkan bahwa cuma orang yang berempati saja pada suatu peristiwa dan dengan sikap ke-suka-rela-an yang sudah terlatih saja yang dapat terjun langsung memutuskan menolong tanpa pikir panjang.

Mari kita ambil satu contoh serderhana, kali ini kita berada dalam sebuah angkutan umum dan ada tukang minta-minta berjalan sambil mengulurkan tangan untuk mengharapkan belas kasihan orang-orang yang berada dalam angkutan umum tersebut. Kita bisa lihat –kalau kita duduk pada bangku paling belakang- siapa saja yang memberi, siapa yang tidak. Siapa yang besar memberi dan siapa yang paling sedikit. Sampai tangan itu menyodor kearah kita dan melihat tumpukan uang ditangan pengemis itu dihadapan kita. Apakah kita akan merogoh kantong kita mencari lembaran uang dengan nominal besar atau sekedar uang recehan dengan nominal paling kecil yang ada dalam kantong, seandainya saja kita mengingat-ingat jumlah uang yang berada dalam kantong, karena hal ini penting untuk pencatatan pengeluaran –seandainya juga Anda seorang pencatat pengeluaran keuangan pribadi Anda dengan sangat teliti sekali- lalu kita memberikan sebagian rejeki kepada pengemis itu, padahal ditangannya sudah menumpuk uang kertas dan receh yang diberikan orang-orang kepadanya? (Anda atau pun saya tidak perlu menjawabnya sekarang).

Tapi seandainya kita tepat berada dalam situasi demikian, bukan simulasi, apakah Anda akan memberi? Apakah akan berpikir panjang lebar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memberi atau tidak? Meski, seandainya, pengemis itu masih beberapa langkah dari hadapan Anda. Apakah Anda akan meliarkan mata dari kaki sampai ujung rambut pengemis itu sebelum menjatuhkan sekoin recehan ke tangan pengemis tersebut, bahkan selembar uang sepuluh ribuan?!

Saya tidak mencoba untuk berusaha menghakimi siapa-siapa dalam hal ini, apakah Anda atau saya adalah orang yang tulus atau tidak tulus, itu hanya masalah pilihan saja. Yang mau coba saya tekankan adalah bagaimana sikap kesukarelaan itu dapat muncul dalam suatu keadaan atau peristiwa dalam diri seseorang. bahkan mungkin dalam aspek kehidupan sosial yang lebih besar lagi ketimbang hanya sebuah kecelakaan mobil umpamanya.

Bagi saya, apa pun lembaga-lembaga yang diusung seseorang, motivasi dan sikap politis atau tidak politis apa pun yang diemban, mengharapkan tanda jasa, imbalan atau benar-benar tulus tidak mengharapkan apa-apa dalam melakukan tindak kesukarelaan. Sikap itu akan selalu ada pada diri orang-orang yang memang memiliki rasa sosial dan empati yang tinggi, dalam setiap jaman!***

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

CELAKA LIMA BELAS!

Ditulis oleh permanas di/pada 17 Juli 2008

Hari ini, begitu juga seterusnya, kenapa fajar selalu menjadi awal. Tidak untuk pagi ini, langit terlalu mendung untuk ditatap dan gerimis mengikuti dari belakang. Semakin lama semakin besar. Lalu menggenang, lalu menenggelamkan.

”Jangan terlalu sinis,” bilang Giman.

”Aku? Tidak. Aku hanya bilang yang sebenarnya,” jawabku sambil menggantung kedua kaki di bale-bale pos siskamling yang masih saja sepi. Maklumlah, pagi hari. Terlebih hari sekarang lagi mendung. Tentu saja sudah bulannya, musim hujan!

”Aku hanya khawatir,” kataku lagi tidak sengaja, keluar begitu saja, padahal rasanya itu hanya kuungkapkan dalam hati saja, secara diam-diam. Eeh, dia keluar juga.

”salim, Salim, itu lagu lama namanya,” timpal Giman sedikit mencibir dan matanya mendelik tajam seperti mau mengiris sesuatu dari bagian tubuhku yang ditatapnya. Batang hidungku. Jangan tanya, aku juga tidak tahu kenapa aku mengatakannya.

”Lagu lama sih lagu lama, tapi sekali datang kau hanya bisa nangkring di atas genteng rumahmu yang reot itu sambil menggigil kedinginan. Iya, toh?”

Giman tidak bilang apa-apa, ia mungkin mengingat tahun-tahun sebelumnya. Mengingat rumahnya dekat sekali dengan daerah aliran sungai. Giman pernah merasakan kekuatan dari ular tidur itu. Ketika sungai di belakang rumahnya mengeluarkan kemarahan dan memuntahkan segala kandungan dirinya yang penuh sampah manusia, rumah yang selama ini terus ditinggalinya diterjang air deras hingga hanyut. Ia membangun kembali rumahnya pada tempat yang sama, kejadian itu terus berulang lagi, lagi dan terus, lagi, sampai ia harus memberi pondasi rumahnya dengan beton kokoh. Dan tahun berikutnya ia boleh saja senang, tapi tidak berlangsung lama, rumah miliknya tidak hanyut. Lebih dari itu, tenggelam!

Dan tiba-tiba…

”Ujan ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air ujan-ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air banjir banjir ikannya ikan betok masuk di kolong bangku bangkunya anyut-anyut nimbul di muara kebo kebonya kebo bule horeeeeeee…..” nyanyi segerombolan bocah sambil mandi hujan lewat di depan pos siskamling.

”Hei, pagi-pagi mandi hujan,” bilang Giman. Pikirannya sekarang kepada anak-anak yang lewat di hadapannya.

”Biarin!” jawab anak-anak serempak.

”Dibilangin malah ngelawan, dasar anak-anak jamans sekarang,” kata Giman lagi sedikit lebih kesal karena kata-katanya disaggah.

”Biarin! Biarin! Biarin!” sambung anak-anak itu dan berlarian menyelamatkan diri melihat Giman mau menimpuk mereka dengan tanah basah.

”Eee…eee, nantang kamu ya!” serapah Giman.

”Sudah, sudah, namanya juga anak-anak, Man. Semakin dikerasi semakin mbandel, mestinya tidak usah terlalu kasar dengan mereka. Percuma, kalau hanya buang-buang tenaga. Ayo, lepas lagi tanah itu, malah kamu yang kelewat seperti anak kecil, Man,” cegahku, daripada urusan jadi panjang nantinya. Untung Giman lepas juga itu tanah lantas mencuci tangannya pada cucuran air atap seng pos siskamling. ”Nah, begitu kan lebih baik. Pagi-pagi sudah mengomel kayak gitu,” sambungku lagi sambil menguyup teh hangat, rasanya benar-benar nikmat. Serasa tidak punya pikiran apa-apa. Padahal kalau mau dirunut-runut, kepala ini rasanya mau pecah tidak sanggup menampung banyak masalah-masalah.

”Jangan masalah kau, Lim. Lebih-lebih punyaku. Masalah yang justru benar-benar di depan mata kita sendiri saja tidak selesai-selesai sejak…., sejak kapan ya? Lupa aku.”

”Sejak kita tidak punya waktu untuk memikirkannya karena sudah terlalu numpuk dan numpuk.”

”Hahahaha…, benar itu, benar itu,” tawa Giman.

”Tapi lebih baik tidak usah kita pikirkan yang macam-macam seperti bocah tadi yang dengan sangat senangnya menerima anugrah dan pemberian yang tidak terkira ini dari Tuhan, air hujan!”

”Seharusnya kita memang bersyukur, tapi kan, terkadang kita sering lupa, sering khilaf. Namanya juga manusia, Lim, bolehkan sekali-sekali lupa,” bilang Giman.

”Boleh sih boleh saja, tapi kalau keterusan itu kan namanya bukan lupa, sebaliknya memang tidak ingin diingat-ingat lagi, betulkan?”

”Ya, tidak selalu seperti itu, Lim, cuma kadang-kadang saja, tidak lebih,” canda Giman. Sayang, itu malah membuatku sedikit kesal dibuat olehnya.

Lebih lagi waktu mulai sadar, ternyata hujan bertambah deras dan aku terjebak bersama seseorang bernama Giman. Tetanga oh tetangga, pikirku. Nah kan, air di bawah mulai menggenang sedikit di atas mata kaki, lambat-lambat sampah plastik, daun kering, dan entah apa lagi, mulai hanyut olehnya dan terus semakin jauh. Suara deras air hujan juga sudah membuat suaraku dan Giman tidak terdengar lagi. Kami cuma saling pandang kecut, mencoba prediksikan apa yang akan terjadi nanti beberapa menit kemudian.

Tiba-tiba lagi…..,

”Ujan ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air ujan-ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air banjir banjir ikannya ikan betok masuk di kolong bangku bangkunya anyut-anyut nimbul di muara kebo kebonya kebo bule horeeeeeee…..” nyanyi segerombolan bocah itu lagi, kembali lewat di hadapanku dan Giman yang kali ini ia tidak komentar apa-apa, hanya melihat mereka tidak lagi berjalan melainkan mulai mengambang dan berenang-renang sementara air huja mulai rata dengan bale-bale yang kami duduki. Aku dan Giman kembali menatap kosong. Apakah itu berarti memikirkan hal yang sama.

”He, Man, apa kamu punya pikiran yang sama denganku?” tanyaku penasaran.

”Pikiran apa?” Giman balik tanya.

”Apa tidak ada sesuatu yang dapat menahan aliran air hujan ini?”

”Tidak ada. Hutan sudah pada gundul dan kita pasrah saja sekarang.”

”Bendungan?”

”Banyak bendungan yang sudah pada keropok dan bolong-bolong semennya. Aku hanya tinggal menunggu bobolnya saja.”

”Celaka tiga belas!” kataku sambil melihat seseorang yang rasanya kukenal.

”Gimaaan! Saliiiim! Rumahmu tenggelaaam!” teriak seseorang.

”Celaka empat belas!” bilang Giman tiba-tiba setelah mendengar teriakan itu dan tidak menghiraukan hujan dan air yang sudah selutut. Giman langsung pergi meninggalkanku.

”Celaka lima belas,” kataku pelan dan tidak punya pikiran apa-apa lagi selain memikirkan rasanya aku sudah tidak punya harta benda untuk dselamatkan.***permanas 170107

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »