Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

CELAKA LIMA BELAS!

Ditulis oleh permanas di/pada 17 Juli 2008

Hari ini, begitu juga seterusnya, kenapa fajar selalu menjadi awal. Tidak untuk pagi ini, langit terlalu mendung untuk ditatap dan gerimis mengikuti dari belakang. Semakin lama semakin besar. Lalu menggenang, lalu menenggelamkan.

”Jangan terlalu sinis,” bilang Giman.

”Aku? Tidak. Aku hanya bilang yang sebenarnya,” jawabku sambil menggantung kedua kaki di bale-bale pos siskamling yang masih saja sepi. Maklumlah, pagi hari. Terlebih hari sekarang lagi mendung. Tentu saja sudah bulannya, musim hujan!

”Aku hanya khawatir,” kataku lagi tidak sengaja, keluar begitu saja, padahal rasanya itu hanya kuungkapkan dalam hati saja, secara diam-diam. Eeh, dia keluar juga.

”salim, Salim, itu lagu lama namanya,” timpal Giman sedikit mencibir dan matanya mendelik tajam seperti mau mengiris sesuatu dari bagian tubuhku yang ditatapnya. Batang hidungku. Jangan tanya, aku juga tidak tahu kenapa aku mengatakannya.

”Lagu lama sih lagu lama, tapi sekali datang kau hanya bisa nangkring di atas genteng rumahmu yang reot itu sambil menggigil kedinginan. Iya, toh?”

Giman tidak bilang apa-apa, ia mungkin mengingat tahun-tahun sebelumnya. Mengingat rumahnya dekat sekali dengan daerah aliran sungai. Giman pernah merasakan kekuatan dari ular tidur itu. Ketika sungai di belakang rumahnya mengeluarkan kemarahan dan memuntahkan segala kandungan dirinya yang penuh sampah manusia, rumah yang selama ini terus ditinggalinya diterjang air deras hingga hanyut. Ia membangun kembali rumahnya pada tempat yang sama, kejadian itu terus berulang lagi, lagi dan terus, lagi, sampai ia harus memberi pondasi rumahnya dengan beton kokoh. Dan tahun berikutnya ia boleh saja senang, tapi tidak berlangsung lama, rumah miliknya tidak hanyut. Lebih dari itu, tenggelam!

Dan tiba-tiba…

”Ujan ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air ujan-ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air banjir banjir ikannya ikan betok masuk di kolong bangku bangkunya anyut-anyut nimbul di muara kebo kebonya kebo bule horeeeeeee…..” nyanyi segerombolan bocah sambil mandi hujan lewat di depan pos siskamling.

”Hei, pagi-pagi mandi hujan,” bilang Giman. Pikirannya sekarang kepada anak-anak yang lewat di hadapannya.

”Biarin!” jawab anak-anak serempak.

”Dibilangin malah ngelawan, dasar anak-anak jamans sekarang,” kata Giman lagi sedikit lebih kesal karena kata-katanya disaggah.

”Biarin! Biarin! Biarin!” sambung anak-anak itu dan berlarian menyelamatkan diri melihat Giman mau menimpuk mereka dengan tanah basah.

”Eee…eee, nantang kamu ya!” serapah Giman.

”Sudah, sudah, namanya juga anak-anak, Man. Semakin dikerasi semakin mbandel, mestinya tidak usah terlalu kasar dengan mereka. Percuma, kalau hanya buang-buang tenaga. Ayo, lepas lagi tanah itu, malah kamu yang kelewat seperti anak kecil, Man,” cegahku, daripada urusan jadi panjang nantinya. Untung Giman lepas juga itu tanah lantas mencuci tangannya pada cucuran air atap seng pos siskamling. ”Nah, begitu kan lebih baik. Pagi-pagi sudah mengomel kayak gitu,” sambungku lagi sambil menguyup teh hangat, rasanya benar-benar nikmat. Serasa tidak punya pikiran apa-apa. Padahal kalau mau dirunut-runut, kepala ini rasanya mau pecah tidak sanggup menampung banyak masalah-masalah.

”Jangan masalah kau, Lim. Lebih-lebih punyaku. Masalah yang justru benar-benar di depan mata kita sendiri saja tidak selesai-selesai sejak…., sejak kapan ya? Lupa aku.”

”Sejak kita tidak punya waktu untuk memikirkannya karena sudah terlalu numpuk dan numpuk.”

”Hahahaha…, benar itu, benar itu,” tawa Giman.

”Tapi lebih baik tidak usah kita pikirkan yang macam-macam seperti bocah tadi yang dengan sangat senangnya menerima anugrah dan pemberian yang tidak terkira ini dari Tuhan, air hujan!”

”Seharusnya kita memang bersyukur, tapi kan, terkadang kita sering lupa, sering khilaf. Namanya juga manusia, Lim, bolehkan sekali-sekali lupa,” bilang Giman.

”Boleh sih boleh saja, tapi kalau keterusan itu kan namanya bukan lupa, sebaliknya memang tidak ingin diingat-ingat lagi, betulkan?”

”Ya, tidak selalu seperti itu, Lim, cuma kadang-kadang saja, tidak lebih,” canda Giman. Sayang, itu malah membuatku sedikit kesal dibuat olehnya.

Lebih lagi waktu mulai sadar, ternyata hujan bertambah deras dan aku terjebak bersama seseorang bernama Giman. Tetanga oh tetangga, pikirku. Nah kan, air di bawah mulai menggenang sedikit di atas mata kaki, lambat-lambat sampah plastik, daun kering, dan entah apa lagi, mulai hanyut olehnya dan terus semakin jauh. Suara deras air hujan juga sudah membuat suaraku dan Giman tidak terdengar lagi. Kami cuma saling pandang kecut, mencoba prediksikan apa yang akan terjadi nanti beberapa menit kemudian.

Tiba-tiba lagi…..,

”Ujan ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air ujan-ujan mendung gerimis jadi nangis anak tuyul mandi ujan berenang tengah kali anyut di pintu air banjir banjir ikannya ikan betok masuk di kolong bangku bangkunya anyut-anyut nimbul di muara kebo kebonya kebo bule horeeeeeee…..” nyanyi segerombolan bocah itu lagi, kembali lewat di hadapanku dan Giman yang kali ini ia tidak komentar apa-apa, hanya melihat mereka tidak lagi berjalan melainkan mulai mengambang dan berenang-renang sementara air huja mulai rata dengan bale-bale yang kami duduki. Aku dan Giman kembali menatap kosong. Apakah itu berarti memikirkan hal yang sama.

”He, Man, apa kamu punya pikiran yang sama denganku?” tanyaku penasaran.

”Pikiran apa?” Giman balik tanya.

”Apa tidak ada sesuatu yang dapat menahan aliran air hujan ini?”

”Tidak ada. Hutan sudah pada gundul dan kita pasrah saja sekarang.”

”Bendungan?”

”Banyak bendungan yang sudah pada keropok dan bolong-bolong semennya. Aku hanya tinggal menunggu bobolnya saja.”

”Celaka tiga belas!” kataku sambil melihat seseorang yang rasanya kukenal.

”Gimaaan! Saliiiim! Rumahmu tenggelaaam!” teriak seseorang.

”Celaka empat belas!” bilang Giman tiba-tiba setelah mendengar teriakan itu dan tidak menghiraukan hujan dan air yang sudah selutut. Giman langsung pergi meninggalkanku.

”Celaka lima belas,” kataku pelan dan tidak punya pikiran apa-apa lagi selain memikirkan rasanya aku sudah tidak punya harta benda untuk dselamatkan.***permanas 170107

Satu Tanggapan ke “CELAKA LIMA BELAS!”

  1. heruyaheru berkata

    nice…

    permanas menjawab:
    terima kasih, mudah-mudahan aku bisa terus menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>