Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk September, 2008

Sekejap itu Selamanya

Ditulis oleh permanas di/pada 24 September 2008

Aku malu waktu dia bilang dia suka aku. Alasan klise, tapi tetap saja aku menjadi kikuk dan seluruh wajahku jadi merah jambu. Sama seperti yang ada dalam detak di dada. Ah, cintakah itu? Atau perasaan itu cuma sekejap dan menipu. Tidak, tidak, hal itu tidak ingin terjadi padaku.

Dia bilang dia ingin menjadi kekasihku, setiap malam minggu ia ingin datang ke rumahku, menemui ibuku, bapakku, kakak dan tentu juga adik-adikku. Sedikit menjilat, mengajak main catur bapak, memberi sedikit uang jajan pada adikku dan senyum ramah untuk kakak dan seisi rumahku. Tapi ia sudah menyiapkan beberapa rayuan yang dibuatnya khusus untukku. Gombal! Tapi, tetap saja aku suka.

Andai saja semua laki-laki di seluruh dunia ini seperti kais dalam cerita, apakah seluruhnya akan menjadi pecinta-pecinta lalu menjadi gila. Ah, sebelum itu pun semua para laki-laki sudah tergila-gila pada perempuan, mungkin lebih dari seorang, menjijikkan sekaligus menyenangkan. Anehnya dunia dengan perasaan yang satu itu, baik tersampaikan atau tidak, tersurat atau tidak tersirat. Perasaan itu selalu membuat banyak laki-laki dan perempuan menjadi terbang sekaligus jatuh. Aku tidak tahu apakah aku terbang atau jatuh, atau merasakan kedua-duanya. Aku merasakan kedua-duanya!

Dia datang. Tentu, malam ini malam minggu dan banyak pasangan di malam ini melakukan ritual yang satu itu. Aku senang, salah tingkah, semua yang kulakukan serba salah, bahkan dandanan ini pun tidak sesuai dengan yang aku inginkan. Dan, ah, pakaian ini, ikat rambut ini, apakah aku harus menguncir atau membiarkannya tergerai. Sudahlah, toh, ia tetap suka padaku. Hatinya sedang berbunga-bunga, ia hanya ingin melihat senyum dan gigiku yang gingsul saja. Lainnya, hihihi…, mana aku tahu.

“Ade, ada yang ingin menemuimu. Juki sudah datang, kamu mau menemuinya atau tidak?” suara Ibu menggema dari balik pintu kamar. Hah, tentu saja aku ingin.

“Sebentar lagi,” kataku datar, mencoba menyembunyikan perasaan yang hampir saja meledak.

Tapi, yang benar saja, aku tidak ingin langsung keluar untuk menemui dia itu. Aku akan sedikit lama mengulur-ulur waktu sekalian menguji kesabarannya seberapa ingin ia mau menemuiku dan menungguku. Ini penting sekaligus menjaga nama baikku agar tidak dianggap murahan dan seberapa baik ia dapat menghadapi seluruh keluargaku. Lagi-lagi tampaknya rok ini tidak pantas dengan atasan yang kukenakan, cermin ini atau pandanganku yang salah. Oooo…oooh, aku benar-benar dibuatnya gila!

*** ***

Di bangku beranda depan Juki masih senyum-senyum sendirian, entah apa yang dipikrikan olehnya, Juki berlaku demikian sejak tadi, sejak terlalu lama dirinya menunggu pujaan hati. Iseng-iseng Juki malah merapalkan kembali rayuan-rayuannya untuk Ade, sedikit senyum lagi, merapal lagi lalu diselingi menghisap rokok putihnya. Ia membelinya hanya untuk sekedar gaya saja, mengimbangi pakaian necisnya yang hanya satu-satunya Juki miliki.

“Hayo, kita main lagi. Malam minggu kemarin kamu masih hutang satu angka sama Bapak,” tiba-tiba bapak Ade muncul sambil menenteng papan catur, sekali tangannya membetulkan sarungnya yang sedikit melorot.

“Memangnya kompetisi itu mesti terus dilanjutkan, Pak?” tanya Juki pura-pura bodoh.

“Ya, harus itu, Nak Juki. Seperti biasa peraturannya, untuk menemani anak Bapak yang satu itu kamu harus mengalahkan Bapak terlebih dahulu,” kata Bapak Ade. Tanpa dibiarkan waktu terbuang percuma, Bapak Ade langsung menggelar papan catur dan mengambil bidak putih, biar langsung menyerang.

“Wah, mati aku,” pikir Juki membatin. “Bagaimana kalau saya kalah lagi, Pak?”

“Seperti kemarin juga, kamu tidak boleh pacaran keluar rumah, bahaya. Banyak kendaraan lalu lalang dan hampir sebagian pengendaranya sinting-sinting, nanti kamu dan anak saya bisa-bisa kecelakaan. Itukan malah tambah repot nantinya. Betul ndak, Nak Juki?”

“Repot sih repot, Pak. Saya malah lebih repot lagi,” gerutu Juki.

“Kamu bisa saja. Ayo, sekarang giliran kamu jalan. Hati-hati, nanti menteri kamu terinjak.”

“Om, mana uang tutup mulutnya?” tanya Edo sambil menadahkan tangan kepada Juki.

“Kamu, Edo, Bapak baru mulai serius main. Bisanya cuma mengganggu orang saja anak ini.” Bapak Ade berseloroh santai.

“Nggak apa-apa kok, Pak. Kebetulan saya ada sedikit lebih,” kata Juki sambil mengeluarkan beberapa lembar ribuan dan menaruhnya di atas tangan Edo. Andai saja waktu itu Edo tidak memergoki Juki mencium pipi Ade pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, pikir Juki.

“Terima kasih, Om.”

“Ya, ya, sekarang pergi sana.”

“SKAK! Nah, kan, apa Bapak bilang.”

“…???” Juki melongo.

“Kapan kamu ada persiapan untuk melamar Ade, Nak Juki?” tanya Ibu Ade tiba-tiba sambil membawa senampan penganan dan minuman. Ditanya seperti itu Juki hanya tersenyum kecil saja.

“Ibu ini,”

“Apa toh, Pak. Sekedar tanya kan boleh-boleh saja. Ia ndak, Nak Juki?”

“E.., a.., bo.., boleh, boleh saja, Bu.”

“Jadi kapan?”

“Jangan memaksa, Bu. Juki saja baru kenal Ade, begitu juga sebaliknya. Kita kan juga harus meneliti dan menyelidiki bibit, bobot dan bebetnya Nak Juki. Pilih jangan asal pilih. Pilih arang pilih arang asal jangan patah arang belakangan. Bukan begitu, Bak Juki?”

“Bapak ini, jodoh kok kayak orang dagang saja.”

“Harus seperti itu.”

“Tapi kan kita juga harus berani spekulasi, Pak,” sela Juki membela diri.

“Tapi jangan pilih kucing dalam karung. Jangan-jangan malah kamu kucingnya nanti.”

*** ***

“Ade jalan dulu, Pak, Bu,” kata Ade sambil menggandeng tangan Juki keluar rumah.

“Sebenarnya kamu tidak Bapak ijinkan keluar rumah. Tapi, sekali-kali bolehlah. He, Juki, ingat pulang jangan malam-malam. Kalau mau menyebrang pikir sepuluh kali lipat.”

“Tenang saja, Pak, tidak usah khawatir. Kami pasti baik-baik saja.

“Hati-hati,” sambung Ibu Ade.

Mereka lalu keluar halaman, meninggalkan pintu gerbang rumah untuk menjelajah pintu gerbang yang lain. Pergi ke pantai, melihat cakrawala biru, rasanya tidak selalu berwarna biru di mata laki-laki dan perempuan yang sedang disihir oleh kekuatan lain. Cinta, cinta, dan lebih dari itu, kehangatan menjalar, ada angin mendesir, awan-awan tersingkap, tawa nakal menjenjang, setelah itu nyanyi ombak masih menderu-deru.

“Kamu nakal!”

*** ***

Itulah masa-masa indahku dulu, aku selalu tersenyum membayangkan kembali, memang serasa melayang, pergi ke tempat lain dan berlari liar menemui kebebasan di sana. Tapi itu sekejap. Sekarang aku mawar layu, sekarat dan merintih. Tidak, aku bukan mawar, hanya kembang buah yang sarinya sudah tersingkap dan tinggal menunggu matang, menunggu musim. Aku rasa, cinta tidak gila, jiwa yang tersihirlah yang liar. Sekarang perutku tinggal menunggu rekah saja. Sekejap itu ternyata selamanya bagiku.***permanas/010804

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Mengintip Indonesia: ‘Seandainya Tak Ada Korupsi Dan Koruptor’

Ditulis oleh permanas di/pada 17 September 2008

Oleh: Sawaludin Permana

Ø Hidangan pembuka

Enam puluh tahun lebih Republik Indonesia menempuh perjalanan panjang, berbagai kemajuan dan keberhasilan telah diraih seiring dengan munculnya gedung-gedung pencakar langit, lampu-lampu jalan yang menghiasi udara malam kota-kota besar serta segala macam pernak-pernik dan corak ragam kehidupannya. Sayangnya, arti pembangunan itu belum bisa dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Keindahan yang tak terbayangkan itu ternyata juga menyimpan banyak pertanyaan bagi siapa saja yang memandangnya dan menyembunyikan makhluk yang menjadi momok banyak orang. Makhluk itu bernama ‘KORUPSI’.

Karena makhluk itu pulalah, pemerintah dan rakyat saling tuding-menuding, curiga-mencurigai, saling lantang membela hak mereka masing-masing. Ketika demokrasi yang kita bangga-banggakan ini tidak lagi bisa berjalan, kemiskinan merajalela, lembaga peradilan tidak lagi menjadi sebuah tempat mencari keadilan melainkan tempat transaksi jual-beli. Maka, kita semua telah lupa apa yang telah diperjuangkan para pahlawan kita ketika memperebutkan kemerdekaan ini. Kita tidak pernah tahu apakah para pahlawan itu –seandainya masih hidup- akan bangga atau tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat republik Indonesia sekarang ini semenjak Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan mengutuk segala macam bentuk penjajahan. Meski tertatih-tatih, bangsa ini masih bertahan dan tetap mampu menunjukkan dirinya di tengah era globalisasi yang tidak bisa dielakkan lagi. Mau tidak mau kita sudah menjadi bagian daripadanya.

Ø Budaya Indonesia dan Budaya Korupsi di Indonesia

Di dalam dirinya, bangsa Indonesia sangat menghargai kebhinekaannya, karena kebhinekaan merupakan kekuatan yang sangat besar untuk membangun bangsa ini ke depan. Akan tetapi, kebhinekaan tanpa kesetaran dan keadilan berpotensi menghancurkan.[i] Menurut Siswono Yudhohusodo, keberagaman yang tidak berkesetaraan, lebih-lebih yang diskriminatif, akan menghancurkan masyarakat yang beragam. Kita hanya bisa maju karena semangat kesetaraan, keadilan dan persaudaraan.[ii]

Sayangnya, hal itulah yang tidak lagi disadari sekarang ini, di mana hukum rimba yang berbunyi ‘only the strong can survive’ menjadi sesuatu yang harus dipertahankan, kalau tidak ingin terinjak-injak oleh kemajuan jaman. Jurang antara si miskin dan si kaya menjadi ruang diskriminasi yang sangat mencoloj, hilangnya rasa persaudaraan karena pergeseran nilai-nilai kehidupan berbhineka menjadi nilai-nilai individual, dan rasa persaudaraan menjadi barang langka yang hanya menjadi komoditi kampanye belaka. Kita tidak perlu mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain ketika Indonesia yang di mata dunia memiliki keberagaman budaya yang luhur kini lunturyang disebabkan banyak faktor sudah menggejala di mana-mana dan menjadi penyakit kronis. Namun, faktor paling mencolok yang mencuat ke permukaan adalah masalah kemiskinan dalam setiap lini kehidupan masyarakat, ditambah dengan masalah pendidikan yang serba menyangkut urusan biaya. Dan, memang selalu masalah biaya. Akibatnya pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil menciptakan manusia-manusia bermoral dan berakhlak baik untuk ditempatkan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang pada kenyataannya pun miskin dalam hal moral dan akhlak.

Apakah itu karena kita telah gagal dalam memaknai pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Menurut Siswono Yudhohusodo, pancasila sebagai ideologi nasional harus dipahami dan dimaknai dari sejarahnya. Bukan dihafalkan seperti jaman orde baru atau dilakukan indoktrinasi seperti jaman orde lama. Pancasila merupakan sublimasi dari pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang menyatukan masyarakat dengan berbagai suku, agama, ras, bahasa, pulau, menjadi bangsa yang satu. Akan tetapi, semangat bhineka tunggal ika ini harus dimaknai dalam kesetaraan, keadilan, dan harmoni. Tanpa itu sulit tercipta kemajuan bersama.[iii] Jadi, pancasila saat ini perlu dihidupkan kembali dalam masyarakat yang sudah mulai melupakan dasar negaranya. Untuk memperbesar gaung pancasila, perlu adanya campur tangan pemerintah.[iv] Asal tidak mengulang kembali seperti yang dilakukan era orla dan orba, yang berarti nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pancasila harus diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan berwarganegara. Jadi tidak sekedar menghafal. Dan memang memerlukan kerja keras untuk mewujudkannya.

Lalu apa hubungannya antara budaya Indonesia dengan budaya korupsi di Indonesia? Menurut catatan The World Bank, Indonesia memiliki reputasi internasional buruk tentang korupsi telah diketahui luas. Bahwa dunia melihat Indonesia sebagai negara korup bukan merupakan berita bagi orang Indonesia, karena mereka tidak menutup mata tentang korupsi di negerinya,[v] dan lembaga-lembaga pemerintahan menjadi indikator berlangsungnya korupsi.[vi]

Ironis sekali kalau negeri Indonesia sebagai zambrud khatulistiwa memiliki penyakit korupsi yang menggerogoti dari dalam hingga hutan dan kandungan tanahnya menjadi gersang demi kepentingan dan kekayaan segelintir orang, sementara kemiskinan dan keterpurukan ekonomi menjadi tumbalnya. Korupsi telah menghadirkan terjadinya busung lapar, polio, infrasturktur yang buruk, dan membiarkan rakyat tidak berdaya karena menghadapi kenyataan kalau mereka juga tidak luput sebagai sapi perahan. Sampai Denny Indrayana berikrar, akhirnya, hanya dengan proklamasi merdeka dari korupsi yang menegaskan pemberantasan korupsi secara luar biasa dan secepat-cepatnya, Indonesia ke depan masih mungkin bisa diharapkan tetap ada. Tanpa itu, Indonesia hanya menunggu waktu untuk menjadi tiada. [vii] Karena itu, pemberantasan, penyelundupan, korupsi, atau subversi adalah tindakan vital bagi pemulihan ketertiban hukum dan karena itu harus dilakukan dengan tekun tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu.[viii] Meskipun kita tahu itu adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan, tapi kalau didukung oleh seluruh lapisan masyarakat yang mengerti dan paham kalau kegiatan korupsi adalah musuh di depan mata yang dapat menghancurkan stabilitas bangsa dan negara ini harus benar-benar dimusnahkan. Dengan demikian, tidak ada yang mustahil kalau korupsi bisa hilang dari negeri Indonesia dan pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Tapi apakah benar, sekarang jamannya jaman edan, seperti yang pernah diungkapkan pujangga besar bernama Ronggo Warsito, kalau tidak ikut edan tidak akan kebagian. Sampai-sampai orang bijak pun mengeluh, untuk menjadi orang jujur di jaman sekarang sungguh sangat sulit. Benarkah kalau kita jujur justru celaka? Seharusnya kita tahu bahwa kejujuran itu dapat mewujudkan keadilan. Aristoteles pun menyebutkan, kalau keadilan akan terlaksana bila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama pula (justice is done when equals are treated equals). Namun, kalau yang terjadi justru sebaliknya, maka kita sudah pasti tahu kalau ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Terlepas sadar atau tidak.

Oleh karena itu, dalam demokrasi modern, sektor peradilan memainkan peran penting dalam menjaga akuntabilitas lembaga-lembaga eksekutif dan legislatif. Pemerintah sama-sama menentukan kerangka acuan legal maupun konstitusional sebuah negara, yang merefleksikan warga negaranya.[ix] Dalam keadaan seperti sekarang ini kita memerlukan kearifan yang berlaku secara luas, hukum-hukum dan perundang-undangan dan norma-norma yang hendaknya dapat melindungi seluruh individu-individu dalam negara dengan tidak meilih-milih. Semua seharusnya sama di depan hukum.

Negara hendaklah menjadi pendukung cita-cita susila, yang lebih-lebih dari untuk manusia seorang, berlaku untuk umat manusia seluruhnya, dan hal ini mendapat perwujudannya dalam negara sebagai suatu bentuk pergaulan hidup.[x] Yang terjadi sekarang malah justru politik kini menjadi sumber daya yang dipertaruhkan untuk kedudukan sosial dan kedudukan material. Kedudukan pengurus partai sangat diimpikan karena mendapat keuntungan material.[xi] Mereka menjadi lupa dengan tujuan awal bahwa apa yang seharusnya mereka lakukan adalah untuk memajukan kesejahteraan rakyat banyak berubah drastis menjadi tujuan mensejahterakan diri sendiri. Dan ini menjadi indikasi awal terjadinya korupsi di Indonesia di mana orientasi politik bukan berdasarkan komitmen ideologis, melainkan keuntungan semata.

Budaya Indonesia adalah budaya saling harga-menghargai, budaya Indonesia di mata dunia adalah budaya penuh keramah-tamahan. Tapi, yang mereka kenal sekarang adalah Indonesia dengan budaya korup sampai lapisan paling bawah sekalipun, korupsi kerap kali terjadi. Sementara hukum tidak dapat berbuat banyak karena ketakberdayaannya sendiri di tengah arus konspirasi yang sangat kental dan sangat sulit untuk ditembus oleh perangkat-perangkat hukum yang ada, sehingga menimbulkan keadaan dengan apa yang disebut sebagai ‘anomie’ yaitu suatu keadaan di mana tidak ada pegangan pasti terhadap apa yang baik dan apa yang buruk sehingga anggota-anggota masyarakat tidak mampu untuk mengukur tindakan-tindakannya, oleh karena batasan-batasannya tidak ada.[xii] Kalau demikian yang terjadi, seperti yang dikatakan Denny Indrayana, kita harus siap-siap kehilangan Indonesia yang kita cintai ini.

Ø Malu, Budaya yang Terlupakan

Bung Karno, Proklamator Indonesia, suatu kali berkata, “Kalau mereka memimpin, maka ketahuilah, bahwa yang mereka pimpin itu bukan satu rombongan kambing atau satu rombongan bebek atau satu rombongan tuyul, tapi satu rakyat yang kesadaran sosialnya dan kesadaran politiknya telah tinggi.”[xiii] Karena itu tidak jarang, setiap langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan pemerintah tidak pernah lepas daripada pandangan rakyat yang dipimpinnya. Karena demokrasi politik berasal dari kesadaran yang sangat dalam di hati sanubari rakyat akan demokrasi, yang erat hubungannya dengan kesadaran akan harga diri dan rasa kemerdekaan.[xiv]

Tapi ketika kekuasaan telah disalah artikan dan berubah menjadi kendaraan pribadi untuk meraup kekayaan negara sebanyak-banyaknya, pada saat bersamaan pula berarti pengkhianatan terhadap kesadaran hati nurani rakyatnya. Yang jelas, kekuasaan telah diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut.

Memang, persoalan kekuasaan, atau lebih luas lagi dalam persoalan politik suatu bangsa, atau lebih mendalam lagi persoalan manusia dan kebersamaan manusia, tidaklah ‘flat’, tidak datar, tidak hitam maupun putih, bukan searus atau segaris atas sepetak ruang; melainkan multi dimensional, bulat atau prismatik. Namun, kita juga melupakan satu hal, yaitu apa yang disebut sebagai rasa malu. Inilah yang sudah lama dilupakan kita, malu ketika kekuasaan itu diselewengkan, malu ketika amanah hanya dijadikan sandaran kursi yang didudukinya, padahal kursi itulah segala harapan-harapan rakyat hadir dihadapan orang yang mendudukinya, malu ketika uang negara dijadikan ajang foya-foya sementara di balik pagar besi istana, yang juga sejatinya adalah milik rakyat, anak-anak putus sekolah duduk di sampingnya dengan pandangan mengawang tanpa harapan yang tidak pernah pasti. Tapi yang kita rasakan adalah budaya yang ‘malu-maluin!’.

Mentalitas korupsi telah sedemikian mengakarnya dalam setiap segi dan pelosok kehidupan kita, baik dalam kepemerintahan maupun dalam masyarakat secara luas. Dalam kepemerintahan, segi birokrasi seharusnya dapat dilihat sebagai sistem rasional yang berprinsip efektivitas, efisiensi, ternyata dalam prakteknya justru irasional, bertele-tele dan korup. Dan, sebagai dampaknya, hal itu pun berlanjut dalam kehidupan bermasyarakat, siasat perjuangan hidup modern yang antara lain ‘tujuan menghalalkan perbuatan’ yang haram menurut ukuran moral agama, dijadikan halal oleh karena kepentingan tujuan. Dan celakanya lagi, ini telah membudaya di masyarakat luas. Moral inilah yang sekarang tidak lagi dimiliki sebagian penguasa dan masyarakat kita di mana budaya malu telah berubah menjadi budaya ‘malu-maluin’. Karena praktek korupsi yang merajalela saat ini perlahan-lahan mulai menghancurkan eksistensi bangsa. Karena itu, Judilheri Justam meyakini, setiap kali terjadi penyimpangan dan pengingkaran terhadap cita-cita dan tujuan proklamasi, maka akan terjadi upaya dan ikhtiar untuk dikoreksi.[xv]

Ø Seandainya Tak Ada Korupsi Dan Koruptor

Korupsi, yang dapat dikatakan. Sebagai sebuah bentuk pengingkaran terhadap makna pembangunan yang adil dan merata untuk seluruh rakyat Indonesia, telah sedemikian rupa hebatnya membuat perekonomian negara menjadi semrawut. Rakyat menengah ke bawah menjadi tambah ketakberdayaannya di tengah persaingan hidup yang semakin ketat itu dan kelemahan-kelemahannya menjadi korban dari kekuatan penjahat-penjahat kerah putih.

Padahal, menurut perdana mentri Kim Il Sung di tahun 1947, pernah berkata, untuk membangun negara yang demokratis, maka ekonomi yang merdeka harus dibangun. Tanpa ekonomi yang merdeka, tidak mungkin kita mencapai kemerdekaan, tidak mungkin kita mendirikan negara, tidak mungkin kita tetap hidup.[xvi] Sementara kita masih mengharapkan bantuan-bantuan dari negara donor untuk membangun perekonomian di Indonesia, yang dalam kenyataannya pun tak luput dari praktek KKN di mana nota benenya adalah hutang negara yang dibebankan kepada rakyat untuk pengembaliannya. Dan memang, kita belum merdeka seperti apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, gencarnya upaya pemberantasan korupsi pada pemerintahan Bambang Susilo Yudhoyono – Jusuf Kalla seakan memberikan angin segar kepada masyarakat yang mencita-citakan pemerintahan yang bebas dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang melanda Indonesia. Menurut Sri Sulistiyani, pemberantasan korupsi yang disepakati sebagai gerakan nasional ini seharusnya juga diikuti dengan langkah-langkah yang riil, penyelidikan dan persidangan dari berbagai kasus yang telah dilaporkan. Kalau seperti ini kan hanya menjadi wacana atau slogan.[xvii] Ketua BUMN Watch, Naldy Nazar Haroen juga menyatakan hal senada, menurutnya, masih banyak kekurangan dan kejangalan terutama hasil akhir pemberantasan korupsi itu yang membuat publik patah arang. Contohnya putusan pengadilan yang tak adil dan tak berpihak kepada misi pemberantasan korupsi itu sendiri.[xviii]

Karena itu, ketua pimpinan pusat Muhammadiyah, Syafi’I Ma’arif mengatakan, melawan korupsi harus dilakukan secara total karena korupsi sudah menggurita di mana-mana. Untuk itu, bangsa Indonesia harus menggunakan semua kekuatan bangsa untuk melawannya. “Tanpa komitmen memberantas korupsi dengan semua kekuatan, negeri ini akan tertatih-tatih menghadapi masa depan yang tidak jelas.”[xix]

Kita semua tahu, memandang Indonesia sekarang seperti memandang sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja, gesekan dan getaran sekecil apapun dapat memicu terjadinya ledakan yang tidak dapat kita bayangkan. Ketika ekses dari korupsi menyebabkan masalah-masalah ketidak setaraan dan ketida kadilan yang berubah dan muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi, sementara di tengah penderitaan bangsa orang rebutan kekuasaan dan tidak malu, alasannya pun jelas: duit adalah raja. Dari sanalah makhluk bernama korupsi itu diwariskan dari generasi ke generasi dengan tanpa penyelesaian. Kita belum bisa menciptakan Indonesia dengan pemerintahan dan perangkat-perangkatnya yang bersih dan jujur, kita juga belum mampu menciptakan orang kaya-orang kaya tanpa sentimen di mana hasil usaha dan kekayaannya dilakukan dengan jujur dan tidak curang. Moralitas menjadi begitu sunyinya, mendekam sendirian, karena ia tidak lagi menjadi ukuran untuk hidup bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Apakah ini indikasi bahwa kita negara yang telah gagal. Sebagaimana dijelaskan Dr. Robert I Rotberg, indikator negara-negara yang gagal adalah cendrung menghadapi konflik yang berkelanjutan, kekerasan komunal maupun kekerasan negara sangat tinggi, permusuhan karena etnik, agama, ataupun bahasa, teror, jalan-jalan atau infrastruktur lainnya dibiarkan hancur.[xx] Mudah-mudahan saja kita bukan sebagai negara yang gagal.

Alangkah indahnya Indonesia, senadainya benar-benar tidak ada korupsi dan koruptor, di mana setiap orang menghargai hasil jerih payah dan keringatnya karena diperoleh dengan jujur dan adil. Lembaga-lembaga birokrasi pemerintah, di mana menurut A. Coser – Bernard Rosenberg, merujuk pada suatu organisasi yang dimasudkan untuk mengerahkan tenaga dengan teratur dan terus menerus untuk mencapai tujuan tertentu. Atau dengan lain perkataan, birokrasi adalah organisasi yang bersifat hierarkis, yang ditetapkan secara rasional untuk mengkoordinir pekerjaan orang-orang untuk kepentingan pelaksanaan tugas-tugas administratif,[xxi] dapat berjalan efektif, efisien, tidak bertele-tele, dan yang pasti tidak korup. Lembaga-lembaga peradilan dalam memutuskan setiap perkara yang dilimpahkan kepadanya dapat memutuskan perkara dengan seadil-adilnya dan tidak berat sebelah, tanpa memandang golongan apapun dan kepentingan apapun, di mana saat ini tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan para penegak hukum sangat rendah. Perekonomian rakyat dan negara menjadi stabil karena setiap keuntungan digunakan untuk pembangunan secara menyeluruh yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia seutuhnya. Pendidikan yang murah dan bertanggungjawab –bukan sebagai pedagang ijazah asli maupun palsu- yang menciptakan manusia-manusia bertanggung jawab untuk tetap mampu meneruskan cita-cita bangsa dan negara. Yang jelas, tidak bermental bunglon dan bermental korup. Niscaya, Indonesia masih akan tetap ada.

Ø Penutup

Memang telah terbukti kalau korupsi menyengsarakan rakyat, meski kita membutuhkan semua komponen bangsa untuk memusnahkannya, kita juga membutuhkan kesadaran dengan apa yang disebut sebagai ‘self-control’ atau pengendalian diri dan ingat kalau kita merugikan orang lain berarti kita juga merugikan diri sendiri. Dan, apa yang ada pada diri kita tidak lebih adalah amanah, ini berlaku untuk semua pemimpin, dan juga semua orang karena pada dasarnya mereka juga adalah seorang pemimpin untuk diri mereka sendiri. Hal ini akhirnya memicu social control yang sehat dalam masyarakat dan negara. Seperti peraturan emas yang dirumuskan O. Hoffe, bahwa sebagaimana engkau mengharapkan agar kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan dan keprihatinan-keprihatinanmu diperhatikan, begitu pula engkau harus memperhatikan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan orang lain.[xxii] Hal ini juga memicu apa yang diharapkan Selo Soemardjan, bahwa dengan keseimbangan dalam masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok dari masyarakat benar-benar berfungsi dan saling mengisi.[xxiii] Selaras dengan itu menyebabkan tumbuhnya suatu solidaritas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum. Keinginan umum tadi adalah berbeda dengan keinginan masing-masing individu.[xxiv] Itu terbukti, dengan keinginan seluruh lapisan masyarakat untuk memberantas korupsi, meski dalam prakteknya pun mendapatkan banyak ganjalan-ganjalan.

Soekarno mengingatkan, salah satu ciri orang yang betul-betul revolusioner ialah satu kata dengan perbuatan, satu mulut dengan tindakan.[xxv] Karena memang itulah orang yang benar-benar dibutuhkan dalam segala jaman.

Akhirnya, ada sementara orang berdalih: orang baik adalah lebih baik. Ini benar. Tapi karena orang baik jauh lebih sedikit daripada orang yang tidak baik, dan karena adalah lebih mudah membuat undang-undang baik, daripada memperbaiki orang-orang yang tidak baik, usaha kesempatan untuk memperbaiki peraturan undang-undang haruslah dipergunakan sebaik-baiknya.[xxvi] Karena untuk bisa memandang ke depan, kita harus menentukan sebelumnya. Savoir pour prevoir.***

CATATAN AKHIR:

[i] Kompas, Bisa Menghancurkan, Kebhinekaan Tanpa Kesetaraan. Senin, 20 Juni 2005; hal.6; rubrik Politik dan Hukum.

[ii] Idem.

[iii] Idem.

[iv] Kompas, Pancasila Perlu Dihidupkan Kembali. Sabtu, 11 Juni 2005; hal.7; rubrik Politik dan Hukum

[v] The World Bank, Memerangi Korupsi di Indonesia: Memperkuat Akuntabilitas untuk Kemajuan; Oktober 2004; hal. 44

[vi] idem, hal. 47

[vii] Denny Indrayana, dosen hukum tata negara UGM juga menjabat sebagai direktur Indonesian Court Monitoring, Yogyakarta, dalam tulisannya ‘Proklamasi Anti Korupsi’ di Media Indonesia. Selasa, 19 Juli 2005; rubrik Opini; hal. 26

[viii] Yap Thiam Hien. Negara, Ham, dan Demokrasi. Penerbit Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Desember 1998, hal.26

[ix] The World Bank, Memerangi Korupsi di Indonesia: Memperkuat Akuntabilitas untuk Kemajuan. Oktober 2004. hal.166.

[x] Mr. J. Bierens De Han, Sosiologi, Perkembangan dan Metode. Terjemahan Adnan Sjami, 1953. hal.13

[xi] Kompas, Politisi Perlu Pendidikan Politik. Selasa, 3 mei 2005. hal.6. rubrik Politik dan Hukum.

[xii] Soerjono Soekanto, Sosiologi, Suatu Pengantar. Edisi 1, 1982. CV. Rajawali, Jakarta. Hal.340.

[xiii] Bung Karno, Panca Azimat Revolusi. Totalitas. Hal. 67-68.

[xiv] Mr. J. Bierens De Han, Sosiologi, Perkembangan dan Metode. Terjemahan Adna Sjami. Hal 171.

[xv] Judiheri Justam dari Petisi 50. lih. Kompas, Petisi 50 Soal Korupsi. Sabtu, 7 Mei 2005. hal.7. rubrik Politik dan Hukum.

[xvi] Lih. Bung Karno, Panca Azimat Revolusi, hal. 125.

[xvii] Sri Sulistiyani, Koordinator Gerakan Masyarakat Anti Korupsi (GEMAK) Jember. Lih. Media Indonesia, ‘Pemberantasan KKN hanya Slogan’. Selasa, 10 mei 2005. rubrik Nasional.

[xviii] Lih. Suara Pembaruan, Pemberantasan Korupsi Belum Sesuai Harapan. Senin, 25 Juli 2005. rubrik Nasional.

[xix] Kompas, Pemberantaan Korupsi Harus Dilakukan Secara Total. Kamis, 19 Mei 2005. rubrik Poltik dan Hukum.

[xx] Dr. Robert I Rotberg, direktur program konflik Jhon F. Kennedy School of Government, Harvard University, dalam sebuah sesi diskusi di CSIS. Lih. Kompas, 28 Maret 2005. penjelasan lebih lanjut lih. Peta Konflik Jakarta, Warga, Mahasiswa, Preman, Suku, Negara, dan Warga. Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi (Yappika) hal.125

[xxi] pengertian birokrasi menurut A. Coser – Bernard Rosenberg. Untuk penjelasan lebih lanjut lih. Soejono Soekanto. Sosiologi, Suatu Pengantar. Edisi 1. 1982. CV. Rajawali, Jakarta. Hal. 293.

[xxii] Dikutip dari makalah Franz Magnis Suseno: ‘Menguasai atau berpartisipasi? Tentang Krisis Kebudayaan Teknokratis dan Kekuasaan untuk Mengembangkan Suatu Etika masyarakat Teknologi Baru’ dalam buku Dasar-Dasar Krisis Semesta dan Tanggung Jawab Kita. Universitas Nasional. Dian Rakyat, Jakarta. Cet.1, 1984. hal. 158.

[xxiii] Dikutip dari Soerjono Soekanto, Sosiologi, Suatu Pengantar. Ed.1, 1982. CV. Rajawali, Jakarta. Hal. 339.

[xxiv] Idem. Pendapat Rosseau. Hal. 27

[xxv] Bung Karno, Panca Azimat Revolusi. Totalitas. Hal.108.

[xxvi] Yap Thiam Hien, Negara, Ham, dan Demokrasi. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Desember 1998. hal. 99

DAFTAR PUSTAKA:

· Agus Budi Purnomo, Fransisca Melia N Setiawati, Indra Jaya Piliang, Otto Syamsuddin Ishak; Peta Konflik Jakarta, Warga, Mahasiswa, Preman, Suku, Negara dan Warga. Penerbit, Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi (YAPPIKA) Cet. 1, Januari 2004.

· Bung Karno; Panca Azimat Revolusi. Pen. Totalitas. 2002.

· Fraanz Magnis Suseno; makalah ‘Menguasai atau Berpartisipasi? Tentang Krisis Kebudayaan Teknokratis dan Keharusan untuk Mengembangkan Suatu Etika Masyarakat Teknologis Baru’ dalam buku, Dasar-dasar Krisis Semesta dan tanggung Jawab Kita. Kumpulan 13 Makalah Simposium Dasar-dasar Krisis Semesta dan tanggung Jawab Kita, diadakan oleh Universitas Nasional 4-5 Juni 1983. Pen. PT. Dian Rakyat Jakarta. Cet.1. 1984.

· Kompas; Politisi Perlu Pendidikan Politik; Selasa, 3 Mei 2005

· _______; Petisi 50 Soal Korupsi; Sabtu, 7 Mei 2005

· _______; Pemberantasan Korupsi harus Dilakukan Secara Total; Kamis, 19 Mei 2005

· _______; Pancasila Perlu Dihidupkan Kembali; Sabtu, 11 Juni 2005

· _______; Bisa Menghancurkan, Kebhinekaan Tanpa Kesetaraan; Senin, 20 Juni 2005

· Media Indonesia; Pemberantasan KKN Hanya Slogan; Selasa, 10 Mei 2005

· _____________; Proklamasi Anti Korupsi, oleh Denny Indrayana; Selasa19 Juli 2005

· Mr. J Bierens De Han; Sosiologi, Perkembangan dan Metode, terjemahan Adnan Sjami. Pustaka Sardjana No. 10. Yayasan Pembangunan Jakarta, 1953. judul asli: Sociologie Ontwikkeling En Methode (N.V. Servire – De Haan)

· Soerjono Soekanto; Sosiologi, Suatu Pengantar. Cet. 1, 1982. CV. Rajawali, Jakarta

· Suara Pembaruan; Pemberantasan Korupsi belum Sesuai Harapan; Senin, 25 Juli 2005

· The World Bank; Memerangi Korupsi di Indonesia: Memperkuat Akuntabilitas untuk Kemajuan; Oktober, 2004

· Yap Thiam Hien; Negara, HAM, dan Demokrasi; Yayasan Lembaga bantuan Hukum Indonesia (YLBHI); Desember 1998.

***tulisan ini aku buat tahun 2005.

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Boneka Kali

Ditulis oleh permanas di/pada 15 September 2008

Ini malam, malam tenang. Tadi sore sampai selepas maghrib hujan baru selesai mengguyur tanah yang rindu becek itu. Sekarang dahaga itu lepas. Ia mengalir lewat kali jembatan gantung yang goyang kena angin, air hitam tambah hitam, ini malam, memang malam tenang. Bercermin pada kilauan lampu di pinggiran kali yang jadi tempat mendekam gubuk-gubuk. Lampu minyak juga masih sambar meliuk. Tari pongah pada gelap.

Cuma dua bocah masih lari-lari, seakan sembunyi dan coba menyusup, membelah tanah becek dan genangan yang keruh itu dihentak berkali-kali. Sekarang mereka berdiri di tengah-tengah jembatan gantung, bersandar pada tali baja sebelah kiri. Dan di bawah satu rakit masih lalu lalang antara pinggir satu mengantar pinggir lain. Siapa yang mengantar siapa yang di antar, tak pernah jelas. Lampunya samar, saungnya terlalu landai menutup. Dua bocah itu masih mengamati, waktu dua orang laki-laki berhenti dan turun dari rakit lalu menaiki tanggul menuju kumpulan gubuk-gubuk. Sekarang, malam tidak lagi pernah tenang.

“Njo,” bilang Kunti. Njo tidak menoleh, ia geming. Pikiran Njo tersihir oleh kerlip lampu dari ombak kali jembatan gantung. “Njo.” Sekali lagi Kunti bilang. Njo masih geming.

“Ibu kita, mungkin sekarang mereka sudah kembali senyum, Kunti,” akhirnya Njo bilang kepada Kunti tapi masih diam, mata Njo masih tajam menusuk gubuk-gubuk yang jongkok di pinggiran kali itu.

“Ibumu mungkin, ibuku belum tentu.”

“Kenapa?” tanya Njo, pandangannya patah, sekarang kening Njo berkerut.

“Ia sakit, meringis sejak kemarin. Kunti disuruh pergi. Kunti lari.”

“Tidur?”

“Gerbong kereta langsam jawa yang parkir,” jawab Kunti.

“Sekarang?”

“Ketemu Njo, terus kita di sini, jembatan gantung,” kata Kunti lagi.

“Ibu kamu bagaimana?”

“Tidak tahu.”

“Bapak kamu?”

“Bapak kamu sendiri, Njo? Apa kamu tahu bapak kamu?” tanya Kunti. Ada dua pertanyaan di sana yang mesti di jawab Njo.

“Tidak tahu.”

“Kalau begitu kita sama.”

“Sekarang kita mau kemana?” tanya Njo lagi. Kunti geleng kepala sambil merapatkan tubuhnya, kasih lewat dua perempuan berdandan menor menuju kumpulan gubuk-gubuk itu.

“Kunti tidak pernah takut mau pergi kemana. Ibu diajari supaya tidak takut. Lalu Kunti diajari pula supaya tidak takut. Karena itu sekarang Kunti jadi berani, jadi, ibu suruh Kunti pergi.

“Kenapa kamu disuruh pergi sama ibu kamu?”

“Kata ibu supaya Kunti tidak melihat ibu pergi ke tempat lain. Kalau Kunti masih di dekat ibu, ibu tidak akan bisa pergi.”

“Pergi kemana?”

“Ibu kamu sendiri?”

“Kunti belum jawab pertanyaan Njo.” Njo memaksa.

“Kunti tidak dikasih tahu ibu.”

“Ibu Njo masih ada di sana, ia senang-senang. Njo juga disuruh pergi, jangan ganggu. Kalau Njo ganggu, Njo sama ibu tidak bisa makan,” jawab Njo.”

“Sekarang kita mau kemana?” tanya Kunti gantian. Njo geming lagi.

Tapi Kunti tidak mau tunggu lama-lama. Kunti tarik tangan Njo buat pergi dari jembatan gantung. Njo sama Kunti lalu lewati pengemis tua yang mangkal di ujung jembatan itu. Ia tidur, tapi mangkuknya masih dipegang erat-erat. Ada beberapa receh tergeletak di sana yang mungkin bisa menghangatkan tubuh mereka dengan segelas sekoteng, bisa diminum berdua. Njo mencegah Kunti punya pikiran seperti itu, Kunti cuma mengangkat kedua bahunya dan berlalu begitu saja meninggalkan pikiran itu, masih sedikit mengganggunya, tapi tidak dilakukan. Sekarang Njo yang menuntun Kunti jalan, sedikit menjauh dari gubuk-gubuk di sana, sedikit gelap. Ada pagar besi yang berlubang, cukup untuk meloloskan badan kecil mereka. Njo menerobos duluan kemudian disusul Kunti, sebentar suara klakson kereta dan lampu sorot wajah mereka, sedikit silau sebelum akhirnya kembali lenyap dan sepi.

Satu kereta baru saja parkir di sana, satu jalur panjang diisi gerbong-gerbong kosong. Njo memanjat naik, Kunti juga. Waktu baru selangkah, seseorang membentak supaya pergi. Suara, cuma suara di antara gelap dan dua nafas yang tersengal saling menimpali. Njo tidak peduli sambil meninggalkan suara itu lalu mencari gerbong yang lebih terang. Satu gerbong di gandengan tengah ada yang dibias sinar. Seperti peraturan biasa, tidak duduk, hanya tangan-tangan kecil itu merogoh-rogoh kolong bangku mencari sesuatu.

“Kunti,” panggil Njo di pintu gerbong sambil memegang bungkusan kertas. Kunti mendekat sambil membuka bungkusan yang dikasih Njo.

“Nasi. Belum basi,” kata Kunti ketika melihat isi bungkusan itu.

“Kamu mau?” tanya Njo.

“Belum lapar.”

“Apa yang kamu dapat?”

“Boneka-bonekaan.”

“Kamu mau kasih nama siapa?”

“Susi. Seperti nama ibu dikumpulannya.”

“Kita kembali saja.”

“Kemana?”

“Kamu bisa diam di tempat Njo. Biar Njo yang bilang, pasti ibu mau,” kata Njo meyakinkan Kunti.

“Susi boleh ikut?”

“Susi boleh ikut tentunya,Kunti,” jawab Njo sambil mengajak Kunti menuruni gerbong kosong itu, kembali melewati jalan sebelumnya. Kembali melewati jalan gelap, pagar besi, sebentar lagi sampai pinggiran jembatan gantung, lalu akan ke gubuk Njo buat bilang supaya Kunti boleh tinggal sama mereka.

Kunti sama Njo tiba-tiba tersentak dan tidak dapat melangkahkan kakinya lagi, mereka kaku, takut, tidak percaya, tidak tahu harus berbuat apa. Dimata Njo sama Kunti, segerombolan orang tengah berarakan menuju kumpulan gubuk-gubuk di pinggir kali, termasuk gubuk Njo, rumah Njo, tempat Njo dan ibunya berteduh sama tidur, juga punya yang lainnya yang dekat dengan gubuk Njo. Arakan itu mengangkat tongkat kayu yang ujungnya penuh dengan jilatan api, sambil teriak-teriak, mereka, ditatapan mata Njo sama Kunti, tongkat kayu itu terlempar dan jatuh di atap gubuk Njo lalu menjilatnya sampai lumat, sampai habis terbakar. Sorakan itu kian gembira diantara bentakan-bentakannya. Njo mau nangis waktu banyak teriakan minta tolong dari dalam gubuk Njo. Njo dengar ibunya teriak kesakitan. Njo mau berlari dan menolong, menjawab jeritan ibunya. Njo tidak bisa, ia kaku, bahkan ia tidak bisa menangis, genggaman Njo semakin keras mengapit tangan Kunti, kelu. Kunti ingin melepas gapitan tangan Njo yang semakin kencang, tapi tidak bisa.

Beberapa orang melihat Njo sama Kunti, garang mencoba mendekati dan menangkap. Njo tahu, lalu menarik tangan Kunti lagi mengisyaratkan supaya lari, jangan sampai tertangkap, jangan sampai dilumat kemarahan mereka. Maka Njo sama Kunti lari melewati jembatan gantung itu, ombak dari aliran kali mengilatkan api yang melahap gubuk-gubuk di pinggiran kali jembatan gantung dan membiaskannya pada dua sosok yang terus berlari.

“Boneka Kunti! Njo, boneka Kunti!” teriak Kunti. Boneka Kunti tersangkut kawat baja. Njo mencoba melepaskan tapi tetap tidak bisa. Njo menarik keras tangan Kunti buat terus berlari, jangan tertangkap! Tangan Kunti lepas, tak kuasa menahan. Boneka Kunti yang baru saja didapatnya lepas dan melayang jatuh ke dalam kali jembatan gantung. Kunti hampir menangis, ia menahannya, ingat ibunya supaya Kunti berani. Kunti tidak lagi menoleh, masih terus berlari bersama Njo. Di belakangnya, beberapa orang masih mengejar. Tidak tahu kapan harus berhenti dan di mana.

Njo sama Kunti masih terus berlari sampai sekarang.***

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bintang Jatuh

Ditulis oleh permanas di/pada 15 September 2008

Allahu Akbar!! aku rasa itu ucapan yang spontan aku keluarkan ketika pukul satu 14 ramadhan 1429 h = 14 september 2008 m, waktu aku keluar rumah dan mendongak ke atas langit yang cerah. satu meteor yang cukup terang berekor panjang melintas tepat di depan mata dan kepalaku sekitar sepersekian detik melintas dengan cepat sekali.

dan tiba-tiba saja aku merasa menjadi seseorang yang religius sekali -padahal jujur, jarang aku shalat- bukan karena kebetulan. sebenarnya, sebelumnya aku berkelakar dalam hati dengan Tuhanku itu. mengingat ini kali keduanya aku melihat bintang jatuh pada bulan ramadhan, satu kali aku lupa tahunnya dan tahun itu bukan hanya sekedar bintang jatuh melainkan hujan meteor, sungguh! aku jujur! beberapa kali lainnya di luar bulan ramadhan. aku rindu sekali ingin melihat sebuah meteor jatuh dihadapanku, atau sesuatu seperti setitik cahaya menyerupai bintang tapi tiba-tiba ia bergerak perlahan dan menghilang di balik kabut langit, atau bola api raksasa yang terbang pendek, percayalah, aku pernah juga melihatnya dengan jelas! dan beberapa kali aku mendongak ke langit tanpa sesuatu pun terjadi. dan tiba-tiba saja SLASSSSHHHHHHHHH!! sesuatu bergerak dengan cepat sekali dan sangat terang! aku bercanda, dan Tuhan aku mengabulkan permintaanku, meski aku berkelakar dalam hati, tapi sungguh itu benar-benar terjadi, kawan!

Tuhanku itu menghentikan candaku dan emngubah hatiku menjadi sebuah perenungan yang panjang, tapi hatiku penuh dengan kegembiraan yang meluap! kau tahu, energinya sampai sekarang masih mampu membuatku tetap tersenyum! camkan itu. tiada habisnya aku tersenyum dan mengingat kembali peristiwa malam itu, kenapa aku tahu tepat pukul satu, setelah kejadian itu aku langsung memeriksa jam dinding, dan ya, memang tepat pukul satu dini hari. itu sebelum sahur yak!

tiba-tiba juga, aku menjadi salah seorang yang sangat beruntung di dunia ini, selain permohonanku terkabul malam itu juga. aku mengingat peristiwa malam Lailatul Qadar, pertama kali Al Quran diturunkan ke bumi, pertama kali gunung, sungai, pohon-pohon, semua makhluk bumi tunduk menerima kehadirannya. dan, Masya Allah! andai saja malam itu benar-benar malam yang selalu di cari orang-orang yang zuhud, sungguh mereka sangat beruntung sekali dan Allah akan membalasnya ribuan kali, Insya Allah. mungkin aku akan menyesal karena tidak melakukan apa-apa selain spontan mengucapkan takbir, tanpa aku suruh, tubuh, jiwa, dan ragaku sudah tunduk terlebih dahulu mendahului aku.

kau tahu, aku memang selalu dipenuhi dengan keberuntungan! tentu saja aku mengucapkan permohonan kembali, dalam hati tentunya, setelah melihat bintang jatuh itu, kalau mitos itu benar-benar dimungkinkan ya, setidaknya tidak ada salahnya mencoba dan mengucapkan beberapa keinginanku untuk kembali dikabulkan, hehehehe, kapan lagi kesempatan datang, pikirku. tidak perlulah aku sebutkan di sini.

dulu aku pernah mengucapkan begini, kalau aku gagal jadi penulis, aku akan jadi juru masak. Tsui Hark (sutradara film laga) bilang, bekerjalah seperti seorang juru masak, coba berbagai hal baru, hasilnya mungkin masakan kelas satu, mungkin juga tidak! ya akhirnya aku memilih jadi jruu masak kalau cita-cita pertamaku gagal. kalau aku gagal jadi juru masak, aku memilih menjadi seorang astronomer. itu bukan ide gila, kawan! aku sungguh-sungguh, aku menyukai malam, aku menyukai bintang-bintang, planet dan pergerakan awan-awan kosmik dan menunggu kelahiran bintang baru! aku ingin menjadi salah satu penyaksi!

aku memang bukan satu-satunya saksi yang sering melihat betapa indahnya sebuah bintang jatuh (baca: meteor) tapi aku sangat berterima kasih sekali kepada Tuhanku, aku diberi kesempatan menjadi salah seorang penyaksi dari sekian banyak orang. terima kasih, Tuhan

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Semesta

Ditulis oleh permanas di/pada 12 September 2008

“Bumi ini bukan milik kita, Istriku. Tapi keindahannya ada di tangan kita dan dalam rangkulan keheningan malam betapa kita terkagum dengan keelokan yang hidup di dalamnya. Kita merasa begitu kerdil, namun kekerdilan kita tetap menjadi satu kesatuan keindahan itu sendiri. Kita adalah refleksi dari realitas keindahan itu sendiri.”

“Benar, Suamiku. Kau dan aku, dan kita semua bukanlah sesuatu yang terpisah dari alam. Semua itu berasal dari dari satu sumber kekuatan gaib di mana setiap kita memiliki sumber-sumber kekuatan gaib itu, di dalam diri kita. Ketika setiap orang mulai mematri malamnya dengan selimut mimpi, batinku selalu ingin bicara dengan hati meluap-luap dan tumpah ke dalam telaga kejernihan pikiran, menari-nari bersama peri yang merubah dirinya menjadi lautan cahaya. Aku tidak tenggelam di dalamnya, tapi kedamaian yang kutemukan di sana ketika malam tidak lagi berubah gelap. Ada bagian dari diriku di sana dan ingin segera kukumpulkan kepingan-kepingan kehidupan yang membuat malam ini begitu indah dan gemerlap.”

“Ada yang bersembunyi, Istriku, di balik bayangan kita sendiri dan selalu menguntit sementara kita lengah dengan keasyikan dalam kealpaan kita. Kita kosong dan tak ada sesuatu yang dapat mengisi kekosongan kita dan kita menjadi takut dalam kesendirian lalu membuangnya jauh-jauh ketika gelap menjamah bagian-bagian dari diri kita. Mengikat cahaya dengan erat sehingga kita menjadi buta mengenali diri kita sendiri. Aku takut, Istriku, seandainya aku dipasung oleh kebutaanku sendiri dan tak satupun tongkat untuk menuntunku mencari setitik cahaya. Meskipun setitik, aku takut tak dapat menemukannya.”

“ada gelombang besar dan dahsyat dalam kegelisahanmu, Suamiku, yang membuatmu menjadi buta sementara kilat menyilaukan matamu dan angin taufan mengacaukan penalaranmu dan juga pemikiranmu hingga sedemikian rancunya. Jangan kegusaranmu kau jadikan tameng untuk tak melihat lagi ke dalam kejernihan. Kau harus sadar. Kau masih memiliki kekuatan gaib itu untuk membuang semua kegelisahanmu. Itu yang akan menjadi tongkat dan menuntunmu ke dalam lautan cahaya, keindahan alam semesta ada di sekeliling kita. Bilakah keindahan tak kau inginkan lagi, apa yang akan kau lakukan dalam hidupmu sendiri. Tak seharusnya kau bertanya kepadaku, tanyakan itu kepada dirimu.”

Dingin terus merambat dari bibir cakrawala dan menutup kubah langit, belum terjamah oleh bayang-bayang kesemuan. Lautan menjadi selimut yang mendera batu karang di pulau kesunyian dan menjadi musik pengiring syair-syair alam, terucap dari bibir kekaguman alam raya, dan malam ini tetap memainkan perannya.

“Istriku, kita masih beruntung bisa menatap langit malam dengan bintang-bintangnya yang terang. Sampaikan kesadaranku ini pada pencipta semesta yang memiliki seluruh kekuatan yang tersebar di antara kita. Kita akan tetap menjadi gelisah dan gelap dalam kekerdilan kita andai kekerdilan kita bukan merupakan satu kesatuan dari alam semesta ini.”

“Akan aku sampaikan kesadaranmu dan juga kesadaranku sebagai seorang yang bersyukur atas keindahan yang terletak di kedua belah tangan kita dan di antara ruh dan jiwa kita. Meskipun alam raya ini bukan milik kita, aku akan menjaganya dengan kekuatan cinta kita.”

“Semoga alam raya ini terjaga keindahannya. Semoga saja, Istriku. Semoga saja.”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Perpuisian Indonesia: Mencari Jati Diri

Ditulis oleh permanas di/pada 10 September 2008

Oleh: Sawaludin Permana

Bicara mengenai puisi, pasti kita akan terkenang hal-hal yang indah tentang kalimat yang tersusun rapih di dalamnya. Permainan simbol dan makna membuat kita merenung, tersenyum dan bahkan kadangkala menitikkan air mata, kadang pula membuat kita tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh sang penyair, karena tidak menyediakan pintu pemahaman yang membuat gelap pikiran kita. Tapi, di sinilah yang membuat suatu karya puisi itu menjadi hidup, pembebasan alam pikiran dibiarkan tumbuh dan terbuka dalam konflik pemaknaan yang melekat dalam susunan suatu kalimat. Sebuah puisi akan mandul apabila ia dianggap hanya sebagai bacaan selintas tanpa menyelidiki penyampaian pemikiran yang diberikan kepadanya. ‘Citra’ puisi itu akan mati karena tidak mengalir, ia hanya berhenti pada pemahaman sejenak. Namun, inti yang terkandung sebagai sebuah manifestasi tidak mencuat keluar ke dalam perilaku pembacanya.

Di sini kita mulai mengerti, mengapa prosa lebih dapat diterima ditengah-tengah masyarakat dari pada sebuah puisi seutuhnya. Jawabannya, mungkin, adalah prosa lebih mudah dipahami dan dimengerti, karena isinya memang jelas dan mudah dicerna oleh alam pikiran pembaca yang memiliki pola pikir berbeda satu sama lainnya dan makna-makna yang ada di dalamnya pun menjadi ‘terang’. Di situ suatu lambang simbol diuraikan secara gamblang dan detail lewat alur cerita yang ikut mengalir bersamanya. Pembaca pun menjadi mudah pula untuk menangkap apa yang disampaikan dan bahkan sangat menikmatinya.

Tapi, sayangnya, disamping itu pula puisi menjadi terdesak jauh ke belakang, menjadi barang usang tanpa perhatian sama sekali. Banyak puisi-puisi lama menjadi karam dan berkarat karena pembahasan dan penelitian sudah jarang sekali diperbincangkan. Pantun-pantun yang mengandung nasihat, syair-sayir lama nan religius, gurindam dan bidal yang hanya tinggal nama. Kita sebagai bangsa Indonesia seharunya merasa prihatin sekali atas nasib perpuisian Indonesia. Karena akar budaya bangsa Indonesia berasal dari sana. Bahkan, mungkin banyak generasi muda kita sekarang sudah tidak mengetahui lagi keberadaannya, mereka sudah sibuk dengan karya-karya yang datang dari luar, sedang ke-Indonesia-annya sendiri terlupakan. Kalau sudah demikian, generasi muda kita sekarang dan yang akan datang bisa kehilangan jati diri ditengah bangsanya sendiri, yang juga berakibat bahasa Indonesia akan semakin terpuruk di negerinya sendiri. Oleh sebab itu, akar budaya bangsa jangan sampai ditinggalkan, karena kalau ditinggalkan bahasa Indonesia akan terhapus, demikian pula bangsanya sendiri akan lenyap, terseret arus globalisasi. Jadi, jangan berharap banyak kalau kesusastraan Indonesia akan berdiri tegak di bumi persada sementara generasi mudanya tidak pernah mengenal apapun tentang kesusastraan Indonesia. Walau mungkin bersifat paradoksal, tapi itu adalah sebuah ironi dan kita tidak dapat menyangkalnya.

Seperti yang pernah diungkapkan Prof. James Danandjaya, guru besar antropologi dan foklor fakultas ilmu sosial dan politik (FISIP) Universitas Indonesia, “… Semakin banyaknya anak Indonesia mengidolakan tokoh-tokoh cerita asing, setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa pemahaman anak terhadap budaya lokal semakin menciut. Memang tidak bijaksana bila arus informasi yang datang dari luar negeri dikekang begitu saja, tetapi seorang anak harus dibekali ke-Indonesia-an yang kuat, karena arus informasi dan percepatan lintas budaya antar bangsa yang terjadi sekarang ini bisa menimbulkan dampak negatif meskipun ada juga pengaruh baiknya…” (Suaka Metro). Dari sini kita bisa melihat betapa masih sedikit penulis-penulis yang dapat mewakili kepribadian bangsa Indonesia yang juga bisa sebagai faktor pembendung karya dari luar, ditambah lagi dengan serbuan budaya asing yang bercampurbaur dengan lemahnya budaya Indonesia saat ini. Keadaan semacam ini dapat merugikan sekaligus membahayakan dan sangat mengancam budaya Indonesia. Apalagi di tengah kemelut yang berkepanjangan, membuat semakin lunturnya semangat untuk tumbuh kembangnya bangsa yang berbudaya.

Memang, kita tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri kenapa hal semacam ini dapat terjadi. Perkembangan sastra (puisi) yang sudah sangat memprihatinkan membuat generasi muda semakin bertambah asing lagi dengan kesusastraan Indonesia. Apalagi keadaan sudah bertambah rumit. Satu-satunya jalan adalah berbuat lebih baik lagi dengan segala kemampuan yang ada, jangan sampai para sastrawan ikut-ikutan tidak peduli, yang nantinya akan semakin berkaratlah kesusastraan Indonesia. Saya merasa itu tidaklah berlebihan, mengingat keadaan sekarang ini, yang seharusnya menjadi pemicu untuk lebih giat lagi berkreasi demi untuk menghidupkan kembali kejayaan perpuisian Indonesia di masa lalu.

Saya mensinyalir kenapa kesusastraan Indonesia, khususnya puisi, menjadi terpuruk sedemikian rupa, setidak-tidaknya ada tiga hal yang ingin saya kemukakan. Karena, yang pertama: saya melihat di sekolah-sekolah, pengajaran kepada anak didik diajarkan dengan cara metode pemahaman yang kaku. Jadi, pemikiran seorang anak –dalam jenjang pendidikan apapun- tidak ‘lepas’ pencarian makna yang tersaji dalam sebuah puisi. Ini relevan dengan apa yang pernah diungkapkan Asrul Sani, bahwa pemahaman itu tidak melulu harus didasarkan pada metode. Biar cabaran pikiran menjangkau sesuai kewajaran yang ada di dalam kehidupan. Saya tidak percaya kepada pemahaman yang yang dilandasi kebakuan metode. Dengan metode, rasanya kok jadi banyak bagian-bagian yang hilang untuk pemahaman linear, ungkapnya. Kemungkinan mereka hanya sebatas kepada sekedar pemahaman saja, tidak lebih dari itu. Ini sama saja dengan seseorang yang menaiki perahu tetapi tidak pernah mengetahui keindahan dan kekayaan yang ada di dasarnya daripada apa yang hanya dilihatnya dari atas perahu.

Kedua: sendi-sendi kelembagaan yang ada di masyarakat tidak berjalan dengan baik. Lembaga-lembaga masyarakat –yang bergerak dalam bidang kepemudan, entah itu gelanggang remaja, sangar-sanggar kesenian, karang taruna, atau hanya sekumpulan orang- yang seharusnya memberdayakan mereka tidak berjalan dengan semestinya. Aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesusastraan, seperti lomba baca puisi, atau semacam bedah buku yang isinya menyangkut tentang perpuisian dan diskusi tentang kesusastraan. Semua itu jarang dilakukan, atau tidak pernah sama sekali. Walaupun dengan alasan kendala biaya atau semacamnya, toh, itu bukanlah sebuah pengecualian, karena masih dapat diupayakan dengan cara lain. Dengan berswadaya dan gotong royong misalnya. Biarpun dalam lingkup yang kecil, tapi ini adalah suku cadang untuk tetap bisa ber-eksistensi-nya perpuisian Indonesia dan kesusastraannya di tengah masyarakat dan bangsanya sendiri.

Ketiga: lesunya penciptaan hasil karya puisi dan sastra membuat dukungan dan sambutan generasi muda dan masyarakat menjadi rendah pula terhadap perpuisian Indonesia. Sejalan dengan itu akan semakin surutlah penghargaan mereka terhadap karya-karya sastra dan sastrawan yang berdiri di belakangnya. Semua orang mungkin tahu tentang ungkapan bahwa sebuah negara yang tidak mempunyai penyair dianggap kurang bermutu, lebih tidak bermutu lagi jika tidak menghargai para penyairnya. Lantas, bagaimana halnya dengan kita bangsa Indonesia yang katanya berbudaya?

Saya menyadari, memang tidak semua orang yang habis membaca sebuah cipta sastra lantas menjadi seorang penyair atau sastrawan. Jawabannya, tidak! Tapi bukan berarti mengesampingkan kalau semua manusia di dalam dirinya selalu mencintai keindahan, karena pada dasarnya manusia itu sendiri adalah obyek sekaligus subyek dari keindahan. Walau hadir dalam bentuk apapun, manusia akan meresponnya, baik pujian maupun kritikan. Manusia adalah tujuan dari keindahan. Begetu pula dengan kesusastraan, pikiran akan menjadi terbuka, dalam artian mereka dapat membebaskan pikiran merekan sendiri dan menemukan arti dari makna-makna yang ada di dalamnya dan berlanjut ke dalam perilaku mereka sebagai penanaman sebuah prinsip. Dengan begitu nilai-nilai yang dihadirkan menjadi hidup karena menyatu dengan hati dan jiwa pembacanya dan tidak berhenti kepada pemahaman yang berpendapat bahwa suatu karya sastra harus dianggap baik tanpa mendapat kritik yang tajam. Kalau demikian yagn terjadi, maka suatu karya sastra tidak berperan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu sebuah karya sastra harus diselidiki. Sebuah karya sastra bukan hanya di dapat melalui ‘ilham’ saja, tetapi juga hasil dari pemikiran dan kesadaran pengarangnya. Jadi, saya menekankan penilaian itu jangan selalu mengedepankan estetika semata tanpa memberikan sumbangsih apapun kepada masyarakat. Tapi, apakah suatu cipta sastra itu berdampak baik atau buruk di tengah masyatakat yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya karya itu dapat melekat pada perilaku pembacanya.

Di sini esensi sastra sebagai benteng moral sangat diperlukan. Itu memang harus. Karena kesusastraan yang sejati adalah bahwa isi kesusastraan itu bermanfaat bagi masyarakat luas dan bersifat sebagai pembendung dan penyaring (filter) kebudayaan asing yang masuk ke tengah-tengah masyarakat, di mana rata-rata penduduknya adalah hetero-kultural dan hetero-sosio yang pada akhirnya sastra sebagai salah satu perangkat untuk menghaluskan akhlak dan budi pekerti masyarakat. Jadi, tidak hanya mengedepankan aliran seni untuk seni seperti yang terjadi pada bangsa barat di masa lalu yang berkesan borjuisme yang serba sekular, dan bukan hanya sekedar berdaya cipta menumbuhkembangkan aliran seni untuk rakyat yang menyelewengkan istilah ‘rakyat’. Semua itu akanmelahirkan konflik sosia;, kesenjangan kaya dan miskin, perkosaan dan perhambaan, membunuh kelas yang satu demi memenangkan kelas yang lain, manipulasi antar tiap golongan yang nanti pada akhirnya akan menimbulkan kekacauan secara besar-besaran. Kalau sudah demikian sastra tidak lagi berfungsi sebagai penghalus budi, ia telah berubah fungsi menjadi alat propaganda yang murah.

Sekarang yang harus benar-benar diperhatikan adalah bagaimana membangun kembali citra masyarakat terhadap karya cipta sastra Indonesia pada saat ini dan juga untuk masa-masa berikutnya lewat karya-karya yang dihasilkan supaya membangun paradigma masyarakat kepada hasil karya sastra. Di sinilah peran kita semua dan para sastrawan sangat dibutuhkan, mengingat sastrawan maupun penyair sangat sensitif dengan gejala sosial-budaya yang bergerak dan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan meng-aktualisasi-kan pikiran-pikiran mereka lewat karyanya. Karena, seorang penyair yang besar adalah penyair sekaligus seorang filsuf.

*****

Di abad yang serba canggih ini teknologi menjadi amat begitu penting sebagai sarana penunjang kehidupan manusia di dunia ini dan tumbuh dengan sangat pesat sekali karena di dalamnya menyediakan informasi-informasi yang super-komplit. Siapa yang memiliki teknologi paling canggih dia memegang bendera peradaban dan siapa yang paling banyak menyerap informasi dengan benar dialah yang mewarnai peradaban dalam dunia ini. Karena sifatnya yang mengglobal. Jadi, kesusastraan mau tidak mau akan tetap membutuhkan sarana ini. Dengan begitu ia –kesusastraan- akan dapat berperan dalam persaingan yang universal, di smaping media lainnya sebagai pengembangan kesusastraan Indonesia untjk mengenalkan kesusastraan kita kepada dunia internasional. Tapi, bikan berarti buku atau media cetak tidak dibutuhkan lagi. Sebab, di dalam perangkat komputer yang penuh dengan informasi, semua terjadi begitu cepat bila dibandingkan dengan buku. Karena, berita-berita yang disajikan setiap hari bertambah dan akan terus bertambah, yang memungkinkan informasi yang terserap akan menjadi terbengkalai karena kurang pengkajian yang mendalam, sementara itu di depan mata sudah ada karya-karya atau informasi-informasi yang lain lagi. Beda halnya dengan buku, karena semuanya berlangsung tetap dan stabil. Jadi, dalam pengkajiannya pun tetap dan stabil pula. Karena itulah buku dan media cetak lainnya tetap dibutuhkan, selain tentunya dengan mempergunakan media komputerisasi.

Sastra masuk komputer (baca: internet) memang bukanlah hal baru bagi kita semua, ini terlihat begitu banyaknya situs-situs sastra yang marak di internet. Dan, karya-karya yang dihadirkan pun patut diperhitungkan oleh kita semua. Menurut Iwan Soekri Munaf, salah seorang editor Graffiti Gratitude (GraGra), kepada Sinar Pagi, ia mengatakan bahwa internet lebih mempercepat kematangan dan kemunculan penyair wajah baru, yang karyanya boleh bersaing dengan penyair koran yang lebih senior. Di dalam media konvensional seperti media massa dan penerbitan, boleh jadi nama-nama penyair yang potensial akan terhambat muncul karena berbagai kendala teknis dan non teknis. Misal, harus bertarung terlebih dahulu dengan selera redaktur budaya dan keterbatasan ruang yang ada. Namun, saya berharap, dengan bantuan media internet, secara lambat laun keterpurukan kesusastraan Indoneisa sedikit demi sedikit akan mampu berdiri dan dapat bersaing dengan kesusastraan bangsa lain, diikuti pula oleh bangkitnya kembali minat dan perhatian generasi muda bahwa betapa pentingnya suatu kesusastraan bagi sebuah bangsa sebagai hasil dari pemikiran dan kebudayaan.

*****

ketika kita dihadapkan kepada sebuah kehidupan yang serba mekanis, waktu yang serba cepat dan serba instant, kita semua merasa gersang dan gelisah. Kita mulai sadar untuk mencari sebuah ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan yang mulai menjemukan. Di sinilah sesungguhnya suatu kesusastraan dibutuhkan dan dirindukan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang kadangkala sering dialpakan dan dibiarkan bertumpuk dan berdebu. Kita tertidur dengan mimpi-mimpi dan ilusi tanpa pernah tersadar untuk bangun dan berbuat sesuatu.

Puisi mengajarkan kita tentang keindahan dan kelembutan lewat kata-katanya yang bijak, meski terkadang ia juga bisa sekeras batu dan menghantam. Membawa kita kepada pengalaman bathin dan pengembaraan pikiran, membuka salah satu jendela kehidupan yang sarat dengan makna-makna dan mencari setitik cahaya dalam kegelapan. Puisi dan filsafat seperti kuku dengan daging yang tak dapat dipisahkan, di dalam dirinya selalu ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada diri setiap manusia yang sering tidak terungkapkan lewat kata-katanya yang sedikit.

Puisi sebagai hasil kebudayaan dari pemikiran manusia menawarkan kita untuk menciptakan kerukunan, kedamaian, saling hormat menghormati dalam nuansa yang berbeda-beda dari kehidupan manusia untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang telah menjadi kesepakatan dalam masyarakat. Di sana kita akan menemukan jati diri dari sebuah puisi, menyerasikan kehidupan dengan dunianya yang beraneka ragam.

Apabila seorang penyair menangis, menjatuhkan air mata, maka tanpa ragu lagi bangsa yang didiaminya itu sedang sakit. Karena seorang penyair adalah sebagai mata dalam tubuh manusia, ujar Muhammad Iqbal, yang kalau diartikan kurang lebih adalah juga sebagai mata dalam sebuah bangsa dan negara. Oleh sebab itu, mari kita semua bersama-sama membangun lagi kejayaan perpuisian Indonesia, mari kita bersatu dalam keragaman, karena keragaman adalah tempat yang cocok untuk berkesenian, dan dengan berkesenian kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.***(dari berbagai sumber, 2001)

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

TENTANG KITA

Ditulis oleh permanas di/pada 9 September 2008

Engkau dan aku, kita merasa ada sesuatu yang hilang di sini, antara kekosongan dan kehampaan. Aku berjalan melewati liku-liku kehidupan serta kerlip lampu yang mulai padam. Samar kulihat engkau tengah pandangi matahati yang di setiap sudutnya terpancar lelehan darah menghitam. Jangan tatap aku seperti itu.

Dulu kita lalui taman yang di sekelilingnya bertebaran bunga bermacam warna dan kupu-kupu bermain kian kemari menyapa pagi dengan riang gembira, tawa lepas tak lagi ada dilekukkan bibirmu yang menawan. Engkau hanya mendiami kesunyianmu sendiri.

Kalau saja hujan hari ini tak jadi menurunkan butiran airnya, ingin kembali aku mengajakmu menghidupkan kenangan masa lalu, membuka lembaran lama dan mengingatnya lagi. Di tanganku ini tergenggam sepucuk surat, semalam aku menuliskannya untukmu. Bila kau ingin mengintip sisa hidupku, semua tersimpan dengan rapih di sampul berwarna biru tua ini.

Ingatkah kau? Waktu itu sedang duduk bersenda gurau di atas sebuah rakit bambu beratap jerami, sejenak engkau tersenyum menampakkan barisan gigi putih berseri. Lalu semilir angin menabrak rambut hitam milikmu dan tergerai, engkau membiarkannya terurai. Aku tatap sejurus lamanya dalam keterpakuan yang diselingi riak air sungai. Engkau mengatakan, bila waktu membolehkan kita berlama-lama di sini, adakah kelak ia, waktu, mengijinkan kita untuk selalu bersama dalam suka atau duka, senang atau susah. Mungkinkan itu terjadi?

Semenjak itu terbersit sebuah harapan dalam diriku kalau kau menghendaki kita untuk selalu bersatu meski lautan memberi jarak yang teramat jauh di antara kita. Engkau bertanya dan mengungkapkankan segenap perasaanmu kepadaku. Aku tidak pernah menjawabnya. Hanya saja, aku akan berusaha agar itu menjadi kenyataan.

Rakit merapat, hari yang lelah ini menggeliat maju mengikuti guratan cahaya yang mulai surut di kaki langit. Masa lalu memang tidak ada yang seindah masa depan, namun demikian ingatan tentang kita tak sedikitpun ingin kubuang. Karena engkau, aku bertahan hidup dengan sebuah alasan.

Alangkah malam memberi kedamaiannya lewat cara yang misteri, sehingga apapun yang bersembunyi di baliknya selalu sunyi dari kata-kata. Engkau juga diam dan membisu di sana, terkulai layuh dengan tatapan yang amat kosong. Bilakah kau berseri kembali seperti saat kita menyatakan janji kita masing-masing, tak ada lagi kesedihan ketika menyelami raut wajah yang tertutup sehelai kain.

Kita pernah minum dari gelas yang sama dan dibesarkan dalam kehidupan yang sama. Kenapa tak sedikitpun keceriaan kau berikan, bahkan kesedihanpun tak juga kau berikan. Kau membiarkan dirimu tenggelam dalam kesendirian yang membuat kau tak kukenali lagi. Kau telah berubah menjadi orang asing.

Langkah yang kulalui menjadi terhentak berhenti, waktu tiba-tiba kau tak kulihat lagi diujung sana, di bawah rindang pohon mahoni, tempat kau biasa menyendiri. Tidak seperti biasanya orang berkerumun di tempat yang sunyi itu. Yang kutahu kau tak ada lagi di sana.

*** ***

Kau telah pergi kini dan meninggalkan kisah yang teramat sayang dilupakan. Cuma kerinduan kau titipkan di sini, selebihnya kau arungi hidupmu sendiri. Mawar yang telah mengering di dekat pusaramu telah diganti dengan yang lebih segar. Lumut hijau yang menempel tak lagi menutupi namamu.

Kau tak dapat mendengar suaraku lagi, tapi andai kau masih mendengar, kau akan tahu kalau aku masih menyayangimu. Betapa dingin semakin menyelimuti udara di sekitar sini, entah kenapa aku masih duduk memandangi batu yang mengukir panjang namamu. Mulai samar oleh kabut. Bulan di sini tampak tenang menunggui kita berbincang dan jangkrik membuatnya menjadi tidak terlalu hening.

Sekali lagi terbayang dibenakku ketika kita bersama menelusuri jalan di pinggir kota saat sore menjelang, matahari menyemburat lembayung dan burung-burung merpati beterbangan di antaranya. Kau begitu terkagum-kagum melihat mereka terbang dengan bebas di angkasa dan ingin seperti layaknya mereka kelak kemudian hari.

Lama sekali kau memandangi mereka, sampai tak terasa matahari sudah tak tampak lagi di ujung senja. Hari terlalu cepat berganti dan kita dibiarkan renta menginsyafi diri masing-masing. Sabar kau menuntunku untuk tetap dapat berdiri dan melangkahkan kaki yang terpasung.

Sekarang, kau tak melihatku kembali berjalan menapaki rerumputan basah berselimut embun, kau pergi mendahului janjimu dan kata-kata indah yang belum sempat untuk dijawab. Sungguhkah? Kelak bila fajar pagi menampakkan wajahnya, kau mengatakan kalau cahaya hangat menerpa wajahku, di situ akan ada jawabannya dari janji yang telah kau katakan. Maka akan kutunggu pagi ini bersamamu, karena sebentar lagi fajar mulai merekahkan sinarnya.

Semalaman aku berbincang dan bicara sendiri dengan kau yang tetap membisu, tak sabar aku menunggu pagi untuk menghangatkan tubuh yang mulai membeku. Ah, ayam jantan dan kicauan burung liar sudah terdengar kini dikejauhan dan aku mengerti sekarang kenapa kau menyuruhku mencari jawab atas kata-katamu karena pagi ini mengabarkan kalau di dalamnya tersimpan sebuah harapan untukku.

Di kaki langit, awan sudah berwarna kuning keemasan. Sekiranya aku tak ada di sini tak cahaya matahari menerpa wajahku dan tak jua kutemukan jawaban dari pertanyaan yang kau tinggalkan, adakah ia, waktu, mengijinkan kita untuk selalu bersama. Mungkinkah itu terjadi? Kita memang tak dapat bertemu kembali dan bersama seperti dulu, tapi mungkin, suatu saat kita dapat bersatu lagi. Biar Tuhan yang membawaku kepadamu.

Kali ini aku yang akan pergi meninggalkanmu di tempat sunyi ini sendirian, karena sisa hidupku belum selesai. Di sini kutinggalkan surat yang belum kau buka dan akan tetap dibiarkan tertutup. Suatu waktu akan kuganti bunga yang kering dengan bunga yang lebih segar, bila putaran waktu membawaku kemari lagi.

Kau arungi kesunyianmu sendiri, aku pun menjalani hidupku sendiri. Aku akan tetap selalu mengingatmu, biar dapat mengenangkan kembali. Di depan jalan sudah membentang panjang. Sekarang aku akan pergi. Selamat tinggal kekasih.***agustus 2001.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »