Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Oktober, 2008

natalia’s virtuality

Ditulis oleh permanas di/pada 27 Oktober 2008

in this world

i find you

with my self.

(i mean, virtual world)

hah! funny, isn’t

but,

in other times

it is so real, so funtastic!

even i can’t touch

can’t close

can’t smell your parfume

i imagine

how about you’re in reality

in this arm

in this hug

of course i know

it’s to imposible

but if it is not

just only you can answer

i just castaway

in natalia’s virtuality

kampungmelayu/271008/i write this poem cause i promise to dci i’ll sent it for her

(koreksi kalau bahasa inggrisku salah ya, sebenarnya aku lebih suka nulis dalam bahasa indonesia saja)

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Rumah ini kubangun untukmu

Ditulis oleh permanas di/pada 22 Oktober 2008

Baik, baik, aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan menantang matahari untukmu, aku akan melawan kebisingan, membungkusnya dan akan kuhadiahkan untukmu kelak, hadiah yang kubungkus dari dunia yang terbengkalai. Tidak, bukan untuk menghinamu, tapi untuk memberitahu, masih ada yang harus diperhatikan selain nyamuk-nyamuk pada telingamu ketika lelap.

Sekarang aku jauh dari tempatmu berada, aku temukan tempat baru melebihi bukit-bukit di belakang pekarangan rumahmu. Tempat sederhana tapi kekayaannya bukan hanya sekedar bukit yang kau simpan dalam ingatan dan pada punggung rumahmu. Tempatku tidak indah, keindahannya akan terpancar kalau kau menghargai betapa tempat ini akan memberi kehangatan yang tidak dibuat-buat, bukan seperti perapian di ruang tengah dimana biasa kau bermanja-manja dengan kaki terselubung kaus kaki sambil membaca berita tentang orang-orang saling mengejar dan memukul. Miris aku melihatnya.

Sebentar lagi akan ada rumah berdiri di sini, aku bicara dengan pohon-pohon dan mata angin kemana sebaiknya rumahku dihadapkan, ke arah matahari terbitkah, atau ke arah matahari tenggelamkah, atau menyimpang dari keduanya. Aku ingin rumahku tidak memiliki atap, karena aku ingin tidur sambil memandang langit ketika malam. Membincangkan bintang yang saling memamerkan lentik cahaya mereka masing-masing dan bulan selalu saja menjadi penengah di antara mereka. Yah, aku bangun rumah itu dengan membuat bata dari rasa perih ketika harus meninggalkan rumahmu, dan jejak dibelakangnya aku kumpulkan untuk menjadi tiang penyangga. Rindu akan menjadi pintu-pintu di setiap kamar, karena begitu melintasinya, aku seakan berada di rumah kita. Maksudku, rumahmu sekarang.

Aku pergi karena tidak ingin ada kemarahan-kemarahan menjelma di antara kita dan di antara orang-orang yang kita kasihi. Aku tidak kalah, hanya mengalah. Bukan menghindari konflik, tapi bukankah melenyapkan pertempuran memakan sedikit korban daripada mengibarkan bendera perang dan bertempur untuk mempertahankan kebebasan masing-masing. Itu akan membuat banyak orang dan hati terluka. Tapi kita bukan korban. Aku bukan korban.

Maka, seperti para pelukis, aku akan menuangkan kata-kata sebagai cat di atas palet, dan kertas polos itu serupa kanvas, aku akan terbiasa melukis wajah dan senyummu melalui kata-kata. Di rumah yang kubangun, ada ruang khusus di mana semua kata-kata menjadi lukisan dirimu, bayangan yang akan terus ada, bila aku tidak ada, semoga ada orang lain menjaganya. Ruangan itu bercat warna merah dan berlantai kayu. Aku membuatnya sehangat mungkin. Meski hanya lukisan, aku tidak ingin citra itu kedinginan ketika aku tinggalkan sendiri.

Sebenarnya aku tidak ingin apa-apa lagi, tapi seandainya diijinkan, aku ingin kau sekali lagi menjadi tamuku dan makan malam di beranda belakang rumah ini, tempatku. Maka kau akan lihat kelopak-kelopak bunga yang kurawat akan menyambutmu dengan keindahan mereka. Setidaknya mereka  menyambutmu, meski kau sudah berusia enam puluh tahun ketika datang ke rumah ini dan menjadi tamuku. Akan kupastikan mereka tetap menyambutmu. Tapi aku tidak berharap banyak.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bagaimana rasanya jika aku mengajak seorang perempuan berdansa?

Ditulis oleh permanas di/pada 21 Oktober 2008

Aku ingin tahu bagaimana rasanya mengajak seorang perempuan yang tengah duduk seorang diri dan mengenakan gaun malam miliknya yang paling indah untuk dikenakan malam itu, malam di mana musim semi bernaung di bawahnya dengan angin sedikit mendesir, untuk berdansa Waltz. Atau hanya sekedar tarian biasa saja dengan iringan musik klasik dan nada yang sendu. Sebuah perasaan Platonis! Yaa, mungkin aku terinspirasi dengan sebuah film yang baru saja aku ingat, sebenarnya sudah lama sekali, kau tahu Al Pacino, bukan? The Scent of Women, aku lupa, kira-kira begitulah judulnya. Ia memerankan tokoh buta yang frustasi dan ingin menghabisi segera hidupnya, aku tidak tahu, apakah ia sudah tidak punya alasan lagi untuk meneruskan hidupnya atau tidak, aku lupa jalan ceritanya. Sayang sekali. Tapi yang tidak pernah aku lupa ketika ia mengajak dansa seorang perempuan di sebuah restoran apik. Kau tahu, aku membayangkan bagaimana seandainya aku menjadi Al Pacino di sana dan mengajak perempuan itu berdansa? Hah! Tokoh yang buta tapi bisa segera mengetahui parfum apa yang digunakan perempuan itu hanya dengan melalui udara, dan dengan tepat mendeskripsikan sifatnya hanya dengan melalui merk parfum yang digunakan perempuan itu. Bravo! Bravo!

Dan gaun itu pun melayang-layang diayun oleh dekapan yang kuat milik Al Pacino, aku lupa apa perempuan itu tahu kalau tokoh kita itu buta atau tidak ya. Ia hanya diberitahu oleh pemuda yang mengantarnya berjalan-jalan seberapa luas ruang dansa yang akan digunakannya nanti ketika berdansa dengan perempuan yang menebarkan aroma khas dan unik, buktinya cukup kuat untuk menarik Al Pacino mengajaknya berdansa. Sekejap saja senyum rekah mengembang dari bibir perempuan dalam dekapan Al Pacino, begitu juga sebaliknya, ia lupa kalau ia buta. Aku jadi bertanya kembali dengan diriku, bagaimana rasanya kalau aku yang mengajaknya berdansa? Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh selain tersandung atau menginjak kaki perempuan yang aku ajak dansa itu, hahaha, sementara pikiran itu kusingkirkan dan membiarkan anganku mengingat kembali keindahan ketika Al Pacino mengajak perempuan di restoran itu berdansa. Atau aku akan menggubah puisi untuk mengingat betapa indah ketika laki-laki dan perempuan melakukan sebuah tarian, atau sebuah ritual sakral, yang suci, yang tak terbantahkan, yang hakiki. Dan, betapa baiknya Tuhan menciptakan perempuan dari bagian diri seorang laki-laki, karena ia dibuat Tuhan untuk melengkapi kehidupan seorang laki-laki. Ah, betapa beruntungnya mereka.

Yah, mungkin suatu hari nanti, kelak. Saat aku tengah berjalan-jalan dan menemukan seorang perempuan yang mengenakan gaun terindahnya sedang duduk menunggu, mudah-mudahan sih ia tidak sedang menunggu kekasihnya, hahaha, maka aku ingin mendekat kepadanya dan segera aroma parfum menyeruak dari tubuhnya dan tanpa ragu aku semakin mendekat kepadanya dan lalu…, ia mendongak untuk melihat lebih jelas siapa yang menghampirinya, atau mengganggu ketenangannya, atau ia malah senang karena seseorang mungkin akan menemaninya malam ini, atau ia telah menemukan ’belahan jiwanya’ (hahaha… PD amat!) –yah, aku kan sedang bercerita, sah-sah saja dong- dan aku bilang dengan suara yang paling lembut yang pernah aku miliki dan… dan… dan…

”Would you like to dance with me? In the shining of the moonlight, would you?” kubilang. Aku pakai bahasa inggris bukan untuk menghianati bahasa ibuku, tapi karena hayalanku sekarang tengah berada di Venice, hehehe…. tapi, ia tetap menatapku, tidak tersenyum, atau merasa terganggu, atau tersinggung barangkali. Tapi ia tetap dingin sedingin kabut yang menghembus di antara kami waktu itu.

”Would you?” aku bilang sekali lagi. Hah, susah memang kalau kita menanggapi sesuatu yang tidak sesuai harapan. Ia malah bangun, sedikit meminum anggur merah terbaik yang pernah ada di dunia, sedikit lagi mereguk dengan perlahan, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, lalu tepat di atas kepalaku, anggur merah itu terjun bebas dari bibir gelas dan menerjang ubun-ubun kepalaku. Wah! kasetnya kusut neh, aku pikir dalam hati, atau penulis skenarionya lagi mabuk, atau sutradaranya benar-benar sudah sinting barangkali! Dan tiba-tiba saja!

”Permanas, banguuuuuun! Sudah siang! Cepat isi tempayan! Mak mau masak!” yah, suara cempreng milik ibuku lagi dan segera menandakan kalau liburanku di Venice telah berakhir, hehehe, back to nature, I guess. Hah, gak boleh orang ngimpi seneng aja nih nyak-nyak, bukannya ngasih kesempatan yang muda-muda merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja yang sedang puber, hehehe….

”Klontraaangg….grasakk…gabrukkk…!” aku rasa nyak marah-marah lagi nih, tempayannya belum juga penuh. Ya, sudahlah, sampai nanti lagi. Besok, itu tempayan akan aku ganti dengan kolam sepanjang sepuluh meter di dapur, biar puas minum air, hehehe… adios!

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Waktu aku bimbang

Ditulis oleh permanas di/pada 20 Oktober 2008

Pada waktu aku bimbang, sebenarnya aku mundur satu langkah untuk melihat apa sebenarnya yang telah membuatku menjadi seperti itu. Siapa sih yang tidak punya masalah dalam hidupnya? Tidak ada orang yang tidak punya masalah, itu adalah jawaban yang aku temukan. Memangnya siapa sih yang tidak memiliki permasalahan. Malah aku rasa, suatu masalah membuat seseorang menjadi mengetahui seberapa bagus kualitas kehidupannya, tentu dilihat seberapa cakap ia bisa menyelesaikannya, bukan.

Dan ketika rasa bimbang itu tidak kunjung padam, aku kira, aku salah dengan cara penyelesaian yang aku pilih. Ya, satu-satunya jalan adalah mencari jalan lain, hehehe, gampang kan?

Rasa bimbang sebenarnya adalah suatu indikasi ketika kita tengah berada dalam dua jalan, dua pilihan, dan sayangnya, kita tidak bisa memilih kedua jalan tersebut. Ibaratnya, makan buah simalakama. Daripada tidak dimakan, lapar, tidak tahu rasanya, aku sih pilih, makan saja sekalian buah itu. Ya, sayangkan, sudah nemu buah, tapi tidak dimakan. Hahaha, hanya berkelakar saja. Aku sering bilang, kan, hidup itu terlalu berharga kalau hanya diisi dengan kemuraman saja, apalagi kebuntuan hidup. Kadang aku juga merasakannya sih, menemukan jalan buntu dalam hidup memang sangat menyebalkan. Hei, kabar baiknya, akan selalu ada jalan yang bisa membuat kita keluar dari jalan buntu tersebut. Tapi jangan gelap mata dengan berbuat kejahatan, ya. (meski bagi sebagian orang itu adalah jalan keluar –atau jalan pintas). Orang bijak bilang, kalau kau jadi alat tempa, bersabarlah. Kalau kau jadi palu, hantamlah. Kalau satu-satunya alat yang kau punyai hanya martil, maka semua masalah akan tampak seperti paku. Ya, hajar saja! Bukan dengan memukul orang yang membuat kita bermasalah ya, salah itu. Maksudnya ’hajar’ di sini adalah menyelesaikan segala masalah dan kebimbangan dengan cara-cara yang bermartabat dan beradab Hahaha…. ya, tidak berlu grasak-grusuk, lho. Ketenangan dalam bertindak adalah kunci utamanya. Bimbang adalah situasi di mana kita diharuskan memilih atau tidak memilih sama sekali. Padahal kalau dipikir-pikir tidak memilih saja berarti sudah memilih. Ya, memilih untuk tidak memilih. Segampang itu.

Suatu ketika, seseorang bertanya padaku, pilih mana logika atau kata hati? Lantas aku jawab begini, bahwa kedua-duanya sama penting, yang satu melengkapi yang lain. Tapi kalau aku lebih condong untuk memilih kata hati, kenapa, entah kenapa naluri lebih bisa diandalkan daripada logika, meski logika adalah cara pikir yang patut diperhitungkan. Tapi ya itu tadi, kadang naluri seseorang lebih kuat daripada logika yang dimilikinya. Ambil contoh begini, kita tengah berada di padang pasir yang menurut logika tidak mungkin sama sekali kalau kita menggali semeter di tempat kita berdiri akan keluar air, andaikan saja kita di sebuah bukit pasir yang rasanya semua daratan hanyalah pasir, lainnya tidak. Tapi naluriku kuat mengatakan, dan dengan keyakinan yang sangat, bahwa kalau aku menggali di tempat ini akan keluar air. Mungkin logika akan merana ketika aku menggali dan benar-benar keluar air. Itulah kelebihan dari naluri. Naluri membuat seseorang mampu bertahan hidup dari apapun dan dimanapun ia berada. Logika juga patut diperhitungkan, bukan maksud aku untuk menjatuhkan logika, sama sekali bukan itu maksudku, juga dengan orang yang bertanya kepadaku, aku hanya ingin mengatakan, bagiku, naluri bisa lebih aku andalkan, meski adakalanya meleset! Karena itu, biasanya aku malah menggabungkan keduanya andaikata kalau aku menemukan suatu pilihan yang rumit dan tidak satupun lebih condong, antara logika dan naluri, maka aku menggabungkan keduanya untuk membuat suatu pilihan atau keputusan. Mungkin dengan jalan seperti itu aku bisa menghilangkan kebimbangan-kebimbangan yang kurasakan dalam menjalani kehidupan.

Tapi, orang yang bertanya itu kembali bertanya setelah aku mengemukakan jawabanku. Kenapa orang hidup mesti memilih? Aku tertawa sendiri, meski aku tidak tahu dimana letak kelucuannya, tapi ya itu, aku tertawa sendiri. Yah, bukannya hidup itu adalah masalah pilihan, kau memilih jadi orang baik, maka kau akan menjadi otrang baik, kau memilih jahat, seketika saja kau telah menjadi jaha, kau tidak memilih menjadi apa-apa, maka kau bukan apa-apa. Hidup memberi pilihan, dan kita memilih. Kita akan menjadi ’siapa’ atau si ’apa’ itu tergantung bagaimana kita memilih jalan hidup kita. Kalau aku memilih menjadi orang baik, maka aku akan menjadi orang baik sesuai dengan keinginanku meski ada kemungkinan kalau aku bisa menjadi bisa tidak baik. Begini, kalau kita menanam rumput tidak mungkin kita mengharapkan bisa memanen padi. Kalau kita menanam padi, bisa saja di sela-selanya dapat tumbuh rumput, selain kita bisa memanen padi sebagai hasilnya. Dengan kata lain, meski kita memilih menjadi baik selalu ada kemungkinan sifat-sifat yang tidak baik menyertai perjalanan kita untuk menjadi tidak baik. Hanya, seberapa tahan kita mengekang sikap tidak baik itu dalam kehidupan. Kita tidak bisa membunuh nafsu dalam diri kita, kita hanya bisa mengendalikannya supaya kehidupan kita yang baik ini tidak menjadi rusak karena nafsu yang tidak terkendali.

Dan, dia tidak bertanya kembali soal pilihan hidup. Mungkin saja ia mencoba meneguhkan hatinya dengan pilihan yang akan dibuatnya nanti, yang akan menentukan jalan hidupnya. Kalau ia akan memilih menjadi apa nanti, dalam kehidupannya kelak!

Kalau aku, ya, aku sih memilih meneruskan hidupku sendiri. Hahaha, lha, kalau sudah memilih tapi tidak meneruskan hidup, aku rasa pilihan itu akan sia-sia saja. Yah, bimbang tidak akan membuatku untuk memilih menghentikan hidup! Itu namanya bunuh diri!***

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

jika kau lakukan…

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Oktober 2008

cintaku bukan cinta dalam sastra
cintaku bukan cinta dalam lagu
cintaku terlalu sunyi untuk diungkap
tak bisa dibagi-bagi

cintaku adalah cinta itu sendiri
cintaku tak mengundang juga tak diundang
senyap adalah tempat tersendiri untuk cintaku
tapi, yah, begitulah cintaku terbangun

aku menikmati cintaku sendiri
ia tak bisa kau curi
ia tak bisa kau rampas
ia tak bisa kau bunuh

jika kau lakukan
aku yang akan mengejarmu lebih dahulu.

permanas/230908/pernah aku tulis juga untuk yahoo answer/sekarang buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Dik

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Oktober 2008

Dik,

Kesendirian ini mengingatkanku pada

Rumah yang lama kita tinggalkan.

Dendam yang harus segera dituntaskan,

Aku ingin membunuh kerinduan itu

Tapi tidak bisa.

Dik,

Di belakangku

Sejarah terserak begitu saja.

Photo-photo usang

Yang menggantung di bilik rumah kita

Siapa yang merawatnya sekarang?

Ah, semakin lama

Semakin ingin kutumpas saja

Semua rasa yang mengganggu

Tidurku ini.

Lain hari,

Aku bergelut sampai pingsan.

Luka-luka laki-laki yang kesepian

Dibalut kain yang basah air mata.

Hanya kekosongan menonton.

Selebihnya,

Cuma perahu-perahu tanpa penumpang.

Dan aku menunggu,

Dermaga dengan perahu yang tak kunjung pergi.***kampungmelayu/permanas/141008/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Labirin

Ditulis oleh permanas di/pada 14 Oktober 2008

Jalan itu terlalu berliku, seperti labirin-labirin yang disediakan untukku, salah melangkah maka aku akan menemukan diriku tidak ada di mana-mana dan satu-satunya yang kutahu kalau aku telah tersesat. Aku tidak tahu apakah aku salah langkah, atau sesuatu telah membuatku tidak bisa melihat jalan mana yang harus kutempuh, untuk kulalui. Tapi begitulah aku sekarang, aku tersesat.

Aku tidak menyesal, tidak mengeluh, itu hanya akan membuat kenyataan semakin berat untuk aku lalui. ‘Ayo, langkahkan kakimu kembali, telusuri apa yang telah kau mulai. Laki-laki dinilai dengan apa yang telah ia selesaikan, bukan dari apa yang telah dimulainya. Jika tidak, kau akan menemukan dirimu bukan siapa-siapa kelak.’ Ah, batin itu terus memburuku. Ia membakarku, menyemangatiku, jangan tumbang ditengah jalan. Penderitaan adalah pahat yang akan membentuk seseorang menjadi manusia sejati, manusia yang tidak kalah. Aku tidak ingin dikalahkan kehidupanku sendiri, tidak, itu tidak akan terjadi.

Biarlah mereka tertawa, itu hak mereka, dan aku menghormati mereka. Dengan sendirinya, mereka telah menjadi bahan bakar semangatku untuk terus bergolak, mendidih. Baiklah, ada yang harus aku selesaikan sekarang. Aku tidak ingin dikalahkan labirin-labirin sialan itu. Kembali aku merunut jalan yang telah aku lalui sebelumnya, setidaknya aku telah melihat kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. Jika mengulanginya, maka aku adalah ikan yang bodoh terpancing dua kali dengan umpan yang sama.

Benar saja, aku keluar satu gang dari sebelumnya, gang itu terlalu sempit, ia hampir saja membuat tubuhku sesak ketika melewatinya. Keluar dari sana membuat hatiku gembira. Tapi perjalanan belum selesai. Hah, mana ada pekerjaan yang telah selesai? Ia hanya satu babak dari sekian babak yang belum dimainkan.

“Kau mau pilih jalan yang mana untuk kau lalui?” seseorang mendesakku tiba-tiba. Tentu saja aku terperanjat, rasa-rasanya ia tidak ada dalam mataku sejak tadi. Aku hanya melihat lorong-lorong yang harus kutiti. Aku mencari jalan keluar, tapi ia malah membuatku semakin ragu dengan pilihanku, pertanyaannya menyesatkan.

“Entahlah,” akhirnya aku jawab pertanyaan itu. Aku menyembunyikan perasaanku darinya. Malah terkesan aku melindunginya dari orang tersebut.

“Ragu?” tanyanya lagi.

“Mungkin saja, tapi aku belum memilih.”

“Apa yang harus kau pilih?”

“Jalan itu. Apa kau tidak lihat? Kau sendiri bertanya jalan mana yang harus kupilih.”

“Itulah masalahnya. Karena ragu memilih, aku malah terlantar di sini begitu lama. Aku takut dengan apa yang harus kupilih,” jawab orang itu. Aku tidak tahu apakah nada suaranya terkesan menyesal atau bingung. Malah dia yang sekarang ragu-ragu. Ia tidak berani melangkah karena takut dengan konsekuensi dari pilihannya.

“Sehebat itukah?” tanyaku penasaran.

“Bisa saja seperti itu. Buktinya, aku masih belum berani memilih sampai sekarang, sampai seseorang juga ikut tersesat. Kau. Berdua kita sekarang.”

“Tidak, tidak, aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Bukankah kau akan menyia-nyiakan waktumu hanya terus berpikir dengan jalan mana yang harus kau lalui. Hah, hidup itu bukan hanya sekedar pilihan-pilihan, tapi bagaimana terus menjalankan pilihan itu agar tidak berhenti di tengah jalan. Berapa banyak orang yang berhenti setelah memilih?”

“Terlalu banyak, kawan, terlalu banyak.”

“Dan berapa banyak orang yang terus yakin dengan pilihannya dan menyelesaikan apa yang telah dipilihnya itu?”

“Terlalu sedikit yang bertahan dan sampai menemukan akhirnya, akhir yang menyenangkan karena apapun yang terjadi mereka menyelesaikan pilihan mereka. Kau benar, aku tidak tahu mana yang harus kupilih.”

“Aku tidak bisa menjawabnya.”

“Aku tidak meminta.”

“Aku hanya yakin dengan apa yang kupilih.”

“Apa aku harus ragu?”

“Tidak tahu. Hati orang siapa yang bisa menebak.”

“Tidak ada, tidak kau.”

Sepertinya sudah takdir manusia harus menjalani sendiri dengan pilihannya dan terus berjuang dengan gelombang yang dahsyat. Timbul dan tenggelam, itu adalah hal biasa dalam mengarungi kehidupan. Yang karam, mungkin orang yang tidak terlalu beruntung dengan pilihannya. Tapi aku tetap menghormatinya, ia karam dengan keyakinan yang kuat bahwa ia akan mampu menyelesaikan apa yang sudah dipilihnya. Akhirnya aku memilih jalanku sendiri, mungkin aku akan kesepian, merasa sendiri. Tapi mengayuh perahuku ke tengah lautan dengan ombak dan kedalaman yang sukar ditentukan sudah menjadi tekadku, aku tidak bisa mundur lagi, aku terima konsekuensi dengan keberuntungan, atau mungkin karam. Tapi aku telah memilih, bukan. Dan aku meninggalkan orang yang menegurku tadi dipersimpangan, dari kejauhan ia tetap terlihat kaku dan ragu.

*** ***

Aku rindu tempatku biasa berada, kau tahu, taman di mana selalu aku melakukan kesendirianku. Mengejar kupu-kupu dalam imajiku seperti aku benar-benar melakukannya. Biar nyatanya aku hanya diam menatap ruang kosong. Aku baru saja mengarungi lautan itu dan labirin-labirin itu tidak mampu mengalahkan diriku. Aku teguh (ah, mungkin aku tidak berkata jujur) tidak, tidak, aku tidak seteguh karang, biar aku masih sanggup berdiri tegak, sesuatu telah melukaiku. Dan ternyata, aku masih sanggup berdiri!

“Bagaimana kau masih bisa berdiri sementara kakimu penuh dengan luka-luka. Aku tidak bisa membayangkan keperihan yang kau rasakan.” Sesuatu berbisik, aku tidak tahu siapa yang bicara. Atau mungkin itu bayanganku sendiri, atau sesuatu telah menghentak.

“Aku tidak tahu. Aku hanya paksa saja kakiku untuk tetap bisa menopang tubuh kurusku. Tapi biarlah, kesakitan adalah obat mujarab untuk tetap bertahan. Dan sekarang, mungkin angin itu akan segera kulawan kalau ia telah berubah menjadi badai.”

“Bagaimana kau akan melakukannya. Puing-puing akan menghantammu dengan keras sekali. Bongkahan-bongkahan karang yang terlontar dari tebing-tebing waktu akan mengiris dan mengoyak daging yang melekat pada tulangmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau akan tetap mampu berdiri setelahnya.”

“Aku akan tetap berdiri. Jika aku tumbang, setidaknya, keyakinanku masih berdiri di atas diriku. Tubuhku kalah, tidak dengan keyakinanku, sobat.”

*** ***

Bagaimana harus kukatakan sekarang, kata-kata itu merubah dirinya menjadi tombak dengan rentang yang sangat panjang, mata pisaunya mengecohkan dengan benagn-benang merumbai, ia hampir saja melukaiku, karena benang-benang berwarna merah itu menipu pandangan. Aku tidak tahu harus bilang apa, gemuruh yang bergejolak dalam dada tidak lagi berupa badai, ia telah berubah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan daripada sekedar awan yang mengandung angin dan listrik.

Dan, akhirnya, ketika aku bilang kalau aku masih sanggup berdiri dengan luka-luka yang kusembunyikan. Dalam bilik kesunyianku, aku takut kalau aku telah kalah. Itu akan memukul dan menamparku dengan hebat. Aku bukan manusia kalah, tidak, aku tidak ingin dikalahkan begitu saja tanpa perjuangan. Aku tidak ingin menjadi manusia yang biasa-biasa saja, aku tidak ingin seperti apa adanya. Dan, labirin mungkin telah menyesatkan pikiranku. Aku tidak ingin pasrah, aku ingin melawan, aku ingin dilawan. Bila aku tumbang, aku ingin tumbang dalam keadaan berjuang. Labirin-labirin itu mungkin telah membunuh tubuhku, tidak dengan jiwa dan pikiranku.****permanas.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Masalah yang Seribu Satu Macam

Ditulis oleh permanas di/pada 13 Oktober 2008

Masalah, persoalan sekitar hidup dan kehidupan, membuat kita pusing tujuh keliling, terlebih kalau kita tidak punya jalan keluarnya, kepala rasanya mau copot dibuatnya. Ada yang menanggapinya dengan sangat serius sekali, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada juga yang masa bodoh. Y ang penting hidup mesti terus dilanjutkan. Lha, habis karena masalah sepele saja mesti menghabisi hidup. Sayang, hidup itu kan cuma sekali dan setiap kehidupan mungkin hampir pasti memiliki masalahnya sendiri. Cuma, ya itu, tergantung bagaimana cara kita menanggapi dan menyikapinya saja. Hidup mesti tetap berlanjut, jangan tenggelam dalam masalah, sebaliknya bagaimana memikirkan cara untuk keluar dari masalah yang membuat hidup kita bermasalah.

“Memangnya kamu punya masalah apa, sampai nyerocos tidak karuan seperti itu?” tanya Pakde Har, yang wakil dari pak RW itu, tiba-tiba saja muncul dari belakang saya. Pakde Har langsung memesan kopi pahit kepada Ceu Fatimah, pemilik kedai kopi itu yang selalu menyediakan mie rebus, kacang hijau dan ketan hitam, serta aneka minuman hangat maupun dingin yang selalu siap saji.

“Oh, Pakde Har. Saya kira siapa.”

“Memangnya kamu kira saya ini siapa, sampai kagetnya juga membuat saya terkesima.”

“Memang, dia itu dari dulu sifatnya selalu begitu, suka membesar-besarkan masalah. Sejengkal, baginya bisa menjadi sehasta,” sambung Ceu Fatimah lalu menaruh kopi pesanan Pakde Har di depannya.

“Ndak lho, Pakde, kok tidak biasa-biasanya mampir kemari seperti sebuah sidak (Inspeksi Mendadak) saja,” jawab saya sambil malu-malu kucing karena ketahuan habis menyolong ikan asin di dapur tetangga.

Pakde Har hanya senyum-senyum kecil saja sambil terus menguyup kopinya. Kalau ditanya apa masalah saya, wah, siapa sih yang tidak punya masalah dalam hidupnya. Iya nggak? “Lha, begini lho, Pakde,” cerita saya kepada Pakde Har. “Pakde kan tahu kalau saya ini hanya pegawai kecil, sudah beristri dan memiliki tiga anak yang semuanya sekolah. Sementara harga bahan pokok bagaikan mimpi diawang-awang dan sulit sekali untuk meraihnya.”

“Sekaragn maksud kamu apa?”

“Maksud saya, begini lho, Pakde, aduh, saya jadi malu. Mau bilang bagaimana, ya.”

“Ayo, bilang saja, kenapa mesti malu-malu,” desak Pakde Har kepada saya. Sementara Ceu Fatimah hanya menonton saja bisanya dan lalu membuang wajahnya setelah saya kembali menatapnya. Masalah memang tidak ada habis-habisnya kalau hanya dipikirkan saja, sementara untuk mulai menghilangkannya saja pun juga malah menambah masalah lagi. Ibarat gali lubabg tutupm lubang.

“Maksud saya, ini pun kalau ada lho, Pakde. Maksud saya saya mau pinjam uang kepada Pakde untuk bayar uang sekolah anak-anak yang sudah nunggak dua bulanan ini,” kata saya yang pada saat itu tengah menundukkan kepala dan memasang wajah agak memelas guna menarik simpat Pakde. Pakde har har cuma manggut-manggutkan kepalanya, saya tidak tahu apa Pakde mencoba mengerti atau memang benar-benar tidak mengerti ya, dengan apa yang barusan saya katakan. Saya berdoa dalam hati mudah-mudahan saja Pakde memberikan saya uang pinjaman. Dalam segala hal berusaha, pastikan kalau kita selalu berdoa kepada Tuhan, siapa tahu setiap usaha kita selalu dikabulkan dan diluluskan.

Kenapa Pakde lama benar mikirnya ya, ia belum sama sekali mengeluarkan kata-kata. Pakde lalu menyeruput kopinya lagi, saya ikuti juga menyeruput kopi saya. Begini rasanya ya, menunggu berharap-harap berkata ‘iya’ dan semoga tidak mengatakan ‘tidak’.

“Oh…,” kata Pakde Har kemudian setelah saya menunggu agak lama. “Saya kira ada apa, hanya masalah uang saja, toh. Memangnya kamu butuh berapa?” tanya Pakde har lagi. Syukurlah, ternyata Pakde Har tidak berkata ‘tidak’, mudah-mudahan besok anak-anak saya dapat membayar uang sekolaj yang sudah ditagih melulu oleh guru mereka.

“Ndak banyak kok, Pakde, cuma dua ratus ribu rupiah saja. Itupun kalau Pakde ada, kalau tidak ada, setengahnya juga ndak apa-apa. Yang penting anak saya dapat membayar uang sekolahnya,” jawab saya sedikit pelan.

“Iya, kalau ada maunya saja, pura-pura inilah, itulah, lantas buntu-buntutnya pinjam uang. Hutang kopi kamu saja masih nunggak, eh, masih berani pinjam uang. Sama Pakde lagi. Mestinya, gimana gitu lho caranya…”

“Gimana caranya maksud Eceu?” potong saya yang sedikit mulai kesal lantaran malu meskipun kata-katanya memang benar. Kebenaran yang dikatakan dengan cara yang salah, sungguh sangat menyakitkan siapa pun yang mendengar kebenaran itu. Akhirnya saya hanya diam saja.

“Eeee, kok malah jadi ribut begini,” kata Pakde Har menengahkan saya dan Ceu Fatimah. “Dalam situasi yang memang sedang susah begini, Ceu Fatimah tidak seharusnya berkata seperti itu. Malah kita harus saling tolong menolong. Toh, bukan mustahil suatu saat kita pun butuh pertolongan orang lain. Benar, ndak?”

“Benar, Pakde,” kata saya dan Ceu Fatimah berbarengan.

“Ya sudah. Kebetulan saya sedang ada rejeki, kamu tidak usah pinjam uang kepada saya. Anggap saja ini bantuan saya untuk kamu, agar anak-anakmu itu tetap dapat melanjutkan sekolahnya,” kata Pakde Haer sambil mengeluarkan uang dari saku celananya, beberapa uang ratusan ribu menyembul dari saku celananya.

“Aduh! Terima kasih banyak, Pakde. Saya tidak tahu harus bilang apa kepada Pakde. Saya hanya mampu bilang terima kasih kepada Pakde dan Pakde tidak usah khawatir saya akan menggunakan uang ini dengan sebaik-baiknya. Juga, saya tidak akan melupakan jasa Pakde har yang sangat berarti ini,” kata saya dengan hati meluap-luap.

“Ya sudah, sekarang kamu pulang sana, biar uang itu lekas dibayarkan oleh anak kamu. Biar kopinya saya yang bayar, yang penting kamu lekas pulang,” kata Pakde lagi. Saya pun langsung pulang, tentu saja saya sangat senang sekali, ternyata masih banyak orang baik di dunia ini yang masih disediakan Tuhan, pikir saya sambil berjalan pulang ke rumah kontrakan saya yang berada paling pojok di ujung jalan buntu itu.

Satu masalah terselesaikan dan setumpuk masalah lagi yang juga minta ikut diselesaikan masih menunggu di kepala, seperti bom waktu yang setiap saat dapat meledak, booom!, hancur berkeping-keping. Kalau diibaratkan besi, mungkin badan saya seperti besi itu yang sudah berkarat di mana-mana dan mungkin sudah tidak layak jual karena saking tuanya dan sudah keropos itu.

Di luar banyak masalah, di dalam pun pasti ada masalah, seperti cerita dongeng dengan masalah yang seribu satu macam saja rupanya. Padahal negeri dongeng belum tentu punya banyak masalah seperti yang ada di rumah saya. Masalah dengan anak istri, masalah dengan tetangga, belum lagi masalah dengan pemilik kontrakan yang juga ikut-ikutan menagih uang sewa rumah. Hidup dengan sistem irit dan hemat yang mengambil falsafah ‘kencangkan ikat pinggang’ kemudian lama-lama malah sering mengurut dada. Belum lagi seribu embel-embel permintaan anak-anak yang ingin ini ingin itu. Pemecahan yang sangat memusingkan kepala.

“Begitu saja kok dipikirkan, Pak, Pak, mbok ya mesti sabar. Mungkin saja kita sedang diuji oleh yang maha kuasa. Siapa tahu nanti hidup kita lebih baik, yang pentingkan kita sudah berusaha dengan sepenuh hati. Mbok ya nrimo saja,” kata istri saya yang waktu itu sedang berdiskusi dari hati ke hati di atas kasur bersama saya, emmbahas masalah sekitar kepemimpinan rumah tangga agar tetap bisa berjalan lancar dan stabil.

Istri saya memang benar, tapi kan kalau kita menerima saja keadaan tanpa tindak lanjut yang komprehensif, apa kita menerima saja keadaan itu sementara perut anak istri kelaparan. Siapa sih yang mau ‘nrimo’ hal seperti itu. Akhirnya keputusan akhir tetap berada di tangan saya, demi kelancaran anggaran dasar rumah tangga, saya akan pinjam uang kas milik kantor di tempat saya bekerja.

“Saya tahu dan mengerti keadaan Saudara,” kata atasan saya yang menjabat kepala bagian keuangan itu. “Tapi kan Saudara tahu sendiri kalau perusahaan kita sedang mengalami masalah yang mungkin lebih rumit daripada masalah Saudara sendiri. Sementara uang pinjaman Saudara bulan lalu pun belum Saudara lunasi. Jadi, saya mohon agar Saudara pun dapat memahaminya,” kata pak Sanusi, atasan saya, dengan sedikit persuasif. Saya keluar dari ruangan pak Sanusi bersama langkah kaki yang lemah lunglai, menuruni tangga menuju tempat kerja saya di sebuah ruang besar dan panjang serta berisi robot-robot yang juga besar dan hanya membutuhkan sedikit manusia untuk mengendalikannya. Apa suatu saat robot-robot itu akan menggantikan pekerjaan manusia ya, pikir saya sambil menatap kosong ruangan itu karena terdesak kembali oleh pikiran-pikiran yang membuat masalah pusing tujuh keliling.

“Kalau begitu, jual saja motor Vespa Bapak untuk usaha yang lain, seperti berjualan, begitu, Pak. Siapa tahu milik kita adanya dalam usaha kita berdagang, daripada setiap hari selalu menyediakan uang untuk membeli bensin,” kata istri saya, ketika pulang tidak membawa hasil.

“Di jual, motor bapak mau Ibu jual! Ibu kan tahu kalau motor itu satu-satunya harta warisan. Masak mau dijual begitu saja.”

“Daripada kita tidak punya pilihan lain, apa Bapak punya pilihan selain itu?’ tanya istri saya tambah sengit. Wah, kalau begini terus bisa terjadi keributan dan perpecahan dalam keluarga. Untung saja saya berpikir menggunakan dengan akal bukannya dengan amarah, kalau begitu kan bisa menambah masalah lagi, malah bisa tambah ruwet.

“Kalau itu maunya Ibu ya sudahlah, motor itu Bapak jual saja. Sekarang yang menjadi pikiran Bapak, Ibu mau jualan apa?”

“Apa saja.”

“Lho, kok, apa saja.”

“Ya, apa saja. Yang pentin kan hala dan menghasilkan uang. Begitu lho maksud Ibu.”

“Ya sudahlah kalau itu mau Ibu. Yang penting sekarang bagaimana aar motor Bapak itu memiliki harga jual yang memadai dan tidak terjual dengan harga rendah.”

“terserah Bapak. Cukup untuk modal saja pun Ibu sudah senang,” jawab istri saya dengan entengnya. Lha, laku saja belum. Lagi pula Vespa itu mau dijual berapa.

Ya sudah, beberapa hari kemudian motor Vespa peninggalan ayah saya dijual ke teman saya. Namun tetap berat hati saya melepaskannya. Di rumah kontrakan saya pun ternyata diijinkan untuk membangun warung kecil di depannya dan sisa dari membangun warung itu digunakan untuk modal dagang. Mulai dari sembako, jajanan kecil, minuman ringan, rokok, pokoknya apa sajalah yang penting bisa dijual dan halal. Itu saja sudah cukup untuk istri saya. Asal ada untuk anak sekolah saja, waah, girangnya bukan main.

Meskipun sekarang saya berangkat bekerja menggunakan angkutan umum, melihat segalanya makin membaik dan masalah mulai berkurang saja, hati saya juga ikut-ikutan senang. Pakde Har pun ikut senang melihat saya tidak uring-uringan lagi setiap hari di warung Ceu Fatimah. Ternyata juga, kalau semua beres yang pasti orang lain juga ikut senang dan sekarang bagaimana sebaliknya mulai menolong orang lain dari apa yang bisa kita bantu, selain mengutang di warung saya tentunya. Iya, tidak, hahahaha….****permanas

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

peziarah

Ditulis oleh permanas di/pada 9 Oktober 2008

aku ini hanyalah seorang peziarah

yang tersesat

ke taman jingga

milik orang lain

lebah-lebah itu pun

saling berebut hinggap

pada rekah kelopak.

aku ini hanyalah seorang penyaksi

kau tersenyum

dan mereka tunduk

kau harus bangga

aku ini hanyalah seorang penyaksi;

kubilang padamu.***kampung melayu/pedati/09.10.08/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »