Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk November, 2008

Sinting

Ditulis oleh permanas di/pada 17 November 2008

Sinting. Entah kenapa orang selalu memanggilku dengan sebutan itu. Tapi, adakah kegilaan dalam diriku ini sedemikian rupa? Aku memang dibebaskan dan dimerdekakan sehingga apapun yang kulakukan –karena tidak biasa dan di luar kebiasaan- tetap dianggap tidak ada kewarasan di sana.

Dunia memang aneh, Kawan, meskipun kita menatapnya dengan wajar dan manusiawi. Bahkan di tempatku sendiri dimana setiap orang bebas melakukan apapun dan menganggap dirinya sebagai apapun tanpa terkecuali. Ini duniaku –tempat tinggalku memang di Rumah Sakit Jiwa- juga kawan-kawanku yang lainnya. Tapi bagiku ini adalah tempat dimana kegilaan menjadi kewarasan yang universal dan mendunia. Bukankah dunia ini dibangun atas dasar kegilaan yang dilandasi dengan kewarasan yang dimiliki oleh masing-masing orang?

”Dasar sinting! Orang gila! Biarkan saja. Jangan didekati!” begitulah keadaanku setiap hari. Yang aneh lagi, tidak sedikit orang yang lebih waras bertanya kepadaku tentang hal yang aneh-aneh pula. Bukankah kewarasannya lebih gila daripada kewarasanku yang sudah dianggap gila kata mereka yang menganggap dirinya sendiri adalah orang sangat waras.

Dunia ini memang sungguh unik dan menarik dengan segala hukum-hukumnya sendiri. Untung aku dimerdekakan oleh kesintinganku dan tidak menjadi budak waktu sementara mereka terus mengejar-ngejar waktu yang sama setiap hari, tapi tak pernah bosan dan lelah. Bahkan orang waraspun dapat berbuat lebih gila daripada diriku.

O… bumi , o… angkasa raya, o…. langit….keindahanmu seperti keindahan yang ada dalam keindahanku yang tak pernah diindahkan. Betapa kau mengerti aku dan kau menaungiku dengan sayap-sayapmu, terbentang lebar sampai delapan penjuru, dibiarkan aku olehmu sementara aku terlelap dalam pangkuan malammu. Menjagaku sampai aku kembali membuka kedua kelopak mata yang seperti kumpulan bunga dalam taman, membuka kelopaknya lebar-lebar menyambut sinaran embun padi dan fajar menghangatkan kembali pembaringan orang-orang yang terlelap. Tapi aku bebas, seperti sepasang kupu-kupu bermandikan embun dalam mangkuk mahkota bunga-bunga dan tak ada yang mengintipnya. Cuma aku dan diriku sendiri dan kegilaanku. Betapa aku terkagum-kagum hingga mengulanginya setiap hari, bila masih ada fajar kembali di sini. Namun aku tak pernah bosan dan kegilaanku ini beralasan untuk mengulanginya kembali.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Seorang Pelarian……

Ditulis oleh permanas di/pada 17 November 2008

Hah, kadang aku merasa sebagai seorang pelarian, tapi tidak tahu sesungguhnya aku berlari dari apa dan bagaimana aku bisa sebagai seorang pelarian. Nyatanya aku selalu berlari, berlari dari kenyataan, berlari dari tugas, berlari dari tanggung jawab, berlari dari keramaian, dan terlebih lagi, dan ini yang paling buruk dari pelarianku, aku lari dari diriku sendiri.

Rasa kecewa memang bisa membuat seseorang gelap mata, tidak mengakui kegagalan sebagai kenyataan yang harus ditelan sendirian. Terlebih ketika kau harus dipaksa mengakui sesuatu yang tidak pernah kau lakukan. Dan itu akan semakin memperburuk keadaan.

Biasanya aku memiliki tempat pelarianku sendiri, tidak dimana-mana. Aku hanya menenggelamkan diriku sendiri dalam kegelapan, membungkam cahaya sekaligus merindukan suaranya. Ah, bahkan cahayapun tidak pernah bersuara, atau mendesis. Baiklah, sekarang aku menjadi seorang pelarian tanpa tahu apa yang membuatku berlari dari sesuatu, dan aku belum memutuskan kapan harus berhenti. Karena sejauh yang aku tahu, aku paling benci menunggu.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

in her silence

Ditulis oleh permanas di/pada 11 November 2008

dream

came

in to my sleep.

near

after

the long night,

a smiling face;

looking at me.

in her silence;

a man can lost his mind.

permanas/tangerang/oktober 08

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Membaca sebuah buku adalah belagu?

Ditulis oleh permanas di/pada 11 November 2008

Suatu ketika saya sedang membaca sebuah novel yang berjudul ’Sang Musafir’ milik Mohamad Sobary. Sedang asyik-asyiknya membaca, seorang kawan datang menghampiri dan melihat buku yang sedang saya baca. ”Wah, baca apa kamu?” tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya membalikkan halaman depan buku untuk lebih jelas melihat judulnya. ”Wah belagu, sotoy, bacanya kayak beginian!” sambungnya lagi. Meski dengan nada bercanda, tapi sungguh, saya merasa tersakiti, terhina. Apa sebegitu dahsyatnyakah orang-orang yang menghuni bumi Indonesia ketika melihat seseorang membaca sebuah buku, entah itu buku apapun, langsung di bilang seperti itu. Belagu dalam artian banyak lagak, banyak tingkah, sementara bahasa slang sotoy adalah kepanjangan dari ’sok tahu’ hanya karena saya sedang membaca sebuah buku, apalagi hanya novel! Lha, bukannya tugas buku memang berisi pengetahuan, dan berusaha membuat orang menjadi tahu.

Saya jadi tidak habis pikir, apakah saya yang sedang mengalami kemerosotan moral karena membaca buku –maaf- karya Mohamad Sobary yang katanya sudah malang melintang di dunia penulisan, atau, apakah teman saya itu yang sudah benar-benar kehilangan rasa intelektualnya sehingga kegiatan membaca sebuah buku pun dianggap sebagai sebuah upaya banyak tingkah, menghamburkan waktu, bahkan terlebih dari itu, ’sok tahu’ (sotoy). Hingga sampai beberapa hari kekesalan saya tidak juga mereda, apakah orang-orang seperti saya, yang notabenenya memang tidak pernah mengecap lebih dari bangku SLTA, tidak pantas membaca sebuah buku yang menyandang nama besar seorang Mohamad Sobary.

Padahal, sebelum buku itu pun saya sudah banyak sekali melalap buku-buku yang bisa saya jangkau dan ’menyandang nama besar’ juga. Hingga akhirnya kekesalan saya bukannya berkurang malah semakin menjadi-jadi, semakin meradang, apakah ketololan sebegitu mahalnya hingga orang-orang seperti teman saya itu menganggap membaca adalah perbuatan sia-sia, tidak lebih hanya untuk orang-orang yang tahu saja yang boleh membaca sebuah buku?! Kalau mau melihat ke belakang, bahkan orang-orang yang tahu pun sebelumnya pernah tidak tahu, ia menjadi tahu karena mencari tahu hingga banyak tahu. Menjelaskan sesuatu perkara bukannya sebuah sikap sok tahu, tapi sebuah sikap yang mencerahkan pikiran dan wawasan, kalau yang menjelaskan suatu perkara itu memang tahu duduk persoalannya. Tapi saya hanya membaca! Tidak sedang menjelaskan sesuatu! Tapi masih dibilang sok tahu! –maaf, saya emosi sekali- pantas saja, lebih banyak orang bodoh dan bebal yang berkeliaran di negeri ini. Karena buku dianggap sebagai barang haram! Dan yang membacanya dikatakan belagu! Sotoy! Apakah kegiatan menonton televisi –terlebih sinetron dan infotainment- adalah juga kegiatan yang heroik?! Ya Tuhan, sampai kapan negeri ini terbebas dari kebodohan dan ketololan dan sampai kapan orang-orang yang mengidap penyakit kronis negeri ini bisa tercerahkan. Yah, akhirnya, saya pun hanya mengadu kepada Tuhan saya, saya hanya berdoa kepada Tuhan saya agar kebodohan dengan huruf besar di kepala teman saya dan orang-orang seperti teman saya bisa terhapus dari dirinya dan kepalanya. Saya sungguh miris melihatnya tetap seperti itu sementara pikiran saya sudah banyak mengandung banyak kata-kata dan hikmah yang saya punguti satu demi satu dari tiap lembar buku yang saya baca, semoga Tuhan saya bisa melimpahkan sedikit ’nur’-nya kepada orang-orang seperti teman saya itu. Saya rasa itu bisa meredam kekesalan saya.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Kaki Langit

Ditulis oleh permanas di/pada 11 November 2008

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari kelak, kita cuma bisa melangkah mencari nasib kita sendiri sementara takdir menguntit di belakang –atau malah sudah menunggu di depan-. Aku mengarungi lautan waktu yang tak kenal lelah sampai melintasi batas-batas kesadaranku sebagai manusia dan aku mengetahui kalau kita –manusia- selalu ingin melangkahi keterbatasannya sendiri.

Ini bukan pertarunganku saja, tapi juga pertarungan kita. Masing-masing menjadi medan laga di mana peperangan terjadi antara kita dengan diri kita sendiri. Aku katakan ini kepada diriku sendiri kalau aku tidak terdiri dari satu. Ada ‘diri’-ku yang lain di sini, di jiwaku, yang tanpa sadar pernah berkata kalau diri ini adalah satu kesatuan. Padahal, ternyata, tidak!

Semua semakin terbuka lebar ketika mega menarik tirai fajar, semakin jernih dan jelas seperti embun jatuh ke pelukan sang ibu pertiwi dan mewartakan kalau peperangan ini tak mengenal akhir dan tak ada menang atau kalah, tidak menawan atau tertawan. Tapi kita tidak di pasung melainkan dibebaskan. Aku membebaskan diriku sendiri, bersahaja.

Alam ini tidak bisu meskipun tak dapat mengungkapkan kata-katanya sendiri, tapi kita dengar gemerisik daun kering jatuh melayang dihamparan tanah karena terjatuh dari rantingnya. Daun itu tidak sia-sia, ia rela karena ia tahu pucuk daun yang baru kan segera bermunculan mengantikan dirinya. Kita tak cuma mendengar tapi kita juga belajar melihat ke dalam, melihat kepada kesadaran diri kita sendiri. Dan ternyata, kita dapati, kalau alam ini pun mencoba m,emahami dirnya sendiri.

Hidup kita terbatas meskipun lautan waktu tak mengenal tepi, kita mencoba mencari banyak cara untuk membuat hidup yang terbatas ini menjadi seakan-akan tak terbatas dan mencoba mengingkari kalau kita memiliki keterbatasan. Kalau gagal, kita akan terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Tubuh kita akan hancur, remuk dan semua itu menjadi sia-sia.

Hidup ini bukan hanya sekedar tarian, tapi seluruh tarian menghiasi kehidupan ini, bukan hanya sekedar gerak dan alunan musik melainkan semua gerakan kita menjadi simbol dalam kehidupan ini dan musik menjadi alunan jiwa yang mendayu-dayu, namun tidak tenggelam dalam air mata juga bukan nyanyian kegundahan tapi nyanyian kedamaian yang lahir dari hati yang gundah karena hidup ini tetap melangkah maju.

Kita melayani diri kita dan hari melayani dirinya sendiri sampai senja di kaki langit. Dan, orang-orang yang kelelahan bersandar pada nasib yang tergenggam erat di tangannya meskipun jalan-jalan masih terlihat ramai. Ada semacam kerinduan yang dalam bersarang dan mengeramkan telurnya, telur dari induk kerinduan yang tak terobati. Kita mengisahkannya. Aku rasa, aku baru saja menangis!

Di kaki langit sana, tempat cakrawala membangun kerajaannya, senja mulai menyeret tudung gelap dan kita hanya diberi sedikit lilin penalaran dan cermin untuk melihat wajah kita masing-masing. Aku ingin menunjuk malam sebagai meja sidang, bulan sebagai hakim, dan bintang sebagai juri, sementara kita sebagai terdakwa sekaligus pembela.

Ini dunia, dan dunia tak pernah dianggap bodoh meskipun banyak kebodohan dan ketololan berjangkit di dalam tubuhnya. Kita membela diri kita sendiri karena didakwa bodoh dan tolol, dan menghakimi orang yang mencela kita. Tapi kita dihakimi diri sendiri kalau ternyata perbuatan itu tidak adil dan tidak benar, apalagi dibenarkan. Inilah dunia yang di dalamnya banyak terjadi sandiwara dan ternyata kalau ingin menjadi sesuatu dunia inilah tempat yang cocok. Di sini, di kaki langit, tempat kita berdiri, tempat kita berjalan dan tempat kita menjadi sesuatu.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Hujan dan Aku

Ditulis oleh permanas di/pada 4 November 2008

Aku rasa semua orang setuju kalau hujan adalah berkah yang tak ternilai harganya, dan pemberian Tuhan yang paling mahal, jika tidak sekarang, mungkin nanti para manusia yang tinggal di bumi akan mengakuinya bahwa hujan, terlebih, air, adalah sebuah harta yang melebihi harga sebatang emas. Dan begitulah aku menyambut awan kelabu itu berduyun-duyun memenuhi langit tepat di atas kepalaku, menatap ke atas dan alam memberinya nyawa, energi listrik saling berlompatan. Ketika semua orang masuk saat melihat kilat menyambar-nyambar dan menciumi tanah, aku hanya tertegun, tanpa sadar malah tersenyum aku rasa. Dan sejumput lentik air mulai menjamah diriku perlahan-lahan, kemudian berubah menjadi butiran sebesar jagung. Alirannya begitu kuat menderas, meluncur, menabraki wajahku, menghujamku, tapi aku menganggapnya sebagai sebuah belaian, sebuah ungkapan, sebuah pemberian makna kalau ia -hujan- telah aku hargai sebegitu tingginya karena ia utusan langit dan perantara bumi. Tidakkah kau lihat, bumi dan langit seakan menyatu ketika hujan menghampiri tanah di tempat kita berpijak. Maka, segera aku mendongak dan memanjatkan doa serta puji-pujian kepada Tuhanku.

Lalu lantunan musikal doa-doa pun mulai berebutan keluar dari mulutku hingga lidah tak mampu lagi melafalkan setiap untaian kata-kata karena sebegitu hebatnya doa-doa itu mengumpul dalam rongga mulut karena kekerdilan diriku yang tidak bisa menampung terlalu banyak doa yang menyentak seperti halilintar menyambar-nyambar dalam sepersekian detik. Aku luluh, menangis, menyesal, karena ucapan doa yang tidak selesai. Namun, hujan tetap membelaiku, merasuk malah, menungguku, membisik melalui suara gemericik yang samar dan membentuk wajah dari mosaik bermiliar tetesan air yang berlomba menciumi tanah.

“Jangan sedih, doa-doa itu telah tersurat.” Aku mendongak waktu kesamaran berubah menjadi sebuah kejelasan. Seperti orang gila aku bangkit dan berlari-lari, aku kira seperti yang sering aku lakukan semasa kecil ketika bermandi-mandi hujan, basah-basahan dan berlarian tanpa arah mengelilingi lapangan luas, aku menganggapnya sebuah euforia singkat, sebuah kesenangan, sebuah ekstasi berlebihan. Aku kembali seperti anak-anak ketika hujan adalah berarti sebuah kesenangan. Dan, yah, aku kegirangan! Pada saat yang sama, seluruh orang di kampungku mengangap kalau aku sudah gila.

+++ +++

Aku melihat ketelanjanganku sendiri adalah sebagai sebuah anugrah yang tidak terbantahkan ketika semua orang menutup-nutupi kemaluan mereka sendiri dan menganggapnya adalah tabu kalau menghargai ketelanjangan sebagai sebuah kegembiraan yang patut dirayakan. Maka, sekali lagi mereka menganggapku sinting, kali ini mereka menertawakanku, sampai anak cucu mereka pun ikut-ikutan tanpa tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Aku terpojok, mereka mengepung. Aku lari, mereka mengarak! Aku diam, mereka ikut bisu. Menunggu aku membuat kelakuan baru yang bisa saja membikin mereka tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ketelanjanganku adalah sebuah eforia kampung. Setiap pagi mereka menunggu ketelanjanganku, ketimbang mereka menunggu matahari pagi, diriku lebih mereka tunggu.

Akhirnya, aku pun terlibat dengan perasaan girang yang tak kepalangan karena pasti mereka menunggu diriku lewat di depan pintu-pintu rumah. Dengan santai, senyumku mulai merekah, ketelanjanganku mulai aku lupakan dan beralih kepada bibirku yang pecah dan hitam untuk kupersembahkan kepada penunggu setiaku yang setiap pagi pasti akan berbaris pada halaman rumah mereka. Yah, mereka menunggu. Aku pun berlalu.

Wajah-wajah sahaja itu mengiang, mengambang dan lalu terbang melintasi awan-awan kelabu di antara kegembiaraan yang kuciptakan sendiri, sebenarnya hanya aku yang menganggapnya seperti itu, tapi biar saja, setidaknya mereka senang dengan apa yang kulakukan meski kejujuranku sendiri menjadi taruhannya. Dan aku sedih ketika kejujuran dan ketelanjanganku tidak dihargai. Mereka menertawakannya, dan aku menganggapnya itu adalah sebuah kejujuran, dan bagiku, mereka juga telanjang. Mereka menelanjangi diri mereka sendiri .

Dan, sekali lagi hujan menaungi ketelanjanganku sebagai manusia seutuhnya dan sebagai manusia yang di-manusiawi-kan alam. Ketika aku lari dalam badai, hujan merestuiku.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »