Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Desember, 2008

TEKNIK MENULIS KARYA FIKSI

Ditulis oleh permanas di/pada 12 Desember 2008

disusun oleh begawan
Anggota dari Desember 2002
14 Juli 2003
begawan adalah salah
satu warga WebGaul
yang sangat menyukai
karya sastra baik puisi
maupun cerpen.

Karena semangatnya
dia juga terpilih menjadi
salah satu moderator
di forum Webgaul

________________________________________
Posted by : cheers BMW
Arti fiksi sendiri adalah suatu karya sastra yang mengungkap realitas kehidupan sehingga mampu mengembangkan daya imajinasi.
Ada 2 macam fiksi :
1. Fiksi imajinatif —> berdasarkan imajinasi
2. Fiksi ilmiah —> berdasarkan analisa ilmiah
*Sifat fiksi
- Segala sesuatu yang diungkapkan tidak dapat dibuktikan kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari, merupakan hasil rekaan (bukan rekayasa lho).
- Semua tokoh, setting dan pokok persoalan adalah realitas imajinatif bukan obyektif.
- Kebenaran yang terjadi di dalam fiksi adalah bukan kebenaran obyektif melainkan kebenaran logis yaitu kebenaran yang ada dalam penalaran.
- Manusia2 yang hidup dalam kenyataan sehari-hari yang terlibat dalam seluruh aspek kehidupan penokohan fiksi mampu mempengaruhi & membentuk sifat dan sikap pembaca, pendengar, pemirsa.
- Kebenaran logis fiksi menyebabkan setiap fiksi selalu multi interpretable, artinya setiap pembaca, pendengar, pemirsa mempunyai tafsiran.
*Unsur Intrinksik Fiksi :
1. Tema : merupakan pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita. Tema diangkat dari konflik kehidupan.
2. Plot : dasar cerita; pengembangan cerita.
3. Alur : rangkaian cerita
Dalam alur hubungan tokoh bisa rapat yaitu memusat pada satu tokoh; atau renggang yaitu tokoh berjalan masing2.
Proses alur bisa maju; mundur; atau maju mundur.
Penyelesaian Alur ada alur klimaks dan ada alur anti klimaks.
4. Setting : tempat terjadinya cerita, terbagi menjadi :
- setting geografis —-> tempat di mana kejadian berlangsung
- setting antropologis —-> kejadian berkaitan dengan situasi masyarakat, kejiwaan pola pikir, adat-istiadat.
5. Penokohan / Pewatakan :
tokoh digambarkan sebagai tokoh utama (protagonis), tokoh yang bertentangan (antagonis), maupun tokoh pembantu – tapi ini bukan PRT
Penghadiran tokoh bisa langsung dengan cara melakukan deskripsi, melukiskan pribadi tokoh; atau tidak langsung dengan cara dialog antar tokoh.
Bidang2 tokoh harus digambarkan :
- Bidang tampak : gesture, mimik, pakaian, milik pribadi, dsb
- Bidang yang tidak tampak : motif berupa dorongan / keinginan, psikis berupa perubahan kejiwaan, perasaan, dan religiusitas.
6. Sudut pandang : yang mendasari tema dan tujuan penulisan
Penghadiran bisa dengan :
- gaya orang pertama —> penulis terlibat sebagai salah satu tokoh
- gaya orang ketiga —> penulis serba tahu apa yang terjadi tetapi tidak terlibat di dalam cerita.
7. Suasana : yang mendasari suasana cerita adalah penokohan karena perbedaan karakter sehingga menimbulkan konflik. Dengan konflik pengarang berhadapan dengan suasana menyedihkan, mengharukan, menantang, menyenangkan, atau memberi inspirasi.
Semua point ini harus dihadirkan secara utuh sehingga fiksi baik itu berupa cerpen, novel, drama, skenario film / sinetron sehingga pembaca, pendengar, pemirsa mempunyai daya imajinatif; mempunyai tafsiran tentang tokoh, suasana, dsb; terhadap karya fiksi tersebut.
Jangan lupa : tema, plot, alur, dan setting juga harus jelas sehingga karya fiksi benar2 utuh sebagai karya seni bukan berupa sekadar curahan hati (seperti diary)
Posted by Arwan
Belakangan sulit untuk dielakkan bahwa perkembangan cerpen Indonesia saat ini masih bergantung pada publikasi di media cetak. Ruang budaya yang tersedia di hari Minggu tak urung menjadikan hari Minggu (meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Berbicara) menjadi ‘hari cerpen’. Hal seperti ini terus terjadi karena majalah-majalah sastra, jurnal serta penerbitan lainnya di luar koran yang beredar tak cukup sebagai publikasi cerpen. Ini wajar karena penerbitan-penerbitan semacam itu sangat bergantung sekali kepada donasi atau yayasan tertentu sehingga kebanyakan tak berumur panjang. Pembaca yang sedikit dan terbatas juga menjadi kendala bagi media cetak lain, pun bagi penulis cerpen itu sendiri sehingga meminimkan jumlah publikasi cerpen Indonesia di luar koran.
Media cetak atau koran menjadi satu-satunya media yang ‘ampuh’ karena selain sebagai publikasi juga dapat dianggap bukti pengakuan para cerpenis kita. Jangkauan pembaca nan luas serta kemampuannya ‘berumur panjang’ dibanding penerbitan sastra lainnya membuat Budiarto Danujaya, salah satu kaum kritikus masa kini menyebutnya ‘sastra koran’ Hal ini terasa kian memupuk dalam perkembangan sastra modern Indonesia karena dari situlah dapat dilihat genre perkembangan cerpen Indonesia modern. Begitu ‘ampuh’nya koran sebagai media publikasi sehingga sebuah koran tiba-tiba menjadi ‘barometer’ hampir setiap cerpenis Indonesia. Konon ‘keampuhannya’ ini akhirnya ‘menggeser’ majalah sastra Horison (satu-satunya majalah sastra Indonesia yang masih hidup) yang kini lebih berkonsentrasi kepada apresiasi sastra untuk kalangan remaja. Sebagai contoh, Kompas sebagai satu-satunya koran yang konsisten mempublikasikan cerpen setiap hari Minggu sudah menjadi rahasia umum telah ‘ditahbiskan’ kebanyakan cerpenis kita sebagai bukti pengakuan kapasitasnya sebagai sastrawan.
Sayang, tak banyak yang menyadari kondisi semacam ini justru tidak sehat. Para cerpenis pun calon sastrawan akhirnya berlomba-lomba menulis cerpen sebanyak lima-delapan halaman sesuai ruang yang tersedia di koran. Akibatnya kemampuan estetis mau tak mau harus rela berkompromi atau kasarnya terbelenggu oleh penulisnya sendiri demi memenuhi syarat pemuatan. Ide-ide cerita dengan diilhami peristiwa-peristiwa aktual di media massa tak dapat dipungkiri lagi bak ‘resep jitu’ demi menembus birokasi sastra koran. Akibat lainnya lagi perkembangan cerpen Indonesia surut dari gaya bertutur panjang yang mau tak mau harus kita akui telah dialami hampir semua cerpenis kita.
Dunia cerpen Indonesia memang berkembang karena banyak didukung ruang budaya yang tersedia di koran. Kendati berkembang demikian pesat sayangnya tak lagi menyisakan ‘kegilaan-kegilaan indah’. Cerpen macam Seribu Kunang-Kunang di Manhattannya Umar Kayam atau Dilarang Mencintai Bunga-Bunganya Kuntowijoyo mungkin menjadi kenangan manis saja bahwa perkembangan cerpen Indonesia pernah melakukan ‘kegilaan-kegilaan indah’ semacam itu. Hal ini masih diperparah dengan pelan-pelan ditinggalkannya intensitas menulis panjang karena koran sebagai satu-satunya media publikasi tak mampu menyediakan ruang yang luas.
Intensitas menulis panjang yang kian surut itu sadar atau tidak tak mampu membangun karakter kuat. Cerpen-cerpen diatas (Umar Kayam dan Kuntowijoyo) memang pernah dimuat di koran, namun ‘kegilaan’ dengan gaya bertutur semacam itupun ternyata juga telah ditinggalkan. Ragam permasalahan yang dengan segala hormat hanya melulu mencuplik peristiwa aktual pada akhirnya membelenggu kreativitas penulisnya sendiri.
MISKIN NOVELIS
Dalam berbagai diskusi sastra maupun pemberitaan di media cetak seringkali kaum kritikus kita mengeluh betapa miskinnya Indonesia dengan karya novel. Novel-novel semacam Saman dan Supernova dianggap sebagai penawar dahaga sastra Indonesia di tengah-tengah miskinnya novel-novel baru kita. Kehadiran dua novel eksperimental tersebut akhirnya dianggap beberapa kritikus sastra kita sebagai gebrakan. Kendati dua novel itu berhasil membuat gebrakan sayangnya belum mampu menggairahkan penulis-penulis muda kita menulis novel.
Mungkin terlalu berlebihan jika kita akhirnya telah sampai pada posisi menunggu lahirnya novelis baru lagi dengan berbagai ‘kegilaan’nya semacam dua novel yang disebutkan tadi. Tapi, apa boleh buat jika memang pada kenyataannya intensitas menulis panjang telah ditinggalkan kebanyakan penulis kita? Bukankah dengan ditinggalkannya intensitas ini berkaitan pula dengan minimnya karya-karya novel baru kita?
Karya-karya besar sastra dunia justru lahir dari intensitasnya menulis panjang. Metamorphosenya Kafka atau Karakter yang Menderitanya Luigi Pirandello (pemenang Nobel sastra tahun 1934) adalah salah satu contoh karya cerpen kelas dunia yang mampu menorehkan tinta emas dalam perkembangan dunia sastra. Indonesia sendiri pasca karya Pramoedya Ananta Toer bukannya tak ada dengan intensitas menulis macam itu. Dunia sastra Indonesia pernah melakukannya lewat Idrus (Dari Ave Maria sampai Jalan lain ke Roma) atau Orang-Orang Bloomingtoonnya Budi Darma. Bahkan salah satu masterpiece Budi Darma, Olenka semula diniatkan penulisnya sebagai cerpen bukan novel.
Menulis cerpen di koran memang tidak salah. Tapi hal inilah yang tanpa disadari adalah salah satu akibat dari ditinggalnya intensitas menulis panjang. Menulis cerpen sendiri pun seperti sudah disinggung di awal tulisan ini akhirnya membelenggu kreativitas penulisnya sendiri karena keterbatasan ruang di koran. Memang tak dapat dipungkiri menulis cerpen yang baik dengan panjang sebanyak lima-delapan halaman saja adalah tantangan kreatif berkarya. Tapi apakah para penulis kita harus terus menerus berkutat dengan tantangan semacam itu? Tentu tidak bukan? Bukankah masih banyak hal-hal lain yang perlu digali?

Posted by surfergirl
apa untuk bikin sebuah novel harus berkutat dengan riset2…
maksud gue, ambil contoh Saman, ini sebuah novel yang sangat diupayakan…
yang nulis barangkali engga begitu tau soal Washington, soal Prabumulih, soal mistik Jawa, soal internet…
novel Akar… konsep2 religi Buddha dan mitos2 Celtic, belum lagi setting-nya yg nyaris satu asia tenggara itu…
jgn salah lho, novel yg bagus emang butuh upaya…
tapi ya itu tadi… entar jangan2 kita lebih terpaku sama kompleksitas “ornamen2″ ketimbang sama “human nature”-nya… karna menurut gw inti sastra/novel ada di nilai2 humanis
ornamen itu sama seperti dekorasi…
make-up gitu deh… dandanan…
gw cuma berpikir bahwa sebagus2nya dandanan, tetep ga bisa menggantikan sosok asli kita… soal budaya politik sains religi setting dll dalam novel itu cuman kostum (menurut gw) dan barangkali bonus wawasan lah, tapi intinya kan kita ngomongin soal manusia, klo novel itu enga menawarkan pemahaman ato pemikiran soal kemanusiaan buat pembacanya, mmm… hehe, gimana yak??
tapi gw bukannya ngomongin soal nilai moral suatu novel lho, itu beda dari yg gw maksud…
posted by homer
menurut gue, latar itu penting dan ada latar yang harus dibedakan dengan cap ornamen atau dandanan.
karena ada latar yang sekedar show off dan ada yang harus melekat pada cerita itu.

jumpha lahiri misalnya diprotes oleh kritikus sastra di india karena dituduh hanya menampilkan eksotisme india kepada barat, padahal kita tau cerpen penafsir kepedihan itu sangat manusiawi sekali, tapi pelekatan budaya dalam cerpen itu dianggap tidak pas oleh kritikus sasra india ( sudah lama lahiri tidak mengunjungi india )
pelekatan budaya seperti ini tidak bisa disebut ornamen.
tentu beda kalo cerita roman percintaan penuh selingkuh seperti supernova yang melekatkan schrodinger, chaos, paradoks dan asimov stuff, ini bisa disebut ornamen.
rasanya aneh membaca para priyayi tanpa mengetahui sejarah setempat. satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apalagi kalo kita berbicara soal realisme.

itu sebabnya Alm umar kayam memulai cerita dengan siapa si tokoh dan darimana dia berasal tanpa lupa menceritakan sejarah daerah itu dulunya.
ini sih menurut pengalaman dari membaca aja.
Sedikit pengalaman menulis untuk media
Posted by Arwan
Ketika membaca sebuah tulisan di media massa, mungkin anda berkata dalam hati, “Ah, tulisan ini biasa-biasa saja. Saya juga bisa membuat yang seperti ini. Malah bisa lebih bagus!”
Lantas anda mungkin mulai membuat tulisan yang – menurut anda – jauh lebih bagus dan berkualitas. Naskah itu anda kirim ke media tertentu. Beberapa hari kemudian, naskah anda dikembalikan oleh redaktur dengan alasan “Belum layak muat!”
Anda mungkin marah dan kecewa. “Apa yang salah dengan naskah saya?”
Susah-susah gampang
Mengirim tulisan ke media massa, ternyata, tidaklah semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Saya sendiri misalnya, harus kecewa terlebih dahulu sebelum naskah pertama saya dimuat di media massa. Puluhan naskah saya ditolak oleh banyak media dengan berbagai alasan, baik yang masuk akal maupun yang tidak.
Ternyata, kualitas bukanlah satu-satunya jaminan suatu tulisan dapat dimuat dengan sukses di sebuah media. Masih banyak faktor lain yang menentukan.
Berikut ini akan saya beberkan beberapa faktor yang perlu anda perhatian (selain faktor kualitas tulisan) yang dapat menolong anda “melenggang kangkung” menjadi seorang penulis handal.
Faktor Penampilan
Penampilan memang sering menipu. Tapi dalam banyak kasus, penampilan sangat membantu kesuksesan seseorang. Dalam mengirim tulisan ke media massa, anda harus “merias” tulisan anda secantik mungkin. Banyak sekali naskah yang masuk ke redaksi suatu media, sehingga penampilan naskah anda yang menarik diharapkan dapat merebut perhatian mereka, dan membuat mereka tertarik untuk membaca tulisan anda.
Ketiklah tulisan anda dengan rapi, tanpa coretan-coretan yang mengganggu. Gunakan kertas HVS ukuran folio atau kuarto ukuran 70 gram. Tulisan diketik dengan rata kiri kanan (kalau tulisan yang anda baca ini, hanya rata kanan). Buatlah margin atas dan bawah masing-masing 3 cm, margin kiri 2,5 cm, margin kanan 4 cm. Oh ya, naskah diketik dengan jarak 2 spasi.
Bantulah Tugas Redaktur
Maksudnya, anda bukan disuruh membantu redaktur suatu media untuk mengetik atau mengedit naskah. Emangnya anda karyawan mereka! He… he…. Tetapi, anda hendaknya “menyajikan” naskah anda sedemikian rupa, sehingga dapat membantu tugas-tugas mereka yang menumpuk.
Pertama, jilidlah naskah anda dengan staples, dan jangan lupa cantumkan nomor halaman di bagian bawah tiap lembar naskah anda. Jika naskah anda tidak distaples, terlebih tidak diberi penomoran halaman, dapatkah anda bayangkan apa yang terjadi jika secara tak sengaja naskah anda berceceran di lantai? Sang redaktur tentu bingung, bagaimana cara mengurutkan lembaran naskah yang telah berantakan tersebut.
Kedua, lampirkan perangko pengembalian. Ini bukan untuk “menyogok” sang redaktur, namun untuk dipakai jika nanti naskah anda dikembalikan. Karena bentuk perangko sangat kecil, dan untuk menghindari jangan sampai kececer, lekatkan ia pada lembaran naskah anda (dengan staples atau lainnya).
Taatilah Peraturan/Kebiasaan Media Tersebut
Biasanya setiap media punya peraturan tersendiri mengenai kriteria naskah yang dapat mereka muat. Misalnya, ada media yang membuat peraturan begini: “Naskah hendaknya diketik di atas kertas folio, 2 spasi, panjang naskah 5 sampai 8 lembar. Sertakan ringkasan tulisan sebanyak lebih kurang 10 kalimat”.
Nah, peraturan seperti ini harus anda taati. Dan perlu dicatat, setiap media punya peraturan yang berbeda-beda mengenai hal ini.
Selain itu, setiap media biasanya memiliki karakter khas yang membedakannya dengan media lain. Majalah Femina misalnya, memiliki pangsa pasar para wanita modern menengah ke atas. Sedangkan saingannya, majalah Kartini, pangsa pasarnya lebih luas, mencakup juga wanita kelas menengah dan ibu rumah tangga biasa. Jadi jika anda mengirim tulisan ke media-media tersebut, tentunya tulisan anda harus menyesuaikan diri dengan karakter khas media mereka.
Karakter khas tersebut juga menyangkut gaya bahasa. Walau sama-sama bacaan remaja, majalah Aneka dan Anita Cemerlang memiliki gaya bahasa yang berbeda. Mereka memang sama-sama menggunakan bahasa gaul khas anak muda. Namun bahasa yang dipakai oleh Aneka jauh lebih prokem, sementara majalah Anita cenderung lebih formal.
Perkenalkan Diri Anda
Jika tulisan anda sudah sering dimuat di suatu media, tentu redakturnya dengan sangat mudah mengenali siapa pengirim naskah yang sedang dibacanya. Namun jika anda baru pertama kali mengirim tulisan ke media tersebut, memperkenalkan diri merupakan salah satu kiat untuk “mencari perhatian” sang redaktur.
Sertakan data pribadi anda dalam naskah yang dikirim. Ceritakan di sana pengalaman menulis anda, dan – kalau ada – prestasi apa saja yang pernah anda raih di bidang ini. (Ingat, cantumkan hanya hal-hal yang berhubungan dengan dunia penulisan. Tidak perlu menceritakan bahwa anda – misalnya – pernah menjadi Juara I Lomba Balap Karung tingkat Kecamatan. Enggak ada hubungannya, Bung!).

Ditulis dalam KAMU MAU TAHU? (dari berbagai sumber) | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Memberi Lebih Maka Kau akan Menerima Lebih

Ditulis oleh permanas di/pada 11 Desember 2008

Sawaludin Permana – Relawan Yappika

Sejak pertama kali saya menggabungkan diri dengan Yappika sebagai relawan, saya mulai mengerti bagaimana melihat sesuatu dengan cara pandang yang –katakanlah- sedikit berbeda. Melihat bagaimana kondisi sosial sebegitu stagnannya, bahkan di lingkungan saya sendiri, dan memerlukan sebuah sentuhan di mana perubahan memang betul-betul dibutuhkan, malah diharuskan saya rasa. Ada banyak orang tidak mengerti mereka harus mulai dari mana melakukan perubahan-perubahan itu, dan yang lebih parah lagi, mereka tidak tahu apa yang harus mereka rubah. Karena mereka sudah terlalu sangat terbiasa dengan ‘zona nyaman’ yang mereka ciptakan, padahal sejatinya kondisi itu sangat jauh dari rasa nyaman. Saya jadi berpikir berpuluh kali lipat, bagaimana seseorang bisa sangat nyaman dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk merasa nyaman.

Ketika seseorang mulai mengungkapkan keluhan-keluhannya, pada saat itulah ada sesuatu yang salah tengah terjadi. Dalam keadaan seperti ini, banyak sekali keluhan-keluhan terlontar dari sekian banyak orang, di mana-mana orang saling berebut menyuarakan keluhan mereka –mudah-mudahan saya tidak termasuk yang banyak itu, amin-. Dan bukannya marah, saya menjadi trenyuh, sakit, bingung, dan mulai berpikir –saya tidak tahu apakah saya trenyuh mendengar keluhan-keluhan mereka atau tersentuh karena mereka tidak tahu bagaimana cara menghilangkan keluhan-keluhan yang mereka ungkapkan- syukurnya kebingungan saya itu tidak berlangsung lama dan berlarut-larut. Saya mulai mempelajari bagaimana sebuah keluhan itu muncul, ekses apa saja yang mungkin terjadi ketika keluhan-keluhan itu mencuat ke permukaan, dan mencari cara bagaimana menguranginya kalau tidak bisa menghilangkannya.

A ha! Ternyata formulanya cuma satu, berubah! Perubahan memungkinkan kondisi stagnan tadi bisa bergerak kalau tidak ingin dikatakan berjalan. Berbagai cara saya terapkan bagaimana agar seseorang bisa berubah, termasuk saya, hahaha… dan selalu saja ada orang yang belum siap menerima perubahan itu sendiri. Saya harus melakukan semua cara agar apa yang saya lakukan untuk perubahan itu dimungkinkan, meski terkadang, cara saya salah dan bisa membuat orang lain tidak nyaman dengan perubahan yang saya buat. Apa mau dikata, perubahan harus tetap terjadi. Jika mereka tidak ingin, biar saya saja yang melakukan perubahan itu sendirian.

Jadi ketika sebuah ungkapan yang sangat menyakitkan bisa membuat seseorang mengerti harga dirinya sendiri maka satu hal kemungkinan terjadi dalam ruang kesadaran seseorang bahwa sesuatu tengah berubah di sekitar dirinya dan akan mengubah dirinya menuju perbaikan-perbaikan dan menuntut dirinya untuk selalu memperbaiki sikap dan kelakuannya agar bisa diterima kembali, dalam artian, sikap itu tentunya memiliki norma-norma tertentu di mana diri seseorang itu berada. Namun, jika sebuah perubahan tidak bisa diterima begitu saja, ada kemungkinan cara yang diterapkan untuk melakukan perubahan dalam lingkungan sosial, kerja, maupun pribadi, tidak berjalan dengan semestinya, atau ada beberapa kemungkinan kesalahan terjadi dalam penerapan tersebut sehingga apa yang dilakukan dalam melakukan perubahan tidak bisa diterima begitu saja.

Penolakan (baik secara halus maupun terang-terangan) mengindikasikan ada sesuatu yang belum siap berubah atau perubahan itu membuat kepentingan pribadi seseorang merasa terusik, zona kenyamanan yang selama ini terpelihara tiba-tiba terusik dan mengakibatkan posisi ‘kenyamanan’ seseorang benar-benar tidak dapat ditolelir lagi karena kepentingan pribadi telah bermain. Adakalanya ketersendatan sebuah kemajuan dikarenakan zona kenyamanan seseorang terus menerus dipelihara tanpa ada suatu tindakan bahwa ‘zona kenyamanan’ itu memang bisa dipertanggungjawabkan dalam waktu sementara, tapi untuk jangka panjang, hal itu bisa berakibat buruk bagi keadaan dan lingkungan yang membiarkan sebuah zona nyaman tersebut tumbuh.

*** ***

Tahu falsafah Hindu yang berbunyi ’Tat Twam Asi’? Yang artinya kurang lebih, aku adalah engkau dan engkau adalah aku (aku ya engkau –engkau ya aku-). Saya mengadopsinya dalam kehidupan yang saya jalani. Jadi, kalau saya melihat orang lain sedih, susah, maka alarm empati saya langsung menyala, ikut sedih, ikut susah dengan apa yang dialami oleh mereka. Kalau saya tidak bisa membantu dengan uang, semoga saja saya dapat membantunya dengan kemampuan tenaga yang saya punya, jika saya tidak bisa melakukan keduanya, semoga doa saya bisa mengurangi beban mereka. Kalau mereka senang, tertawa lepas, maka hati saya juga ikut tertawa bersama mereka, semoga kebahagiaan mereka tetap bersama dalam kehidupan mereka sampai kapan pun.

Karena itu, salah satu prinsip hidup yang saya terapkan belakangan ini, kalau kau memberi lebih maka kau pun akan menerima lebih. Ukurannya, hahahaha…. saya tidak pernah mengukur apa yang sudah saya perbuat untuk melakukan suatu perubahan bagi diri sendiri, terlebih bagi banyak orang lain. Selama saya mampu memberi lebih dari apa yang saya miliki, saya tidak perlu memikirkan apa yang akan saya terima. Buktinya, saya tetap hidup sampai sekarang dan terus bereksperimen untuk membuat perubahan-perubahan itu menjadi mungkin. Ya, memang lingkupnya belum besar, setidaknya saya kan mencoba dari diri sendiri dulu, hahahahaha….. Bagaimana dengan Anda?

Saya selalu terinspirasi dengan sebuah ungkapan yang mengatakan jangan takut untuk berimajinasi, bermimpilah, karena semua hal besar berawal dari mimpi (apa mungkin begitu?) Jadi, bermimpilah, dan lakukan apa yang perlu dilakukan. Saya tidak takut bermimpi, dan, saya tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah saya pilih untuk saya lakukan. Setidaknya saya tidak berhenti pada satu titik kehidupan di mana perubahan tidak perlu dilakukan. Salam.

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Apa badai akan datang?

Ditulis oleh permanas di/pada 3 Desember 2008

Aku rasa dunia memang benar-benar sudah tua, beban yang ditanggung benar-benar di luar batas kemampuannya sekarang. Kemolekannya semakin pudar, ia sudah tidak pernah lagi bergincu dan berdandan setiap pagi. Kemurungan dunia bertambah ketika matahari semakin memamerkan cahaya kemilau kepada dirinya yang tertatih-tatih merotasikan siang dan malam. Posisi bulan dan air pasang pun belakangan tidak menentu, seperti perawan yang baru saja dapat haid, nyerinya membuat para nelayan miris karena ikan-ikan semakin jarang saja berkunjung ke keramba dan jaring-jaring mereka yang ratusan meter mengambang searah garis pantai. Kekosongan menjelma dan menjadi drama berulang-ulang dan membosankan karena kekosongan, suatu waktu, memang memuakkan.

Aku melihat dari jauh, wajah-wajah murung itu jelas menggambarkan kekecewaan dan ketidakmenentuan nasib yang membuat mereka tidak bisa memilih lebih banyak, biar senyum-senyum itu dipaksakan ketika harus mengembangkan tangan untuk bebas menangkap anak-anak jaman yang lahir dari rumah panggung di pinggir pantai, aku rasa kekosongan itu tetap tidak bisa terhapuskan begitu saja.

Mimpi pun menarikan nyanyinya dengan debur ombak mengalun dan mengusir kesepian sebuah malam di pinggir pantai sebuah kampung nelayan.

“Odhea…., Odhea….., kau lihat, bulan saja tidak lelap tidurnya malam ini.” Suara berat Naha mengelisahkan pembaringan istrinya yang sedang menyusui Han. Bahkan Han pun merasakan kegelisahan ayahnya yang mengintip dari jendela, bulan hanya sepotong saja di langit seperti sekerat daging busuk yang tidak berarti.

“Apa badai akan segera datang?”

“Tidak.”

“Lalu apa yang akan terjadi?”

“Bahkan dongeng-dongeng pun tidak bisa menjelaskan apa-apa.”

“Biarkan aku menyusui Han.”

“Han, anakku, dongeng-dongeng pun tidak bisa menyesatkan Han.” Naha menarik nafas dan kembali mengintai gerak bulan yang sedang menarik rapat selimutnya. Sekarang ia benar-benar hanya seonggok daging busuk yang mengantung di langit.

Di bibir pantai, seseorang memancing malam dengan umpan yang sudah basi. Menarik gagang pancingnya sedikit malas, ia tahu senarnya tidak membawa satu apapun ke tangannya yang kedinginan. Karena itu ia tidak perlu membohongi diri untuk gesit menggulung senar yang enteng. “Aku tidak perlu membisiki siapa-siapa di sini apakah kailku menohok mulut teri atau ikan karang yang terjebak. Bahkan aku tidak perlu berkata apa-apa seandainya senarku melilit leher seekor putri duyung sekalipun,” desisnya kepada angin lalu. Ah, bisikan anginpun serasa tenggelam dalam telinga, tidak ada kata apa-apa dan tidak ada desauan yang membuat pelaut menjadi para perindu buta kepada ombak dan gelombang.

Segelas kopi pahit dan sebatang rokok keretek juga belum bisa menenangkan Naha dari balik kegelisahannya dan dari sekotak jendela kayu yang menjadi bingkai lukisan hidup dirinya, memandang laut, ia merasakan gelombang itu bukan lagi seperti sahabat lama yang bermain-main dalam ayunan nan menggoda, gelombang itu telah menganggap Naha sebagai musuh lama yang saling bertikai dan berusaha saling menaklukkan.

“Apa kau akan pergi?” Odhea sedikit ragu Naha akan menjawab pertanyaannya, melihat suaminya hanya terpaku pada kesunyian dan kilauan laut yang sendu. Malam itu bulan tidak terlihat sempurna. Han kembali menggeliat dalam dekapan Odhea, ia meminta haknya untuk tidur sambil minum air susu milik ibunya. “Ah, Han kecil saja sudah merasa gelisah jika haknya tidak terpenuhi,” kata Odhea kepada dirinya sendiri sambil tersenyum memandangi Han dan kembali menyodorkan buah dadanya ke mulut Han.

“Aku tidak tahu, Odhea.” Naha menarik nafas. Ia keberatan terhadap dirinya sendiri dengan jawaban yang keluar dari mulutnya. Naha rasa, Odhea akan mengerti.

Pada sebatang pohon kelapa yang menjorok ke bibir pantai, aku berdiri di sana, saling merendengkan diri. Aku dan pohon kelapa itu seakan seperti teman lama dan sama-sama mengagumi kedalaman samudra serta kelembutan buih ombak yang mengalun dalam hiruk-pikuk angin dan karang-karang yang kedinginan. Saling bercerita tentang pengalaman masing-masing, membentang dalam rentangan takdir dan nasib manusia dalam tapak-tapak kehidupannya. Jejak sejarah itu selalu tersimpan dalam kepala dan hati, kedua fungsi tubuh itu saling membagi tugas dalam menyerap pengalaman dan pelajaran tentang kehidupan.

Lain saat, kami (aku dan pohon kelapa itu) malah lebih intim melebihi sepasang kekasih yang dimabukkan gelora birahi dan nafsu. Satu-satunya kesamaan kami kala itu adalah bahwa kami tidak sekejap pun meninggalkan bibir pantai sampai bulan meremang sinarannya.

“Kita sekarang menatap ruang samudra dan udara yang sama, memandang ke depan.”

Pohon kelapa itu diam, tapi lambaian nyiurnya mengisyaratkan kalau ia mengerti aku. Mengiyakan setiap kata-kata yang kuberikan kepadanya. Aku baru sadar pohon kelapa itu tidak terlalu tinggi karena batang nyiurnya sempat menjamah wajah dan pundakku seakan ia ingin merangkulku lebih rapat.

“Apakah kau kedinginan?” tanyaku lagi dan kali ini dengan nada lebih lembut. “Baiklah aku akan merapatkan tubuhku dan melingkarkan tangan kananku ke tubuhmu.”

Angin membantu pohon kelapaku itu untuk menerjemahkan setiap gerakan batangnya yang kasar untuk menjelaskan kepadaku supaya aku lekas mengerti akan bahasa tubuhnya.

“Baiklah, aku mengerti.” Aku diam. Dan dalam diamku yang lama itu, aku rasa kekosongan memberi kami rasa saling mengerti. Maka aku biarkan saja diriku tetap melingkarkan tanganku kepadanya. Aku rasa ia tahu kalau aku menyentuhnya dengan perasaan melebihi dari rasa sayang. Bukan nafsu, tidak, bukan birahi. Aku rasa itu adalah perasaan untuk saling melengkapi dan saling mengisi.

Di antara rasa diam kami, di rumah panggung milik nelayan yang gelisah itu dan sedikit menjauh ke bibir pantai, pemancing yang entah kenapa tetap memancing di sana meski senar kailnya tidak menunjukkan apa-apa kepadanya. Aku rasa waktu itu aku serupa dengan mereka, sama-sama menatap kedalaman samudra dan mendengarkan lembut ombak mengalun. Bukankah pantai selalu seperti itu? Bukankah laut selalu memiliki lagunya sendiri? Bagaimana mungkin manusia tidak tertarik untuk bersahabat dengannya, untuk menggaulinya, untuk masuk ke kedalamannya yang misteri? Ah, bukankah aku cukup bahagia di bibir pantai ini dan saling berbagi.

“Apapun yang terjadi kailku akan tetap serupa dan aku juga tidak lebih daripada diriku yang sekarang, seekor sembilang –sejenis ikan laut- ataupun seekor kepiting tidak akan membuat kailku dan keadaanku sekarang lebih daripada sebelum aku dan kailku menangkap sesuatu. Aku tidak ingin menangkap apa-apa. Kailku hanya sebagai alasan kenapa aku berada di sini. Karena sebenarnya, aku hanya ingin berada di sini saja. Bukankah itu menjelaskan keberadaanku? Tanpa kailku pun, aku akan tetap berada di sini, jika hanya kalau aku berkehendak seperti itu. Tapi sayangnya, aku menginginkan tetap menggenggam kailku sementara aku berada di sini sedikit lebih lama,” ucap pemancing itu. Aku tidak tahu, aku mendengarnya bicara tapi tidak kepada siapa-siapa. Seakan ia mengerti apa yang sedang kubicarakan. Lagipula, bukankah laut dan malam memang selalu menyimpan seribu macam keanehan, atau misteri. Bisa saja lebih dari seribu, dua ribu kah, tiga ribu kah, atau tak terhingga kah?

“Ketakterhinggaan adalah ketika kau memutuskan untuk tidak memiliki batasan. Batasan yang kau buat dengan sendirinya akan meniadakan ketakberhinggaan yang ingin kau ciptakan. Ketakterbatasan dirimu adalah dengan sendirinya menjadikan dirimu ketakterhinggaan. Ketika kau menciptakan sebuah ruang dalam rongga dirimu, kau memaksa mewujudkan keterbatasan dirimu menjadi ketakterhinggaan dan berharap rongga-rongga itu akan meniadakan keterbatasan menjadi ketakterbatasan. Garis-garis hayal dalam dirimu akan dengan sendirinya pupus karena dorongan ketakterbatasan itu. Ketika kau sudah tidak bisa mengukur sejauh mana ketakterbatasanmu karena sudah melampaui dirimu, kau meluaskan cakupan dirimu menjadi lebih jauh lagi. Ketakterhinggaan dirimu sekarang. Kau menjadi kosmos, kau menjadi tempat lahirnya bintang-bintang dan mengandung planet-planet yang menunggu untuk segera kau lahirkan dari dari rahim ketakterhinggaanmu. Ketika ketakterhinggaan pun sudah tak lagi sanggup kau ukur karena ketakterhinggaan pun semakin mengembangkan cakupan wilayahnya, kau semakin melesat di antara bintang-bintang dan planet-planet yang kau lahirkan. Kau bukan lagi siapa, kau bukan lagi apa. Aku rasa, kau bukan lagi apa-apa….” Naha meludah dan memalingkan pandangannya dariku.

“Apa badai akan segera datang?” Odhea kembali bertanya kepada Naha. Naha masih saja menatap keluar, menatap jauh ketika langit kelam menutupi cahaya bulan dan laut semakin gelap saja.

Dua sosok masih dilihat Naha di pinggir pantai. Satu merendam tubuhnya pada air dan gelombang dingin, satu lagi merapatkan dirinya pada sebatang pohon kelapa yang batangnya menjorok ke laut. Sementara angin semakin kencang, kedua orang itu masih saja asyik dengan diri mereka di sana. Entah apa yang mereka perbincangkan selain merasa sendiri dan kedinginan.

“Entahlah, Odhea,” akhirnya Naha bersuara, sedikit dipaksa untuk menekan kegelisahannya sendiri. “Tapi mungkin saja badai akan datang malam ini, mungkin ia juga rindu bertamu kemari.”

“Berarti kau belum juga melaut kalau begitu.”

“Badai dan perahu sudah menjadi darah dagingku sejak aku dalam kandungan, aku juga akan mengajarkan Han hal yang sama seperti yang kuketahui selama ini tentang laut dan tentang kedalamannya. Aku ingin ia bisa membaca langit dan mengeja bintang. Untuk menunjukkan kemana ia akan pulang kelak ketika tiba saatnya kita lepas langkah kakinya dari rumah ini. Kita tidak akan benar-benar bisa memiliki seorang anak laki-laki seutuhnya, ia akan pergi mengarungi nasibnya sendiri. Aku rasa, aku juga begitu. Jadi, kenapa aku harus bersedih kalau tiba saatnya ia harus mencari jatidirinya dikemudian hari.”

“Aku rasa badai memang akan datang malam ini juga. Dan awan hitam itu sudah bergemuruh dalam dadamu.” Bicara Odhea pelan, ia mengalihkan pandangannya kepada Han yang lelap memeluk buah dadanya. Naha tidak menoleh, ia lebih tertarik bergelut dengan dirinya sendiri.

Aku lihat pengembara lautan itu semakin tegas memandang ke kejauhan dan aku juga menyaksikan satu orang lagi menenggelamkan kakinya di pinggir pantai sambil memegang kail tapi tidak berharap apa-apa apakah hasilnya seekor ikan atau besi kail yang umpannya terkoyak. Dan aku sendiri tetap bingung melihat semuanya. Apakah aku akan tetap berdiri di sini merangkuli sebatang pohon kelapa, memandang dua orang yang berjauhan, atau aku pergi dengan resiko tetap menangung ketidakmengertianku sendiri.

Kekosongan itulah yang harus kutanggung kalau aku meninggalkan tempat ini, meninggalkannya atau memungginya, aku rasa itu tetap saja serupa. Aku rasa badai akan segera datang, tapi bukankah memang seharusnya seperti itu. Kehidupan selalu mengajarkan satu hal kepadaku, perubahan. Semua tidak akan pernah selalu terlihat sama persis, satu detik sekarang tidak sama dengan satu detik yang telah lalu dan dari satu detik yang akan datang setelahnya. Tidak akan pernah sama, semua berubah, aku berubah, kau berubah, kita berubah. Kalau begitu aku akan mencari atau menemukan seseorang untuk kuajak bersama mengarungi kehidupan yang akan mengatakan kepadaku kelak kalau aku telah berubah, bahwa ia telah berubah, bahwa kehidupan kami berubah, bahwa kehidupan mereka berubah, dan mengatakan bahwa dunia telah berubah. Apakah baik atau buruk, aku rasa biar sejarah saja yang memberitahuku nanti.

Ada suara tangis anak kecil meningkahi rambatan suara ombak, aku rasa ia juga merasa gamang malam ini, karena tangisannya mampu menembus sampai pada tempatku berdiri. Anak jaman, anak malam, anak waktu, anak sejarah, anak-anak… Ah, bahkan kelahiran mereka pun memiliki makna dan tempat sendiri-sendiri. Tidak meminta dilahirkan, tapi kelahirannya dinantikan orang-orang yang akan mencintai mereka, atau membunuh mereka. Apakah kekejian mereka kelak adalah juga kekejian yang kita pertontonkan kepada mereka sebelum mereka memahaminya. Aku rasa warisan itu sudah turun temurun, mendarah daging, bahkan menjadi teman karib bagi kebaikan. Aku pikir, kita memang menanamkan kedua sifat itu secara bersamaan, mengajarkan kebaikan untuk mengatakan kekejian adalah bukan bagian dari kebaikan. Mengingatkan kekejian kalau ia akan selalu menguntit dibelakang setiap kebaikan. Bahkan, bukankah kita juga terlalu biasa melakukan keduanya secara bersamaan.

Naha menggendong Han dalam dekapannya, menunjukkan cakrawala yang mengantung bintang-bintang sebagai titian arah bagi para pelaut dan bagi para pemberani, seperti dirinya, Naha ingin Han seperti dirinya yang menantang gelombang dan pulang dengan mengikuti arah yang digambarkan bintang kepadanya. Tadi Han bangun dan Naha membuainya, sekarang Odhea hanya menatap dua orang laki-laki yang masuk ke dalam kehidupannya, membingkai jendela dan mungkin mereka mengukir sejarahnya dalam waktu seperti itu, mengajarkan Han mengeja bintang-bintang.

Aku hanya penyaksi dari kejauhan, aku bukan bagian darinya, aku hanya bagian terpisah tapi merupakan satu bagian dengannya. Dan, mungkin saja, waktu merupakan perekat bagi kehidupan. Aku rasa, aku harus menemukan seseorang untuk menjadikan dirinya menjadi satu bagian dari kepingan lain dari diriku, atau menjadikan diriku menjadi kepingan dirinya, atau kami adalah kepingan-kepingan dari kehidupan. Tapi sebelum itu, aku harus menemukan seseorang itu. Jadi, kalau badai datang, mungkin aku akan menemukannya terdampar. Bisa saja ia yang menemukan terlebih dahulu.

Naha masih saja mengajarkan Han mengeja bintang, dan orang yang merendamkan dirinya dalam gelombang, ia juga hanya ingin mengasingkan dirinya sendiri. Dan aku, aku akan menemukan tempat tersendiri juga, dan aku akan menemukan seseorang pada akhirnya, hanya untuk membisikiku setiap malam kalau aku berubah, dia berubah, kami berubah, dan mereka berubah, hingga dunia berubah.

Jadi, kalau badai datang, biarkan saja ia datang. Ia juga salah satu indikator, kalau sesuatu tidak ada yang pernah sama. Dan jejak kakiku pada pasir putih itu… biarkan saja ia jadi sejarah yang mengisi kekosongan di belakangku. (kampung melayu20/031208/buat apr: sajak dari hati itu tidak akan pernah surut, kalau kau ingin tahu. Jika kau tidak tahu, setidaknya masih ada kertas dan kata-kata yang menemani. Aku hanya ingin kau tahu)

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »