Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Januari, 2009

could you?

Ditulis oleh permanas di/pada 30 Januari 2009

when Cupid see

one men and one women

he know what he want to do

he want make miracle

to put

two heart

to become one

like roses

with shadow

never separated

could you to beloved

could you?

cause

i do

tangerang/des’08/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Nyanyian Jangkrik

Ditulis oleh permanas di/pada 14 Januari 2009

Warung Mak Siti, warung yang berada di belakang pembuangan sampah itu, yang juga biasa dijadikan pangkalan pengamen, pemulung serta para tukang semir sepatu, berbaur dengan bau busuk menyengat. Gulungan asap dari pembakaran sampah menemani lalat yang beterbangan dimana-mana menjadi pemandangan biasa di sekeliling warung Mak Siti. Tapi, toh, mereka yang makan dan minum atau hanya sekedar mengobrol sambil menguyup kopi tak pernah merasa mengeluh. Pikir mereka di mana lagi bisa mendapat makanan murah meriah selain di warung Mak Siti, apalagi bagi mereka yang penghasilannya cuma dari sampah di sekitar sini.

Di sana Tole sengaja duduk di pojok, pikirannya melayang meninggalkan badan yang kurus, matanya lalu tertuju ke arah kerumunan para pemulung mengejar-ngejar truk sampah yang baru saja datang. Mereka berhamburan setelah sampah itu diturunkan, berlomba mengais rejeki di antara gundukan-gundukan sampah diujung sana.

“Persetan! Siapa yang peduli mengurusi perempuan itu,” kata Tole setelah membuang wajahnya dari kumpulan para pemulung. Sudah tiga hari ini Tole tidak menyentuh gitar bututnya, ia cuma bermalas-malasan di warung Mak Siti, ditemani segumpal awan hitam menggelayuti kepalanya. Andai saja waktu itu pak Sakir tidak bicara mengenai ibunya, orang yang selama ini tidak pernah ditemuinya, tiba-tiba muncul dari mulut pak Sakir.

Antara percaya dan tidak tentang omongan pak Sakir, Tole masih menimbang-nimbang. Benarkah ibunya yang diharapkan selama ini kehadirannya cuma seorang perempuan malam.

Sayangnya, Tole tidak punya ingatan apapun, Kadun, bapaknya sendiri tidak pernah bercerita apa-apa. Kali kemarin ketika Kadun pulang dalam keadaan mabuk, ia hanya bisa mengamuk dan mengoceh tidak karuan waktu ditanya Tole, benarkah kalau ibunya itu hanya wanita penghibur seperti yang dikatakan pak Sakir tempo hari. “Anak tidak tahu diuntung, jangan kau sebut-sebut perempuan itu lagi. Aku muak mendengarnya. Lagipula tahu apa si Sakir itu, mencampuri urusan orang,” bentak Kadun sambil melempar Tole dengan asbak rokok. Oleh karena itu Tole enggan pulang, satu-satunya tempat hanya warung Mak Siti dimana Tole biasa mangkal untuk sekedar singgah.

Mentari sepertinya sudah mulai malas senja ini dan ingin segera menarik selimut dari peraduan mega, karenanya membuat hari semakin merambat gelap. Lampu-lampu pijar di pinggir jalan mulai memperjelas cahayanya, bekerlipan laksana kunang-kunang berkerumun di antara sela-sela kegelapan.

Tole belum juga beranjak dari warung Mak Siti, remang cahaya membuatnya menjadi malas untuk bangun. Kalau sudah begitu dunia menjadi sempit untuk ditinggali, melihatnya saja sudah tidak karuan. Apa jadinya Tole malam ini, hanya ditemani nyamuk-nyamuk dan lalat-lalat keletihan mengitari kubangan sampah yang teronggok bersama bangkai seekor tikus buduk. Anak jalanan yang sudah menjadi tulang punggung trotoar itu masih melintasi lubang-lubang jalanan, menghitungi sampah yang beterbangan. Ceritanya menjadi angin lalu, terlupakan begitu saja seperti debu. Tak pernah menjadi perhatian.

Tak perlu lagi Tole memikirkan Kadun, bapaknya yang pecundang dan Jumirah, nama ibunya. Kesesakan hati sedikit terasa ringan, tak perlu lagi diingat. Mereka menertawakan nasibnya sendiri. Biar waktu sedikit bergulir dan orang-orang sibuk mencumbu mimpinya yang tak pernah sadar kenyataan ini membuat mereka terseret-seret.

Bila saja malam ini tak perlu terjadi, atau mungkin hidup ini sendiri tak perlu lagi berjalan, apakah Kadun dan Jumirah tak pernah menurunkannya ke dunia. “Ah, itu namanya menentang takdir,” pikir Tole di antara kesadarannya yang tinggal setengah itu. Tole berusaha bangkit meninggalkan tempat itu, biar sempoyongan ia tetap berjalan menelusuri lorong-lorong jalan.

Kelelahannya semakin menusuk jantung kehidupan dan tatapannya bertambah kosong, kian tak terarah. Ia kini bersandar di antara tembok-tembok tua yang menyambung dengan gerbang waktu, mengantarnya kepada sebuah mimpi. Langkah kaki yang gontai membawakan tubuh dekil dan penuh dengan luka-luka menganga, Tole cuma membiarkannya semakin membusuk. Melarikan diri dari kejaran ketidakpedulian yang mengantarnya kepada maut. Biar keringat membanjiri tubuh kumal, ia akan memberikan kebebasan dari jeruji-jeruji besi.

Biar saja malam semakin meninggi di atas sana dengan bulan yang bisu setelah hujan mengguyur hari ini. Tole tetap melangkahkan kakinya, tak peduli setan-setan memperhatikannya karena tidak ikut bergabung malam ini dan menari-nari di atas panggung tanpa cahaya dan tanpa pertunjukan. Tinggal keramaian dan ketidaktahuan mereka yang menyaksikan, dan dingin pun mulai menyelimuti keheningan, tak tahu apa lagi akan terjadi setelah ini.

Hanya Tole dan kesendiriannya malam ini disisa-sisa keheningan, di sudut tempat tidur dalam rumah bilik. Ia tahu, dan mungkin saja ia tidak tahu sama sekali, kalau kedua orang tuanya kini sudah pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Tole lalu mengabil gambar ibunya dari bawah tempat tidur. Potret itu seperti mendamaikan hati setiap ia gelisah.

“Ibu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu seperti dalam mimpi. Tidak, tidak, itu tidak akan terjadi malam ini. Tapi nanti, kelak aku ingin, kita tak akan pernah terpisahkan.” Tole membakar potret itu bersama angan-angannya.

“Perempuan memang cuma perempuan, dan wanita penghibur juga tetap seorang perempuan. Tapi ingat, ‘Le, dia itu tetap ibumu. Perempuan yang melahirkan kau ke dunia ini,” bilang Mak Siti tempo hari.

Tak sadar Tole membiarkan potret yang sudah terbakar itu jatuh ke atas kasur. Ia hanya menidurkan badannya yang kelelahan dan langsung dibuai mimpi-mimpi. Api sangat cepat merambat dan melahap apa saja yang dilewati. Dalam sekejap mata, rumah bilik itu sudah terbakar hangus. Membiarkan seorang anak tertidur selamanya. Tinggal suara jangkrik menembus kegelapan malam yang meninggalkan sebuah cerita menjadi kesunyian.***mei 2001.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

WAKTU

Ditulis oleh permanas di/pada 13 Januari 2009

Suatu petang, di warung dekat pinggir jalan, saya tengah duduk berbincang-bincang dengan mereka yang juga sedang menikmati kopi sorenya. Ternyata warung kopi ini dapat menyatukan berbagai macam orang dan pikiran-pikiran mereka, lihat saja, dari yang lehernya berdasi sampai dengan orang seperti saya yang hanya berkaus bolong di sana-sini. Yah, namanya juga pengangguran, walau masih berangka nol besar itu lebih beruntung ketimbang orang yang diturunkan dejaratnya tanpa keinginan dirinya. Karena itu adalah sebuah penyiksaan!

Riuh rendah tawa mereka mengikuti perbincangan tentang isu-isu hangat yang menjadi topik utama atau hanya banyolan ringan terlontar tanpa maksud menyindir siapa-siapa. Kekauan mencair begitu saja biarpun tak ada yang mengenal satu sama lain. Kepenatan setelah kerja menghilang begitu saja dan urat syaraf menjadi cukup kendur, dan saya sepertinya mendapat angin segar untuk mulai mencari-cari kawan yang dapat membantu saya mencarikan lowongan pekerjaan.

“Kopinya tambah, Pak,” kata orang disebelah saya yang sejak datang tadi tidak berkata-kata. Melamun sambil menghisap rokok kereteknya dalam-dalam. Orangnya cukup tua, karena itu rambutnya berselingan antara hitam dan putih serta pipinya agak mengendur seperti mengisahkan perjalanan hidupnya. Sejenak saya termenung memandangi orang itu, entahlah, rasanya saya tertarik begitu saja untuk tetap memperhatikannya. Orang itu langsung menyeruput kopi yang dipesannya setelah pelayan tadi menaruh kopi dihadapannya.

Sedikit demi sedikit keadaan bertambah ramai, maklumlah, sudah saatnya jam pulang kantor. Sementara matahari di atas sana mulai menarik sinarannya dari hamparan langit. Ah, senja ini cukup mendamaikan, tak peduli asap kendaraan dan debu menutupi pemandangan ini, atau lukisan wajah-wajah kelelahan yang memacu dirinya mengejar waktu. Betapa waktu menjadi sangat berharga bagi mereka dan saya hanya menyanggah dagu dan menonton mereka bergelut dengan putaran masa.

“Waktu itu bagaikan pisau, kawan. Kalau kau tidak menggunakannya dengan baik, kau akan terpotong-potong olehnya. Itu sama saja dengan bunuh diri dengan sangat perlahan, dan ketika sadar, kematian sudah akan menjemputmu. Ironis sekali, ironis sekali,” kata lelaki di seberang saya yang sedang berbincang-bincang dengan kawannya. Rasanya perkataan itu membuat saya merasa malu. Kenyataannya, sekarang saya hanya diam menunggu semata-mata kesempatan itu datang tanpa pernah berusaha. Tapi, kenapa mesti malu, bukankah ini hanya sementara sebelum saatnya datang. Sayangnya, semua itu sama saja.

Di sebelah saya orang tua itu masih duduk menghisap rokok dan menyeruput kopi pahitnya yang tinggal setengah. Tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam, matanya berkaca-kaca ingin menangis, seperti ada beban berat terpikul di pundaknya atau ada ganjalan yang menyumbat hatinya. Di kantungnya terselip sebuah bendulan jam terbuat dari perak yang sudah agak kusam. Oleh karena gelisah dengan waktu, saya memberanikan diri untuk menanyakan pukul berapa saat itu kepada orang tua tersebut.

“Maaf, Pak,” kata saya agak malu. “ jam berapa ya, sekarang?” tapi orang tua itu malah menatap saya dengan wajah semakin bingung. Ia lalu mengeluarkan jamnya yang sudah rongsok dan masih menatap saya penuh keanehan.

“Kau lihat saja sendiri,” jawab orang tua itu. Saya bingung, jam rusak kok diperlihatkan kepada saya. Tadinya saya mengira jam tersebut masih berfungsi dengan baik, tapi ternyata jarumnya saja berantakan tidak karuan.

“Lha, kok, jam rusak diperlihatkan kepada saya. Saya kan hanya mau menanyakan pukul berapa sekarang.”

“Iya, tadinya jam tersebut bekerja dengan baik sekali. Tapi karena dulu aku tak pernah menghiraukan waktu, sampai-sampai sekarang aku malah dibuatnya menjadi tua tanpa pernah menjadi apapun. Dan kemarahan memuncak hingga jam milikku satu-satunya yang berharga pun menjadi pecah berantakan karena membendung kemarahan,” jelasnya, lalu mengambil kembali jam bututnya yang tak terasa berada di tangan saya.

“Kemarahan siapa? Apa karena ketuaan yang sekarang ini Bapak menyimpan dendam mendalam kepada diri sendiri karena menyia-nyiakan waktu?”

“Kemarahan siapa? Aku marah pada diriku, kepada hidupku, kepada waktu yang membiarkanku menjadi tua dalam kesendirian dan tak berdaya menghadapi semua itu.” Orang tua itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang mulai berjatuhan. Kenapa tiba-tiba saya menjadi iba kepada orang tua itu, dan mengingatkan diri saya kalau saya juga belum berbuat sesuatu yang berguna dalam kehidupan ini, kehidupan saya sendiri. Apakah saya akan berakhir seperti orang tua di samping saya itu atau waktu akan memotong-motong saya seperti kata lelaki yang ada di seberang saya itu, benarkah demikian? Tampaknya batin saya mulai mempertanyakan kedudukan saya sendiri dan semakin memberontak.

“Engkau masih muda, jangan seperti aku menjadi tua tanpa pernah berbuat sesuatu. Waktu telah membunuh hidupku. Jangan kau lakukan kesalahan seperti yang pernah kuperbuat. Jalan kehidupanmu masih panjang untuk dilalui, kalau tak kau gunakan dengan semestinya, kaupun akan berakhir seperti diriku. Selamat tinggal,” kata orang tua itu lagi setelah menghabiskan kopi pahitnya dan berlalu begitu saja menelusuri pinggiran jalan.

Saya masih heran mengenai diri orang tua itu. Lantas apa saja yang dilakukannya selama ini sebelum waktu memakannya hidup-hidup. Kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga masa tua menjadi tidak berarti, yang seharusnya penuh dengan pengalaman hidup. Aneh memang, waktu memang aneh dalam memunculkan sesuatu, sehingga sayapun tak pernah mengerti apa waktu berjalan atau tidak, berjalan lambat atau cepat, tiba-tiba tanpa sadar saya telah tertinggal jauh dari orang-orang yang selalu bergelut dengan waktu

Saya pun pergi meninggalkan warung kopi itu, mengikuti jejak langkah senja dan mendengarkan suara-suara kesibukan yang masih terus berputar di pinggir jalan itu. Merenungi detik demi detik jarum jam yang tanpa lelah terus berputar. Sambil menelusuri jalan pulang dan sebatang rokok tetap menemani saya melangkahkan kaki dengan sedikit gundah dan selalu bertanya-tanya apa yang mesti saya lakukan.

Orang bijak selalu berkata kalau waktu adalah sejarah perjalanan hidup manusia, dan sejarah adalah perjanjian untuk mereka yang sudah mati, mereka yang masih hidup dan untuk mereka yang belum dilahirkan. Sejarah hidup saya adalah menunggu dengan sia-sia, dan orang tua itu mati dalam sejarah waktu. Saya masih menelusuri pingiran jalan itu, lewati lampu merkuri yang mulai menerangkan sinarannya, sementara hari mulai diselubingi gelap.

“Waktu, ya, waktu. Kenapa kau termenung? Kenapa kau berlari? Sementara aku meneriakkan waktu! Tak bosan aku meneriakkan waktu, dan waktu. Aku adalah waktu, kau adalah waktu, kita semua adalah waktu. Siapapun dapat menjadi Sang Waktu.” Tiba-tiba di persimpangan jalan yang saya lalui ada seorang gila yang meneriakkan isi dari selembar kertas kumal. Entah dari mana ia mendapatkannya. Orang gila saja dapat berbicara tentang waktu. Tapi saya? Ah, orang gila itu lebih beruntung. Hari semakin gelap dan adzan maghrib sudah berkumandang di mesjid-mesjid dan surau. Saya rasa semuanya sudah jelas sekarang.***Gg. Kresna –september 2001

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Amang Malang

Ditulis oleh permanas di/pada 8 Januari 2009

“Selamat pagi, Mawar. Selamat pagi, Kupu Mimi, Selamat Pagi, Tuan Kumbang,” kata Kancil pagi itu ketika ia sampai pada sebuah taman dengan kumpulan bunga-bunga yang indah. Ada si Pesolek Mawar yang melenggak-lenggok menggoda si Tuan Kumbang dan Kupu Mimi.

“Selamat pagi juga untukmu wahai, Kancil,” kata mereka serempak membalas ucapan si Kancil yang juga rupa-rupanya sedang bergembira. Terlebih si Pesolek Mawar.

“Terima kasih kembali,” jawab Kancil pula. “Wah, apa jadinya ya kalau di hutan ini tidak ada kalian semua. Pasti tidak akan pernah ada pagi secerah dan seindah ini,” lanjut Kancil.

“Ah, kau berkata jujur atau hanya menggoda saja, Kancil,” celoteh Mawar sambil senyum simpul.

“Iya, Kancil. Tidak biasanya kau bersikap seperti ini,” sambung Kupu Mimi lagi, sementara Tuan Kumbang sedang asyik masyuk menikmati sari madu kembang rerumputan yang juga ada di sana. Tentu, kembang-kembang itu menyambut gembira ketika Tuan Kumbang hinggap di antara kelopak-kelopak mereka yang bermandikan embun-embun dan siraman matahari pagi. Sorak sorai mereka pun tentu mengundang kumbang-kumbang lain untuk bergabung dengan si Tuan Kumbang.

Kemudian tiba-tiba Jalu hutan berkokok dengan nyaring untuk membangunkan mereka yang masih terlelap dalam tidurnya, dan suaranya menggema ke seleruh pelosok kampung hutan yang damai itu. Lain lagi dengan si Amang, penghuni pohon besar di samping kumpulan taman kembang-kembang itu. Ia tidak mempedulikan ajakan Jalu hutan untuk bangun dan menikmati pagi yang sangat cerah itu. Ketika yang lain sudah bangun dan ikut menikmati cahaya matahari, Amang malah kembali merebahkan tubuhnya pada dahan yang paling besar dan mulutnya menguap selebar gua di kaki gunung sana.

“Ah, dasar si Amang. Setiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan, apa dia tidak tahu ya, kalau hidup itu tidak hanya diisi dengan berlaku seperti itu,” kata Kancil lagi ketika ia menoleh ke pohon yang menjadi rumah si Amang.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Kancil,” rujuk Mawar. “Ia tidak seperti yang kau sangka, buktinya, setiap hari ia selalu memuji keindahan diriku ini.”

“Itu bagimu, bagiku tidak. Suatu hari ia akan merasakannya,” kata Kancil lagi. Setelah berkata demikian ia lalu pergi kembali masuk ke dalam hutan melewati semak yang masih basah.

Waktu si Kancil sedang asyik berjalan di pinggiran hutan sambil bersiul menikmati harinya yang cerah itu, ia dikejutkan oleh suara senapan. Suaranya sangat memekakan telinga. Kancil lalu bersembunyi dalam rerimbunan rumput. “Duar!!” sekali lagi suara senapan itu meletus membuat burung-burung kicau itu berhenti bernyanyi dan berhamburan menyelamatkan dirinya masing-masing. Maka, seketika saja hutan itu berubah menjadi hening. Sunyi, tidak ada gurauan tupai atau bajing yang biasa melintasi ranting-ranting, tidak ada lagi nyanyi kicau milik si Merdu yang biasa pagi sekali bernyanyi di ujung dedaunan.

“Apa yang terjadi, ya?” bisik Kancil dalam hati. Ia tidak tahu kalau dari balik pohon itu ada seorang pemburu masih bersembunyi  dan ia pun terkejut ketika orang itu sudah ada di belakang dirinya.

“Duar!” sekali lagi senapan itu meletus. Untung Kancil cukup sigap dan gesit. Kali ini nyawanya selamat, tembakan si pemburu itu meleset.

“Celaka, peluru itu hampir menembus dagingku,” pikir Kancil sambil berlari sekencangnya menabrak semua yang ada dihadapannya. “Aku harus memberitahu teman-teman agar mereka luput dari pemburu itu.”

Namun Kancil lupa sesuatu, ia meninggalkan jejak yang sangat jelas sekali. Oleh pemburu itu, jejak bekas Kancil diikutinya sampai kemanapun Kancil berhenti. Kancil kemudian kembali ke taman yang berada di dalam hutan. Pada saat itu Mawar si pesolek masih saja mengurusi wajahnya sambil senyum-senyum pada cermin embun. Sayang Kupu Mimi dan Tuan Kumbang sudah terbang jauh sekali, padahal ia ingin meminta bantuan untuk memberitahu kejadian itu pada teman-teman yang lain agar berhati-hati.

“Kenapa nafasmu tersengal, Kancil? Seperti kau habis dikejar oleh hantu rawa-rawa,” tanya Mawar setelah Kancil dekat dengannya.

“Ada pemburu, hampir saja peluru itu melumat tubuhku,” cerita Kancil.

“Untung kau selamat. Lantas apa yang akan kau perbuat?” tanya mawar lagi.

“Aku mau minta tolong kepada Kupu Mimi dan Tuan Kumbang untuk memberitahu kabar ini kepada teman-teman supaya berhati-hati. Sayang mereka sudah pergi semuanya.”

“Kau bisa memberitahu si Amang, ia kan masih tidur di sana,” kata Mawar sambil tangkainya menunjuk kepada si Amang yang pulas. Ia tidak tahu kalau bahaya tengah mengancamnya.

“Hai, Amang! Ayo bangunlah dan lekas bersembunyi,” teriak Kancil dari bawah pohon.

“Kau jangan ganggu tidurku, Kancil. Aku tahu itu hanya akal bulusmu saja, lebih baik kau ganggu saja yang lain. Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu,” kata Amang tidak peduli ucapan Kancil, malah ia membalikkan tubuhnya dan meneruskan tidurnya.

“Tapi kali ini aku sungguh-sungguh,” kata Kancil lagi mencoba meyakinkan amang. Sayang Amang tetap tidak mendengarkan. Amang kemudian menutup telinganya agar tidak mendengar suara Kancil lagi dari bawah.

“Duaaaarrr!!!” tiba-tiba sebuah letusan senapan kembali terdengar diiringi suara Amang yang kesakitan dan terjatuh dari pohon. Satu peluru menembus dadanya. Amang menatap Kancil sebentar, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi lalu menutup kedua matanya.

“Terlambat,” kata Kancil pelan. Ia sedih. Sekarang si Amang tidak ada lagi. Si pesolek Mawar segera menyuruh Kancil untuk lari dan sembunyi supaya tidak menjadi sasaran kedua bagi para pemburu.

Tak lama setelah itu, seorang pemburu keluar dari balik rerimbunan rumput-rumput dan mendapati si Amang sudah tergeletak di sana. Pemburu itu tersenyum kecil, meletakkan senjatanya dan mengikat si Amang untuk di bawa pulang dan memamerkan hasil buruannya itu kepada teman-temannya. Di matanya mengilat, merayakan kemenangan atas diri Amang. Setelahnya, bayangan pemburu itu hilang ditelan kesunyian.***

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »