Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Februari, 2009

Manusia

Ditulis oleh permanas di/pada 27 Februari 2009

Jadi apa yang membuat seseorang harus merangkak di bawah bayangannya sendiri, justru pada saat ia benar-benar sendirian. Kerinduan kah? Pencarian makna kah? Atau kesejatian? Lalu kenapa ia harus rela melepaskan semua yang ada pada dirinya, apakah kesia-siaan selama ini yang melingkungi, kebosanan yang terus saja menguntit. Ah, bayangan itu tidak pernah menguntit, bahkan ia adalah seorang kawan.

Apa yang kau bicarakan dalam kesendirian, dirimu kah? Orang-orang di sekitarmu kah? Orang-orang yang pernah dekat denganmu atau orang-orang yang telah pergi jauh melampaui masamu sendiri? Tentu saja aku membicarakan diriku ketika hanya kelengangan yang ada. Aku memang mencari ingatan tentang orang-orang di sekitarku, orang-orang yang pernah dekat dan orang-orang yang pergi dari kehidupanku. Kau tahu, sejarah itu berguna hanya ketika kita melihat kembali masa lalu. Tapi, bukankah memang itu fungsi sejarah, sebagai jendela untuk pergi ke masa lalu. Melihat orang-orang yang pernah ada yang mengukirkan tinta dari pena miliknya sendiri, dan menulis sejarah di sana.

Masing-masing kita menorehkan tinta sejarah dalam lembaran waktu, adakalanya lembaran itu saling menjalin satu dengan lainnya, adakalanya tidak pernah bersinggungan sama sekali. Ada saatnya waktumu dan waktuku bersentuhan, ada kalanya kau tidak pernah tahu siapa aku, bahkan aku tidak tahu siapa kau. Tapi sejarah tetap tertoreh di masing-masing lembaran. Sejarah waktumu dan sejarah hidupku. Kita hanya sebagian dari keseluruhan. Potongan yang jika disatukan akan mewujud menjadi sesuatu yang agung dan dahsyat.

Manusia ditakdirkan sendirian, ia harus menggeliat keluar dari keterasingan dirinya sendiri. Manusia juga ditakdirkan sebagai pemberontak. Sebagai pemberontak maka ia merobek-robek nasib yang digariskan untuknya, ia bisa merubah dan mengganti menurut pikirannya sendiri. Semesta berdiri di belakang manusia sehingga kehendak apapun akan dengan mudah terjadi melalui cara-cara yang tidak pernah dapat diduga-duga. Keberadaan adalah cara lain manusia membunuh kesendirian dan keterasingannya. Jadi, aku sendiri pun harus merangkak melewati bayanganku dan mencari keberadaan yang aku rasa, aku belum mampu menemukan kesejatiannya, dan menduga-duga, pada satu saat, manusia dan kemanusiaan bukanlah identik, bahkan bukan saudara kembar, dan tidak pernah manusiawi. Manusia pada satu sisi tertentu tidaklah manusiawi dan jauh dari rasa kemanusiaan. Dan di lain pihak, aku harus dipaksa benar-benar percaya, keberadaan manusia di bumilah yang tidak manusiawi. Dan harus tetap percaya, bahwa beradanya manusia di bumi adalah berarti beradanya ‘keberadaannya’.

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

PIKIR!

Ditulis oleh permanas di/pada 25 Februari 2009

Pagi yang cukup indah walau panas matahari sangat menyengat kulit, maklumlah, sekarang kan sudah musim kemarau. Jadi ya, sah-sah saja kalau matahari unjuk gigi, yang penting asal jangan unjuk rasa. Wah, bisa-bisa gelap total bumi kita kalau sampai matahari berunjuk rasa. Makanya jangan macam-macam sama alam –bukan Alam yang pelantun ‘Mbah Dukun’ itu lho maksud saya- jangan bisanya hanya memanfaatkan dan merusak saja bisanya, iya toh!

Coba bayangkan kalau langit ini menangis tersedu-sedu dan menjerit sekeras-kerasnya, membuat kita ketakutan dan merasa kita tidak dapat berbuat apa pun selain menatap rumah kita terendam air mata langit yang meluap karena tidak mau berhenti menangisnya menatap hutan-hutan yang gundul cepak seperti bocah lima tahun digunduli lantaran banyak koreng di setiap bagian kepalanya, hehehehe, masa sih bisa seperti itu?

“Lho, bisa saja! Apa sih yang tidak mungkin terjadi di dunia ini?” kata Abah Kirman, tiba-tiba saja ia datang sambil memegang segelas kopi hitam di tangan kanannya dan di sela-sela jari hitamnya terselip sebatang rokok kretek yang tinggal setengah dihisap mulut berbibir tebal itu.

Abah Kirman lalu ikut duduk di sebelah saya yang waktu itu pun sedang asyik menyeruput kopi pagi dan menghisap rokok kretek juga di atas bale-bale depan rumah, sambil menatapi kekaguman keelokan alam raya dan burung-burung ‘emprit’ (burung gereja) terbang bergerombol menghampiri para petani yang sedang memanen hasil jerih payahnya. Lantas burung itu pergi begitu saja sehabis petani-petani itu selesai memanen padinya, gembala kerbau dan kerbaunya yang sama-sama kurus karena stok rumput dan beras menipis di bumi yang katanya subur ini. Sungguh sangat kontras sekali.

“Sruuuuttt!” langsung saja lamunan saya terganggu oleh suara mulut Abah Kirman yang menyeruput kopinya dengan semangat juang itu, maklumlah, Abah Kirman pada jaman dahulu adalah seorang pejuang yang sangat gigih mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu jalannya agak pincang, kakinya yang sebelah kanan tertembus peluru tentara Belanda, untung saja Letnan Sujono menolong dan membawa Abah Kirman ke tempat aman yang jauh dari medan pertempuran setelah akhirnya Letnan Sujono pun gugur dalam pertempuran itu. Sayang, Abah Kirman tidak tahu di mana Letnan Sujono di makamkan.

Dentuman meriam dan bredelan suara senapan mesin milik Belanda itu masih sangat jelas di dalam ingatan Abah Kirman dan mungkin ia akamn masih tetap ingat jasa-jasa Letnan Sujono yang telah menyelamatkannya. Berbagai pertempuran telah dilewatinya, pengalaman-pengalaman pahit dan manis telah direguknya, sekarang ia hanya tinggal menjadi saksi sejarah yang telah terlupakan. Tenggelam dalam lautan sunyi. Kosong.

Saya jadi teringat sesuatu, waktu itu saya tengah duduk di sebuah bus kota jurusan Blok M duduk bagian belakang sebelah pojok kanan, di dalam sebuah bus itu sudah ada yang menunggui seorang pengamen, ia mengenakan kaos berwarna merah gombrong dan bercelana jeans biru langit, memegang sebuah gitar biasa, tapi di bagian depannya ada gambar elang menyorot tajam. Setelah penumpang penuh dan bus memasuki areal jalan tol, barulah pengamen itu membawakan lagunya, ia membawakan lagu berjudul ‘Dust In The Wind’. Wah saya terkesima sekali saat itu, habis suaranya itu lho, mendayu-dayu seperti angin sepoi di pinggir laut.

Pasa saat melantunkan lirik yang berbunyi ‘All we are dust in the wind…. Al we are dust in the wind’, saya sempat berpikir, apa iya ya, kita semua cuma debu di dalam angin. Sebegitu ekstremnya ya? Tak apalah, namanya juga hanya sebuah lagu, yang penting cukup terhibur. Iya ndak?

Dan, pada saat membawakan lagu yang kedua, dia menyanyikan lagu barat lagi, saya pikir mana lagu Indonesianya ya, weleeh…. yo uwis lah, kebanyakan mikir nanti malah tambah ruwet kepala saya. Saya pernah mendengar lagunya, tapi tidak tahu apa judulnya, pasti yang penggemar klasik rock pada tahu semua, apalagi yang suka mendengar radio di M 97 FM (kalau tidak salah sekarang menjadi 95.1 FM deh sebelum ada penertiban gelombang radio) itu yang khusus membawakan lagu-lagu rock era 60 -80 an, kalau saya tidak salah lho ya. Begini lho liriknya –moga-moga tidak salah lagi- ‘If you leaving, close the door, i’m not expecting men here anymore’, selebihnya samar-samar karena suara bus yang menggema di dalam mobil, dan tiba-tiba, ‘When the blind men cry….’ kemudian hilang lagi sampai lagu itu selesai, dan terus mengeluarkan kantong permen dari bagian belakang celana jeansnya, mengedarkan kepada setiap penumpang dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas uang yang disumbangkannya. Setelah keluar dari pintu tol, ia langsung turun untuk kemudian mengejar-ngejar bus lainnya dan mungkin menyanyikan lagu yang sama lagi di sana.

Padahal, sebelum naik bus itu, di terminal Bekasi, saya sempat mengobrol sebentar dengan seseorang yang biasa diam di terminal tersebut, ia juga terbiasa menjadi ‘timer’ bus-bus yang ‘ngetem’ di terminal Bekasi. Sudah tujuh bulan katanya ia bekerja seperti itu, meski dalam hati ingin segera berhenti dari pekerjaan itu. Tapi dia sempat berpikir lagi ingin bekerja apa, sedangkan mencari kerja di jaman sekarang sungguh! Sangat sulit. Ia saja di PHK dari pekerjaannya yang tujuh bulan lalu di tinggalkannya karena alasan pengurangan pegawai. Waduh! Kacau. Lha, saya saja masih nganggur alias tidak punya pekerjaan. Hehehehehe, bener, enggak bo’ong, suer.

Tapi, ya sudahlah, mau dikata apalagi, memang negara sekarang sedang susah. Asal masih bisa makan, bisa merokok, kumpul sama keluarga, itu juga masih bisa menghilangkan ganjalan hati. Asal tidak makan hati.

“Kenapa tidak mau, bukannya makan hati itu baik untuk menambah darah, menambah kesehatan tubuh. Biar tetap segar dan tidak loyo, seperti kamu yang kurus kering,” kata Abah Kirman. Lah ini, makanya jangan salah dengar biar jangan salah paham.
“Kalau itu memang benar, Bah. Tapi yang saya sedang pikirkan bukan itu,” jawab saya sedikit kesal.

“Memang apa yang sedang kau pikirkan? Hidup ini bukan cuma untuk dipikirkan, nikmati saja hidupmu itu. Sudah, jangan pikirkan yang macam-macam atau kau memang sedang memikirkan yang macam-macam.”

“Apa saya sedang terlihat berpikir yang macam-macam?”

“”Oalaaah, nduk, nduk…,” kata Abah Kirman sambil menggelengkan kepalanya lantas berdiri dan pergi meninggalkan saya yang masih terlihat sedikit ndumel itu. Sebenarnya saya tidak kesal, apa yang mesti dikesalkan ya? Mungkin biasalah, dalam menghadapi orang tua seperti Abah Kirman, kakek-kakek berumur 80 tahunan itu dan tampaknya masih terlihat cukup sehat meskipun pendengarannta mulai berkurang dan pikirannya kembali seperti anak kecil –tapi tidak juga ah, seperti yang saya rasakan.-

Dulu Abah Kirman lama tinggal di Klaten, walau ia sendiri berawal dari Jawa Barat, dan sekarang ia menetap di daerah pinggiran kita Jakarta. Kalau saya, wah hubungan saya dengan Abah Kirman saja saya tidak tahu harus mulai dari mana. Pokoknya sulitlah untuk dijelaskan. Turun-temurun, beranak-pinak, turunan lagi, nah, turunan yang setelah turunan itulah mungkin posisi saya bila ditilik dari sudut Abah Kirman. Hehehehe, susah apa ndak? Saya sendiri saja bingung.

“Apanya yang bingung? Tertawa kok sendiri-sendiri, mbok ya, bagi-bagi gitu lho, biar tidak disangka kurang waras,” sambung Iman yang waktu itu tidak sengaja lewat di depan saya dan tengah cengengesan sendirian. Masa sih, saya sudah tidak waras lagi.

“Apa iya, saya sudah gika?”

“Ya, ndak juga.”

“Masa sih?”

“Buktinya kamu menanyakan kepada saya.”

“Lha, bukannya sampeyan yang tadi bilang saya begitu?”

“Lha, masa juga sih, apa iya begitu?”

“Weleh, weleh, weleh….,” kata saya yang nyerocos seperti Si Komo itu yang kalau ia lewat jalanan pasti macet. Untungnya saya bukan Si Komo, jadi tidak perlu membuat jalan sampai macet panjang. Tapi, apa iya, jalan-jalan masih suka macet.

Syukur si Iman itu sudah cepat menyingkir dari hadapan saya, kalau tidak, waaduh, ya, tidak apa-apa juga sih. Memangnya mau saya apakan si Iman itu, tidak baik berbuat kasar apalagi terhadap teman, terlebih terhadap saudara sendiri. Ya, kalau ingin hidup nyaman, enak, damai, tentram, harus bisa begitu. Jangan bisanya dikit-dikit sikut, pukul, jotos. Pantas saja, banyak yang bilang negara kita negara yang garang dan ganas. Yang bilang siapa ya. Untung saya orangnya sangat kalem dan lembut, hehehehe.
Matahari tambah tinggi di atas angkasa, tepat di atas bumi kita, yang kata para ilmuwan dan pengamat lingkungan, ozon di atas atsmosfer kita sudah ‘bolong’ karenapolutan di bumi kita meningkat. Kalau saja langit bisa ditambal, pikir saya, pasti cukup mudah untuk memperbaikinya, iya.

“Nah kan, kamu berpikir yang macam-macam lagi, ingat ini dunia nyata bukan impian yang ada di kepalamu itu, yang kosong seperti tong kosong karena kebanyakan bengong,” kata Abah Kirman dan itu membuatku sedikit kaget. Lha, datangnya saja tiba-tiba, seakan seperti malaikat maut yang datang untuk menjemput, bahkan ia sendiri yang pantas dijemputnnya.

Benar kita tidak punya kekuatan apa-apa di alam semesta ini, seperti kita bergantung pada akar yang lapuk, atau seperti di bawah naungan yang hampa. Meskipun sekarang alam cukup ramah untuk didekati dan kita dapat bercumbu dengannya, tapi bukan mustahil suatu saat ia akan menunjukkan kekuatannya.kalau sudah begitu, kita tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa dan terus berdoa.

“Sekarang, ayo kita makan. Ayo, jangan terlalu banyak berhayal,itu kurang baik,” kata Abah lagi dan menyadarkanku dari lamunan yang berkepanjangan.

“Ayolah, kalau begitu, mumpung masih bisa makan, hehehehehe….”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Cuma Senja di Pantai

Ditulis oleh permanas di/pada 20 Februari 2009

“Kamu bilang Pak Har itu orangnya galak dan cuek ya, Din?” tanya Tiar ketika mereka asyik berjalan di lorong sekolah mereka.

“Aku cuma bilang kalau Pak Har itu orangnya tidak bisa diajak bicara.”

“Aku rasa, dia orangnya enak. Di kelas juga bisa mengajak teman-teman enjoy dengan mata pelajarannya.”

“Tetap saja aku pada pendirianku. Aku benci dia.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Tapi aku tidak peduli kalau dia itu guru kita atau bukan, tiba-tiba saja aku benci kepadanya,” jawab Dina dan mereka pun telah sampai di depan kelas mereka.

Seperti biasa, pada pukul tujuh lewat lima belas menit bel tanda pejaran dimulai berbunyi, beberapa siswa yang masih di luar segera saja masuk ke kelas masing-masing. Lilian, Hengky, Danu, Ria dan Neni datang belakangan setelah Pak Har tiba lebih dulu dari mereka.

“Kenapa kalian terlambat?” tanya Pak Har tenang dan berwibawa, tapi tetap dengan senyum yang bersahaja.

“Macet, Pak. Jadi lama deh di mobil,” jawab Lilian cepat dan sedikit manja.

“Iya, Pak,” serempak mereka membenarkan jawaban Lilian.

“Soalnya, tadi di jalan ada kecelakaan, Pak. Itu juga yang membuat kami jadi terlambat,” jelas Hengky yang sedikit kurus dan jerawat memenuhi wajahnya.

“Begitu?” tanya Pak Har kembali.

“Ya, begitulah, Pak. Jadi, sekarang kami boleh duduk nih, Pak?” tanya Hengky lagi.

“Baiklah. Kalian boleh duduk. Tapi ingat, jangan terulang lagi.”

“Itu pun kalau besok tidak ada yang tabrakan lagi, Pak,” sambung Ria.

“Huuuuuu….!” teriak yang lainnya sampai ruangan kelas mereka menjadi ramai.

***

Dear diary, tulis Dina, sekarang hujan turun, aku rasa gerimisnya mungkin sama dengan perasaanku kepada Pak Har. Aku memang benci kepadanya, setidaknya itu kukatakan kepada teman-teman. Aku berbohong. Haaaaah, semakin dalam aku menarik nafas semakin aku merasa bersalah kepada Pak Har. Waktu sebelum aku mengatakan kalau aku suka kepadanya. Aku malu, itulah kejujuranku. Ya, aku mengatakan kalau aku suka kepada Pak Har. Sebelum aku mengatakan aku suka kepadanya, sikapnya selalu baik dan ramah, ia bisa menjadi tempatku untuk bicara dan mungkin mencoba untuk tersenyum kalau hatiku sedang tidak enak. Di rumah, selain kamar dan kau, diary, tidak ada yang dapat bicara kepadaku. Dinding itu pengap, warna-warnanya hampa dan lantainya tak dapat digunakan untuk menari. Karena itu aku hanya merebahkan diriku sendiri dan bicara dengan kau. Entah aku tersenyum atau menangis karena aku…. Kesepiankah aku? Ah, Pak Har, baginya aku hanya remaja yang menjadi muridnya, tidak lebih dan aku tidak bisa mengharapkan lebih dari yang bisa diberikannya kepadaku dan kepada murid-muridnya yang lain. Diary, here is my own self.

Dina lalu menutup buku itu dan menaruhnya di bawah kasurnya, merebahkan diri kembali menatap pagu kamar. Tidak ada yang dapat ditemukan di sana.

“Kesepiankah aku, Cermin?” tanyanya sedikit memelas, “Aku tidak terlalu buruk, biar tidak cantik. Semua orang senang padaku, aku juga menyenangi mereka. Tapi, Pak Har itu, kalau sehari saja aku tidak bicara dengannya, aku akan menjadi kesepian. Ah, terlalu kekanak-kanakan,” lanjut Dina lagi dan kemudian menghempaskan cermin itu jauh dari dirinya.

Lampu kamar dimatikan dan tubuh Dina hanya terdampar pada pembaringan, mencoba bermimpi. Atau membuat mimpi itu dicoba menjadi seperti kenyataan. Ah, betapa bodohnya, mimpi seperti apa yang bisa dibuat layaknya kenyataan. Biar nyata, itu subyektif. Tapi, Dina tetap bermimpi. Dalam samar gelap kamarnya, bibir yang sedang tersenyum itu tidak dibuat-buat. Sekarang Dina sedang membuat mimpinya sendiri, rasanya bukan mimpi buruk

***

“Iya, tapi kenapa harus Pak Har sih, Din?” tanya Tiar heran ketika Dina memberitahu kalau dirinya suka kepada Pak Har dan ia telah mengatakannya kepada Pak Har. “Din, dia itukan guru kita,” lanjut Tiar.

“Iya, aku tahu,”jawab Dina sambil ceberut dan kesal.

“Tapi kenapa harus Pak Har sih, memangnya cowok-cowok di sekolah ini tidak ada yang kamu sukai?”

“Itulah masalahnya, aku rasa ada beberapa cowok yang suka terhadapku. Tapi aku lebih suka kepada Pak Har, Tiar.”

“Lantas?”

“Ternyata perasaan Pak Har tidak sama dengan apa yang kurasakan, ia menganggap aku sama dengan murid-murid lainnya. Perhatiannya tidak lebih sebagai guru, pembimbing dan orang tua, atau sebagai apalah. Aku tidak peduli. Karena itu sekarang aku jadi membencinya, Tiar.”

“Oooo, jadi itu penyebabnya, aku mengerti sekarang. Berarti kamu yang salah tanggap dan salah mengenai Pak Har, Din. Tapi, tidak ada yang salah, semua memang terjadi begitu saja, tapi….”

“Apa seharusnya aku minta maaf akan tindakan itu?”

“Aku rasa tidak perlu, bukan berarti pula Pak Har tidak memaafkan. Tanpa diminta pun ia akan tetap memafkan.”

“Kenapa?”

“Aduh, Dina, karena ia guru kita, orang tua kita, pembimbing kita.”

“tapi aku akan tetap minta maaf, tapi aku juga tetap benci kepadanya.”

“Haaaah, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Din. Cinta dan benci, aku rasa itu hampir tidak ada bedanya. Sudahlah, aku ingin ke kelas sekarang,” kata Tiar dan meninggalkan Dina duduk sendiri di bangku kantin yang juga mulai sepi

***

Pukul dua sore Dina baru pulang dari sekolah, namun, ketika sampai di dalam, ia merasakan kembali apa yang dirasakan olehnya setiap saat di rumah itu. Ia hanya menuju kamar yang baginya sendiri lebih sempit dari ruangan penjara di mana pun di dunia. Sesak sekali perasaannya. Dina melihat ke luar, awan-awan yang sejak tadi mengikuti langkahnya dan berat karena apa yang dikandungnya. Sekarang awan itu memuntahkan apa yang dikandungnya, hujan turun dengan deras, baginya awan itu lebih beruntung dapat menumpahkan segala isi hatinya kapan dan di mana pun, sekehendak hatinya ia berteriak dan kilat menjelmakannya.

Setelah hujan turun, Dina keluar dari rumah dengan wajah yang tampak lebih murung dari biasanya, tidak tahu apakah hujan itu sama dengan perasaannya, sama ketika hujan saat ia tuliskan pada garis-garis buku di diarynya. Nyatanya ia hanya mengikuti kehendak langkahnya dan membiarkan berjalan sendiri tanpa ia akan tahu akan berhenti di mana. Satu-satunya yang ia tahu, ketika sampai di rumah tadi, mendapati ruang-ruang begitu kosong, lengang, hari ini seharusnya menjadi hari ceria dan menyenangkan, tawa dan senyum seharusnya juga melukis pada wajah Dina yang sekarang tampak murung.

“Seperti hari-hari biasa, cuma aku dan bayanganku sendiri, biar dunia ini penuh sesak, memang itu yang dapat kulalui sekarang,” kata Dina pelan. Ia mencoba menghibur hatinya saja sambil terus melangkah keluar meninggalkan rumah besar bercat putih di belakangnya, dan merasa tak perlu ia harus menoleh ke belakang.

“Taksi!” cegat Dina di pinggir jalan. “Pantai, Pak,” kata Dina pelan dan taksi itu pun melaju mengikuti suara yang membisikinya tanpa pernah berkata-kata lagi.

Dalam taksi itu Dina kembali diam memandangi kelebatan-kelebatan yang lewat dari celah jendela, atau ia menatap kilatan-kilatan pikirannya sendiri yang mengawang semakin jauh meninggalkan dirinya. Sekarang pun ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh dirinya sendiri. Dina hanya merasa lengang dalam hatinya.

“Sudah sampai, Non,” kata supir taksi. Dina sedikit kaget dan menghentakkan kepalannya pelan, mengumpulkan kesadaran dirinya. Membayar ongkos taksi dan ketika keluar segera udara lembab menerpa Dina. Laut itu masih sangat mendung cakrawalanya, tapi sedikit bulatan matahari mencoba merobeknya sampai saat senja di kaki langit.

Ia kembali berjalan menyusuri pinggiran pantai, meski pada saat itu pantai terlalu sepi. Dina tidak peduli. Ombak sedikit bergulung di pantai dan mengejar kaki Dina, ia tidak mengelak, membiarkan gelombang itu melumat kaki dan sepatunya hingga basah. Riak gelombang itu seperti tampak gembira ketika menyentuh kaki Dina, maka kembali ia menawarkan senyumnya untuk dibalas.

***

“Senja yang indah ini tidak baik jika dinikmati seorang diri,” kata seseorang tiba-tiba ketika Dina duduk pada bangku taman yang menghadap ke pantai dan laut sedang menunggu senja lelap dalam panggkuan cakrawala. “Boleh saya duduk?” tanyanya lagi.

“Silahkan,” kata Dina datar dan tidak menghiraukan.

“Senja hampir hilang, langit mendung dan sekarang tampaknya saya juga duduk di sebelah dewi yang sedang murung. Tapi, eh, apa benar nama kamu Dewi?” tanyanya lagi. Kata-katanya yang terakhir ternyata bisa membuat Dina sedikit tersenyum, biar berusaha ditutupi, tapi lesung pipinya tidak dapat menyembunyikan senyuman itu.

“Bukan,” akhirnya dijawab pula oleh Dina.

“Kalau begitu, siapakah tuan puteri sesungguhnya, sementara hamba yang bernama Jaka yang hina dina ini memberanikan diri untuk bertanya.”

“Namaku Dina dan aku bukan tuan puteri yang sedang kau cari, pengelana yang bernama Jaka.”

“Setidaknya aku bisa membuatmu tersenyum, bukan?”

“Gombal.”

“Tetap saja kau tersenyum. Eh, dengar, apa bangku ini ada yang menunggu selain aku?”

“Kenapa?”

“Soalnya, kalau tidak ada yang menunggu berarti beruntung pulalah. Dan tidak enak melihat senja tenggelam seorang diri. Tidak dapat berbagi cerita.”

“Memang apa yang dapat kau ceritakan?”

“Memang kau mau mendengar cerita apa?”

“Bisanya hanya mengganggu.”

“Aku tidak sedang mengganggu siapa-siapa. Aku hanya sedang menunggu seseorang. Setidaknya aku ikuti kata mimpiku, biar mereka bilang aku bodoh.”

“Siapa yang bilang kau bodoh?”

“Ah, kau tak perlu tahu.”

“Siapa yang kau tunggu?”

“Seseorang, tepat seperti sekarang. Eh, tunggu dulu, jangan-jangan…, jangan-jangan aku sudah bertemu.”

“Apa yang kau temui?”

“kamu. Kau sendiri?”

“Aku juga sudah menemukannya sejak tadi.”

“Waaaaaaahhh?!”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Rasa sebuah ’rasa’

Ditulis oleh permanas di/pada 19 Februari 2009

Setajam apakah perasaan yang kita miliki selama ini, apakah itu mampu membuatmu merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati, pada saat tertentu memang mampu menggugah dan kemungkinan besar merubah paradigma kita tentang kehidupan, bahkan tentang diri kita sendiri. Dan antipati membuat dinding dari batu bata keangkuhan dan kesombongan secara terus menerus. Bagaimana kita merasakan rasa sebuah ’rasa’? Saya kira lidah-lidah nalar kita membiarkan kita belajar menemukan atau merasakan sendiri, tanpa ada satu panduan apapun di tangan!

Bagaimana rasa itu bisa menjelma dalam cecapan kehidupan kita, melalui pengalaman seseorang diajar menempa dirinya, membentuk dirinya. Rasa pahit dan getir yang diajar kehidupan mampu membuat seseorang bisa lebih memaknai diri yang mewujud dalam sikap sabar dan tenang, bahkan lebih bijaksana dalam menanggapi situasi yang dihadapi. Rasa manis dan senang yang diberikan kehidupan juga mampu membuat siapa saja bahagia dengan apa yang diraihnya. Pun tak jarang kedua rasa tersebut, pahit atau manis dalam merasakan kehidupan, tetap bisa menimbulkan sisi negatifnya, tergantung seseorang itu mampu atau tidak mengendalikan perasaannya.

Rasa getir dalam menjalani kehidupan, bisa saja membuat kita menjadi gelap mata dengan mengambil jalam pintas yang serba instan, misal, karena tekanan kehidupan yang berat, terutama ekonomi, membuat seseorang terjerumus dalam dunia kejahatan dan menjadi pelaku dan fungsi kejahatan. Entah itu pencurian, penjarahan, perampokan, atau lebih dahsyat lagi, melakukan manipulasi dan korupsi! Pun tak jarang, rasa bahagia atau kesenangan hidup bila kita telah meraihnya tidak luput dari sikap gelap mata, superior, merasa dirinya adalah yang paling baik, sombong, congkak. Jadi, rasa sebuah ’rasa’ itu memang sangat individu sekali, ketika kita mencicipi sebuah makanan dari piring yang sama, bisa saja menimbulkan rasa berlainan dari masing-masing orang tergantung ketajaman dan keluasan pengalamannya dalam mengungkapkan sebuah ’rasa’ tersebut. Lha, bisa saja kan, baso yang berada pada tangan Anda ketika saya cicipi saya katakan, ”Baso ini kok rasanya manis sekali ya.” Lha, padahal baso yang ada di tangan Anda sesungguhnya berasa pedas dan gurih menurut pencecapan lidah Anda. Persepsi pribadi memang sangat membingungkan, apalagi bila berhadapan dengan persepsi publik. Lha, kadang-kadang saya sendiri bingung dengan persepsi ’rasa’ saya sendiri, apalagi kalau saya menanggapi persepsi Anda.

Mungkin dengan cara inilah sebuah tenggang rasa dimunculkan, ia hadir sebagai penengah dan peredam dari berbagai macam persepsi dari milyaran penduduk bumi yang kadang, saya rasa, ’rasa’ yang aneh menurut penalaran saya. Bagaimana persepsi Anda tentang dunia? Jutaan persepsi akan lahir dari jutaan orang yang Anda tanyai tentang dunia, bahkan mungkin, Anda pun akan mempertahankan persepsi Anda tentang dunia dibanding persepsi orang-orang yang Anda tanyai. Lha, pasti saya pun akan mempertahankan argumen saya tentang dunia, kalau Anda mempertanyakannya kepada saya, selama persepsi saya benar menurut saya tentang dunia yang anda tanyakan itu. Jadi, apapun persepsi sebuah ’rasa’, rasakan sendiri, pertentangkan sendiri, dan temukan jawaban dari pertentangan itu. Dan pasti persepsi itu akan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditentangkan kepadanya. Dan ’rasa’ apapun yang anda rasakan hanya persepsi anda sendiri yang akan memberitahu rasa tersebut. Selamat mencicipi.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sang Penari

Ditulis oleh permanas di/pada 19 Februari 2009

Samar, dari kejauhan terdengar suara genta memecah kesunyian yang membungkus malam. Di balik kehampaan jiwa yang mencari perlindungan, seorang perempuan tengah berdiri sambil menggerakkan tangannya perlahan dan dengan lembut mengitari kegelapan mengikuti suara genta ditabuh. Ia menari menangisi nasib tapi tidak merengek menjatuhkan diri dan menghentak bongkahan tanah, cuma air mata menerangi wajah pucat di antara riasan-riasan yang meluntur.

Warna-warna kelam melekat di tubuh gemulai. Genta itu masih mengiringi gerakan kesedihan, atau tarian tanpa alur cerita. Hanya kebisuankah untuk melewati malam ini atau makna-makna asing yang jauh dari pemahamankah ingin dijelaskan. Mungkinkah kata-kata tak dapat mengungkapkan bahasa gerak yang menginginkan pengertian kalau ia mencoba bicara. Dengar, adakah suara berbisik di tengah kesunyian ini, tidakkah ada yang mendengar. Ah, diri ini pun mempertanyakannya.

Tak ada suara, tak ada gerak, genta ini berhenti ditabuh. Perempuan yang menari di atas kesedihannya, ia tersungkur, lumpuh, sejenak dentingan dawai kecapi mengisi kekosongan dan membiarkan genta itu terlupakan dan nyanyian mengganti gerak yang tertunda, menyairkan jelmaan suara hati, bukan kesunyian yang dilewati atau makna-makna yang tak dapat dijelaskan. Kata-kata itu dapat mengerti bahasa gerak. Bukan bisikan yang tersurat, tapi suara-suara penuh pertanyaan meminta jawab.

Kenapa di samping perempuan itu pohon-pohon menggugurkan daunnya sementara ini adalah musim bersemi yang seharusnya menghadirkan aneka macam bunga untuk digunakan pada prosesi upacara ritual. Ranting mengering, kuncup-kuncup terkulai layu dan mati, menggagalkan mimpi kalau yang terjadi bukanlah tarian keceriaan penuh senda gurau. Ke mana kesendirian ini harus dipercayakan untuk ditentang atau dicintai, ke mana mesti meminta jawab.

“Perempuan, katakan kalau kesedihanmu itu bukan beban, tarianmu bukan kegelisahan dan nyanyimu bukan kata-kata yang tak didengar, karena masih ada yang ingin melindungimu.”

“Engkau, kesedihanku adalah untuk membuang beban, tarianku adalah belahan jiwaku dan nyanyiku adalah memang kata-kata yang ingin didengar, dan aku membutuhkan seorang pelindung.”

“Perempuan, air matamu bak permata tak terpermanai harganya, engkau adalah penari dan gerakanmu selalu sarat makna. Ungkapkanlah sebuah syair untukku malam ini.”

“Oh, Rembulan, mestikah aku mengadu kepadamu kalau aku ini hanyalah makhluk lemah hingga lidahku pun merasa kelu untuk mengatakan kalimat-kalimat keindahan. Jiwaku selalu rapuh setiap topeng-topeng hayalan menggerogoti kepolosanku sebagai seorang perempuan.”

“Perempuan, tanpa itu semua engkau sendiri adalah sesuatu yang sangat berharga, pertanyaan hatimu, carilah jawabnya tatkala engkau dalam kesendirian. Biarlah ini menjadi rahasia kita.”

“Engkau, malam tanpamu pun tak mempunyai arti lebih. Lewat naungan cahaya ini aku menari untukmu walau sepi menjadi pengiringku.”

Penari yang menari dalam gelap dan mencintai sunyi tak dapat dipahami kecuali ada yang menuntunnya. Kenapa rembulan dapat mencairkan hati batu perempuan penari itu sementara ada tangan-tangan yang ingin menariknya dari sana dan mendakwa rembulan telah merampasnya dari kehidupan nyata. Lewat tarian perempuan itu, menyangkal kalau rembulan menjadi terhukum, bukan hanya langit yang bersedih dan ancamannya adalah tak ada keindahan di setiap malam tanpa dirinya. Ia bergerak dengan pelan namun memiliki kekuatan.

Rasakan kekuatan gaib tarian-tarian yang selalu hadir dalam setiap sendi-sendi kehidupan, mantra-mantra, iringan tabuhan genta dan gendang, gerakan pun semakin cepat mengundang ruh-ruh untuk bergabung menikmati tarian penyambut kedatangan dan pengantar kepergian. Siapa yang dirasuki tak pernah sadar kalau tarian ini memiliki kekuatan. Pemangsa dan mangsa menjadi judul dari semuanya tatkala malam menyeret gelap sebagai sekutu dan menyembahkan tumbal untuk perjamuan ruh-ruh yang kehilangan jiwanya. Tarian tetap ada untuk mengabarkan kegelisahan serta ketakutan mereka. Syair diperdengarkan, membuat jernih raut muka dan bangkit dari kesadaran.

Kerincing yang terikat di kaki penari itu menggetak-getakkan tirai kabut menyelubungi mata hati mengibaskan badannya mengusir kabut yang semakin menutup penglihatan. Sebatang kayu kering mulai membawanya menghindari ketersesatan mencari jalan lurus dari kebutaannya meraba serakan daun-daun kering terhampar di tanah. Bertanya-tanya dalam dirinya apa yang mesti dilakukan bila semua berhenti bergerak dan berdentang untuk dijadikan petunjuk sementara cahaya redup pun tak ada dari penglihatan. Hilang begitu saja tanpa jejak. Ia berhenti menari, mengingkari janjinya kepada rembulan, untuk menanyakan kepada waktu di mana tempatnya berada saat ini yang tenggelam dalam kebimbangan mencari jati diri.

“Suatu waktu, terkadang kegelisahan bukanlah keadaan yang mesti dikhawatirkan, malah mungkin mulai timbul kesadaran. Perempuan yang bertanya pada dirinya sendiri selalu mencari ketenangan antara ketidakseimbangan yang melemahkan dirinya dan menguatkan jiwa dari kerapuhan. Orang menjadi kuat karena belajar dari kesalahan serta memahami kekurangannya. Engkau pun seharusnya demikian, dapat belajar dari pengalaman yang diberikan oleh kehidupan.” Tiba-tiba lantunan syair menyelinap ke dalam telinga. Tak ada rupa. Hanya suara sayup tertangkap dalam keterbatasan jarak pandang.

“Rembulan, engkaukah itu? Aku hanya seorang penari, apa yang mesti aku ketahui sementara sebagian orang menganggapku buruk dan hina. Haruskan aku menari untuk mengiringi kematianku sendiri dan mengubur dalam-dalam jelmaan makna dalam gerakan tubuh untuk membungkam kata-kata yang tak sempat terungkap lidah. Mengangkat gerakan dan mengunci mulut adalah kematian pikiran yang jatuhnya sama saja. Untuk apa hidup itu sendiri dalam keadaan demikian?”

“Hidup bukanlah untuk main-main. Hidup adalah apa yang membuat kehidupan menjadi hidup. Hidup tidak bisa mengikat gerakan tapi membebaskannya, juga bukan mengunci mulut rapat-rapat untuk mematikan pikiran. Tapi gerakan dan kata-kata menyatu dalam kehidupan dan itu membuat semuanya menjadi tampak lebih hidup. Tarian melengkapi alur dan gerak menjadi indah agar kehidupan ini tidak menjadi statis. Kau seharusnya merasa bangga dengan dirimu.”

Semilir angin menyingkapi kabut-kabut tebal menjadi tetesan embun dan menempeli daun-daun yang berserakan di tanah. Kesejukan mulai terasa dalam kebimbangan, perempuan itu mulai menggerakkan tangannya kembali dengan penuh rasa bebas pengungkapan jiwa-jiwa tertawan yang mencari perlindungan di bawah cahaya rembulan. Bayangan keindahan memenuhi janji dalam tarian penyambut keberkahan.

“O, Rembulan, gerakanku adalah gambaran cahayamu membelah diriku seperti daun yang diterobos oleh sinaranmu ketika malam. Tak lagi diri ini gundah mengiringi tarian kematian sekaligus kelahiran, karena kau menemani.”

Suara-suara sunyi itu semakin samar terdengar dan berubah menjadi hening, dari kejauhan tak tampak apa pun juga, hanya pohon-pohon kering mematung di sana. Semua lenyap ditelan kegelapan yang masih misteri. Waktu berjalan mundur melewati apa yang telah dilalui untuk dipertanyakan lagi.***permanas/gang kresna/2001

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Nina dan Burung Liar

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Februari 2009

“Bu,” kata Nina pelan waktu ia dalam pelukan ibunya pada pembaringan yang cuma beralaskan tikar lusuh dan plastik kumal. Rumah mereka ada di pinggiran pembuangan sampah, begitu juga teman-teman Nina yang lainnya. Malam itu hanya gubuk milik mereka yang lampu minyaknya masih menyala.

“Iya, Nina,” jawab Ibu Nina dengan belaian lembutnya mengusap rambut Nina.

“Benarkah kalau burung yang liar dapat terbang bebas sekehendak hatinya? Biar tubuhnya kurus tap ia lebih bahagia daripada burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung,” sambung Nina lagi, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat ibunya tersenyum.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tadi siang Nina lihat burung Pakde Nur sepertinya merasa kesepian dan iri waktu beberapa burung pipit hinggap pada gundukan sampah dan melahap serpihan makanan dengan riang bersama teman-temannya. Nyanyinya merdu, tidak seperti burung Pakde Nur. Ia menatapnya dengan sedih.”

“Apakah ia benar-benar merasa sedih dan kesepian? Tapi kalau kau ingin tahu apakah burung yang bebas dan liar itu lebih bahagia, tentunya ia akan merasa bahagia kalau ia ingin. Begitu pula dengan burung kicau milik Pakde Nur.”

“Bagaimana dengan kita sendiri, Bu?”

“Kita pun akan berlaku serupa seandainya kita ada bersama-sama dengan mereka.”

“Tapi Nina akan lebih senang menjadi burung kurus dan liar itu.”

“Lalu?”

“Nina akan terbang dan hinggap di mana pun yang Nina suka dan senangi, asal itu membuat Nina senang.”

“Kalau begitu kau akan menjadi seperti apa yang kau inginkan.”

“Dan Nina akan membawa ibu serta dan menunjukkan tempat yang paling indah yang pernah kita datangi.”

“Tentu ibu akan bersamamu.”

“Tapi, mungkinkah ada tempat seperti itu, Bu?”

“Tempat seperti apa yang kau maksud?”

“Tempat di mana kita bisa merasa bahagia dan ceria, tidak ada kesedihan-kesedihan dan air mata, tidak ada pertengkaran. Rumah kita pasti akan penuh dengan tumbuhan dan kembang-kembang lalu kita akan undang banyak kupu-kupu dan kumbang untuk bergabung bersama kita. Membagi kebahagiaan itu bukankah hal yang paling indah kan, Bu”

“Itu memang suatu keindahan tersendiri. Tetapi tahukah kamu kalau keindahan adalah keindahan itu sendiri. Kau juga pasti tahu tentang nyanyi burung liar itu, Nina. Kau juga harus ingat, burung yang terbang tinggi itu bukanlah untuk bersenang-senang melainkan ia juga tetap mencoba bertahan hidup. Maka dilawannyalah angin yang kencang di atas sana. Ia tahu, kalau ia lemah pasti tidak akan mampu bertahan dari kehidupannya.”

“Lalu apa yang akan dilakukannya?”

“Ia akan terus berjuang untuk tetap hidup.”

“Apakah kita akan mampu bertahan, Bu?”

“Kita pasti akan mampu melewati semua ini, Nina, asal kita yakin terlebih dulu kalau kita mampu mengalahkan semua ini,” jawab ibu Nina. Setelah itu ia menyuruh Nina segera tidur karena pagi nanti masih banyak yang harus dikerjakan oleh mereka berdua.

Esoknya, seperti biasa, Nina bersama ibunya mencari kardus bekas, botol plastik atau besi tua yang dapat mereka temukan pada kumpulan sampah yang terhampar di sekitar pembuangan sampah. Sekali lagi Nina melihat kumpulan burung liar itu kembali hinggap pada pelupuk matanya. Burung-burung itu kembali mencari serangga yang bersembunyi di balik sampah-sampah yang membusuk. Nina semakin jauh dari ibunya yang terus saja memperhatikan mobil truk yang mengangkut sampah dan di belakangnya banyak sekali pemulung menguntit, padahal mobil itupun belum berhenti memuntahkan muatannya.

Dan tahu-tahu saja Nina sudah sampai di depan rumah Pakde Nur, pemilik rumah timbangan yang membayar hasil yang didapat oleh para pemulung di sekitar pembuangan sampah itu, termasuk ibunya. Nina melihat Pakde Nur masih saja memperhatikan burung kesayangannya ketika Nina semakin mendekat ke arah Pakde Nur, Nina sekarang berdiri di belakangnya, ia memperhatikan juga apa yang tengah diperhatikan Pakde Nur.

“Seandainya saja ia dapat terbang bebas,” kata Nina tiba-tiba tanpa sengaja. Pakde Nur sedikit kaget mendengar suara Nina dan tidak menyangka kalau sejak tadi Nina berada di belakang dirinya. Pakde Nur tersenyum mendengar suara Nina yang polos itu.

“Kenapa kamu ingin seperti itu, Nina?” tanya Pakde Nur sambil tangannya mengusap kepala Nina, tapi Nina masih saja memperhatikan burung yang tergantung pada sebuah tiang bersama sangkarnya yang terbuat dari kayu dan bercat emas, berkilau bermandikan cahaya matahari.

“Nina lebih senang kalau ia dapat terbang bebas,kalau ia masih terkurung ia akan bersedih karena kedua sayapnya tidak berguna untuk membawanya ke tempat-tempat yang dapat membuatnya senang,” jawab Nina.

“Darimana kamu tahu kalau burung milik Pakde itu senang atau tidak senang, padahal Pakde menyediakan sangkar yang bagus dan makanan yang banyak untuk dirinya. Tentu saja menurut pakde ia lebih senang, karena di luar sana kan banyak pemangsa yang dapat menerkamnya, sedang di dalam sana ia akan terlindungi.”

“Kalau begitu, kedua sayap miliknya tidak akan berguna, meski ia punya bulu-bulu yang indah pada tubuhnya,” jawab Nina lagi.

“Hahaha, Nina…, Nina,” kata Pakde Nur tertawa pelan dan hangat. Pakde Nur lalu berjongkok dekat Nina dan tetap memperhatikan burung yang tergantung itu bersama Nina. “Apa kamu menyarankan Pakde untuk melepaskan burung itu?” lanjut Pakde Nur.

“Itu kata Pakde, tapi kalau seandainya begitu, apakah Pakde mau melepasnya?”

“Entahlah. Tapi apakah itu akan membuat kamu senang seandainya Pakde melepasnya agar ia dapat menikmati alam bebas yang seharusnya memang dia berada di sana?” tanya Pakde lagi.

“Tentu akan senang, asal pakde juga merasa senang dengan apa yang Pakde lakukan.”

“Hahahahaha…., ah, Nina, Nina. Tahu tidak, sebenarnya Pakde juga merasa kasihan dengan burung itu. Tapi, baiklah, Pakde akan melepasnya kalau itu dapat membuat kamu senang. Mungkin burung itu akan berterima kasih kepadamu, Nina,” kata Pakde Nur sambil menuju arah tiang yang menggantung sangkar burung miliknya lalu menurunkannya. “Tapi pakde ingin kamu yang melepasnya. Kamu mau kan?”

“Benarkah, Pakde?”

“Tentu, Nina. Justru itu yang membuat Pakde senang bila kamu yang melepasnya. Sekarang ambillah sangkar ini dan lepaskanlah burung itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan, burung itu mungkin akan berterima kasih padamu,” kata Pakde Nur lagi sambil menyerahkan sangkar itu kepada Nina.

“Terima kasih, Pakde,” kata Nina. Ia lalu mengeluarkan burung itu. “Sekarang kebebasanlah milikmu, wahai burung, sekarang terbanglah sesukamu dan pergilah ke tempat-tempat yang indah. Tentu kamu akan menyukainya ketimbang sangkar ini,” sambung Nina lagi.

Maka, terbanglah burung itu, semakin tinggi dan terus semakin tinggi meninggalkan Nina dan Pakde Nur di bawahnya untuk dapat menemukan tempat-tempat yang indah dan menyenangkan seperti apa yang telah disuruh Nina kepadanya. Nina terus berlalu mengikuti arah burung itu terbang. Ia terus saja berlari berusaha mengejar.

“Terima kasih, Pakde Nur!” teriak Nina dari jauh setelah burung itu terbang semakin tinggi sambil melambaikan tangannya kepada Pakde Nur. Pakde Nur hanya tertawa dan ia pun membalas lambaian tangan Nina.

“Hahaha…. Yah, burung itu mungkin akan lebih senang menjadi bebas ketimbang terkurung,” kata Pakde Nur pelan setelah Nina hilang dari pandangannya dan bayangannya tenggelam di antara gundukan-gundukan sampah itu.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »