“Kamu bilang Pak Har itu orangnya galak dan cuek ya, Din?” tanya Tiar ketika mereka asyik berjalan di lorong sekolah mereka.
“Aku cuma bilang kalau Pak Har itu orangnya tidak bisa diajak bicara.”
“Aku rasa, dia orangnya enak. Di kelas juga bisa mengajak teman-teman enjoy dengan mata pelajarannya.”
“Tetap saja aku pada pendirianku. Aku benci dia.”
“Kenapa?”
“Entahlah. Tapi aku tidak peduli kalau dia itu guru kita atau bukan, tiba-tiba saja aku benci kepadanya,” jawab Dina dan mereka pun telah sampai di depan kelas mereka.
Seperti biasa, pada pukul tujuh lewat lima belas menit bel tanda pejaran dimulai berbunyi, beberapa siswa yang masih di luar segera saja masuk ke kelas masing-masing. Lilian, Hengky, Danu, Ria dan Neni datang belakangan setelah Pak Har tiba lebih dulu dari mereka.
“Kenapa kalian terlambat?” tanya Pak Har tenang dan berwibawa, tapi tetap dengan senyum yang bersahaja.
“Macet, Pak. Jadi lama deh di mobil,” jawab Lilian cepat dan sedikit manja.
“Iya, Pak,” serempak mereka membenarkan jawaban Lilian.
“Soalnya, tadi di jalan ada kecelakaan, Pak. Itu juga yang membuat kami jadi terlambat,” jelas Hengky yang sedikit kurus dan jerawat memenuhi wajahnya.
“Begitu?” tanya Pak Har kembali.
“Ya, begitulah, Pak. Jadi, sekarang kami boleh duduk nih, Pak?” tanya Hengky lagi.
“Baiklah. Kalian boleh duduk. Tapi ingat, jangan terulang lagi.”
“Itu pun kalau besok tidak ada yang tabrakan lagi, Pak,” sambung Ria.
“Huuuuuu….!” teriak yang lainnya sampai ruangan kelas mereka menjadi ramai.
***
Dear diary, tulis Dina, sekarang hujan turun, aku rasa gerimisnya mungkin sama dengan perasaanku kepada Pak Har. Aku memang benci kepadanya, setidaknya itu kukatakan kepada teman-teman. Aku berbohong. Haaaaah, semakin dalam aku menarik nafas semakin aku merasa bersalah kepada Pak Har. Waktu sebelum aku mengatakan kalau aku suka kepadanya. Aku malu, itulah kejujuranku. Ya, aku mengatakan kalau aku suka kepada Pak Har. Sebelum aku mengatakan aku suka kepadanya, sikapnya selalu baik dan ramah, ia bisa menjadi tempatku untuk bicara dan mungkin mencoba untuk tersenyum kalau hatiku sedang tidak enak. Di rumah, selain kamar dan kau, diary, tidak ada yang dapat bicara kepadaku. Dinding itu pengap, warna-warnanya hampa dan lantainya tak dapat digunakan untuk menari. Karena itu aku hanya merebahkan diriku sendiri dan bicara dengan kau. Entah aku tersenyum atau menangis karena aku…. Kesepiankah aku? Ah, Pak Har, baginya aku hanya remaja yang menjadi muridnya, tidak lebih dan aku tidak bisa mengharapkan lebih dari yang bisa diberikannya kepadaku dan kepada murid-muridnya yang lain. Diary, here is my own self.
Dina lalu menutup buku itu dan menaruhnya di bawah kasurnya, merebahkan diri kembali menatap pagu kamar. Tidak ada yang dapat ditemukan di sana.
“Kesepiankah aku, Cermin?” tanyanya sedikit memelas, “Aku tidak terlalu buruk, biar tidak cantik. Semua orang senang padaku, aku juga menyenangi mereka. Tapi, Pak Har itu, kalau sehari saja aku tidak bicara dengannya, aku akan menjadi kesepian. Ah, terlalu kekanak-kanakan,” lanjut Dina lagi dan kemudian menghempaskan cermin itu jauh dari dirinya.
Lampu kamar dimatikan dan tubuh Dina hanya terdampar pada pembaringan, mencoba bermimpi. Atau membuat mimpi itu dicoba menjadi seperti kenyataan. Ah, betapa bodohnya, mimpi seperti apa yang bisa dibuat layaknya kenyataan. Biar nyata, itu subyektif. Tapi, Dina tetap bermimpi. Dalam samar gelap kamarnya, bibir yang sedang tersenyum itu tidak dibuat-buat. Sekarang Dina sedang membuat mimpinya sendiri, rasanya bukan mimpi buruk
***
“Iya, tapi kenapa harus Pak Har sih, Din?” tanya Tiar heran ketika Dina memberitahu kalau dirinya suka kepada Pak Har dan ia telah mengatakannya kepada Pak Har. “Din, dia itukan guru kita,” lanjut Tiar.
“Iya, aku tahu,”jawab Dina sambil ceberut dan kesal.
“Tapi kenapa harus Pak Har sih, memangnya cowok-cowok di sekolah ini tidak ada yang kamu sukai?”
“Itulah masalahnya, aku rasa ada beberapa cowok yang suka terhadapku. Tapi aku lebih suka kepada Pak Har, Tiar.”
“Lantas?”
“Ternyata perasaan Pak Har tidak sama dengan apa yang kurasakan, ia menganggap aku sama dengan murid-murid lainnya. Perhatiannya tidak lebih sebagai guru, pembimbing dan orang tua, atau sebagai apalah. Aku tidak peduli. Karena itu sekarang aku jadi membencinya, Tiar.”
“Oooo, jadi itu penyebabnya, aku mengerti sekarang. Berarti kamu yang salah tanggap dan salah mengenai Pak Har, Din. Tapi, tidak ada yang salah, semua memang terjadi begitu saja, tapi….”
“Apa seharusnya aku minta maaf akan tindakan itu?”
“Aku rasa tidak perlu, bukan berarti pula Pak Har tidak memaafkan. Tanpa diminta pun ia akan tetap memafkan.”
“Kenapa?”
“Aduh, Dina, karena ia guru kita, orang tua kita, pembimbing kita.”
“tapi aku akan tetap minta maaf, tapi aku juga tetap benci kepadanya.”
“Haaaah, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Din. Cinta dan benci, aku rasa itu hampir tidak ada bedanya. Sudahlah, aku ingin ke kelas sekarang,” kata Tiar dan meninggalkan Dina duduk sendiri di bangku kantin yang juga mulai sepi
***
Pukul dua sore Dina baru pulang dari sekolah, namun, ketika sampai di dalam, ia merasakan kembali apa yang dirasakan olehnya setiap saat di rumah itu. Ia hanya menuju kamar yang baginya sendiri lebih sempit dari ruangan penjara di mana pun di dunia. Sesak sekali perasaannya. Dina melihat ke luar, awan-awan yang sejak tadi mengikuti langkahnya dan berat karena apa yang dikandungnya. Sekarang awan itu memuntahkan apa yang dikandungnya, hujan turun dengan deras, baginya awan itu lebih beruntung dapat menumpahkan segala isi hatinya kapan dan di mana pun, sekehendak hatinya ia berteriak dan kilat menjelmakannya.
Setelah hujan turun, Dina keluar dari rumah dengan wajah yang tampak lebih murung dari biasanya, tidak tahu apakah hujan itu sama dengan perasaannya, sama ketika hujan saat ia tuliskan pada garis-garis buku di diarynya. Nyatanya ia hanya mengikuti kehendak langkahnya dan membiarkan berjalan sendiri tanpa ia akan tahu akan berhenti di mana. Satu-satunya yang ia tahu, ketika sampai di rumah tadi, mendapati ruang-ruang begitu kosong, lengang, hari ini seharusnya menjadi hari ceria dan menyenangkan, tawa dan senyum seharusnya juga melukis pada wajah Dina yang sekarang tampak murung.
“Seperti hari-hari biasa, cuma aku dan bayanganku sendiri, biar dunia ini penuh sesak, memang itu yang dapat kulalui sekarang,” kata Dina pelan. Ia mencoba menghibur hatinya saja sambil terus melangkah keluar meninggalkan rumah besar bercat putih di belakangnya, dan merasa tak perlu ia harus menoleh ke belakang.
“Taksi!” cegat Dina di pinggir jalan. “Pantai, Pak,” kata Dina pelan dan taksi itu pun melaju mengikuti suara yang membisikinya tanpa pernah berkata-kata lagi.
Dalam taksi itu Dina kembali diam memandangi kelebatan-kelebatan yang lewat dari celah jendela, atau ia menatap kilatan-kilatan pikirannya sendiri yang mengawang semakin jauh meninggalkan dirinya. Sekarang pun ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh dirinya sendiri. Dina hanya merasa lengang dalam hatinya.
“Sudah sampai, Non,” kata supir taksi. Dina sedikit kaget dan menghentakkan kepalannya pelan, mengumpulkan kesadaran dirinya. Membayar ongkos taksi dan ketika keluar segera udara lembab menerpa Dina. Laut itu masih sangat mendung cakrawalanya, tapi sedikit bulatan matahari mencoba merobeknya sampai saat senja di kaki langit.
Ia kembali berjalan menyusuri pinggiran pantai, meski pada saat itu pantai terlalu sepi. Dina tidak peduli. Ombak sedikit bergulung di pantai dan mengejar kaki Dina, ia tidak mengelak, membiarkan gelombang itu melumat kaki dan sepatunya hingga basah. Riak gelombang itu seperti tampak gembira ketika menyentuh kaki Dina, maka kembali ia menawarkan senyumnya untuk dibalas.
***
“Senja yang indah ini tidak baik jika dinikmati seorang diri,” kata seseorang tiba-tiba ketika Dina duduk pada bangku taman yang menghadap ke pantai dan laut sedang menunggu senja lelap dalam panggkuan cakrawala. “Boleh saya duduk?” tanyanya lagi.
“Silahkan,” kata Dina datar dan tidak menghiraukan.
“Senja hampir hilang, langit mendung dan sekarang tampaknya saya juga duduk di sebelah dewi yang sedang murung. Tapi, eh, apa benar nama kamu Dewi?” tanyanya lagi. Kata-katanya yang terakhir ternyata bisa membuat Dina sedikit tersenyum, biar berusaha ditutupi, tapi lesung pipinya tidak dapat menyembunyikan senyuman itu.
“Bukan,” akhirnya dijawab pula oleh Dina.
“Kalau begitu, siapakah tuan puteri sesungguhnya, sementara hamba yang bernama Jaka yang hina dina ini memberanikan diri untuk bertanya.”
“Namaku Dina dan aku bukan tuan puteri yang sedang kau cari, pengelana yang bernama Jaka.”
“Setidaknya aku bisa membuatmu tersenyum, bukan?”
“Gombal.”
“Tetap saja kau tersenyum. Eh, dengar, apa bangku ini ada yang menunggu selain aku?”
“Kenapa?”
“Soalnya, kalau tidak ada yang menunggu berarti beruntung pulalah. Dan tidak enak melihat senja tenggelam seorang diri. Tidak dapat berbagi cerita.”
“Memang apa yang dapat kau ceritakan?”
“Memang kau mau mendengar cerita apa?”
“Bisanya hanya mengganggu.”
“Aku tidak sedang mengganggu siapa-siapa. Aku hanya sedang menunggu seseorang. Setidaknya aku ikuti kata mimpiku, biar mereka bilang aku bodoh.”
“Siapa yang bilang kau bodoh?”
“Ah, kau tak perlu tahu.”
“Siapa yang kau tunggu?”
“Seseorang, tepat seperti sekarang. Eh, tunggu dulu, jangan-jangan…, jangan-jangan aku sudah bertemu.”
“Apa yang kau temui?”
“kamu. Kau sendiri?”
“Aku juga sudah menemukannya sejak tadi.”
“Waaaaaaahhh?!”