Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Maret, 2009

Ular dan Gagak

Ditulis oleh permanas di/pada 23 Maret 2009

Hari sabtu kemarin petang, ketika saya sedang bersantai menikmati sore yang tenang sambil meminum kopi dan membaca, tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh tamu tak diundang, tamu itu berwujud seekor ular. Meski pun hanya seekor ular kebun yang tidak berbahaya, ia tetap seekor ular. Untungnya kali ini ia sedang tidak ingin apa-apa, mungkin hanya sekedar lewat saja barangkali. Maka dengan rasa berteman, saya mengambil sapu lantai, tidak, bukan untuk memukulnya, tetapi dengan lembut saya mengarahkan si ular itu untuk kembali saja ke kebun karena percuma ia tidak akan menemukan apa-apa di tempat beradanya saya. Saya melakukan seprofesional mungkin seperti yang dilakukan dalam film-film dokumenter, jika kita melakukan kelembutan dengan lingkungan liar di sekitar kita, tentunya ia akan bertindak ramah, sepertinya hukum rimba tersebut masih berlaku di tempat saya yang notabenenya hampir sedikit sekali tanah terbuka dan rumput bisa tumbuh dengan sahaja. Ular itu tidak berbalik untuk berusaha menggigit saya, sebaliknya ia mengikuti arahan saya dengan berjalan kembali ke dalam semak-semak dekat rumah saya. Posisi saya, kaki saya dan ular itu tidak lebih dari setengah meter, jadi betapa dekatnya jika ia ingin menggigit saya, tapi tidak dilakukannya. Ular itu lebih memilih berdamai dengan lingkungannya dengan tidak melakukan kekasaran dan kebrutalan yang tidak perlu, yang jika saja ia lakukan bisa mengakibatkan nyawanya melayang secara sia-sia.

Saya jadi tersenyum sendiri, bernafas lega ketika ular itu kembali masuk ke dalam semak-semak. Untung ia bertemu dengan saya, pikir saya ketika itu, jika tidak, bisa saja kebrutalan atas dirinya dapat terjadi dan membuat dirinya kehilangan nyawa. Saya teringat ayah saya sendiri, ketika melihat sosok ular ia langsung mencari pentungan dan berusaha membunuh ular itu sebagai tamu tak diundang yang bisa membahayakan seluruh anggota keluarga. Untung saja, pikiran saya menolak melakukan pembunuhan itu. Saya lebih memilih untuk membiarkannya tetap lepas di alam dan menjadi salah satu rantai yang tidak hilang secara paksa dalam kehidupan. Saya pikir lagi, binatang ya tetap binatang dengan naluri binatang, yaitu untuk bertahan hidup dan meneruskan generasinya. Saya akhirnya mengerti kenapa kita harus menjaga lingkungan tetap lestari dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan, karena ia juga milik jutaan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi ini.

Sementara pada hari minggu sorenya, ketika saya juga sedang santai mendengarkan musik kesenangan saya, menjelang maghrib, tiba-tiba saja seekor burung gagak besar dan hitam hinggap pada palangan kayu tepat di atas kepala saya. Ya, kami saling menatap, gagak itu seakan tidak takut kepada saya, malah ia mencoba mengukur ketakutan saya kepadanya dengan tetap menatap saya dengan tajam. Akhirnya saya memberanikan diri, mencoba menggapainya, bukan untuk menangkapnya. Saya julurkan tangan saya sebagai ungkapan persahabatan, pada mulanya, ia agak enggan saya dekati, semakin dekat, ia menggigit tangan saya, ternyata tidak sakit, atau ia melakukannya dengan tidak seluruh kekuatannya, saya rasa gigitan itu sebagai ungkapan kepercayaannya kepada saya dan membalas rasa persahabatan saya kepadanya.

Lalu saya berusaha meraih kepalanya, ia masih menggigit jari-jari saya, sebagai sikap protes atas tindakan saya yang melampaui batas kepatutannya kepada gagak tersebut. Beberapa kali saya coba, dan beberapa kali ia menggigit, ia menyerah. Saya berhasil mengelus kepalanya, dan ia ternyata mengeti kalau saya tidak berusaha menangkapnya melainkan mencoba memberi saling rasa pengertian antara saya dengan dia. Jadi ia diam saja ketika saya memeriksa bagian tubuh lainnya, ini saya lakukan, apakah ia bertindak mendekati saya untuk meminta bantuan saya karena ia mengalami luka atau ia hanya sekedar menyapa saya dan bermain-main dengan saya. Ternyata tidak ada satu luka sedikit pun di tubuhnya. Saya baru tahu, ternyata di luar bulunya yang hitam semua, sampai ujung kaki dan paruhnya, di balik bulu-bulu hitam itu melapis bulu-bulu putih di dalamnya. Di mana anggapan semua orang seluruh bulu burung gagak adalah hitam semua, tidak dengan gagak yang menyapa saya sore itu. Tidak memakan waktu banyak mengenai kedekatan kami, ia sudah mempercayai saya sebagai seorang sahabat, begitu juga sebaliknya. Saya melakukannya persis seperti yang saya lakukan ketika saya bertemu dengan ular kemarin sore. Saya memberi isyarat kalau saya tidak akan berusaha menyakitinya, dan itu berhasil, hasilnya sama seperti yang saya lakukan dengan gagak yang menghampiri saya.

Saya tidak habis pikir, sebenarnya pertanda apa yang coba diberitahukan Tuhan kepada saya dengan membuat kedua binatang itu menghampiri saya, memang tidak ada yang melihat saya melakukannya, kecuali ibu saya ketika saya sedang bermain dengan burung gagak itu, tapi ia tidak berkata apa-apa sementara saya asyik bercengkrama dengan burung yang konon sulit sekali ditangkap, sore itu ia malah mendatangi saya dan bermain dengan saya. Sesungguhnya dengan bertemu dengan kedua binatang itu saja saya sudah sangat bersyukur sekali, karena melalui kedua binatang itu saya mampu berinteraksi dengan kehidupan liar di sekitar saya tanpa bersusah payah dan membayar ongkos yang mahal. Saya menyetuh burung liar itu gratis dan bersahaja. Bahkan ketika adzan maghrib sudah berkumandang, burung gagak itu masih saja mengikuti saya, sebagai ungkapan ia belum puas bercengkrama dengan saya. Saya hanya tersenyum, ia diam saja, kemudian ia berlalu terbang. Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu kembali dengan burung itu atau tidak. Yang pasti, saya akan tetap mengingatnya sebagai salah satu teman dan sahabat, begitu juga dengan ular yang saya temui. Dengan jarak yang terlalu dekat, kami memberi saling pengertian untuk tidak menyakiti satu sama lain. Ular itu tidak menggigit saya dan saya tidak membunuhnya.

Dan saya senang, telah bersahabat dengan kedua binatang tersebut. Jika gagak itu kembali bertandang, saya akan menghadiahinya sepotong roti. Dan ia mungkin akan memberikan kepercayaannya kembali kepada saya sebagai seorang kawan. Saya rasa itu cukup adil. (kisah ini nyata saya alami, 21-22 maret 2009)

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Malas

Ditulis oleh permanas di/pada 19 Maret 2009

Kalau bicara mengenai sifat yang satu ini, sepertinya saya termasuk salah satu orang yang mengidap penyakit tersebut, yang kalau dibiarkan bisa membuat segalanya berantakan, kacau, tidak terkendali, dan bahkan bisa menjengkelkan diri sendiri dan orang lain.

Ada kalanya rasa malas itu dibutuhkan untuk menghindari rutinitas keseharian dengan tidak melakukan apapun yang berkaitan dengan bekerja. Namun, di sisi lain, sifat malas itu justru lebih mendatangkan petaka ketika ia dihadapkan dengan suatu pekerjaan atau situasi yang harus diselesaikan sesegera mungkin jika kita tidak ingin terkena dampaknya atas pekerjaan atau situasi itu kalau tidak segera diselesaikan.

Malas berpikir, malas bekerja, malas melakukan sesuatu yang berguna, malas melakukan kebaikan dan perbaikan. Haha, rasa-rasanya malas itu memang menjengkelkan bagi siapa saja yang melihat kemalasan itu sedang berlangsung. Jadi, saya akhirnya sadar diri. Saya tidak ingin kemalasan itu menjerat leher saya sampai kemalasan itu menampar saya ketiksa sedang terlena. Meski enggan, agaknya saya mengangkat tubuh saya dari sandaran kursi, memilah-milah pekerjaan, setidaknya saya tidak ingin melihat seseorang menjadi jengkel karena saya yang sedang malas-malasan itu. Meski setengah hati saya melakukannya, tapi ternyata yang setengah itu sepertinya cukup mampu membangkitkan energi orang lain untuk menarik senyumnya pada saat saya berjuang mati-matian menarik kaki dan tangan saya untuk melangkah dan bergerak karena urat-urat malas itu ternyata sudah sampai kaki saya dan ingin menguasainya.

Tidak bisa tidak, saya benar-benar melawan apa pun yang berusaha menguasai diri saya seutuhnya di bawah kendali saya sendiri, tidak terkecuali sifat malas itu. Dan sepertinya, saya segera ke belakang, mengambil pentungan, melakukan kebrutalan kepada diri saya sendiri, saya harus menjadi pemenang atas diri saya sendiri ketika ada sesuatu yang mencoba menguasai saya. Dan tebak apa yang terjadi, hanya diri saya sendiri lah yang harus menguasai dan mengendalikan kehidupan saya, bukan campur tangan suatu sifat atau pun orang lain. Saya memenangkan diri saya sendiri. Orang macam apa yang kalah atas dirinya sendiri? Saya tidak bisa membayangkan betapa menderitanya dia.

Jadi, malas pun tidak bisa mengalahkan diri saya meski kadangkala ia bisa menyerang saya kapan saja ketika saya lengah.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sakura Musim Dingin

Ditulis oleh permanas di/pada 13 Maret 2009

kupu-kupuku

kepak menggigil kaku

dan sayap beku

kau ceritakan padaku

ahh..

butiran salju musim dingin ini

merajut mimpimu

mengarungi bahasa yang keluar hangat

dari bibir bergetar

ke-absurd-an kita

adalah keheningan yang utuh

dan,

keindahanmu

seperti sakura

dengan bunga musim dingin

Jakarta 130309/permanas/untuk seseorang yang menggunakan nama Tokiya Mikagami  –ayolah, tetap tersenyum-

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , | 13 Komentar »

Laut Menyanyi

Ditulis oleh permanas di/pada 12 Maret 2009

“Ini takdir kita, anakku, meskipun nasib ada dikepalan kita dan kau berhak untuk mengubah nasibmu sendiri yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita mesti besyukur, menerima dengan lapang dada dan menjaganya sebaik mungkin apa-apa yang telah Tuhan takdirkan.”

“Maksud Abah, apakah yang kita terima dan kita jaga dalam kehidupan ini? Anang hanya tahu kalau nasib tergantung dengan apa yang kita lakukan sementara angin selalu berbisik kepada gunung dan pohon-pohon, mereka menyembunyikan rahasia alam yang diberikan langit kepada ibu bumi. Mestikah kita harus mencarinya dengan takdir dan keterbatasan kita?”

***

Aku masih ingat ketika kecil dulu, Abah selalu mengajakku pergi melihat pantai dan laut, selalu mengajariku tentang kehidupan. Menurutnya laut dan garis pantai itu, tempat bertemunya air dan daratan, Abah menyimbolkannya sebagai keterbatasan manusia. Camar yang beterbangan mengejar gelombang ombak, ia pernah berkata, camar itu dihubungkan sebagai pengantar antara langit dan bumi, kita mesti berguru kepadanya. Kita akan tahu kelak kenapa camar menjadi pengantar langit dan bumi.

Jelas sekali terdengar gemuruh ombak menampari batu karang, aku kagum batu karang itu masih kokoh meskipun hingga sekarang, semuanya masih seperti dulu. “Laut itu menyanyi, anakku, kalau engkau ingin tahu.” Itu kata Abah, kata-katanya masih kuingat sampai sekarang.

“Lihatlah ke sana,” kata Abah, sambil mengarahkan jarinya dari tangan kekar tapi penuh kelembutan itu ke arah cakrawala tempat langit seakan menginjakkan kakinya di sana. Aku masih terpaku, diam menatap tempat yang dimaksud Abah. Penghormatannya terhadap alam sangat dalam. Ia tersenyum kemudian meneruskan ucapannya. “Di sana kau dapat menemukan rahasia itu meski dengan keterbatasan kita di sini. Ciumlah aroma laut dan genggamlah erat-erat pasir ini, belajarlah layaknya manusia di bumi ini. Meskipun kau berguru kepada guru atau belajar kepada ikan, tapi tetapkan hatimu, anakku, jangan kau melebihi keterbatasanmu. Betapa mimpi tak memiliki batas, tapi ia adalah ilusi yang sangat berbahaya andai kau tidak mau membatasinya. Ini kenyataan kita, anakku, ingatlah siapa diri kita kelak.”

Laut itu, tempat bermuaranya semua air tetapi ia menjaganya agar tetap jernih dan indah. Makhluk-makhluk yang berlindung di dalamnya dan nelayan-nelayan yang mengarungi gelombangnya, lalu burung-burung yang melabuhkan impiannya di pantai, laut itu memang menyanyi dengan gembira, semuanya berdendang. Aku mengarunginya, menyenanginya, bersatu dengannya, dan merangkulinya. Ia menjadi salah satu guru, aku belajar darinya dan mencintainya.

Hari ini kucium lagi aroma laut, menggenggam erat pasir kemudian berdiri di bibir pantai, buihnya menyentuh kakiku. Kembali aku mengenangkan seperti seorang murid yang pulang kepada gurunya setelah ia mengarungi nasibnya. Kutatap lagi cakrawala, namun aku belum pernah menyentuh kakinya meskipun ia berdiri di sana, hanya ombak yang menyalami ketika aku datang kepadanya.

“Bukan cuma ombak yang menyalami kedatangan kita ke laut, tapi lihatlah, seluruh alam menatap gembira kepada kita dan pulau-pulau itu tersenyum walau ia tak pernah bicara betapa senangnya ia kalau kita bersenda gurau dengannya,” kata Abah lagi ketika aku masih diam menatap sejauh mata memandang lautan luas itu.

“Senja sudah datang, Bah, di ujung cakrawala matahari semakin merendam dirinya di sana. Apakah ia terlalu lelah sehingga ingin segera menarik selimut mega dan tertidur. Apakah laut akan berhenti bernyanyi kalau gelap datang, apakah kegembiraan itu akan sirna karena semuanya terlelap dalam mimpinya, lalu siapakah yang menyambut bintang-bintang di sana dan menemani rembulan ketika ia berdiri di langit sana?”

“Laut akan tetap menyanyi, anakku, meskipun tak ada yang mendengarnya. Ia akan tetap bernyanyi untuk menyambut bintang dan rembulan. Malam di sini akan tetap terlihat indah meskipun semuanya tertidur dan kegembiraan di sini tak akan sirna meskipun gelap menyelimuti. Sekarang mari kita pulang dan biarkan laut ini tetap menyanyi.”

Semua sunyi sekarang dan aku pun melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Kelak aku akan kembali untuk mengulangkan dan mendengarkan, membiarkan waktu membius malam dan hari-hari selanjutnya. Tapi, meskipun demikian ada yang tak berubah. Seperti kata Abah, laut itu tetap menyanyi. Hingga sekarang aku masih mendengarnya kembali menyanyi.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Dongeng Burung Liar

Ditulis oleh permanas di/pada 10 Maret 2009

“Bu, kenapa bapak belum pulang juga?”

“Sabarlah, Ni, nanti bapakmu juga kembali,” jawab Ibu kepada Ani sedikit membisik.

Di rumah gubuk itu hanya mereka berdua, hanya lampu minyak yang menerangi sepetak ruangan itu menggambarkan dua sosok manusia bercumbu dan bertarung dengan kegelisahannya. Seorang bocah kecil bernama ani, mencumbu mimpi-mimpinya yang hanya cermin wajah di depan dinding bilik berbincang dengan bayangannya sendiri, sementara seorang ibu yang selalu menjaga anaknya bertarung melawan perasaan gelisah, antara harapan dan keputus asaan yang menggelayuti mereka.

“Bukankah bapak perginya sudah lama? Ani lelah menunggu, Bu. Ani sudah tidak tahan lagi menahan lapar,” tak lama ani bertanya lagi sambil menatap ibunya dengan penuh pengharapan lalu memegangi perutnya yang sudah agak cekung.

“Sabarlah sedikit lagi. Sekarang tidur saja dulu, biar ibu yang menunggu bapakmu sementara kamu tidur.”

“Bu,Kenapa Tuhan membiarkan kita menderita sendiri di sini sedang di tempat lain orang-orang tertawa lepas sambil memegang piring penuh makanan. Apa tuhan sudah tidak peduli lagi kepada kita ya, Bu?” tanya ani lagi dan merebahkan kepalanya di kaki ibunya. Ibu hanya menari nafas panjang dan terdiam tak tahu mesti menjawab apa.

“Kenapa kamu punya pikiran seperti itu, bukannya Tuhan tidak peduli kepada kita, tapi ini adalah cobaan hidup yang mengajarkan kita untuk selalu tabah dan sabar. Apakah kamu ingat apa yang pernah dikatakan bapakmu kalau seekor burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung di sangkar emasnya. Nah, kita pun harus demikian,” jawab Ibu, lalu tangannya kemudian mengusap-usap kepala Ani dan merapikan selimut kotak-kotak milik Ani. Di situ terselip sebuah boneka buaya yang mulutnya menganga menampakkan taring tajam siap menerkam.

“Kenapa mesti demikian, Tuhan menciptakan kita semua kan dalam keadaan yang sama, derajat dan kedudukan yang sama di matan-Nya.”

“Ya, memang begitu keadaannya, kita memang semua sama di hadapan-Nya. Hanya amal dan perbuatannya saja yang membedakan satu sama lainnya. Artinya tidak semua kesenangan itu mendatangkan kebahagiaan, hanya kesederhannaan yang terbungkus timbang rasa bijaksana yang dapat bertahan lama. Sekarang kamu mengerti?”

“Mengerti, Bu. Ani ingat kalau burung liar itu seperti yang pernah diceritakan bapak, maukah Ibu menceritakannya kembali untuk Ani?”

“Ibu pasti mendongengkannya untukmu, asal setelah itu kamu langsung tidur ya. Biar ibu yang menunggu bapakmu.”

“Baik, Bu.”

“Sekarang ibu akan bercerita. Begini, burung terbang untuk mencari makan. Tidak mengandalkan siapa pun kecuali kepada kedua sayapnya. Ia kibaskan sayap itu dengan sekuat tenaga dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Ketika ia berada di atas, ia tidak berlaku congkak maupun merasa dirinya paling bagus dan paling indah. Burung terbang bukan untuk senang-senang, apalagi memamerkan keindahan serta kelebihan dirinya. Tidak, bukan itu yang dicari oleh seekor burung.”

“Lantas apa yang dicari seekor burung bila ia terbang di atas sana?”

“Burung terbang untuk mencari makan, seperti yang ibu bilang tadi, untuk melepaskan rasa lapar dan haus dirinya. Walaupun ia mendapat sedikit makanan, tapi ia bukannya berkecil hati atas apa yang ia peroleh, malah sebaliknya ia merasa bangga. Bangga atas apa yang telah diperolehnya, biar sedikit, ia mendapatkan dengan tenaganya sendiri. Berarti ia telah mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tidak berpijak dengan bantuan orang lain,” Ibu berhenti sejenak untuk memeriksa apakah Ani sudah tidur atau belum.

“Terus apa lagi, Bu?” kata ani yang ternyata belum tidur. Ibu hanya tersenyum kecil dan melanjutkan cerita itu sekedar menunggu waktu yang mulai larut.

“Sekarang, burung yang masih berada di sarangnya itulah kamu saat ini. Untuk terbang saja ia belum mampu, namun demikian ia percaya terhadap dirinya sendiri kalau ia pun bisa terbang seperti burung dewasa. Sambil mengepak-kepakkan sayapnya yang mulai ditumbuhi bulu yang sudah bagus. Dalam hatinya tumbuh kepercayaan yang sangat kuat untuk berani berkata dengan yakin, ‘saya bisa, saya harus bisa, saya yakin pasti bisa’. Semakin lama kepakannya semakin mantap dan lama-lama ia pun dapat terbang seperti yang lainnya. Karena apa? Selain niat dan belajar, ia percaya akan kemampuannya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan burung lain untuk memberinya makanan.

“Setelah ia dapat terbang tinggi melayang-layang di angkasa, ia tidak merasa bangga, malah semakin sadar bahwa tantangan hidup serta tanggung jawab atas dirinya semakin besar seperti badai yang siap melahapnya sewaktu-waktu jika ia lalai. Karenanya ia harus terus berjuang agar tetap bertahan hidup dari ganasnya kehidupan ini. Begitulah kira-kira perumpamaan antara burung dengan kehipan yang kita jalani ini. Ibu harap agar kamu dapat memahaminya sebagai salah satu pelajaran yang dapat ibu berikan. Tapi jangan lupa, masih banyak yang mesti kamu pelajari dari kehidupan ini yang sudah disediakan oleh alam dan kehidupan itu sendiri. Karena proses belajar tidak mengenal usia, di mana pun, kapan pun, asal kita punya tekad yang bulat untuk belajar dan memahami, di situ kita dapat belajar.”

Sesekali suara jangkrik menyelinap masuk ke dalam gubuk mereka, semilir angin juga ikut menyusup ke dalam membuat dingin ruangan itu. Keheningan malam di luar bukanlah suatu kebisuan yang terjadi, tapi sebuah kedamaian yang tersembunyi di antara bayangan lampu minyak yang tersamar sinaran rembulan menyatu dalam lindungan ketenangan malam.

“Kenapa Tuhan menciptakan alam semesta ini, Bu?”

“Alam diciptakan Tuhan, karena alam semesta di dunia ini bukan hanya untuk dinikmati saja, alam semesta ini diciptakan Tuhan juga untuk dipahami, dimengerti, dan kemudian dipelajari oleh kita semua agar alam ini tetap lestari dan tidak rusak. Alam sudah banyak sekali memberikan pelajaran yang berguna dan bermanfaat untuk kita, karena itu tugas kamulah sebagai generasi penerus untuk tetap mempelajari segala seluk beluk alam yang terkadungn di dalamnya. Karena bukanlah sesuatu yang mustahil kalau di balik setiap keindahan mengandung banyak pelajaran kalau kita mau mengaitkannya ke dalam kehidupan ini dengan amat jeli menangkap setiap gerak-gerik alam. Maka kita akan menemukan salah satu pelajaran yang alam berikan sebagai pengalaman yang berharga agar kelak dalam menjalani hidup ini kita selalu dalam jalan yang benar dan selalu ingat kepada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu yang terkandung di dalam alam semesta ini, juga sebagai salah satu guru dalam kehidupan kita ini. Sekarang kamu paham?”

“Paham, Bu.”

“Kalau begitu sekarang tidurlah, hari sudah larut dan jangan berkata apa-apa lagi.”

Ani pun tertidur walau sambil menahan perut yang lapar sejak pagi tadi. Bapaknya pergi ke kota yang hanya berbekal keterbatasan kemampuan mencoba mengadu peruntungan untuk sesuap nasi buat dibawa pulang sebagai buah tangan ala kadarnya untuk anak dan isterinya yang sekarang menunggu antara keputus asaan dan harapan yang terus bergumul. Tinggallah ibunya seorang diri bertajuk bayangan wajah yang mulai diselimuti kepasrahan untuk tabah dan bersabar.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

tidak ada judul

Ditulis oleh permanas di/pada 5 Maret 2009

aaah..
waktu pun hanya tinggal waktu
biar sejarahmu dan sejarahku pun
wara-wiri dalam pita kusut

dusta dan kata-kata
juga tak jauh beda
ia tetap akan larut dalam
gelas-gelas kemuraman

setelahnya
mungkin hanya celotehan para badut
yang tetap mengisi panggung

permanas/Jakarta/050309

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Anjing!

Ditulis oleh permanas di/pada 4 Maret 2009

Saya teringat waktu saya kecil dahulu, sebegitu takutnya saya dengan binatang yang bernama dasar anjing itu, setiap saya melihat binatang itu dari jauh saya sudah tunggang langang menghindarinya. Saya tidak tahu di mana awal letak ketakutan saya kepada binatang yang satu itu. Satu kali, ketika saya sedang bermain keliling kampung dengan teman-teman sebaya saya, tanpa sengaja saya berpapasan dengan binatang tersebut. Sontak, tanpa berpikir panjang kaki saya refleks meloncat dan tubuh saya secara otomatis berbalik dan membawa lari diri saya tanpa saya suruh untuk berlari ketika itu.

Memang dasar naluri Anjing yang memang kekuatannya tidak perlu disangsikan lagi, ia pun lantas mengejar saya dengan suatu alasan yang saya kira anjing itu pun tidak mengerti mengapa ia mengejar saya. Lha, kronologisnya kan saya lari tanpa pikir panjang ketika melihat binatang yang membuat saya menjadi phobia itu, dan binatang itu juga lari mengejar saya karena melihat saya lari ketika melihat dia.

Ada semacam kelucuan secara realitas ketika saya dewasa dan ingatan itu tidak pernah lepas dari diri saya, di mana posisi saya menjadi si terkejar yang notabenenya adalah saya yang menghindari binatang tersebut menjadi realitas yang tidak tertanggungkan pada saat binatang itu dengan kecepatan yang sama berlari di belakang saya dengan minat yang setara dengan saya. Di mana minat saya adalah menghindari sejauh mungkin dari binatang yang ada di belakang saya dan minat si anjing yang sekarang menjadi tokoh sentral yang mengejar saya dengan minat berlari sedekat mungkin dengan diri saya yang menghindar untuk menjauh darinya.

Woy, berhenti, jangan lari!” teriak si pemilik binatang peliharaan yang tengah mengejar saya yang saya rasa sudah melebihi seratus meter menurut perkiraan saya ketika itu. Saya jadi berpikir, ia menyerukan jangan lari entah kepada saya atau kepada si anjing sebagai binatang peliharaannya. Pada keadaan demikian tidak mungkin saya menyuruh tubuh saya mengerem mendadak dan menghadapi kemungkinan kaki saya akan menjadi santapan binatang peliharaan orang yang berteriak tadi. Jadi, saya mengesampingkan arti teriakan itu dan tetap berlari berusaha menghindari kejaran binatang tersebut.

Justru yang secara otomatis berhenti adalah anjing peliharaan orang yang berteriak itu. Saya sempat menoleh sebentar tanpa mengurangi kecepatan saya berlari, binatang itu menghentikan larinya dengan nafas tersengal komplit dengan kebiasaanya yaitu menjulurkan lidahnya keluar sambil menatap diri saya yang semakin menjauh, yang saya rasa ia masih berkeinginan mengejar saya tanpa tahu pasti apa yang diinginkannya dari saya, sementara saya berlari adalah untuk menghindarinya sejauh mungkin.

Setelah saya dewasa, dan ketika mengingat peristiwa tersebut, saya mencoba memutar kembali film lama itu dalam kepala, dan saya memahaminya. Ternyata di situlah letak kebebasan saya sebagai manusia, meski saya masih kecil dan belum menyadarinya apa itu arti dari kehendak bebas sebagai seorang manusia yang tidak bisa begitu saja diintimidasi dan didominasi oleh pikiran orang lain maupun lingkungannya dalam kondisi apa pun, kemenangan saya adalah saya tidak menuruti perkataan orang yang berteriak untuk berhenti itu meski saya tidak tahu ia menyuruh berhenti kepada saya atau kepada binatang peliharaannya. Yang jelas, saya menolak berhenti berlari dari binatang tersebut. Dan si anjing itu dengan manis duduk dengan patuh sambil melihat saya pergi ketika teriakan itu dilontarkan dan si anjing mengenali suara majikannya (dan mungkin kata ‘berhenti’ sering dilatihkan kepadanya sebagai salah satu latihan untuk patuh dan taat kepada sang majikan).

Sampai saat ini saya masih tetap merasa phobia terhadap anjing, meski tidak se-ekstrem pada saat saya kecil. Kalau saya sedang berjalan dan berpapasan dengan binatang tersebut, saya paling agak sedikit menjauh untuk memberi ruang binatang itu berlalu. Namun, pelajaran dan pengalaman yang telah diberikan pada masa kecil telah memberikan saya kesadaran secara penuh tentang kebebasan saya sebagai manusia, pada situasi apa pun, dalam keadaan benar-benar terjepit sekalipun, saya adalah tetap manusia dengan kebebasan yang seluruhnya berada dalam genggaman saya. Saya tidak akan membiarkan kebebasan saya terengut tanpa mendapat ijin dari saya sendiri, tidak seperti binatang itu, kehendak bebasnya otomatis lumpuh ketika perkataan majikannya menyuruhnya untuk diam. Dan saya bangga, hingga saat ini saya masih memegang kebebasan saya sendiri dan akan tetap mempertahankannya kalau ada yang berusaha untuk merenggut segala kebebasan saya untuk melakukan apa-apa yang saya ingin lakukan, kecuali itu mendapat ijin dari saya dengan beberapa alasan. Karena dengan mengekang kebebasan seseorang berarti melumpuhkan pikirannya dan menyamakan derajat orang tersebut dengan binatang yang sudah mengejar saya itu. Dan saya menolak siapapun yang akan menyamakan saya dengan binatang itu secara harfiah ataupun secara filosofis, saya akan berjuang habis-habisan untuk mempertahankan kebebasan saya sendiri sebagai seorang manusia yang merdeka.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sajak Ranting Kering

Ditulis oleh permanas di/pada 3 Maret 2009

Lelah aku melangkah menelusuri jalan setapak yang membentang panjang di hadapan, dan rumput mati menyelimuti hamparan tanah penuh debu ini. Kegersangan menjadi raja di antara celah waktu sementara air dijadikan kesejukan yang suci untuk penawar racun yang bersarang di rongga tenggorokan. Burung nazar adalah utusan malaikat maut, bertengger gagah mengabarkan kalau malam ini seseorang akan pergi meninggalkan hidupnya. Mungkin saja itu aku, atau siapapun yang sedang menunggu kematian.

Langit di atas sana menggantungkan purnama sebagai pemeran lentera, bintang sebagai pernik penghias latar cakrawala sehingga gelap tak tampak kelam menutup hari. Tidakkah kau lihat perempuan gypsy yang menari liar di panggung ini ingin mengatakan kalau hidup ini cuma sejenak, kenapa tidak dinikmati saja waktu yang sedikit itu. Sayang, waktu yang singkat ini cukup mampu membuatnya tua dalam kehidupan, itu terlihat dari banyaknya kerutan menempel di wajahnya yang penuh riasan dan anting-anting. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan hidup karena tidak menggalinya.

Pengembaraan yang tak berujung ini telah menemukanku kepada seorang tua bijaksana. Ia selalu bersyair tentang penyesalan-penyesalannya yang membangun kuil, namun di masa tuanya ia hanya menempati sepetak gubuk untuk ditinggali. Ia mengatakan kepadaku, kau pemuda, apa yang ingin kau ungkapkan dalam kehidupan? Jadilah angin yang dapat menggerakkan daun-daun dan menghadirkan kesejukan. Ia tak dapat dilihat, tapi rasakan sentuhannya menyapu kulitmu. Jangan bekerja memohon pamrih, namun katakan janjimu dengan sedikit kata-kata, setelah itu lakukan apa yang mesti dilakukan. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan tanda tanya.

Tapi, orang bijak yang bicara tentang angin itu mengandung awan hitam dan guntur yang membawa badai dalam dirinya.”Awan hitam adalah nafsu yang buta dan guntur adalah pedang yang akan memotong-motong jiwa dan merusak akal sehat. Jadilah angin baik yang akan mendatangkan kebajikan untuk orang banyak, dengan begitu akan menyelamatkan hidupmu”. Ia berkata lagi, menjawab pertanyaan diri lalu menghilang di antara kabut tebal.

Aku merenungi kehidupan ini dipenuhi teka-teki yang harus dijawab. Bersandar pada apa yang telah dilalui, menjadi setetes air ketimbang buih-buih di lautan, menjadi bunga sukarela penyedia nektar bagi lebah-lebah pekerja, atau menjadi diri sendiri yang selalu mencoba untuk berbuat baik. Hidup ini sendiri pun adalah merupakan kebaikan dan sebuah teka-teki yang masih harus dipecahkan.

Pengkhianatan adalah malapetaka yang membawa kehancuran dan kegelisahan dari mimpi buruk, pengkhianatan tidak selalu sama dengan hati nurani, apa yang diucapkan belum tentu sesuai dengan tindakan. Musuh paling berbahaya adalah seorang teman yang menusuk punggung sahabat karibnya sendiri dan teman yang baik adalah musuh yang menghargai lawan, tapi jangan memandangnya telalu tinggi. Kawan dan musuh adalah pemangsa yang bersembunyi di balik gelap dan kesunyian, ketidak hati-hatian adalah ibu nasib buruk dari peruntungan baik bagi pengintai yang tak pernah memejamkan matanya sedetik pun juga. Kelengahan mengajarkan apa arti kewaspadaan bagi yang ingin selamat.

Wajah-wajah kesakitan terpajang dari jiwa-jiwa terpasung yang membutuhkan kebebasan dan kerinduan akan belaian tangan halus milik seorang ibu dari anak laku-laki, meronta menagih haus dan kasih sayang. Syair-syair terucap manis menenangkan gundah merangkuli malam dengan tangan-tangan kesedihan. Aku terkubur oleh mimpi seorang pembunuh yang membuang rasa kemanusiaannya dari hati nurani dan keluguannya sebagai manusia, mimpinya adalah untuk membunuh dirinya sendiri, sedang aku adalah saksi terpilihnya. Lewat kesaksianku ia membunuh diri sekaligus kemanusiaannya, nyawa pun menjadi tak berarti apa-apa.

Bisikan angin menerobos jendela-jendela kehidupan, membuat terjaga seorang bocah yang belum diceritakan dongeng untuk tidurnya. Ada saat membiarkan mata dibuai rasa kantuk dan melindungi tubuh di balik selimut tebal dan hangat. Pertarungan mimpi dan kenyataan adalah kata-kata yang tak pernah ada kesudahannya, selalu menyita waktu dan meminta banyak korban.

Aku mengira semakin menjauhkan diri akan menciptakan damai dari kebisingan, saatnya untuk berhenti melarikan diri dari kejaran ketakutan. Semakin aku berlari semakin kuat ketakutan mengikat lubang pernafasan, setelah itu kematian menjadi hak untukku. Aku tak dapat mengelak dari kebenaran, cepat atau lambat aku akan menjadi terdakwa dan terhukum. Jiwaku akan terjatuh seperti daun kering lepas dari ranting dihembuskan angin dan tergeletak di atas tanah tandus, membiarkanku terpendam untuk selamanya. Kematian menjadi tak berarti, kesalahan-kesalahan akan terus menghantui, hati nurani menghitam seperti arang. Ranting yang ditinggalkan akan terus belajar dari kehidupan, tunas-tunas batu akan terus tumbuh membangkitkan kesadaran untuk mengorek sejarah hidup dan aku menjadi tak berarti apa-apa di hadapan matanya.

Pohon kering di padang ini, ranting mencakar langit kegelapan dan mengacau rembulan yang sedang bersinar. Kabut perlahan turun membasahi debu yang rindu akan sentuhan air membelai petak-petak tanah. Di sana seorang perempuan tengah mengumpulkan ranting yang jatuh dari pohon-pohon keheningan, mengikat dan menggendongnya di punggung untuk dibawa pulang. Pundak penuh goresan kasar milik perempuan itu seperti surat tertulis di atas secarik kertas putih bercerita tentang perjalanan hidup penuh penderitaan yang sedang menunggu seorang anak yang pulang dari pelariannya.

Di dekat perapian perempuan itu duduk terdiam, memandang api melumat kayu dengan lahap. Pintu rumah dibiarkan terbuka sehingga hamparan tanah kering terlihat dengan jelas dari dalam dan bulan yang sempurna. Bayangan pemangsa jelas beterbangan mengitari langit-langit berkabut. Seluruh hidupnya digunakan hanya untuk menunggu dan bertahan dengan sebuah harapan.

Kelelahan ini membawaku kembali pulang, melewati lagi jalan setapak yang mengantarkanku pergi, sekarang ia membawaku pulang dengan kerinduan-kerinduan untuk bercerita tentang sesuatu yang belum diungkapkan. Rumah di kaki langit yang gersang itu adalah rumahku, dan perempuan pengumpul kayu ranting itu adalah ibuku. Pintu yang dibiarkan terbuka itu ingin aku menutupnya. Bersimpuh di kaki seorang ibu yang penuh dengan kesucian. Bila ikan milik lautan, ia akan kembali ke lautan,. Dia ibuku yang tak dapat menolak kepulangan anaknya untuk meminta maaf, aku mengakhiri apa yang telah aku mulai. Sekarang ia dapat beristirahat dan membiarkan matanya tertutup untuk selamanya dengan damai. Aku meletakkannya dalam kesunyian di bawah pohon yang rantingnya mencakar langit gelap, menaburinya dengan bunga dan doa.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Komentar »

Aku Terjebak

Ditulis oleh permanas di/pada 3 Maret 2009

Aku terjebak, terjerumus dalam dunia hitam dan aku tak tahu mesti ke mana. Satu-satunya yang kutahu aku pergi ke tempat di mana aku bisa bebas terbang melayang seperti burung yang pergi ke mana pun dia suka. Biar orang mau bilang apa, biar otang mau melakukan apa, tidak peduli kalau dunia ini terus bergerak atau tidak, atau waktu semakin meruncingkan jarumnya dan menusuk manusia-manusia pemimpi dan penidur. Aku sendiri seorang pemimpi dan terjerat selimutnya sendiri. Aku semakin terlilit.

Malam menjadi jubah megah,menutup tubuh-tubuh kurus yang telah dicemar oleh dosa-dosanya sendiri dan menjadi tuhan kegelapan. Menyusuri lorong seperti tikus-tikus menyusuri comberan dan menggerogoti tong sampah untuk mengais makanan busuk. Merenda malam dengan tawa kesakitan lalu menghiasnya bersama kumpulan orang buangan dari dunia yang tak bahagia. Siapa mereka, siapa aku, semua sama sekarang dalam mangkuk kesialan.

Aku lari, aku bersembunyi dari kenyataan, seperti pengecut yang lari sebelum berkelahi. Api membara dalam jiwa ini padam, musnah dihembus ketakutannya sendiri. Sementara lampu-lampu membiaskan sinarannya di antara kebisingan malam. Aku menyingkir, menjauh, mencari kesunyian dan merangkuli sambil mencumbunya. Keremangan cahaya kota itu menjadi pudar dan hanya tinggal keangkuhan di sana, lelap.

Setiap malam, orang buangan dari dunia yang tak bahagia itu, mereka selalu datang, bicara dari hati ke hati, tertawa lepas dan bebas meskipun gelap menghimpit dada mereka yang membuat sakit dan sesak. Di sini kumpulan manusia pemimpi dan penidur bersatu, melayangkan pikiran dan melupakan semua menjadi ganjalan hati dan rintangan kebebasan. Di sini semua lepas, tak ada ikatan.

Bercerita tentang dunia penuh keramahan dan senyuman, bukan perang dan saling curiga dari dunia yang mereka huni sekarang adalah dunia yang tak bahagia, selalu membayangkan dunia penuh kebahagiaan, entah itu terletak di bumi sebelah mana.

Aku lihat dalam mata mereka,masih ada harapan bersemayam di sana dan hati yang meluap-luap untuk mencari sesuatu yang hilang, bagian dari diri mereka masing-masing yang belum mereka rasakan dan mereka temukan. Rindu ini tersimpan begitu lama hampir tak pernah dibuka untuk diingat-ingat tentang apa yang mereka rindukan. Aku rindu diriku yang dulu dan mereka rindukan diri mereka masing-masing dan memang ada sesuatu yang hilang, yang dirindukan di sini.

Hanya dalam kegelapan aku dapat menjadi sesuatu, hanya dalam gelap semua terasa begitu terang, indah, gemerlap, bukankah karena gelap cahaya begitu dirindukan dan diinginkan meskipun kegelapan tidak pernah dianggap sebagai sebagai ibu dari cahaya. Dan penerang dari bumi yang lama tertutup selimut hitamnya.

Aku bebas sekarang dari lubang yang membuatku terjerumus dan terjebak, aku benar-benar seperti apa yang aku inginkan sekarang. Hampir seperti burung itu, terbang lintasi dunianya sendiri dan merentangkan sayapnya lebar-lebar. Ini bukan lagi kesunyian dan tidak lagi jeritan yang membelah buaian malam. Ini sebuah kemenangan bukan sebuah retorika atau kata-kata kosong belaka. Bumi ini tetap bergerak dan jarum waktu tetap berputar. Yang terjadi bukanlah sebuah kesia-siaan.

Bangun, kawan, lekas kita pergi dari sini dan mengarungi kehidupan kita masing-masing. Bukan pemimpi kita sekarang, bukan penidur kita sekarang. Tetap, bagian dari sejarah waktu kita sekarang. Bukan lagi saatnya kita terlelap, ini bukan sebuah akhir tapi awal dari kebangkitan kita untuk membangun kehidupan. Ayo lekas, jangan terlelap ketika orang-orang menjaga hari-hari mereka. Aku katakan ini kepadamu.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »