Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Gagasan dalam perspektif estetika

Ditulis oleh permanas di/pada 3 April 2009

Oleh: Sawaludin Permana

Gagasan-gagasan cemerlang yang jika dikaitkan dengan sudut pandang estetika pastilah berkaitan dengan pencerapan-pencerapan makna yang dapat dituangkan ke dalam suatu hubungan interpersonal antara hasil karya cipta dengan para penikmatnya, sebut saja ketika suatu karya puisi diciptakan, atau bentuk ruang bangun dalam seni rupa, misalnya. Dalam kehadirannya yang sunyi beberapa hal memang masih terkandung di ranah hening pikiran si penciptanya dan media pikirannya sendiri yang merasakan hubungan kedekatan tersebut. Ketika suatu karya disajikan ke tengah masyarakat sebagai sasaran utama, kecuali hasil karya tersebut dibuat untuk konsumsi pribadi yang tidak memerlukan persepsi publik selain dari si empunya sebagai ‘peraji’ yang melahirkannya ke dunia ini, pikirannya memang yang mengandung semua itu, terlebih ketika berhadapan dengan dunia nyata. Justru seharusnya, dunia nyata itu, ia adalah media tempat tumbuh kembangnya gagasan yang memerlukan tempaan lebih dari sekedar tanah gembur dan subur untuk mencengkramkan akar-akar ide itu ke dalam pikiran dan cecapan para penikmatnya.

Memang, estetika, jika dijelaskan secara sederhana adalah suatu ilmu yang membahas tentang keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Gagasan, dalam segala bentuk dan manifestasinya, adalah sebuah hasil dari kerja-kerja intelektual seseorang yang masih dalam proses mewujud. Ketika gagasan merubah dirinya men-jadi sesuatu yang dapat dilihat, dirasa, diraba, atau dinikmati, maka ia sudah menjadi sebuah ‘produk kreatif’ dari gagasan itu sendiri setelah melalui proses pergumulan batin yang melelahkan.

Gagasan jika dilihat dari sudut pandangan estetik adalah suatu ide kreatif imajinatif, gagasan yang berjalan di atas benang-benang keindahan yang saling menjalin membentuk sebuah guratan estetis di dalamnya. Terlepas dari pandangan obyektif atau pun subyektif, toh, gagasan yang dihadirkan dalam suatu bentuk apa pun tetap memiliki keindahannya sendiri. Apakah itu suatu bentuk yang memang benar-benar dikatakan indah atau bentuk imajinatif dalam konsep ‘beauty inside the beast’, tetaplah memiliki nilai estetisnya sendiri.

Memang, pada dasarnya seluruh ide penciptaan mengacu pada nilai-nilai estetis. Meskipun nilai estetis itu sebenarnya bisa dikatakan relatif. Dikatakan relatif karena indah atau tidak, estetis atau tidak estetis suatu karya itu memang benar-benar tergantung dari sudut pandang si penikmat atau penggunanya sebagai sasaran dari produk kreatif itu. Bisa saja, bentuk yang abstrak atau kata dan kalimat yang tak beraturan memiliki kenikmatan dan maknanya tersendiri, tergantung bagaimana cara si penikmat menghayati hasil karya itu. ‘Menggugah kesadaran estetik’ seseorang adalah cara lain gagasan merealisasikan dirinya dalam bentuknya yang halus dan hampir selalu luput dari pandangan mata yang tidak jeli menangkap ide-ide gagasan dari sebuah rasa estetik yang memang ‘sengaja’ disembunyikan dari si penciptanya.

Jadi, apa pun bentuk dan wujud dari gagasan itu, tersimpan dalam benak imaji yang tersembunyi atau pun benar-benar mengejawantah, tetap memiliki nilai estetiknya sendiri. Salam.***dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>