Awalnya saya tertawa sendiri sampai terkekeh-kekeh waktu menulis judul seperti itu, seperti sesuatu yang abstrak dan tidak mungkin. Bagaimana pikiran saya mengaitkan peristiwa tabrak lari yang notabenenya adalah suatu peristiwa tidak bertanggung jawab dan sikap tidak peduli, serampangan, sembarangan dan memuakkan, dengan perasaan agung dari sebuah rasa tertinggi manusia yaitu cinta.
Saya sendiri juga tidak habis pikir, ternyata, semua pikiran dan perasaan antara peristiwa tabrak lari dengan cinta tidak jauh berbeda kronologisnya dalam setiap kejadian tersebut. Saya menilik kepada perasaan cinta yang begitu universal dengan peristiwa tabrak lari yang tidak humanis, tidak berperikemanusiaan, tarik-menarik itulah coba saya renungkan dan mengimajinasikannya sebagai daya gravitasi kuat antara objek benda dengan bumi. Bayangkan saja, ketika si pelaku meninggalkan korban yang tak berdaya di tengan jalan, ruang-ruang kosong antara korban dan lingkungan sekitar berubah menjadi penuh dengan rasa empati yang tinggi, rasa cinta terhadap sesama membuat si korban dapat segera mendapat perhatian dan pertolongan, meski fokus pikiran sebagian tertuju kepada si pelaku, tapi lebih besar daya tarik cinta terhadap sesama itu lebih kuat dan mengantarkan si korban dengan kelembutan untuk mengurangi penderitaan dan kesakitannya sebagai korban tabrak lari.
Saya telusuri sedikit menjauh dari tempat kejadian tersebut, dan mencuri secuil rasa cinta dari sana untuk saya pahami. Mencoba mencerna kronologinya, dan mencocokkan peristiwa demi peristiwa. Jadi, saya rasa, apa yang saya lakukan itu seakan saya adalah seorang detektif yang mengendus hidung si pelaku sampai titik terjenuh saya sebagai si pencari fakta. Karena biasanya, pelaku tabrak lari hampir tidak pernah tertangkap sama sekali, hanya karma yang mampu menghukumnya barangkali menurut hemat saya. Jadi saya ibaratkan, cinta itu juga adalah sebuah kendaraan yang mampu melesat dengan cepat, dan orang yang memiliki cinta adalah si pemilik kendaraan yang mengendarai kendaraannya sesuai dengan keinginannya seberapa cepat, aman, bijaksana, lambat, atau tidak pernah menggunakan kendaraannya sama sekali itu tergantung si pemilik kendaraan itu sebagai empunya. Jadi, cinta itu bisa dibawa aman kalau orang yang merasakan perasaan itu bertanggungjawab dan memegang teguh apa yang diyakininya sebagai apa yang benar bagi dirinya. Ada yang menggunakannya serobot sana serobot sini, saling silang menyalib perasaan orang dan bertindak sebagai avonturir, meski ada juga yang tidak ingin mengendarai kendaraannya meski ia memilikinya, mungkin karena trauma jatuh bangunnya ketika mengendarai kendaraan cinta tersebut. Rasanya memang lebih sakit dari pada jatuh dari kendaraan sesungguhnya. Saya tidak berusaha untuk sok tahu, tapi saya bisa berempati juga kan.
Dan saya sangat kaget ketika saya juga menemukan fakta bahwa cinta pun bisa melakukan tabrak lari. Berapa anak yang lahir tanpa dampingan ayah mereka dan tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu mereka, bahkan kedua orang tua mereka dan keluarga mereka dari pihak ibu bapak mereka. kendaraan yang dipacu membabi buta tanpa memperhatikan sekeliling dan mekanisme yang bisa membuatnya melesat cepat bisa mencelakakan diri sendiri dan juga orang lain. Begitu juga dengan cinta.
Dan, akhirnya, mata saya tertuju kepada kendaraan tua milik saya yang setia menemani saya selama sekian tahun dan mengantar saya ke sana ke mari. Saya memandangnya dengan kasih sayang yang bertambah ketika saya sadar betapa saya menggunakan kendaraan saya dengan bijaksana mengawasi kecepatannya dan menghargai orang-orang yang juga menggunakan jalan bersama-sama dengan saya. Menyalakan mesinnya dan berkendara dengan penuh perhitungan. Sambil merenung saya berpikir, apakah saya juga menggunakan perasaan cinta saya dengan bijaksana dan penuih perhitungan seperti saya mengendarai kendaraan saya saat ini atau tidak. Hahaha…. saya tidak bisa menjawabnya.
Tiba-tiba saja…..
“BRUUKKK!!!!” Ya Tuhan, saya baru saja menabrak seseorang dengan kendaraan yang sedang saya kendarai karena memikirkan kaitan tabrak lari dengan perasaan cinta sambil berkendara. Saya belum memilih, apakah saya lari atau tidak.***