Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk Juli, 2009

ANTARA TABRAK LARI DAN CINTA

Ditulis oleh permanas di/pada 30 Juli 2009

Awalnya saya tertawa sendiri sampai terkekeh-kekeh waktu menulis judul seperti itu, seperti sesuatu yang abstrak dan tidak mungkin. Bagaimana pikiran saya mengaitkan peristiwa tabrak lari yang notabenenya adalah suatu peristiwa tidak bertanggung jawab dan sikap tidak peduli, serampangan, sembarangan dan memuakkan, dengan perasaan agung dari sebuah rasa tertinggi manusia yaitu cinta.

Saya sendiri juga tidak habis pikir, ternyata, semua pikiran dan perasaan antara peristiwa tabrak lari dengan cinta tidak jauh berbeda kronologisnya dalam setiap kejadian tersebut. Saya menilik kepada perasaan cinta yang begitu universal dengan peristiwa tabrak lari yang tidak humanis, tidak berperikemanusiaan, tarik-menarik itulah coba saya renungkan dan mengimajinasikannya sebagai daya gravitasi kuat antara objek benda dengan bumi. Bayangkan saja, ketika si pelaku meninggalkan korban yang tak berdaya di tengan jalan, ruang-ruang kosong antara korban dan lingkungan sekitar berubah menjadi penuh dengan rasa empati yang tinggi, rasa cinta terhadap sesama membuat si korban dapat segera mendapat perhatian dan pertolongan, meski fokus pikiran sebagian tertuju kepada si pelaku, tapi lebih besar daya tarik cinta terhadap sesama itu lebih kuat dan mengantarkan si korban dengan kelembutan untuk mengurangi penderitaan dan kesakitannya sebagai korban tabrak lari.

Saya telusuri sedikit menjauh dari tempat kejadian tersebut, dan mencuri secuil rasa cinta dari sana untuk saya pahami. Mencoba mencerna kronologinya, dan mencocokkan peristiwa demi peristiwa. Jadi, saya rasa, apa yang saya lakukan itu seakan saya adalah seorang detektif yang mengendus hidung si pelaku sampai titik terjenuh saya sebagai si pencari fakta. Karena biasanya, pelaku tabrak lari hampir tidak pernah tertangkap sama sekali, hanya karma yang mampu menghukumnya barangkali menurut hemat saya. Jadi saya ibaratkan, cinta itu juga adalah sebuah kendaraan yang mampu melesat dengan cepat, dan orang yang memiliki cinta adalah si pemilik kendaraan yang mengendarai kendaraannya sesuai dengan keinginannya seberapa cepat, aman, bijaksana, lambat, atau tidak pernah menggunakan kendaraannya sama sekali itu tergantung si pemilik kendaraan itu sebagai empunya. Jadi, cinta itu bisa dibawa aman kalau orang yang merasakan perasaan itu bertanggungjawab dan memegang teguh apa yang diyakininya sebagai apa yang benar bagi dirinya. Ada yang menggunakannya serobot sana serobot sini, saling silang menyalib perasaan orang dan bertindak sebagai avonturir, meski ada juga yang tidak ingin mengendarai kendaraannya meski ia memilikinya, mungkin karena trauma jatuh bangunnya ketika mengendarai kendaraan cinta tersebut. Rasanya memang lebih sakit dari pada jatuh dari kendaraan sesungguhnya. Saya tidak berusaha untuk sok tahu, tapi saya bisa berempati juga kan.

Dan saya sangat kaget ketika saya juga menemukan fakta bahwa cinta pun bisa melakukan tabrak lari. Berapa anak yang lahir tanpa dampingan ayah mereka dan tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu mereka, bahkan kedua orang tua mereka dan keluarga mereka dari pihak ibu bapak mereka. kendaraan yang dipacu membabi buta tanpa memperhatikan sekeliling dan mekanisme yang bisa membuatnya melesat cepat bisa mencelakakan diri sendiri dan juga orang lain. Begitu juga dengan cinta.

Dan, akhirnya, mata saya tertuju kepada kendaraan tua milik saya yang setia menemani saya selama sekian tahun dan mengantar saya ke sana ke mari. Saya memandangnya dengan kasih sayang yang bertambah ketika saya sadar betapa saya menggunakan kendaraan saya dengan bijaksana mengawasi kecepatannya dan menghargai orang-orang yang juga menggunakan jalan bersama-sama dengan saya. Menyalakan mesinnya dan berkendara dengan penuh perhitungan. Sambil merenung saya berpikir, apakah saya juga menggunakan perasaan cinta saya dengan bijaksana dan penuih perhitungan seperti saya mengendarai kendaraan saya saat ini atau tidak. Hahaha…. saya tidak bisa menjawabnya.

Tiba-tiba saja…..

“BRUUKKK!!!!” Ya Tuhan, saya baru saja menabrak seseorang dengan kendaraan yang sedang saya kendarai karena memikirkan kaitan tabrak lari dengan perasaan cinta sambil berkendara. Saya belum memilih, apakah saya lari atau tidak.***

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Belajar mengeja DEMOKRASI

Ditulis oleh permanas di/pada 7 Juli 2009

D, E, M, O, K, R, A, S, I

DE…

MO…..

KRA…..

SI…….

DEMORKASI

aku sedang menyebut huruf demi huruf

lalu mengeja dan membaca perlahan-lahan

aku bahagia;

aku dapat mengeja kata “DEMOKRASI”

tapi tiba-tiba aku sedih

ketika bertanya pada banyak orang

apa itu demokrasi?

mereka menjawab,

katanya:

“kamu anak kecil

kamu belum boleh mengenal kata itu

lebih baik kamu tidur saja.

sana.”

aku pun beranjak tidur

terus bermimpi sampai tua

mencari-cari arti kata

demokrasi

sawaludin permana, Jakarta, 23 Juni 2001

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Aku Kira

Ditulis oleh permanas di/pada 7 Juli 2009

Aku kira, kalau keadilan itu adalah kekasihku

Dan pedang di genggaman adalah sahabatku

Timbangan adalah penuntunku untuk berkata bijak

Ternyata aku salah menduga

Pedangku tumpul

Timbanganku berat sebelah

Kekasihku mulai menjauhi

Aku kira, perdamaian adalah tujuanku

Tapi, di tanganku sendiri ada sepucuk senjata

Mengarah kepada seorang bocah laki-laki yang menangis

Aku kira, di hadapanku bertebaran butiran cahaya mutiara

Kilatnya hilang dalam silau; mengilatkan mataku

Tapi, kurasa hanya kemiskinan menelikung

Aku kira, gelap tempat terbaik untuk bersembunyi

Tapi, temanku cuma ular kepala dua

Dan menyuruhku berlari

Menyembunyikan cahaya

Sekarang, aku sekarat

Karena racun-racun yang menyebar

Dari jiwa-jiwa mati

Sawaludin Permana, Jakarta, 20 Oktober 2000

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

SUARA!!

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Belakangan hari ini banyak orang meributkan suara. Entah itu di radio, televisi, surat kabar, bahkan oborolan yang berseliweran di warung kopi, angkutan umum, sampai pusat-pusat perbelanjaan, semua orang sedang meributkan sebuah “suara”. Kalau mau dipikir sih ya, sekarang saja kita pun sedang bersuara. Hahaha, lain soal kalau yang diperbincangkan bukan suara yang seperti itu.

Ada yang bilang makelar suara, jual beli suara, patungan suara, penimbun suara, bahkan “suara siluman” juga ikut andil dalam perkara suara menyuarai ini. Ketika melihat orang-orang sibuk mendagangkan suara mereka, yang mendengar pun ikut mengkalkulasikan suaranya sendiri. Apakah akan membarternya dengan suara yang didengarnya di tengah hiruk-pikuk panggung goyang ngebor, ngecor, gergaji, atau apalah sebutannya, yang jelas, suara-suara itu timbul tenggelam dalam hingar-bingar dan kebisingan yang memekakan telinga itu.

Walhasil, siapa yang membeli dan siapa yang dibeli menjadi kabur, konsep menawarkan jual beli suara sontak mendadak pelik. Apa yang diributkan, siapa yang diperkarakan, apa memperbicangkan si apa dan apa-apanya menjadi kehilangan substansi, semua mendadak hilang ketika sound system mulai ikut-ikutan mengeluarkan suaranya, tidak mau kalah, meski ia tidak tahu apa yang sedang disuarakan, yang jelas, nyaring saja dahulu, makna dan isi disemburkan belakangan saja. Toh, asal terdengar jelas, semua orang senang, tidak gelisah, biar itu hanya beberapa jam saja setelah mengganti bajunya dengan baju yang baru saja diberikan secara cuma-cuma namun mengandung unsur yang tidak cuma-cuma itu mampu menyusupkan mimpi-mimpi dari telinga ke jantung mereka langsung tanpa operasi by pass.

Lain lagi di warung kopi seberang jalan sana, hanya karena memperbincangkan sebuah suara, apakah ia akan memberikan suaranya kepada orang lain atau tidak, tiba-tiba menjadi perkara serius. Jual beli suara ini berujung menjadi jual beli otot, tantangan berupa “elu jual, gue beli” menjadi dagangan murah meriah namun memiliki ekses yang mahal dan tidak tanggung-tanggung, nyawa pun bisa dipertaruhkan di sana hanya karena sebuah suara yang belun jelas nota benenya mau di-kemana-kan nantinya malah berujung dalam ruang UGD dengan tambahan beberapa sulaman dan jahitan di tubuh.

Dalam banyak hal kehidupan, sebuah “suara” bisa menentukan jalan hidup. Misal, sebuah suara hati dalam diri seseorang juga akan menentukan tindak tanduknya dalam menjalani kehidupannya. Tergantung apakah ia akan meng-iya-kan suara hatinya atau menolak mentah-mentah itu urusan pribadi masing-masing. Urusan satu suara pun bisa menentukan sebuah perjalanan sebuah bangsa yang sedang dalam tahap urusan demokrasi. Pilihan satu suara yang dijatuhkan sanggup menyetir roda pemerintahan dalam kurun periode tertentu, yang berimbas pada kehidupan berbangsa dan bernegara kepada warganya, yang bermula dari suara hati untuk membarter suaranya dengan orang-orang yang mewakilkan suaranya itu. Karena saking kecewanya, ada juga yang menolak membarter suaranya dengan janji-janji apapun yang diiming-imingkan ke depan wajahnya dengan tetap berdalih “suaraku adalah milikku” dan menjadi slogan yang menyebar layaknya sebuah virus, hanya karena sebuah kekecewaan kepada janji yang tidak pernah tertuntaskan telah menjadi sebuah budaya tersendiri dalam sebuah proses berdemokrasi.

Dalam kehidapan sekarang dengan teknologi yang sudah jauh melampaui angan-angan sebelumnya, bahkan dari penciptanya, suara-suara itu kini mampu bertransformasi dalam berbagai bentuk, tidak hanya didengar, dilipat, dikompres dalam arus listrik, bahkan suara itu sudah mampu menyusup dalam pikiran seseorang tanpa pernah diketahui siapa pun. Suara-suara itu lalu mentransferkan energinya mulai dari lingkup pribadi ke lingkup keluarga, lingkungan, pergaulan, sistem-sistem sosial. Suatu suara bisa saling mempengaruhi satu sama lain dan memiliki posisi tawar yang sama untuk menang, kalah, atau berada di tengah-tengah sampai menunggu kesempatan untuk menang atau beresiko kalah.

Untung kepada mereka yang memiliki otoritas sendiri atas dirinya dan suara yang dimilikinya. Kontrak politik atas suara yang dibarter bisa dimungkinkan kalau semuanya berjalan lancar, tidak hanya sekedar basa-basi dan tanda tangan di atas kertas fotokopi semata. Hanya karena sebuah suara, banyak orang rela untuk bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik lagi dari sekarang, tentunya dengan resiko kegagalan demi kegagalan. Hanya suara yang jelas-jelas keluar dari nurani sajalah tetap menuntaskan janji-janji atas suara yang telah dibarter kepadanya dan tetap bekerja keras meski gagal, dikucilkan, diabaikan.

Jadi, suara siapa yang mesti dikedepankan terlebih dahulu? Salam suara!! lhaa…??

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Orang Biasa

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Penyamun mabuk

Terhentak Terkesima

Ketika samar;

Ia mendengar


Perempuan itu berkata:

“Aku ini orang biasa.

Tapi aku masih perawan.”



Sawaludin Permana, Jakarta, 16 Maret ‘99

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »