Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

SUARA!!

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Belakangan hari ini banyak orang meributkan suara. Entah itu di radio, televisi, surat kabar, bahkan oborolan yang berseliweran di warung kopi, angkutan umum, sampai pusat-pusat perbelanjaan, semua orang sedang meributkan sebuah “suara”. Kalau mau dipikir sih ya, sekarang saja kita pun sedang bersuara. Hahaha, lain soal kalau yang diperbincangkan bukan suara yang seperti itu.

Ada yang bilang makelar suara, jual beli suara, patungan suara, penimbun suara, bahkan “suara siluman” juga ikut andil dalam perkara suara menyuarai ini. Ketika melihat orang-orang sibuk mendagangkan suara mereka, yang mendengar pun ikut mengkalkulasikan suaranya sendiri. Apakah akan membarternya dengan suara yang didengarnya di tengah hiruk-pikuk panggung goyang ngebor, ngecor, gergaji, atau apalah sebutannya, yang jelas, suara-suara itu timbul tenggelam dalam hingar-bingar dan kebisingan yang memekakan telinga itu.

Walhasil, siapa yang membeli dan siapa yang dibeli menjadi kabur, konsep menawarkan jual beli suara sontak mendadak pelik. Apa yang diributkan, siapa yang diperkarakan, apa memperbicangkan si apa dan apa-apanya menjadi kehilangan substansi, semua mendadak hilang ketika sound system mulai ikut-ikutan mengeluarkan suaranya, tidak mau kalah, meski ia tidak tahu apa yang sedang disuarakan, yang jelas, nyaring saja dahulu, makna dan isi disemburkan belakangan saja. Toh, asal terdengar jelas, semua orang senang, tidak gelisah, biar itu hanya beberapa jam saja setelah mengganti bajunya dengan baju yang baru saja diberikan secara cuma-cuma namun mengandung unsur yang tidak cuma-cuma itu mampu menyusupkan mimpi-mimpi dari telinga ke jantung mereka langsung tanpa operasi by pass.

Lain lagi di warung kopi seberang jalan sana, hanya karena memperbincangkan sebuah suara, apakah ia akan memberikan suaranya kepada orang lain atau tidak, tiba-tiba menjadi perkara serius. Jual beli suara ini berujung menjadi jual beli otot, tantangan berupa “elu jual, gue beli” menjadi dagangan murah meriah namun memiliki ekses yang mahal dan tidak tanggung-tanggung, nyawa pun bisa dipertaruhkan di sana hanya karena sebuah suara yang belun jelas nota benenya mau di-kemana-kan nantinya malah berujung dalam ruang UGD dengan tambahan beberapa sulaman dan jahitan di tubuh.

Dalam banyak hal kehidupan, sebuah “suara” bisa menentukan jalan hidup. Misal, sebuah suara hati dalam diri seseorang juga akan menentukan tindak tanduknya dalam menjalani kehidupannya. Tergantung apakah ia akan meng-iya-kan suara hatinya atau menolak mentah-mentah itu urusan pribadi masing-masing. Urusan satu suara pun bisa menentukan sebuah perjalanan sebuah bangsa yang sedang dalam tahap urusan demokrasi. Pilihan satu suara yang dijatuhkan sanggup menyetir roda pemerintahan dalam kurun periode tertentu, yang berimbas pada kehidupan berbangsa dan bernegara kepada warganya, yang bermula dari suara hati untuk membarter suaranya dengan orang-orang yang mewakilkan suaranya itu. Karena saking kecewanya, ada juga yang menolak membarter suaranya dengan janji-janji apapun yang diiming-imingkan ke depan wajahnya dengan tetap berdalih “suaraku adalah milikku” dan menjadi slogan yang menyebar layaknya sebuah virus, hanya karena sebuah kekecewaan kepada janji yang tidak pernah tertuntaskan telah menjadi sebuah budaya tersendiri dalam sebuah proses berdemokrasi.

Dalam kehidapan sekarang dengan teknologi yang sudah jauh melampaui angan-angan sebelumnya, bahkan dari penciptanya, suara-suara itu kini mampu bertransformasi dalam berbagai bentuk, tidak hanya didengar, dilipat, dikompres dalam arus listrik, bahkan suara itu sudah mampu menyusup dalam pikiran seseorang tanpa pernah diketahui siapa pun. Suara-suara itu lalu mentransferkan energinya mulai dari lingkup pribadi ke lingkup keluarga, lingkungan, pergaulan, sistem-sistem sosial. Suatu suara bisa saling mempengaruhi satu sama lain dan memiliki posisi tawar yang sama untuk menang, kalah, atau berada di tengah-tengah sampai menunggu kesempatan untuk menang atau beresiko kalah.

Untung kepada mereka yang memiliki otoritas sendiri atas dirinya dan suara yang dimilikinya. Kontrak politik atas suara yang dibarter bisa dimungkinkan kalau semuanya berjalan lancar, tidak hanya sekedar basa-basi dan tanda tangan di atas kertas fotokopi semata. Hanya karena sebuah suara, banyak orang rela untuk bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik lagi dari sekarang, tentunya dengan resiko kegagalan demi kegagalan. Hanya suara yang jelas-jelas keluar dari nurani sajalah tetap menuntaskan janji-janji atas suara yang telah dibarter kepadanya dan tetap bekerja keras meski gagal, dikucilkan, diabaikan.

Jadi, suara siapa yang mesti dikedepankan terlebih dahulu? Salam suara!! lhaa…??

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>