musibah itu…..
Ditulis oleh permanas di/pada 28 Agustus 2009
apapun segala bentuk dan wujud musibah itu, jika ia datang, pikiran positif dan bijaksana bisa membuat penderitaan yang menghampiri itu bisa berubah menjadi rasa syukur kepada sang pencipta, menjadi pengingat kepada diri sendiri, menjadi berkah karena pengalaman yang disajikan membuat perenungan panjang menjadi tidak sia-sia. musibah yang datang dengan sapaan pada pundak sebagai kawan lama membuat dialog batin begitu menenangkan karena jawaban-jawaban yang terlontar adalah hasil dari apa yang telah saya perbuat sebelumnya, benih-benih kealpaan, lupa, tidak peduli, sikap sombong, semuanya hanya bentukan kecil dari apa yang telah saya lalui dan perbuat.
musibah di mata saya, tak lebih adalah kawan yang menyambangi dan bersilaturahmi karena lama tidak bertemu, bertukar pikiran. tamparannya bagi saya pribadi tak bukan adalah sentuhan halus dari kesadaran. rasa sakit yang diberikan adalah penawar rindu ketika saya terbaring sendirian, rasa itulah yang menemani saya sepanjang malam, setiap hari. bahkan ketika saya sudah sanggup bangun dari pembaringan, rasa itu tetap setia menemani kemanapun saya melangkah. ia selalu mengingatkan, seperti orang tua kepada anaknya yang memberi pukulan pelan agar tidak bermain terlalu jauh dan membahayakan diri sendiri. saya masih tersenyum.
tentu saja saya bersyukur karena saya masih dipertemukan dengan sahabat lama dan mengingatkan agar jangan lupa lagi, jangan lalai lagi. dah hasilnya, bayangannya sekarang adalah menjadi bayangan saya sendiri yang ketika menundukkan kepala yang saya lihat adalah bayangan rasa syukur karena sahabat saya selalu berada tidak jauh dari diri saya sekarang ini. dan, meski pincang dan masih menahan rasa ngilu pada tulang dan daging. rasanya itu tidak sakit dibandingkan rasa rindu yang melanda pada jiwa saya. seperti saya merasakan rindu yang dahaga kepada kekasih saya. hanya saja saya tidak mencumbunya, tapi tetap menciumnya dengan sayang. hahaha….. saya mencoba untuk tidak terlihat berjalan dengan pincang sekarang. tidak perlu iba orang lain kepada diri saya. dan, saya menelusuri taman-taman dengan rasa yang saya alami dan tanpa tongkat!