Arsip untuk ‘DARI HATI’ Kategori
Ditulis oleh permanas di/pada 27 Oktober 2009
Jangan terlalu percaya jika tidak ingin dikhianati. Begitulah kira-kira yang terlintas dalam benak saya ketika mulai mempercayakan sesuatu kepada orang lain, terutama masalah emosional. Semakin lama pikiran saya itu semakin menggila dan terus menghantui, karena bukannya mustahil kepercayaan yang saya berikan itu bisa berujung kepada pengkhiatanan, karena kepercayaan saya yang tanpa curiga itu. Alhasil, saya benar-benar dibuat meradang meski saya sering mensugesti diri saya sendiri bahwa semua akan baik-baik saya mengenai kepercayaan yang saya berikan kepada orang lain itu.
Permasalahan lain muncul ketika saat membaca suatu kalimat, jangan mempercayai siapapun selain diri sendiri. Dan saya semakin mati kutu dibuatnya hanya karena sebuah masalah yang saya percayakan kepada orang lain dan itu membuat sayatidak bisa tidur, tidak bisa makan dan tidak bisa apa-apa selain uring-uringan, mundar-mandir dan melongo di depan pintu tempat tinggal saya, dan pintu-pintu lain yang sengaja dibiarkan terbuka. Ketakutan saya ini semakin membuat saya habis akal, tidak bisa berpikir sedikit lebih jauh dari permasalahan percaya mempercayai, dan karena takut akan dikhianati dan dahsyatnya dampak pengkhianatan kepada diri sendiri dan lingkungan.
Anehnya, apapun masalahnya saya tetap mempercayakan pemecahan itu kepada orang lain yang saya percayakan tapi saya tidak benar-benar percaya kepadanya. Setiap gerak dan geriknya selalu saya perhatikan, tidak luput barang sejenak pun dan apapun yang ditulis, dibicarakan, di mana dia dan kapan dia pergi, informasi itu selalu saya peroleh dari sumber-sumber yang selalu saya dapatkan sesuai kebutuhan saya. lebih gila lagi, sumber-sumber itu mengatakan dengan jujur, lebih jujur dan lebih valid daripada apa yang dikatakan orang yang saya percayakan permasalahan yang saya percayakan kepadanya tapi tetap tidak saya percaya sepenuhnya. dan itu memang benar-benar gila. saya telah berubah menjadi seorang paranoid. meski beralasan ketidakpercayaan saya, tetap saja itu paranoid.
Saya, mau tidak mau, harus berdamai dengan diri sendiri, keadaan, lingkungan, dan orang yang saya percayakan tersebut dengan mengatakan bahwa saya memang tidak pernah percaya kepadanya, meski mencoba menyerahkan masalah saya dengan tetap dimata-matai, saya tetap tidak percaya. Selesai sudah. Walhasil, saya mengikuti apa kata kalimat yang saya baca tempo hari: “Jangan mempercayai siapapun selain diri sendiri”. Dan, ya, saya tidak percaya siapa-siapa sekarang.
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: akal, aneh. sumber, curigan, damai, DARI HATI, gerak, gila, khianat, masalah, meradang, orang, pengkhianata, percaya, perdamaian, pintu | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 28 Agustus 2009
apapun segala bentuk dan wujud musibah itu, jika ia datang, pikiran positif dan bijaksana bisa membuat penderitaan yang menghampiri itu bisa berubah menjadi rasa syukur kepada sang pencipta, menjadi pengingat kepada diri sendiri, menjadi berkah karena pengalaman yang disajikan membuat perenungan panjang menjadi tidak sia-sia. musibah yang datang dengan sapaan pada pundak sebagai kawan lama membuat dialog batin begitu menenangkan karena jawaban-jawaban yang terlontar adalah hasil dari apa yang telah saya perbuat sebelumnya, benih-benih kealpaan, lupa, tidak peduli, sikap sombong, semuanya hanya bentukan kecil dari apa yang telah saya lalui dan perbuat.
musibah di mata saya, tak lebih adalah kawan yang menyambangi dan bersilaturahmi karena lama tidak bertemu, bertukar pikiran. tamparannya bagi saya pribadi tak bukan adalah sentuhan halus dari kesadaran. rasa sakit yang diberikan adalah penawar rindu ketika saya terbaring sendirian, rasa itulah yang menemani saya sepanjang malam, setiap hari. bahkan ketika saya sudah sanggup bangun dari pembaringan, rasa itu tetap setia menemani kemanapun saya melangkah. ia selalu mengingatkan, seperti orang tua kepada anaknya yang memberi pukulan pelan agar tidak bermain terlalu jauh dan membahayakan diri sendiri. saya masih tersenyum.
tentu saja saya bersyukur karena saya masih dipertemukan dengan sahabat lama dan mengingatkan agar jangan lupa lagi, jangan lalai lagi. dah hasilnya, bayangannya sekarang adalah menjadi bayangan saya sendiri yang ketika menundukkan kepala yang saya lihat adalah bayangan rasa syukur karena sahabat saya selalu berada tidak jauh dari diri saya sekarang ini. dan, meski pincang dan masih menahan rasa ngilu pada tulang dan daging. rasanya itu tidak sakit dibandingkan rasa rindu yang melanda pada jiwa saya. seperti saya merasakan rindu yang dahaga kepada kekasih saya. hanya saja saya tidak mencumbunya, tapi tetap menciumnya dengan sayang. hahaha….. saya mencoba untuk tidak terlihat berjalan dengan pincang sekarang. tidak perlu iba orang lain kepada diri saya. dan, saya menelusuri taman-taman dengan rasa yang saya alami dan tanpa tongkat!
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: hati, pikiran, DARI HATI, sakit, bayangan, bijaksana, kesadaran, mata, musibah, dialog, batin, perenungan, sahabat, syukur | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 16 Juni 2009
Dunia ini memang dipenuhi orang-orang tidak beruntung, tapi mereka mampu bertahan dan menjalani ketidak beruntungan hidup mereka dengan tabah dan sabar. Sedikit tawa dan senyum yang mampu mereka ungkapkan, mungkin mengurangi rasa sakit mereka, meski hanya sedikit, tapi mereka bisa. Aku iri melihat kekuatan mereka melawan semua kegetiran hidup, sementara, mungkin, di sebelahku ada seseorang menyumpah serapah karena makanan yang mereka pesan tidak sesuai keinginan mereka kepada si pelayan. Hidup memang kontradiktif, hidup memang ironis, hidup memang mungkin hanya sebuah pangung dan lakon-lakon. Sayangnya, begitulah yang terjadi.
Bahkan apapun segala yang pernah kita rencanakan dalam kehidupan kita sendiri, tidak jarang semua itu menyimpang jauh dari angan-angan (aku bertepuk tangan salut kepada mereka yang berhasil mewujudkan impian-impian mereka, pasti dengan kerja keras dan bersusah payah). Tidak perlu jauh mencari contoh, tentu saja aku juga mengalaminya sendiri. Membuat rencana memang sangat menyenangkan dan memberi semangat hidup yang menggebu-gebu, namun ketika realitas ingin bicara sesuai kehendaknya sendiri, tanpa kita bisa mengendalikannya, tidak jarang dari kita terpuruk terlalu lama karena kegagalan dari rencana-rencana yang kita gaungkan kepada masa depan.
Ketidak beruntungan ternyata juga sanggup membuat banyak dari kita bisa bersikap sabar dan bijak dalam menanggapi segala situasi dan tindakan, tidak ceroboh dan gelap mata. Menanggapi setiap cobaan dengan arif adalah jalan terbaik, dan tetap pada tujuan adalah satu-satunya cara untuk tidak tenggelam dalam keterpurukan terlalu lama. Menangis sekali, hentak lima sampai sepuluh langkah, ibaratnya seperti itu. Bolehlah kita meratapi kegagalan-kegagalan kita, aku tidak malu kalau aku juga meratapi kegagalanku sendiri, lebih dari sekali, karena sudah terlalu banyak kegagalan yang kurasakan mungkin, hahaha, tapi itu tidak jadi soal. Masalahnya adalah apakah kita sanggup berdiri lagi dengan gagah dan menantang kembali masa depan dengan rencana-rencana baru, tentunya dengan tingkat kematangan yang lebih setelah belajar dari kegagalan kemarin, aku melawannya, ya, aku menantang ketidak beruntunganku sendiri dan bertaruh nasib dengan masa depan. Bukankah kita sering bilang kalau hidup hanyalah masalah pertaruhan saja, tergantung kita berani bertaruh besar atas diri kita atau tidak. Kau pesimis, kau bertaruh kecil saja, kau optimis, setidaknya kau sudah bertaruh besar dengan yakin atas dirimu, biar faktanya pun nanti kita tidak tahu apakah menang, kalah atau seri. Tapi, bukankah kita sudah menunjukkan diri kita atas pertaruhan itu. Setidaknya itulah yang membedakan kita dengan mereka yang hanya meratapi kegagalan mereka sendiri
Jadi, apakah kita akan diam menghadapi ketidak beruntungan atau malah maju kembali untuk melawannya, aku rasa itu masalah sikap masing-masing orang. Aku rasa, aku akan melawan dan menantang masa depan lagi. Biar gagal lagi, menantang lagi, gagal lagi, melawan lagi sampai hampir binasa. Setidaknya aku tahu, aku tidak tinggal diam begitu saja. Jika aku kalah, mungkin aku masih tetap bisa tersenyum karena aku bertaruh atas usaha terbaikku untuk menang. Bukankah ketidak beruntungan masih bisa mengajarkan kita untuk belajar dari pengalaman. Semoga saja aku bisa maju untuk melawan dengan pertaruhan yang lebih besar lagi. Bagaimana dengan kau?
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: aku, bijak, cerita, hati, ironi, kalah, kau, kisah, kita, lakon, lawan, manusia, masa depan, masalah, mata, menang, mereka, panggung, pertaruhan, realitas, sabar, semangat, senyum, sugesti, tidak beruntung | 2 Komentar »
Ditulis oleh permanas di/pada 19 Maret 2009
Kalau bicara mengenai sifat yang satu ini, sepertinya saya termasuk salah satu orang yang mengidap penyakit tersebut, yang kalau dibiarkan bisa membuat segalanya berantakan, kacau, tidak terkendali, dan bahkan bisa menjengkelkan diri sendiri dan orang lain.
Ada kalanya rasa malas itu dibutuhkan untuk menghindari rutinitas keseharian dengan tidak melakukan apapun yang berkaitan dengan bekerja. Namun, di sisi lain, sifat malas itu justru lebih mendatangkan petaka ketika ia dihadapkan dengan suatu pekerjaan atau situasi yang harus diselesaikan sesegera mungkin jika kita tidak ingin terkena dampaknya atas pekerjaan atau situasi itu kalau tidak segera diselesaikan.
Malas berpikir, malas bekerja, malas melakukan sesuatu yang berguna, malas melakukan kebaikan dan perbaikan. Haha, rasa-rasanya malas itu memang menjengkelkan bagi siapa saja yang melihat kemalasan itu sedang berlangsung. Jadi, saya akhirnya sadar diri. Saya tidak ingin kemalasan itu menjerat leher saya sampai kemalasan itu menampar saya ketiksa sedang terlena. Meski enggan, agaknya saya mengangkat tubuh saya dari sandaran kursi, memilah-milah pekerjaan, setidaknya saya tidak ingin melihat seseorang menjadi jengkel karena saya yang sedang malas-malasan itu. Meski setengah hati saya melakukannya, tapi ternyata yang setengah itu sepertinya cukup mampu membangkitkan energi orang lain untuk menarik senyumnya pada saat saya berjuang mati-matian menarik kaki dan tangan saya untuk melangkah dan bergerak karena urat-urat malas itu ternyata sudah sampai kaki saya dan ingin menguasainya.
Tidak bisa tidak, saya benar-benar melawan apa pun yang berusaha menguasai diri saya seutuhnya di bawah kendali saya sendiri, tidak terkecuali sifat malas itu. Dan sepertinya, saya segera ke belakang, mengambil pentungan, melakukan kebrutalan kepada diri saya sendiri, saya harus menjadi pemenang atas diri saya sendiri ketika ada sesuatu yang mencoba menguasai saya. Dan tebak apa yang terjadi, hanya diri saya sendiri lah yang harus menguasai dan mengendalikan kehidupan saya, bukan campur tangan suatu sifat atau pun orang lain. Saya memenangkan diri saya sendiri. Orang macam apa yang kalah atas dirinya sendiri? Saya tidak bisa membayangkan betapa menderitanya dia.
Jadi, malas pun tidak bisa mengalahkan diri saya meski kadangkala ia bisa menyerang saya kapan saja ketika saya lengah.
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: bahasa, bangkit, bebas, brutal, BUDAYA, energi, hati, jengkel, kaki, kalah, kata, kerja, kuasa, kursi, malas, menang, orang, pikir, rasa, rutinitas, senyum, sifat, tampar, tubuh | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 13 Januari 2009
Suatu petang, di warung dekat pinggir jalan, saya tengah duduk berbincang-bincang dengan mereka yang juga sedang menikmati kopi sorenya. Ternyata warung kopi ini dapat menyatukan berbagai macam orang dan pikiran-pikiran mereka, lihat saja, dari yang lehernya berdasi sampai dengan orang seperti saya yang hanya berkaus bolong di sana-sini. Yah, namanya juga pengangguran, walau masih berangka nol besar itu lebih beruntung ketimbang orang yang diturunkan dejaratnya tanpa keinginan dirinya. Karena itu adalah sebuah penyiksaan!
Riuh rendah tawa mereka mengikuti perbincangan tentang isu-isu hangat yang menjadi topik utama atau hanya banyolan ringan terlontar tanpa maksud menyindir siapa-siapa. Kekauan mencair begitu saja biarpun tak ada yang mengenal satu sama lain. Kepenatan setelah kerja menghilang begitu saja dan urat syaraf menjadi cukup kendur, dan saya sepertinya mendapat angin segar untuk mulai mencari-cari kawan yang dapat membantu saya mencarikan lowongan pekerjaan.
“Kopinya tambah, Pak,” kata orang disebelah saya yang sejak datang tadi tidak berkata-kata. Melamun sambil menghisap rokok kereteknya dalam-dalam. Orangnya cukup tua, karena itu rambutnya berselingan antara hitam dan putih serta pipinya agak mengendur seperti mengisahkan perjalanan hidupnya. Sejenak saya termenung memandangi orang itu, entahlah, rasanya saya tertarik begitu saja untuk tetap memperhatikannya. Orang itu langsung menyeruput kopi yang dipesannya setelah pelayan tadi menaruh kopi dihadapannya.
Sedikit demi sedikit keadaan bertambah ramai, maklumlah, sudah saatnya jam pulang kantor. Sementara matahari di atas sana mulai menarik sinarannya dari hamparan langit. Ah, senja ini cukup mendamaikan, tak peduli asap kendaraan dan debu menutupi pemandangan ini, atau lukisan wajah-wajah kelelahan yang memacu dirinya mengejar waktu. Betapa waktu menjadi sangat berharga bagi mereka dan saya hanya menyanggah dagu dan menonton mereka bergelut dengan putaran masa.
“Waktu itu bagaikan pisau, kawan. Kalau kau tidak menggunakannya dengan baik, kau akan terpotong-potong olehnya. Itu sama saja dengan bunuh diri dengan sangat perlahan, dan ketika sadar, kematian sudah akan menjemputmu. Ironis sekali, ironis sekali,” kata lelaki di seberang saya yang sedang berbincang-bincang dengan kawannya. Rasanya perkataan itu membuat saya merasa malu. Kenyataannya, sekarang saya hanya diam menunggu semata-mata kesempatan itu datang tanpa pernah berusaha. Tapi, kenapa mesti malu, bukankah ini hanya sementara sebelum saatnya datang. Sayangnya, semua itu sama saja.
Di sebelah saya orang tua itu masih duduk menghisap rokok dan menyeruput kopi pahitnya yang tinggal setengah. Tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam, matanya berkaca-kaca ingin menangis, seperti ada beban berat terpikul di pundaknya atau ada ganjalan yang menyumbat hatinya. Di kantungnya terselip sebuah bendulan jam terbuat dari perak yang sudah agak kusam. Oleh karena gelisah dengan waktu, saya memberanikan diri untuk menanyakan pukul berapa saat itu kepada orang tua tersebut.
“Maaf, Pak,” kata saya agak malu. “ jam berapa ya, sekarang?” tapi orang tua itu malah menatap saya dengan wajah semakin bingung. Ia lalu mengeluarkan jamnya yang sudah rongsok dan masih menatap saya penuh keanehan.
“Kau lihat saja sendiri,” jawab orang tua itu. Saya bingung, jam rusak kok diperlihatkan kepada saya. Tadinya saya mengira jam tersebut masih berfungsi dengan baik, tapi ternyata jarumnya saja berantakan tidak karuan.
“Lha, kok, jam rusak diperlihatkan kepada saya. Saya kan hanya mau menanyakan pukul berapa sekarang.”
“Iya, tadinya jam tersebut bekerja dengan baik sekali. Tapi karena dulu aku tak pernah menghiraukan waktu, sampai-sampai sekarang aku malah dibuatnya menjadi tua tanpa pernah menjadi apapun. Dan kemarahan memuncak hingga jam milikku satu-satunya yang berharga pun menjadi pecah berantakan karena membendung kemarahan,” jelasnya, lalu mengambil kembali jam bututnya yang tak terasa berada di tangan saya.
“Kemarahan siapa? Apa karena ketuaan yang sekarang ini Bapak menyimpan dendam mendalam kepada diri sendiri karena menyia-nyiakan waktu?”
“Kemarahan siapa? Aku marah pada diriku, kepada hidupku, kepada waktu yang membiarkanku menjadi tua dalam kesendirian dan tak berdaya menghadapi semua itu.” Orang tua itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang mulai berjatuhan. Kenapa tiba-tiba saya menjadi iba kepada orang tua itu, dan mengingatkan diri saya kalau saya juga belum berbuat sesuatu yang berguna dalam kehidupan ini, kehidupan saya sendiri. Apakah saya akan berakhir seperti orang tua di samping saya itu atau waktu akan memotong-motong saya seperti kata lelaki yang ada di seberang saya itu, benarkah demikian? Tampaknya batin saya mulai mempertanyakan kedudukan saya sendiri dan semakin memberontak.
“Engkau masih muda, jangan seperti aku menjadi tua tanpa pernah berbuat sesuatu. Waktu telah membunuh hidupku. Jangan kau lakukan kesalahan seperti yang pernah kuperbuat. Jalan kehidupanmu masih panjang untuk dilalui, kalau tak kau gunakan dengan semestinya, kaupun akan berakhir seperti diriku. Selamat tinggal,” kata orang tua itu lagi setelah menghabiskan kopi pahitnya dan berlalu begitu saja menelusuri pinggiran jalan.
Saya masih heran mengenai diri orang tua itu. Lantas apa saja yang dilakukannya selama ini sebelum waktu memakannya hidup-hidup. Kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga masa tua menjadi tidak berarti, yang seharusnya penuh dengan pengalaman hidup. Aneh memang, waktu memang aneh dalam memunculkan sesuatu, sehingga sayapun tak pernah mengerti apa waktu berjalan atau tidak, berjalan lambat atau cepat, tiba-tiba tanpa sadar saya telah tertinggal jauh dari orang-orang yang selalu bergelut dengan waktu
Saya pun pergi meninggalkan warung kopi itu, mengikuti jejak langkah senja dan mendengarkan suara-suara kesibukan yang masih terus berputar di pinggir jalan itu. Merenungi detik demi detik jarum jam yang tanpa lelah terus berputar. Sambil menelusuri jalan pulang dan sebatang rokok tetap menemani saya melangkahkan kaki dengan sedikit gundah dan selalu bertanya-tanya apa yang mesti saya lakukan.
Orang bijak selalu berkata kalau waktu adalah sejarah perjalanan hidup manusia, dan sejarah adalah perjanjian untuk mereka yang sudah mati, mereka yang masih hidup dan untuk mereka yang belum dilahirkan. Sejarah hidup saya adalah menunggu dengan sia-sia, dan orang tua itu mati dalam sejarah waktu. Saya masih menelusuri pingiran jalan itu, lewati lampu merkuri yang mulai menerangkan sinarannya, sementara hari mulai diselubingi gelap.
“Waktu, ya, waktu. Kenapa kau termenung? Kenapa kau berlari? Sementara aku meneriakkan waktu! Tak bosan aku meneriakkan waktu, dan waktu. Aku adalah waktu, kau adalah waktu, kita semua adalah waktu. Siapapun dapat menjadi Sang Waktu.” Tiba-tiba di persimpangan jalan yang saya lalui ada seorang gila yang meneriakkan isi dari selembar kertas kumal. Entah dari mana ia mendapatkannya. Orang gila saja dapat berbicara tentang waktu. Tapi saya? Ah, orang gila itu lebih beruntung. Hari semakin gelap dan adzan maghrib sudah berkumandang di mesjid-mesjid dan surau. Saya rasa semuanya sudah jelas sekarang.***Gg. Kresna –september 2001
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: bolong, damai, dasi, derajat, gila, hati, isu, jalan, jam, kantor, kantung, kawan, kopi, kusam, leher, lelah, lowongan, malu, marah, masa, mati, mesjid, muda, pekerjaan, penat, perak, pikiran, pinggri, pisau, rokok, rongsok, segar, sejarah, senja, sia-sia, sore, surau, tawa, topik, tua, wajah, waktu, waras, warung | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 17 November 2008
Hah, kadang aku merasa sebagai seorang pelarian, tapi tidak tahu sesungguhnya aku berlari dari apa dan bagaimana aku bisa sebagai seorang pelarian. Nyatanya aku selalu berlari, berlari dari kenyataan, berlari dari tugas, berlari dari tanggung jawab, berlari dari keramaian, dan terlebih lagi, dan ini yang paling buruk dari pelarianku, aku lari dari diriku sendiri.
Rasa kecewa memang bisa membuat seseorang gelap mata, tidak mengakui kegagalan sebagai kenyataan yang harus ditelan sendirian. Terlebih ketika kau harus dipaksa mengakui sesuatu yang tidak pernah kau lakukan. Dan itu akan semakin memperburuk keadaan.
Biasanya aku memiliki tempat pelarianku sendiri, tidak dimana-mana. Aku hanya menenggelamkan diriku sendiri dalam kegelapan, membungkam cahaya sekaligus merindukan suaranya. Ah, bahkan cahayapun tidak pernah bersuara, atau mendesis. Baiklah, sekarang aku menjadi seorang pelarian tanpa tahu apa yang membuatku berlari dari sesuatu, dan aku belum memutuskan kapan harus berhenti. Karena sejauh yang aku tahu, aku paling benci menunggu.
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: benci, cahaya, DARI HATI, gagal, kecewa, lari | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 11 November 2008
Suatu ketika saya sedang membaca sebuah novel yang berjudul ’Sang Musafir’ milik Mohamad Sobary. Sedang asyik-asyiknya membaca, seorang kawan datang menghampiri dan melihat buku yang sedang saya baca. ”Wah, baca apa kamu?” tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya membalikkan halaman depan buku untuk lebih jelas melihat judulnya. ”Wah belagu, sotoy, bacanya kayak beginian!” sambungnya lagi. Meski dengan nada bercanda, tapi sungguh, saya merasa tersakiti, terhina. Apa sebegitu dahsyatnyakah orang-orang yang menghuni bumi Indonesia ketika melihat seseorang membaca sebuah buku, entah itu buku apapun, langsung di bilang seperti itu. Belagu dalam artian banyak lagak, banyak tingkah, sementara bahasa slang sotoy adalah kepanjangan dari ’sok tahu’ hanya karena saya sedang membaca sebuah buku, apalagi hanya novel! Lha, bukannya tugas buku memang berisi pengetahuan, dan berusaha membuat orang menjadi tahu.
Saya jadi tidak habis pikir, apakah saya yang sedang mengalami kemerosotan moral karena membaca buku –maaf- karya Mohamad Sobary yang katanya sudah malang melintang di dunia penulisan, atau, apakah teman saya itu yang sudah benar-benar kehilangan rasa intelektualnya sehingga kegiatan membaca sebuah buku pun dianggap sebagai sebuah upaya banyak tingkah, menghamburkan waktu, bahkan terlebih dari itu, ’sok tahu’ (sotoy). Hingga sampai beberapa hari kekesalan saya tidak juga mereda, apakah orang-orang seperti saya, yang notabenenya memang tidak pernah mengecap lebih dari bangku SLTA, tidak pantas membaca sebuah buku yang menyandang nama besar seorang Mohamad Sobary.
Padahal, sebelum buku itu pun saya sudah banyak sekali melalap buku-buku yang bisa saya jangkau dan ’menyandang nama besar’ juga. Hingga akhirnya kekesalan saya bukannya berkurang malah semakin menjadi-jadi, semakin meradang, apakah ketololan sebegitu mahalnya hingga orang-orang seperti teman saya itu menganggap membaca adalah perbuatan sia-sia, tidak lebih hanya untuk orang-orang yang tahu saja yang boleh membaca sebuah buku?! Kalau mau melihat ke belakang, bahkan orang-orang yang tahu pun sebelumnya pernah tidak tahu, ia menjadi tahu karena mencari tahu hingga banyak tahu. Menjelaskan sesuatu perkara bukannya sebuah sikap sok tahu, tapi sebuah sikap yang mencerahkan pikiran dan wawasan, kalau yang menjelaskan suatu perkara itu memang tahu duduk persoalannya. Tapi saya hanya membaca! Tidak sedang menjelaskan sesuatu! Tapi masih dibilang sok tahu! –maaf, saya emosi sekali- pantas saja, lebih banyak orang bodoh dan bebal yang berkeliaran di negeri ini. Karena buku dianggap sebagai barang haram! Dan yang membacanya dikatakan belagu! Sotoy! Apakah kegiatan menonton televisi –terlebih sinetron dan infotainment- adalah juga kegiatan yang heroik?! Ya Tuhan, sampai kapan negeri ini terbebas dari kebodohan dan ketololan dan sampai kapan orang-orang yang mengidap penyakit kronis negeri ini bisa tercerahkan. Yah, akhirnya, saya pun hanya mengadu kepada Tuhan saya, saya hanya berdoa kepada Tuhan saya agar kebodohan dengan huruf besar di kepala teman saya dan orang-orang seperti teman saya bisa terhapus dari dirinya dan kepalanya. Saya sungguh miris melihatnya tetap seperti itu sementara pikiran saya sudah banyak mengandung banyak kata-kata dan hikmah yang saya punguti satu demi satu dari tiap lembar buku yang saya baca, semoga Tuhan saya bisa melimpahkan sedikit ’nur’-nya kepada orang-orang seperti teman saya itu. Saya rasa itu bisa meredam kekesalan saya.
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: baca, bahasa, belagu, bodoh, buku, dahsyat, hambur, haram, harga, heroik, hina, infotainment, kata, kesal, malang, mohamad sobary, musafir, novel, pikir, reda, redam, sakit, sikap, sinetron, SLTA, sotoy, televisi, teman, tolol, Tuhan, waktu | 1 Komentar »
Ditulis oleh permanas di/pada 11 November 2008
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari kelak, kita cuma bisa melangkah mencari nasib kita sendiri sementara takdir menguntit di belakang –atau malah sudah menunggu di depan-. Aku mengarungi lautan waktu yang tak kenal lelah sampai melintasi batas-batas kesadaranku sebagai manusia dan aku mengetahui kalau kita –manusia- selalu ingin melangkahi keterbatasannya sendiri.
Ini bukan pertarunganku saja, tapi juga pertarungan kita. Masing-masing menjadi medan laga di mana peperangan terjadi antara kita dengan diri kita sendiri. Aku katakan ini kepada diriku sendiri kalau aku tidak terdiri dari satu. Ada ‘diri’-ku yang lain di sini, di jiwaku, yang tanpa sadar pernah berkata kalau diri ini adalah satu kesatuan. Padahal, ternyata, tidak!
Semua semakin terbuka lebar ketika mega menarik tirai fajar, semakin jernih dan jelas seperti embun jatuh ke pelukan sang ibu pertiwi dan mewartakan kalau peperangan ini tak mengenal akhir dan tak ada menang atau kalah, tidak menawan atau tertawan. Tapi kita tidak di pasung melainkan dibebaskan. Aku membebaskan diriku sendiri, bersahaja.
Alam ini tidak bisu meskipun tak dapat mengungkapkan kata-katanya sendiri, tapi kita dengar gemerisik daun kering jatuh melayang dihamparan tanah karena terjatuh dari rantingnya. Daun itu tidak sia-sia, ia rela karena ia tahu pucuk daun yang baru kan segera bermunculan mengantikan dirinya. Kita tak cuma mendengar tapi kita juga belajar melihat ke dalam, melihat kepada kesadaran diri kita sendiri. Dan ternyata, kita dapati, kalau alam ini pun mencoba m,emahami dirnya sendiri.
Hidup kita terbatas meskipun lautan waktu tak mengenal tepi, kita mencoba mencari banyak cara untuk membuat hidup yang terbatas ini menjadi seakan-akan tak terbatas dan mencoba mengingkari kalau kita memiliki keterbatasan. Kalau gagal, kita akan terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Tubuh kita akan hancur, remuk dan semua itu menjadi sia-sia.
Hidup ini bukan hanya sekedar tarian, tapi seluruh tarian menghiasi kehidupan ini, bukan hanya sekedar gerak dan alunan musik melainkan semua gerakan kita menjadi simbol dalam kehidupan ini dan musik menjadi alunan jiwa yang mendayu-dayu, namun tidak tenggelam dalam air mata juga bukan nyanyian kegundahan tapi nyanyian kedamaian yang lahir dari hati yang gundah karena hidup ini tetap melangkah maju.
Kita melayani diri kita dan hari melayani dirinya sendiri sampai senja di kaki langit. Dan, orang-orang yang kelelahan bersandar pada nasib yang tergenggam erat di tangannya meskipun jalan-jalan masih terlihat ramai. Ada semacam kerinduan yang dalam bersarang dan mengeramkan telurnya, telur dari induk kerinduan yang tak terobati. Kita mengisahkannya. Aku rasa, aku baru saja menangis!
Di kaki langit sana, tempat cakrawala membangun kerajaannya, senja mulai menyeret tudung gelap dan kita hanya diberi sedikit lilin penalaran dan cermin untuk melihat wajah kita masing-masing. Aku ingin menunjuk malam sebagai meja sidang, bulan sebagai hakim, dan bintang sebagai juri, sementara kita sebagai terdakwa sekaligus pembela.
Ini dunia, dan dunia tak pernah dianggap bodoh meskipun banyak kebodohan dan ketololan berjangkit di dalam tubuhnya. Kita membela diri kita sendiri karena didakwa bodoh dan tolol, dan menghakimi orang yang mencela kita. Tapi kita dihakimi diri sendiri kalau ternyata perbuatan itu tidak adil dan tidak benar, apalagi dibenarkan. Inilah dunia yang di dalamnya banyak terjadi sandiwara dan ternyata kalau ingin menjadi sesuatu dunia inilah tempat yang cocok. Di sini, di kaki langit, tempat kita berdiri, tempat kita berjalan dan tempat kita menjadi sesuatu.
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: alam, bahasa, diri, fajar, hari, hidup, kaki, kalah, kata, langit, laut, manusia, meda, mega, menang, perang, pertarungan, rindu, tangis, tarian | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 22 Oktober 2008
Baik, baik, aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan menantang matahari untukmu, aku akan melawan kebisingan, membungkusnya dan akan kuhadiahkan untukmu kelak, hadiah yang kubungkus dari dunia yang terbengkalai. Tidak, bukan untuk menghinamu, tapi untuk memberitahu, masih ada yang harus diperhatikan selain nyamuk-nyamuk pada telingamu ketika lelap.
Sekarang aku jauh dari tempatmu berada, aku temukan tempat baru melebihi bukit-bukit di belakang pekarangan rumahmu. Tempat sederhana tapi kekayaannya bukan hanya sekedar bukit yang kau simpan dalam ingatan dan pada punggung rumahmu. Tempatku tidak indah, keindahannya akan terpancar kalau kau menghargai betapa tempat ini akan memberi kehangatan yang tidak dibuat-buat, bukan seperti perapian di ruang tengah dimana biasa kau bermanja-manja dengan kaki terselubung kaus kaki sambil membaca berita tentang orang-orang saling mengejar dan memukul. Miris aku melihatnya.
Sebentar lagi akan ada rumah berdiri di sini, aku bicara dengan pohon-pohon dan mata angin kemana sebaiknya rumahku dihadapkan, ke arah matahari terbitkah, atau ke arah matahari tenggelamkah, atau menyimpang dari keduanya. Aku ingin rumahku tidak memiliki atap, karena aku ingin tidur sambil memandang langit ketika malam. Membincangkan bintang yang saling memamerkan lentik cahaya mereka masing-masing dan bulan selalu saja menjadi penengah di antara mereka. Yah, aku bangun rumah itu dengan membuat bata dari rasa perih ketika harus meninggalkan rumahmu, dan jejak dibelakangnya aku kumpulkan untuk menjadi tiang penyangga. Rindu akan menjadi pintu-pintu di setiap kamar, karena begitu melintasinya, aku seakan berada di rumah kita. Maksudku, rumahmu sekarang.
Aku pergi karena tidak ingin ada kemarahan-kemarahan menjelma di antara kita dan di antara orang-orang yang kita kasihi. Aku tidak kalah, hanya mengalah. Bukan menghindari konflik, tapi bukankah melenyapkan pertempuran memakan sedikit korban daripada mengibarkan bendera perang dan bertempur untuk mempertahankan kebebasan masing-masing. Itu akan membuat banyak orang dan hati terluka. Tapi kita bukan korban. Aku bukan korban.
Maka, seperti para pelukis, aku akan menuangkan kata-kata sebagai cat di atas palet, dan kertas polos itu serupa kanvas, aku akan terbiasa melukis wajah dan senyummu melalui kata-kata. Di rumah yang kubangun, ada ruang khusus di mana semua kata-kata menjadi lukisan dirimu, bayangan yang akan terus ada, bila aku tidak ada, semoga ada orang lain menjaganya. Ruangan itu bercat warna merah dan berlantai kayu. Aku membuatnya sehangat mungkin. Meski hanya lukisan, aku tidak ingin citra itu kedinginan ketika aku tinggalkan sendiri.
Sebenarnya aku tidak ingin apa-apa lagi, tapi seandainya diijinkan, aku ingin kau sekali lagi menjadi tamuku dan makan malam di beranda belakang rumah ini, tempatku. Maka kau akan lihat kelopak-kelopak bunga yang kurawat akan menyambutmu dengan keindahan mereka. Setidaknya mereka menyambutmu, meski kau sudah berusia enam puluh tahun ketika datang ke rumah ini dan menjadi tamuku. Akan kupastikan mereka tetap menyambutmu. Tapi aku tidak berharap banyak.
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: hati, pohon, bulan, berita, kata, marah, dunia, tempat, kaya, rindu, rumah, cinta, arti, langit, bintang, malam, perang, korban, hadiah, kasih, bangun, kejar, bungkus, nyamuk, berada, bukit, pekarangan, manja, mata angin, atap, kehangatan, indah, selubung, kaus kaki, orang, kalah, mengalah, konflik, pertempuran, pelukis, cat, lukisan, merah, dingin, tamu, bunga | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 20 Oktober 2008
Pada waktu aku bimbang, sebenarnya aku mundur satu langkah untuk melihat apa sebenarnya yang telah membuatku menjadi seperti itu. Siapa sih yang tidak punya masalah dalam hidupnya? Tidak ada orang yang tidak punya masalah, itu adalah jawaban yang aku temukan. Memangnya siapa sih yang tidak memiliki permasalahan. Malah aku rasa, suatu masalah membuat seseorang menjadi mengetahui seberapa bagus kualitas kehidupannya, tentu dilihat seberapa cakap ia bisa menyelesaikannya, bukan.
Dan ketika rasa bimbang itu tidak kunjung padam, aku kira, aku salah dengan cara penyelesaian yang aku pilih. Ya, satu-satunya jalan adalah mencari jalan lain, hehehe, gampang kan?
Rasa bimbang sebenarnya adalah suatu indikasi ketika kita tengah berada dalam dua jalan, dua pilihan, dan sayangnya, kita tidak bisa memilih kedua jalan tersebut. Ibaratnya, makan buah simalakama. Daripada tidak dimakan, lapar, tidak tahu rasanya, aku sih pilih, makan saja sekalian buah itu. Ya, sayangkan, sudah nemu buah, tapi tidak dimakan. Hahaha, hanya berkelakar saja. Aku sering bilang, kan, hidup itu terlalu berharga kalau hanya diisi dengan kemuraman saja, apalagi kebuntuan hidup. Kadang aku juga merasakannya sih, menemukan jalan buntu dalam hidup memang sangat menyebalkan. Hei, kabar baiknya, akan selalu ada jalan yang bisa membuat kita keluar dari jalan buntu tersebut. Tapi jangan gelap mata dengan berbuat kejahatan, ya. (meski bagi sebagian orang itu adalah jalan keluar –atau jalan pintas). Orang bijak bilang, kalau kau jadi alat tempa, bersabarlah. Kalau kau jadi palu, hantamlah. Kalau satu-satunya alat yang kau punyai hanya martil, maka semua masalah akan tampak seperti paku. Ya, hajar saja! Bukan dengan memukul orang yang membuat kita bermasalah ya, salah itu. Maksudnya ’hajar’ di sini adalah menyelesaikan segala masalah dan kebimbangan dengan cara-cara yang bermartabat dan beradab Hahaha…. ya, tidak berlu grasak-grusuk, lho. Ketenangan dalam bertindak adalah kunci utamanya. Bimbang adalah situasi di mana kita diharuskan memilih atau tidak memilih sama sekali. Padahal kalau dipikir-pikir tidak memilih saja berarti sudah memilih. Ya, memilih untuk tidak memilih. Segampang itu.
Suatu ketika, seseorang bertanya padaku, pilih mana logika atau kata hati? Lantas aku jawab begini, bahwa kedua-duanya sama penting, yang satu melengkapi yang lain. Tapi kalau aku lebih condong untuk memilih kata hati, kenapa, entah kenapa naluri lebih bisa diandalkan daripada logika, meski logika adalah cara pikir yang patut diperhitungkan. Tapi ya itu tadi, kadang naluri seseorang lebih kuat daripada logika yang dimilikinya. Ambil contoh begini, kita tengah berada di padang pasir yang menurut logika tidak mungkin sama sekali kalau kita menggali semeter di tempat kita berdiri akan keluar air, andaikan saja kita di sebuah bukit pasir yang rasanya semua daratan hanyalah pasir, lainnya tidak. Tapi naluriku kuat mengatakan, dan dengan keyakinan yang sangat, bahwa kalau aku menggali di tempat ini akan keluar air. Mungkin logika akan merana ketika aku menggali dan benar-benar keluar air. Itulah kelebihan dari naluri. Naluri membuat seseorang mampu bertahan hidup dari apapun dan dimanapun ia berada. Logika juga patut diperhitungkan, bukan maksud aku untuk menjatuhkan logika, sama sekali bukan itu maksudku, juga dengan orang yang bertanya kepadaku, aku hanya ingin mengatakan, bagiku, naluri bisa lebih aku andalkan, meski adakalanya meleset! Karena itu, biasanya aku malah menggabungkan keduanya andaikata kalau aku menemukan suatu pilihan yang rumit dan tidak satupun lebih condong, antara logika dan naluri, maka aku menggabungkan keduanya untuk membuat suatu pilihan atau keputusan. Mungkin dengan jalan seperti itu aku bisa menghilangkan kebimbangan-kebimbangan yang kurasakan dalam menjalani kehidupan.
Tapi, orang yang bertanya itu kembali bertanya setelah aku mengemukakan jawabanku. Kenapa orang hidup mesti memilih? Aku tertawa sendiri, meski aku tidak tahu dimana letak kelucuannya, tapi ya itu, aku tertawa sendiri. Yah, bukannya hidup itu adalah masalah pilihan, kau memilih jadi orang baik, maka kau akan menjadi otrang baik, kau memilih jahat, seketika saja kau telah menjadi jaha, kau tidak memilih menjadi apa-apa, maka kau bukan apa-apa. Hidup memberi pilihan, dan kita memilih. Kita akan menjadi ’siapa’ atau si ’apa’ itu tergantung bagaimana kita memilih jalan hidup kita. Kalau aku memilih menjadi orang baik, maka aku akan menjadi orang baik sesuai dengan keinginanku meski ada kemungkinan kalau aku bisa menjadi bisa tidak baik. Begini, kalau kita menanam rumput tidak mungkin kita mengharapkan bisa memanen padi. Kalau kita menanam padi, bisa saja di sela-selanya dapat tumbuh rumput, selain kita bisa memanen padi sebagai hasilnya. Dengan kata lain, meski kita memilih menjadi baik selalu ada kemungkinan sifat-sifat yang tidak baik menyertai perjalanan kita untuk menjadi tidak baik. Hanya, seberapa tahan kita mengekang sikap tidak baik itu dalam kehidupan. Kita tidak bisa membunuh nafsu dalam diri kita, kita hanya bisa mengendalikannya supaya kehidupan kita yang baik ini tidak menjadi rusak karena nafsu yang tidak terkendali.
Dan, dia tidak bertanya kembali soal pilihan hidup. Mungkin saja ia mencoba meneguhkan hatinya dengan pilihan yang akan dibuatnya nanti, yang akan menentukan jalan hidupnya. Kalau ia akan memilih menjadi apa nanti, dalam kehidupannya kelak!
Kalau aku, ya, aku sih memilih meneruskan hidupku sendiri. Hahaha, lha, kalau sudah memilih tapi tidak meneruskan hidup, aku rasa pilihan itu akan sia-sia saja. Yah, bimbang tidak akan membuatku untuk memilih menghentikan hidup! Itu namanya bunuh diri!***
Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: aku, bahasa, bimbang, BUDAYA, buntu, bunuh, contoh, diri, gelap, hajar, hidup, indikasi, jatuh, kata, kehidupan, kejahatan, langkah, martil, masalah, mundur, naluri, padi, paku, panen, pengertian, perjalanan, pilihan, rumput, sayang, simalakama, tawa, waktu | Leave a Comment »