Oleh: Sawaludin Permana
Bicara mengenai puisi, pasti kita akan terkenang hal-hal yang indah tentang kalimat yang tersusun rapih di dalamnya. Permainan simbol dan makna membuat kita merenung, tersenyum dan bahkan kadangkala menitikkan air mata, kadang pula membuat kita tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh sang penyair, karena tidak menyediakan pintu pemahaman yang membuat gelap pikiran kita. Tapi, di sinilah yang membuat suatu karya puisi itu menjadi hidup, pembebasan alam pikiran dibiarkan tumbuh dan terbuka dalam konflik pemaknaan yang melekat dalam susunan suatu kalimat. Sebuah puisi akan mandul apabila ia dianggap hanya sebagai bacaan selintas tanpa menyelidiki penyampaian pemikiran yang diberikan kepadanya. ‘Citra’ puisi itu akan mati karena tidak mengalir, ia hanya berhenti pada pemahaman sejenak. Namun, inti yang terkandung sebagai sebuah manifestasi tidak mencuat keluar ke dalam perilaku pembacanya.
Di sini kita mulai mengerti, mengapa prosa lebih dapat diterima ditengah-tengah masyarakat dari pada sebuah puisi seutuhnya. Jawabannya, mungkin, adalah prosa lebih mudah dipahami dan dimengerti, karena isinya memang jelas dan mudah dicerna oleh alam pikiran pembaca yang memiliki pola pikir berbeda satu sama lainnya dan makna-makna yang ada di dalamnya pun menjadi ‘terang’. Di situ suatu lambang simbol diuraikan secara gamblang dan detail lewat alur cerita yang ikut mengalir bersamanya. Pembaca pun menjadi mudah pula untuk menangkap apa yang disampaikan dan bahkan sangat menikmatinya.
Tapi, sayangnya, disamping itu pula puisi menjadi terdesak jauh ke belakang, menjadi barang usang tanpa perhatian sama sekali. Banyak puisi-puisi lama menjadi karam dan berkarat karena pembahasan dan penelitian sudah jarang sekali diperbincangkan. Pantun-pantun yang mengandung nasihat, syair-sayir lama nan religius, gurindam dan bidal yang hanya tinggal nama. Kita sebagai bangsa Indonesia seharunya merasa prihatin sekali atas nasib perpuisian Indonesia. Karena akar budaya bangsa Indonesia berasal dari sana. Bahkan, mungkin banyak generasi muda kita sekarang sudah tidak mengetahui lagi keberadaannya, mereka sudah sibuk dengan karya-karya yang datang dari luar, sedang ke-Indonesia-annya sendiri terlupakan. Kalau sudah demikian, generasi muda kita sekarang dan yang akan datang bisa kehilangan jati diri ditengah bangsanya sendiri, yang juga berakibat bahasa Indonesia akan semakin terpuruk di negerinya sendiri. Oleh sebab itu, akar budaya bangsa jangan sampai ditinggalkan, karena kalau ditinggalkan bahasa Indonesia akan terhapus, demikian pula bangsanya sendiri akan lenyap, terseret arus globalisasi. Jadi, jangan berharap banyak kalau kesusastraan Indonesia akan berdiri tegak di bumi persada sementara generasi mudanya tidak pernah mengenal apapun tentang kesusastraan Indonesia. Walau mungkin bersifat paradoksal, tapi itu adalah sebuah ironi dan kita tidak dapat menyangkalnya.
Seperti yang pernah diungkapkan Prof. James Danandjaya, guru besar antropologi dan foklor fakultas ilmu sosial dan politik (FISIP) Universitas Indonesia, “… Semakin banyaknya anak Indonesia mengidolakan tokoh-tokoh cerita asing, setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa pemahaman anak terhadap budaya lokal semakin menciut. Memang tidak bijaksana bila arus informasi yang datang dari luar negeri dikekang begitu saja, tetapi seorang anak harus dibekali ke-Indonesia-an yang kuat, karena arus informasi dan percepatan lintas budaya antar bangsa yang terjadi sekarang ini bisa menimbulkan dampak negatif meskipun ada juga pengaruh baiknya…” (Suaka Metro). Dari sini kita bisa melihat betapa masih sedikit penulis-penulis yang dapat mewakili kepribadian bangsa Indonesia yang juga bisa sebagai faktor pembendung karya dari luar, ditambah lagi dengan serbuan budaya asing yang bercampurbaur dengan lemahnya budaya Indonesia saat ini. Keadaan semacam ini dapat merugikan sekaligus membahayakan dan sangat mengancam budaya Indonesia. Apalagi di tengah kemelut yang berkepanjangan, membuat semakin lunturnya semangat untuk tumbuh kembangnya bangsa yang berbudaya.
Memang, kita tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri kenapa hal semacam ini dapat terjadi. Perkembangan sastra (puisi) yang sudah sangat memprihatinkan membuat generasi muda semakin bertambah asing lagi dengan kesusastraan Indonesia. Apalagi keadaan sudah bertambah rumit. Satu-satunya jalan adalah berbuat lebih baik lagi dengan segala kemampuan yang ada, jangan sampai para sastrawan ikut-ikutan tidak peduli, yang nantinya akan semakin berkaratlah kesusastraan Indonesia. Saya merasa itu tidaklah berlebihan, mengingat keadaan sekarang ini, yang seharusnya menjadi pemicu untuk lebih giat lagi berkreasi demi untuk menghidupkan kembali kejayaan perpuisian Indonesia di masa lalu.
Saya mensinyalir kenapa kesusastraan Indonesia, khususnya puisi, menjadi terpuruk sedemikian rupa, setidak-tidaknya ada tiga hal yang ingin saya kemukakan. Karena, yang pertama: saya melihat di sekolah-sekolah, pengajaran kepada anak didik diajarkan dengan cara metode pemahaman yang kaku. Jadi, pemikiran seorang anak –dalam jenjang pendidikan apapun- tidak ‘lepas’ pencarian makna yang tersaji dalam sebuah puisi. Ini relevan dengan apa yang pernah diungkapkan Asrul Sani, bahwa pemahaman itu tidak melulu harus didasarkan pada metode. Biar cabaran pikiran menjangkau sesuai kewajaran yang ada di dalam kehidupan. Saya tidak percaya kepada pemahaman yang yang dilandasi kebakuan metode. Dengan metode, rasanya kok jadi banyak bagian-bagian yang hilang untuk pemahaman linear, ungkapnya. Kemungkinan mereka hanya sebatas kepada sekedar pemahaman saja, tidak lebih dari itu. Ini sama saja dengan seseorang yang menaiki perahu tetapi tidak pernah mengetahui keindahan dan kekayaan yang ada di dasarnya daripada apa yang hanya dilihatnya dari atas perahu.
Kedua: sendi-sendi kelembagaan yang ada di masyarakat tidak berjalan dengan baik. Lembaga-lembaga masyarakat –yang bergerak dalam bidang kepemudan, entah itu gelanggang remaja, sangar-sanggar kesenian, karang taruna, atau hanya sekumpulan orang- yang seharusnya memberdayakan mereka tidak berjalan dengan semestinya. Aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesusastraan, seperti lomba baca puisi, atau semacam bedah buku yang isinya menyangkut tentang perpuisian dan diskusi tentang kesusastraan. Semua itu jarang dilakukan, atau tidak pernah sama sekali. Walaupun dengan alasan kendala biaya atau semacamnya, toh, itu bukanlah sebuah pengecualian, karena masih dapat diupayakan dengan cara lain. Dengan berswadaya dan gotong royong misalnya. Biarpun dalam lingkup yang kecil, tapi ini adalah suku cadang untuk tetap bisa ber-eksistensi-nya perpuisian Indonesia dan kesusastraannya di tengah masyarakat dan bangsanya sendiri.
Ketiga: lesunya penciptaan hasil karya puisi dan sastra membuat dukungan dan sambutan generasi muda dan masyarakat menjadi rendah pula terhadap perpuisian Indonesia. Sejalan dengan itu akan semakin surutlah penghargaan mereka terhadap karya-karya sastra dan sastrawan yang berdiri di belakangnya. Semua orang mungkin tahu tentang ungkapan bahwa sebuah negara yang tidak mempunyai penyair dianggap kurang bermutu, lebih tidak bermutu lagi jika tidak menghargai para penyairnya. Lantas, bagaimana halnya dengan kita bangsa Indonesia yang katanya berbudaya?
Saya menyadari, memang tidak semua orang yang habis membaca sebuah cipta sastra lantas menjadi seorang penyair atau sastrawan. Jawabannya, tidak! Tapi bukan berarti mengesampingkan kalau semua manusia di dalam dirinya selalu mencintai keindahan, karena pada dasarnya manusia itu sendiri adalah obyek sekaligus subyek dari keindahan. Walau hadir dalam bentuk apapun, manusia akan meresponnya, baik pujian maupun kritikan. Manusia adalah tujuan dari keindahan. Begetu pula dengan kesusastraan, pikiran akan menjadi terbuka, dalam artian mereka dapat membebaskan pikiran merekan sendiri dan menemukan arti dari makna-makna yang ada di dalamnya dan berlanjut ke dalam perilaku mereka sebagai penanaman sebuah prinsip. Dengan begitu nilai-nilai yang dihadirkan menjadi hidup karena menyatu dengan hati dan jiwa pembacanya dan tidak berhenti kepada pemahaman yang berpendapat bahwa suatu karya sastra harus dianggap baik tanpa mendapat kritik yang tajam. Kalau demikian yagn terjadi, maka suatu karya sastra tidak berperan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itu sebuah karya sastra harus diselidiki. Sebuah karya sastra bukan hanya di dapat melalui ‘ilham’ saja, tetapi juga hasil dari pemikiran dan kesadaran pengarangnya. Jadi, saya menekankan penilaian itu jangan selalu mengedepankan estetika semata tanpa memberikan sumbangsih apapun kepada masyarakat. Tapi, apakah suatu cipta sastra itu berdampak baik atau buruk di tengah masyatakat yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya karya itu dapat melekat pada perilaku pembacanya.
Di sini esensi sastra sebagai benteng moral sangat diperlukan. Itu memang harus. Karena kesusastraan yang sejati adalah bahwa isi kesusastraan itu bermanfaat bagi masyarakat luas dan bersifat sebagai pembendung dan penyaring (filter) kebudayaan asing yang masuk ke tengah-tengah masyarakat, di mana rata-rata penduduknya adalah hetero-kultural dan hetero-sosio yang pada akhirnya sastra sebagai salah satu perangkat untuk menghaluskan akhlak dan budi pekerti masyarakat. Jadi, tidak hanya mengedepankan aliran seni untuk seni seperti yang terjadi pada bangsa barat di masa lalu yang berkesan borjuisme yang serba sekular, dan bukan hanya sekedar berdaya cipta menumbuhkembangkan aliran seni untuk rakyat yang menyelewengkan istilah ‘rakyat’. Semua itu akanmelahirkan konflik sosia;, kesenjangan kaya dan miskin, perkosaan dan perhambaan, membunuh kelas yang satu demi memenangkan kelas yang lain, manipulasi antar tiap golongan yang nanti pada akhirnya akan menimbulkan kekacauan secara besar-besaran. Kalau sudah demikian sastra tidak lagi berfungsi sebagai penghalus budi, ia telah berubah fungsi menjadi alat propaganda yang murah.
Sekarang yang harus benar-benar diperhatikan adalah bagaimana membangun kembali citra masyarakat terhadap karya cipta sastra Indonesia pada saat ini dan juga untuk masa-masa berikutnya lewat karya-karya yang dihasilkan supaya membangun paradigma masyarakat kepada hasil karya sastra. Di sinilah peran kita semua dan para sastrawan sangat dibutuhkan, mengingat sastrawan maupun penyair sangat sensitif dengan gejala sosial-budaya yang bergerak dan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan meng-aktualisasi-kan pikiran-pikiran mereka lewat karyanya. Karena, seorang penyair yang besar adalah penyair sekaligus seorang filsuf.
*****
Di abad yang serba canggih ini teknologi menjadi amat begitu penting sebagai sarana penunjang kehidupan manusia di dunia ini dan tumbuh dengan sangat pesat sekali karena di dalamnya menyediakan informasi-informasi yang super-komplit. Siapa yang memiliki teknologi paling canggih dia memegang bendera peradaban dan siapa yang paling banyak menyerap informasi dengan benar dialah yang mewarnai peradaban dalam dunia ini. Karena sifatnya yang mengglobal. Jadi, kesusastraan mau tidak mau akan tetap membutuhkan sarana ini. Dengan begitu ia –kesusastraan- akan dapat berperan dalam persaingan yang universal, di smaping media lainnya sebagai pengembangan kesusastraan Indonesia untjk mengenalkan kesusastraan kita kepada dunia internasional. Tapi, bikan berarti buku atau media cetak tidak dibutuhkan lagi. Sebab, di dalam perangkat komputer yang penuh dengan informasi, semua terjadi begitu cepat bila dibandingkan dengan buku. Karena, berita-berita yang disajikan setiap hari bertambah dan akan terus bertambah, yang memungkinkan informasi yang terserap akan menjadi terbengkalai karena kurang pengkajian yang mendalam, sementara itu di depan mata sudah ada karya-karya atau informasi-informasi yang lain lagi. Beda halnya dengan buku, karena semuanya berlangsung tetap dan stabil. Jadi, dalam pengkajiannya pun tetap dan stabil pula. Karena itulah buku dan media cetak lainnya tetap dibutuhkan, selain tentunya dengan mempergunakan media komputerisasi.
Sastra masuk komputer (baca: internet) memang bukanlah hal baru bagi kita semua, ini terlihat begitu banyaknya situs-situs sastra yang marak di internet. Dan, karya-karya yang dihadirkan pun patut diperhitungkan oleh kita semua. Menurut Iwan Soekri Munaf, salah seorang editor Graffiti Gratitude (GraGra), kepada Sinar Pagi, ia mengatakan bahwa internet lebih mempercepat kematangan dan kemunculan penyair wajah baru, yang karyanya boleh bersaing dengan penyair koran yang lebih senior. Di dalam media konvensional seperti media massa dan penerbitan, boleh jadi nama-nama penyair yang potensial akan terhambat muncul karena berbagai kendala teknis dan non teknis. Misal, harus bertarung terlebih dahulu dengan selera redaktur budaya dan keterbatasan ruang yang ada. Namun, saya berharap, dengan bantuan media internet, secara lambat laun keterpurukan kesusastraan Indoneisa sedikit demi sedikit akan mampu berdiri dan dapat bersaing dengan kesusastraan bangsa lain, diikuti pula oleh bangkitnya kembali minat dan perhatian generasi muda bahwa betapa pentingnya suatu kesusastraan bagi sebuah bangsa sebagai hasil dari pemikiran dan kebudayaan.
*****
ketika kita dihadapkan kepada sebuah kehidupan yang serba mekanis, waktu yang serba cepat dan serba instant, kita semua merasa gersang dan gelisah. Kita mulai sadar untuk mencari sebuah ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan yang mulai menjemukan. Di sinilah sesungguhnya suatu kesusastraan dibutuhkan dan dirindukan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang kadangkala sering dialpakan dan dibiarkan bertumpuk dan berdebu. Kita tertidur dengan mimpi-mimpi dan ilusi tanpa pernah tersadar untuk bangun dan berbuat sesuatu.
Puisi mengajarkan kita tentang keindahan dan kelembutan lewat kata-katanya yang bijak, meski terkadang ia juga bisa sekeras batu dan menghantam. Membawa kita kepada pengalaman bathin dan pengembaraan pikiran, membuka salah satu jendela kehidupan yang sarat dengan makna-makna dan mencari setitik cahaya dalam kegelapan. Puisi dan filsafat seperti kuku dengan daging yang tak dapat dipisahkan, di dalam dirinya selalu ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada diri setiap manusia yang sering tidak terungkapkan lewat kata-katanya yang sedikit.
Puisi sebagai hasil kebudayaan dari pemikiran manusia menawarkan kita untuk menciptakan kerukunan, kedamaian, saling hormat menghormati dalam nuansa yang berbeda-beda dari kehidupan manusia untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang telah menjadi kesepakatan dalam masyarakat. Di sana kita akan menemukan jati diri dari sebuah puisi, menyerasikan kehidupan dengan dunianya yang beraneka ragam.
Apabila seorang penyair menangis, menjatuhkan air mata, maka tanpa ragu lagi bangsa yang didiaminya itu sedang sakit. Karena seorang penyair adalah sebagai mata dalam tubuh manusia, ujar Muhammad Iqbal, yang kalau diartikan kurang lebih adalah juga sebagai mata dalam sebuah bangsa dan negara. Oleh sebab itu, mari kita semua bersama-sama membangun lagi kejayaan perpuisian Indonesia, mari kita bersatu dalam keragaman, karena keragaman adalah tempat yang cocok untuk berkesenian, dan dengan berkesenian kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.***(dari berbagai sumber, 2001)