Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Arsip untuk ‘OPINI’ Kategori

SUARA!!

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Belakangan hari ini banyak orang meributkan suara. Entah itu di radio, televisi, surat kabar, bahkan oborolan yang berseliweran di warung kopi, angkutan umum, sampai pusat-pusat perbelanjaan, semua orang sedang meributkan sebuah “suara”. Kalau mau dipikir sih ya, sekarang saja kita pun sedang bersuara. Hahaha, lain soal kalau yang diperbincangkan bukan suara yang seperti itu.

Ada yang bilang makelar suara, jual beli suara, patungan suara, penimbun suara, bahkan “suara siluman” juga ikut andil dalam perkara suara menyuarai ini. Ketika melihat orang-orang sibuk mendagangkan suara mereka, yang mendengar pun ikut mengkalkulasikan suaranya sendiri. Apakah akan membarternya dengan suara yang didengarnya di tengah hiruk-pikuk panggung goyang ngebor, ngecor, gergaji, atau apalah sebutannya, yang jelas, suara-suara itu timbul tenggelam dalam hingar-bingar dan kebisingan yang memekakan telinga itu.

Walhasil, siapa yang membeli dan siapa yang dibeli menjadi kabur, konsep menawarkan jual beli suara sontak mendadak pelik. Apa yang diributkan, siapa yang diperkarakan, apa memperbicangkan si apa dan apa-apanya menjadi kehilangan substansi, semua mendadak hilang ketika sound system mulai ikut-ikutan mengeluarkan suaranya, tidak mau kalah, meski ia tidak tahu apa yang sedang disuarakan, yang jelas, nyaring saja dahulu, makna dan isi disemburkan belakangan saja. Toh, asal terdengar jelas, semua orang senang, tidak gelisah, biar itu hanya beberapa jam saja setelah mengganti bajunya dengan baju yang baru saja diberikan secara cuma-cuma namun mengandung unsur yang tidak cuma-cuma itu mampu menyusupkan mimpi-mimpi dari telinga ke jantung mereka langsung tanpa operasi by pass.

Lain lagi di warung kopi seberang jalan sana, hanya karena memperbincangkan sebuah suara, apakah ia akan memberikan suaranya kepada orang lain atau tidak, tiba-tiba menjadi perkara serius. Jual beli suara ini berujung menjadi jual beli otot, tantangan berupa “elu jual, gue beli” menjadi dagangan murah meriah namun memiliki ekses yang mahal dan tidak tanggung-tanggung, nyawa pun bisa dipertaruhkan di sana hanya karena sebuah suara yang belun jelas nota benenya mau di-kemana-kan nantinya malah berujung dalam ruang UGD dengan tambahan beberapa sulaman dan jahitan di tubuh.

Dalam banyak hal kehidupan, sebuah “suara” bisa menentukan jalan hidup. Misal, sebuah suara hati dalam diri seseorang juga akan menentukan tindak tanduknya dalam menjalani kehidupannya. Tergantung apakah ia akan meng-iya-kan suara hatinya atau menolak mentah-mentah itu urusan pribadi masing-masing. Urusan satu suara pun bisa menentukan sebuah perjalanan sebuah bangsa yang sedang dalam tahap urusan demokrasi. Pilihan satu suara yang dijatuhkan sanggup menyetir roda pemerintahan dalam kurun periode tertentu, yang berimbas pada kehidupan berbangsa dan bernegara kepada warganya, yang bermula dari suara hati untuk membarter suaranya dengan orang-orang yang mewakilkan suaranya itu. Karena saking kecewanya, ada juga yang menolak membarter suaranya dengan janji-janji apapun yang diiming-imingkan ke depan wajahnya dengan tetap berdalih “suaraku adalah milikku” dan menjadi slogan yang menyebar layaknya sebuah virus, hanya karena sebuah kekecewaan kepada janji yang tidak pernah tertuntaskan telah menjadi sebuah budaya tersendiri dalam sebuah proses berdemokrasi.

Dalam kehidapan sekarang dengan teknologi yang sudah jauh melampaui angan-angan sebelumnya, bahkan dari penciptanya, suara-suara itu kini mampu bertransformasi dalam berbagai bentuk, tidak hanya didengar, dilipat, dikompres dalam arus listrik, bahkan suara itu sudah mampu menyusup dalam pikiran seseorang tanpa pernah diketahui siapa pun. Suara-suara itu lalu mentransferkan energinya mulai dari lingkup pribadi ke lingkup keluarga, lingkungan, pergaulan, sistem-sistem sosial. Suatu suara bisa saling mempengaruhi satu sama lain dan memiliki posisi tawar yang sama untuk menang, kalah, atau berada di tengah-tengah sampai menunggu kesempatan untuk menang atau beresiko kalah.

Untung kepada mereka yang memiliki otoritas sendiri atas dirinya dan suara yang dimilikinya. Kontrak politik atas suara yang dibarter bisa dimungkinkan kalau semuanya berjalan lancar, tidak hanya sekedar basa-basi dan tanda tangan di atas kertas fotokopi semata. Hanya karena sebuah suara, banyak orang rela untuk bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik lagi dari sekarang, tentunya dengan resiko kegagalan demi kegagalan. Hanya suara yang jelas-jelas keluar dari nurani sajalah tetap menuntaskan janji-janji atas suara yang telah dibarter kepadanya dan tetap bekerja keras meski gagal, dikucilkan, diabaikan.

Jadi, suara siapa yang mesti dikedepankan terlebih dahulu? Salam suara!! lhaa…??

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Gagasan dalam perspektif estetika

Ditulis oleh permanas di/pada 3 April 2009

Oleh: Sawaludin Permana

Gagasan-gagasan cemerlang yang jika dikaitkan dengan sudut pandang estetika pastilah berkaitan dengan pencerapan-pencerapan makna yang dapat dituangkan ke dalam suatu hubungan interpersonal antara hasil karya cipta dengan para penikmatnya, sebut saja ketika suatu karya puisi diciptakan, atau bentuk ruang bangun dalam seni rupa, misalnya. Dalam kehadirannya yang sunyi beberapa hal memang masih terkandung di ranah hening pikiran si penciptanya dan media pikirannya sendiri yang merasakan hubungan kedekatan tersebut. Ketika suatu karya disajikan ke tengah masyarakat sebagai sasaran utama, kecuali hasil karya tersebut dibuat untuk konsumsi pribadi yang tidak memerlukan persepsi publik selain dari si empunya sebagai ‘peraji’ yang melahirkannya ke dunia ini, pikirannya memang yang mengandung semua itu, terlebih ketika berhadapan dengan dunia nyata. Justru seharusnya, dunia nyata itu, ia adalah media tempat tumbuh kembangnya gagasan yang memerlukan tempaan lebih dari sekedar tanah gembur dan subur untuk mencengkramkan akar-akar ide itu ke dalam pikiran dan cecapan para penikmatnya.

Memang, estetika, jika dijelaskan secara sederhana adalah suatu ilmu yang membahas tentang keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Gagasan, dalam segala bentuk dan manifestasinya, adalah sebuah hasil dari kerja-kerja intelektual seseorang yang masih dalam proses mewujud. Ketika gagasan merubah dirinya men-jadi sesuatu yang dapat dilihat, dirasa, diraba, atau dinikmati, maka ia sudah menjadi sebuah ‘produk kreatif’ dari gagasan itu sendiri setelah melalui proses pergumulan batin yang melelahkan.

Gagasan jika dilihat dari sudut pandangan estetik adalah suatu ide kreatif imajinatif, gagasan yang berjalan di atas benang-benang keindahan yang saling menjalin membentuk sebuah guratan estetis di dalamnya. Terlepas dari pandangan obyektif atau pun subyektif, toh, gagasan yang dihadirkan dalam suatu bentuk apa pun tetap memiliki keindahannya sendiri. Apakah itu suatu bentuk yang memang benar-benar dikatakan indah atau bentuk imajinatif dalam konsep ‘beauty inside the beast’, tetaplah memiliki nilai estetisnya sendiri.

Memang, pada dasarnya seluruh ide penciptaan mengacu pada nilai-nilai estetis. Meskipun nilai estetis itu sebenarnya bisa dikatakan relatif. Dikatakan relatif karena indah atau tidak, estetis atau tidak estetis suatu karya itu memang benar-benar tergantung dari sudut pandang si penikmat atau penggunanya sebagai sasaran dari produk kreatif itu. Bisa saja, bentuk yang abstrak atau kata dan kalimat yang tak beraturan memiliki kenikmatan dan maknanya tersendiri, tergantung bagaimana cara si penikmat menghayati hasil karya itu. ‘Menggugah kesadaran estetik’ seseorang adalah cara lain gagasan merealisasikan dirinya dalam bentuknya yang halus dan hampir selalu luput dari pandangan mata yang tidak jeli menangkap ide-ide gagasan dari sebuah rasa estetik yang memang ‘sengaja’ disembunyikan dari si penciptanya.

Jadi, apa pun bentuk dan wujud dari gagasan itu, tersimpan dalam benak imaji yang tersembunyi atau pun benar-benar mengejawantah, tetap memiliki nilai estetiknya sendiri. Salam.***dari berbagai sumber.

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Memberi Lebih Maka Kau akan Menerima Lebih

Ditulis oleh permanas di/pada 11 Desember 2008

Sawaludin Permana – Relawan Yappika

Sejak pertama kali saya menggabungkan diri dengan Yappika sebagai relawan, saya mulai mengerti bagaimana melihat sesuatu dengan cara pandang yang –katakanlah- sedikit berbeda. Melihat bagaimana kondisi sosial sebegitu stagnannya, bahkan di lingkungan saya sendiri, dan memerlukan sebuah sentuhan di mana perubahan memang betul-betul dibutuhkan, malah diharuskan saya rasa. Ada banyak orang tidak mengerti mereka harus mulai dari mana melakukan perubahan-perubahan itu, dan yang lebih parah lagi, mereka tidak tahu apa yang harus mereka rubah. Karena mereka sudah terlalu sangat terbiasa dengan ‘zona nyaman’ yang mereka ciptakan, padahal sejatinya kondisi itu sangat jauh dari rasa nyaman. Saya jadi berpikir berpuluh kali lipat, bagaimana seseorang bisa sangat nyaman dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk merasa nyaman.

Ketika seseorang mulai mengungkapkan keluhan-keluhannya, pada saat itulah ada sesuatu yang salah tengah terjadi. Dalam keadaan seperti ini, banyak sekali keluhan-keluhan terlontar dari sekian banyak orang, di mana-mana orang saling berebut menyuarakan keluhan mereka –mudah-mudahan saya tidak termasuk yang banyak itu, amin-. Dan bukannya marah, saya menjadi trenyuh, sakit, bingung, dan mulai berpikir –saya tidak tahu apakah saya trenyuh mendengar keluhan-keluhan mereka atau tersentuh karena mereka tidak tahu bagaimana cara menghilangkan keluhan-keluhan yang mereka ungkapkan- syukurnya kebingungan saya itu tidak berlangsung lama dan berlarut-larut. Saya mulai mempelajari bagaimana sebuah keluhan itu muncul, ekses apa saja yang mungkin terjadi ketika keluhan-keluhan itu mencuat ke permukaan, dan mencari cara bagaimana menguranginya kalau tidak bisa menghilangkannya.

A ha! Ternyata formulanya cuma satu, berubah! Perubahan memungkinkan kondisi stagnan tadi bisa bergerak kalau tidak ingin dikatakan berjalan. Berbagai cara saya terapkan bagaimana agar seseorang bisa berubah, termasuk saya, hahaha… dan selalu saja ada orang yang belum siap menerima perubahan itu sendiri. Saya harus melakukan semua cara agar apa yang saya lakukan untuk perubahan itu dimungkinkan, meski terkadang, cara saya salah dan bisa membuat orang lain tidak nyaman dengan perubahan yang saya buat. Apa mau dikata, perubahan harus tetap terjadi. Jika mereka tidak ingin, biar saya saja yang melakukan perubahan itu sendirian.

Jadi ketika sebuah ungkapan yang sangat menyakitkan bisa membuat seseorang mengerti harga dirinya sendiri maka satu hal kemungkinan terjadi dalam ruang kesadaran seseorang bahwa sesuatu tengah berubah di sekitar dirinya dan akan mengubah dirinya menuju perbaikan-perbaikan dan menuntut dirinya untuk selalu memperbaiki sikap dan kelakuannya agar bisa diterima kembali, dalam artian, sikap itu tentunya memiliki norma-norma tertentu di mana diri seseorang itu berada. Namun, jika sebuah perubahan tidak bisa diterima begitu saja, ada kemungkinan cara yang diterapkan untuk melakukan perubahan dalam lingkungan sosial, kerja, maupun pribadi, tidak berjalan dengan semestinya, atau ada beberapa kemungkinan kesalahan terjadi dalam penerapan tersebut sehingga apa yang dilakukan dalam melakukan perubahan tidak bisa diterima begitu saja.

Penolakan (baik secara halus maupun terang-terangan) mengindikasikan ada sesuatu yang belum siap berubah atau perubahan itu membuat kepentingan pribadi seseorang merasa terusik, zona kenyamanan yang selama ini terpelihara tiba-tiba terusik dan mengakibatkan posisi ‘kenyamanan’ seseorang benar-benar tidak dapat ditolelir lagi karena kepentingan pribadi telah bermain. Adakalanya ketersendatan sebuah kemajuan dikarenakan zona kenyamanan seseorang terus menerus dipelihara tanpa ada suatu tindakan bahwa ‘zona kenyamanan’ itu memang bisa dipertanggungjawabkan dalam waktu sementara, tapi untuk jangka panjang, hal itu bisa berakibat buruk bagi keadaan dan lingkungan yang membiarkan sebuah zona nyaman tersebut tumbuh.

*** ***

Tahu falsafah Hindu yang berbunyi ’Tat Twam Asi’? Yang artinya kurang lebih, aku adalah engkau dan engkau adalah aku (aku ya engkau –engkau ya aku-). Saya mengadopsinya dalam kehidupan yang saya jalani. Jadi, kalau saya melihat orang lain sedih, susah, maka alarm empati saya langsung menyala, ikut sedih, ikut susah dengan apa yang dialami oleh mereka. Kalau saya tidak bisa membantu dengan uang, semoga saja saya dapat membantunya dengan kemampuan tenaga yang saya punya, jika saya tidak bisa melakukan keduanya, semoga doa saya bisa mengurangi beban mereka. Kalau mereka senang, tertawa lepas, maka hati saya juga ikut tertawa bersama mereka, semoga kebahagiaan mereka tetap bersama dalam kehidupan mereka sampai kapan pun.

Karena itu, salah satu prinsip hidup yang saya terapkan belakangan ini, kalau kau memberi lebih maka kau pun akan menerima lebih. Ukurannya, hahahaha…. saya tidak pernah mengukur apa yang sudah saya perbuat untuk melakukan suatu perubahan bagi diri sendiri, terlebih bagi banyak orang lain. Selama saya mampu memberi lebih dari apa yang saya miliki, saya tidak perlu memikirkan apa yang akan saya terima. Buktinya, saya tetap hidup sampai sekarang dan terus bereksperimen untuk membuat perubahan-perubahan itu menjadi mungkin. Ya, memang lingkupnya belum besar, setidaknya saya kan mencoba dari diri sendiri dulu, hahahahaha….. Bagaimana dengan Anda?

Saya selalu terinspirasi dengan sebuah ungkapan yang mengatakan jangan takut untuk berimajinasi, bermimpilah, karena semua hal besar berawal dari mimpi (apa mungkin begitu?) Jadi, bermimpilah, dan lakukan apa yang perlu dilakukan. Saya tidak takut bermimpi, dan, saya tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah saya pilih untuk saya lakukan. Setidaknya saya tidak berhenti pada satu titik kehidupan di mana perubahan tidak perlu dilakukan. Salam.

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Perpuisian Indonesia: Mencari Jati Diri

Ditulis oleh permanas di/pada 10 September 2008

Oleh: Sawaludin Permana

Bicara mengenai puisi, pasti kita akan terkenang hal-hal yang indah tentang kalimat yang tersusun rapih di dalamnya. Permainan simbol dan makna membuat kita merenung, tersenyum dan bahkan kadangkala menitikkan air mata, kadang pula membuat kita tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh sang penyair, karena tidak menyediakan pintu pemahaman yang membuat gelap pikiran kita. Tapi, di sinilah yang membuat suatu karya puisi itu menjadi hidup, pembebasan alam pikiran dibiarkan tumbuh dan terbuka dalam konflik pemaknaan yang melekat dalam susunan suatu kalimat. Sebuah puisi akan mandul apabila ia dianggap hanya sebagai bacaan selintas tanpa menyelidiki penyampaian pemikiran yang diberikan kepadanya. ‘Citra’ puisi itu akan mati karena tidak mengalir, ia hanya berhenti pada pemahaman sejenak. Namun, inti yang terkandung sebagai sebuah manifestasi tidak mencuat keluar ke dalam perilaku pembacanya.

Di sini kita mulai mengerti, mengapa prosa lebih dapat diterima ditengah-tengah masyarakat dari pada sebuah puisi seutuhnya. Jawabannya, mungkin, adalah prosa lebih mudah dipahami dan dimengerti, karena isinya memang jelas dan mudah dicerna oleh alam pikiran pembaca yang memiliki pola pikir berbeda satu sama lainnya dan makna-makna yang ada di dalamnya pun menjadi ‘terang’. Di situ suatu lambang simbol diuraikan secara gamblang dan detail lewat alur cerita yang ikut mengalir bersamanya. Pembaca pun menjadi mudah pula untuk menangkap apa yang disampaikan dan bahkan sangat menikmatinya.

Tapi, sayangnya, disamping itu pula puisi menjadi terdesak jauh ke belakang, menjadi barang usang tanpa perhatian sama sekali. Banyak puisi-puisi lama menjadi karam dan berkarat karena pembahasan dan penelitian sudah jarang sekali diperbincangkan. Pantun-pantun yang mengandung nasihat, syair-sayir lama nan religius, gurindam dan bidal yang hanya tinggal nama. Kita sebagai bangsa Indonesia seharunya merasa prihatin sekali atas nasib perpuisian Indonesia. Karena akar budaya bangsa Indonesia berasal dari sana. Bahkan, mungkin banyak generasi muda kita sekarang sudah tidak mengetahui lagi keberadaannya, mereka sudah sibuk dengan karya-karya yang datang dari luar, sedang ke-Indonesia-annya sendiri terlupakan. Kalau sudah demikian, generasi muda kita sekarang dan yang akan datang bisa kehilangan jati diri ditengah bangsanya sendiri, yang juga berakibat bahasa Indonesia akan semakin terpuruk di negerinya sendiri. Oleh sebab itu, akar budaya bangsa jangan sampai ditinggalkan, karena kalau ditinggalkan bahasa Indonesia akan terhapus, demikian pula bangsanya sendiri akan lenyap, terseret arus globalisasi. Jadi, jangan berharap banyak kalau kesusastraan Indonesia akan berdiri tegak di bumi persada sementara generasi mudanya tidak pernah mengenal apapun tentang kesusastraan Indonesia. Walau mungkin bersifat paradoksal, tapi itu adalah sebuah ironi dan kita tidak dapat menyangkalnya.

Seperti yang pernah diungkapkan Prof. James Danandjaya, guru besar antropologi dan foklor fakultas ilmu sosial dan politik (FISIP) Universitas Indonesia, “… Semakin banyaknya anak Indonesia mengidolakan tokoh-tokoh cerita asing, setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa pemahaman anak terhadap budaya lokal semakin menciut. Memang tidak bijaksana bila arus informasi yang datang dari luar negeri dikekang begitu saja, tetapi seorang anak harus dibekali ke-Indonesia-an yang kuat, karena arus informasi dan percepatan lintas budaya antar bangsa yang terjadi sekarang ini bisa menimbulkan dampak negatif meskipun ada juga pengaruh baiknya…” (Suaka Metro). Dari sini kita bisa melihat betapa masih sedikit penulis-penulis yang dapat mewakili kepribadian bangsa Indonesia yang juga bisa sebagai faktor pembendung karya dari luar, ditambah lagi dengan serbuan budaya asing yang bercampurbaur dengan lemahnya budaya Indonesia saat ini. Keadaan semacam ini dapat merugikan sekaligus membahayakan dan sangat mengancam budaya Indonesia. Apalagi di tengah kemelut yang berkepanjangan, membuat semakin lunturnya semangat untuk tumbuh kembangnya bangsa yang berbudaya.

Memang, kita tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri kenapa hal semacam ini dapat terjadi. Perkembangan sastra (puisi) yang sudah sangat memprihatinkan membuat generasi muda semakin bertambah asing lagi dengan kesusastraan Indonesia. Apalagi keadaan sudah bertambah rumit. Satu-satunya jalan adalah berbuat lebih baik lagi dengan segala kemampuan yang ada, jangan sampai para sastrawan ikut-ikutan tidak peduli, yang nantinya akan semakin berkaratlah kesusastraan Indonesia. Saya merasa itu tidaklah berlebihan, mengingat keadaan sekarang ini, yang seharusnya menjadi pemicu untuk lebih giat lagi berkreasi demi untuk menghidupkan kembali kejayaan perpuisian Indonesia di masa lalu.

Saya mensinyalir kenapa kesusastraan Indonesia, khususnya puisi, menjadi terpuruk sedemikian rupa, setidak-tidaknya ada tiga hal yang ingin saya kemukakan. Karena, yang pertama: saya melihat di sekolah-sekolah, pengajaran kepada anak didik diajarkan dengan cara metode pemahaman yang kaku. Jadi, pemikiran seorang anak –dalam jenjang pendidikan apapun- tidak ‘lepas’ pencarian makna yang tersaji dalam sebuah puisi. Ini relevan dengan apa yang pernah diungkapkan Asrul Sani, bahwa pemahaman itu tidak melulu harus didasarkan pada metode. Biar cabaran pikiran menjangkau sesuai kewajaran yang ada di dalam kehidupan. Saya tidak percaya kepada pemahaman yang yang dilandasi kebakuan metode. Dengan metode, rasanya kok jadi banyak bagian-bagian yang hilang untuk pemahaman linear, ungkapnya. Kemungkinan mereka hanya sebatas kepada sekedar pemahaman saja, tidak lebih dari itu. Ini sama saja dengan seseorang yang menaiki perahu tetapi tidak pernah mengetahui keindahan dan kekayaan yang ada di dasarnya daripada apa yang hanya dilihatnya dari atas perahu.

Kedua: sendi-sendi kelembagaan yang ada di masyarakat tidak berjalan dengan baik. Lembaga-lembaga masyarakat –yang bergerak dalam bidang kepemudan, entah itu gelanggang remaja, sangar-sanggar kesenian, karang taruna, atau hanya sekumpulan orang- yang seharusnya memberdayakan mereka tidak berjalan dengan semestinya. Aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesusastraan, seperti lomba baca puisi, atau semacam bedah buku yang isinya menyangkut tentang perpuisian dan diskusi tentang kesusastraan. Semua itu jarang dilakukan, atau tidak pernah sama sekali. Walaupun dengan alasan kendala biaya atau semacamnya, toh, itu bukanlah sebuah pengecualian, karena masih dapat diupayakan dengan cara lain. Dengan berswadaya dan gotong royong misalnya. Biarpun dalam lingkup yang kecil, tapi ini adalah suku cadang untuk tetap bisa ber-eksistensi-nya perpuisian Indonesia dan kesusastraannya di tengah masyarakat dan bangsanya sendiri.

Ketiga: lesunya penciptaan hasil karya puisi dan sastra membuat dukungan dan sambutan generasi muda dan masyarakat menjadi rendah pula terhadap perpuisian Indonesia. Sejalan dengan itu akan semakin surutlah penghargaan mereka terhadap karya-karya sastra dan sastrawan yang berdiri di belakangnya. Semua orang mungkin tahu tentang ungkapan bahwa sebuah negara yang tidak mempunyai penyair dianggap kurang bermutu, lebih tidak bermutu lagi jika tidak menghargai para penyairnya. Lantas, bagaimana halnya dengan kita bangsa Indonesia yang katanya berbudaya?

Saya menyadari, memang tidak semua orang yang habis membaca sebuah cipta sastra lantas menjadi seorang penyair atau sastrawan. Jawabannya, tidak! Tapi bukan berarti mengesampingkan kalau semua manusia di dalam dirinya selalu mencintai keindahan, karena pada dasarnya manusia itu sendiri adalah obyek sekaligus subyek dari keindahan. Walau hadir dalam bentuk apapun, manusia akan meresponnya, baik pujian maupun kritikan. Manusia adalah tujuan dari keindahan. Begetu pula dengan kesusastraan, pikiran akan menjadi terbuka, dalam artian mereka dapat membebaskan pikiran merekan sendiri dan menemukan arti dari makna-makna yang ada di dalamnya dan berlanjut ke dalam perilaku mereka sebagai penanaman sebuah prinsip. Dengan begitu nilai-nilai yang dihadirkan menjadi hidup karena menyatu dengan hati dan jiwa pembacanya dan tidak berhenti kepada pemahaman yang berpendapat bahwa suatu karya sastra harus dianggap baik tanpa mendapat kritik yang tajam. Kalau demikian yagn terjadi, maka suatu karya sastra tidak berperan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu sebuah karya sastra harus diselidiki. Sebuah karya sastra bukan hanya di dapat melalui ‘ilham’ saja, tetapi juga hasil dari pemikiran dan kesadaran pengarangnya. Jadi, saya menekankan penilaian itu jangan selalu mengedepankan estetika semata tanpa memberikan sumbangsih apapun kepada masyarakat. Tapi, apakah suatu cipta sastra itu berdampak baik atau buruk di tengah masyatakat yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya karya itu dapat melekat pada perilaku pembacanya.

Di sini esensi sastra sebagai benteng moral sangat diperlukan. Itu memang harus. Karena kesusastraan yang sejati adalah bahwa isi kesusastraan itu bermanfaat bagi masyarakat luas dan bersifat sebagai pembendung dan penyaring (filter) kebudayaan asing yang masuk ke tengah-tengah masyarakat, di mana rata-rata penduduknya adalah hetero-kultural dan hetero-sosio yang pada akhirnya sastra sebagai salah satu perangkat untuk menghaluskan akhlak dan budi pekerti masyarakat. Jadi, tidak hanya mengedepankan aliran seni untuk seni seperti yang terjadi pada bangsa barat di masa lalu yang berkesan borjuisme yang serba sekular, dan bukan hanya sekedar berdaya cipta menumbuhkembangkan aliran seni untuk rakyat yang menyelewengkan istilah ‘rakyat’. Semua itu akanmelahirkan konflik sosia;, kesenjangan kaya dan miskin, perkosaan dan perhambaan, membunuh kelas yang satu demi memenangkan kelas yang lain, manipulasi antar tiap golongan yang nanti pada akhirnya akan menimbulkan kekacauan secara besar-besaran. Kalau sudah demikian sastra tidak lagi berfungsi sebagai penghalus budi, ia telah berubah fungsi menjadi alat propaganda yang murah.

Sekarang yang harus benar-benar diperhatikan adalah bagaimana membangun kembali citra masyarakat terhadap karya cipta sastra Indonesia pada saat ini dan juga untuk masa-masa berikutnya lewat karya-karya yang dihasilkan supaya membangun paradigma masyarakat kepada hasil karya sastra. Di sinilah peran kita semua dan para sastrawan sangat dibutuhkan, mengingat sastrawan maupun penyair sangat sensitif dengan gejala sosial-budaya yang bergerak dan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan meng-aktualisasi-kan pikiran-pikiran mereka lewat karyanya. Karena, seorang penyair yang besar adalah penyair sekaligus seorang filsuf.

*****

Di abad yang serba canggih ini teknologi menjadi amat begitu penting sebagai sarana penunjang kehidupan manusia di dunia ini dan tumbuh dengan sangat pesat sekali karena di dalamnya menyediakan informasi-informasi yang super-komplit. Siapa yang memiliki teknologi paling canggih dia memegang bendera peradaban dan siapa yang paling banyak menyerap informasi dengan benar dialah yang mewarnai peradaban dalam dunia ini. Karena sifatnya yang mengglobal. Jadi, kesusastraan mau tidak mau akan tetap membutuhkan sarana ini. Dengan begitu ia –kesusastraan- akan dapat berperan dalam persaingan yang universal, di smaping media lainnya sebagai pengembangan kesusastraan Indonesia untjk mengenalkan kesusastraan kita kepada dunia internasional. Tapi, bikan berarti buku atau media cetak tidak dibutuhkan lagi. Sebab, di dalam perangkat komputer yang penuh dengan informasi, semua terjadi begitu cepat bila dibandingkan dengan buku. Karena, berita-berita yang disajikan setiap hari bertambah dan akan terus bertambah, yang memungkinkan informasi yang terserap akan menjadi terbengkalai karena kurang pengkajian yang mendalam, sementara itu di depan mata sudah ada karya-karya atau informasi-informasi yang lain lagi. Beda halnya dengan buku, karena semuanya berlangsung tetap dan stabil. Jadi, dalam pengkajiannya pun tetap dan stabil pula. Karena itulah buku dan media cetak lainnya tetap dibutuhkan, selain tentunya dengan mempergunakan media komputerisasi.

Sastra masuk komputer (baca: internet) memang bukanlah hal baru bagi kita semua, ini terlihat begitu banyaknya situs-situs sastra yang marak di internet. Dan, karya-karya yang dihadirkan pun patut diperhitungkan oleh kita semua. Menurut Iwan Soekri Munaf, salah seorang editor Graffiti Gratitude (GraGra), kepada Sinar Pagi, ia mengatakan bahwa internet lebih mempercepat kematangan dan kemunculan penyair wajah baru, yang karyanya boleh bersaing dengan penyair koran yang lebih senior. Di dalam media konvensional seperti media massa dan penerbitan, boleh jadi nama-nama penyair yang potensial akan terhambat muncul karena berbagai kendala teknis dan non teknis. Misal, harus bertarung terlebih dahulu dengan selera redaktur budaya dan keterbatasan ruang yang ada. Namun, saya berharap, dengan bantuan media internet, secara lambat laun keterpurukan kesusastraan Indoneisa sedikit demi sedikit akan mampu berdiri dan dapat bersaing dengan kesusastraan bangsa lain, diikuti pula oleh bangkitnya kembali minat dan perhatian generasi muda bahwa betapa pentingnya suatu kesusastraan bagi sebuah bangsa sebagai hasil dari pemikiran dan kebudayaan.

*****

ketika kita dihadapkan kepada sebuah kehidupan yang serba mekanis, waktu yang serba cepat dan serba instant, kita semua merasa gersang dan gelisah. Kita mulai sadar untuk mencari sebuah ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan yang mulai menjemukan. Di sinilah sesungguhnya suatu kesusastraan dibutuhkan dan dirindukan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang kadangkala sering dialpakan dan dibiarkan bertumpuk dan berdebu. Kita tertidur dengan mimpi-mimpi dan ilusi tanpa pernah tersadar untuk bangun dan berbuat sesuatu.

Puisi mengajarkan kita tentang keindahan dan kelembutan lewat kata-katanya yang bijak, meski terkadang ia juga bisa sekeras batu dan menghantam. Membawa kita kepada pengalaman bathin dan pengembaraan pikiran, membuka salah satu jendela kehidupan yang sarat dengan makna-makna dan mencari setitik cahaya dalam kegelapan. Puisi dan filsafat seperti kuku dengan daging yang tak dapat dipisahkan, di dalam dirinya selalu ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada diri setiap manusia yang sering tidak terungkapkan lewat kata-katanya yang sedikit.

Puisi sebagai hasil kebudayaan dari pemikiran manusia menawarkan kita untuk menciptakan kerukunan, kedamaian, saling hormat menghormati dalam nuansa yang berbeda-beda dari kehidupan manusia untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang telah menjadi kesepakatan dalam masyarakat. Di sana kita akan menemukan jati diri dari sebuah puisi, menyerasikan kehidupan dengan dunianya yang beraneka ragam.

Apabila seorang penyair menangis, menjatuhkan air mata, maka tanpa ragu lagi bangsa yang didiaminya itu sedang sakit. Karena seorang penyair adalah sebagai mata dalam tubuh manusia, ujar Muhammad Iqbal, yang kalau diartikan kurang lebih adalah juga sebagai mata dalam sebuah bangsa dan negara. Oleh sebab itu, mari kita semua bersama-sama membangun lagi kejayaan perpuisian Indonesia, mari kita bersatu dalam keragaman, karena keragaman adalah tempat yang cocok untuk berkesenian, dan dengan berkesenian kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.***(dari berbagai sumber, 2001)

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

“Suka-Rela” Seorang Sukarelawan

Ditulis oleh permanas di/pada 18 Juli 2008

OLeh : Sawaludin Permana

Seperti sifat alamiahnya, pada dasarnya setiap manusia memiliki jiwa sukarela dan tolong-menolong antara sesama, baik orang yang ditolongnya dikenal atau tidak. Dalam suatu peristiwa, ketika terdapat korban tak berdaya, tanpa komando dan aba-aba, siapa pun yang dekat dengan kejadian pasti akan berhamburan dan menolong korban yang terlibat dalam kejadian itu.

Dari contoh kecil tersebut, sudah dapat dibuktikan, sejak kita diturunkan ke dunia kita memang sudah dilengkapi sikap tersebut, yaitu sikap untuk saling tolong-menolong. Rame ing gawe, sepi ing pamrih, banyak kerja sedikit harapan akan imbalan atau malah mungkin tidak sama sekali –begitulah kira-kira gambaran kasar dari sikap kesukarelawanan.

Meski demikian, tidak semua orang dapat melakukan sikap kerelawanan, apa pun alasannya, yang pasti hanya orang-orang yang memiliki sikap empati yang tinggi saja yang mampu menjalaninya, hanya orang-orang yang dapat merasakan penderitaan orang lain secara mendalam saja mampu menggerakkan hatinya untuk mengulurkan tangan dan menarik orang yang menderita dari kesusahan. Biar pun tidak sepenuhnya lepas dari penderitaan, setidaknya dapat mengurangi.

Memang sudah dikatakan sejak awal bahwa setiap manusia dibekali sikap sukarela tersebut dan karenanya ia disebut sebagai makhluk sosial. Tapi perlu juga diingat, adakalanya seseorang itu memutuskan menolong atau tidak menolong dalam suatu keadaan peristiwa. Keputusan yang akan diambil seseorang tergantung oleh banyak hal, entah itu keadaannya, suasana hatinya, lingkungan, orang-orang sekitarnya, atau pikiran macam-macam yang berada dikepala seseorang tersebut untuk memutuskan ia mau menolong atau tidak menolong, bahkan bisa acuh tak acuh. Itu berarti menunjukkan bahwa cuma orang yang berempati saja pada suatu peristiwa dan dengan sikap ke-suka-rela-an yang sudah terlatih saja yang dapat terjun langsung memutuskan menolong tanpa pikir panjang.

Mari kita ambil satu contoh serderhana, kali ini kita berada dalam sebuah angkutan umum dan ada tukang minta-minta berjalan sambil mengulurkan tangan untuk mengharapkan belas kasihan orang-orang yang berada dalam angkutan umum tersebut. Kita bisa lihat –kalau kita duduk pada bangku paling belakang- siapa saja yang memberi, siapa yang tidak. Siapa yang besar memberi dan siapa yang paling sedikit. Sampai tangan itu menyodor kearah kita dan melihat tumpukan uang ditangan pengemis itu dihadapan kita. Apakah kita akan merogoh kantong kita mencari lembaran uang dengan nominal besar atau sekedar uang recehan dengan nominal paling kecil yang ada dalam kantong, seandainya saja kita mengingat-ingat jumlah uang yang berada dalam kantong, karena hal ini penting untuk pencatatan pengeluaran –seandainya juga Anda seorang pencatat pengeluaran keuangan pribadi Anda dengan sangat teliti sekali- lalu kita memberikan sebagian rejeki kepada pengemis itu, padahal ditangannya sudah menumpuk uang kertas dan receh yang diberikan orang-orang kepadanya? (Anda atau pun saya tidak perlu menjawabnya sekarang).

Tapi seandainya kita tepat berada dalam situasi demikian, bukan simulasi, apakah Anda akan memberi? Apakah akan berpikir panjang lebar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memberi atau tidak? Meski, seandainya, pengemis itu masih beberapa langkah dari hadapan Anda. Apakah Anda akan meliarkan mata dari kaki sampai ujung rambut pengemis itu sebelum menjatuhkan sekoin recehan ke tangan pengemis tersebut, bahkan selembar uang sepuluh ribuan?!

Saya tidak mencoba untuk berusaha menghakimi siapa-siapa dalam hal ini, apakah Anda atau saya adalah orang yang tulus atau tidak tulus, itu hanya masalah pilihan saja. Yang mau coba saya tekankan adalah bagaimana sikap kesukarelaan itu dapat muncul dalam suatu keadaan atau peristiwa dalam diri seseorang. bahkan mungkin dalam aspek kehidupan sosial yang lebih besar lagi ketimbang hanya sebuah kecelakaan mobil umpamanya.

Bagi saya, apa pun lembaga-lembaga yang diusung seseorang, motivasi dan sikap politis atau tidak politis apa pun yang diemban, mengharapkan tanda jasa, imbalan atau benar-benar tulus tidak mengharapkan apa-apa dalam melakukan tindak kesukarelaan. Sikap itu akan selalu ada pada diri orang-orang yang memang memiliki rasa sosial dan empati yang tinggi, dalam setiap jaman!***

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Men-jadi Relawan Dunia

Ditulis oleh permanas di/pada 13 Juni 2008

Kalau merujuk kepada kata ’Pemanasan Global’, hal utama yang terlintas dalam benak setiap orang adalah dampak lingkungan yang berubah drastis pada saat ini. Gas-gas rumah kaca yang terperangkap pada atsmosfir, suhu udara yang meningkat, penggundulan hutan secara membabi buta, ekspoitasi air tanah yang berlebihan, dan entah berapa lagi perusakan lingkungan yang terus terjadi setiap harinya di belahan bumi yang lain. Hei, bahkan ada yang mengatakan kalau dunia saat ini adalah bagaikan tong sampah raksasa. Sebegitu dahsyatnya-kah hingga tempat manusia bernaung selama ini dikatakan dengan ekstrim. Lantas solusi apa yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah global tersebut?

Banyak mungkin yang bisa ditawarkan andaikata pertanyaan itu dilontarkan dan digaungkan kepada dunia, dan realisasinya, semua itu akan kembali kepada kesadaran dan nurani setiap manusia yang menyadari betapa pentingnya masalah itu harus diselesaikan.

Menjadi relawan dunia adalah solusi lain. Jadi relawan dunia adalah satu hal. Mulailah menjadi agen perubahan dari diri sendiri sekarang juga. Kalau orang membuang sampah sesuka hati mereka, mulailah memunguti sampah yang terlihat dan menaruhnya di tempat yang benar dan telah disediakan, antara organik, non organik, dan daur ulang. Jika banyak orang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, mulailah sekarang juga beralih ke angkutan massa, meski di Indonesia angkutan transportasi publik belum sepenuhnya dapat dikatakan layak, setidaknya kita sudah mulai mengurangi emisi gas buang dari kendaraan yang kita gunakan sehari-hari. Bila banyak orang lebih suka menebang pohon yang bisa menaungi generasi penerus dunia di masa datang, sekarang tanamlah pohon sebanyak mungkin yang bisa kau tanam. Dan banyak orang menggunakan air dengan tidak bijaksana, mulai saat ini gunakan air dengan seperlunya, begitu juga dengan semua sumber daya yang bisa kita gunakan dan temukan. Tidak ada hal apa pun yang bisa merubah sesuatu selain perbuatan yang berguna untuk menyelamatkan dunia di masa datang.

Bagaimana kita bisa meninggalkan warisan yang berguna untuk generasi yang akan datang kalau investasi sumberdaya tidak dikelola dengan bijaksana. Maka kau tidak menyisakan apa-apa selain meninggalkan petaka kepada anak-anak dunia yang telah kau lahirkan.***permanas/110608

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Jangan Hanya Diam Pada Satu Tempat. Cari Ladang Lain Untuk Menanam

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Saya akan selalu membayangkan bagaimana kalau suatu saat ladang saya mengalami kekeringan dan tidak ada setetes air pun yang dapat menyegarkan pohon-pohon imajinasi saya sendiri ketika saya benar-benar ingin mengandungnya, ingin melahirkannya, ingin menimang dan mengayun-ayunkannya. Atau ketika ingin mendengarnya menjerit dan menangis atau berteriak ketika mulai melihat dunia nyata dari kandungan pikiran saya.

Hohoho… tentu saya akan sangat merindukannya, saat-saat dimana kelahiran imajinasi benar-benar dibutuhkan dan diinginkan. Tidak peduli siang atau malam, pokoknya saya akan betul-betul merana dan meradang kalau tidak mendengar jerit tawanya. Karena itu saya tidak ingin berdiam diri dengan hanya membuahi waktu dan menunggu kandungan yang entah kapan kontraksi terjadi, tidak ada yang pernah tahu pasti. Jalan satu-satunya adalah saya mencari banyak rahim untuk dapat melahirkan imajinasi-imajinasi, atau sebut saja ide kreatif. Ya memang harus begitu menurut saya, jika tidak, saya akan kesulitan untuk membuat sesuatu yang lebih baru lagi.

Memang pengalaman membuktikan tidak semua tanaman dapat tumbuh disetiap ladang. Dibutuhkan lebih dari sekedar kualitas tanah, keadaan cuaca, bibit dan pupuk yang digunakan. Insting yang baik pun menjadi salah satu pendukung untuk membuat pohon-pohon imajinasi dapat tumbuh berkembang dengan sangat subur dan menghasilkan bunga-bunga yang dapat menghiasi taman-taman kehidupan siapa pun yang menemukan atau yang menggunakan hasil dari imajinasi tersebut. Malah lebih baik dari itu, dicemooh. Mengapa ide yang dicemooh saya katakan lebih baik? Karena ide yang benar-benar brilian adalah mengundang pro dan kontra siapa saja yang baru pertama kali melihat atau mendengar hasil dari sebuah imajinasi. Dengan begitu imajinasi tersebut mendapat banyak sudut pandang, meluas, pro dan kontra dihadapkan kepadanya. Itulah kenapa tidak setiap pohon terkadang tidak dapat tumbuh dalam suatu keadaan, mungkin ia akan tumbuh lebih baik di tempat lain, terkadang sangat kokoh dan tegar di tanah gersang.

Lalu suatu waktu saya akan kembali melihat tanaman imajinasi saya sudah mulai layu, sekalipun saya agak sedih, tapi saya yakin setiap imajinasi tidak pernah mengenal jaman. Hanya orang-orang yang mengatakannya demikian, saya tidak. Ketika imajinasi yang layu, kuning, kemudian jatuh ke tanah. Saya ibaratkan itu adalah pupuk yang memberi nutrisi untuk kehidupan imajinasi-imajinasi lainnya, memberi kesempatan untuk bisa berkembang dan ikut menyemarakkan dunia barunya.

Lha, memangnya ada apa yang selamanya bertahan terus. Kan nggak juga ya, nggak mesti harus begitu. Bulan saja terus berotasi dengan bumi dan matahari, memang ada yang melihat bulan selamanya bulat, atau selamanya sepotong. Hah, monoton sekali kalau tampang bulan selalu yang itu-itu terus tidak ada pergantian cahaya dan bentuk. Saya saja mungkin akan terheran-heran kalau selama beberapa waktu melihat bulan dengan bentuk yang itu-itu saja.

Atau begini. Ketika suatu kali saya kehabisan uang, dan saya tahu tidak mungkin mencari tambahan lain kecuali berhutang. Namun ada satu kendala, setiap saya berhutang, saya berhutangnya dengan orang yang itu-itu saja sepanjang bulan. Gali lubang tutup lubang hanya kepada satu orang saja. Sedang tanggal menerima gaji pun masih diawang-awang. Betapa malunya saya ketika setiap kali datang kepada orang tersebut, kalau bukan untuk berhutang yang bayar hutang. Waktu bertemu pun selalu bertajuk sama setiap saya berpapasan muka. Sementara waktu untuk bersilaturahmi menjadi tersisihkan karena permasalahan hutang piutang tersebut. Meski saya selalu malu, tapi saya menjadi berpikir dua kali lebih keras dari biasanya. Kalau bukan gara-gara hutang saya kepada dia belum tentu saya dapat bersilaturahmi dengan dia secara kontinu, meski hanya selama uang gajian masih berada ditangan saya. Tapi itu tidak menutup pemikiran yang demikian baiknya dari masalah perhutangan saya dengan orang tersebut. Jadi kabar baiknya, seburuk apa pun pandangan seseorang tentang suatu hal kalau dibarengi dengan pikiran yang jernih dan positif tentu hasilnya akan positif pula, malah kemungkinan yang lebih baik lagi.

Akhirnya saya pun mencoba menenangkan diri yang ringkih dengan segala kekurangan ini dengan tidak melakukan apa-apa, berdiam diri sambil mengingat-ingat kesalahan lalu dan mencoba sedikit bijak untuk menguranginya. Karena tidak mungkin saya bisa menghilangkan segala kesalahan-kesalahan yang ada pada diri saya karena sangat tidak manusiawi sekali sebagai manusia. Lho, bukan sudah kodratnya manusia dilengkapi dengan segala kebaikan dan keburukan-keburukannya, menghilangkan salah satunya berarti menghilangkan kodratnya sebagai manusia. Bukankah itu sangat tidak manusiawi sekali. Karena itu saya sebagai manusia hanya bisa mengurangi tanpa membunuh kekurangan saya sebagai manusia. Sekedarnya saya berdamai dengan diri sendiri, baik yang mengalami kekurangan maupun yang mengalami kelebihan-kelebihan akan kebaikan. Jadi pula saya bisa sedikit tersenyum lepas manakala hal itu tidak mengganggu saya untuk meneruskan kehidupan yang belum menemui akhirnya ini, dan sebaik mungkin menjalani dengan sungguh-sungguh. Akhirnya dimanapun pohon imajinasi saya letakan semoga ia dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya dan dapat menghidupkan pikiran banyak orang, atau setidaknya untuk diri sendiri dahulu. Dengan begitu akan lebih banyak waktu untuk bermenung-menung kembali sampai larut.

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Tidak ada yang baru dalam hal apa pun

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Hahaha…, apa sih sesuatu yang baru sekarang ini. 99% ide yang tercipta merupakan hasil olahan barang lama. Coba tunjukan satu saja sesuatu yang benar-benar orisinil. Pemikir mana yang memikirkan sesuatu dari hal baru. Semua barang lama akan tetap barang lama, hanya sudut pandangnya (mungkin dengan konsep yang sedikit berbeda) sajalah yang mengidentifikasikan bahwa sesuatu yang dihasilkannya adalah sebuah ‘barang baru.’ Atau ada yang mengatakan teori daur ulang.

Barang lama <–> Barang baru

Semua yang terjadi di dunia adalah merupakan hasil pengulangan dengan cara yang berbeda atau dengan bentuk yang baru berdasarkan ide lama. Mungkin juga. Lalu apakah pakaian yang kita pakai merupakan produk baru atau hasil pemikiran kaum primitif yang sejatinya belum mengenal apa-apa selain lingkup lingkungan, kelompok, dan dirinya sendiri. Saya berkata bukan untuk didiskusikan, sekedar berkelakar. Jangan-jangan justru kaum-kaum primitif-lah sejatinya bapak pemikir, bapak pembangunan dunia. Karena sejak awal justru mereka semua adalah penemu konsep-konsep yang sekarang sudah melesat jauh dari pikiran awalnya, bahkan dari zaman awal mulanya sebuah ide itu tercetus. Mungkin saja ide seseorang jaman dulu yang ingin terbang tidak pernah dapat membayangkan sebuah pesawat terbang, tapi idenya untuk mengendarai angin dan konsep awalnya tentulah sudah lahir dalam benak diri seorang penghayal yang ingin mengendarai angin, atau berkelakar mau menunggangi seekor burung purba. Yang ingin saya katakan bahwa idenya sudah lahir, sudah tersedia, tinggal konsep dan pemaparannya saja yang nantinya akan diteruskan kepada generasi-generasi selanjutnya tergantung teknologi yang berkembang pada suatu bangsa, apakah sudah mengalami kemajuan atau masih dalam wilayah dongeng-dongeng semata bahwa hal itu masih muskil untuk dilakukan. Kecuali oleh orang-orang yang berkata bahwa itu bisa saja dilakukan. Tergantung seberapa berani seseorang atau bangsa itu ingin mewujudkan ide gila tersebut.

Memangnya kenapa kalau di dunia ini sudah tidak ada lagi hal baru? Setidaknya generasi-generasi mendatang pasti akan terus mengembangkan ide-ide lama menjadi baru. Kabarnya sih, supaya tidak bosan saja, atau ingin menjadi seorang eksplorer dalam segala bidang pengetahuan, siapa tahu. Bahwa ide alat transporter tiba-tiba menggemparkan dunia dengan mengirimkan dinosaurus ke alam sekarang dengan mesin waktu yang baru saja tercipta. Ide besar memang terkadang disepelekan, bahkan munculnya tidak terduga. Bisa saja ketika kita sedang (maaf) buang hajat. Atau ketika saya sedang menatap wajah Anda yang katakanlah, abstrak, lalu saya terinspirasi untuk membuat sebuah model kapal selam berdasarkan anatomi wajah anda. Wajar-wajar saja menurut saya. Yang pentingkan jangan ragu untuk mengemukakan suatu gagasan, betapa pun gilanya ide yang kita terapkan. Hasilnya sebuah kapal selam yang benar-benar menyerupai wajah anda tapi dengan fungsi yang jauh lebih bermanfaat ketimbang wajah anda yang hanya digunakan secara monoton. Apa yang anda lakukan dengan wajah anda sehari-hari?

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »