Arsip untuk ‘UNIK’ Kategori
Ditulis oleh permanas di/pada 23 Maret 2009
Hari sabtu kemarin petang, ketika saya sedang bersantai menikmati sore yang tenang sambil meminum kopi dan membaca, tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh tamu tak diundang, tamu itu berwujud seekor ular. Meski pun hanya seekor ular kebun yang tidak berbahaya, ia tetap seekor ular. Untungnya kali ini ia sedang tidak ingin apa-apa, mungkin hanya sekedar lewat saja barangkali. Maka dengan rasa berteman, saya mengambil sapu lantai, tidak, bukan untuk memukulnya, tetapi dengan lembut saya mengarahkan si ular itu untuk kembali saja ke kebun karena percuma ia tidak akan menemukan apa-apa di tempat beradanya saya. Saya melakukan seprofesional mungkin seperti yang dilakukan dalam film-film dokumenter, jika kita melakukan kelembutan dengan lingkungan liar di sekitar kita, tentunya ia akan bertindak ramah, sepertinya hukum rimba tersebut masih berlaku di tempat saya yang notabenenya hampir sedikit sekali tanah terbuka dan rumput bisa tumbuh dengan sahaja. Ular itu tidak berbalik untuk berusaha menggigit saya, sebaliknya ia mengikuti arahan saya dengan berjalan kembali ke dalam semak-semak dekat rumah saya. Posisi saya, kaki saya dan ular itu tidak lebih dari setengah meter, jadi betapa dekatnya jika ia ingin menggigit saya, tapi tidak dilakukannya. Ular itu lebih memilih berdamai dengan lingkungannya dengan tidak melakukan kekasaran dan kebrutalan yang tidak perlu, yang jika saja ia lakukan bisa mengakibatkan nyawanya melayang secara sia-sia.
Saya jadi tersenyum sendiri, bernafas lega ketika ular itu kembali masuk ke dalam semak-semak. Untung ia bertemu dengan saya, pikir saya ketika itu, jika tidak, bisa saja kebrutalan atas dirinya dapat terjadi dan membuat dirinya kehilangan nyawa. Saya teringat ayah saya sendiri, ketika melihat sosok ular ia langsung mencari pentungan dan berusaha membunuh ular itu sebagai tamu tak diundang yang bisa membahayakan seluruh anggota keluarga. Untung saja, pikiran saya menolak melakukan pembunuhan itu. Saya lebih memilih untuk membiarkannya tetap lepas di alam dan menjadi salah satu rantai yang tidak hilang secara paksa dalam kehidupan. Saya pikir lagi, binatang ya tetap binatang dengan naluri binatang, yaitu untuk bertahan hidup dan meneruskan generasinya. Saya akhirnya mengerti kenapa kita harus menjaga lingkungan tetap lestari dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan, karena ia juga milik jutaan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi ini.
Sementara pada hari minggu sorenya, ketika saya juga sedang santai mendengarkan musik kesenangan saya, menjelang maghrib, tiba-tiba saja seekor burung gagak besar dan hitam hinggap pada palangan kayu tepat di atas kepala saya. Ya, kami saling menatap, gagak itu seakan tidak takut kepada saya, malah ia mencoba mengukur ketakutan saya kepadanya dengan tetap menatap saya dengan tajam. Akhirnya saya memberanikan diri, mencoba menggapainya, bukan untuk menangkapnya. Saya julurkan tangan saya sebagai ungkapan persahabatan, pada mulanya, ia agak enggan saya dekati, semakin dekat, ia menggigit tangan saya, ternyata tidak sakit, atau ia melakukannya dengan tidak seluruh kekuatannya, saya rasa gigitan itu sebagai ungkapan kepercayaannya kepada saya dan membalas rasa persahabatan saya kepadanya.
Lalu saya berusaha meraih kepalanya, ia masih menggigit jari-jari saya, sebagai sikap protes atas tindakan saya yang melampaui batas kepatutannya kepada gagak tersebut. Beberapa kali saya coba, dan beberapa kali ia menggigit, ia menyerah. Saya berhasil mengelus kepalanya, dan ia ternyata mengeti kalau saya tidak berusaha menangkapnya melainkan mencoba memberi saling rasa pengertian antara saya dengan dia. Jadi ia diam saja ketika saya memeriksa bagian tubuh lainnya, ini saya lakukan, apakah ia bertindak mendekati saya untuk meminta bantuan saya karena ia mengalami luka atau ia hanya sekedar menyapa saya dan bermain-main dengan saya. Ternyata tidak ada satu luka sedikit pun di tubuhnya. Saya baru tahu, ternyata di luar bulunya yang hitam semua, sampai ujung kaki dan paruhnya, di balik bulu-bulu hitam itu melapis bulu-bulu putih di dalamnya. Di mana anggapan semua orang seluruh bulu burung gagak adalah hitam semua, tidak dengan gagak yang menyapa saya sore itu. Tidak memakan waktu banyak mengenai kedekatan kami, ia sudah mempercayai saya sebagai seorang sahabat, begitu juga sebaliknya. Saya melakukannya persis seperti yang saya lakukan ketika saya bertemu dengan ular kemarin sore. Saya memberi isyarat kalau saya tidak akan berusaha menyakitinya, dan itu berhasil, hasilnya sama seperti yang saya lakukan dengan gagak yang menghampiri saya.
Saya tidak habis pikir, sebenarnya pertanda apa yang coba diberitahukan Tuhan kepada saya dengan membuat kedua binatang itu menghampiri saya, memang tidak ada yang melihat saya melakukannya, kecuali ibu saya ketika saya sedang bermain dengan burung gagak itu, tapi ia tidak berkata apa-apa sementara saya asyik bercengkrama dengan burung yang konon sulit sekali ditangkap, sore itu ia malah mendatangi saya dan bermain dengan saya. Sesungguhnya dengan bertemu dengan kedua binatang itu saja saya sudah sangat bersyukur sekali, karena melalui kedua binatang itu saya mampu berinteraksi dengan kehidupan liar di sekitar saya tanpa bersusah payah dan membayar ongkos yang mahal. Saya menyetuh burung liar itu gratis dan bersahaja. Bahkan ketika adzan maghrib sudah berkumandang, burung gagak itu masih saja mengikuti saya, sebagai ungkapan ia belum puas bercengkrama dengan saya. Saya hanya tersenyum, ia diam saja, kemudian ia berlalu terbang. Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu kembali dengan burung itu atau tidak. Yang pasti, saya akan tetap mengingatnya sebagai salah satu teman dan sahabat, begitu juga dengan ular yang saya temui. Dengan jarak yang terlalu dekat, kami memberi saling pengertian untuk tidak menyakiti satu sama lain. Ular itu tidak menggigit saya dan saya tidak membunuhnya.
Dan saya senang, telah bersahabat dengan kedua binatang tersebut. Jika gagak itu kembali bertandang, saya akan menghadiahinya sepotong roti. Dan ia mungkin akan memberikan kepercayaannya kembali kepada saya sebagai seorang kawan. Saya rasa itu cukup adil. (kisah ini nyata saya alami, 21-22 maret 2009)
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: bahaya, binatang, bulu, bumi, bunuh, burung, eksploitasi, gagak, gigit, hewan, hidup, hitam, kata, kawan, kehidupan, keluarga, kepala, kisah nyata, liar, lingkungan, luka, main, menolak, milik, minggu, musik, persahabatan, pikiran, putih, sabtu, santai, tanda, teman, tenang, ular, UNIK | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 4 Maret 2009
Saya teringat waktu saya kecil dahulu, sebegitu takutnya saya dengan binatang yang bernama dasar anjing itu, setiap saya melihat binatang itu dari jauh saya sudah tunggang langang menghindarinya. Saya tidak tahu di mana awal letak ketakutan saya kepada binatang yang satu itu. Satu kali, ketika saya sedang bermain keliling kampung dengan teman-teman sebaya saya, tanpa sengaja saya berpapasan dengan binatang tersebut. Sontak, tanpa berpikir panjang kaki saya refleks meloncat dan tubuh saya secara otomatis berbalik dan membawa lari diri saya tanpa saya suruh untuk berlari ketika itu.
Memang dasar naluri Anjing yang memang kekuatannya tidak perlu disangsikan lagi, ia pun lantas mengejar saya dengan suatu alasan yang saya kira anjing itu pun tidak mengerti mengapa ia mengejar saya. Lha, kronologisnya kan saya lari tanpa pikir panjang ketika melihat binatang yang membuat saya menjadi phobia itu, dan binatang itu juga lari mengejar saya karena melihat saya lari ketika melihat dia.
Ada semacam kelucuan secara realitas ketika saya dewasa dan ingatan itu tidak pernah lepas dari diri saya, di mana posisi saya menjadi si terkejar yang notabenenya adalah saya yang menghindari binatang tersebut menjadi realitas yang tidak tertanggungkan pada saat binatang itu dengan kecepatan yang sama berlari di belakang saya dengan minat yang setara dengan saya. Di mana minat saya adalah menghindari sejauh mungkin dari binatang yang ada di belakang saya dan minat si anjing yang sekarang menjadi tokoh sentral yang mengejar saya dengan minat berlari sedekat mungkin dengan diri saya yang menghindar untuk menjauh darinya.
“Woy, berhenti, jangan lari!” teriak si pemilik binatang peliharaan yang tengah mengejar saya yang saya rasa sudah melebihi seratus meter menurut perkiraan saya ketika itu. Saya jadi berpikir, ia menyerukan jangan lari entah kepada saya atau kepada si anjing sebagai binatang peliharaannya. Pada keadaan demikian tidak mungkin saya menyuruh tubuh saya mengerem mendadak dan menghadapi kemungkinan kaki saya akan menjadi santapan binatang peliharaan orang yang berteriak tadi. Jadi, saya mengesampingkan arti teriakan itu dan tetap berlari berusaha menghindari kejaran binatang tersebut.
Justru yang secara otomatis berhenti adalah anjing peliharaan orang yang berteriak itu. Saya sempat menoleh sebentar tanpa mengurangi kecepatan saya berlari, binatang itu menghentikan larinya dengan nafas tersengal komplit dengan kebiasaanya yaitu menjulurkan lidahnya keluar sambil menatap diri saya yang semakin menjauh, yang saya rasa ia masih berkeinginan mengejar saya tanpa tahu pasti apa yang diinginkannya dari saya, sementara saya berlari adalah untuk menghindarinya sejauh mungkin.
Setelah saya dewasa, dan ketika mengingat peristiwa tersebut, saya mencoba memutar kembali film lama itu dalam kepala, dan saya memahaminya. Ternyata di situlah letak kebebasan saya sebagai manusia, meski saya masih kecil dan belum menyadarinya apa itu arti dari kehendak bebas sebagai seorang manusia yang tidak bisa begitu saja diintimidasi dan didominasi oleh pikiran orang lain maupun lingkungannya dalam kondisi apa pun, kemenangan saya adalah saya tidak menuruti perkataan orang yang berteriak untuk berhenti itu meski saya tidak tahu ia menyuruh berhenti kepada saya atau kepada binatang peliharaannya. Yang jelas, saya menolak berhenti berlari dari binatang tersebut. Dan si anjing itu dengan manis duduk dengan patuh sambil melihat saya pergi ketika teriakan itu dilontarkan dan si anjing mengenali suara majikannya (dan mungkin kata ‘berhenti’ sering dilatihkan kepadanya sebagai salah satu latihan untuk patuh dan taat kepada sang majikan).
Sampai saat ini saya masih tetap merasa phobia terhadap anjing, meski tidak se-ekstrem pada saat saya kecil. Kalau saya sedang berjalan dan berpapasan dengan binatang tersebut, saya paling agak sedikit menjauh untuk memberi ruang binatang itu berlalu. Namun, pelajaran dan pengalaman yang telah diberikan pada masa kecil telah memberikan saya kesadaran secara penuh tentang kebebasan saya sebagai manusia, pada situasi apa pun, dalam keadaan benar-benar terjepit sekalipun, saya adalah tetap manusia dengan kebebasan yang seluruhnya berada dalam genggaman saya. Saya tidak akan membiarkan kebebasan saya terengut tanpa mendapat ijin dari saya sendiri, tidak seperti binatang itu, kehendak bebasnya otomatis lumpuh ketika perkataan majikannya menyuruhnya untuk diam. Dan saya bangga, hingga saat ini saya masih memegang kebebasan saya sendiri dan akan tetap mempertahankannya kalau ada yang berusaha untuk merenggut segala kebebasan saya untuk melakukan apa-apa yang saya ingin lakukan, kecuali itu mendapat ijin dari saya dengan beberapa alasan. Karena dengan mengekang kebebasan seseorang berarti melumpuhkan pikirannya dan menyamakan derajat orang tersebut dengan binatang yang sudah mengejar saya itu. Dan saya menolak siapapun yang akan menyamakan saya dengan binatang itu secara harfiah ataupun secara filosofis, saya akan berjuang habis-habisan untuk mempertahankan kebebasan saya sendiri sebagai seorang manusia yang merdeka.
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: anjing, binatang, derajat, dewasa, filosofis, hati, kebebasan, kecil, lucu, majikan, naluri, otomatis, peliharaan, pengalaman, pikir, realitas, takut, UNIK, waktu | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 19 Februari 2009
Setajam apakah perasaan yang kita miliki selama ini, apakah itu mampu membuatmu merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati, pada saat tertentu memang mampu menggugah dan kemungkinan besar merubah paradigma kita tentang kehidupan, bahkan tentang diri kita sendiri. Dan antipati membuat dinding dari batu bata keangkuhan dan kesombongan secara terus menerus. Bagaimana kita merasakan rasa sebuah ’rasa’? Saya kira lidah-lidah nalar kita membiarkan kita belajar menemukan atau merasakan sendiri, tanpa ada satu panduan apapun di tangan!
Bagaimana rasa itu bisa menjelma dalam cecapan kehidupan kita, melalui pengalaman seseorang diajar menempa dirinya, membentuk dirinya. Rasa pahit dan getir yang diajar kehidupan mampu membuat seseorang bisa lebih memaknai diri yang mewujud dalam sikap sabar dan tenang, bahkan lebih bijaksana dalam menanggapi situasi yang dihadapi. Rasa manis dan senang yang diberikan kehidupan juga mampu membuat siapa saja bahagia dengan apa yang diraihnya. Pun tak jarang kedua rasa tersebut, pahit atau manis dalam merasakan kehidupan, tetap bisa menimbulkan sisi negatifnya, tergantung seseorang itu mampu atau tidak mengendalikan perasaannya.
Rasa getir dalam menjalani kehidupan, bisa saja membuat kita menjadi gelap mata dengan mengambil jalam pintas yang serba instan, misal, karena tekanan kehidupan yang berat, terutama ekonomi, membuat seseorang terjerumus dalam dunia kejahatan dan menjadi pelaku dan fungsi kejahatan. Entah itu pencurian, penjarahan, perampokan, atau lebih dahsyat lagi, melakukan manipulasi dan korupsi! Pun tak jarang, rasa bahagia atau kesenangan hidup bila kita telah meraihnya tidak luput dari sikap gelap mata, superior, merasa dirinya adalah yang paling baik, sombong, congkak. Jadi, rasa sebuah ’rasa’ itu memang sangat individu sekali, ketika kita mencicipi sebuah makanan dari piring yang sama, bisa saja menimbulkan rasa berlainan dari masing-masing orang tergantung ketajaman dan keluasan pengalamannya dalam mengungkapkan sebuah ’rasa’ tersebut. Lha, bisa saja kan, baso yang berada pada tangan Anda ketika saya cicipi saya katakan, ”Baso ini kok rasanya manis sekali ya.” Lha, padahal baso yang ada di tangan Anda sesungguhnya berasa pedas dan gurih menurut pencecapan lidah Anda. Persepsi pribadi memang sangat membingungkan, apalagi bila berhadapan dengan persepsi publik. Lha, kadang-kadang saya sendiri bingung dengan persepsi ’rasa’ saya sendiri, apalagi kalau saya menanggapi persepsi Anda.
Mungkin dengan cara inilah sebuah tenggang rasa dimunculkan, ia hadir sebagai penengah dan peredam dari berbagai macam persepsi dari milyaran penduduk bumi yang kadang, saya rasa, ’rasa’ yang aneh menurut penalaran saya. Bagaimana persepsi Anda tentang dunia? Jutaan persepsi akan lahir dari jutaan orang yang Anda tanyai tentang dunia, bahkan mungkin, Anda pun akan mempertahankan persepsi Anda tentang dunia dibanding persepsi orang-orang yang Anda tanyai. Lha, pasti saya pun akan mempertahankan argumen saya tentang dunia, kalau Anda mempertanyakannya kepada saya, selama persepsi saya benar menurut saya tentang dunia yang anda tanyakan itu. Jadi, apapun persepsi sebuah ’rasa’, rasakan sendiri, pertentangkan sendiri, dan temukan jawaban dari pertentangan itu. Dan pasti persepsi itu akan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditentangkan kepadanya. Dan ’rasa’ apapun yang anda rasakan hanya persepsi anda sendiri yang akan memberitahu rasa tersebut. Selamat mencicipi.
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: bahagia, bahasa, bijaksana, BUDAYA, cicip, dunia, ekonomi, empati, getir, hati, hidup, kata, kehidupan, korupsi, lidah, makanan, manipulasi, manis, nalar, OPINI, pahit, pengalaman, persepsi, piring, publik, rasa, superior, tajam, UNIK | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 17 November 2008
Sinting. Entah kenapa orang selalu memanggilku dengan sebutan itu. Tapi, adakah kegilaan dalam diriku ini sedemikian rupa? Aku memang dibebaskan dan dimerdekakan sehingga apapun yang kulakukan –karena tidak biasa dan di luar kebiasaan- tetap dianggap tidak ada kewarasan di sana.
Dunia memang aneh, Kawan, meskipun kita menatapnya dengan wajar dan manusiawi. Bahkan di tempatku sendiri dimana setiap orang bebas melakukan apapun dan menganggap dirinya sebagai apapun tanpa terkecuali. Ini duniaku –tempat tinggalku memang di Rumah Sakit Jiwa- juga kawan-kawanku yang lainnya. Tapi bagiku ini adalah tempat dimana kegilaan menjadi kewarasan yang universal dan mendunia. Bukankah dunia ini dibangun atas dasar kegilaan yang dilandasi dengan kewarasan yang dimiliki oleh masing-masing orang?
”Dasar sinting! Orang gila! Biarkan saja. Jangan didekati!” begitulah keadaanku setiap hari. Yang aneh lagi, tidak sedikit orang yang lebih waras bertanya kepadaku tentang hal yang aneh-aneh pula. Bukankah kewarasannya lebih gila daripada kewarasanku yang sudah dianggap gila kata mereka yang menganggap dirinya sendiri adalah orang sangat waras.
Dunia ini memang sungguh unik dan menarik dengan segala hukum-hukumnya sendiri. Untung aku dimerdekakan oleh kesintinganku dan tidak menjadi budak waktu sementara mereka terus mengejar-ngejar waktu yang sama setiap hari, tapi tak pernah bosan dan lelah. Bahkan orang waraspun dapat berbuat lebih gila daripada diriku.
O… bumi , o… angkasa raya, o…. langit….keindahanmu seperti keindahan yang ada dalam keindahanku yang tak pernah diindahkan. Betapa kau mengerti aku dan kau menaungiku dengan sayap-sayapmu, terbentang lebar sampai delapan penjuru, dibiarkan aku olehmu sementara aku terlelap dalam pangkuan malammu. Menjagaku sampai aku kembali membuka kedua kelopak mata yang seperti kumpulan bunga dalam taman, membuka kelopaknya lebar-lebar menyambut sinaran embun padi dan fajar menghangatkan kembali pembaringan orang-orang yang terlelap. Tapi aku bebas, seperti sepasang kupu-kupu bermandikan embun dalam mangkuk mahkota bunga-bunga dan tak ada yang mengintipnya. Cuma aku dan diriku sendiri dan kegilaanku. Betapa aku terkagum-kagum hingga mengulanginya setiap hari, bila masih ada fajar kembali di sini. Namun aku tak pernah bosan dan kegilaanku ini beralasan untuk mengulanginya kembali.
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: dunia, fajar, gila, jiwa, kata, keindahan, kupu-kupu, manusiawi, sayap, sinting, UNIK, univesal, waras | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 4 November 2008
Aku rasa semua orang setuju kalau hujan adalah berkah yang tak ternilai harganya, dan pemberian Tuhan yang paling mahal, jika tidak sekarang, mungkin nanti para manusia yang tinggal di bumi akan mengakuinya bahwa hujan, terlebih, air, adalah sebuah harta yang melebihi harga sebatang emas. Dan begitulah aku menyambut awan kelabu itu berduyun-duyun memenuhi langit tepat di atas kepalaku, menatap ke atas dan alam memberinya nyawa, energi listrik saling berlompatan. Ketika semua orang masuk saat melihat kilat menyambar-nyambar dan menciumi tanah, aku hanya tertegun, tanpa sadar malah tersenyum aku rasa. Dan sejumput lentik air mulai menjamah diriku perlahan-lahan, kemudian berubah menjadi butiran sebesar jagung. Alirannya begitu kuat menderas, meluncur, menabraki wajahku, menghujamku, tapi aku menganggapnya sebagai sebuah belaian, sebuah ungkapan, sebuah pemberian makna kalau ia -hujan- telah aku hargai sebegitu tingginya karena ia utusan langit dan perantara bumi. Tidakkah kau lihat, bumi dan langit seakan menyatu ketika hujan menghampiri tanah di tempat kita berpijak. Maka, segera aku mendongak dan memanjatkan doa serta puji-pujian kepada Tuhanku.
Lalu lantunan musikal doa-doa pun mulai berebutan keluar dari mulutku hingga lidah tak mampu lagi melafalkan setiap untaian kata-kata karena sebegitu hebatnya doa-doa itu mengumpul dalam rongga mulut karena kekerdilan diriku yang tidak bisa menampung terlalu banyak doa yang menyentak seperti halilintar menyambar-nyambar dalam sepersekian detik. Aku luluh, menangis, menyesal, karena ucapan doa yang tidak selesai. Namun, hujan tetap membelaiku, merasuk malah, menungguku, membisik melalui suara gemericik yang samar dan membentuk wajah dari mosaik bermiliar tetesan air yang berlomba menciumi tanah.
“Jangan sedih, doa-doa itu telah tersurat.” Aku mendongak waktu kesamaran berubah menjadi sebuah kejelasan. Seperti orang gila aku bangkit dan berlari-lari, aku kira seperti yang sering aku lakukan semasa kecil ketika bermandi-mandi hujan, basah-basahan dan berlarian tanpa arah mengelilingi lapangan luas, aku menganggapnya sebuah euforia singkat, sebuah kesenangan, sebuah ekstasi berlebihan. Aku kembali seperti anak-anak ketika hujan adalah berarti sebuah kesenangan. Dan, yah, aku kegirangan! Pada saat yang sama, seluruh orang di kampungku mengangap kalau aku sudah gila.
+++ +++
Aku melihat ketelanjanganku sendiri adalah sebagai sebuah anugrah yang tidak terbantahkan ketika semua orang menutup-nutupi kemaluan mereka sendiri dan menganggapnya adalah tabu kalau menghargai ketelanjangan sebagai sebuah kegembiraan yang patut dirayakan. Maka, sekali lagi mereka menganggapku sinting, kali ini mereka menertawakanku, sampai anak cucu mereka pun ikut-ikutan tanpa tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Aku terpojok, mereka mengepung. Aku lari, mereka mengarak! Aku diam, mereka ikut bisu. Menunggu aku membuat kelakuan baru yang bisa saja membikin mereka tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ketelanjanganku adalah sebuah eforia kampung. Setiap pagi mereka menunggu ketelanjanganku, ketimbang mereka menunggu matahari pagi, diriku lebih mereka tunggu.
Akhirnya, aku pun terlibat dengan perasaan girang yang tak kepalangan karena pasti mereka menunggu diriku lewat di depan pintu-pintu rumah. Dengan santai, senyumku mulai merekah, ketelanjanganku mulai aku lupakan dan beralih kepada bibirku yang pecah dan hitam untuk kupersembahkan kepada penunggu setiaku yang setiap pagi pasti akan berbaris pada halaman rumah mereka. Yah, mereka menunggu. Aku pun berlalu.
Wajah-wajah sahaja itu mengiang, mengambang dan lalu terbang melintasi awan-awan kelabu di antara kegembiaraan yang kuciptakan sendiri, sebenarnya hanya aku yang menganggapnya seperti itu, tapi biar saja, setidaknya mereka senang dengan apa yang kulakukan meski kejujuranku sendiri menjadi taruhannya. Dan aku sedih ketika kejujuran dan ketelanjanganku tidak dihargai. Mereka menertawakannya, dan aku menganggapnya itu adalah sebuah kejujuran, dan bagiku, mereka juga telanjang. Mereka menelanjangi diri mereka sendiri .
Dan, sekali lagi hujan menaungi ketelanjanganku sebagai manusia seutuhnya dan sebagai manusia yang di-manusiawi-kan alam. Ketika aku lari dalam badai, hujan merestuiku.
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: aku, alam, anak, anugrah, badai, basah, cinta, cucu, doa, eforia, ekstasi, gila, harga, hujan, kampung, kasih, langit, lari, malu, mandi, mendung, mereka, miliar, orang, pemberian, restu, samar, telanjang, tertawa, tidak, Tuhan, wajah, waktu | 1 Komentar »
Ditulis oleh permanas di/pada 21 Oktober 2008
Aku ingin tahu bagaimana rasanya mengajak seorang perempuan yang tengah duduk seorang diri dan mengenakan gaun malam miliknya yang paling indah untuk dikenakan malam itu, malam di mana musim semi bernaung di bawahnya dengan angin sedikit mendesir, untuk berdansa Waltz. Atau hanya sekedar tarian biasa saja dengan iringan musik klasik dan nada yang sendu. Sebuah perasaan Platonis! Yaa, mungkin aku terinspirasi dengan sebuah film yang baru saja aku ingat, sebenarnya sudah lama sekali, kau tahu Al Pacino, bukan? The Scent of Women, aku lupa, kira-kira begitulah judulnya. Ia memerankan tokoh buta yang frustasi dan ingin menghabisi segera hidupnya, aku tidak tahu, apakah ia sudah tidak punya alasan lagi untuk meneruskan hidupnya atau tidak, aku lupa jalan ceritanya. Sayang sekali. Tapi yang tidak pernah aku lupa ketika ia mengajak dansa seorang perempuan di sebuah restoran apik. Kau tahu, aku membayangkan bagaimana seandainya aku menjadi Al Pacino di sana dan mengajak perempuan itu berdansa? Hah! Tokoh yang buta tapi bisa segera mengetahui parfum apa yang digunakan perempuan itu hanya dengan melalui udara, dan dengan tepat mendeskripsikan sifatnya hanya dengan melalui merk parfum yang digunakan perempuan itu. Bravo! Bravo!
Dan gaun itu pun melayang-layang diayun oleh dekapan yang kuat milik Al Pacino, aku lupa apa perempuan itu tahu kalau tokoh kita itu buta atau tidak ya. Ia hanya diberitahu oleh pemuda yang mengantarnya berjalan-jalan seberapa luas ruang dansa yang akan digunakannya nanti ketika berdansa dengan perempuan yang menebarkan aroma khas dan unik, buktinya cukup kuat untuk menarik Al Pacino mengajaknya berdansa. Sekejap saja senyum rekah mengembang dari bibir perempuan dalam dekapan Al Pacino, begitu juga sebaliknya, ia lupa kalau ia buta. Aku jadi bertanya kembali dengan diriku, bagaimana rasanya kalau aku yang mengajaknya berdansa? Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh selain tersandung atau menginjak kaki perempuan yang aku ajak dansa itu, hahaha, sementara pikiran itu kusingkirkan dan membiarkan anganku mengingat kembali keindahan ketika Al Pacino mengajak perempuan di restoran itu berdansa. Atau aku akan menggubah puisi untuk mengingat betapa indah ketika laki-laki dan perempuan melakukan sebuah tarian, atau sebuah ritual sakral, yang suci, yang tak terbantahkan, yang hakiki. Dan, betapa baiknya Tuhan menciptakan perempuan dari bagian diri seorang laki-laki, karena ia dibuat Tuhan untuk melengkapi kehidupan seorang laki-laki. Ah, betapa beruntungnya mereka.
Yah, mungkin suatu hari nanti, kelak. Saat aku tengah berjalan-jalan dan menemukan seorang perempuan yang mengenakan gaun terindahnya sedang duduk menunggu, mudah-mudahan sih ia tidak sedang menunggu kekasihnya, hahaha, maka aku ingin mendekat kepadanya dan segera aroma parfum menyeruak dari tubuhnya dan tanpa ragu aku semakin mendekat kepadanya dan lalu…, ia mendongak untuk melihat lebih jelas siapa yang menghampirinya, atau mengganggu ketenangannya, atau ia malah senang karena seseorang mungkin akan menemaninya malam ini, atau ia telah menemukan ’belahan jiwanya’ (hahaha… PD amat!) –yah, aku kan sedang bercerita, sah-sah saja dong- dan aku bilang dengan suara yang paling lembut yang pernah aku miliki dan… dan… dan…
”Would you like to dance with me? In the shining of the moonlight, would you?” kubilang. Aku pakai bahasa inggris bukan untuk menghianati bahasa ibuku, tapi karena hayalanku sekarang tengah berada di Venice, hehehe…. tapi, ia tetap menatapku, tidak tersenyum, atau merasa terganggu, atau tersinggung barangkali. Tapi ia tetap dingin sedingin kabut yang menghembus di antara kami waktu itu.
”Would you?” aku bilang sekali lagi. Hah, susah memang kalau kita menanggapi sesuatu yang tidak sesuai harapan. Ia malah bangun, sedikit meminum anggur merah terbaik yang pernah ada di dunia, sedikit lagi mereguk dengan perlahan, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, lalu tepat di atas kepalaku, anggur merah itu terjun bebas dari bibir gelas dan menerjang ubun-ubun kepalaku. Wah! kasetnya kusut neh, aku pikir dalam hati, atau penulis skenarionya lagi mabuk, atau sutradaranya benar-benar sudah sinting barangkali! Dan tiba-tiba saja!
”Permanas, banguuuuuun! Sudah siang! Cepat isi tempayan! Mak mau masak!” yah, suara cempreng milik ibuku lagi dan segera menandakan kalau liburanku di Venice telah berakhir, hehehe, back to nature, I guess. Hah, gak boleh orang ngimpi seneng aja nih nyak-nyak, bukannya ngasih kesempatan yang muda-muda merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja yang sedang puber, hehehe….
”Klontraaangg….grasakk…gabrukkk…!” aku rasa nyak marah-marah lagi nih, tempayannya belum juga penuh. Ya, sudahlah, sampai nanti lagi. Besok, itu tempayan akan aku ganti dengan kolam sepanjang sepuluh meter di dapur, biar puas minum air, hehehe… adios!
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: air, al pacino, anggur, arti, dansa, dapur, dunia, film, hahaha, hati, hidup, humor, kaset, kasih, kehidupan, kolam, kusut, laki-laki, minum, musik, pengertian, perempuan, puas, rasa, restoran, scent, senyum, sutradara, tari, tawa, tempayan, ubun-ubun, UNIK, venice, waltz, wine, women | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 15 September 2008
Allahu Akbar!! aku rasa itu ucapan yang spontan aku keluarkan ketika pukul satu 14 ramadhan 1429 h = 14 september 2008 m, waktu aku keluar rumah dan mendongak ke atas langit yang cerah. satu meteor yang cukup terang berekor panjang melintas tepat di depan mata dan kepalaku sekitar sepersekian detik melintas dengan cepat sekali.
dan tiba-tiba saja aku merasa menjadi seseorang yang religius sekali -padahal jujur, jarang aku shalat- bukan karena kebetulan. sebenarnya, sebelumnya aku berkelakar dalam hati dengan Tuhanku itu. mengingat ini kali keduanya aku melihat bintang jatuh pada bulan ramadhan, satu kali aku lupa tahunnya dan tahun itu bukan hanya sekedar bintang jatuh melainkan hujan meteor, sungguh! aku jujur! beberapa kali lainnya di luar bulan ramadhan. aku rindu sekali ingin melihat sebuah meteor jatuh dihadapanku, atau sesuatu seperti setitik cahaya menyerupai bintang tapi tiba-tiba ia bergerak perlahan dan menghilang di balik kabut langit, atau bola api raksasa yang terbang pendek, percayalah, aku pernah juga melihatnya dengan jelas! dan beberapa kali aku mendongak ke langit tanpa sesuatu pun terjadi. dan tiba-tiba saja SLASSSSHHHHHHHHH!! sesuatu bergerak dengan cepat sekali dan sangat terang! aku bercanda, dan Tuhan aku mengabulkan permintaanku, meski aku berkelakar dalam hati, tapi sungguh itu benar-benar terjadi, kawan!
Tuhanku itu menghentikan candaku dan emngubah hatiku menjadi sebuah perenungan yang panjang, tapi hatiku penuh dengan kegembiraan yang meluap! kau tahu, energinya sampai sekarang masih mampu membuatku tetap tersenyum! camkan itu. tiada habisnya aku tersenyum dan mengingat kembali peristiwa malam itu, kenapa aku tahu tepat pukul satu, setelah kejadian itu aku langsung memeriksa jam dinding, dan ya, memang tepat pukul satu dini hari. itu sebelum sahur yak!
tiba-tiba juga, aku menjadi salah seorang yang sangat beruntung di dunia ini, selain permohonanku terkabul malam itu juga. aku mengingat peristiwa malam Lailatul Qadar, pertama kali Al Quran diturunkan ke bumi, pertama kali gunung, sungai, pohon-pohon, semua makhluk bumi tunduk menerima kehadirannya. dan, Masya Allah! andai saja malam itu benar-benar malam yang selalu di cari orang-orang yang zuhud, sungguh mereka sangat beruntung sekali dan Allah akan membalasnya ribuan kali, Insya Allah. mungkin aku akan menyesal karena tidak melakukan apa-apa selain spontan mengucapkan takbir, tanpa aku suruh, tubuh, jiwa, dan ragaku sudah tunduk terlebih dahulu mendahului aku.
kau tahu, aku memang selalu dipenuhi dengan keberuntungan! tentu saja aku mengucapkan permohonan kembali, dalam hati tentunya, setelah melihat bintang jatuh itu, kalau mitos itu benar-benar dimungkinkan ya, setidaknya tidak ada salahnya mencoba dan mengucapkan beberapa keinginanku untuk kembali dikabulkan, hehehehe, kapan lagi kesempatan datang, pikirku. tidak perlulah aku sebutkan di sini.
dulu aku pernah mengucapkan begini, kalau aku gagal jadi penulis, aku akan jadi juru masak. Tsui Hark (sutradara film laga) bilang, bekerjalah seperti seorang juru masak, coba berbagai hal baru, hasilnya mungkin masakan kelas satu, mungkin juga tidak! ya akhirnya aku memilih jadi jruu masak kalau cita-cita pertamaku gagal. kalau aku gagal jadi juru masak, aku memilih menjadi seorang astronomer. itu bukan ide gila, kawan! aku sungguh-sungguh, aku menyukai malam, aku menyukai bintang-bintang, planet dan pergerakan awan-awan kosmik dan menunggu kelahiran bintang baru! aku ingin menjadi salah satu penyaksi!
aku memang bukan satu-satunya saksi yang sering melihat betapa indahnya sebuah bintang jatuh (baca: meteor) tapi aku sangat berterima kasih sekali kepada Tuhanku, aku diberi kesempatan menjadi salah seorang penyaksi dari sekian banyak orang. terima kasih, Tuhan
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: Allah, astronomi, beruntung, bintang, cahaya, cerita, hati, jatuh, jujur, juru masak, kisah, komet, laga, lailatul qadar, langit, melesat, meteor, mitos, penulis, planet, pukul satu, raksasa, ramadhan, renung, saksi, tsui hark, tunduk, zuhud | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 4 Maret 2008
Makan adalah solusi satu-satunya ketika kau lapar, bukan. Masalahnya, terkadang tidak selalu tersedia makanan ketika saya merasa lapar dan harus makan. Ada kalanya memang benar-benar tidak tersedia makanan atau ada makanan tetapi tidak ada uang untuk membeli makanan (inilah masalah yang ternyata sering sekali saya hadapi) wah, terkadang saya merasa lebih beruntung kalau melihat daerah-daerah pelosok, tidak usah jauh-jauh, lihat saja desa-desa di daerah Banten. Mereka rela dengan mengkonsumsi nasi aking sehari-hari. Nasi aking adalah nasi daur ulang, nasi sisa di jemur dan dimasak kembali, tentu bukan dimakan kembali oleh si empunya melainkan dimakan oleh mereka yang sudah tidak sanggup lagi membeli beras.
Ya, ketika saya lapar, bahkan ketika saya lapar rohani, lapar kedamaian, lapar hasrat untuk bercengkrama dengan penuh kasih sayang, lapar untuk bercanda sekaligus membenci dengan seseorang. Saya akan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Ketika saya lapar untuk mencintai, saat itu saya sadar dahaga saya sudah menunggu dengan rasa cemburu dan benci. Tapi ketika saya lapar ke-ilahi-an, saya tidak mau terjerumus untuk membenci tuhan, sekaligus mengubah diri menjadi tuhan.
Saya bukan manusia zuhud, tapi bukan berarti saya tidak lapar akan dahaga ke-ilahi-an. Ketika saya lapar dengan rasa ilahi tersebut, maka saya akan berubah menjadi seorang pemarah dan pengadu. Saya marah karena saya belum bisa memenuhi diri saya dengan kenikmatan rasa ilahi tersebut, dan saya akan menjadi pengadu dengan mencibir kepada orang-orang yang kenyang dengan rasa ilahi di rumah-rumah makan tuhan. Setelah itu, mungkin saya akan jadi pengemis karena kelaparan, mencoba mengetuk pintu rumah milik Tuhan.
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: emosi, hati, lapar, makan, pengemis, psikologi, rohani, rumah, solusi, Tuhan, UNIK | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008
Ada dua orang anak tengah bermain-main di halaman rumah mereka, seorang yang laki-laki sibuk dengan mainan pesawat plastik dan dalam hayalannya seakan pesawat itu terbang tanpa bantuan tangannya. Seorang anak perempuan yang lebih kecil sibuk dengan mainan masakan-masakannya. Berharap ia dapat memasak makanan terlezat yang dapat dibuatnya dan akan diberikan kepada orang tuanya, atau berharap bisa membuat ramuan yang dapat membuat kakaknya berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan seandainya saja ia sedang tidak senang dengan kakaknya pada saat itu. Ada satu hal yang menarik, bahwa seorang anak kecil tidak akan pernah takut untuk berhayal meski hayalan itu bagi kita orang dewasa terlihat sangat tidak mungkin dan memang tidak memungkinkan untuk dapat terwujud. Berbeda alam pikiran anak-anak dengan orang dewasa, seiring meningkatnya usia, pikiran mereka lebih banyak terlibat dengan hal-hal berbau logika, masuk akal atau tidak masuk akal.
Masa kanak-kanak —>Sublimasi [kreativitas yang timbul antara masa kanak-kanak dan dewasa]<— Masa dewasa
Bagi seorang ahli psikologi anak, bahwa bermain-main dengan imajinasi bukan hanya sekedar bermain-main tanpa unsur apa pun. Justru unsur-unsur pendidikan akan ikut menyertai bersama dengan imajinasi yang dikembangkan sendiri oleh mereka. Istilahnya yang sekarang sedang tren ‘belajar sambil bermain’ untuk orang yang jeli dengan prospek bisnis, ini merupakan lahan yang menguntungkan jika dikembangkan dengan cermat dan bertanggung jawab. Jadi timbulah taman-taman bermain, labs-labs school, sanggar-sanggar anak, dimana orientasi bermain anak-anak diubah menjadi sebuah proses pembelajaran. Cukup menguntungkan, bukan?
Jadi kapan kita akan segera bermain bersama siapa saja tanpa memperdulikan usia. Mulailah sekarang juga. Pada saat mengungkapkan hal ini pun saya tidak menyangka bahwa disebelah saya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 5-6 tahun. Dan bukannya saya jengkel karena sikapnya, melainkan ada kesenangan sendiri ketika saya ikut masuk ke dalam imajinasi miliknya. Jadi bukannya menghentikan langkah pekerjaan saya, tapi malah memperkaya pengetahuan saya. Jadi saya pun secara tidak sadar juga ikut bermain-main dengannya. Saya rasa itu tidak ada ruginya, untuk bermain bersama-sama.
Saya jadi teringat ketika saya masih kecil, kadang bermain seorang diri adalah kesenangan yang paling indah, bagi saya. Karena dengan bermain seorang diri, apa yang dapat saya pegang menjadi sebuah mainan yagn sebelumnya tidak ada dalam pikiran saya. Jadilah saya bermain dengan mainan buatan sendiri. Tentu, bagi saya, bermain dengan hasil ciptaan sendiri merupakan kebanggaan yang tidak dapat saya pungkiri karena selain saya melihat anak-anak lainnya memiliki mainan dengan hasil membeli atau hasil buatan orang tuanya, itu bukanlah pekerjaan kreatif. Sedangkan saya hanya memiliki mainan hasil imajinasi yaitu sebuah mobil dari bambu dengan roda-roda yang terbuat dari kaleng susu bekas yang sudah berkarat. Toh bagi saya saat itu bukan betapa bagusnya sebuah mainan. Tetapi lebih pada bagaimana mainan saya itu dapat berjalan di atas roda-roda kaleng yang saya pikirkan itu. Walhasil, meski sedikit dilecehkan dan dihina sedemikian rupa karena, saya tidak tahu dimana letak kesalahan saya sesungguhnya, mainan yang saya miliki itu sungguh berbeda sekali dengan mainan yang dimiliki anak-anak lainnya pada saat itu.
Toh saya tidak pernah memungkiri, meski kadangkala perbedaan itu dapat menyulut sebuah konflik yang sangat tidak mengenakkan diri siapa pun yang bakal menghadapi perbedaan itu, risih atau cuek-cuek saja, dampaknya pasti akan tetap terasa sama. Keterasingan. Jadi saya tidak memedulikan kata-kata yang keluar dari mulut anak seusia mereka yang kadangkala janggal ketika seorang bocah yang mengatakannya. Saya pun tersenyum ketika mobil hasil tangan dan pikiran saya kembali melaju melampaui batas pikiran yang tidak biasa dari anak seusia saya pada saat itu. Jaman sudah modern masih saja ada mainan dari bambu beroda kaleng rombeng. Toh imajinasi tidak memandang apapun dan siapapun ketika ia ingin lahir ke dunia yang baru, dunia yang betul-betul lain dari dunia alam pikiran dan kenyataan. Saya pun hanya bisa kembali tersenyum kalau ternyata imajinasi saya akan baik-baik saja meski harga diri sedikit merasa terluka.
Itulah sebabnya kadangkala saya sendiri pun merasa heran ketika seseorang mencoba berbuat sesuatu dengan cara-cara yang sesungguhnya tidak pernah lazim dari biasanya, dibilang aneh dan tidak tahu aturan. Lalu dimana letak hak asasi seseorang untuk dapat berbuat sesuai dengan tuntutan hatinya, bukan tuntutan masyarakat dimana seseorang berada. Asalkan tidak melanggar tata susila, moralitas (semu yang selalu dipergunjingkan setiap ada sesuatu keanehan), kelucuan-kelucuan dan parodi nyeleneh pun menjadi sesuatu yang, katakan saja, kegilaan spontan. Toh saya tetap manusia biasa, bebas, kadang serampangan, tapi saya terus mencoba untuk selalu tetap menjadi bersifat manusiawi.
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: anak, aneh, cerita, hayalan, imajinasi, konsep, kreatif, main-main, manusia, manusiawi, nyeleneh, parodi, pikiran, psikologi, sifat, sublimasi | Leave a Comment »
Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008
Jangan ragu-ragu, itu peraturan dasar dalam suatu pengembangan. Karena jika ragu-ragu kita merasakan halangan sebagai rintangan merugikan yang dapat menghambat aktivitas kreatif kita. Jadi sebaliknya-lah, kita harus berpikir bagaimana halangan tersebut dapat menstimulasi diri kita untuk membuat ide-ide kreatif dalam diri kita dan mengatasi rintangan tersebut agar dapat berhasil. Memang tidak semudah yang dibayangkan, tapi diharapkan hal itu memompa diri kita untuk berbuat yang terbaik, bagi diri kita maupun untuk orang lain.
Untuk lebih jelas, ada baiknya kita melihat bagan di bawah ini:
Bukan masalah apabila nantinya dalam proses kita mengalami banyak kegagalan, hal itu wajar dalam sebuah proses pembelajaran. Bahkan mungkin lebih dari itu, kegagalan bisa membuat kita lebih mengerti, lebih pintar dari sebelumnya. Karena dengan adanya kegagalan berarti ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang harus ditambahkan, dikurangi dan dibuang.
Jadi ketika ide kreatif itu muncul dalam benak atau angan-angan kita untuk segera dapat terwujud maka hal itu akan terproses dalam pikiran kita kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dengan begitu logikalah mengambil peran untuk kemudian mengambil bentuknya dari semua proses pemikiran yang matang, meskipun tidak semua ide-ide atau gagasan kreatif dapat diwujudkan dengan sesegera mungkin
Setelah semua gagasan dapat terwujud, proses pengulangan akan selalu terjadi berturut-turut. Dalam artian semua progress yang telah berjalan akan mengalami hal serupa ketika berhadapan dengan kemunculan objek-objek baru untuk berproses menjadi sebuah ide yang kreatif. Hal mendasar adalah bahwa kita harus menyediakan banyak waktu luang, waktu untuk bermain-main, bahkan hanya untuk sekedar melanggar peraturan! Setidaknya itulah yang saya ketahui, hei, kenapa tidak dicoba mulai sekarang. Untuk melanggar apapun yang kita sepakati, biarkan diri kita menjadi mesin ide-ide, mesin pengubah yang dapat mewarnai kehidupan siapapun. Jika bukan untuk orang lain, mulailah untuk diri sendiri.
Ditulis dalam UNIK | Bertanda: gagasan, ide, ide kreatif, imajinasi, konsep, kreatif, logika, main, mesin, pengembangan, pikir | 1 Komentar »