Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Sebuah Perjalanan Waktu …

permanas log no. 01 16/02/08. 09:08 pm

hari ini aku telah memulai langkah baru dengan membuat dan mengisi blog ini.

hari ini juga aku mulai menerbitkan tulisan-tulisanku dalam beberapa kategori yang aku buat. harapan ke depan, semoga semua tulisan dan ide-ide yang kutuangkan dalam blogs ini akan bermanfaat untuk semua orang yang mengakses blog-ku ini

aku mau mengucapkan terima kasih kepada saudara abdul hamid, teman sekaligus salah satu tempat untuk berbagi dan bertanya, yang mengenalkan aku pada blog ini dan membantu terciptanya ruang publik khusus untuk mengisahkan tulisan dan ide-ideku agar dapat diakses dan dibaca oleh semua orang tanpa terkecuali.

kepada Yappika, aku tidak bisa mengatakan apa-apa, sungguh, bukan karena tidak tahu berterima kasih, aku tidak tahu kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku kepada yang satu ini, karena dengan menjadi salah seorang relawan di sana, sudah banyak sekali pembelajaran dan ilmu yang aku gali dan serap dan aku gunakan dalam kehidupan aku sendiri dan menginfeksikan virus kebaikan ini kepada banyak orang. sudah sepantasnya aku menghaturkan terima kasih yang sangat, dan mohon maaf yang sebesarnya karena belum bisa membalas akan semua kebaikan itu. karena semua pembelajaran yang disediakan dan diberikan oleh Yappika diberikan tanpa imbalan apa pun, karena itu aku sangat bersyukur sekali. juga rasa terima kasih ini aku haturkan kepada semua staff Yappika yang menerima relawan dengan tangan terbuka, baik dengan kelebihan sekaligus kekurangannya.

kepada teman-teman relawan Yappika, aku juga berterima kasih dengan menerima aku apa adanya, meski terkadang kelakuan dan pertanyaan-pertanyaan aku membuat kalian jengkel dan kesal. tapi kalian tetap mensuport segala kekurangan aku dengan kelebihan yang bisa kalian berikan kepada aku tanpa ada rasa terpaksa.

dan rasa terima kasihku yang utama aku persembahkan kepada Allah SWT yang telah menunjukkan jalan aku kepada kalian semua, telah menunjukan kebesarannya dengan mengangkat aku dari keputuasaan dan menaruhnya di antara kalian. AMIN.

permanas log no. 02 20/02/08. 10:44 pm

hari ini aku mencoba mengasah kemampuanku untuk menulis kembali. ternyata tidak segampang yang aku kira. aku terus berusaha melahirkan kembali anak-anak yang aku kandung dalam kepalaku. mereka kembali meronta dan menendang ingin segera keluar dan melihat terang dunia. sabarlah…, aku masih berusaha menghilangkan rasa sakit dan senang mengandung kalian kembali. aku masih menikmati kalian dalam kepalaku. jangan keluar sekarang….

permanas log no. 03 04/03/08. 02:45 pm

ternyata mendisiplinkan orang lain itu lebih mudah daripada mendisplinkan diri sendiri. mengalahkan orang lain lebih gampang daripada mengalahkan diri sendiri. kemampuanku untuk mengalahkan diri sendiri ternyata lebih sulit dari apa yang kubayangkan sebelumnya. kau bilang, kalahkan aku, maka kau belum tentu mampu menaklukkan dirimu. jangan bilang aku kalah atas diriku.

“kau tidak kalah”

kau tak perlu menenangkan aku

“hanya kau belum mampu mengalahkannya”

baiklah kau menang kali ini.

permanas log no. 04 13/03/08. 10:25 pm

kau bertanya bagaimana rasanya kau jatuh cinta kembali. jangan tanya. bagaimana kau ingin dicintai. jangan tanya. bagaimana kau ingin mencintai. jangan tanya. jangan tanya apa-apa kepadaku. ketika kau mulai mencintai orang lain kau tidak hidup untuk dirimu sendiri. kau mulai hidup untuk orang lain. bagaimana kau bisa hidup tanpa bisa mencintai orang lain.

aku tidak tahu. aku tidak tahu.

kau pasti bertanya. apa aku sedang jatuh cinta sekarang. tidak juga. tapi siapa bilang teknologi tidak ikut campur dalam urusan cinta mencinta. tidak ada kabarnya.

permanas log no. 05 31/03/08. 10:11 pm

kau tidak bisa memaksa orang untuk bisa selalu menyukaimu, kau tidak bisa membuat orang lain yang membenci langsung berubah menyukaimu. orang bilang gununglebih mudah di pindahkan, sungai lebih mudah dibelokkan sesuai keinginan, tabiat, kelakuan orang siapa yang mampu merubahnya. tidak ada selain orang tersebut yang merubahnya. apakah aku bisa merubah orang lain, aku tidak tahu. merubah kelakuan dan kebiasaan sendiri saja belum tentu mudah.

rasa malas memang menjadi momok yang bisa jadi menjengkelkan, terlalu berat untuk mengangkat kaki, apalagi tangan untuk berbuat sesuatu ketika malas sudah menjangkit. well, kabar baiknya, semua itu tergantung dari diri sendiri, apakah mau atau tidak melakukan yang bermanfaat di kala senggang. kau bisa membunuh rasa malas itu kalau kau mau, hehehe, sepertinya aku akan mengambil pisau dapur neh!

permanas log no. 06 23/04/08. 10:23 pm

rasa sebuah persahabatan memang tidak pernah mati. tidak ada orang mampu hidup sendiri dalam dunia ini. kabarnya, dunia memang keras, keji, kejam. tapi dengan cinta, persahabatan, rasa saling memiliki, dan kepercayaan terhadap orang lain, membuat hidup ini layak untuk tetap diperjuangkan dan dipertahankan. seperti kata sebuah lagu ‘you got the friend’ kau hanya tinggal panggil saja namaku, dan tanpa kau sadari aku telah ada di sana, untuk berbagi kesedihan, keluh kesah, gelisah, bahkan kebahagiaan pun bisa kau bagi.

“aku punya kesedihan yang sama, kegembiraan yang sama. tapi itu tidak berarti apa-apa kalau aku merasakannya sendiri.”

kalau begitu, kau tak perlu takut, sahabatku.

“baiklah.”

kau tinggal katakan saja kemana aku harus pergi untuk menemuimu.

“kau bisa datang ketika aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk aku rangkul.”

kau bisa merampas kehangatanku sekarang, kalau itu membuatmu merasa lebih baik. dan lebih tenang.

“akan aku lakukan.”

aku menunggu.

“aku meminta.”

baiklah.

“biarkan aku terseyum. meski hanya sekejap saja.”

permanas log no. 07 17/06/08 10:42 pm

akhir-akhir ini aku sering melihat ingatan-ingatan masa lalu, melihat perjuangan-perjuangan untuk bertahan hidup, pengalaman-pengalaman yang telah kudapat, pelajaran berharga dari kehidupan, kegetiran dan rasa manis. lembar, halaman, aku rasa itu telah menjadi sebuah buku identitas dalam diriku. well, bukankah hidup mesti terus bergerak, biar kau berhenti, waktu terus berdetak, kau tidak bisa menghentikannya.

aku mengambil jarak sebentar, membuat ruang hampa di antara masa lalu dan sekarang. dan aku tidak merasa ada di mana-mana. aku bisa melihat dengan jernih waktu, pengalaman, pengetahuan, persahabatan, pertikaian…. aku bisa melihat diriku sendiri, tanpa cermin….

permanas log no. 08 29/06/08 05:49

yah, begitulah hidup, atau kehidupan itu sendiri. kadang kau bilang kau sedang berada di atas angin, kadang kau bilang kau karam, terpuruk, bukan siapa-siapa. kadang kau gelap mata ketika kesusahan menghampiri dan lebih gelap mata ketika rasa senang hinggap pada dirimu dan juga diriku.

dan kesendirian? ah kadang juga banyak orang merasa sendiri ketika berada dalam keramaian. sangat berbeda sekali dengan kesunyian.

dan begitulah kehidupan akan terus berdetak……..

permanas log no. 09 15/07/08 04:05 pm

dan, begitulah waktu mengajarkan seseorang tentang kehidupan dan pendewasaan. mengajarkan bagaimana aku menghargai kehidupan, pengalaman, dan waktu itu sendiri. ditunjukkan bagaimana telah melalui hari demi hari. bagaimana keringat turun dari kening, bagaimana jarum jam menusuk dan mendorongku hingga sampai suatu tempat. tujuan? sampai di mana tujuan itu akan berhenti? kemana langkah kaki itu akan terus digerakkan dan dihentikan.

baiklah, mungkin aku akan mencari jawabanya sendirian, sekarang!

permanas log no. 10 17/07/08 07:51 pm

akhirnya tulisan aku dalam tahap editing sekarang. setelah mengerjakannya selama satu tahun dengan beberapa terputus karena aku jgua harus memikirkan pendanaanku untuk menulis dengan menjadi apa pun yang aku bisa lakukan saat itu. kalau mengingat perjuanganku hanya untuk bisa menulis dan menghayal sendirian ketika banyak orang sedang terlelap dengan mimpii-mimpi mereka, ada keindahan tersendiri ketika aku merasakannya. dan setelah tulisan itu diendapkan kembali, aku lupa berapa tahun ya, aku mulai merevisi kembali tulisan itu, sesuatu mulai mengeliat kembali hingga tulisan itu tengah memasuki bagian pengeditan. tapi kerja belum selesai, bilang Chairil Anwar. yah, setidaknya aku tetap mempertahankan cita-citaku ini. biar aku menanggung banyak konsekuensi dan risiko dari semua itu, aku bisa terima semuanya. aku hanya butuh satu persen keberuntungan dari sembilan puluh sembilan kerja kerasku. may God help me. Ameen!! (hehehe….. bahasa apa pun yang kau gunakan, Tuhan pasti mengerti apa yang kau katakan….)

permanas log no. 11 05/08/08 21:36 pm

yah, begitulah kira-kira, dalam keadaan genting, kesabaran, kesadaran, dan kontrol diri memang sangat dibutuhkan olehku saat ini. bayangkan saja, mendekati dealine, tulisan yang aku urus belum turun cetak dan belum aku persiapkan sama sekali.

tetap saja, ketenangan dalam bertindak dan hati-hati mengambil langkah adalah prioritas utamaku saat ini. jangat terburu-buru meski tenggat semakin mencekik. setidaknya, aku berusaha mencari sela agar semua yang aku rencanakan berhasil dengan baik, biar beberapa rintangan (baca: tantangan) menghadang untuk aku selesaikan.

aku yakin, pekerjaanku itu akan selesai tepat pada waktunya sesuai dengan perhitunganku. semoga saja presisinya tidak menyimpang jauh dari apa yang aku harapkan.

permanas log no. 12 14/08/08 11:16 pm

suatu ketika aku menemukan sebuah kata di suatu halaman dalam buku berjudul ‘laskar pelangi’ : ‘miang sui’ (nasib!) dan aku berpikir bagaimana mungkin sebuah cinta bisa mengubah nasib dan hidup seseorang. a ling pergi, ikal merana beberapa hari sambil terus membaca buku pemberian a ling. bagaimana mungkin cinta bisa membuat seseorang bisa seteguh karang sekaligus selembut sutra. kuat sekaligus rapuh.

‘miang sui’, ketika ia menarikan lagunya atas kehidupan seseorang, tidak ada yang tahu pasti ia akan berkisah apa dan bagaimana….

ah…. semuanya pasti akan dibayar Tuhan dengan tunai pada akhirnya

begitu juga dengan ‘miang sui’ ku

(dan perempuanku itu….. ia juga akan menemukan ‘miang sui’-nya sendiri)

cinta yang dimiliki seseorang hanya separuh, memang sangat menyakitkan. dilepas tidak bisa digenggam tidak bisa….

permanas log no. 13 03/09/08 08:23 pm

tenang saja, tenang saja….. aku sudah sembuh…. satu cinta yang gagal tidak akan membuatku runtuh. aku terlalu tangguh untuk dikalahkan hanya dengan satu cinta saja. kau tahu, jalanan sudah mengajarkanku tentang itu sejak…, ah, aku lupa, (aku memang melupakannya)

‘jangan jatuh cinta di saat perang, sayangnya, cinta justru lebih kuat di saat perang’ kata penyair negeri cina. yah, kokoh ini…. jangan sekarang. jangan sekarang. aku yakinkan diriku, ini hanya sesaat, ini hanya sekilas pandang saja.

oh ya, hampir lupa. setelah tergopoh-gopoh untuk merampungkan tulisanku, (baca: anakku) selesai sudah, yah, selesai sudah. aku hanya tinggal berdoa agar anak yang telah kulepas sendirian untuk mengarungi hidupnya agar menemui nasib dan takdir yang baik. aku hanya bisa berdoa saja.

mungkin aku akan mengambil anak angkat lagi, kata-kata yang menangis di kuburan seorang penyair karena ditinggal mati. yah, aku akan menjadi bapak lagi, sepertinya aku akan sibuk mengurusinya hingga dewasa dan mungkin sejarah berulang lagi, aku akan melepasnya pergi setelah siap mengarungi nasib dan takdirnya sendiri. haha… kadang aku berkilah, mungkin mesin tik bobrok itu adalah isteriku satu-satunya yang setia menemani, setiap malam, setiap saat!

sampai puncaknya, hehehehe……, aku tidak bisa bedakan mana perempuan yang jadi isteriku dan mana yang mesin tik. pada saat tertentu, kedua-duanya adalah sama, sama-sama bisa membuatku ‘klimaks!’ (jangan berpikiran kotor ya!) hahahahahaha….. (untung aku belum menikah!) that just was a joke’s my dear…

baiklah, untukmu, nanti, akan kubuatkan satu puisi indah…… (untuk seorang perempuan sekaligus mesin tikku itu) hahahahaha….. adios!!

permanas log no. 14 04/09/08 10:43 pm

oh, no…. aku bingung lagi kayaknya neh…. bayangkan! sudah seminggu ini aku tidak bisa mendapat ide untuk menulis apapun, meski hanya satu paragraf. jangan sampai deh aku kena syndrome ‘lost of imagine‘ bisa gawat ini…. mungkin aku akan melakukan apa yang pernah aku tulis dahulu. well, aku akan mencari ladang lain agar pohon imajinasiku bisa tetap tubuh dan bisa aku petik kapan pun aku membutuhkannya.

jangan katakan! untuk sementara makhluk bernama wanita belum masuk dalam list tanah-tanah subur itu untuk aku garap. bukan trauma, yak, bukankah aku bilang kalau aku saat ini sedang dalam tahap ‘penyembuhan’. dan aku tidak ingin tulisan yang terlalu melankolis dan mengasihani diri sendiri. MENYEDIHKAN! hmmm…. mungkin sebuah pengecualian , bisa aku pertimbangkan. ah…. tapi kata melankolis yang mendayu-dayu tak jelas itu….. tema cinta sepasang mahkluk (apapun) memang tidak akan pernah habis untuk digarap, tidak akan pernah kering, surut ataupun mati sama sekali. tapi aku butuh lebih dari itu.

kalau begitu, mungkin aku akan observasi langsung. menuruni tangga penyebrangan pada malam menjelang shubuh dan mendapati sisi tersembunyi dari sebuah kota… borok yang selalu ditutupi sebuah kota kala siang dan manusia-manusia kardus, manusia nomaden, manusia hyperclass, manusia yang bukan siapa-siapa dan bukan pula apa-apa ada di dalamnya saling bercengkrama dan mencoba saling mengerti dan memahami kondisi satu sama lainnya. tokoh-tokoh pejuang bersenjata sapu (pekerja kebersihan adalah para laskar pejuang keindahan!) dan, mungkin, aku hanyalah seorang penyaksi dari jutaan yang menggeliat ketika mimpi menghinggapi sebagian besar pembaringan. aku menahan mata dan nafasku… mendapati kalau aku adalah tokoh dalam salah satu lakon dari pertunjukan malam itu (juga malam-malam kemarin dan seterusnya setelah hari ini) seorang penyaksi adalah juga seorang tokoh dalam sebuah sandiwara yang disutradarai dan diproduseri Tuhan!

betulkan?! Tuhan selalu punya cara tersendiri dan unik dalam membuat suatu kisah atas kehidupan seseorang. peran dan tindakan yang kau lakukan adalah pikiran Tuhan, dialog kau dan lawan mainmu juga sudah tertera dalam naskah yang Tuhan bikin. aku rasa, kalau Tuhan nulis novel, pasti akan selalu best seller!

TUHAN: sok tahu kamu, permanas

PERMANAS: kapan lagi aku bisa berkelakar tentang Kau, Tuhan?

TUHAN: bukankah pintu-Ku selalu terbuka untuk siapa saja dan kapan saja kalau ingin berbicara dengan-KU

PERMANAS: aku tidak mengingkari. manusia, eh, aku kan terlalu sering lupa dan khilaf. bahkan setiap para asisten-Mu memanggil-manggil untuk sekejap saja melapor pada-Mu-pun, sering aku tidak hiraukan (berbisik: celaka! ketahuan aku!)

TUHAN: dasar, kau!

PERMANAS: apa Kau juga boleh bersumpah serapah seperti itu?

TUHAN: …..??

(BEBERAPA PETIR MENYAMBAR (MAAF) BOKONGKU!!)

PERMANAS: aduh! yah, nasib celana levis-ku. Kau kan tahu, Tuhan. celana ini baru tadi siang aku kredit. petir-Mu itu sudah membuat celana levisku gosong menembus kulit.

(KALI INI PETIR YANG LEBIH DAHSYAT MENYAMBARKU, TIDAK LAGI –SENSOR– (sensor kadang-kadang memang menyebalkan dan memuakkan, bukan?) SELURUH TUBUH GOSONG!)

PERMANAS: mungkin sekarang saatnya aku teriak ‘TOBAAAAAAATTTTTT….!’

TUHAN: (tersenyum puas)

yah, begitulah…. aku punya hubungan yang erat dan unik dengan Tuhanku. Ia akrab denganku, begitu juga sebaliknya. Ia menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang sangat berbeda dan benar-benar ORISINIL!. tapi, aku malah semakin sayang dengan Tuhanku itu. seburuk apapun tindakanku kepadaNya. Ia akan selalu membalasnya dengan cara yang indah dan tidak pernah dapat kubayangkan. meski demikian, aku tahu Ia akan selalu tersenyum kepadaku. dan selalu mengingatkanku dengan cahayaNya sendiri.

‘tenang, kau tidak sendirian…’ sebuah suara halus menyelinap dalam tidurku suatu ketika. rasanya aku tidak ingin membuka mataku. karena ada kedamaian di balik suara itu. dan, aku masih merindukannya!

permanas log no. 15 22/09/08 10:43 pm

aku beritahu satu hal, kau tidak bisa membohongi hatimu, meski kauingin dengan membual bahwa kau tidak apa-apa. kau bisa meyimpannya dari orang lain, tapi, hah, kau tidak bisa menyembunyikannya dari hatimu sendiri. dan satu hal lagi, cinta memang sunguh sangat aneh dan tidak masuk akal. pikiranku belakangan ini sesak dengan perasaan itu, kau memaksa untuk berpikir dengan jernih, tapi tidak akan bisa, sobat, sebelum perkara itu kau tuntaskan sampai ke akar-akarnya.

dan akhirnya aku berdamai dengan diriku dengan tidak membahas soal yang satu itu. tidak ada kabarnya. ia akan selalu menyusup relung-relung dirimu yang kosong dan haus dari sebuah rasa ‘untuk memberi’ untuk berbagi dengan seseorang. kau terpukul kalau kau tidak bisa melakukannya. dan lebih buruk lagi, ketika kau tidak bisa mempertahankannya!

kau ingin melupakan sekaligus kau ingin melihatnya. kau bilang sekali lagi saja, pada kenyataannya kau mencandunya, kau menikmatnya (tentu saja) kau terbang, mabuk, kau tidak dimana-mana, hanya ada kau dan bayangan semu. kau tak berani melihat objek yang kau cintai, beradu pandang sama saja mencari bagian lain dari diri masing -masing melalui jendela yang kau sebut ‘mata’ itu. dan kau terbakar, bukan? tentu saja, aku merasakannya. kau tidak peduli siapa-siapa (mungkin ini yang disebut konsep cinta buta) kau tidak butuh siapa-siapa, kau hanya butuh objek cintamu selalu ada bersama dirimu, jika tidak, kau cukup memuaskan hatimu dalam angan-angan saja. tidak perlu malu. aku juga melakukannya. it’s normal (satu sisi aku bilang itu keadaan sangat tidak normal dan tidak rasional)

hah, bukankah cinta juga adalah sebuah dilema, sebuah ironi, paradoksal, saling bertentangan dan saling beradu.

maka aku bilang pada diriku, cinta adalah kosmos! sebuah ledakan bintang-bintang! sebuah supernova! atau, sebuah perwujudan dari diri yang sebelumnya tidak pernah terlihat! berapa banyak orang berubah drastis karena objek yang dicintainya, bagaimana orang bisa sebegitu bijaksananya ketika sedang menghadapi objek cintanya sendiri (meski terkadang apa yang dilakukan orang tersebut bisa saja kelakuan yang sinting!) Hah! mana ada cinta yang tidak sinting! belum ada kabarnya!

baik, kalau begitu kau tinggal buktikan saja! apa ada cinta yang tidak sinting?! Shit! (ups, maaf, aku terlalu emosional karena aku mungkin saja juga terkena sebuah syndrome) cinta yang sinting!! hah, apa mau dikata, aku bilang. pikiranku tidak bekerja secara normal kalau menyangkut hal yang satu itu, sobat! kalau kubilang sembuh, mungkin aku hanya mencoba menutupi kesintinganku sendiri. sebegitu dahsyatnya-kah?

entahlah, aku akan cari tahu… … …

permanas log no. 16 09/10/08 08:47 pm

ah! aku menemukan proyek baru kayaknya neh. ya harus itu, aku mau bikin tulisan baru, kali ini sedikit ringanlah. mungkin bentuknya sedikit komedi, tapi mudah-mudahan sih tidak humor asal-asalan, hahahaha, setidaknya, aku memerlukan persiapan dan beberapa observasi untuk memulai tulisan itu. yah, mudah-mudahan, anak yang sedang aku kandung ini akan melesat jauh melebihi busurnya sendiri. semoga saja, kawan, semoga saja ia akan menemukan sasarannya sendiri.

sebenarnya ide awal tulisan ini sih hanya iseng-iseng saja. pada ramadhan kemarin (1429 h) sambil menunggu sahur, aku menciptakan beberapa karakter dan cerita dan aku kirimkan melalui sms ke teman-teman aku, yah, isinya sih hanya celotehan-celotehan kocak. setelah aku pikir-pikir, kenapa tokoh-tokoh yang aku ciptakan itu tidak aku pindahkan saja ke dalam bentuknya yang lebih luas. ya sudah, aku bikin poling sendiri apakah setuju tokoh itu bermetamorfosis ke dalam bentuk lain, menjadi sebuah cerita yang utuh. poling itu menunjukkan lebih banyak jawaban ‘ya’. ya sudah, aku mulai mempersiapkan bahan-bahan dan konsep yang enak untuk menuangkannya, dan membiarkan tokoh-tokoh itu mewujud sesuai kehendak mereka sendiri. aku sih hanya menulikannya sesuai keinginan mereka saja. aku tidak memaksa mereka untuk melakukan apa yang aku inginkan, hehehehe, mana mungkin aku bisa memaksa orang-orang serampangan dalam cerita itu. daripada nanti aku berkelahi dengan tokoh rekaanku dalam hal melakukan apa yang kami ingin nanti, ya, lebih baik membiarkan mereka melakukannya sesuai keinginan mereka. hah, mereka memang tokoh-tokoh manja dan menyebalkan. bayangkan, apa yang mereka inginkan dan lakukan harus aku tulis sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. hah! pasti aku akan sering-sering berkelahi dengan mereka!

permanas log no. 17 21/10/08 10.42 pm

tebak apa yagn terjadi? hah! aku tidak ingin menulis tulisan humor itu, aku terlalu kesal dengan tokoh-tokoh yang tidak bisa aku atur, mereka berkehendak semaunya saja, serampangan, bukannya mau menulis humor malah benar-benar berkelahi dan membuiat kepalaku mau pecah saja. terang saja mereka menjadikan kepalaku sebagai medan pertempuran. aku tidak menyerah, hanya membiarkan mereka berpikir kalau aku sudah kalah. awas saja, aku akan kubur mereka dengan peti bekas gula jawa, hahahaha… (sebenarnya, hanya aku saja yang belum menemukan ide yang pas untuk mereka, hikhikhikhik) tapi biar saja, mereka sudah mengibarkan bendera perang denganku. aku tidak peduli mereka mau jadi apa nantinya….

tapi, biarlah, akan aku pikir-pikir lagi nanti. aku sekarang tengah membius mereka dan kuprogram untuk bagun kalau sudah saatnya aku membutuhkan mereka. hikhikhik, bukan picik, kalau membiarkan mereka bangun, aku takut, kepalaku mereka pasangi alat peledak, kalau c4 sih masih mending, lha, kalau bikin bomnya dari karbit? atau molotov! hayo, coba, bisa-bisa pamorku turun dejarat kan? hahaha, masa ada berita, permanas, kepalanya pecah kena bom molotov! haduh, berita yang…. aku tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkan diriku saat itu kalau mereka melemparku dengan molotov atau menyundut jidatku dengan bom karbit! hehehe…. karena itu aku suntik saja mereka dengan obat bius, aku rasa aku bius pakai obat yang biasa digunakan untuk membius gajah deh, hahahaha… aku tidak ingin membayangkan sepulas apa nanti mereka terlelap.

mungkin, aku akan menulis yang lain dulu sajahlah, setidaknya, tanganku masih bisa menari-nari di atas mesin ketik… apapun hasilnya nanti. well… see you…

permanas log no. 18 4/11/08 10.22 pm

beberapa waktu lalu seorang teman dekat mengerjaiku. dan, tentu saja, aku terprovokasi. (masalahnya, aku rasa tidak etis apa yang terjadi aku ceritakan di sini. bukan itu maksudku). memang sudah sifat manusia kalau mengerjai orang lebih nikmat daripada kita yang menerimanya. itulah yang aku maksud, aku suka sekali mengerjai orang, mulai dari menyembunyikan barang-barang milik temanku sampai malah bermain cela-celaan yang lebih dari sewajarnya. untungnya tidak ada yang sampai marah. paling-paling mereka semua hanya tertawa-tawa saja ketika tahu aku kerjai. tapi ketika hukum karma berlaku, yang membuatku jengkel, ia terlalu lihai dan aku tidak pernah menduga-duga dari pada membaca keadaan yang sesuai dengan analogiku sendiri, fatalnya semua itu meleset!

setelah tahu siapa yang mengerjaiku -sebenarnya ia mengaku sendiri karena aku tentu tidak tahu siapa yang mengerjaiku- maka sumpah serapah pun aku ucapkan dari mulutku yang hampir saringan kata-katanya sudah uzur dan harus diperbaharui, meski ia tidak marah, pada dasarnya aku tidak ingin mengungkapkannya. tapi aku senang, karena dengan lihai ia telah mengerjaiku, dan tanpa sadar telah menjadi guru dari hukum karma. “apa yang kau lakukan pasti akan kembali kepada dirimu sendiri. jika tidak dalam waktu dekat, ya mungkin akan datang dalam waktu yang tidak pernah dapat kau duga sebelumnya.” dan benar saja, aku mengakui kesalahanku sendiri, dan segera mungkin aku memperbaiki kelakuan dan kebiasaanku dalam hal kerja-mengerjai itu. tapi yah, namanya juga manusia. insaf sebentar, jika saatnya sifat itu ‘menggoda kembali’ aku tidak tahu, apakah aku akan melakukan keisengan kembali atau tidak, meski dilakukan dengan sadar, adakalanya kesadaran itu begitu tersembunyi sehingga ketidaksadaran menjadi tuan diriku dalam sementara waktu, hanya selama proses pengerjaan iseng-mengisengi itu selesai.

dan , sekali lagi aku akan menginsyafi, ‘apa yang kau lakukan akan kembali kepada dirimu sendiri kelak!’

betapa ngeri aku membayangkannya jika semua kelakuanku di dunia akan kembali kepada diriku sendiri nanti, d1 akhirat!….. ….. ……. …..

permanas log no. 19 3/12/08 10.22 pm

yah, tetap sajalah pada tujuan utama. jalan apapun yang diambil jika tujuannya adalah hal yang sama, ia pasti akan sampai juga ke tujuan tersebut. sejauh fokus pada tujuan itu sendiri.

‘bukankah sudah kubilang, aku paling benci menunggu’

kesabaran adalah apa yang akan kau bayar nanti. pelunasan dari dahaga akan menunggu. kau pasti akan mendapatkannya. jika hanya kau sabar menunggu, semua sudah tertulis, mana yang untukmu dan mana yang bukan untukmu.

‘bagaimana jika itu terlalu lama?’

menunggu, hahahaha…. kadang apa yang kau minta bukan apa yang kau butuhkan. bagaimana kau bisa memboroskan waktu hanya untuk meminta yang bukan kau butuhkan?

‘lantas?’

lalu

‘dan?’

tidak ada.

‘bagaimana jika seseorang mengukur dirimu, dan sayangnya meleset! seharusnya kau bisa mendapat lebih seandainya proporsi ukuran untukmu adalah tepat?’

manusia mengukur manusia? hah, hal yang lucu. ukuran manusia tidak ada yang pernah pasti, jadi kenapa kau selalu risau dengan ukuran yang tidak pernah jelas tersebut? jadi, tetapkan saja ukuran tertinggi untuk dirimu sendiri kalau begitu. jika proporsi ukuran dirimu meleset jika diukur oleh orang lain, kenapa kau mesti kesal yang pada kenyataan adalah bahwa kau bukan orang dalam ukuran proporsi mereka. dalam kehidupan, itu adalah hal biasa. bukankah aku sudah menyuruhmu bersabar?

‘ya. aku hanya tidak suka saja orang lain mencampuri urusanku. sekecil apapun urusan orang lain, pasti akan sangat penting bagi orang yang bersangkutan. apa ukuran sosial yang merasa berhak mencampuri urusan pribadi orang lain. selama urusan itu bukan suatu tindakan kriminal dan asusila, dan amoral, dan….. dan, yah, dan….’

…. …. ….

‘kau tidak menjawabku?’

apa kau sedang putus asa.

‘tidak, aku tidak putus asa dan tidak ingin merasakan bagaimana rasanya putus asa. cukup beberapa kali saja aku merasakannya dalam hidupku. selebihnya aku belajar mempersiapkan diri untuk tidak perlu merasakan perasaan itu kembali.’

jadi, apa yang kau rasakan?

‘apa yang ingin kau rasakan?’

kau harus cari tahu sendiri kalau begitu… …

permanas log no. 20 15/12/08 10.10 am

tanggal 12 kemarin malam aku dan sahabatku  menghadiri malam anugrah sayembara novel DKJ yang naskahku aku ikutsertakan di sana. hanya ada satu pemenang, ‘tanah tabu’, yah, tidak apa-apa naskahku belum menemui nasib baiknya. aku rasa aku akan menggunakan rencana kedua.

aku akan mengedit ulang, membuang yang tidak perlu dan yah, tambal sulam aku rasa. sedikit kerja keras lagi. setelah selesai akan aku kirim ke penerbit dan semoga saja naskahku menemui nasib baik di sana. semoga saja.

berapa kali aku gagal ya? hikhikhik, saking banyaknya , aku lupa

‘tidak apa-apa. kau tetap kokoh, itu saja sudah luar biasa’

yah, aku rasa aku akan bongkar pasang naskah itu

‘lakukan apa yang menurutmu pantas untuk dilakukan’

sepertinya malam-malamku akan penuh dengan kopi, asap rokok, dan, pikiran yang melayang-layang lagi

’seperti waktu dulu. dan mesin ketik tua itu… bukankah ia yang juga selalu menemani?’

ahh.. dia sudah lelah, aku pensiunkan… ada yang lebih canggih

‘komputer?’

setidaknya memudahkan aku mengedit

‘hahahaha…. aku tunggu… aku tunggu….’

kalau begitu… ayo kita kerja lagi, sobat…

‘ya, ya, hanya orang-orang gagal saja yang berhenti bekerja. kita tidak gagal, hanya sejengkal saja dari keberhasilan… baiklah, ayunkan jari-jarimu untuk menari bersama pikiran’

sudah aku lakukan.. … ..

permanas log no. 21 07/01/09  05.50 pm

horeeeeeee……….. tahun baru telah berlalu, foya-foya telah tertinggal dibelakang, bahkan suara terompet saja pupus sama sekali sekarang. yah, kan, momen tahun baru sebenarnya bukan untuk sekedar senang-senang saja. biar itu hanya setahun sekali, wajar-wajar saja kalau ada yang mau merayakannya dengan konsep sendiri.

justru, tahun 2009 ini aku mendapat sedikit pencerahan, kalau tidak ingin aku katakan banyak, hehehe…. aku sudah membuat beberapa rencana yang akan aku lakukan pada tahun ini, satu rencana sedang aku pikirkan masak-masak sekarang -aku pernah punya mimpi untuk melanjutkan sekolah- rencana itu yang sekarang aku pikir masak-masak, masakan aku kalah dengan… siapa nenek/kakek yang kuliah dan lulus pada umurnya yang ke 80? fantastik, man! ya, aku sudah mencari beberapa sekolah yang memiliki program ekstensi yang sesuai dengan jurusan yang ingin aku ambil, dan terutama masalah ‘biaya’ hah! sejak dulu selalu itu saja yang menjadi kendala banyak orang tidak bisa mencicipi bangku kuliah. bahkan aku sendiri masih mencari sokongan dana untuk penambahan (sebenarnya untuk uang masuk saja aku hampir tidak punya, hikhikhik) tapi aku yakin kalau aku bisa melanjutkan sekolah pada tahun ini. seperti yang andrie wongso gaungkan ’succes is my right!’ gagal satu kali bagus, gagal dua kali dengan lebih bagus lagi, tiga kali gagal, gagal dengan lebih cemerlang! (lha, terus kapan suksesnya, pak?) … … … … ‘tau…’ setidaknya aku tidak gagal dengan kesalahan yang sama bukan? (kalau begitu ikan bodoh namanya)

ya sudah, niat sudah ada, tindakan hampir jelas, keyakinan kuat, malah dana yang tidak ada, tidak jelas, dan tidak kuat, hehehehe…… kayak metromini sajalah prinsip sekarang, yang penting jalan dulu lah, penumpang akan selalu ada di jalan yang setia menunggu (atau karena tidak ada pilihan angkutan lain yang murah meriah… ya toh?!)

banyak orang akhir-akhir ini bicara mengenai resolusi diri di masing-masing jiwa, sementara aku lebih banyak memikirkan bagaimana hal itu bisa mewujud.

‘tidak gampang, tapi bukan berarti tidak mungkin kan?’

begitulah sahabatku.

‘jadi apa yang sudah kau lakukan sekarang?’

baru bikin kuda-kuda

‘main pencak?’

bukan. mensiasati mimpi dan sedikit memanipulasi kenyataan.

’semua pemikir besar jaman dulu selalu yakin… mimpi merekalah yang telah membuat mereka dikenang dunia sampai sekarang. bagaimana dengan kau sendiri’

aku mau seperti itu.

‘kalau begitu, keringat dan air mata akan mengucur lebih banyak setelahnya, setelah kau bermimpi untuk memungkinkan semua mimpi’

aku terima

‘baiklah’

permanas log no. 22 22/01/09  19.08 pm

kadang keragu-raguan itu bekerja sebagai rem.. ketika kau berharap jawaban bagus dari orang-orang yang kau percaya ketika kau menanyakan suatu hal yang menurutmu penting.. kau hanya mendapatkan jawaban yang ragu-ragu…. bukankah keragu-raguan itu adalah penghambat bagi segala kemajuan?

aku rasa memang seperti itu. jika tidak memungkinkan maju.. bertahan aku rasa jalan terbaik.. jadi.. lakukan apa yang harus dilakukan.. jangan bertindak gegabah.. aku rasa, jika tidak, kita akan tenggelam….

ketika kau membutuhkan suatu pegangan yang kuat untuk bergantung.. dan tiba-tiba sadar.. hanya diri kitalah penopang sesungguhnya tempat bernaung itu… apa yang harus kau lakukan?

aku rasa kita harus tetap teguh dengan apa yang sudah kita pilih untuk menjadi tujuan hidup kita… memang perih.. tidak ada perjuangan yang tidak memiliki penderitaan buka??

permanas log no. 23 16/02/09  11.51 am

wah, aku baru sadar, ternyata umur blog aku ini sudah menginjak satu tahun lebih toh.. wah, hehehe, tidak sangka lho, aku, ternyata tetap bertahan. biasanya aku orangnya tuh bosenan, kalo sudah gak ada greget lagi, ya sudah aku tinggalkan dan mencari suasana baru lagi… mungkin juga aku merasa betah di sini, punya rumah buat pikiranku tanpa ada yang mengganggu gugat keberadaannya, tapi ya itu, komentar-komentar para tamu juga lumayan membangun dan kritis, tenang, aku tidak pernah marah kalau itu memang kenyataan yang aku alami di sini. tapi sayang, banyak komentar yang terjaring spam dan tidak sempat aku buka, walhasil, komtentar-komentar tersebut dihapus secara otomatis deh sama itu spam. untungnya sekarang sudah aku setting agar tidak dihapus kalau-kalau ada komentar lain yang terjaring spam, jadi bisa aku pilah-pilah lagi nantinya.

untuk ke depannya, aku akan terus menulis apa-apa yang ingin aku ungkapkan untuk aku bagi atau untuk didiskusikan. mohon maaf bagi tamu permanas kalau ingin memberi komentar tapi harus mengisi e-mailnya, itu aku lakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menuliskan kata-kata yang tidak sepantasnya untuk diucapkan ke publik atau pun tulisan-tulisan yang mengandung SARA (beberapa komentar memang memuat isu tersebut, jadi maaf terpaksa tidak diterbitkan) atau sekedar beriklan ria di blog permanas. tapi, apa pun  itu, permanas tetap menghargai karena sudah menyempatkan diri berkunjung ke rumah permanas.

jadi, yah, selamat membaca…….

permanas log no. 24 03/03/09  20.38 pm

setiap gesekan-gesekan kecil dalam pertemanan itu hal wajar, yang tidak wajar adalah ketika gesekan itu berubah menjadi permusuhan yang kekanak-kanakan. adanya sebuah gesekan, dalam hubungan sosial apapun dan bagaimanapun, adalah hal wajar. justru itulah sebabnya kenapa manajemen konflik itu perlu dan harus dipelajari oleh setiap individu. masalahnya, tidak semua orang mampu mengatasi permasalahan tersebut, dan lebih memilih bersikap masa bodoh dan membiarkannya berlarut-larut. bicara mengenai masalah perasaan memang bukan hal mudah, terlebih ketika pergesekan itu sudah melukai hati, ini yang agak sulit untuk diredam, karena masing-masing individu mempertahankan bahwa diri masing-masinglah yang benar, terlepas mereka benar atau salah ketika terjadi pergesekan itu. adakalanya pergesekan itu timbul ketika hal-hal lama sebelumnya sudah terpendam, sedikit percikan dapat memicunya timbul ke permukaan. nah, yang bahaya, hal-hal yang bersifat individual itu, antara perseorangan, menimbulkan gangguan dalam kelompok sosialnya atau lingkungan sekitarnya. dan membuatnya meluas menjadi perseteruan kelompok dalam kelompok,  karena masing-masing membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang mau mendukung mereka dalam usaha memenangkan perseteruan tersebut. inilah kenapa dalam berbagai konflik yang terjadi dalam sebuah kelompok menjadi meluas dan mengakibatkan lumpuhnya aktivitas, malah menyebabkan terpecahnya kelompok tersebut yang bilamana masing-masing individu bersikap bijak dalam menanggapi pergesekan tersebut, hal itu tidak akan terjadi. memang membutuhkan jiwa besar dalam menyelesaikan perkara tersebut untuk tidak berlarut menjadi sebuah konflik massa. ya, tidak perlulah harus seperti itu. tapi memang agak susah kalau menyangkut masalah hargi diri yang sudah diinjak-injak dan diperlakukan dengan semena-mena. jadi, sudah saya bilang kan, memang dibutuhkan jiwa besar untuk bisa memaafkan orang yang telah menginjak-injak harga diri kita tanpa seijin dari kita. jadi apakah kita bisa, atau tepatnya, apakah ’saya’  bisa? tentu hanya anda yang bisa menjawabnya.

permanas log no. 25 11/03/09  20.00 pm

dulu aku sering mengambil prinsip gaya machiavelli, seperti salah satunya harus bersikap selembut bagai seorang guru tari dan secerdik ular… yaaah, memang prinsip atau gaya apapun hidup kita kadang tergantung apa yang kita hadapi pada saat itu juga. siap-siap saja berperang secara frontal atau berperang secara psikologis, tinggal pilih saja medannya…. lainnya tidak usah dipedulikan. bersikap kasar, sekali waktu adalah penting untuk menunjukkan kesungguhan sikap kita. jika tetap tidak dipedulikan, sekali atau dua kali pukulan mungkin dibutuhkan… (ups! kayaknya hilangkan saja hitungan formal. pukul saja tanpa menghitung, beres kan?) jika ingin melakukan, usahakan sebrutal mungkin sampai kau tidak usah mengkhawatirkan pembalasannya kelak… coba saja baca machiavelli, para bangsat kaya itu selalu melakukan kebrutalannya selembut mungkin. dalam dunia nyata sekarang ini, kebrutalan tidak harus selalu berhubungan dengan fisik atau kontak tubuh, kau bisa membunuh siapapun dengan hanya menggunakan selembar kertas. pecat saja seseorang dalam perusahaan kau yang bergaji besar dan menghabiskan banyak anggaran tapi tidak menghasilkan lebih banyak untuk perusahaan. sekarang juga! tidak peduli siang atau malam. tapi jika kau bajingan tengik, sepertinya menggerogoti sebagian besar lemari brankas perusahaan adalah hal yang wajib!! (haha… dunia ini kejam, lalu kenapa… mau ikut menjadi kejam atau mengambil posisi korban dari kekejaman itu sendiri??). setiap orang berubah. aku tidak berubah, tidak, tentu tidak, hanya cara pikir saja sedikit di perbaharui. hah! aku bukan bangsat, juga bukan bajingan tengik… tapi jika iya memangnya kenapa… hahahahaha… bingung kah?? jangan-jangan kau sendiri adalah juga bajingan bangsat yang tengik (wah, diborong semua!) eh, aku tidak sedang mencoba mengajari atau mempengaruhi siapa-siapa ya… baca saja slogan di atas…(dan jika kebebasan adalah kata-kata tak terantai, maka ia tak perlu dipasung) bereskan! kalau mau marah-marah… silahkan saja nulisnya di ‘halaman ekspresi publik’ yak! hehehehe…

permanas log no. 26 08/04/09  12.20 pm

baiklah… untuk satu hal aku harus mengalah… aku tahu rasa hati itu tidak bisa dipaksakan baik ia laki-laki atau perempuan… jadi.. aku rasa..aku harus menghilangkan egois aku  sendiri dan mencoba berdamai dan tidak membuat keributan apa pun… satu-satunya yang kulakukan, aku rasa, sejenak aku akan menenggelamkan diriku sendiri.. bukan, bukan untuk menyesali semua yang telah terjadi, aku tidak ingin mengeluh.. bukankah aku tegar, aku pasti bisa melewatinya. kau pasti juga merasakan hal yang  janggal bukan jika kau hanya memiliki setengah rasa cinta… jadi… aku rasa aku akan melepaskannya dan menemukan rasa yang utuh… dan.. setidaknya, aku pergi bukan sebagai orang yang kalah…. tentu saja aku tidak kalah, meskipun  tidak menang…

permanas log no. 27 22/04/09  16.24 pm

kemarin sore aku benar-benar termenung ketika melihat sesosok mayat yang kaku. ya, kemarin sore selepas maghrib, seorang tetangga di dekat kantorku berteriak minta tolong, segera saja aku beranjak mengikutinya sampai pada sebuah rumah besar yang gerbangnya saja, sungguh lumayan jauh dari pintu utama rumah itu sendiri. ketika sampai di kamar atas, ya Tuhan, aku mendapati sesosok mayat berusia kira-kira usia 60 – 70 tahun sudah tidak bernyawa tertelungkup kaku. aku beserta kawan-kawan yang lainnya bergegas mengangkat mayat yang tidak aku kenal itu untuk di pindahkan ke atas kasur. tadinya aku sempat berpikir untuk tidak memindahkannya karena itu merupak TKP. tapi, niat itu aku urungkan dan teman yang lain menghubungi RT dan RW setempat. setelah ada yang mengurusi mayat tersebut, aku memilih mengundurkan diri. hah, tragis memang hidup itu.

yang aku pikirkan, bagaimana jika itu aku, meninggal seorang diri sampai kaku, mungkin saja sampai busuk dan jadi tulang begitu saja. hah, aku merasa, mereka yang meninggal dunia didampingi orang-orang tercinta mereka adalah orang yang beruntung. meski mereka itu seorang gali sekalipun, aku rasa mereka tetap memiliki keberuntungannya sendiri. dan Tuhan tetap berbaik hati kepada siapa saja, bukan?

permanas log no. 28 14/05/09  10.46 am

belakangan ini aku agak merasa bingung dengan apa yang sedang aku lakukan. aku serasa kehilangan arah, tidak punya tujuan lebih apa yang seharusnya aku ingin lakukan. sampai aku berpikir, suatu ketika, aku tidak melakukan apa-apa. yang kulakukan selama ini, hah, aku tidak tahu.

aku pernah kehilangan arah dan kompas hidupku tidak menunjukkan arah pasti. dan sekarang aku menemui lagi keadaan seperti itu dengan kondisi yang lain. semua yang kulakukan untuk kemajuan hidupku gagal. begitu seringnya aku gagal sampai aku merasa , selalu hanya kegagalan yang akan kutemui dalam setiap perjuanganku. aku selalu berusaha untuk tetap terlihat teguh, tegar, mencoba mengatakan tidak ada yang mampu mengalahkanku. aku merasa, kalau aku sudah kalah. tapi aku masih berjuang dan belum karam…

permanas log no. 29 02/06/09  14.33 pm

gimana ya… kalau kau bicara soal sebuah pertemuan, apakah kau akan bertanya kalau itu hanyalah sebuah kebetulan atau memang sudah takdir kalau kau, atau aku sendiri, dipertemukan dengan seseorang. hahaha… sampai sekarang aku tidak berhasil menemukan jawabannya. bisa saja kebetulan, bisa saja memang takdir, atau takdir yang ditetapkan melaui sebuah peristiwa “kebetulan”. yah, apapun itu, toh, sebuah pertemuan, kalau memang terjadi, tidak akan bisa dihindari, bukan.

jadi, sebenarnya bukan masalah mengikuti arus, mungkin seperti kebanyakan para musisi bilang, ikuti saja musiknya, maka kau akan menemukan harmoni di sana. hmmm.. nada yang harmonis, selaras. bahkan dalam seni sekalipun, ketidak beraturan memiliki keteraturannya sendiri. hmmm…. jadi, ya, jadi aku rasa untuk saat ini, mungkin saja pertemuan itu adalah sebuah kebetulan dengan cara yang tidak biasa, atau mungkin seperti takdir yang tidak sengaja tertulis, hah, apapun istilahnya, setidaknya ikuti saja alunannya… atau ikuti arusnya, tapi jangan tenggelam. masalahnya tidak segampang itu jika kau merasa bertemu dengan seseorang yang akan jadi teman hidupmu. jodoh memang selalu datang tanpa diduga kan? aku rasa, kita harus berdamai dengan yang satu itu… well, baiklah kalau begitu…. ikuti saja alunannya… hahahaha…. menyanyi saat hujan turun adalah sebuah ungkapan syukur dengan rasa tersendiri… ayo kita berdansa kalau begitu, kekasihku….

permanas log no. 30 16/06/09  11.28 am

begini, sebenarnya kebimbangan atau kegelisahan itu adalah pertanda sebuah alarm kewaspadaan sedang menyala atau sesuatu membuatnya menyala untuk mengingatkan kita akan sesuatu hal yang mencoba menyuruh kita untuk menanggapinya. jika alarm itu dibiarkan saja, besar kemungkinan ia akan semakin menggunung dan ketika saatnya semakin memuncak maka ia akan meledak seketika, dan segalanya pada saat itu sudah terlambat untuk memperbaikinya karena segala sesuatu yang terpendam lama itu keluar secara bersamaan, karena kita terlalu sering mengabaikan alarm itu dan membiarkannya semakin menumpuk dan menjadikannya mesiu untuk sebuah peledak yang akan menghancurkan hidup kita dan orang lain disekitar kita yang sudah kita abaikan.

justru, aku mungkin sebaliknya kali ya, kegelisahan itu muncul karena saling terkait satu sama lain yang menimbulkan kegelisahan itu mencuat ke permukaan. aha! kadangkala kedekatan juga mampu menimbulkan kegelisahan sendiri, bukan? setidaknya begitulah pendapatku. ya, karena kita sudah terlalu sangat dekat, dengan seseorang atau sesuatu barangkali, sehingga kedekatan itu berubah menjadi sebuah kecemasan yang jika dibiarkan juga akan membahayakan, tentu saja ia menjadi seorang paraniod. hahaha, tapi tenang, aku tidak seperti itu. aku tidak ketakutan, tentu tidak, hanya kadang kewaspadaan untuk banyak hal memang diperlukan demi menjaga diri kita dari hal-hal yang terburuk yang bisa kita bayangkan. dan tidak sembrono. padahal, dalam banyak hal, sering aku sembrono. misalnya saja lupa menaruh sesuatu, karena aku sering melayangkan pikiran entah kemana, satu atau dua menit kemudian, aku lupa benda yagn kupegang tadi kutaruh di mana. itu hanya contoh kecil saja, meski aku tidak sering melakukannya, hehehe, tapi itulah yang terjadi. itulah kenapa kewaspadaan diperlukan untuk menghadapi kegelisahan itu.

permanas log no. 31 10/07/09  16.43 pm

kepenatan dalam menjalani kehidupan yang serba rutin memang bisa membuat rasa bosan itu tumbuh seiring dengan masalah-masalah yang timbul dalam lingkup sosial kita berada. adakalanya rasa bosan sanggup membunuh kreativitas seseorang, ada juga yang menggunakan rasa bosan itu sebagai alasan untuk keluar dari kebiasaan dalam menjalani kehidupan.

jadi, rasa bosan itu ternyata, tergantung dari siapa yang menyikapinya, apakah berpikiran positif atau berpikiran negatif. energi-energi yang berlebih dalam menghadapi rasa bosan itu justru seharusnya mampu menstimulasi otak dan jiwa untuk melakukan sebuah perubahan agar waktu-waktu selanjutnya tidak terbuang percuma dan ketika sudah mendobrak pintu kejenuhan, pikiran dapat tercerahkan kembali.

saya biasanya, ketika kejenuhan itu menantang saya dan berusaha membunuh kreativitas, pergi ke suatu tempat yang menyenangkan adalah pilihan lain. atau saya melakukan kegiatan yang saya senangi, saya biasanya melakukan kesenangan saya dengan membaca buku yang saya suka sambil memanjakan diri saya dan berusaha sebaik mungkin melupakan rutinitas. atau jika ada waktu, berkunjung ke rumah kawan-kawan yang lama tidak saya sambangi dan menjalin kembali silaturahmi diantara kami, mengingat-ingat cerita masa lalu bersama sahabat juga mampu menyegarkan pikiran.

atau, setidaknya, cobalah untuk tersenyum kepada diri sendiri. ‘Anda adalah apa yang anda pikirkan’, kabarnya kalau kita selalu berpikiran positif, maka lingkungan dan semesta akan ikut terpengaruh terhadap energi positif yang kita pancarkan. tentu saja saya selalu seoptimis mungkin, tapi tidak asal optimis lho ya, hahahah…

jadi, ketika kebosanan itu menghapiri pintu hati saya, saya justru menjamunya dengan ramah, berdiskusi dengannya, bagaimana ia, kejenuhan, dibutuhkan untuk membuat suatu perubahan, bahwa kehadirannya adalah merupakan sebuah indikator bahwa sesuatu harus dirubah, diganti, diperbaiki, atau dibuang sama sekali demi sebuah kemajuan. tentu saja, saya juga menyediakan kejenuhan itu minuman dan makanan ringan yang saya miliki, karena saya yakin, kejenuhan adalah merupakan tamu bagi sang perubahan atau ia wujud lain dari energi positif yang terpendam yang ingin segera keluar.

jadi, jika rasa bosan melanda, saya akan membuka pinta rumah saya dengan lebar, karena saya yakin, setelah ia pergi, hidup saya akan lebih berwarna dari sebelumnya.

permanas log no. 32 31/08/09  15.52 pm

baru saja seminggu yang lalu aku mengalami kecelakaan, jatuh dari sepeda motor. meski tidak parah, tetap saja aku merasa bersyukur bahwa aku masih diberi kepercayaan oleh Tuhan memegang kendali nyawaku untuk aku pergunakan sebaik yang bisa aku gunakan. aku merasakan begitu dekatnya antara kehidupan dan kematian, membayang  jelas sekali, melayang tanpa mengalami rasa sakit selama beberapa detik. tentu saja setelahnya, rasa sakit mulai menjelmakan wujudnya melalui tubuh yang terluka. intinya, aku merasa bersyukur karena masih bisa berdiri dan menjalani kehidupan seperti biasanya. dan bersyukur pula didekatkan kepada kematian. dan mengingatkan kematian itu sendiri.


permanas log no. 33 17/09/09  11.14 am

jadi, aku rasa aku akan melakukan perjalanan lain dan menemukan sejarah baru dalam kehidupanku. aku pikir, manusia memang hanya bisa berencana dan berusaha. tidak mungkin menolak apa yang sudah terjadi. dan pengalaman mengajarkan, mensiasati keadaan adalah jalan lain untuk survive dan menentukan langka selanjutnya. menyerah hanya pilihan untuk mereka yagn tidak sanggup lagi meneruskan kehidupan. aku tidak menyerah dan tidak ingin dikalahkan begitu saja oleh kehidupan dan nasib. aku tidak ingin terbelenggu. aku ingin melakukan sesuatu yang hebat, yang tidak biasa. jika tidak bisa mengubah sejarah dunia, aku ubah sejarahku sendiri jika begitu. tidak ada yang mampu menghalangiku untuk berhembus dan melayang kemana yang aku ingin. aku menantang.

permanas log no. 34 29/10/09  20.49 pm

kau tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kau sayangi? benar rasanya sangat menyakitkan dan lukanya terlalu dalam untuk bisa sembuh dengan cepat. nyatanya tidak mudah melupakan rasa sakit yang mengganjal dalam diri itu. jadi, aku mengobatinya semampuku saja. tidak banyak yang bisa aku lakukan selain dari pada itu dan menoba melupakan sambil meneruskan hidup yang masih berjalan untuk ditantang. jadi, aku berusaha bangkit lagi sekarang.

permanas log no. 35 16/11/09  18.30 pm

sebenarnya aku tidak berani untuk menduga-duga apa yang akan terjadi kelak setelah hari ini. aku hanya berani berandai-andai seumpamanya begini sekiranya begitu maka itulah yang akan terjadi besok. setidaknya aku hanya mengangankannya saja. jika terwujud ya alhamdulillah jika tidak pun ya tidak apa-apa. tapi semoga saja terwujud. jadi, ya begitulah pikiran sederhanaku saat mengandaikan sesuatu. satu-satunya jalan termudah, menurutku, adalah berdoa agar besok dan seterusnya hari-hari yang kujalani akan baik-baik saja. tapi aku tidak berani menduga, hanya berdoa. itu saja.

lain hari, aku mencoba memberanikan diri bagaimana seandainya besok aku menduga akan seperti ini kejadiannya atau seperti itu kenyataannya. aku menduga secara sembunyi-sembunyi dengan harapan besar semoga saja Tuhanku tidak tahu apa yang akan coba kuduga mengenai kejadian esok hari yang akan aku terima sebagai kenyataan.

walhasil, esoknya, tepat ketika saya menduga saya akan mendapat warisan 10 miliar dari kerabat terjauhku. bukan hanya tidak terjadi, tapi memang tidak mungkin. karena pada kenyataannya aku memang tidak punya kerabat jauh kaya yang bisa membagikan warisannya sebanyak 10 miliar kepadaku. tapi itu tidak jadi soal, bagiku secara pribadi, apapun bisa terjadi tergantung apakah Tuhanku mau mengabulkannya atau tidak.

aku tidak perlu menarik nafas atas dugaan yang tidak mendasar itu karena memang kenyataan yang aku hadapi seperti itu. jadi, aku memang tidak ingin menduga lagi, karena menduga-duga hanya akan seperti orang buta berjalan dalam gelap tanpa tongkat yang bisa meraba jalan untuknya. aku hanya ingin menjalani dan menghadapi hari esok dengan berbekal doa pada malam hari dan pagi hari sebelum keluar rumah dan setelah kembali pulang dengan selamat.

 

Satu Tanggapan ke “Sebuah Perjalanan Waktu …”

  1. Anindita Siswanto berkata

    (untuk permanas log no. 20 15/12/08 10.10 am)

    JENDELA KESADARAN[1]

    (Proses Kreatif “Tanah Tabu”)

    “Suatu hari saya membaca sebuah reliatas,

    seketika hidup saya pun berubah…”[2]

    Dalam novelnya The New Life, Orhan Pamuk mengisahkan seorang pemuda bernama Osman yang begitu terpengaruh dan terobsesi dengan sebuah buku yang dibacanya. Tak hanya merampas hari-harinya, pemuda itu justru sengaja menjerumuskan diri ke dalam pencarian-pencarian makna rahasia dari buku tersebut, yang ternyata semakin menjauhkannya dari “kehidupan normal” sebagai seorang mahasiswa.

    Hampir mirip kisah Osman, saya pun pernah merasakan hal sama. Bagaimana sebuah realitas yang saya temukan tanpa sengaja lewat sejumlah tulisan di internet—dari sumber berbeda tapi memaparkan kisah yang serupa—begitu memengaruhi saya. Membangkitkan sebentuk kesadaran yang selama ini, sepertinya, hanya tidur-tidur ayam dalam diri saya. Hingga terjagalah saya. Mulai kasak-kusuk sendiri karena merasa “cukup terganggu”; mengapa saya baru tahu sekarang? Kemarin-kemarin saya ke mana saja? Dulu-dulu mata saya hanya digunakan untuk “melihat” apa saja? Kok bisa-bisanya saya lupa bahwa hidup tak hanya melulu diisi warna cerah yang menyenangkan hati, tetapi warna suram yang menyimpan rahasia pun pasti ada. Sejak itu, niat saya yang semula ingin mengumpulkan bahan untuk menulis sebuah buku non fiksi untuk anak-anak tentang keindahan panorama alam di Pulau Kepala Burung, Papua, sontak berubah haluan.

    Untuk apa menulis tentang keindahan jika di sebelahnya ada penderitaan yang lebih nyata dan sangat membutuhkan perhatian? Bukankah sudah banyak buku/artikel yang membahas tentang keindahan tersebut—bahkan telah diterjemahkan entah dalam berapa bahasa asing, pada buku panduan wisata atau katalog tempat wisata, lengkap dengan foto beresolusi tinggi dari seorang lelaki tua berkoteka—sebaliknya buku/tulisan yang menyinggung nasib rakyat di pulau itu yang begitu menderita dan tersisih di negara sendiri justru diwanti-wanti penerbitannya (padahal jumlahnya pun sedikit). Apa pula gunanya mengabadikan keindahan pulau itu dalam bentuk buku (tulisan)—yang jika kelak diterima penerbit dan diterbitkan, maka saya pun akan mendapat keuntungan materi dari hal tersebut—sementara mereka yang tinggal di tempat itu malah tidak bisa menikmati keindahan tanahnya sendiri karena terlalu diberati beban hidup yang tak habis-habis?

    Sebenarnya, pada titik ini, semula saya ingin pura-pura “buta” saja. Pura-pura menyesal karena telah mendapat informasi yang bertentangan dari yang saya butuhkan. Pura-pura telah salah baca bahwa telah terjadi “ketidakadilan yang merata” di negara yang seharusnya “berkeadilan merata” ini. Tapi apa boleh buat, saya tidak bisa. Benar-benar tidak bisa! Realitas itu ada di mana-mana. Tertulis di buku, jurnal, koran, situs internet, bahkan blog pribadi. Semakin saya hindari, semakin menari-nari dalam kepala ini. Semakin tak digubris, semakin membuat diri serasa pengecut. Pemerkosa kebenaran karena lebih memilih diam. Benarkah saya seperti itu?

    ***

    Butuh keberanian untuk meruntuhkan dogma “Diam adalah Emas”. Bohong jika saya berkata tidak ada palang rintang yang harus saya lewati sebelum kemudian memantapkan hati menulis tentang nasib rakyat tanah Papua dalam bentuk novel. Maksud saya, hey, bisakah novel serius model begituan diterima penerbit? Sebagai seseorang yang bernapas, makan, dan minum dari menjual tulisan (tidak ada pekerjaan lain, selain mengurus rumah tangga), bisakah saya menggantung harapan atas seikat sayur bayam dan sepotong tempe dari novel itu nantinya?—sungguh, waktu itu belum ada niat untuk mengikutkannya dalam lomba, apalagi Sayembara DKJ, karena berdasarkan hasil survey saya, novel pemenang DKJ selama beberapa tahun terakhir tidak ada yang seperti novel yang akan saya tulis (dan saya pernah memaksakan diri mengikutkan novel karya saya yang “lain sendiri” namun hasilnya: kalah!). Dan Papua, tahu apa saya tentang pulau yang belum pernah sekali pun saya kunjungi itu? Bagaimana dan dimana mencari bahan tulisan tentangnya?

    Sungguh beruntung saya lahir di abad yang begitu modern sekarang ini. Kalau semisal saya lahir sezaman dengan Pramoedya Ananta Toer, tentu saya harus bolak-balik keperpustakaan untuk meminjam buku berbecak-becak, kemudian sampai di rumah diketik ulang buku-buku itu sebagai bahan tulisan—dan mungkin pula saya tidak mempunyai ketekunan seulet itu. Abad ini memudahkan saya melakukan ini-itu tanpa harus mengeluarkan biaya yang bisa membuat saya dan suami bangkrut mendadak. Melintasi sulitnya melakukan penelitian secara langsung, dari mulut orang pertama—karena saya terbentur besarnya biaya untuk melakukan perjalanan ke Papua—saya pun memilih melakukannya melalui tulisan.

    Anak-anak pun tahu kalau buku adalah jendela dunia. Namun bagi saya, tak hanya sebatas buku, semua bentuk tulisan, apapun isi dan maksudnya, adalah jendela serba guna. Lewat jendela itu saya bisa mengintip kehidupan di sebuah tanah yang belum pernah saya jejaki, mencoba merasakan penderitaan penghuninya, dan menguping keinginan terpendam mereka—dalam hal ini, saya pikir menguping adalah kegiatan positif. Lewat jendela yang sama pula saya tersadarkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi mereka: membuat satu jendela baru yang semoga berguna bagi siapapun yang membacanya. Hingga terbangkitkanlah sadar mereka, seperti sadar saya dahulu. Sebuah kesadaran yang sangat penting, saya rasa, mengingat masih adanya pandangan negatif dari segelintir orang yang menganggap mereka berbeda (secara fisik, budaya, dan gaya hidup).

    Satu kenyataan pahit yang sempat membuat saya tersentak kaget dan miris, ketika menemukan betapa tidak mudahnya orang Papua mencari rumah kontrakan atau kos di Jogja, yang sesuai keinginan mereka, karena para pemilik kontrak dan kos-kosan (juga sebagian besar tetangga) merasa mereka adalah sejenis tetangga yang suka bikin ribut (baca: suka memasang musik keras-keras, berbicara keras-keras, dan bertengkar keras-keras). Sebuah sikap yang membuat saya semakin bersemangat mengais-ngais kisah tentang tanah leluhur mereka: Papua.

    ***

    Tanah Tabu adalah judul yang saya pilih untuk novel saya karena beranggapan bahwa setiap tanah yang merupakan warisan leluhur pastilah ditabukan oleh turunannya yang berbakti. Ditabukan dalam arti dipergunakan sesuai manfaat dan kebutuhan, serta dijaga kelestariannya.

    Dengan hanya berbekal riset pustaka[3] dari berbagai jenis tulisan, entah dalam bentuk buku dan jurnal di perpustakaan, atau artikel-artikel koran setempat, situs LSM lokal, bahkan blog komunitas dan pribadi selama dua tahun, saya pun mulai menyusun informasi. Dengan teliti, saya mencoba mengenali sumber permasalahan rakyat tanah Papua dan menyusun kembali adegan kehidupan imajinatif yang harus mereka jalani dalam kepala saya berdasarkan semua sumber pustaka itu. Dan untuk membantu visualisasi, saya mencari potongan film dokumenter yang menggambarkan keadaan masyarakat Papua di internet (biasanya milik sebuah LSM lokal atau yayasan sosial asing), dan semakin rajin mengamati berita di televisi. Beruntungnya, latar belakang saya yang lahir dan besar di Makassar, Sulawesi Selatan, dan berasal dari keluarga bermacam suku (salah satu saudara nenek saya menikah dengan orang Papua dan tinggal di sana) membuat saya dengan mudah memelajari dan memahami aksen/logat bahasa Indonesia-Papua, yang sedikit banyak telah dipengaruhi aksen/logat para pendatang dari Sulawesi, khususnya Bugis-Makassar. Hingga akhirnya tibalah waktu untuk menulis.

    Ada begitu banyak penulis yang memengaruhi saya dalam berkarya. Saya telah membaca lebih dari satu kali Anna Karenina-nya Leo Tolstoi (novel ini bagi saya sangat luar biasa dalam pengarapan tokoh-tokohnya sehingga seolah-olah tokoh-tokoh itu punya daging dan nyawa seperti kita), Ibunda-nya Maxim Gorki (walaupun saya tidak begitu suka kalimat-kalimat Gorki yang mengiris ciri khas realisme sosialis, tapi saya memuji semangat dan kejujuran Gorki dalam berkisah), The Famished Road-nya Ben Okri ( ini novel favorit saya. Sudah saya membaca sebanyak enam kali novel ini dan tak pernah bosan), The Name Shake-nya Jhumpa Lahiri, dan My Name is Red-nya Orhan Pamuk (bagi saya Pamuk memang jago mendongeng tentang runtuh-bangunnya peradaban). Dengan penuh ketakjuban, saya juga membaca kisah Minke-nya Pramoedya Ananta Toer (dalam tetralogi Buru), kisah keturunan Jose Arcadio Buendia-nya Gabriel Garcia Marquez (dalam Seratus Tahun Kesunyian), dan keajaiban hidup Jean Valjean-nya Victor Hugo (dalam Les Miserables). Pun, saya tak pernah bosan mengikuti setiap petualangan kata Ernest Miller Hemingway dengan Lelaki Tua dan Laut, dan Salju Kilimanjaro-nya, Seno Gumira Adjidarma dengan tokoh Sukab-nya, dan Naguib Mahfouz dengan Kisah Seribu Satu Malam-nya (walaupun Mahfoudz lahir di Mesir, dalam karya-karyanya saya tak pernah mendapatkan dia berdakwah tentang agamanya). Guna memperkaya kosa kata saya juga membaca puluhan buku kumpulan puisi dan tentu saja kamus bahasa. Namun yang terjadi kemudian, ketika tiba saatnya jemari ini mulai mengetikkan huruf demi huruf, maka yang terjadi adalah saya menulis sesuai keinginan saya. Dengan gaya bahasa yang sesuai dengan irama yang dimainkan kepala saya. Menggunakan kosakata yang pernah saya dengar dan baca entah dimana. Mengeluarkan semua pengetahuan saya tentang pulau yang jauh di ujung timur itu: Papua. Dan hasilnya, setelah melewati enam bulan masa penulisan, novel tersebut rampunglah. Novel ala saya. Tanah Tabu. Bisa dibilang novel ini mengikuti irama realisme magis ala saya. Dan, nantinya kalau ada orang membaca novel ini dan ingin mencari-cari pahlawan di dalamnya, maka orang itu akan kecewa, karena tidak ada pahlawan dalam Tanah Tabu. Atau kalau ada yang ingin menemukan kisah percintaan, romantisme, perselingkuhan, seks dengan segala variasinya, ataupun kutipan-kutipan dari ayat-ayat suci, maka ia pun akan kecewa, karena di dalam Tanah Tabu hanya ada seorang bocah kecil, seekor anjing dan babi!

    Novel Tanah Tabu adalah suara individu saya, sebagai penulis, yang merasa terpanggil untuk memotret sekeping kebenaran yang terjadi tak jauh dari kita, tapi tersamarkan. Terlepas dari kita yang terlalu acuh, atau realitas yang terlalu kejam, saya sangat berharap novel saya tersebut dapat menjadi sebuah jendela yang akan menghubungkan kita dengan kebenaran di luar sana, dengan manusia-manusia yang terpinggirkan, dengan masalah-masalah yang sengaja ingin dilupa.

    Akhir kata, saya ingin mengutip kata Pramoedya Ananta Toer:

    “Pengarang itu korps avant garde, bukan penghibur… tugasnya melawan kejahatan dalam tulisan-tulisannya.”[4]

    Sepenggal kalimat tersebut terasa sangat hebat bagi saya yang masih pemula ini. Karenanya, saya coba menjadikannya pedoman dan pemicu semangat. Mencoba menulis tanpa kenal takut. Mencoba menulis atas nama kebenaran. Mampukah saya? Entahlah. Semoga saja.

    Lereng Merapi, Jogjakarta, jelang 2009

    Anindita Siswanto Thayf

    [1] Menyambut tahun baru dan undangan Kang Sigit

    [2] Terinspirasi sebuah kalimat sederhana dalam novel karya Orhan Pamuk, The New Life: “Suatu hari aku membaca sebuah buku, dan hidupku pun berubah…”

    [3] Ada dua buku tentang Papua yang menarik bagi saya. Pertama buku berjudul Belanda di Irian Jaya, terbitan KITLV dan Garba Budaya. Kedua buku berjudul Lima Belas Tahun di Digul karya Chalid Salim, terbitan Bulan Bintang

    [4] Saya ambil dari cover majalah Mata Baca edisi terakhir

    permanas menjawab: semoga saja semua penulis adalah perantara kebenaran, meski ia tidak pernah luput dari kesalahan. seperti Soe Hok Gie bilang dalam buku catatan hariannya ‘lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan’. jadi kenapa kita harus sembunyi?

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>