Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘anak’

Laut Menyanyi

Ditulis oleh permanas di/pada 12 Maret 2009

“Ini takdir kita, anakku, meskipun nasib ada dikepalan kita dan kau berhak untuk mengubah nasibmu sendiri yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita mesti besyukur, menerima dengan lapang dada dan menjaganya sebaik mungkin apa-apa yang telah Tuhan takdirkan.”

“Maksud Abah, apakah yang kita terima dan kita jaga dalam kehidupan ini? Anang hanya tahu kalau nasib tergantung dengan apa yang kita lakukan sementara angin selalu berbisik kepada gunung dan pohon-pohon, mereka menyembunyikan rahasia alam yang diberikan langit kepada ibu bumi. Mestikah kita harus mencarinya dengan takdir dan keterbatasan kita?”

***

Aku masih ingat ketika kecil dulu, Abah selalu mengajakku pergi melihat pantai dan laut, selalu mengajariku tentang kehidupan. Menurutnya laut dan garis pantai itu, tempat bertemunya air dan daratan, Abah menyimbolkannya sebagai keterbatasan manusia. Camar yang beterbangan mengejar gelombang ombak, ia pernah berkata, camar itu dihubungkan sebagai pengantar antara langit dan bumi, kita mesti berguru kepadanya. Kita akan tahu kelak kenapa camar menjadi pengantar langit dan bumi.

Jelas sekali terdengar gemuruh ombak menampari batu karang, aku kagum batu karang itu masih kokoh meskipun hingga sekarang, semuanya masih seperti dulu. “Laut itu menyanyi, anakku, kalau engkau ingin tahu.” Itu kata Abah, kata-katanya masih kuingat sampai sekarang.

“Lihatlah ke sana,” kata Abah, sambil mengarahkan jarinya dari tangan kekar tapi penuh kelembutan itu ke arah cakrawala tempat langit seakan menginjakkan kakinya di sana. Aku masih terpaku, diam menatap tempat yang dimaksud Abah. Penghormatannya terhadap alam sangat dalam. Ia tersenyum kemudian meneruskan ucapannya. “Di sana kau dapat menemukan rahasia itu meski dengan keterbatasan kita di sini. Ciumlah aroma laut dan genggamlah erat-erat pasir ini, belajarlah layaknya manusia di bumi ini. Meskipun kau berguru kepada guru atau belajar kepada ikan, tapi tetapkan hatimu, anakku, jangan kau melebihi keterbatasanmu. Betapa mimpi tak memiliki batas, tapi ia adalah ilusi yang sangat berbahaya andai kau tidak mau membatasinya. Ini kenyataan kita, anakku, ingatlah siapa diri kita kelak.”

Laut itu, tempat bermuaranya semua air tetapi ia menjaganya agar tetap jernih dan indah. Makhluk-makhluk yang berlindung di dalamnya dan nelayan-nelayan yang mengarungi gelombangnya, lalu burung-burung yang melabuhkan impiannya di pantai, laut itu memang menyanyi dengan gembira, semuanya berdendang. Aku mengarunginya, menyenanginya, bersatu dengannya, dan merangkulinya. Ia menjadi salah satu guru, aku belajar darinya dan mencintainya.

Hari ini kucium lagi aroma laut, menggenggam erat pasir kemudian berdiri di bibir pantai, buihnya menyentuh kakiku. Kembali aku mengenangkan seperti seorang murid yang pulang kepada gurunya setelah ia mengarungi nasibnya. Kutatap lagi cakrawala, namun aku belum pernah menyentuh kakinya meskipun ia berdiri di sana, hanya ombak yang menyalami ketika aku datang kepadanya.

“Bukan cuma ombak yang menyalami kedatangan kita ke laut, tapi lihatlah, seluruh alam menatap gembira kepada kita dan pulau-pulau itu tersenyum walau ia tak pernah bicara betapa senangnya ia kalau kita bersenda gurau dengannya,” kata Abah lagi ketika aku masih diam menatap sejauh mata memandang lautan luas itu.

“Senja sudah datang, Bah, di ujung cakrawala matahari semakin merendam dirinya di sana. Apakah ia terlalu lelah sehingga ingin segera menarik selimut mega dan tertidur. Apakah laut akan berhenti bernyanyi kalau gelap datang, apakah kegembiraan itu akan sirna karena semuanya terlelap dalam mimpinya, lalu siapakah yang menyambut bintang-bintang di sana dan menemani rembulan ketika ia berdiri di langit sana?”

“Laut akan tetap menyanyi, anakku, meskipun tak ada yang mendengarnya. Ia akan tetap bernyanyi untuk menyambut bintang dan rembulan. Malam di sini akan tetap terlihat indah meskipun semuanya tertidur dan kegembiraan di sini tak akan sirna meskipun gelap menyelimuti. Sekarang mari kita pulang dan biarkan laut ini tetap menyanyi.”

Semua sunyi sekarang dan aku pun melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Kelak aku akan kembali untuk mengulangkan dan mendengarkan, membiarkan waktu membius malam dan hari-hari selanjutnya. Tapi, meskipun demikian ada yang tak berubah. Seperti kata Abah, laut itu tetap menyanyi. Hingga sekarang aku masih mendengarnya kembali menyanyi.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Amang Malang

Ditulis oleh permanas di/pada 8 Januari 2009

“Selamat pagi, Mawar. Selamat pagi, Kupu Mimi, Selamat Pagi, Tuan Kumbang,” kata Kancil pagi itu ketika ia sampai pada sebuah taman dengan kumpulan bunga-bunga yang indah. Ada si Pesolek Mawar yang melenggak-lenggok menggoda si Tuan Kumbang dan Kupu Mimi.

“Selamat pagi juga untukmu wahai, Kancil,” kata mereka serempak membalas ucapan si Kancil yang juga rupa-rupanya sedang bergembira. Terlebih si Pesolek Mawar.

“Terima kasih kembali,” jawab Kancil pula. “Wah, apa jadinya ya kalau di hutan ini tidak ada kalian semua. Pasti tidak akan pernah ada pagi secerah dan seindah ini,” lanjut Kancil.

“Ah, kau berkata jujur atau hanya menggoda saja, Kancil,” celoteh Mawar sambil senyum simpul.

“Iya, Kancil. Tidak biasanya kau bersikap seperti ini,” sambung Kupu Mimi lagi, sementara Tuan Kumbang sedang asyik masyuk menikmati sari madu kembang rerumputan yang juga ada di sana. Tentu, kembang-kembang itu menyambut gembira ketika Tuan Kumbang hinggap di antara kelopak-kelopak mereka yang bermandikan embun-embun dan siraman matahari pagi. Sorak sorai mereka pun tentu mengundang kumbang-kumbang lain untuk bergabung dengan si Tuan Kumbang.

Kemudian tiba-tiba Jalu hutan berkokok dengan nyaring untuk membangunkan mereka yang masih terlelap dalam tidurnya, dan suaranya menggema ke seleruh pelosok kampung hutan yang damai itu. Lain lagi dengan si Amang, penghuni pohon besar di samping kumpulan taman kembang-kembang itu. Ia tidak mempedulikan ajakan Jalu hutan untuk bangun dan menikmati pagi yang sangat cerah itu. Ketika yang lain sudah bangun dan ikut menikmati cahaya matahari, Amang malah kembali merebahkan tubuhnya pada dahan yang paling besar dan mulutnya menguap selebar gua di kaki gunung sana.

“Ah, dasar si Amang. Setiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan, apa dia tidak tahu ya, kalau hidup itu tidak hanya diisi dengan berlaku seperti itu,” kata Kancil lagi ketika ia menoleh ke pohon yang menjadi rumah si Amang.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Kancil,” rujuk Mawar. “Ia tidak seperti yang kau sangka, buktinya, setiap hari ia selalu memuji keindahan diriku ini.”

“Itu bagimu, bagiku tidak. Suatu hari ia akan merasakannya,” kata Kancil lagi. Setelah berkata demikian ia lalu pergi kembali masuk ke dalam hutan melewati semak yang masih basah.

Waktu si Kancil sedang asyik berjalan di pinggiran hutan sambil bersiul menikmati harinya yang cerah itu, ia dikejutkan oleh suara senapan. Suaranya sangat memekakan telinga. Kancil lalu bersembunyi dalam rerimbunan rumput. “Duar!!” sekali lagi suara senapan itu meletus membuat burung-burung kicau itu berhenti bernyanyi dan berhamburan menyelamatkan dirinya masing-masing. Maka, seketika saja hutan itu berubah menjadi hening. Sunyi, tidak ada gurauan tupai atau bajing yang biasa melintasi ranting-ranting, tidak ada lagi nyanyi kicau milik si Merdu yang biasa pagi sekali bernyanyi di ujung dedaunan.

“Apa yang terjadi, ya?” bisik Kancil dalam hati. Ia tidak tahu kalau dari balik pohon itu ada seorang pemburu masih bersembunyi  dan ia pun terkejut ketika orang itu sudah ada di belakang dirinya.

“Duar!” sekali lagi senapan itu meletus. Untung Kancil cukup sigap dan gesit. Kali ini nyawanya selamat, tembakan si pemburu itu meleset.

“Celaka, peluru itu hampir menembus dagingku,” pikir Kancil sambil berlari sekencangnya menabrak semua yang ada dihadapannya. “Aku harus memberitahu teman-teman agar mereka luput dari pemburu itu.”

Namun Kancil lupa sesuatu, ia meninggalkan jejak yang sangat jelas sekali. Oleh pemburu itu, jejak bekas Kancil diikutinya sampai kemanapun Kancil berhenti. Kancil kemudian kembali ke taman yang berada di dalam hutan. Pada saat itu Mawar si pesolek masih saja mengurusi wajahnya sambil senyum-senyum pada cermin embun. Sayang Kupu Mimi dan Tuan Kumbang sudah terbang jauh sekali, padahal ia ingin meminta bantuan untuk memberitahu kejadian itu pada teman-teman yang lain agar berhati-hati.

“Kenapa nafasmu tersengal, Kancil? Seperti kau habis dikejar oleh hantu rawa-rawa,” tanya Mawar setelah Kancil dekat dengannya.

“Ada pemburu, hampir saja peluru itu melumat tubuhku,” cerita Kancil.

“Untung kau selamat. Lantas apa yang akan kau perbuat?” tanya mawar lagi.

“Aku mau minta tolong kepada Kupu Mimi dan Tuan Kumbang untuk memberitahu kabar ini kepada teman-teman supaya berhati-hati. Sayang mereka sudah pergi semuanya.”

“Kau bisa memberitahu si Amang, ia kan masih tidur di sana,” kata Mawar sambil tangkainya menunjuk kepada si Amang yang pulas. Ia tidak tahu kalau bahaya tengah mengancamnya.

“Hai, Amang! Ayo bangunlah dan lekas bersembunyi,” teriak Kancil dari bawah pohon.

“Kau jangan ganggu tidurku, Kancil. Aku tahu itu hanya akal bulusmu saja, lebih baik kau ganggu saja yang lain. Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu,” kata Amang tidak peduli ucapan Kancil, malah ia membalikkan tubuhnya dan meneruskan tidurnya.

“Tapi kali ini aku sungguh-sungguh,” kata Kancil lagi mencoba meyakinkan amang. Sayang Amang tetap tidak mendengarkan. Amang kemudian menutup telinganya agar tidak mendengar suara Kancil lagi dari bawah.

“Duaaaarrr!!!” tiba-tiba sebuah letusan senapan kembali terdengar diiringi suara Amang yang kesakitan dan terjatuh dari pohon. Satu peluru menembus dadanya. Amang menatap Kancil sebentar, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi lalu menutup kedua matanya.

“Terlambat,” kata Kancil pelan. Ia sedih. Sekarang si Amang tidak ada lagi. Si pesolek Mawar segera menyuruh Kancil untuk lari dan sembunyi supaya tidak menjadi sasaran kedua bagi para pemburu.

Tak lama setelah itu, seorang pemburu keluar dari balik rerimbunan rumput-rumput dan mendapati si Amang sudah tergeletak di sana. Pemburu itu tersenyum kecil, meletakkan senjatanya dan mengikat si Amang untuk di bawa pulang dan memamerkan hasil buruannya itu kepada teman-temannya. Di matanya mengilat, merayakan kemenangan atas diri Amang. Setelahnya, bayangan pemburu itu hilang ditelan kesunyian.***

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Hujan dan Aku

Ditulis oleh permanas di/pada 4 November 2008

Aku rasa semua orang setuju kalau hujan adalah berkah yang tak ternilai harganya, dan pemberian Tuhan yang paling mahal, jika tidak sekarang, mungkin nanti para manusia yang tinggal di bumi akan mengakuinya bahwa hujan, terlebih, air, adalah sebuah harta yang melebihi harga sebatang emas. Dan begitulah aku menyambut awan kelabu itu berduyun-duyun memenuhi langit tepat di atas kepalaku, menatap ke atas dan alam memberinya nyawa, energi listrik saling berlompatan. Ketika semua orang masuk saat melihat kilat menyambar-nyambar dan menciumi tanah, aku hanya tertegun, tanpa sadar malah tersenyum aku rasa. Dan sejumput lentik air mulai menjamah diriku perlahan-lahan, kemudian berubah menjadi butiran sebesar jagung. Alirannya begitu kuat menderas, meluncur, menabraki wajahku, menghujamku, tapi aku menganggapnya sebagai sebuah belaian, sebuah ungkapan, sebuah pemberian makna kalau ia -hujan- telah aku hargai sebegitu tingginya karena ia utusan langit dan perantara bumi. Tidakkah kau lihat, bumi dan langit seakan menyatu ketika hujan menghampiri tanah di tempat kita berpijak. Maka, segera aku mendongak dan memanjatkan doa serta puji-pujian kepada Tuhanku.

Lalu lantunan musikal doa-doa pun mulai berebutan keluar dari mulutku hingga lidah tak mampu lagi melafalkan setiap untaian kata-kata karena sebegitu hebatnya doa-doa itu mengumpul dalam rongga mulut karena kekerdilan diriku yang tidak bisa menampung terlalu banyak doa yang menyentak seperti halilintar menyambar-nyambar dalam sepersekian detik. Aku luluh, menangis, menyesal, karena ucapan doa yang tidak selesai. Namun, hujan tetap membelaiku, merasuk malah, menungguku, membisik melalui suara gemericik yang samar dan membentuk wajah dari mosaik bermiliar tetesan air yang berlomba menciumi tanah.

“Jangan sedih, doa-doa itu telah tersurat.” Aku mendongak waktu kesamaran berubah menjadi sebuah kejelasan. Seperti orang gila aku bangkit dan berlari-lari, aku kira seperti yang sering aku lakukan semasa kecil ketika bermandi-mandi hujan, basah-basahan dan berlarian tanpa arah mengelilingi lapangan luas, aku menganggapnya sebuah euforia singkat, sebuah kesenangan, sebuah ekstasi berlebihan. Aku kembali seperti anak-anak ketika hujan adalah berarti sebuah kesenangan. Dan, yah, aku kegirangan! Pada saat yang sama, seluruh orang di kampungku mengangap kalau aku sudah gila.

+++ +++

Aku melihat ketelanjanganku sendiri adalah sebagai sebuah anugrah yang tidak terbantahkan ketika semua orang menutup-nutupi kemaluan mereka sendiri dan menganggapnya adalah tabu kalau menghargai ketelanjangan sebagai sebuah kegembiraan yang patut dirayakan. Maka, sekali lagi mereka menganggapku sinting, kali ini mereka menertawakanku, sampai anak cucu mereka pun ikut-ikutan tanpa tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Aku terpojok, mereka mengepung. Aku lari, mereka mengarak! Aku diam, mereka ikut bisu. Menunggu aku membuat kelakuan baru yang bisa saja membikin mereka tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ketelanjanganku adalah sebuah eforia kampung. Setiap pagi mereka menunggu ketelanjanganku, ketimbang mereka menunggu matahari pagi, diriku lebih mereka tunggu.

Akhirnya, aku pun terlibat dengan perasaan girang yang tak kepalangan karena pasti mereka menunggu diriku lewat di depan pintu-pintu rumah. Dengan santai, senyumku mulai merekah, ketelanjanganku mulai aku lupakan dan beralih kepada bibirku yang pecah dan hitam untuk kupersembahkan kepada penunggu setiaku yang setiap pagi pasti akan berbaris pada halaman rumah mereka. Yah, mereka menunggu. Aku pun berlalu.

Wajah-wajah sahaja itu mengiang, mengambang dan lalu terbang melintasi awan-awan kelabu di antara kegembiaraan yang kuciptakan sendiri, sebenarnya hanya aku yang menganggapnya seperti itu, tapi biar saja, setidaknya mereka senang dengan apa yang kulakukan meski kejujuranku sendiri menjadi taruhannya. Dan aku sedih ketika kejujuran dan ketelanjanganku tidak dihargai. Mereka menertawakannya, dan aku menganggapnya itu adalah sebuah kejujuran, dan bagiku, mereka juga telanjang. Mereka menelanjangi diri mereka sendiri .

Dan, sekali lagi hujan menaungi ketelanjanganku sebagai manusia seutuhnya dan sebagai manusia yang di-manusiawi-kan alam. Ketika aku lari dalam badai, hujan merestuiku.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

METROPOLE

Ditulis oleh permanas di/pada 5 Maret 2008

Alamak! Banyak bilang orang, bintang-bintang lahir di sini. Banyak bilang jaman lama sudah dipendam di dalam sini. Tidak bisa kita lihat cantik-cantik pakai kebaya di jalan. Malu katanya. Rupanya sembunyi dipayungi topi gelap-gelap. Apa orang banyak bilang.

“Itu biasa, Bang.”

“kau bilang, kau bicara, tapi kau tinggal kau punya pengertian. Bah! Banyak mabuk orang bilang.”

“Ah, saya tidak peduli. Saya pergi, cari langganan.”

Malam jadi siang, siang jadi malam, siang jadi-jadian, malam pun jadi-jadian. Jadi siang, jadi malam, jadi serba salah. Siang matahari, malam matahari. Siang bintang, malam bintang, sama-sama matahari. Bah! Bulan saja ikut-ikutan berkaca pada matahari. Langit jadi ngebul, mendung, penuh polutan. Siapa peduli, tak tahu.

Kau bilang, negeri ini negeri sulap, apa pun bisa dirubah sesuai kebutuhan. Kau bilang, bahkan muka buruk rupa saja bisa kau bedaki jadi bidadari tampan. Kau tipu semua mata tapi kau tidak bisa jadi mau ditipu oleh tipuan yang dibikin oleh kau punya tangan, kau punya pikiran. Bah!

”Homo homini lupus, kau bisa pegang itu kata, Bang.”

”Jaman mana jaman kau bilang, kau pegang itu kata kau mangsa aku kapan saja kau ingin. Aku ini manusia punya pikiran, homo sapiens, tahu mana baik mana tidak.”

”Setidaknya bukan di jaman batu kita hidup.”

”Di mana pun kau hidup, di mana bumi kau pijak di situ langit kau junjung. Masuk kandang ayam kau berkokok, masuk kandang sapi kau melengguh.”

”Kuno itu, kuno!”

”Kau bilang kau berpendidikan tapi cara kau berbuat tidak jauh berbeda dengan jaman yang kau sebut itu, jaman batu, jaman cara kau berpikir. Bah! Macam mana pula kau punya pendirian.”

”Macam itulah.”

”Tidak sanggup aku bicara dengan kau. Lebih baik aku pulang saja ke rumah menemui anak-anakku dan menemani mereka bercanda sampai mereka tidur, sampai aku menemui isteriku, mencium kening dan kedua pipinya lalu menyetubuhinya sampai pagi.”

”Homo sapiens. Masuk akal, semua punya pikirannya masing-masing.”

pulang lewat jalan biasa jadi biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh. Lampu-lampu masih bisa bersinar biar air tipis, solar tipis, uap tipis, angin tipis, dan, nuklir?! Pikiran sekarang sudah punya pikiran nano, jadi semakin bertambah tipis saja bergantung.

Lunglai kaki, lunglai tangan, lunglai pikiran dan semakin hilang saja di antara kepulan asap rokok melentik-lentik. Masih duduk di pinggir trotoar sambil menatap lampu jalan redup, terangnya payah. Mata jadi kunang-kunang.

Sekarang sepi, hanya beberapa perempuan benar dan beberapa perempuan imitasi. Padahal siang tadi di putaran jalan, seseorang baru saja menikmati hari terakhirnya yang naas, motor yang dikendarainya diseruduk sedan kuning lagi ngebut. Sekarang tinggal sepi. Tragedi yang dikomedikan, tidak lucu tapi dilucu-lucukan. Terasa lucu hidup ini.

Sekarang lewat gang samping rumah. Tengah malam jelang pagi. Coba berjalan tidak mengeluarkan suara berisik, jangan sedikit gemeretak pun terdengar. Di sini telinga semua punya. Tembok punya, pilar-pilar punya, jendela punya, pohon-pohon punya, angin bisa berbisik jadi raja gosip. Apa katanya menanggapi seseorang pulang jelang pagi.

Alamak!

Bilangnya mau ketemu anak-anak, terus bercanda, lalu menemui sang isteri. Sekarang ayam sudah berkokok layaknya jam weker, anak-anak pasti sudah lama di taman mimpi-mimpi, apalagi sang isteri. Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin. Tapi ketuk saja itu pintu kontrakan.

”Tok! Tok! Tok!”

”Jangan kau sangka aku tidur sepanjang malam, Bang. Kau kubuka pintu, kau kunyalakan lampu tengah, kau kurejang lagi air panas, seduh itu kopi hitam buat kau punya mulut. Tiap kali kau pulang, tiap kali kau ketuk itu pintu, tiap kali aku ikut tidak pejamkan mata. Tunggu kau di balik pintu yang kukunci dan tak akan pernah aku buka sebelum kau yang mengetuknya. Tiap itu pula banya banyak telinga ikut menguping. Tiap hembusan angin yang kau hembus, kembali berhembus dan berbisik ke udara yang lain, tiap itu pula bau nafas kau ikut terbawa.”

”Apa yang aku lakukan?”

”Seruput saja kau punya kopi sambil berpikir apa yang kau perbuat.”

”kau tuduh?”

”Tidak.”

”Lantas?”

”Suara itu.”

”Suara?”

”Yang terus berbisik setiap kau ketuk itu pintu.”

”Tak ada.”

”Ada.”

”Ada? Di mana?”

“Kau bisa cari.”

“Cari. Apa yang mesti aku cari?”

“Cobalah barang sedikit.”

“Sedikit tidak, banyak pun tidak.”

”Ayolah, di antaranya saja.”

”Juga tidak.”

”Paksakan saja.”

”Jangan paksa.”

Kubilang kau bingung. Dengar saja, bahkan isteri sendiri. Jadi tambah mabuk orang bilang. Kira pulang tertawa dengan anak-anak, kira pulang bercinta dengan isteri, kira-kira kira-kira. Bah! Macam mana bicara mesti bisik-bisik, seperti kuda bisik mainan anak-anak, siapa bisa tebak dia pasti senyum-senyum, bila tidak, terus saja jaga. Malam jadi bukan malam, siang pun serasa bukan siang. Bagaimana cara kau hidup.

”Abang pasti melucu, betul tidak? Bingung saja seperti itu.”

”Seperti apa maksud kau?”

”Ya, seperti orang bingung. Betul apa yang kukatakan, Bang?”

”Tak nyambung kau punya bicara, pikiran macam mana pula itu?”

”Pikiran yang tidak punya pikiran, pikiran yang mau makan tinggal minta, minum tinggal minta, mau tidur tinggal tidur tak peduli kapan kau pikirkan untuk bangun, mau merokok pun kau tinggal merokok, tinggal kau pinta. Nah, sekarang Abang punya rokok?”

”Bah! Kapan kau merokok?”

”Sekarang.”

”Mimpiii! Kau pasti sedang mimpi, he?”

”Mimpi itu hidup kita, Bang.”

”Bah! Alamak!”

Alamak! Banyak bilang, orang bilang, jangan bilang-bilang. Tidak sanak, tidak saudara, tidak juga isteri, apalagi anak, jangan bilang-bilang. Kau masuk pasar beli saja kau punya keinginan, jangan sebut kau siapa. Kau masuk kantor kerjakan saja kau punya kerjaan, jangan sebut kau siapa. Kau duduk di meja warung kau pesan kau ingin makan, kau bayar jangan kau sebut kau siapa. Kau bilang saja kau bukan siapa-siapa, jangan sebut kau siapa. Kau bilang saja kau siapa tapi bukan siapa-siapa.

”Ini kota besar, Bang, ’BIG CITY’, siapa kenal siapa, siapa butuh siapa, siapa kepentingan dengan siapa, itu penting, masalah besar. Abang sebut bukan siapa-siapa, jadilah Abang bukan siapa-siapa. Gampang-gampang susah. Gampang dibikin gampang, susah juga harus dibikin gampang.”

”Lalu?”

”Jangan hanya lalu. Jangan-jangan ’sikatan’ Abang juga ikut-ikutan berlalu. Anak bini mau dikasih apa coba, hayo?”

”Yang pasti bukan batu.”

”Nah, kan!”

”Bah!”

”Bukan bah, nanti Abang tenggelam.”

”Alamak!”

”Ini bukan ala mak-mak, tapi ala sekarang.”

”… … … …”***permanas/170105

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bukan hanya sekedar bermain-main

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Ada dua orang anak tengah bermain-main di halaman rumah mereka, seorang yang laki-laki sibuk dengan mainan pesawat plastik dan dalam hayalannya seakan pesawat itu terbang tanpa bantuan tangannya. Seorang anak perempuan yang lebih kecil sibuk dengan mainan masakan-masakannya. Berharap ia dapat memasak makanan terlezat yang dapat dibuatnya dan akan diberikan kepada orang tuanya, atau berharap bisa membuat ramuan yang dapat membuat kakaknya berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan seandainya saja ia sedang tidak senang dengan kakaknya pada saat itu. Ada satu hal yang menarik, bahwa seorang anak kecil tidak akan pernah takut untuk berhayal meski hayalan itu bagi kita orang dewasa terlihat sangat tidak mungkin dan memang tidak memungkinkan untuk dapat terwujud. Berbeda alam pikiran anak-anak dengan orang dewasa, seiring meningkatnya usia, pikiran mereka lebih banyak terlibat dengan hal-hal berbau logika, masuk akal atau tidak masuk akal.

Masa kanak-kanak —>Sublimasi [kreativitas yang timbul antara masa kanak-kanak dan dewasa]<— Masa dewasa

Bagi seorang ahli psikologi anak, bahwa bermain-main dengan imajinasi bukan hanya sekedar bermain-main tanpa unsur apa pun. Justru unsur-unsur pendidikan akan ikut menyertai bersama dengan imajinasi yang dikembangkan sendiri oleh mereka. Istilahnya yang sekarang sedang tren ‘belajar sambil bermain’ untuk orang yang jeli dengan prospek bisnis, ini merupakan lahan yang menguntungkan jika dikembangkan dengan cermat dan bertanggung jawab. Jadi timbulah taman-taman bermain, labs-labs school, sanggar-sanggar anak, dimana orientasi bermain anak-anak diubah menjadi sebuah proses pembelajaran. Cukup menguntungkan, bukan?

Jadi kapan kita akan segera bermain bersama siapa saja tanpa memperdulikan usia. Mulailah sekarang juga. Pada saat mengungkapkan hal ini pun saya tidak menyangka bahwa disebelah saya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 5-6 tahun. Dan bukannya saya jengkel karena sikapnya, melainkan ada kesenangan sendiri ketika saya ikut masuk ke dalam imajinasi miliknya. Jadi bukannya menghentikan langkah pekerjaan saya, tapi malah memperkaya pengetahuan saya. Jadi saya pun secara tidak sadar juga ikut bermain-main dengannya. Saya rasa itu tidak ada ruginya, untuk bermain bersama-sama.

Saya jadi teringat ketika saya masih kecil, kadang bermain seorang diri adalah kesenangan yang paling indah, bagi saya. Karena dengan bermain seorang diri, apa yang dapat saya pegang menjadi sebuah mainan yagn sebelumnya tidak ada dalam pikiran saya. Jadilah saya bermain dengan mainan buatan sendiri. Tentu, bagi saya, bermain dengan hasil ciptaan sendiri merupakan kebanggaan yang tidak dapat saya pungkiri karena selain saya melihat anak-anak lainnya memiliki mainan dengan hasil membeli atau hasil buatan orang tuanya, itu bukanlah pekerjaan kreatif. Sedangkan saya hanya memiliki mainan hasil imajinasi yaitu sebuah mobil dari bambu dengan roda-roda yang terbuat dari kaleng susu bekas yang sudah berkarat. Toh bagi saya saat itu bukan betapa bagusnya sebuah mainan. Tetapi lebih pada bagaimana mainan saya itu dapat berjalan di atas roda-roda kaleng yang saya pikirkan itu. Walhasil, meski sedikit dilecehkan dan dihina sedemikian rupa karena, saya tidak tahu dimana letak kesalahan saya sesungguhnya, mainan yang saya miliki itu sungguh berbeda sekali dengan mainan yang dimiliki anak-anak lainnya pada saat itu.

Toh saya tidak pernah memungkiri, meski kadangkala perbedaan itu dapat menyulut sebuah konflik yang sangat tidak mengenakkan diri siapa pun yang bakal menghadapi perbedaan itu, risih atau cuek-cuek saja, dampaknya pasti akan tetap terasa sama. Keterasingan. Jadi saya tidak memedulikan kata-kata yang keluar dari mulut anak seusia mereka yang kadangkala janggal ketika seorang bocah yang mengatakannya. Saya pun tersenyum ketika mobil hasil tangan dan pikiran saya kembali melaju melampaui batas pikiran yang tidak biasa dari anak seusia saya pada saat itu. Jaman sudah modern masih saja ada mainan dari bambu beroda kaleng rombeng. Toh imajinasi tidak memandang apapun dan siapapun ketika ia ingin lahir ke dunia yang baru, dunia yang betul-betul lain dari dunia alam pikiran dan kenyataan. Saya pun hanya bisa kembali tersenyum kalau ternyata imajinasi saya akan baik-baik saja meski harga diri sedikit merasa terluka.

Itulah sebabnya kadangkala saya sendiri pun merasa heran ketika seseorang mencoba berbuat sesuatu dengan cara-cara yang sesungguhnya tidak pernah lazim dari biasanya, dibilang aneh dan tidak tahu aturan. Lalu dimana letak hak asasi seseorang untuk dapat berbuat sesuai dengan tuntutan hatinya, bukan tuntutan masyarakat dimana seseorang berada. Asalkan tidak melanggar tata susila, moralitas (semu yang selalu dipergunjingkan setiap ada sesuatu keanehan), kelucuan-kelucuan dan parodi nyeleneh pun menjadi sesuatu yang, katakan saja, kegilaan spontan. Toh saya tetap manusia biasa, bebas, kadang serampangan, tapi saya terus mencoba untuk selalu tetap menjadi bersifat manusiawi.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »