Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘arti’

TEKNIK MENULIS KARYA FIKSI

Ditulis oleh permanas di/pada 12 Desember 2008

disusun oleh begawan
Anggota dari Desember 2002
14 Juli 2003
begawan adalah salah
satu warga WebGaul
yang sangat menyukai
karya sastra baik puisi
maupun cerpen.

Karena semangatnya
dia juga terpilih menjadi
salah satu moderator
di forum Webgaul

________________________________________
Posted by : cheers BMW
Arti fiksi sendiri adalah suatu karya sastra yang mengungkap realitas kehidupan sehingga mampu mengembangkan daya imajinasi.
Ada 2 macam fiksi :
1. Fiksi imajinatif —> berdasarkan imajinasi
2. Fiksi ilmiah —> berdasarkan analisa ilmiah
*Sifat fiksi
- Segala sesuatu yang diungkapkan tidak dapat dibuktikan kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari, merupakan hasil rekaan (bukan rekayasa lho).
- Semua tokoh, setting dan pokok persoalan adalah realitas imajinatif bukan obyektif.
- Kebenaran yang terjadi di dalam fiksi adalah bukan kebenaran obyektif melainkan kebenaran logis yaitu kebenaran yang ada dalam penalaran.
- Manusia2 yang hidup dalam kenyataan sehari-hari yang terlibat dalam seluruh aspek kehidupan penokohan fiksi mampu mempengaruhi & membentuk sifat dan sikap pembaca, pendengar, pemirsa.
- Kebenaran logis fiksi menyebabkan setiap fiksi selalu multi interpretable, artinya setiap pembaca, pendengar, pemirsa mempunyai tafsiran.
*Unsur Intrinksik Fiksi :
1. Tema : merupakan pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita. Tema diangkat dari konflik kehidupan.
2. Plot : dasar cerita; pengembangan cerita.
3. Alur : rangkaian cerita
Dalam alur hubungan tokoh bisa rapat yaitu memusat pada satu tokoh; atau renggang yaitu tokoh berjalan masing2.
Proses alur bisa maju; mundur; atau maju mundur.
Penyelesaian Alur ada alur klimaks dan ada alur anti klimaks.
4. Setting : tempat terjadinya cerita, terbagi menjadi :
- setting geografis —-> tempat di mana kejadian berlangsung
- setting antropologis —-> kejadian berkaitan dengan situasi masyarakat, kejiwaan pola pikir, adat-istiadat.
5. Penokohan / Pewatakan :
tokoh digambarkan sebagai tokoh utama (protagonis), tokoh yang bertentangan (antagonis), maupun tokoh pembantu – tapi ini bukan PRT
Penghadiran tokoh bisa langsung dengan cara melakukan deskripsi, melukiskan pribadi tokoh; atau tidak langsung dengan cara dialog antar tokoh.
Bidang2 tokoh harus digambarkan :
- Bidang tampak : gesture, mimik, pakaian, milik pribadi, dsb
- Bidang yang tidak tampak : motif berupa dorongan / keinginan, psikis berupa perubahan kejiwaan, perasaan, dan religiusitas.
6. Sudut pandang : yang mendasari tema dan tujuan penulisan
Penghadiran bisa dengan :
- gaya orang pertama —> penulis terlibat sebagai salah satu tokoh
- gaya orang ketiga —> penulis serba tahu apa yang terjadi tetapi tidak terlibat di dalam cerita.
7. Suasana : yang mendasari suasana cerita adalah penokohan karena perbedaan karakter sehingga menimbulkan konflik. Dengan konflik pengarang berhadapan dengan suasana menyedihkan, mengharukan, menantang, menyenangkan, atau memberi inspirasi.
Semua point ini harus dihadirkan secara utuh sehingga fiksi baik itu berupa cerpen, novel, drama, skenario film / sinetron sehingga pembaca, pendengar, pemirsa mempunyai daya imajinatif; mempunyai tafsiran tentang tokoh, suasana, dsb; terhadap karya fiksi tersebut.
Jangan lupa : tema, plot, alur, dan setting juga harus jelas sehingga karya fiksi benar2 utuh sebagai karya seni bukan berupa sekadar curahan hati (seperti diary)
Posted by Arwan
Belakangan sulit untuk dielakkan bahwa perkembangan cerpen Indonesia saat ini masih bergantung pada publikasi di media cetak. Ruang budaya yang tersedia di hari Minggu tak urung menjadikan hari Minggu (meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Berbicara) menjadi ‘hari cerpen’. Hal seperti ini terus terjadi karena majalah-majalah sastra, jurnal serta penerbitan lainnya di luar koran yang beredar tak cukup sebagai publikasi cerpen. Ini wajar karena penerbitan-penerbitan semacam itu sangat bergantung sekali kepada donasi atau yayasan tertentu sehingga kebanyakan tak berumur panjang. Pembaca yang sedikit dan terbatas juga menjadi kendala bagi media cetak lain, pun bagi penulis cerpen itu sendiri sehingga meminimkan jumlah publikasi cerpen Indonesia di luar koran.
Media cetak atau koran menjadi satu-satunya media yang ‘ampuh’ karena selain sebagai publikasi juga dapat dianggap bukti pengakuan para cerpenis kita. Jangkauan pembaca nan luas serta kemampuannya ‘berumur panjang’ dibanding penerbitan sastra lainnya membuat Budiarto Danujaya, salah satu kaum kritikus masa kini menyebutnya ‘sastra koran’ Hal ini terasa kian memupuk dalam perkembangan sastra modern Indonesia karena dari situlah dapat dilihat genre perkembangan cerpen Indonesia modern. Begitu ‘ampuh’nya koran sebagai media publikasi sehingga sebuah koran tiba-tiba menjadi ‘barometer’ hampir setiap cerpenis Indonesia. Konon ‘keampuhannya’ ini akhirnya ‘menggeser’ majalah sastra Horison (satu-satunya majalah sastra Indonesia yang masih hidup) yang kini lebih berkonsentrasi kepada apresiasi sastra untuk kalangan remaja. Sebagai contoh, Kompas sebagai satu-satunya koran yang konsisten mempublikasikan cerpen setiap hari Minggu sudah menjadi rahasia umum telah ‘ditahbiskan’ kebanyakan cerpenis kita sebagai bukti pengakuan kapasitasnya sebagai sastrawan.
Sayang, tak banyak yang menyadari kondisi semacam ini justru tidak sehat. Para cerpenis pun calon sastrawan akhirnya berlomba-lomba menulis cerpen sebanyak lima-delapan halaman sesuai ruang yang tersedia di koran. Akibatnya kemampuan estetis mau tak mau harus rela berkompromi atau kasarnya terbelenggu oleh penulisnya sendiri demi memenuhi syarat pemuatan. Ide-ide cerita dengan diilhami peristiwa-peristiwa aktual di media massa tak dapat dipungkiri lagi bak ‘resep jitu’ demi menembus birokasi sastra koran. Akibat lainnya lagi perkembangan cerpen Indonesia surut dari gaya bertutur panjang yang mau tak mau harus kita akui telah dialami hampir semua cerpenis kita.
Dunia cerpen Indonesia memang berkembang karena banyak didukung ruang budaya yang tersedia di koran. Kendati berkembang demikian pesat sayangnya tak lagi menyisakan ‘kegilaan-kegilaan indah’. Cerpen macam Seribu Kunang-Kunang di Manhattannya Umar Kayam atau Dilarang Mencintai Bunga-Bunganya Kuntowijoyo mungkin menjadi kenangan manis saja bahwa perkembangan cerpen Indonesia pernah melakukan ‘kegilaan-kegilaan indah’ semacam itu. Hal ini masih diperparah dengan pelan-pelan ditinggalkannya intensitas menulis panjang karena koran sebagai satu-satunya media publikasi tak mampu menyediakan ruang yang luas.
Intensitas menulis panjang yang kian surut itu sadar atau tidak tak mampu membangun karakter kuat. Cerpen-cerpen diatas (Umar Kayam dan Kuntowijoyo) memang pernah dimuat di koran, namun ‘kegilaan’ dengan gaya bertutur semacam itupun ternyata juga telah ditinggalkan. Ragam permasalahan yang dengan segala hormat hanya melulu mencuplik peristiwa aktual pada akhirnya membelenggu kreativitas penulisnya sendiri.
MISKIN NOVELIS
Dalam berbagai diskusi sastra maupun pemberitaan di media cetak seringkali kaum kritikus kita mengeluh betapa miskinnya Indonesia dengan karya novel. Novel-novel semacam Saman dan Supernova dianggap sebagai penawar dahaga sastra Indonesia di tengah-tengah miskinnya novel-novel baru kita. Kehadiran dua novel eksperimental tersebut akhirnya dianggap beberapa kritikus sastra kita sebagai gebrakan. Kendati dua novel itu berhasil membuat gebrakan sayangnya belum mampu menggairahkan penulis-penulis muda kita menulis novel.
Mungkin terlalu berlebihan jika kita akhirnya telah sampai pada posisi menunggu lahirnya novelis baru lagi dengan berbagai ‘kegilaan’nya semacam dua novel yang disebutkan tadi. Tapi, apa boleh buat jika memang pada kenyataannya intensitas menulis panjang telah ditinggalkan kebanyakan penulis kita? Bukankah dengan ditinggalkannya intensitas ini berkaitan pula dengan minimnya karya-karya novel baru kita?
Karya-karya besar sastra dunia justru lahir dari intensitasnya menulis panjang. Metamorphosenya Kafka atau Karakter yang Menderitanya Luigi Pirandello (pemenang Nobel sastra tahun 1934) adalah salah satu contoh karya cerpen kelas dunia yang mampu menorehkan tinta emas dalam perkembangan dunia sastra. Indonesia sendiri pasca karya Pramoedya Ananta Toer bukannya tak ada dengan intensitas menulis macam itu. Dunia sastra Indonesia pernah melakukannya lewat Idrus (Dari Ave Maria sampai Jalan lain ke Roma) atau Orang-Orang Bloomingtoonnya Budi Darma. Bahkan salah satu masterpiece Budi Darma, Olenka semula diniatkan penulisnya sebagai cerpen bukan novel.
Menulis cerpen di koran memang tidak salah. Tapi hal inilah yang tanpa disadari adalah salah satu akibat dari ditinggalnya intensitas menulis panjang. Menulis cerpen sendiri pun seperti sudah disinggung di awal tulisan ini akhirnya membelenggu kreativitas penulisnya sendiri karena keterbatasan ruang di koran. Memang tak dapat dipungkiri menulis cerpen yang baik dengan panjang sebanyak lima-delapan halaman saja adalah tantangan kreatif berkarya. Tapi apakah para penulis kita harus terus menerus berkutat dengan tantangan semacam itu? Tentu tidak bukan? Bukankah masih banyak hal-hal lain yang perlu digali?

Posted by surfergirl
apa untuk bikin sebuah novel harus berkutat dengan riset2…
maksud gue, ambil contoh Saman, ini sebuah novel yang sangat diupayakan…
yang nulis barangkali engga begitu tau soal Washington, soal Prabumulih, soal mistik Jawa, soal internet…
novel Akar… konsep2 religi Buddha dan mitos2 Celtic, belum lagi setting-nya yg nyaris satu asia tenggara itu…
jgn salah lho, novel yg bagus emang butuh upaya…
tapi ya itu tadi… entar jangan2 kita lebih terpaku sama kompleksitas “ornamen2″ ketimbang sama “human nature”-nya… karna menurut gw inti sastra/novel ada di nilai2 humanis
ornamen itu sama seperti dekorasi…
make-up gitu deh… dandanan…
gw cuma berpikir bahwa sebagus2nya dandanan, tetep ga bisa menggantikan sosok asli kita… soal budaya politik sains religi setting dll dalam novel itu cuman kostum (menurut gw) dan barangkali bonus wawasan lah, tapi intinya kan kita ngomongin soal manusia, klo novel itu enga menawarkan pemahaman ato pemikiran soal kemanusiaan buat pembacanya, mmm… hehe, gimana yak??
tapi gw bukannya ngomongin soal nilai moral suatu novel lho, itu beda dari yg gw maksud…
posted by homer
menurut gue, latar itu penting dan ada latar yang harus dibedakan dengan cap ornamen atau dandanan.
karena ada latar yang sekedar show off dan ada yang harus melekat pada cerita itu.

jumpha lahiri misalnya diprotes oleh kritikus sastra di india karena dituduh hanya menampilkan eksotisme india kepada barat, padahal kita tau cerpen penafsir kepedihan itu sangat manusiawi sekali, tapi pelekatan budaya dalam cerpen itu dianggap tidak pas oleh kritikus sasra india ( sudah lama lahiri tidak mengunjungi india )
pelekatan budaya seperti ini tidak bisa disebut ornamen.
tentu beda kalo cerita roman percintaan penuh selingkuh seperti supernova yang melekatkan schrodinger, chaos, paradoks dan asimov stuff, ini bisa disebut ornamen.
rasanya aneh membaca para priyayi tanpa mengetahui sejarah setempat. satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apalagi kalo kita berbicara soal realisme.

itu sebabnya Alm umar kayam memulai cerita dengan siapa si tokoh dan darimana dia berasal tanpa lupa menceritakan sejarah daerah itu dulunya.
ini sih menurut pengalaman dari membaca aja.
Sedikit pengalaman menulis untuk media
Posted by Arwan
Ketika membaca sebuah tulisan di media massa, mungkin anda berkata dalam hati, “Ah, tulisan ini biasa-biasa saja. Saya juga bisa membuat yang seperti ini. Malah bisa lebih bagus!”
Lantas anda mungkin mulai membuat tulisan yang – menurut anda – jauh lebih bagus dan berkualitas. Naskah itu anda kirim ke media tertentu. Beberapa hari kemudian, naskah anda dikembalikan oleh redaktur dengan alasan “Belum layak muat!”
Anda mungkin marah dan kecewa. “Apa yang salah dengan naskah saya?”
Susah-susah gampang
Mengirim tulisan ke media massa, ternyata, tidaklah semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Saya sendiri misalnya, harus kecewa terlebih dahulu sebelum naskah pertama saya dimuat di media massa. Puluhan naskah saya ditolak oleh banyak media dengan berbagai alasan, baik yang masuk akal maupun yang tidak.
Ternyata, kualitas bukanlah satu-satunya jaminan suatu tulisan dapat dimuat dengan sukses di sebuah media. Masih banyak faktor lain yang menentukan.
Berikut ini akan saya beberkan beberapa faktor yang perlu anda perhatian (selain faktor kualitas tulisan) yang dapat menolong anda “melenggang kangkung” menjadi seorang penulis handal.
Faktor Penampilan
Penampilan memang sering menipu. Tapi dalam banyak kasus, penampilan sangat membantu kesuksesan seseorang. Dalam mengirim tulisan ke media massa, anda harus “merias” tulisan anda secantik mungkin. Banyak sekali naskah yang masuk ke redaksi suatu media, sehingga penampilan naskah anda yang menarik diharapkan dapat merebut perhatian mereka, dan membuat mereka tertarik untuk membaca tulisan anda.
Ketiklah tulisan anda dengan rapi, tanpa coretan-coretan yang mengganggu. Gunakan kertas HVS ukuran folio atau kuarto ukuran 70 gram. Tulisan diketik dengan rata kiri kanan (kalau tulisan yang anda baca ini, hanya rata kanan). Buatlah margin atas dan bawah masing-masing 3 cm, margin kiri 2,5 cm, margin kanan 4 cm. Oh ya, naskah diketik dengan jarak 2 spasi.
Bantulah Tugas Redaktur
Maksudnya, anda bukan disuruh membantu redaktur suatu media untuk mengetik atau mengedit naskah. Emangnya anda karyawan mereka! He… he…. Tetapi, anda hendaknya “menyajikan” naskah anda sedemikian rupa, sehingga dapat membantu tugas-tugas mereka yang menumpuk.
Pertama, jilidlah naskah anda dengan staples, dan jangan lupa cantumkan nomor halaman di bagian bawah tiap lembar naskah anda. Jika naskah anda tidak distaples, terlebih tidak diberi penomoran halaman, dapatkah anda bayangkan apa yang terjadi jika secara tak sengaja naskah anda berceceran di lantai? Sang redaktur tentu bingung, bagaimana cara mengurutkan lembaran naskah yang telah berantakan tersebut.
Kedua, lampirkan perangko pengembalian. Ini bukan untuk “menyogok” sang redaktur, namun untuk dipakai jika nanti naskah anda dikembalikan. Karena bentuk perangko sangat kecil, dan untuk menghindari jangan sampai kececer, lekatkan ia pada lembaran naskah anda (dengan staples atau lainnya).
Taatilah Peraturan/Kebiasaan Media Tersebut
Biasanya setiap media punya peraturan tersendiri mengenai kriteria naskah yang dapat mereka muat. Misalnya, ada media yang membuat peraturan begini: “Naskah hendaknya diketik di atas kertas folio, 2 spasi, panjang naskah 5 sampai 8 lembar. Sertakan ringkasan tulisan sebanyak lebih kurang 10 kalimat”.
Nah, peraturan seperti ini harus anda taati. Dan perlu dicatat, setiap media punya peraturan yang berbeda-beda mengenai hal ini.
Selain itu, setiap media biasanya memiliki karakter khas yang membedakannya dengan media lain. Majalah Femina misalnya, memiliki pangsa pasar para wanita modern menengah ke atas. Sedangkan saingannya, majalah Kartini, pangsa pasarnya lebih luas, mencakup juga wanita kelas menengah dan ibu rumah tangga biasa. Jadi jika anda mengirim tulisan ke media-media tersebut, tentunya tulisan anda harus menyesuaikan diri dengan karakter khas media mereka.
Karakter khas tersebut juga menyangkut gaya bahasa. Walau sama-sama bacaan remaja, majalah Aneka dan Anita Cemerlang memiliki gaya bahasa yang berbeda. Mereka memang sama-sama menggunakan bahasa gaul khas anak muda. Namun bahasa yang dipakai oleh Aneka jauh lebih prokem, sementara majalah Anita cenderung lebih formal.
Perkenalkan Diri Anda
Jika tulisan anda sudah sering dimuat di suatu media, tentu redakturnya dengan sangat mudah mengenali siapa pengirim naskah yang sedang dibacanya. Namun jika anda baru pertama kali mengirim tulisan ke media tersebut, memperkenalkan diri merupakan salah satu kiat untuk “mencari perhatian” sang redaktur.
Sertakan data pribadi anda dalam naskah yang dikirim. Ceritakan di sana pengalaman menulis anda, dan – kalau ada – prestasi apa saja yang pernah anda raih di bidang ini. (Ingat, cantumkan hanya hal-hal yang berhubungan dengan dunia penulisan. Tidak perlu menceritakan bahwa anda – misalnya – pernah menjadi Juara I Lomba Balap Karung tingkat Kecamatan. Enggak ada hubungannya, Bung!).

Ditulis dalam KAMU MAU TAHU? (dari berbagai sumber) | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Memberi Lebih Maka Kau akan Menerima Lebih

Ditulis oleh permanas di/pada 11 Desember 2008

Sawaludin Permana – Relawan Yappika

Sejak pertama kali saya menggabungkan diri dengan Yappika sebagai relawan, saya mulai mengerti bagaimana melihat sesuatu dengan cara pandang yang –katakanlah- sedikit berbeda. Melihat bagaimana kondisi sosial sebegitu stagnannya, bahkan di lingkungan saya sendiri, dan memerlukan sebuah sentuhan di mana perubahan memang betul-betul dibutuhkan, malah diharuskan saya rasa. Ada banyak orang tidak mengerti mereka harus mulai dari mana melakukan perubahan-perubahan itu, dan yang lebih parah lagi, mereka tidak tahu apa yang harus mereka rubah. Karena mereka sudah terlalu sangat terbiasa dengan ‘zona nyaman’ yang mereka ciptakan, padahal sejatinya kondisi itu sangat jauh dari rasa nyaman. Saya jadi berpikir berpuluh kali lipat, bagaimana seseorang bisa sangat nyaman dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk merasa nyaman.

Ketika seseorang mulai mengungkapkan keluhan-keluhannya, pada saat itulah ada sesuatu yang salah tengah terjadi. Dalam keadaan seperti ini, banyak sekali keluhan-keluhan terlontar dari sekian banyak orang, di mana-mana orang saling berebut menyuarakan keluhan mereka –mudah-mudahan saya tidak termasuk yang banyak itu, amin-. Dan bukannya marah, saya menjadi trenyuh, sakit, bingung, dan mulai berpikir –saya tidak tahu apakah saya trenyuh mendengar keluhan-keluhan mereka atau tersentuh karena mereka tidak tahu bagaimana cara menghilangkan keluhan-keluhan yang mereka ungkapkan- syukurnya kebingungan saya itu tidak berlangsung lama dan berlarut-larut. Saya mulai mempelajari bagaimana sebuah keluhan itu muncul, ekses apa saja yang mungkin terjadi ketika keluhan-keluhan itu mencuat ke permukaan, dan mencari cara bagaimana menguranginya kalau tidak bisa menghilangkannya.

A ha! Ternyata formulanya cuma satu, berubah! Perubahan memungkinkan kondisi stagnan tadi bisa bergerak kalau tidak ingin dikatakan berjalan. Berbagai cara saya terapkan bagaimana agar seseorang bisa berubah, termasuk saya, hahaha… dan selalu saja ada orang yang belum siap menerima perubahan itu sendiri. Saya harus melakukan semua cara agar apa yang saya lakukan untuk perubahan itu dimungkinkan, meski terkadang, cara saya salah dan bisa membuat orang lain tidak nyaman dengan perubahan yang saya buat. Apa mau dikata, perubahan harus tetap terjadi. Jika mereka tidak ingin, biar saya saja yang melakukan perubahan itu sendirian.

Jadi ketika sebuah ungkapan yang sangat menyakitkan bisa membuat seseorang mengerti harga dirinya sendiri maka satu hal kemungkinan terjadi dalam ruang kesadaran seseorang bahwa sesuatu tengah berubah di sekitar dirinya dan akan mengubah dirinya menuju perbaikan-perbaikan dan menuntut dirinya untuk selalu memperbaiki sikap dan kelakuannya agar bisa diterima kembali, dalam artian, sikap itu tentunya memiliki norma-norma tertentu di mana diri seseorang itu berada. Namun, jika sebuah perubahan tidak bisa diterima begitu saja, ada kemungkinan cara yang diterapkan untuk melakukan perubahan dalam lingkungan sosial, kerja, maupun pribadi, tidak berjalan dengan semestinya, atau ada beberapa kemungkinan kesalahan terjadi dalam penerapan tersebut sehingga apa yang dilakukan dalam melakukan perubahan tidak bisa diterima begitu saja.

Penolakan (baik secara halus maupun terang-terangan) mengindikasikan ada sesuatu yang belum siap berubah atau perubahan itu membuat kepentingan pribadi seseorang merasa terusik, zona kenyamanan yang selama ini terpelihara tiba-tiba terusik dan mengakibatkan posisi ‘kenyamanan’ seseorang benar-benar tidak dapat ditolelir lagi karena kepentingan pribadi telah bermain. Adakalanya ketersendatan sebuah kemajuan dikarenakan zona kenyamanan seseorang terus menerus dipelihara tanpa ada suatu tindakan bahwa ‘zona kenyamanan’ itu memang bisa dipertanggungjawabkan dalam waktu sementara, tapi untuk jangka panjang, hal itu bisa berakibat buruk bagi keadaan dan lingkungan yang membiarkan sebuah zona nyaman tersebut tumbuh.

*** ***

Tahu falsafah Hindu yang berbunyi ’Tat Twam Asi’? Yang artinya kurang lebih, aku adalah engkau dan engkau adalah aku (aku ya engkau –engkau ya aku-). Saya mengadopsinya dalam kehidupan yang saya jalani. Jadi, kalau saya melihat orang lain sedih, susah, maka alarm empati saya langsung menyala, ikut sedih, ikut susah dengan apa yang dialami oleh mereka. Kalau saya tidak bisa membantu dengan uang, semoga saja saya dapat membantunya dengan kemampuan tenaga yang saya punya, jika saya tidak bisa melakukan keduanya, semoga doa saya bisa mengurangi beban mereka. Kalau mereka senang, tertawa lepas, maka hati saya juga ikut tertawa bersama mereka, semoga kebahagiaan mereka tetap bersama dalam kehidupan mereka sampai kapan pun.

Karena itu, salah satu prinsip hidup yang saya terapkan belakangan ini, kalau kau memberi lebih maka kau pun akan menerima lebih. Ukurannya, hahahaha…. saya tidak pernah mengukur apa yang sudah saya perbuat untuk melakukan suatu perubahan bagi diri sendiri, terlebih bagi banyak orang lain. Selama saya mampu memberi lebih dari apa yang saya miliki, saya tidak perlu memikirkan apa yang akan saya terima. Buktinya, saya tetap hidup sampai sekarang dan terus bereksperimen untuk membuat perubahan-perubahan itu menjadi mungkin. Ya, memang lingkupnya belum besar, setidaknya saya kan mencoba dari diri sendiri dulu, hahahahaha….. Bagaimana dengan Anda?

Saya selalu terinspirasi dengan sebuah ungkapan yang mengatakan jangan takut untuk berimajinasi, bermimpilah, karena semua hal besar berawal dari mimpi (apa mungkin begitu?) Jadi, bermimpilah, dan lakukan apa yang perlu dilakukan. Saya tidak takut bermimpi, dan, saya tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah saya pilih untuk saya lakukan. Setidaknya saya tidak berhenti pada satu titik kehidupan di mana perubahan tidak perlu dilakukan. Salam.

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Rumah ini kubangun untukmu

Ditulis oleh permanas di/pada 22 Oktober 2008

Baik, baik, aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan menantang matahari untukmu, aku akan melawan kebisingan, membungkusnya dan akan kuhadiahkan untukmu kelak, hadiah yang kubungkus dari dunia yang terbengkalai. Tidak, bukan untuk menghinamu, tapi untuk memberitahu, masih ada yang harus diperhatikan selain nyamuk-nyamuk pada telingamu ketika lelap.

Sekarang aku jauh dari tempatmu berada, aku temukan tempat baru melebihi bukit-bukit di belakang pekarangan rumahmu. Tempat sederhana tapi kekayaannya bukan hanya sekedar bukit yang kau simpan dalam ingatan dan pada punggung rumahmu. Tempatku tidak indah, keindahannya akan terpancar kalau kau menghargai betapa tempat ini akan memberi kehangatan yang tidak dibuat-buat, bukan seperti perapian di ruang tengah dimana biasa kau bermanja-manja dengan kaki terselubung kaus kaki sambil membaca berita tentang orang-orang saling mengejar dan memukul. Miris aku melihatnya.

Sebentar lagi akan ada rumah berdiri di sini, aku bicara dengan pohon-pohon dan mata angin kemana sebaiknya rumahku dihadapkan, ke arah matahari terbitkah, atau ke arah matahari tenggelamkah, atau menyimpang dari keduanya. Aku ingin rumahku tidak memiliki atap, karena aku ingin tidur sambil memandang langit ketika malam. Membincangkan bintang yang saling memamerkan lentik cahaya mereka masing-masing dan bulan selalu saja menjadi penengah di antara mereka. Yah, aku bangun rumah itu dengan membuat bata dari rasa perih ketika harus meninggalkan rumahmu, dan jejak dibelakangnya aku kumpulkan untuk menjadi tiang penyangga. Rindu akan menjadi pintu-pintu di setiap kamar, karena begitu melintasinya, aku seakan berada di rumah kita. Maksudku, rumahmu sekarang.

Aku pergi karena tidak ingin ada kemarahan-kemarahan menjelma di antara kita dan di antara orang-orang yang kita kasihi. Aku tidak kalah, hanya mengalah. Bukan menghindari konflik, tapi bukankah melenyapkan pertempuran memakan sedikit korban daripada mengibarkan bendera perang dan bertempur untuk mempertahankan kebebasan masing-masing. Itu akan membuat banyak orang dan hati terluka. Tapi kita bukan korban. Aku bukan korban.

Maka, seperti para pelukis, aku akan menuangkan kata-kata sebagai cat di atas palet, dan kertas polos itu serupa kanvas, aku akan terbiasa melukis wajah dan senyummu melalui kata-kata. Di rumah yang kubangun, ada ruang khusus di mana semua kata-kata menjadi lukisan dirimu, bayangan yang akan terus ada, bila aku tidak ada, semoga ada orang lain menjaganya. Ruangan itu bercat warna merah dan berlantai kayu. Aku membuatnya sehangat mungkin. Meski hanya lukisan, aku tidak ingin citra itu kedinginan ketika aku tinggalkan sendiri.

Sebenarnya aku tidak ingin apa-apa lagi, tapi seandainya diijinkan, aku ingin kau sekali lagi menjadi tamuku dan makan malam di beranda belakang rumah ini, tempatku. Maka kau akan lihat kelopak-kelopak bunga yang kurawat akan menyambutmu dengan keindahan mereka. Setidaknya mereka  menyambutmu, meski kau sudah berusia enam puluh tahun ketika datang ke rumah ini dan menjadi tamuku. Akan kupastikan mereka tetap menyambutmu. Tapi aku tidak berharap banyak.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bagaimana rasanya jika aku mengajak seorang perempuan berdansa?

Ditulis oleh permanas di/pada 21 Oktober 2008

Aku ingin tahu bagaimana rasanya mengajak seorang perempuan yang tengah duduk seorang diri dan mengenakan gaun malam miliknya yang paling indah untuk dikenakan malam itu, malam di mana musim semi bernaung di bawahnya dengan angin sedikit mendesir, untuk berdansa Waltz. Atau hanya sekedar tarian biasa saja dengan iringan musik klasik dan nada yang sendu. Sebuah perasaan Platonis! Yaa, mungkin aku terinspirasi dengan sebuah film yang baru saja aku ingat, sebenarnya sudah lama sekali, kau tahu Al Pacino, bukan? The Scent of Women, aku lupa, kira-kira begitulah judulnya. Ia memerankan tokoh buta yang frustasi dan ingin menghabisi segera hidupnya, aku tidak tahu, apakah ia sudah tidak punya alasan lagi untuk meneruskan hidupnya atau tidak, aku lupa jalan ceritanya. Sayang sekali. Tapi yang tidak pernah aku lupa ketika ia mengajak dansa seorang perempuan di sebuah restoran apik. Kau tahu, aku membayangkan bagaimana seandainya aku menjadi Al Pacino di sana dan mengajak perempuan itu berdansa? Hah! Tokoh yang buta tapi bisa segera mengetahui parfum apa yang digunakan perempuan itu hanya dengan melalui udara, dan dengan tepat mendeskripsikan sifatnya hanya dengan melalui merk parfum yang digunakan perempuan itu. Bravo! Bravo!

Dan gaun itu pun melayang-layang diayun oleh dekapan yang kuat milik Al Pacino, aku lupa apa perempuan itu tahu kalau tokoh kita itu buta atau tidak ya. Ia hanya diberitahu oleh pemuda yang mengantarnya berjalan-jalan seberapa luas ruang dansa yang akan digunakannya nanti ketika berdansa dengan perempuan yang menebarkan aroma khas dan unik, buktinya cukup kuat untuk menarik Al Pacino mengajaknya berdansa. Sekejap saja senyum rekah mengembang dari bibir perempuan dalam dekapan Al Pacino, begitu juga sebaliknya, ia lupa kalau ia buta. Aku jadi bertanya kembali dengan diriku, bagaimana rasanya kalau aku yang mengajaknya berdansa? Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh selain tersandung atau menginjak kaki perempuan yang aku ajak dansa itu, hahaha, sementara pikiran itu kusingkirkan dan membiarkan anganku mengingat kembali keindahan ketika Al Pacino mengajak perempuan di restoran itu berdansa. Atau aku akan menggubah puisi untuk mengingat betapa indah ketika laki-laki dan perempuan melakukan sebuah tarian, atau sebuah ritual sakral, yang suci, yang tak terbantahkan, yang hakiki. Dan, betapa baiknya Tuhan menciptakan perempuan dari bagian diri seorang laki-laki, karena ia dibuat Tuhan untuk melengkapi kehidupan seorang laki-laki. Ah, betapa beruntungnya mereka.

Yah, mungkin suatu hari nanti, kelak. Saat aku tengah berjalan-jalan dan menemukan seorang perempuan yang mengenakan gaun terindahnya sedang duduk menunggu, mudah-mudahan sih ia tidak sedang menunggu kekasihnya, hahaha, maka aku ingin mendekat kepadanya dan segera aroma parfum menyeruak dari tubuhnya dan tanpa ragu aku semakin mendekat kepadanya dan lalu…, ia mendongak untuk melihat lebih jelas siapa yang menghampirinya, atau mengganggu ketenangannya, atau ia malah senang karena seseorang mungkin akan menemaninya malam ini, atau ia telah menemukan ’belahan jiwanya’ (hahaha… PD amat!) –yah, aku kan sedang bercerita, sah-sah saja dong- dan aku bilang dengan suara yang paling lembut yang pernah aku miliki dan… dan… dan…

”Would you like to dance with me? In the shining of the moonlight, would you?” kubilang. Aku pakai bahasa inggris bukan untuk menghianati bahasa ibuku, tapi karena hayalanku sekarang tengah berada di Venice, hehehe…. tapi, ia tetap menatapku, tidak tersenyum, atau merasa terganggu, atau tersinggung barangkali. Tapi ia tetap dingin sedingin kabut yang menghembus di antara kami waktu itu.

”Would you?” aku bilang sekali lagi. Hah, susah memang kalau kita menanggapi sesuatu yang tidak sesuai harapan. Ia malah bangun, sedikit meminum anggur merah terbaik yang pernah ada di dunia, sedikit lagi mereguk dengan perlahan, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, lalu tepat di atas kepalaku, anggur merah itu terjun bebas dari bibir gelas dan menerjang ubun-ubun kepalaku. Wah! kasetnya kusut neh, aku pikir dalam hati, atau penulis skenarionya lagi mabuk, atau sutradaranya benar-benar sudah sinting barangkali! Dan tiba-tiba saja!

”Permanas, banguuuuuun! Sudah siang! Cepat isi tempayan! Mak mau masak!” yah, suara cempreng milik ibuku lagi dan segera menandakan kalau liburanku di Venice telah berakhir, hehehe, back to nature, I guess. Hah, gak boleh orang ngimpi seneng aja nih nyak-nyak, bukannya ngasih kesempatan yang muda-muda merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja yang sedang puber, hehehe….

”Klontraaangg….grasakk…gabrukkk…!” aku rasa nyak marah-marah lagi nih, tempayannya belum juga penuh. Ya, sudahlah, sampai nanti lagi. Besok, itu tempayan akan aku ganti dengan kolam sepanjang sepuluh meter di dapur, biar puas minum air, hehehe… adios!

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Mengintip Indonesia: ‘Seandainya Tak Ada Korupsi Dan Koruptor’

Ditulis oleh permanas di/pada 17 September 2008

Oleh: Sawaludin Permana

Ø Hidangan pembuka

Enam puluh tahun lebih Republik Indonesia menempuh perjalanan panjang, berbagai kemajuan dan keberhasilan telah diraih seiring dengan munculnya gedung-gedung pencakar langit, lampu-lampu jalan yang menghiasi udara malam kota-kota besar serta segala macam pernak-pernik dan corak ragam kehidupannya. Sayangnya, arti pembangunan itu belum bisa dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Keindahan yang tak terbayangkan itu ternyata juga menyimpan banyak pertanyaan bagi siapa saja yang memandangnya dan menyembunyikan makhluk yang menjadi momok banyak orang. Makhluk itu bernama ‘KORUPSI’.

Karena makhluk itu pulalah, pemerintah dan rakyat saling tuding-menuding, curiga-mencurigai, saling lantang membela hak mereka masing-masing. Ketika demokrasi yang kita bangga-banggakan ini tidak lagi bisa berjalan, kemiskinan merajalela, lembaga peradilan tidak lagi menjadi sebuah tempat mencari keadilan melainkan tempat transaksi jual-beli. Maka, kita semua telah lupa apa yang telah diperjuangkan para pahlawan kita ketika memperebutkan kemerdekaan ini. Kita tidak pernah tahu apakah para pahlawan itu –seandainya masih hidup- akan bangga atau tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat republik Indonesia sekarang ini semenjak Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan mengutuk segala macam bentuk penjajahan. Meski tertatih-tatih, bangsa ini masih bertahan dan tetap mampu menunjukkan dirinya di tengah era globalisasi yang tidak bisa dielakkan lagi. Mau tidak mau kita sudah menjadi bagian daripadanya.

Ø Budaya Indonesia dan Budaya Korupsi di Indonesia

Di dalam dirinya, bangsa Indonesia sangat menghargai kebhinekaannya, karena kebhinekaan merupakan kekuatan yang sangat besar untuk membangun bangsa ini ke depan. Akan tetapi, kebhinekaan tanpa kesetaran dan keadilan berpotensi menghancurkan.[i] Menurut Siswono Yudhohusodo, keberagaman yang tidak berkesetaraan, lebih-lebih yang diskriminatif, akan menghancurkan masyarakat yang beragam. Kita hanya bisa maju karena semangat kesetaraan, keadilan dan persaudaraan.[ii]

Sayangnya, hal itulah yang tidak lagi disadari sekarang ini, di mana hukum rimba yang berbunyi ‘only the strong can survive’ menjadi sesuatu yang harus dipertahankan, kalau tidak ingin terinjak-injak oleh kemajuan jaman. Jurang antara si miskin dan si kaya menjadi ruang diskriminasi yang sangat mencoloj, hilangnya rasa persaudaraan karena pergeseran nilai-nilai kehidupan berbhineka menjadi nilai-nilai individual, dan rasa persaudaraan menjadi barang langka yang hanya menjadi komoditi kampanye belaka. Kita tidak perlu mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain ketika Indonesia yang di mata dunia memiliki keberagaman budaya yang luhur kini lunturyang disebabkan banyak faktor sudah menggejala di mana-mana dan menjadi penyakit kronis. Namun, faktor paling mencolok yang mencuat ke permukaan adalah masalah kemiskinan dalam setiap lini kehidupan masyarakat, ditambah dengan masalah pendidikan yang serba menyangkut urusan biaya. Dan, memang selalu masalah biaya. Akibatnya pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil menciptakan manusia-manusia bermoral dan berakhlak baik untuk ditempatkan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang pada kenyataannya pun miskin dalam hal moral dan akhlak.

Apakah itu karena kita telah gagal dalam memaknai pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Menurut Siswono Yudhohusodo, pancasila sebagai ideologi nasional harus dipahami dan dimaknai dari sejarahnya. Bukan dihafalkan seperti jaman orde baru atau dilakukan indoktrinasi seperti jaman orde lama. Pancasila merupakan sublimasi dari pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang menyatukan masyarakat dengan berbagai suku, agama, ras, bahasa, pulau, menjadi bangsa yang satu. Akan tetapi, semangat bhineka tunggal ika ini harus dimaknai dalam kesetaraan, keadilan, dan harmoni. Tanpa itu sulit tercipta kemajuan bersama.[iii] Jadi, pancasila saat ini perlu dihidupkan kembali dalam masyarakat yang sudah mulai melupakan dasar negaranya. Untuk memperbesar gaung pancasila, perlu adanya campur tangan pemerintah.[iv] Asal tidak mengulang kembali seperti yang dilakukan era orla dan orba, yang berarti nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pancasila harus diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan berwarganegara. Jadi tidak sekedar menghafal. Dan memang memerlukan kerja keras untuk mewujudkannya.

Lalu apa hubungannya antara budaya Indonesia dengan budaya korupsi di Indonesia? Menurut catatan The World Bank, Indonesia memiliki reputasi internasional buruk tentang korupsi telah diketahui luas. Bahwa dunia melihat Indonesia sebagai negara korup bukan merupakan berita bagi orang Indonesia, karena mereka tidak menutup mata tentang korupsi di negerinya,[v] dan lembaga-lembaga pemerintahan menjadi indikator berlangsungnya korupsi.[vi]

Ironis sekali kalau negeri Indonesia sebagai zambrud khatulistiwa memiliki penyakit korupsi yang menggerogoti dari dalam hingga hutan dan kandungan tanahnya menjadi gersang demi kepentingan dan kekayaan segelintir orang, sementara kemiskinan dan keterpurukan ekonomi menjadi tumbalnya. Korupsi telah menghadirkan terjadinya busung lapar, polio, infrasturktur yang buruk, dan membiarkan rakyat tidak berdaya karena menghadapi kenyataan kalau mereka juga tidak luput sebagai sapi perahan. Sampai Denny Indrayana berikrar, akhirnya, hanya dengan proklamasi merdeka dari korupsi yang menegaskan pemberantasan korupsi secara luar biasa dan secepat-cepatnya, Indonesia ke depan masih mungkin bisa diharapkan tetap ada. Tanpa itu, Indonesia hanya menunggu waktu untuk menjadi tiada. [vii] Karena itu, pemberantasan, penyelundupan, korupsi, atau subversi adalah tindakan vital bagi pemulihan ketertiban hukum dan karena itu harus dilakukan dengan tekun tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu.[viii] Meskipun kita tahu itu adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan, tapi kalau didukung oleh seluruh lapisan masyarakat yang mengerti dan paham kalau kegiatan korupsi adalah musuh di depan mata yang dapat menghancurkan stabilitas bangsa dan negara ini harus benar-benar dimusnahkan. Dengan demikian, tidak ada yang mustahil kalau korupsi bisa hilang dari negeri Indonesia dan pelakunya dihukum seberat-beratnya.

Tapi apakah benar, sekarang jamannya jaman edan, seperti yang pernah diungkapkan pujangga besar bernama Ronggo Warsito, kalau tidak ikut edan tidak akan kebagian. Sampai-sampai orang bijak pun mengeluh, untuk menjadi orang jujur di jaman sekarang sungguh sangat sulit. Benarkah kalau kita jujur justru celaka? Seharusnya kita tahu bahwa kejujuran itu dapat mewujudkan keadilan. Aristoteles pun menyebutkan, kalau keadilan akan terlaksana bila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama pula (justice is done when equals are treated equals). Namun, kalau yang terjadi justru sebaliknya, maka kita sudah pasti tahu kalau ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Terlepas sadar atau tidak.

Oleh karena itu, dalam demokrasi modern, sektor peradilan memainkan peran penting dalam menjaga akuntabilitas lembaga-lembaga eksekutif dan legislatif. Pemerintah sama-sama menentukan kerangka acuan legal maupun konstitusional sebuah negara, yang merefleksikan warga negaranya.[ix] Dalam keadaan seperti sekarang ini kita memerlukan kearifan yang berlaku secara luas, hukum-hukum dan perundang-undangan dan norma-norma yang hendaknya dapat melindungi seluruh individu-individu dalam negara dengan tidak meilih-milih. Semua seharusnya sama di depan hukum.

Negara hendaklah menjadi pendukung cita-cita susila, yang lebih-lebih dari untuk manusia seorang, berlaku untuk umat manusia seluruhnya, dan hal ini mendapat perwujudannya dalam negara sebagai suatu bentuk pergaulan hidup.[x] Yang terjadi sekarang malah justru politik kini menjadi sumber daya yang dipertaruhkan untuk kedudukan sosial dan kedudukan material. Kedudukan pengurus partai sangat diimpikan karena mendapat keuntungan material.[xi] Mereka menjadi lupa dengan tujuan awal bahwa apa yang seharusnya mereka lakukan adalah untuk memajukan kesejahteraan rakyat banyak berubah drastis menjadi tujuan mensejahterakan diri sendiri. Dan ini menjadi indikasi awal terjadinya korupsi di Indonesia di mana orientasi politik bukan berdasarkan komitmen ideologis, melainkan keuntungan semata.

Budaya Indonesia adalah budaya saling harga-menghargai, budaya Indonesia di mata dunia adalah budaya penuh keramah-tamahan. Tapi, yang mereka kenal sekarang adalah Indonesia dengan budaya korup sampai lapisan paling bawah sekalipun, korupsi kerap kali terjadi. Sementara hukum tidak dapat berbuat banyak karena ketakberdayaannya sendiri di tengah arus konspirasi yang sangat kental dan sangat sulit untuk ditembus oleh perangkat-perangkat hukum yang ada, sehingga menimbulkan keadaan dengan apa yang disebut sebagai ‘anomie’ yaitu suatu keadaan di mana tidak ada pegangan pasti terhadap apa yang baik dan apa yang buruk sehingga anggota-anggota masyarakat tidak mampu untuk mengukur tindakan-tindakannya, oleh karena batasan-batasannya tidak ada.[xii] Kalau demikian yang terjadi, seperti yang dikatakan Denny Indrayana, kita harus siap-siap kehilangan Indonesia yang kita cintai ini.

Ø Malu, Budaya yang Terlupakan

Bung Karno, Proklamator Indonesia, suatu kali berkata, “Kalau mereka memimpin, maka ketahuilah, bahwa yang mereka pimpin itu bukan satu rombongan kambing atau satu rombongan bebek atau satu rombongan tuyul, tapi satu rakyat yang kesadaran sosialnya dan kesadaran politiknya telah tinggi.”[xiii] Karena itu tidak jarang, setiap langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan pemerintah tidak pernah lepas daripada pandangan rakyat yang dipimpinnya. Karena demokrasi politik berasal dari kesadaran yang sangat dalam di hati sanubari rakyat akan demokrasi, yang erat hubungannya dengan kesadaran akan harga diri dan rasa kemerdekaan.[xiv]

Tapi ketika kekuasaan telah disalah artikan dan berubah menjadi kendaraan pribadi untuk meraup kekayaan negara sebanyak-banyaknya, pada saat bersamaan pula berarti pengkhianatan terhadap kesadaran hati nurani rakyatnya. Yang jelas, kekuasaan telah diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut.

Memang, persoalan kekuasaan, atau lebih luas lagi dalam persoalan politik suatu bangsa, atau lebih mendalam lagi persoalan manusia dan kebersamaan manusia, tidaklah ‘flat’, tidak datar, tidak hitam maupun putih, bukan searus atau segaris atas sepetak ruang; melainkan multi dimensional, bulat atau prismatik. Namun, kita juga melupakan satu hal, yaitu apa yang disebut sebagai rasa malu. Inilah yang sudah lama dilupakan kita, malu ketika kekuasaan itu diselewengkan, malu ketika amanah hanya dijadikan sandaran kursi yang didudukinya, padahal kursi itulah segala harapan-harapan rakyat hadir dihadapan orang yang mendudukinya, malu ketika uang negara dijadikan ajang foya-foya sementara di balik pagar besi istana, yang juga sejatinya adalah milik rakyat, anak-anak putus sekolah duduk di sampingnya dengan pandangan mengawang tanpa harapan yang tidak pernah pasti. Tapi yang kita rasakan adalah budaya yang ‘malu-maluin!’.

Mentalitas korupsi telah sedemikian mengakarnya dalam setiap segi dan pelosok kehidupan kita, baik dalam kepemerintahan maupun dalam masyarakat secara luas. Dalam kepemerintahan, segi birokrasi seharusnya dapat dilihat sebagai sistem rasional yang berprinsip efektivitas, efisiensi, ternyata dalam prakteknya justru irasional, bertele-tele dan korup. Dan, sebagai dampaknya, hal itu pun berlanjut dalam kehidupan bermasyarakat, siasat perjuangan hidup modern yang antara lain ‘tujuan menghalalkan perbuatan’ yang haram menurut ukuran moral agama, dijadikan halal oleh karena kepentingan tujuan. Dan celakanya lagi, ini telah membudaya di masyarakat luas. Moral inilah yang sekarang tidak lagi dimiliki sebagian penguasa dan masyarakat kita di mana budaya malu telah berubah menjadi budaya ‘malu-maluin’. Karena praktek korupsi yang merajalela saat ini perlahan-lahan mulai menghancurkan eksistensi bangsa. Karena itu, Judilheri Justam meyakini, setiap kali terjadi penyimpangan dan pengingkaran terhadap cita-cita dan tujuan proklamasi, maka akan terjadi upaya dan ikhtiar untuk dikoreksi.[xv]

Ø Seandainya Tak Ada Korupsi Dan Koruptor

Korupsi, yang dapat dikatakan. Sebagai sebuah bentuk pengingkaran terhadap makna pembangunan yang adil dan merata untuk seluruh rakyat Indonesia, telah sedemikian rupa hebatnya membuat perekonomian negara menjadi semrawut. Rakyat menengah ke bawah menjadi tambah ketakberdayaannya di tengah persaingan hidup yang semakin ketat itu dan kelemahan-kelemahannya menjadi korban dari kekuatan penjahat-penjahat kerah putih.

Padahal, menurut perdana mentri Kim Il Sung di tahun 1947, pernah berkata, untuk membangun negara yang demokratis, maka ekonomi yang merdeka harus dibangun. Tanpa ekonomi yang merdeka, tidak mungkin kita mencapai kemerdekaan, tidak mungkin kita mendirikan negara, tidak mungkin kita tetap hidup.[xvi] Sementara kita masih mengharapkan bantuan-bantuan dari negara donor untuk membangun perekonomian di Indonesia, yang dalam kenyataannya pun tak luput dari praktek KKN di mana nota benenya adalah hutang negara yang dibebankan kepada rakyat untuk pengembaliannya. Dan memang, kita belum merdeka seperti apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, gencarnya upaya pemberantasan korupsi pada pemerintahan Bambang Susilo Yudhoyono – Jusuf Kalla seakan memberikan angin segar kepada masyarakat yang mencita-citakan pemerintahan yang bebas dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang melanda Indonesia. Menurut Sri Sulistiyani, pemberantasan korupsi yang disepakati sebagai gerakan nasional ini seharusnya juga diikuti dengan langkah-langkah yang riil, penyelidikan dan persidangan dari berbagai kasus yang telah dilaporkan. Kalau seperti ini kan hanya menjadi wacana atau slogan.[xvii] Ketua BUMN Watch, Naldy Nazar Haroen juga menyatakan hal senada, menurutnya, masih banyak kekurangan dan kejangalan terutama hasil akhir pemberantasan korupsi itu yang membuat publik patah arang. Contohnya putusan pengadilan yang tak adil dan tak berpihak kepada misi pemberantasan korupsi itu sendiri.[xviii]

Karena itu, ketua pimpinan pusat Muhammadiyah, Syafi’I Ma’arif mengatakan, melawan korupsi harus dilakukan secara total karena korupsi sudah menggurita di mana-mana. Untuk itu, bangsa Indonesia harus menggunakan semua kekuatan bangsa untuk melawannya. “Tanpa komitmen memberantas korupsi dengan semua kekuatan, negeri ini akan tertatih-tatih menghadapi masa depan yang tidak jelas.”[xix]

Kita semua tahu, memandang Indonesia sekarang seperti memandang sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja, gesekan dan getaran sekecil apapun dapat memicu terjadinya ledakan yang tidak dapat kita bayangkan. Ketika ekses dari korupsi menyebabkan masalah-masalah ketidak setaraan dan ketida kadilan yang berubah dan muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi, sementara di tengah penderitaan bangsa orang rebutan kekuasaan dan tidak malu, alasannya pun jelas: duit adalah raja. Dari sanalah makhluk bernama korupsi itu diwariskan dari generasi ke generasi dengan tanpa penyelesaian. Kita belum bisa menciptakan Indonesia dengan pemerintahan dan perangkat-perangkatnya yang bersih dan jujur, kita juga belum mampu menciptakan orang kaya-orang kaya tanpa sentimen di mana hasil usaha dan kekayaannya dilakukan dengan jujur dan tidak curang. Moralitas menjadi begitu sunyinya, mendekam sendirian, karena ia tidak lagi menjadi ukuran untuk hidup bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Apakah ini indikasi bahwa kita negara yang telah gagal. Sebagaimana dijelaskan Dr. Robert I Rotberg, indikator negara-negara yang gagal adalah cendrung menghadapi konflik yang berkelanjutan, kekerasan komunal maupun kekerasan negara sangat tinggi, permusuhan karena etnik, agama, ataupun bahasa, teror, jalan-jalan atau infrastruktur lainnya dibiarkan hancur.[xx] Mudah-mudahan saja kita bukan sebagai negara yang gagal.

Alangkah indahnya Indonesia, senadainya benar-benar tidak ada korupsi dan koruptor, di mana setiap orang menghargai hasil jerih payah dan keringatnya karena diperoleh dengan jujur dan adil. Lembaga-lembaga birokrasi pemerintah, di mana menurut A. Coser – Bernard Rosenberg, merujuk pada suatu organisasi yang dimasudkan untuk mengerahkan tenaga dengan teratur dan terus menerus untuk mencapai tujuan tertentu. Atau dengan lain perkataan, birokrasi adalah organisasi yang bersifat hierarkis, yang ditetapkan secara rasional untuk mengkoordinir pekerjaan orang-orang untuk kepentingan pelaksanaan tugas-tugas administratif,[xxi] dapat berjalan efektif, efisien, tidak bertele-tele, dan yang pasti tidak korup. Lembaga-lembaga peradilan dalam memutuskan setiap perkara yang dilimpahkan kepadanya dapat memutuskan perkara dengan seadil-adilnya dan tidak berat sebelah, tanpa memandang golongan apapun dan kepentingan apapun, di mana saat ini tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan para penegak hukum sangat rendah. Perekonomian rakyat dan negara menjadi stabil karena setiap keuntungan digunakan untuk pembangunan secara menyeluruh yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia seutuhnya. Pendidikan yang murah dan bertanggungjawab –bukan sebagai pedagang ijazah asli maupun palsu- yang menciptakan manusia-manusia bertanggung jawab untuk tetap mampu meneruskan cita-cita bangsa dan negara. Yang jelas, tidak bermental bunglon dan bermental korup. Niscaya, Indonesia masih akan tetap ada.

Ø Penutup

Memang telah terbukti kalau korupsi menyengsarakan rakyat, meski kita membutuhkan semua komponen bangsa untuk memusnahkannya, kita juga membutuhkan kesadaran dengan apa yang disebut sebagai ‘self-control’ atau pengendalian diri dan ingat kalau kita merugikan orang lain berarti kita juga merugikan diri sendiri. Dan, apa yang ada pada diri kita tidak lebih adalah amanah, ini berlaku untuk semua pemimpin, dan juga semua orang karena pada dasarnya mereka juga adalah seorang pemimpin untuk diri mereka sendiri. Hal ini akhirnya memicu social control yang sehat dalam masyarakat dan negara. Seperti peraturan emas yang dirumuskan O. Hoffe, bahwa sebagaimana engkau mengharapkan agar kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan dan keprihatinan-keprihatinanmu diperhatikan, begitu pula engkau harus memperhatikan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan orang lain.[xxii] Hal ini juga memicu apa yang diharapkan Selo Soemardjan, bahwa dengan keseimbangan dalam masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok dari masyarakat benar-benar berfungsi dan saling mengisi.[xxiii] Selaras dengan itu menyebabkan tumbuhnya suatu solidaritas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum. Keinginan umum tadi adalah berbeda dengan keinginan masing-masing individu.[xxiv] Itu terbukti, dengan keinginan seluruh lapisan masyarakat untuk memberantas korupsi, meski dalam prakteknya pun mendapatkan banyak ganjalan-ganjalan.

Soekarno mengingatkan, salah satu ciri orang yang betul-betul revolusioner ialah satu kata dengan perbuatan, satu mulut dengan tindakan.[xxv] Karena memang itulah orang yang benar-benar dibutuhkan dalam segala jaman.

Akhirnya, ada sementara orang berdalih: orang baik adalah lebih baik. Ini benar. Tapi karena orang baik jauh lebih sedikit daripada orang yang tidak baik, dan karena adalah lebih mudah membuat undang-undang baik, daripada memperbaiki orang-orang yang tidak baik, usaha kesempatan untuk memperbaiki peraturan undang-undang haruslah dipergunakan sebaik-baiknya.[xxvi] Karena untuk bisa memandang ke depan, kita harus menentukan sebelumnya. Savoir pour prevoir.***

CATATAN AKHIR:

[i] Kompas, Bisa Menghancurkan, Kebhinekaan Tanpa Kesetaraan. Senin, 20 Juni 2005; hal.6; rubrik Politik dan Hukum.

[ii] Idem.

[iii] Idem.

[iv] Kompas, Pancasila Perlu Dihidupkan Kembali. Sabtu, 11 Juni 2005; hal.7; rubrik Politik dan Hukum

[v] The World Bank, Memerangi Korupsi di Indonesia: Memperkuat Akuntabilitas untuk Kemajuan; Oktober 2004; hal. 44

[vi] idem, hal. 47

[vii] Denny Indrayana, dosen hukum tata negara UGM juga menjabat sebagai direktur Indonesian Court Monitoring, Yogyakarta, dalam tulisannya ‘Proklamasi Anti Korupsi’ di Media Indonesia. Selasa, 19 Juli 2005; rubrik Opini; hal. 26

[viii] Yap Thiam Hien. Negara, Ham, dan Demokrasi. Penerbit Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Desember 1998, hal.26

[ix] The World Bank, Memerangi Korupsi di Indonesia: Memperkuat Akuntabilitas untuk Kemajuan. Oktober 2004. hal.166.

[x] Mr. J. Bierens De Han, Sosiologi, Perkembangan dan Metode. Terjemahan Adnan Sjami, 1953. hal.13

[xi] Kompas, Politisi Perlu Pendidikan Politik. Selasa, 3 mei 2005. hal.6. rubrik Politik dan Hukum.

[xii] Soerjono Soekanto, Sosiologi, Suatu Pengantar. Edisi 1, 1982. CV. Rajawali, Jakarta. Hal.340.

[xiii] Bung Karno, Panca Azimat Revolusi. Totalitas. Hal. 67-68.

[xiv] Mr. J. Bierens De Han, Sosiologi, Perkembangan dan Metode. Terjemahan Adna Sjami. Hal 171.

[xv] Judiheri Justam dari Petisi 50. lih. Kompas, Petisi 50 Soal Korupsi. Sabtu, 7 Mei 2005. hal.7. rubrik Politik dan Hukum.

[xvi] Lih. Bung Karno, Panca Azimat Revolusi, hal. 125.

[xvii] Sri Sulistiyani, Koordinator Gerakan Masyarakat Anti Korupsi (GEMAK) Jember. Lih. Media Indonesia, ‘Pemberantasan KKN hanya Slogan’. Selasa, 10 mei 2005. rubrik Nasional.

[xviii] Lih. Suara Pembaruan, Pemberantasan Korupsi Belum Sesuai Harapan. Senin, 25 Juli 2005. rubrik Nasional.

[xix] Kompas, Pemberantaan Korupsi Harus Dilakukan Secara Total. Kamis, 19 Mei 2005. rubrik Poltik dan Hukum.

[xx] Dr. Robert I Rotberg, direktur program konflik Jhon F. Kennedy School of Government, Harvard University, dalam sebuah sesi diskusi di CSIS. Lih. Kompas, 28 Maret 2005. penjelasan lebih lanjut lih. Peta Konflik Jakarta, Warga, Mahasiswa, Preman, Suku, Negara, dan Warga. Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi (Yappika) hal.125

[xxi] pengertian birokrasi menurut A. Coser – Bernard Rosenberg. Untuk penjelasan lebih lanjut lih. Soejono Soekanto. Sosiologi, Suatu Pengantar. Edisi 1. 1982. CV. Rajawali, Jakarta. Hal. 293.

[xxii] Dikutip dari makalah Franz Magnis Suseno: ‘Menguasai atau berpartisipasi? Tentang Krisis Kebudayaan Teknokratis dan Kekuasaan untuk Mengembangkan Suatu Etika masyarakat Teknologi Baru’ dalam buku Dasar-Dasar Krisis Semesta dan Tanggung Jawab Kita. Universitas Nasional. Dian Rakyat, Jakarta. Cet.1, 1984. hal. 158.

[xxiii] Dikutip dari Soerjono Soekanto, Sosiologi, Suatu Pengantar. Ed.1, 1982. CV. Rajawali, Jakarta. Hal. 339.

[xxiv] Idem. Pendapat Rosseau. Hal. 27

[xxv] Bung Karno, Panca Azimat Revolusi. Totalitas. Hal.108.

[xxvi] Yap Thiam Hien, Negara, Ham, dan Demokrasi. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Desember 1998. hal. 99

DAFTAR PUSTAKA:

· Agus Budi Purnomo, Fransisca Melia N Setiawati, Indra Jaya Piliang, Otto Syamsuddin Ishak; Peta Konflik Jakarta, Warga, Mahasiswa, Preman, Suku, Negara dan Warga. Penerbit, Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi (YAPPIKA) Cet. 1, Januari 2004.

· Bung Karno; Panca Azimat Revolusi. Pen. Totalitas. 2002.

· Fraanz Magnis Suseno; makalah ‘Menguasai atau Berpartisipasi? Tentang Krisis Kebudayaan Teknokratis dan Keharusan untuk Mengembangkan Suatu Etika Masyarakat Teknologis Baru’ dalam buku, Dasar-dasar Krisis Semesta dan tanggung Jawab Kita. Kumpulan 13 Makalah Simposium Dasar-dasar Krisis Semesta dan tanggung Jawab Kita, diadakan oleh Universitas Nasional 4-5 Juni 1983. Pen. PT. Dian Rakyat Jakarta. Cet.1. 1984.

· Kompas; Politisi Perlu Pendidikan Politik; Selasa, 3 Mei 2005

· _______; Petisi 50 Soal Korupsi; Sabtu, 7 Mei 2005

· _______; Pemberantasan Korupsi harus Dilakukan Secara Total; Kamis, 19 Mei 2005

· _______; Pancasila Perlu Dihidupkan Kembali; Sabtu, 11 Juni 2005

· _______; Bisa Menghancurkan, Kebhinekaan Tanpa Kesetaraan; Senin, 20 Juni 2005

· Media Indonesia; Pemberantasan KKN Hanya Slogan; Selasa, 10 Mei 2005

· _____________; Proklamasi Anti Korupsi, oleh Denny Indrayana; Selasa19 Juli 2005

· Mr. J Bierens De Han; Sosiologi, Perkembangan dan Metode, terjemahan Adnan Sjami. Pustaka Sardjana No. 10. Yayasan Pembangunan Jakarta, 1953. judul asli: Sociologie Ontwikkeling En Methode (N.V. Servire – De Haan)

· Soerjono Soekanto; Sosiologi, Suatu Pengantar. Cet. 1, 1982. CV. Rajawali, Jakarta

· Suara Pembaruan; Pemberantasan Korupsi belum Sesuai Harapan; Senin, 25 Juli 2005

· The World Bank; Memerangi Korupsi di Indonesia: Memperkuat Akuntabilitas untuk Kemajuan; Oktober, 2004

· Yap Thiam Hien; Negara, HAM, dan Demokrasi; Yayasan Lembaga bantuan Hukum Indonesia (YLBHI); Desember 1998.

***tulisan ini aku buat tahun 2005.

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Perpuisian Indonesia: Mencari Jati Diri

Ditulis oleh permanas di/pada 10 September 2008

Oleh: Sawaludin Permana

Bicara mengenai puisi, pasti kita akan terkenang hal-hal yang indah tentang kalimat yang tersusun rapih di dalamnya. Permainan simbol dan makna membuat kita merenung, tersenyum dan bahkan kadangkala menitikkan air mata, kadang pula membuat kita tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh sang penyair, karena tidak menyediakan pintu pemahaman yang membuat gelap pikiran kita. Tapi, di sinilah yang membuat suatu karya puisi itu menjadi hidup, pembebasan alam pikiran dibiarkan tumbuh dan terbuka dalam konflik pemaknaan yang melekat dalam susunan suatu kalimat. Sebuah puisi akan mandul apabila ia dianggap hanya sebagai bacaan selintas tanpa menyelidiki penyampaian pemikiran yang diberikan kepadanya. ‘Citra’ puisi itu akan mati karena tidak mengalir, ia hanya berhenti pada pemahaman sejenak. Namun, inti yang terkandung sebagai sebuah manifestasi tidak mencuat keluar ke dalam perilaku pembacanya.

Di sini kita mulai mengerti, mengapa prosa lebih dapat diterima ditengah-tengah masyarakat dari pada sebuah puisi seutuhnya. Jawabannya, mungkin, adalah prosa lebih mudah dipahami dan dimengerti, karena isinya memang jelas dan mudah dicerna oleh alam pikiran pembaca yang memiliki pola pikir berbeda satu sama lainnya dan makna-makna yang ada di dalamnya pun menjadi ‘terang’. Di situ suatu lambang simbol diuraikan secara gamblang dan detail lewat alur cerita yang ikut mengalir bersamanya. Pembaca pun menjadi mudah pula untuk menangkap apa yang disampaikan dan bahkan sangat menikmatinya.

Tapi, sayangnya, disamping itu pula puisi menjadi terdesak jauh ke belakang, menjadi barang usang tanpa perhatian sama sekali. Banyak puisi-puisi lama menjadi karam dan berkarat karena pembahasan dan penelitian sudah jarang sekali diperbincangkan. Pantun-pantun yang mengandung nasihat, syair-sayir lama nan religius, gurindam dan bidal yang hanya tinggal nama. Kita sebagai bangsa Indonesia seharunya merasa prihatin sekali atas nasib perpuisian Indonesia. Karena akar budaya bangsa Indonesia berasal dari sana. Bahkan, mungkin banyak generasi muda kita sekarang sudah tidak mengetahui lagi keberadaannya, mereka sudah sibuk dengan karya-karya yang datang dari luar, sedang ke-Indonesia-annya sendiri terlupakan. Kalau sudah demikian, generasi muda kita sekarang dan yang akan datang bisa kehilangan jati diri ditengah bangsanya sendiri, yang juga berakibat bahasa Indonesia akan semakin terpuruk di negerinya sendiri. Oleh sebab itu, akar budaya bangsa jangan sampai ditinggalkan, karena kalau ditinggalkan bahasa Indonesia akan terhapus, demikian pula bangsanya sendiri akan lenyap, terseret arus globalisasi. Jadi, jangan berharap banyak kalau kesusastraan Indonesia akan berdiri tegak di bumi persada sementara generasi mudanya tidak pernah mengenal apapun tentang kesusastraan Indonesia. Walau mungkin bersifat paradoksal, tapi itu adalah sebuah ironi dan kita tidak dapat menyangkalnya.

Seperti yang pernah diungkapkan Prof. James Danandjaya, guru besar antropologi dan foklor fakultas ilmu sosial dan politik (FISIP) Universitas Indonesia, “… Semakin banyaknya anak Indonesia mengidolakan tokoh-tokoh cerita asing, setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa pemahaman anak terhadap budaya lokal semakin menciut. Memang tidak bijaksana bila arus informasi yang datang dari luar negeri dikekang begitu saja, tetapi seorang anak harus dibekali ke-Indonesia-an yang kuat, karena arus informasi dan percepatan lintas budaya antar bangsa yang terjadi sekarang ini bisa menimbulkan dampak negatif meskipun ada juga pengaruh baiknya…” (Suaka Metro). Dari sini kita bisa melihat betapa masih sedikit penulis-penulis yang dapat mewakili kepribadian bangsa Indonesia yang juga bisa sebagai faktor pembendung karya dari luar, ditambah lagi dengan serbuan budaya asing yang bercampurbaur dengan lemahnya budaya Indonesia saat ini. Keadaan semacam ini dapat merugikan sekaligus membahayakan dan sangat mengancam budaya Indonesia. Apalagi di tengah kemelut yang berkepanjangan, membuat semakin lunturnya semangat untuk tumbuh kembangnya bangsa yang berbudaya.

Memang, kita tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri kenapa hal semacam ini dapat terjadi. Perkembangan sastra (puisi) yang sudah sangat memprihatinkan membuat generasi muda semakin bertambah asing lagi dengan kesusastraan Indonesia. Apalagi keadaan sudah bertambah rumit. Satu-satunya jalan adalah berbuat lebih baik lagi dengan segala kemampuan yang ada, jangan sampai para sastrawan ikut-ikutan tidak peduli, yang nantinya akan semakin berkaratlah kesusastraan Indonesia. Saya merasa itu tidaklah berlebihan, mengingat keadaan sekarang ini, yang seharusnya menjadi pemicu untuk lebih giat lagi berkreasi demi untuk menghidupkan kembali kejayaan perpuisian Indonesia di masa lalu.

Saya mensinyalir kenapa kesusastraan Indonesia, khususnya puisi, menjadi terpuruk sedemikian rupa, setidak-tidaknya ada tiga hal yang ingin saya kemukakan. Karena, yang pertama: saya melihat di sekolah-sekolah, pengajaran kepada anak didik diajarkan dengan cara metode pemahaman yang kaku. Jadi, pemikiran seorang anak –dalam jenjang pendidikan apapun- tidak ‘lepas’ pencarian makna yang tersaji dalam sebuah puisi. Ini relevan dengan apa yang pernah diungkapkan Asrul Sani, bahwa pemahaman itu tidak melulu harus didasarkan pada metode. Biar cabaran pikiran menjangkau sesuai kewajaran yang ada di dalam kehidupan. Saya tidak percaya kepada pemahaman yang yang dilandasi kebakuan metode. Dengan metode, rasanya kok jadi banyak bagian-bagian yang hilang untuk pemahaman linear, ungkapnya. Kemungkinan mereka hanya sebatas kepada sekedar pemahaman saja, tidak lebih dari itu. Ini sama saja dengan seseorang yang menaiki perahu tetapi tidak pernah mengetahui keindahan dan kekayaan yang ada di dasarnya daripada apa yang hanya dilihatnya dari atas perahu.

Kedua: sendi-sendi kelembagaan yang ada di masyarakat tidak berjalan dengan baik. Lembaga-lembaga masyarakat –yang bergerak dalam bidang kepemudan, entah itu gelanggang remaja, sangar-sanggar kesenian, karang taruna, atau hanya sekumpulan orang- yang seharusnya memberdayakan mereka tidak berjalan dengan semestinya. Aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesusastraan, seperti lomba baca puisi, atau semacam bedah buku yang isinya menyangkut tentang perpuisian dan diskusi tentang kesusastraan. Semua itu jarang dilakukan, atau tidak pernah sama sekali. Walaupun dengan alasan kendala biaya atau semacamnya, toh, itu bukanlah sebuah pengecualian, karena masih dapat diupayakan dengan cara lain. Dengan berswadaya dan gotong royong misalnya. Biarpun dalam lingkup yang kecil, tapi ini adalah suku cadang untuk tetap bisa ber-eksistensi-nya perpuisian Indonesia dan kesusastraannya di tengah masyarakat dan bangsanya sendiri.

Ketiga: lesunya penciptaan hasil karya puisi dan sastra membuat dukungan dan sambutan generasi muda dan masyarakat menjadi rendah pula terhadap perpuisian Indonesia. Sejalan dengan itu akan semakin surutlah penghargaan mereka terhadap karya-karya sastra dan sastrawan yang berdiri di belakangnya. Semua orang mungkin tahu tentang ungkapan bahwa sebuah negara yang tidak mempunyai penyair dianggap kurang bermutu, lebih tidak bermutu lagi jika tidak menghargai para penyairnya. Lantas, bagaimana halnya dengan kita bangsa Indonesia yang katanya berbudaya?

Saya menyadari, memang tidak semua orang yang habis membaca sebuah cipta sastra lantas menjadi seorang penyair atau sastrawan. Jawabannya, tidak! Tapi bukan berarti mengesampingkan kalau semua manusia di dalam dirinya selalu mencintai keindahan, karena pada dasarnya manusia itu sendiri adalah obyek sekaligus subyek dari keindahan. Walau hadir dalam bentuk apapun, manusia akan meresponnya, baik pujian maupun kritikan. Manusia adalah tujuan dari keindahan. Begetu pula dengan kesusastraan, pikiran akan menjadi terbuka, dalam artian mereka dapat membebaskan pikiran merekan sendiri dan menemukan arti dari makna-makna yang ada di dalamnya dan berlanjut ke dalam perilaku mereka sebagai penanaman sebuah prinsip. Dengan begitu nilai-nilai yang dihadirkan menjadi hidup karena menyatu dengan hati dan jiwa pembacanya dan tidak berhenti kepada pemahaman yang berpendapat bahwa suatu karya sastra harus dianggap baik tanpa mendapat kritik yang tajam. Kalau demikian yagn terjadi, maka suatu karya sastra tidak berperan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu sebuah karya sastra harus diselidiki. Sebuah karya sastra bukan hanya di dapat melalui ‘ilham’ saja, tetapi juga hasil dari pemikiran dan kesadaran pengarangnya. Jadi, saya menekankan penilaian itu jangan selalu mengedepankan estetika semata tanpa memberikan sumbangsih apapun kepada masyarakat. Tapi, apakah suatu cipta sastra itu berdampak baik atau buruk di tengah masyatakat yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya karya itu dapat melekat pada perilaku pembacanya.

Di sini esensi sastra sebagai benteng moral sangat diperlukan. Itu memang harus. Karena kesusastraan yang sejati adalah bahwa isi kesusastraan itu bermanfaat bagi masyarakat luas dan bersifat sebagai pembendung dan penyaring (filter) kebudayaan asing yang masuk ke tengah-tengah masyarakat, di mana rata-rata penduduknya adalah hetero-kultural dan hetero-sosio yang pada akhirnya sastra sebagai salah satu perangkat untuk menghaluskan akhlak dan budi pekerti masyarakat. Jadi, tidak hanya mengedepankan aliran seni untuk seni seperti yang terjadi pada bangsa barat di masa lalu yang berkesan borjuisme yang serba sekular, dan bukan hanya sekedar berdaya cipta menumbuhkembangkan aliran seni untuk rakyat yang menyelewengkan istilah ‘rakyat’. Semua itu akanmelahirkan konflik sosia;, kesenjangan kaya dan miskin, perkosaan dan perhambaan, membunuh kelas yang satu demi memenangkan kelas yang lain, manipulasi antar tiap golongan yang nanti pada akhirnya akan menimbulkan kekacauan secara besar-besaran. Kalau sudah demikian sastra tidak lagi berfungsi sebagai penghalus budi, ia telah berubah fungsi menjadi alat propaganda yang murah.

Sekarang yang harus benar-benar diperhatikan adalah bagaimana membangun kembali citra masyarakat terhadap karya cipta sastra Indonesia pada saat ini dan juga untuk masa-masa berikutnya lewat karya-karya yang dihasilkan supaya membangun paradigma masyarakat kepada hasil karya sastra. Di sinilah peran kita semua dan para sastrawan sangat dibutuhkan, mengingat sastrawan maupun penyair sangat sensitif dengan gejala sosial-budaya yang bergerak dan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan meng-aktualisasi-kan pikiran-pikiran mereka lewat karyanya. Karena, seorang penyair yang besar adalah penyair sekaligus seorang filsuf.

*****

Di abad yang serba canggih ini teknologi menjadi amat begitu penting sebagai sarana penunjang kehidupan manusia di dunia ini dan tumbuh dengan sangat pesat sekali karena di dalamnya menyediakan informasi-informasi yang super-komplit. Siapa yang memiliki teknologi paling canggih dia memegang bendera peradaban dan siapa yang paling banyak menyerap informasi dengan benar dialah yang mewarnai peradaban dalam dunia ini. Karena sifatnya yang mengglobal. Jadi, kesusastraan mau tidak mau akan tetap membutuhkan sarana ini. Dengan begitu ia –kesusastraan- akan dapat berperan dalam persaingan yang universal, di smaping media lainnya sebagai pengembangan kesusastraan Indonesia untjk mengenalkan kesusastraan kita kepada dunia internasional. Tapi, bikan berarti buku atau media cetak tidak dibutuhkan lagi. Sebab, di dalam perangkat komputer yang penuh dengan informasi, semua terjadi begitu cepat bila dibandingkan dengan buku. Karena, berita-berita yang disajikan setiap hari bertambah dan akan terus bertambah, yang memungkinkan informasi yang terserap akan menjadi terbengkalai karena kurang pengkajian yang mendalam, sementara itu di depan mata sudah ada karya-karya atau informasi-informasi yang lain lagi. Beda halnya dengan buku, karena semuanya berlangsung tetap dan stabil. Jadi, dalam pengkajiannya pun tetap dan stabil pula. Karena itulah buku dan media cetak lainnya tetap dibutuhkan, selain tentunya dengan mempergunakan media komputerisasi.

Sastra masuk komputer (baca: internet) memang bukanlah hal baru bagi kita semua, ini terlihat begitu banyaknya situs-situs sastra yang marak di internet. Dan, karya-karya yang dihadirkan pun patut diperhitungkan oleh kita semua. Menurut Iwan Soekri Munaf, salah seorang editor Graffiti Gratitude (GraGra), kepada Sinar Pagi, ia mengatakan bahwa internet lebih mempercepat kematangan dan kemunculan penyair wajah baru, yang karyanya boleh bersaing dengan penyair koran yang lebih senior. Di dalam media konvensional seperti media massa dan penerbitan, boleh jadi nama-nama penyair yang potensial akan terhambat muncul karena berbagai kendala teknis dan non teknis. Misal, harus bertarung terlebih dahulu dengan selera redaktur budaya dan keterbatasan ruang yang ada. Namun, saya berharap, dengan bantuan media internet, secara lambat laun keterpurukan kesusastraan Indoneisa sedikit demi sedikit akan mampu berdiri dan dapat bersaing dengan kesusastraan bangsa lain, diikuti pula oleh bangkitnya kembali minat dan perhatian generasi muda bahwa betapa pentingnya suatu kesusastraan bagi sebuah bangsa sebagai hasil dari pemikiran dan kebudayaan.

*****

ketika kita dihadapkan kepada sebuah kehidupan yang serba mekanis, waktu yang serba cepat dan serba instant, kita semua merasa gersang dan gelisah. Kita mulai sadar untuk mencari sebuah ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan yang mulai menjemukan. Di sinilah sesungguhnya suatu kesusastraan dibutuhkan dan dirindukan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang kadangkala sering dialpakan dan dibiarkan bertumpuk dan berdebu. Kita tertidur dengan mimpi-mimpi dan ilusi tanpa pernah tersadar untuk bangun dan berbuat sesuatu.

Puisi mengajarkan kita tentang keindahan dan kelembutan lewat kata-katanya yang bijak, meski terkadang ia juga bisa sekeras batu dan menghantam. Membawa kita kepada pengalaman bathin dan pengembaraan pikiran, membuka salah satu jendela kehidupan yang sarat dengan makna-makna dan mencari setitik cahaya dalam kegelapan. Puisi dan filsafat seperti kuku dengan daging yang tak dapat dipisahkan, di dalam dirinya selalu ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada diri setiap manusia yang sering tidak terungkapkan lewat kata-katanya yang sedikit.

Puisi sebagai hasil kebudayaan dari pemikiran manusia menawarkan kita untuk menciptakan kerukunan, kedamaian, saling hormat menghormati dalam nuansa yang berbeda-beda dari kehidupan manusia untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang telah menjadi kesepakatan dalam masyarakat. Di sana kita akan menemukan jati diri dari sebuah puisi, menyerasikan kehidupan dengan dunianya yang beraneka ragam.

Apabila seorang penyair menangis, menjatuhkan air mata, maka tanpa ragu lagi bangsa yang didiaminya itu sedang sakit. Karena seorang penyair adalah sebagai mata dalam tubuh manusia, ujar Muhammad Iqbal, yang kalau diartikan kurang lebih adalah juga sebagai mata dalam sebuah bangsa dan negara. Oleh sebab itu, mari kita semua bersama-sama membangun lagi kejayaan perpuisian Indonesia, mari kita bersatu dalam keragaman, karena keragaman adalah tempat yang cocok untuk berkesenian, dan dengan berkesenian kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.***(dari berbagai sumber, 2001)

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »