Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘berita’

Rumah ini kubangun untukmu

Ditulis oleh permanas di/pada 22 Oktober 2008

Baik, baik, aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan menantang matahari untukmu, aku akan melawan kebisingan, membungkusnya dan akan kuhadiahkan untukmu kelak, hadiah yang kubungkus dari dunia yang terbengkalai. Tidak, bukan untuk menghinamu, tapi untuk memberitahu, masih ada yang harus diperhatikan selain nyamuk-nyamuk pada telingamu ketika lelap.

Sekarang aku jauh dari tempatmu berada, aku temukan tempat baru melebihi bukit-bukit di belakang pekarangan rumahmu. Tempat sederhana tapi kekayaannya bukan hanya sekedar bukit yang kau simpan dalam ingatan dan pada punggung rumahmu. Tempatku tidak indah, keindahannya akan terpancar kalau kau menghargai betapa tempat ini akan memberi kehangatan yang tidak dibuat-buat, bukan seperti perapian di ruang tengah dimana biasa kau bermanja-manja dengan kaki terselubung kaus kaki sambil membaca berita tentang orang-orang saling mengejar dan memukul. Miris aku melihatnya.

Sebentar lagi akan ada rumah berdiri di sini, aku bicara dengan pohon-pohon dan mata angin kemana sebaiknya rumahku dihadapkan, ke arah matahari terbitkah, atau ke arah matahari tenggelamkah, atau menyimpang dari keduanya. Aku ingin rumahku tidak memiliki atap, karena aku ingin tidur sambil memandang langit ketika malam. Membincangkan bintang yang saling memamerkan lentik cahaya mereka masing-masing dan bulan selalu saja menjadi penengah di antara mereka. Yah, aku bangun rumah itu dengan membuat bata dari rasa perih ketika harus meninggalkan rumahmu, dan jejak dibelakangnya aku kumpulkan untuk menjadi tiang penyangga. Rindu akan menjadi pintu-pintu di setiap kamar, karena begitu melintasinya, aku seakan berada di rumah kita. Maksudku, rumahmu sekarang.

Aku pergi karena tidak ingin ada kemarahan-kemarahan menjelma di antara kita dan di antara orang-orang yang kita kasihi. Aku tidak kalah, hanya mengalah. Bukan menghindari konflik, tapi bukankah melenyapkan pertempuran memakan sedikit korban daripada mengibarkan bendera perang dan bertempur untuk mempertahankan kebebasan masing-masing. Itu akan membuat banyak orang dan hati terluka. Tapi kita bukan korban. Aku bukan korban.

Maka, seperti para pelukis, aku akan menuangkan kata-kata sebagai cat di atas palet, dan kertas polos itu serupa kanvas, aku akan terbiasa melukis wajah dan senyummu melalui kata-kata. Di rumah yang kubangun, ada ruang khusus di mana semua kata-kata menjadi lukisan dirimu, bayangan yang akan terus ada, bila aku tidak ada, semoga ada orang lain menjaganya. Ruangan itu bercat warna merah dan berlantai kayu. Aku membuatnya sehangat mungkin. Meski hanya lukisan, aku tidak ingin citra itu kedinginan ketika aku tinggalkan sendiri.

Sebenarnya aku tidak ingin apa-apa lagi, tapi seandainya diijinkan, aku ingin kau sekali lagi menjadi tamuku dan makan malam di beranda belakang rumah ini, tempatku. Maka kau akan lihat kelopak-kelopak bunga yang kurawat akan menyambutmu dengan keindahan mereka. Setidaknya mereka  menyambutmu, meski kau sudah berusia enam puluh tahun ketika datang ke rumah ini dan menjadi tamuku. Akan kupastikan mereka tetap menyambutmu. Tapi aku tidak berharap banyak.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Men-jadi Relawan Dunia

Ditulis oleh permanas di/pada 13 Juni 2008

Kalau merujuk kepada kata ’Pemanasan Global’, hal utama yang terlintas dalam benak setiap orang adalah dampak lingkungan yang berubah drastis pada saat ini. Gas-gas rumah kaca yang terperangkap pada atsmosfir, suhu udara yang meningkat, penggundulan hutan secara membabi buta, ekspoitasi air tanah yang berlebihan, dan entah berapa lagi perusakan lingkungan yang terus terjadi setiap harinya di belahan bumi yang lain. Hei, bahkan ada yang mengatakan kalau dunia saat ini adalah bagaikan tong sampah raksasa. Sebegitu dahsyatnya-kah hingga tempat manusia bernaung selama ini dikatakan dengan ekstrim. Lantas solusi apa yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah global tersebut?

Banyak mungkin yang bisa ditawarkan andaikata pertanyaan itu dilontarkan dan digaungkan kepada dunia, dan realisasinya, semua itu akan kembali kepada kesadaran dan nurani setiap manusia yang menyadari betapa pentingnya masalah itu harus diselesaikan.

Menjadi relawan dunia adalah solusi lain. Jadi relawan dunia adalah satu hal. Mulailah menjadi agen perubahan dari diri sendiri sekarang juga. Kalau orang membuang sampah sesuka hati mereka, mulailah memunguti sampah yang terlihat dan menaruhnya di tempat yang benar dan telah disediakan, antara organik, non organik, dan daur ulang. Jika banyak orang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, mulailah sekarang juga beralih ke angkutan massa, meski di Indonesia angkutan transportasi publik belum sepenuhnya dapat dikatakan layak, setidaknya kita sudah mulai mengurangi emisi gas buang dari kendaraan yang kita gunakan sehari-hari. Bila banyak orang lebih suka menebang pohon yang bisa menaungi generasi penerus dunia di masa datang, sekarang tanamlah pohon sebanyak mungkin yang bisa kau tanam. Dan banyak orang menggunakan air dengan tidak bijaksana, mulai saat ini gunakan air dengan seperlunya, begitu juga dengan semua sumber daya yang bisa kita gunakan dan temukan. Tidak ada hal apa pun yang bisa merubah sesuatu selain perbuatan yang berguna untuk menyelamatkan dunia di masa datang.

Bagaimana kita bisa meninggalkan warisan yang berguna untuk generasi yang akan datang kalau investasi sumberdaya tidak dikelola dengan bijaksana. Maka kau tidak menyisakan apa-apa selain meninggalkan petaka kepada anak-anak dunia yang telah kau lahirkan.***permanas/110608

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

TIPS MENCARI SEKOLAH IDEAL

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Posted by Admin in Misc, News. add a comment

Date: Tue, 31 Jul 2007 02:49:40 -0000

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&dn=20070730133045

Oleh : Imam Subkhan

30-Jul-2007, 14:20:05 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia -
Setiap menjelang tahun ajaran baru, hampir semua orangtua bingung
mencari sekolah yang tepat untuk anak-anaknya. Sebagai orangtua,
tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun yang
ada, Anda justru pusing dibebani segudang pertanyaan. Seperti apa
bentuk sekolah yang baik dan ideal? Apakah harga menjamin kualitas
yang diberikan? Dan lain sebagainya. “Ideal” menurut kamus bahasa
Indonesia artinya “sesuai dengan yang diharapkan”.

Tentunya orang tua berharap sekolah yang dipilih akan mampu menjadi
tempat mengembangkan kemampuan anak secara optimal. Berikut ini,
penulis mencoba memberikan tips bagaimana mencari sekolah yang ideal
atau tepat bagi anak-anak.

Libatkan anak ketika memilih sekolah.
Seharusnya selalu disadari dan dipahami oleh orang tua, bahwa yang
nantinya sekolah adalah anak, bukan mereka. Maka, melibatkan anak
dalam memilih sekolah merupakan langkah penting, meskipun usia
prasekolah. Orang tua jangan menganggap remeh kemampuan anak, karena
pada saat usia pra sekolah anak mengalami perkembangan fisik dan
mental yang sangat pesat.

Dalam buku “Magic Trees of Mind”, Marianne Diamond menggambarkan,
perkembangan kemampuan matematika dan intelegensia ruang pada anak
diperkirakan dimulai pada usia satu tahun. Kemampuan bahasa anak
malah sudah dimulai sejak masih dalam kandungan. Ini berarti, daya
nalar dan logika anak pada saat akan memasuki sekolah dasar (6
tahun) sudah berkembang baik.

Tinggal bagaimana orang tua merangsang kemampuan anaknya. Kondisikan
agar proses mencari sekolah dasar tidak menjadi beban berat bagi si
anak melainkan menjadi proses belajar yang menyenangkan. Bagaimana
jika ternyata pilihan anak jatuh pada sekolah yang menurut orangtua
kurang sesuai? Di sinilah peran orang tua diperlukan.

Pada saat orang tua telah membuat pilihan sekolah mana yang akan
dimasuki anak nanti, buatlah kesepakatan sukarela dengan anak bahwa
sekolah yang akan dimasuki adalah murni pilihan anak. Dengan
demikian anak akan merasa bangga karena diberi kesempatan melakukan
hal yang penting. Di sisi lain anak akan lebih bertanggung jawab
karena merasa sekolah yang dimasukinya adalah pilihannya sendiri.

Ketahuilah visi dan misinya.
Banyak ahli yang mengingatkan tentang pentingnya aspek visi dan misi
pendidikan yang disandang suatu sekolah. Sekolah yang memiliki
kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur
dan realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi sekolah yang
diinginkan, dapat dilihat di buku profil, brosur, papan nama atau
media publikasi yang digunakan oleh sekolah tersebut. Dari visi dan
misi yang dipaparkan dapat terlihat bagaimana orientasi tujuan dan
profil output yang akan dihasilkan.

Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dari beberapa aspek,
antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan
hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Seperti yang sudah terungkap
di muka, orang tua saat ini masih memandang aspek akademis menjadi
pertimbangan pertama dalam memilih sekolah. Maka, tidak heran jika
banyak orang tua yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan
sekolah dengan prestasi akademik tinggi.

Pihak sekolah pun akan melakukan seleksi ketat terhadap calon
siswanya. Hanya siswa yang memiliki IQ tinggi yang dapat diterima di
sekolah yang bersangkutan. Dari kasus ini, Penulis jadi tergelitik,
sebenarnya yang unggul sekolah atau siswanya. Sangat masuk logika,
jika sekolah yang hanya menerima input baik-baik saja, kemudian out
putnya juga baik.

Oleh sebab itu, orang tua seharusnya tidak lagi terjebak pada
istilah-istilah sekolah favourit, unggulan, plus dan lain-lain.
Padahal yang dikembangkan hanya pada aspek kognitif saja atau
academic minded. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu
menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh potensi (baca:
kecerdasan majemuk) peserta didiknya.

Porsi Pendidikan Agama.
Di era sekarang ini, dimana banyak kasus yang menimpa generasi
penerus kita termasuk dalam hal ini para pelajar, mulai dari kasus
tawuran, narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan menuyimpang
lainnya, maka peran pendidikan agama menjadi sangat signifikan
terutama dalam membentuk kharakter dan perilaku siswa.

Penulis berpendapat bahwa, pendidikan moral tertinggi terletak di
dalam doktrin-doktrin agama yang diyakini seseorang. Melalui
pendidikan agama yang cukup, diharapkan para peserta didik akan
muncul kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai tugas, peran dan
tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan, anak, siswa dan anggota
masyarakat. Sebagai implementasinya, anak mampu menghargai orang
lain dengan segala perbedaan serta mampu memilah dan memilih
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan tidak.

Oleh karena itu, porsi pendidikan agama yang diterapkan oleh suatu
sekolah hendaknuya menjadi bahan pertimbangan penting orang tua dan
anak dalam memilih sekolah. Barangkali, jika kita ingin mendapatkan
pendidikan agama yang lebih di sekolah negeri, nampaknya sulit
diwujudkan. Pasalnya, sesuai aturan yang berlaku, sekolah-sekolah
negeri hanya menerapkan 2 (dua) jam pelajaran agama dalam sepekan,
kecuali inisiatif pihak sekolah untuk mengadakan jam tambahan.

Mungkin dari sini, sekolah-sekolah swasta yang berbasiskan agama
dapat menjadi solusinya. Sekolah ini jelas-jelas memberikan porsi
lebih banyak untuk pendidikan agama, bahkan sudah dipadukan dengan
mata pelajaran lain, sehingga terdapat internalisasi nilai-nilai
agama di setiap bahan ajar. Apalagi di jenjang pendidikan dasar,
ibaratnya sebagai momentum peletakan pondasi bangunan kepribadian
dan pengoptimalan seluruh potensi siswa.
Maka, agama menjadi
komponen paling penting dalam membentuk dan membangun kharakter
siswa.

Kurikulum pembelajaran.
Kurikulum bisa dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Dikarenakan
di dalamnya berisi tentang perencanaan pembelajaran yang menyangkut
semua kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik dalam
perkembangan, baik formal maupun informal guna mencapai tujuan
pendidikan. Walaupun penerapan kurikulum ini sudah diatur dan
diseragamkan dari pusat, tetapi pihak penyelenggara pendidikan dapat
melakukan modifikasi-modifika si disesuaikan dengan kondisi sekolah,
lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.

Dalam kebijakan kurikulum terbaru, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) sangat memberikan keleluasaan kepada pihak sekolah
(negeri maupun swasta) untuk berkreasi dan berinovasi selama masih
mengacu kepada standar kompetensi yang ditentukan.

Maka, sangat dimungkinkan akan terjadi kompetisi di antara sekolah-
sekolah, tentang bagaimana menampilkan profil sekolah dan keunggulan-
keunggulannya dalam hal muatan materi pembelajaran dan kegiatan
sekolah. Oleh karena itu, orang tua dan calon siswa harus benar-
benar jeli dan teliti dalam memilih sekolah terutama pertimbangan
dari sisi kurikulum yang diterapkan sekolah tersebut.

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah juga
perlu dicermati, apakah dimungkinkan dapat mengoptimalkan bakat dan
potensi peserta didik.

Profil Pendidik.
Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan tidak dapat
dilepaskan dari andil guru. Boleh dikatakan guru sebagai ujung
tombak pendidikan untuk mencetak dan mengkader generasi penerus yang
didambakan. Apalah artinya kurikulum yang ideal jika tidak didukung
oleh pelaksananya, yaitu sumber daya manusia yang cakap.

Maka tidak heran, jika pemerintah terus-menerus berusaha
meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai program, mulai dari
penataran-penataran , beasiswa pendidikan dan sertifikasi guru.

Raka Joni (1980) mengemukakan adanya tiga dimensi umum yang menjadi
kompetensi tenaga kependidikan, antara lain:

(1) Kompetensi personal atau pribadi, maksudnya seorang guru harus
memiliki kepribadian yang mantap yang patut diteladani. Dengan
demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang
menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa,
tut wuri handayani.

(2) kompetensi profesional, maksudnya seorang guru harus memiliki
pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang studi yang diajarkannya,
memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses
belajar mengajar yang diselenggarakannya.

(3) Kompetensi kemasyarakatan, artinya seorang guru harus mampu
berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat
luas. Mungkin secara sederhana, ketika kita mengamati profil guru
sebuah sekolah, bisa dilihat dari riwayat pendidikan, pengalaman
mengajar, prestasi, penampilan, sikap dan gaya mengajar apabila
dimungkinkan.

Gedung dan fasilitas.
Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan
prasarana yang mendukung. Mulai dari bangunan fisik, ruang kelas,
taman, perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan kesenian,
arena bermain, kantin, perlengkapan kelas, sampai dengan alat peraga
edukasi yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan
teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah sekolah memiliki
fasilitas akses jaringan internet dan website sendiri, dimana setiap
stake holders dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya.

Hal ini, akan sangat membantu bagi orang tua untuk memantau
perkembangan putra-putrinya secara cepat tanpa harus secara fisik
datang ke sekolah. Dengan didukung sarana dan prasarana yang baik,
diharapkan semua peserta didik dapat belajar secara enjoy, nyaman,
dan betah. Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak,
sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan
siswa. Hal yang perlu diperhatikan juga mengenai rasio jumlah siswa
dengan luas ruangan kelas serta fasilitas pembelajaran yang lain.

Lokasi sekolah dan lingkungan.
Lokasi yang dimaksud dapat dipandang dari jarak sekolah ke rumah,
lingkungan sekitar dan sarana transportasinya. Bisa dibayangkan
seorang anak harus bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya
jauh. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena jarak yang
ditempuhnya memakan waktu yang lama. Belum lagi jika terjadi
kemacetan lalu lintas, bisa dimungkinkan sering terlambat pulang
maupun masuk sekolahnya.

Lalu kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman? Bagaimana ia bisa
mengembangkan interaksi dengan anggota keluarga lain di rumahnya?
Maka, faktor lokasi dan lingkungan ini hendaknya diperhatikan oleh
orang tua dan anak itu sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya.
Perlu dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di pusat
perkotaan atau keramaian dan yang berada di pinggiran atau lebih
dekat dengan suasana alam, semua memiliki plus-minus-nya.

Biaya pendidikan.
Barangkali bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini menjadi
pertimbangan paling utama dalam memutuskan sekolah yang dipilih,
terutama bagi masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah ke
bawah. Biaya pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum
terdiri iuran SPP, bantuan pembangunan/ gedung, seragam, buku,
praktikum dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah yang
dianggap favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan memasang
biaya pendidikan yang tidak murah.

Hal ini berkaitan dengan fasilitas pembelajaran dan program-program
unggulan yang ditawarkan. Namun yang perlu diingat bahwa, tingginya
biaya pendidikan yang diterapkan pihak sekolah hendaknya diikuti
juga dengan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu,
sebelum menentukan pilihan sekolah, orang tua diharapkan sudah mampu
mengukur kemampuan secara ekonomi tentang biaya pendidikan yang
harus dikeluarkan termasuk anggaran lain di luar program sekolah,
seperti uang saku, transportasi, perlengkapan sekolah dan lain-lain.

Ketertiban dan kebersihan sekolah.
Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib dan lingkungan
yang bersih tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran.
Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh,
penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan
yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu
dan kurang optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah harus
merasa senang dan betah seperti ketika berada di rumahnya sendiri
(feels like second home).

Lihat prestasi dan keberhasilan alumninya.
Kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih sekolah yang
ideal adalah prestasi dan profil output-nya. Sekolah yang baik,
selain unggul di dalam proses, juga unggul pada hasilnya. Seperti
telah diurakaikan di muka, yang disebut prestasi tidak hanya secara
akademik, tetapi juga non akademik baik siswa, guru maupun
institusinya.

Bagaimana perkembangan bakat dan potensinya, sikap, perilaku,
kemandirian, keterampilan dan keahlian lain yang mendukung.
Sedangkan Keberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah
dapat diterima di sekolah lanjutan yang kualitasnya baik serta
memiliki life skill yang cukup untuk mampu eksis di tengah
masyarakat.

Dari paparan di atas, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
orang tua dan anak di tengah euforia kebingungan mencari sekolah
yang ideal. Terlebih-lebih dengan diterapkannya sistem penerimaan
siswa baru (PSB) on line yang masih mengedepankan nilai akademik
(ujian nasional) di dalam proses seleksinya. Hal ini, tentu saja
membuat keresahan dan kepanikan tersendiri terutama bagi yang
nilainya di bawah atau pas-pasan.

Penulis berharap, kedepan sistem seleksi penerimaan siswa baru yang
sekarang ini berlaku perlu dikaji secara mendalam, bukan komponen IT-
nya (sistem on line), tetapi kriteria yang dijadikan alat
penerimaan, yaitu hanya nilai ujian nasional. Oleh karenanya, pihak
sekolah sendiri secara otonom yang dapat menentukan kriteria
penerimaan siswa baru di tempatnya, semoga!

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Email: redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let’s see here:
www.kabarindonesia.com

Ditulis dalam KAMU MAU TAHU? (dari berbagai sumber) | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Jangan Hanya Diam Pada Satu Tempat. Cari Ladang Lain Untuk Menanam

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Saya akan selalu membayangkan bagaimana kalau suatu saat ladang saya mengalami kekeringan dan tidak ada setetes air pun yang dapat menyegarkan pohon-pohon imajinasi saya sendiri ketika saya benar-benar ingin mengandungnya, ingin melahirkannya, ingin menimang dan mengayun-ayunkannya. Atau ketika ingin mendengarnya menjerit dan menangis atau berteriak ketika mulai melihat dunia nyata dari kandungan pikiran saya.

Hohoho… tentu saya akan sangat merindukannya, saat-saat dimana kelahiran imajinasi benar-benar dibutuhkan dan diinginkan. Tidak peduli siang atau malam, pokoknya saya akan betul-betul merana dan meradang kalau tidak mendengar jerit tawanya. Karena itu saya tidak ingin berdiam diri dengan hanya membuahi waktu dan menunggu kandungan yang entah kapan kontraksi terjadi, tidak ada yang pernah tahu pasti. Jalan satu-satunya adalah saya mencari banyak rahim untuk dapat melahirkan imajinasi-imajinasi, atau sebut saja ide kreatif. Ya memang harus begitu menurut saya, jika tidak, saya akan kesulitan untuk membuat sesuatu yang lebih baru lagi.

Memang pengalaman membuktikan tidak semua tanaman dapat tumbuh disetiap ladang. Dibutuhkan lebih dari sekedar kualitas tanah, keadaan cuaca, bibit dan pupuk yang digunakan. Insting yang baik pun menjadi salah satu pendukung untuk membuat pohon-pohon imajinasi dapat tumbuh berkembang dengan sangat subur dan menghasilkan bunga-bunga yang dapat menghiasi taman-taman kehidupan siapa pun yang menemukan atau yang menggunakan hasil dari imajinasi tersebut. Malah lebih baik dari itu, dicemooh. Mengapa ide yang dicemooh saya katakan lebih baik? Karena ide yang benar-benar brilian adalah mengundang pro dan kontra siapa saja yang baru pertama kali melihat atau mendengar hasil dari sebuah imajinasi. Dengan begitu imajinasi tersebut mendapat banyak sudut pandang, meluas, pro dan kontra dihadapkan kepadanya. Itulah kenapa tidak setiap pohon terkadang tidak dapat tumbuh dalam suatu keadaan, mungkin ia akan tumbuh lebih baik di tempat lain, terkadang sangat kokoh dan tegar di tanah gersang.

Lalu suatu waktu saya akan kembali melihat tanaman imajinasi saya sudah mulai layu, sekalipun saya agak sedih, tapi saya yakin setiap imajinasi tidak pernah mengenal jaman. Hanya orang-orang yang mengatakannya demikian, saya tidak. Ketika imajinasi yang layu, kuning, kemudian jatuh ke tanah. Saya ibaratkan itu adalah pupuk yang memberi nutrisi untuk kehidupan imajinasi-imajinasi lainnya, memberi kesempatan untuk bisa berkembang dan ikut menyemarakkan dunia barunya.

Lha, memangnya ada apa yang selamanya bertahan terus. Kan nggak juga ya, nggak mesti harus begitu. Bulan saja terus berotasi dengan bumi dan matahari, memang ada yang melihat bulan selamanya bulat, atau selamanya sepotong. Hah, monoton sekali kalau tampang bulan selalu yang itu-itu terus tidak ada pergantian cahaya dan bentuk. Saya saja mungkin akan terheran-heran kalau selama beberapa waktu melihat bulan dengan bentuk yang itu-itu saja.

Atau begini. Ketika suatu kali saya kehabisan uang, dan saya tahu tidak mungkin mencari tambahan lain kecuali berhutang. Namun ada satu kendala, setiap saya berhutang, saya berhutangnya dengan orang yang itu-itu saja sepanjang bulan. Gali lubang tutup lubang hanya kepada satu orang saja. Sedang tanggal menerima gaji pun masih diawang-awang. Betapa malunya saya ketika setiap kali datang kepada orang tersebut, kalau bukan untuk berhutang yang bayar hutang. Waktu bertemu pun selalu bertajuk sama setiap saya berpapasan muka. Sementara waktu untuk bersilaturahmi menjadi tersisihkan karena permasalahan hutang piutang tersebut. Meski saya selalu malu, tapi saya menjadi berpikir dua kali lebih keras dari biasanya. Kalau bukan gara-gara hutang saya kepada dia belum tentu saya dapat bersilaturahmi dengan dia secara kontinu, meski hanya selama uang gajian masih berada ditangan saya. Tapi itu tidak menutup pemikiran yang demikian baiknya dari masalah perhutangan saya dengan orang tersebut. Jadi kabar baiknya, seburuk apa pun pandangan seseorang tentang suatu hal kalau dibarengi dengan pikiran yang jernih dan positif tentu hasilnya akan positif pula, malah kemungkinan yang lebih baik lagi.

Akhirnya saya pun mencoba menenangkan diri yang ringkih dengan segala kekurangan ini dengan tidak melakukan apa-apa, berdiam diri sambil mengingat-ingat kesalahan lalu dan mencoba sedikit bijak untuk menguranginya. Karena tidak mungkin saya bisa menghilangkan segala kesalahan-kesalahan yang ada pada diri saya karena sangat tidak manusiawi sekali sebagai manusia. Lho, bukan sudah kodratnya manusia dilengkapi dengan segala kebaikan dan keburukan-keburukannya, menghilangkan salah satunya berarti menghilangkan kodratnya sebagai manusia. Bukankah itu sangat tidak manusiawi sekali. Karena itu saya sebagai manusia hanya bisa mengurangi tanpa membunuh kekurangan saya sebagai manusia. Sekedarnya saya berdamai dengan diri sendiri, baik yang mengalami kekurangan maupun yang mengalami kelebihan-kelebihan akan kebaikan. Jadi pula saya bisa sedikit tersenyum lepas manakala hal itu tidak mengganggu saya untuk meneruskan kehidupan yang belum menemui akhirnya ini, dan sebaik mungkin menjalani dengan sungguh-sungguh. Akhirnya dimanapun pohon imajinasi saya letakan semoga ia dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya dan dapat menghidupkan pikiran banyak orang, atau setidaknya untuk diri sendiri dahulu. Dengan begitu akan lebih banyak waktu untuk bermenung-menung kembali sampai larut.

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Organisasi Masyarakat Sipil dan Nilai-Nilai yang Diusungnya*

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Oleh : Sawaludin Permana

Masyarakat sipil, yang menurut definisi CIVICUS (sebuah aliansi internasional berkedudukan di Johannesburg, Afrika Utara), sebagai sebuah arena, di luar keluarga, negara, dan pasar, di mana orang-orang berkelompok untuk mendorong kepentingan bersama (CIVICUS, 2003). Arena tersebut dimaksudkan sebagai ruang dalam masyarakat di mana individu-individu bertemu, berkumpul, berdiskusi dan berdebat untuk mempengaruhi perkembangan masyarakat yang lebih luas. Arena menekankan pada pentingnya peran masyarakat sipil dalam memeperluas ruang publik di mana berbagai kepentingan dan nilai-nilai masyarakat bertemu. Arena juga tidak membatasi masyarakat kepada organisasi-organisasi formal tetapi juga kelompok-kelompok atau jaringan-jaringan informal di masyarakat. Karena dengan berkelompoklah kekuatan utama dari masyarakat sipil mampu membangun inter-aksi dan inter-relasi antara satu dengan yang lain. Sedangkan kepentingan bersama diartikan secara luas yang dapat berupa promosi nilai, kebutuhan, identitas, norma, dan aspirasi-aspirasi lainnya. Kelompok-kelompok tersebut biasanya disebut Organisasi Masyarakat Sipil (OMS).

Dalam berkelompok, biasanya mereka mengusung nilai-nilai yang menjadi kegiatan mereka untuk mengembangkan masyarakat yang ada dilingkungannya, bahkan dapat bergerak secara luas. Nilai-nilai yang diusung, dipraktekkan dan dipromosikan oleh masyarakat sipil, di antaranya:

a. Demokrasi

Seiring dengan momentum demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang ini, kalangan OMS semakin aktif mempromosikan demokratisasi baik pada level negara/kepemerintahan maupun pada level masyarakat. Upaya pada level negara terutama dilakukan dalam bentuk advokasi dan dialog untuk mempengaruhi agar proses dan substansi setiap kebijakan pemerintah selalu didasarkan atas dua prinsip demokrasi (partisipasi dan akuntabilitas). Kalangan OMS menuntut agar dalam setiap proses pembuatan undang-undang melibatkan partisipasi kelompok-kelompok dalam masyarakat. Di tingkat pemerintahan daerah (kabupaten/desa) sejumlah OMS aktif mempromosikan democratic local governance (tata pemerintahan lokal yang demokratis) dengan berbagai kegiatan untuk mempengaruhi proses dan substansi peraturan daerah/desa agar lebih partisipatif dan berorientasi kepada kepentingan rakyat, melakukan kontrol terhadap pemerintah, daerah dan sebagainya.

Pada tingkat masyarakat kalangan OMS memperjuangkan hak rakyat memperoleh informasi, terciptanya pengadilan yang bersih dan tidak memihak. Kalangan OMS juga aktif memberikan pendidikan demokrasi kepada masyarakat. Berbagai jenis pendidikan diberikan seperti dalam bidang civic education (pendidikan kewarganegaraan), pendidikan hak-hak politik rakyat dalam pemilu berbentuk voter education (pendidikan tentang pemilihan suara), pendidikan HAM, pendidikan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, mempromosikan toleransi dan pluralisme, resolusi konflik, dan sebagainya.

b. Transparansi

Era reformasi di Indonesia telah memunculkan sejumlah OMS yang secara khusus menaruh kepedulian terhadap transparasi lembaga-lembaga pemerintahan dan perusahaan, yang dikenal sebagai “watchdog organization”. Meskipun jumlahnya secara absolut tidak pasti, banyak pengamat setuju bahwa terdapat tidak kurang dari 50 OMS yang bergerak di sektor transparasi dan anti korupsi.

Konferensi INFID (the International NGO Forum on Indonesian development) tahun 1999, misalnya, mencatat 43 LSM sebagai peserta yang menandatangani pernyataan mengenai korupsi. Masyarakat transparasi Indonesia (MTI-Indonesian Transperacy Society) mengidentifikasi 40 LSM di seluruh Indonesia yang secara khusus menaruh kepedulian dengan transparasi dan anti korupsi (Holloway, 2002). Untuk membangun interaksi dan komunikasi antara ornop anti-korupsi pada tahun 1999 didirikan GERAK (Gerakan Nasional Anti Korupsi-Anti Corruption National Movement) yang terdiri dari 27 organisasi yang aktif dalam inisiatif-inisiatif anti korupsi dari berbagai propinsi di Indonesia.

c. Toleransi

Sejumlah OMS Indonesia menempatkan promosi toleransi sebagai bagian dari kegiatan pokok mereka. Survey organisasi peacebuilding (Faqih, 2002) menemukan bahwa 129 (27%) dari 465 OMS yang disurvey menyatakan bahwa mempromosikan toleransi dan pluralisme dalam masyarakat merupakan salah satu dari lima kegiatan yang mereka lakukan dalam dua tahun terakhir (2000-2002).

d. Anti Kekerasan

Masyarakat Indonesia pada umumnya aktif dalam mencegah kekerasan dan mendukung inisiatif resolusi konflik . survey terhadap 465 organisasi Peacebuilding (Faqih, 2002) menemukan beragam kegiatan yang dilakukan OMS berhubungan dengan promosi perdamaian dan tanpa kekerasan. Antara lain 161 di antaranya melakukan kegiatan memfasilitasi dialog antara berbagai golongan dalam masyarakat, 124 melakukan penelitian dan analisa konflik, 99 mempromosikan rekonsiliasi, negoisasi dan mediasi, 85 melakukan pendampingan terhadap korban trauma, 59 melakukan jurnalisme perdamaian/strategi perdamaian melalui media, dan 49 OMS melakukan kegiatan pembangunan dan pengembangan masyarakat di daerah konflik/rehabilitasi daerah konflik.

e. Kesetaraan Gender

Sejak berlangsungnya the Forth World Conference on Women di Beijing pada tahun 1995, telah lahir puluhan OMS yang didirikan oleh aktivitas kaum perempuan yang menempatkan kesetaraan gender sebagai aktivitas utama. Mereka memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai hak-hak perempuan dan kesetaraan gender serta membela hak-hak kaum perempuan. Sejumlah OMS perempuan juga membela berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan termasuk kekerasan dalam rumah tangga, mendirikan women crisis center ataupun melakukan berbagai income generating activities untuk kaum perempuan.

Komitmen kalangan OMS untuk mempromosikan kesetaraan gender di kalangan masyarakat juga mulai tumbuh. Sebagian program dan aktivitas yang dilakukan OMS telah memasukkan komponen/pendekatan “gender mainstreaming” sebagai suatu strategy to attain gender equility and equity (strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender). Salah satu prestasi penting yang diraih gerakan perempuan Indonesia adalah disahkannya UU No.23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.

f. Pengentasan Kemiskinan

Sebagai negara miskin yang sedang membangun sejak awal dasawarsa 1970-an, LSM-LSM aktif dalam kgiatan-kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi berbasis masyarakat. LSM-LSM ini menyelenggarakan berbagai aktifitas yang mencakup program-program pengurangan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat miskin lainnya.

Ketika terjadi krisis ekonomi yang parah (pertengahan 1997) dan jumlah orang miskin yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat dua kali lipat, tidak kurang dari 27 LSM pembangunan mendirikan community recovery Program (CRP) atau program pemulihan masyarakat. CRP ini melaksanakan social safety net yang bertujuan untuk membantu kaum miskin di kota dan desa yang sangat menderita sebagai dampak krisis.

Pada tingkat advokasi sekurang-kurangnya ada dua jaringan OMS yang menaruh kepedulian terhadap masalah-masalah kemiskinan yang dihadapi rakyat Indonesia. Yakni Kelompok Kerja Indonesia untuk Kemiskinan Stuktural (KIKIS) dan Gerakan Anti Pemiskinan Rakyat Indonesia (GAPRI). Keduanya mendesak pemerintah untuk menerapkan strategi pembangunan untuk melawan kemiskinan dan pemiskinan struktural yang dihadapi rakyat Indonesia.

g. Keberlanjutan Lingkungan

Isu pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup sesungguhnya sudah menjadi kepedulian LSM Indonesia sejak awal dekade 1980-an. Sejalan dengan UU No.4 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup, salah satu hal yang sangat penting dari UU tersebut adalah diakuinya peran LSM dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. Jumlah dan ragam LSM yang bergerak dalam lingkungan hidup pun semakin meningkat dengan melaksanakan berbagai peran, antara lain pertama, membantu masyarakat dengan program-program pengembangan lingkungan hidup seperti kehutanan masyarakat, pertanian lahan kering, pengembangan tanaman obat, penyelamatan danau dan rehabilitasi lahan kritis, penanaman bakau, dll.

Kedua, melaksanakan program peningkatan kesadaran masyarakat dan membangun kapasitas untuk meningkatkan kualitas sumberdaya alam oleh masyarakat itu sendiri yang pada gilirannya akan meningkatkan keswadayaan mereka. Dan ketiga, melakukan advokasi untuk mengingatkan pemerintah dan sektor swasta mengenai masalah pencemaran, kerusakan lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati yang disebabkan pengelolaan yang salah oleh pemerintah dan kalangan industri.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, advokasi LSM lingkungan banyak ditujukan untuk mendorong pemerintah agar merubah kebijakan dan regulasi dengan menempatkan konsesi dan kesejahteraan masyarakat ke dalam wacana paradigma pembangunan.

Dari semua nilai-nilai yang diusung oleh OMS dalam mengembangkan posisinya dengan lingkup yang lebih luas lagi, pada umumnya adalah membantu dan mengajak masyarakat untuk ikut berperan serta dalam memahami permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan mereka agar dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Akan tetapi diakui bahwa OMS, karena keterbatasan dana yang dimilikinya, mempunyai jangkauan kegiatan yang bersifat lokal dan dalam skala kecil dibandingkan dengan pemerintah yang mampu melaksanakan program pembangunan dengan skala besar dan bersifat nasional. Ini menyebabkan bahwa sesungguhnya tidak banyak rakyat Indonesia yang pernah mendapatkan dan mengenal program-program yang dilaksanakan OMS.

* Tulisan ini merupakan rangkuman Draft country report: Masyarakat Sipil Indonesia 2006 Suatu Laporan Mengenai Indeks Masyarakat Sipil untuk Republik Indonesia yang ditulis oleh Rustam Ibrahim. Merupakan proyek Indeks Masyarakat Sipil (IMS) yang diselenggarakan oleh YAPPIKA (Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi) dengan dukungan dana dari ACCESS (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Sceme)/Ausaid dan partnership Program for Development and Civil Society/CIDA mulai bulan Oktober 2005 s/d Juni 2006.

Daftar bacaan :

- Faqih, Mansour, Indonesian Peacebuilding Directory, Jakartra, CRS & Cordaid, 2002.

- Holloway ed, Richard, Stealing form the People: 16 Studies of Corruption in Indonesia, Book 4, “The Clampdown: In Search of New Paradigm”, Jakarta: Partnership for Governance Reform in Indonesia, 2002.

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Komentar »

RELAWAN: ”Mengembangkan Dunia dengan Sukarela”

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Februari 2008

Irfan (29th) sejak enam bulan lalu sudah menjadi seorang relawan pada sebuah lembaga yang bernama KAPETA (Karya Peduli Kita). Pagi, 5 Desember 2006, ia tengah mempersiapkan stand KAPETA besama beberapa teman-temannya pada acara peringatan hari relawan sedunia yang jatuh pada hari itu di JMC (Jakarta Media Center) Kebon Sirih, Jakarta. Seorang diantaranya sedang mempersiapkan audio visual untuk memperlihatkan beberapa film dokumenter yang mengisahkan orang-orang yang terlibat dalam penggunaan obat-obatan terlarang dan termasuk orang yang terjangkiti HIV/AIDS.

Pada auditorium di mana stand KAPETA berada, baju putih yang dikenakan Irfan tampak bercahaya. Belum lagi ia membalikkan badannya, sebuah pita merah menyilang pada dada sebelah kirinya. Lambang pita menyilang itu adalah simbol dari para aktivis yang memerangi penyakit HIV/AIDS dan tengah gencar melakukan penyuluhan mengenai penyakit tersebut dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Ketika dikonfirmasi, Irfan memang membenarkan bahwa lembaga di mana ia menjadi relawan, sangat aktif melakukan penyuluhan dan pembimbingan mengenai hal tersebut mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi dan lingkungan sosial lainnya. Ia juga menyatakan secara pribadi, bahwa menjadi seorang relawan dan peduli kepada orang lain sudah seperti panggilan jiwa, atau merupakan kebutuhan untuk merasakan penderitaan orang lain, dan menolong mereka meringankan beban yang dideritanya.

Kenapa ia memilih untuk menjadi aktivis yang memerangi penyakit HIV/AIDS, ia menerangkan kalau ia merasa prihatin akan penyebaran penyakit tersebut yang terus meluas. Itulah sebabnya ia ikut bersama KAPETA untuk bersama-sama melakukan penanggulangan penyakit tersebut dan terus aktif melakukan penyuluhan-penyuluhan.

Ketika ditanya menyangkut Hari Relawan Sedunia, yang kali kelima semenjak bulan November 1997 di Pertemuan Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa tahun 2001 sebagai Tahun Relawan Internasional, ia menjawab kalau selama ini cukup banyak kerja-kerja sosial yang dilakukan para relawan kurang dihargai, bahkan mungkin pemerintah sendiri. Ia juga menyayangkan di hari Peringatan Relawan Sedunia ini, tidak adanya aksi-aksi langsung kepada masyarakat dari relawan.

“Pada hari di mana relawan dan kerja-kerja relawan dihargai, seharusnya relawan itu melakukan aksi-aksi sosial, tapi nyatanya tidak,” ungkapnya serius.

Hal itu pun dibenarkan oleh Muhammad Budi Wirdiyanto (27th) seorang relawan dari GE (General Electric) Community. Ia mengatakan, seharusnya pada peringatan Hari Relawan Sedunia relawan-relawan setempat atau relawan pada suatu lembaga melakukan aksi bakti sosial bagi lingkungan mereka, entah itu melakukan kerja bakti oleh mereka, menanam pohon, atau melakukan apa pun yang positif bagi masyarakat di sekitarnya. Justru pada hari itulah kerja-kerja sosial mereka dapat dilihat secara nyata sekaligus menguatkan eksistensi dan menjelaskan peran mereka sebagai relawan kepada masyarakat.

Dalam kesempatan memperingati Hari Relawan Sedunia, Muhammad pun menginginkan bahwa setiap relawan di lembaga-lembaga apa pun dapat bekerja sama dan dapat saling bertukar informasi dan pengetahuan untuk membangun jaringan relawan yang lebih luas lagi.

Lain halnya dengan Adi (24th) seorang mahasiswa yang mengunjungi acara peringatan Hari Relawan Sedunia, ia mengungkapkan keberadaan relawan cukup signifikan dalam mendorong kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang memberdayakan relawan-relawannya. Ia juga mengatakan peringatan tersebut juga dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi atas hasil kerja-kerja mereka sebagai relawan, membuat rencana-rencana baru untuk kerja-kerja selanjutnya, dan mendorong mereka untuk terus berkarya dan bekerja demi kehidupan yang lebih baik lagi.

Hal ini pun mengingat perkataan Mr. Cristopher Paul Wilson, Programme Officer di United Nation Volunteers (UNV) Indonesia, ketika membuka acara tersebut bahwa kesukarelawanan merupakan cara yang paling efektif dalam mengembangkan dunia di era milenium.(swl)***

tulisan ini pernah dimuat di situs yappika.or.id

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »