Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘BUDAYA’

Purnama di Kampung Mah Tong

Ditulis oleh permanas di/pada 4 November 2009

Sawaludin Permana

Musim gugur baru saja mengetuk. Daun-daun mati warna coklat tua berserakan dan akhirnya kembali mengarungi udara kosong, menemui tempat lain yang kering dan gersang. Baru saja pohon-pohon itu melepaskan keteduhannya, sekarang ia telanjang dan ranting-ranting mencakar langit. Burung yang singgah dan lelah itu tidak akan pernah kembali lagi. Kesepian cuma sebuah awal dari keterasingan yang sangat menakutkan, atau ketakutan itu yang kesepian.

Lalu, ada perempuan menyendiri mendiami tempat sunyi setelah tahu ia tidak bisa melihat untuk kedua kali. Apa yang dilihat cuma gelap, tatapan yang terbuka kelopaknya itu kosong, sinarnya pergi jauh. Ia tahu musim gugur telah sampai di telapak kakinya tapi tidak tahu keindahannya. Ingin mengerti kalau sesuatu yang pergi itu adalah untuk membiarkan yang baru lahir. Ia menatapnya, tapi kosong. Biar jendela terbuka, ia hanya merasakan angin saja, tidak mampu melihat sesuatu bergerak dengan gemulai.

“Aku tahu, aku tidak mampu melihat kembali apa-apa yang dilukiskan dunia sekarang ini, aku tidak tahu lagi apa yang membuat burung-burung menyanyi atau daun-daun bergemerisik. Lagunya hanya mampu kudengar tapi tidak tahu di mana ia menyanyi atau desirnya mengayun. Haruskah aku meratapi apa yang sudah hilang. Tidak, aku tidak sebodoh itu. Sekarang yang menuntunku hanya tangan kurus dan hanya diam memandang jendela yang aku tidak tahu apa yang sedang dilukisnya kepadaku. Aku tidak tahu,” kata Marai, rambut panjang terlepas dan jatuh mengikuti pundaknya. Wajah Marai pucat, tangannya gemetar, dingin. Baju putih yang dikenakannya seakan tenggelam bersama dirinya, jauh dari jendela. Marai seperti lukisan mati dalam bingkai yang lusuh dan tidak bercahaya.

“Waktu cahaya itu pergi dari pandanganmu bukan berarti kau tidak layak lagi meneruskan hidup, bukan berarti lentera yang kau pegang telah padam. Meski tak dapat melihat, lentera yang ada padamu akan mampu menerangi yang lain dalam gelap. Kau masih sanggup menuntun dirimu sendiri,” ucap Nang Anai ketika ia membuka pintu kamar Marai dan mendengar kata anaknya. Hati perempuan tua itu miris, meski ia tidak tahu harus berbuat apa, Nang Anai hanya mampu membesarkan hati Marai. Nang Anai merasa, hanya karena gelap, bukan berarti tidak ada cahaya bersembunyi di baliknya. Marai masih saja memandang ke luar jendela.

“Bilang, Nang, kenapa ini yang harus terjadi? Bilang, Nang, bilang,” kata Marai lagi sambil menangis. Nang Anai tidak mampu bicara dan melihat Marai menjatuhkan dirinya ke lantai meratap sejadi-jadinya. Nang ingin menghampiri, kakinya terpaku pada lantai, ia tidak sanggup melangkah untuk mengangkat kepala Marai. Perempuan tua itu hanya mampu memandangi Marai melelehkan airmatanya pada lantai kayu.

*** ***

Malam terang bulan. Saat itu kampung Mah Tong baru saja merayakan panen besar, para penduduk baik tua maupun muda saling berbaur pada alun-alun kampung dan keramaian itu diisi dengan puji-pujian dan nyanyi riang saling bercampur dengan tawa anak-anak.

Di antaranya ada Marai, gadis belia itu dengan semangat menyala melingkar bersama gadis-gadis lainnya dalam tarian mengelilingi api unggun. Tarian dipersembahkan kepada Dewi Kesuburan dan Dewa Hujan agar keberkahan yang mereka rasakan akan tetap berlanjut sampai tahun-tahun mendatang, menjauhkan petaka dan bencana dari kampung Mah Tong dan penduduk serta tanahnya yang subur membentang sampai ujung bukit.

Ada satu pasang mata terus menguntit gerak Marai ketika ia melepaskan senyumnya dengan mata berbinar saling memberi kehangatan dalam lingkaran yang tak pernah terputus selama tarian itu melingkari api unggun. Satu mata itu tidak akan pernah lepas lagi, ketika Marai sadar ada yang menguntit geraknya sejak tadi, lalu segera membalas pandangan itu dengan kehangatan yang sama, malah lebih membakar dari api di hadapan Marai. Ia tahu, ada sesuatu di antara batas yang perlahan mulai terjalin dan akan terus membentuk rajutan-rajutan halus membentang di antara mereka. Gelap kemudian berbaur dengan tubuh Marai

Jung terlihat bingung, menyusup di antara desakan-desakan keramaian yang menyembunyikan pandangannya terhadap Marai. Seakan kumpulan keramaian itu sengaja menculik Marai dari Jung, meski Jung terus menyusup dan membelah kumpulan itu. Jung hampir jatuh, tapi ada tangan halus segera menggapai tangannya. Jung terperangah mengetahui siapa yang menggenggam tangannya dengan lembut dan ramah, sama seperti senyuman dan sebaris gigi putih bersih, membuat Jung tersihir.

“Kau pandang aku begitu lama, sekarang luluhkan hatiku,” kata Marai setelah Jung sudah berdiri dan mereka berhadapan. Sama seperti adat yang biasa dilakukan di kampung Mah Tong, setiap laki-laki yang menyukai perempuan dan membuatnya jatuh hati maka laki-laki itu harus menyusun serangkaian kata untuk dapat meluluhkan perempuan yang disukanya agar dapat sampai ke dalam pelukannya. Tapi sebelum itu ia harus menaklukkan hati sang gadis.

“Apa yang harus aku katakan lebih jauh. Tanpa aku mengatakannya, kau sudah membuatku tenggelam dalam pandangan yang membakar, tapi kau tidak membuatku menjadi arang. Kau malah menghidupkanku lebih jauh dari sekarang,” balas Jung.

“Kalau begitu kau harus lebih berusaha agar dapat meluluhkan hatiku,” balas Marai dan pergi meninggalkan Jung dikeramaian.

“Apa ini berarti kau menyuruhku untuk mendapatkanmu. Ah, bodohnya aku tidak menanyakan siapa namanya. Oh, bodohnya aku,” bisik Jung dalam hati mengetahui kesempatan baik baru saja lepas dari genggamannya.  “Ahahahahaha…..! Aku jatuh cinta!” akhirnya kata Jung seakan ingin memberitahukan perasaannya kepada dunia dan meneriaki telinga malam. Itu hal biasa di kampung Mah Tong. Pasti dalam setiap keramaian, beberapa pasang muda-mudi bertemu pasti akan meneriaki kata yang sama, mereka jatuh cinta kepada apa yang telah membakarnya dan lupa kepada sekelilingnya, bahkan kepada diri mereka sendiri, termasuk Jung.

“Jung, ia selalu saja begitu,” kata seseorang yang melihat berlari serupa orang kesurupan dan menabraki orang-orang.

“Ya, musim ini bagus. Selain panen melimpah, banyak orang muda jatuh cinta. Seperti Jung, tapi ia lebih bahagia dari yang lainnya,” sambung orang tua lain lagi ketika melihat Jung sudah hilang dari matanya.

“Pemuda beruntung. Tapi siapa gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta seperti itu. Semoga saja bukan gadis-gadis seberang yang menyusup ke sini. Jika begitu, itu petaka baginya, juga bagi kita.”

“Siapa yang tahu selain Jung sendiri. Yang pasti malam ini banyak berkah terlimpahkan pada kampung kita.”

“Ya, ya, aku setuju satu hal, mungkin aku juga akan jatuh cinta.”

“Kau sudah tua. Mau kau kemanakan perempuan tua yang menemanimu sejak masa gadisnya telah kau lamar, he?”

“Tua bukan berarti tidak bisa merasakan jiwa muda sedang dirundung cinta. Aku ingin merasakan sekali lagi sebelum sesuatu terjadi padaku.”

“Aku janji akan mengantarmu ke kuburmu, tentu itu tidak akan kulewatkan dalam sejarah hidupku.”

“Begitu juga aku,” dan kata-kata itu pun saling melengkapi sampai keceriaan dan tawa membius mereka sepanjang malam.

*** ***

“Pagi ini ladang menungumu, Jung, cangkul itu harus kau tajamkan sekali lagi, sabit itu harus kau ayunkan tinggi-tinggi. Rumput telah menantangmu,” kata Nang Mhak.

“Nanti saja,” jawab Jung pelan. Sepagian itu Jung masih saja bermalas-malasan bersandar pada tiang kayu dan menggantungkan kakinya. Menantang cahaya matahari.

“Jung, kau tidak ke ladang?” panggil Phak ketika ia melintas di depan rumah Jung.

“Kau saja duluan, aku menyusul,” jawab Jung.

Yang mengganggu pikiran Jung sekarang adalah seorang gadis yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu, yang telah membuatnya jatuh hati karena senyuman dan permintaan meluluhkan hatinya kepada Jung. Sayang, Jung lupa menanyakannya.

“Jung, lekaslah pergi ke ladang. Hari sudah terlampau siang,” bujuk Nang Mhak lagi.

“Baiklah,” jawab Jung seakan berat untuk bangun dan menggapai cangkul di dekat tiang. Berjalan menuruni tangga pun dirinya seakan melayang tanpa tujuan.

Dari jauh, baru Phak saja mengayunkan cangkulnya di sana. Jung menghampiri Phak yang masih saja mengayunkan cangkulnya, Phak menoleh sebentar hanya untuk melayangkan senyum tipis, cara khas menyalami orang di kampung Mah Tong. Jung membalas senyum itu sambil duduk. Di antara tanah-tanah kosong, setelah pesta panen, sekarang juga sekosong hati Jung.

“Kau tidak ingin melepaskan cangkulmu barang sebentar, Phak?” tanya Jung akhirnya.

“Bukankah kau seharusnya segera memegang batang cangkul itu dan menghujamkannya pada tanah yang basah ini?” Phak malah balik bertanya.

“Aku belum ingin.”

“Kenapa?”

“Oh, Phak, sekarang ini kau seorang laki-laki dewasa. Kita besar bersama, bermain bersama, bertengkar dan baik lagi secara bersama-sama. Tapi kau masih tidak tahu juga?”

“Kau yang bodoh, bagaimana aku tahu kalau kau tidak beritahu aku,” balas Phak dan tetap sambil mengayunkan cangkulnya.

“Aku jatuh cinta, Phak. Temanmu ini sedang jatuh cinta,” jawab Jung sambil memegang dada dengan kedua tangannya seakan membanggakan perasaan yang sedang dirundungnya kepada Phak.

“Hah, hanya itu. Jatuh cinta,” sambung Phak tanpa ekspresi apa-apa.

“Ya, aku jatuh cinta,” kata Jung lagi membanggakan.

“Kepada siapa kau jatuh cinta kalau begitu?”

“Aku tidak tahu. Setidaknya aku mengenalinya dan akan aku cari lebih jauh tentangnya.”

“Ke mana kau akan cari tahu kalau kau cuma mengenalinya dalam gelap dan samar. Hah, aku rasa kaulah yang bodoh. Cinta memang membuat siapa saja berlaku bodoh,” kata Phak lagi.

“Setidaknya aku mencintai seorang gadis, itu yang tetap membuatku tetap waras.”

“Waras kalau kau menemui cinta yang  waras pula. Sekarang, aku rasa, kau sedang tidak waras, Jung.”

“Karena aku sedang jatuh cinta. Dan sekarang, biarkan aku sendiri untuk menikmati apa yang ingin aku rasakan. Mungkin aku akan menemukannya dalam mimpi,” jawab Jung dan meninggalkan Phak sendiri dengan cangkulnya.

“Aku tidak akan mengganggu, malah kau yang menganggu pekerjaanku sekarang. Kapan kau akan mengayunkan cangkulmu, Jung,” tanya Phak lagi.

“Nanti, Phak, nanti. Dalam mimpi.”

“Tidak dalam mimpiku.”

“Yah, tidak juga dalam mimpiku,” jawab Jung dan akhirnya sekarang Jung meninggalkan Phak yang sudah penuh keringat. Jung semakin jauh berjalan, ia masih saja mendukung cangkul di pundaknya dan tidak tahu kalau ia semakin jauh dari ladangnya.

*** ***

Pada sisi lain di kampung Mah Tong, ada sebuah sungai mengalir sejak lama di dataran itu. Dulunya sungai kecil dan tenang itu adalah parit yang disediakan untuk menjebak pihak lawan yang bersebrangan. Di bawahnya tertancap banyak bambu runcing siap melumat siapa saja yang terperosok. Ketika perang pecah, parit itu telah penuh dengan tubuh-tubuh beku dan darah membanjiri tanah dalam parit karena terlalu banyaknya tubuh terperosok. Hujan mengguyur deras mengisi celah parit sehingga membelah kampung Mah Tong menjadi dua bagian. Parit yang dulunya banjir oleh darah dari tubuh yang saling bermusuhan, sekarang berubah menjadi aliran sungai yang jernih. Ketenangannya memendam sejarah pahit dan cerita yang terus mengalir sejauh aliran itu akan bermuara. Sungai itu terlalu panjang untuk mencari pelabuhannya hingga tidak ada lagi yang ingin memikirkan terlalu jauh.

Sekarang, keheningan sungai itu diisi oleh tembang-tembang yang dinyanyikan oleh gadis-gadis yang mencuci pakaian dan merendam diri mereka dalam aliran sungai tersebut. Salah satunya adalah Marai, ia merendamkan tubuhnya di sana sambil ikut mendendang bersama dengan yang lainnya.

“Semalam memangnya kau pergi ke mana, sampai seisi kampung mencarimu, Marai?” tanya Ahm ingin tahu.

“Aku hanya ingin mencari suasana baru saja.”

“Tidak lainnya?” tanya Nhak sambil mendekati Marai.

“Aku ada bersamanya,” Sambung Mai tersenyum menggoda Marai. “Kami pergi ke pesta panen di kampung seberang, meski itu melanggar peraturan adat. Tapi kan kita tidak ketahuan. Semalam, aku lihat ia berhadapan dengan seorang pria gagah dan tampan,” tambah Mai lagi.

“Wah, benarkah seperti itu, Marai? Betapa beruntungnya kau bertemu dengannya. Apa kau mengatakan kepadanya untuk meluluhkan hatimu” tanya Ahm lagi. Marai semakin tersipu.

“Aku bilang seperti yang kau bilang, Ahm,” jawab Marai sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam air. Mendengar jawaban Marai yang lainnya semakin memandang satu sama lain, lalu mereka tertawa bersama-sama.

“Kau benar-benar gadis nakal, Marai,” kata Nhak ketika Marai sudah menyembulkan kepalanya dari dalam air sambil kembali menyiramkan air kepada Marai.

“Betapa beruntungnya pria itu,” kata Mai mencoba membayangkan bagaimana rupa wajah pria yang telah membuat Marai merasa seperti itu.

“Kau memang sungguh gadis nakal,” ulang Ahm menggoda.

“Sayangnya aku tidak tahu siapa dia,” jawab Marai dan itu membuat teman-temannya diam mendengar perkataan Marai yang terakhir itu.

“Kalau kau bersikeras, kau akan bertemu dengannya kelak,” bisik Nhak dan meneruskan nyanyinya sendiri.

*** ***

Ada dendang kecil dinyanyikan Marai di depan jendela kamarnya, ia melihat bulan itu sudah bulat penuh. Bayangan sinarnya seperti lentera redup. Marai tidak tahu apakah hatinya senang atau sedih. Ia jatuh cinta, tapi tidak tahu kepada siapa. Marai mendendang menunggui malam, atau menunggu ada yang menjemputnya. Ia ingin tidur tapi tidak bisa.

“Sayang, aku ingin berhenti berdendang dan langsung melelapkan pikiranku dan menemani tikar itu agar tidak merasa dingin. Aku ingin, tapi juga tidak ingin menghentikan dendang ini. Ataukah aku sedang merindu,” bisik Marai kepada dirinya sendiri di depan jendela yang menghadap kepada bulan dan malam yang kelam. Kamarnya meredup.

*** ***

Jung gelisah. Dalam tidurnya ia berada dalam sebuah pertempuran, Jung lihat sungai itu mengalir di antara bukit yang membelah kampung Mah Tong berubah kembali menjadi parit-parit. Jung mendengar banyak teriakan, kesakitan dan semangat yang membakar mereka untuk mengayunkan pedang. Ada satu wajah dikenali Jung lewat cerita ibunya, akrab dengan pikirannya dan tatapan itu begitu hangat, ia ingin berteduh di antara kelopak mata itu, atau Jung akan menghampiri dan mendekap erat tubuh itu. Jung berlari, ia ingin mendekat, wajah dan tubuh itu ingin dipeluk Jung. Sayang, sebelum tangan Jung sampai, tubuh itu telah terhempas jatuh ke dalam parit, sebilah pedang menyerempet tubuh itu dan melemparkannya ke dalam parit. Jung ingin menggapai dan meraih tangan yang mengembang kepadanya tapi tidak sampai dan merelakan kehilangan tatapan yang hangat kepada dirinya.

Jung tidak sanggup menatap ke bawah, ia ingin pergi dari tanah pertempuran itu dan ingin menemukan kesunyian di tempat lain, tapi tidak dilakukan, sesuatu menariknya kembali, sebuah wajah yang juga dikenali Jung beberapa waktu lalu, tapi ia tidak tahu siapa namanya.

Jung menerobos setiap teriakan yang datang ke arah telinganya dan mendorong jauh tubuh-tubuh yang jatuh ke arahnya, ia kembali ke tengah tanah pertempuran. Ada yang masih berdiam di sana, ada kelembutan yang tidak bisa dibiarkan berada di tempat seperti itu, ia ingin mengajak pergi dan menggapai tangan itu dan ia akan mengajaknya pergi. Yang dilihatnya tadi terulang kembali, baru saja Jung ingin menarik tangan itu, ada bayangan melesat dan membuat tubuh itu kembali menghempas dan masuk kembali ke dalam parit-parit. Jung diam di antara teriakan-teriakan yang terus menjelma.

“Tidaaaaaaaaaak!” teriak Jung dan langsung bangkit dari tidurnya. “Apakah ini pertanda,” bisik Jung pelan sambil menelusuri mimpi yang baru di alaminya.

*** ***

Sejak pertemuannya dengan Jung, Marai selalu menyendiri dan tidak ingin lagi keluar rumah. Kali ini, Marai keluar rumah, berjalan sendirian melewati tanah luas dan sungai yang membelah kampung Mah Tong, menyebrangi batas yang seharusnya tidak boleh dilalui. Marai melanggar batasan tanah adat dan semakin jauh dari tempatnya. Ada yang melihat Marai menyebrangi sungai itu dan memberitahu Nang Anai serta tetua kampung Mah Tong agar segera menjemput Marai supaya tidak terjadi sesuatu yang bisa mencelakai Marai. Tapi itu sudah terlambat.

Marai semakin jauh menelusuri bagian lain dari kampung Mah Tong dan menemukan apa yang ingin ditemukannya. Jung menaruh cangkulnya perlahan, seperti sentuhan itu yang menyuruhnya dan membalikkan tubuhnya. Marai sudah ada di hadapan Jung dan ia tersenyum kecil.

“Kau lupa mencariku untuk meluluhkan hatiku,” kata Marai akhirnya setelah Jung tidak bicara dan ia hanya menatap Marai. Jung masih diam.

“Bagaimana seharusnya aku meluluhkan hatimu sementara aku yang lebih dulu jatuh cinta dan membiarkanmu seorang diri dan menunggu terlalu lama. Siapa namamu?”

“Marai, Ksatria. Kau seharusnya berjuang sejak aku menyuruhmu menaklukkanku, kau tidak seharusnya membuatku terlalu lama menunggu sampai aku mencarimu. Aku melawan semua demi kau menaklukkanku,” jawab Marai.

“Apakah aku….”

“Jangan tunggu lebih lama atau sesuatu akan bergemuruh seperti halilintar dan itu akan memisahkan kita. Badainya terlalu besar untuk kuraih dan kurenangi. Kau atau aku tidak akan sanggup. Haruskah aku mengorbankan semuanya demi orang yang kutantang untuk meluluhkanku. Jawabannya adalah, kau harus menaklukanku. Maka, bawa aku sekarang.”

Tapi itu sudah terlambat, beberapa orang dari pihak Jung mengetahui itu, melihat hal demikian, Jung ingin melawan, lembut tangan Marai mencegahnya dan mengisyaratkan untuk pergi saja dari badai yang akan menenggelamkan. Jung membatalkan niatnya dan mengajak Marai pergi dari tempat tersebut, mencoba menghindar dari arak-arakan. Jung tidak mengerti, ia sendiri pun tidak mengerti kenapa hal seperti ini harus dirintangi dengan adat seperti itu. Jung melawan apa yang seharusnya tidak dilawan, tapi ia menarik tangan Marai dan sekarang ia yang akan melawannya, bukan Marai yang akan melindunginya.

“Aku tidak bisa lagi melindungimu, Jung, kurelakan kau pergi dengan restuku. Aku tidak bisa membela kalian, sekarang pergilah,” kata Nang Mhak ketika Jung datang kepada ibunya sambil membawa Marai di hadapannya. Jung tidak menyesal, waktu seakan begitu cepat berkelebat. Jung pergi membawa Marai dengan restu ibunya. Tapi Jung tidak tahu apakah restu ibunya dapat menyelamatkan dirinya dan Marai atau tidak. Jung tidak pernah tahu sampai akhirnya Jung dicegah di tengah jalan oleh arak-arakan dari pihak kampung Jung.

“Kalian telah melanggar perjanjian yang seharusnya telah mendamaikan semua yang ada di sini, kalian telah melangkahi sumpah-sumpah yang telah ditulis dalam adat. Sekarang hukum kalian tidak lepas dari semua sumpah yang diucapkan di atas leluhur kalian sendiri dan kalian telah menginjak-injak bagai sampah,” kata salah seorang tetua.

“Apa arti semua itu, sumpah itu tidak dilanggar, malah semakin dihormati bila yang dibela adalah dua hati yang dipisah hanya karena hal itu,” jawab Marai.

“Kau telah dibutakan, maka kau akan kembali dengan hati yang gelap dan pandangan yang buta,” jawab salah seorang lagi dan melemparkan debu ke mata Marai, perlakuan itu membuat Marai tidak dapat melihat dan matanya terasa perih, ia tidak sanggup lagi melihat. Marai merasa buta, gelap dan perih.

Melihat hal itu, Jung langsung membela marai dan menggapai tangan Marai agar tidak jatuh. Namun Jung ikut terjatuh melihat Marai kehilangan kendali karena pandangannya menjadi gelap dan tidak bisa mengenali Jung lagi selain dari suaranya. Akhirnya Jung melihat kesempatan, sebilah pedang yang terikat di pinggang seseorang, Jung menyambarnya dan ia ayunkan kepada orang yang telah membutakan Marai.

“Kau tidak akan berbuat bodoh, bukan?” kata seseorang.

“Tidak ada yang bodoh dalam mempertahankan apa yang telah membuatnya mampu untuk mencintai. Kalianlah yang telah dibutakan,” jawab Jung. Matanya nanar menerobos kumpulan itu. Jung menyambarkan pedangnya ke segala arah, hampir mengenai seseorang. Dan tiba-tiba saja, satu sayatan dalam mengenai pungung Jung dan membuatnya tersungkur seketika. Jung tidak lagi meneruskan apa yang ingin diperjuangkannya. Jung tidak merasa kalah.

“Kau sudah membayar dari apa yang kau langgar, dengan dirimu sendiri. Dan, kau yang dibutakan, telah kehilangan cahaya dari matamu sendiri. Kau juga telah membayarnya,” kata seseorang. “Kalian telah melihat mereka sudah membayar apa yang mereka langgar. Tidak ada lagi  urusan kalian di sini, sekarang kalian harus pergi. Tidak ada lagi hutang yang mesti dilunasi sekarang,” lanjutnya dan kumpulan kemarahan itu pergi dengan sendirinya.

“Terima kasih,” kata Marai, meski ia sudah kehilangan kedua pandangannya, tapi tidak telinganya.

“Tidak perlu. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi aku tidak dapat menghentikannya. Maafkan aku, Jung,” jawab seseorang yang ternyata adalah Phak.

“Kau sudah melakukan yang seharusnya, terima kasih, Phak,” kata Jung pelan dan setelah itu Jung pergi untuk selamanya.

*** ***

“Sekarang aku sudah menjadi orang yang didiamkan dalam kamarnya sendiri yang sempit. Biar cahaya itu meluaskannya, aku tidak mampu memandangya selain merasakan sesuatu membakar. Sayang, diri ini tidak ikut lumat dan menguap,” ucap Marai di depan jendela kamarnya.

Beberapa hari setelah itu, Nang Anai menemukan Marai tergantung kaku. Nang Anai merelakannya, itu sudah menjadi keputusan Marai sendiri, ia pergi melepaskan apa yang terasa berat di pundaknya, mencari cahaya lain, mencari apa yang telah membuatnya merasa dihargai, ia berkorban untuk kembali, untuk bersatu dengan apa yang telah dikorbankan Jung untuk dirinya. Konon, setelah Marai dikuburkan, ada yang melihat sosoknya berjalan dengan gembira dengan seseorang yang dicintainya, pada setiap purnama menggantungkan dirinya pada langit malam yang sunyi dan dingin hingga bulan berikutnya kembali muncul.

 

Tamat

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bangun kawan!

Ditulis oleh permanas di/pada 4 Agustus 2009

Bangun…..

Bangun, kawan!

Jangan mimpi menghadang jalan

Maju dan langkahkan

Ayo, lekas!

Ada janji yang harus dituntaskan

Kita pemuda; tak baik bermalas-malas

Bagi bangsa, pemuda adalah bunga dan harapan

Katakan apa yang hendak kau katakan

Kerjakan apa yang bisa kau kerjakan

Tak perlu malu dan sungkan

Mari, kita satukan tujuan dalam perbedaan

Bangun…..!

Bangun, kawan!

Hari sudah pagi menjelang

Di pundak kita nasib bangsa diletakkan

Kelak, kita akan melihat rekah kembang menjulang

Sawaludin Permana, Jakarta, 23 Agustus 2001

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Kemerdekaan

Ditulis oleh permanas di/pada 4 Agustus 2009

Kemerdekaan bukanlah kebebasan tanpa batas

Bukan keserakahan yang membabi buta

Juga bukan penjara kehidupan

Ia lebih dari sekedar itu

Kemerdekaan adalah perjuangan suci

Kemerdekaan adalah suara hati nurani

Kemerdekaan adalah keberanian bertindak

Kemerdekaan adalah kebenaran dan keadilan

Kemerdekaan adalah kasih sayang; seperti pelukan seorang ibu

Kemerdekaan,

Ia sesuatu yang dicita-citakan semua manusia

Yang menolak rantai belenggu.

Kemerdekaan bukan kayu yang telah menjadi arang dan abu

Ia adalah pikiran;

Dan memerlukan kelanjutan.

Sawaludin Permana, Jakarta, 11 Juni 2001

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Belajar mengeja DEMOKRASI

Ditulis oleh permanas di/pada 7 Juli 2009

D, E, M, O, K, R, A, S, I

DE…

MO…..

KRA…..

SI…….

DEMORKASI

aku sedang menyebut huruf demi huruf

lalu mengeja dan membaca perlahan-lahan

aku bahagia;

aku dapat mengeja kata “DEMOKRASI”

tapi tiba-tiba aku sedih

ketika bertanya pada banyak orang

apa itu demokrasi?

mereka menjawab,

katanya:

“kamu anak kecil

kamu belum boleh mengenal kata itu

lebih baik kamu tidur saja.

sana.”

aku pun beranjak tidur

terus bermimpi sampai tua

mencari-cari arti kata

demokrasi

sawaludin permana, Jakarta, 23 Juni 2001

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Aku Kira

Ditulis oleh permanas di/pada 7 Juli 2009

Aku kira, kalau keadilan itu adalah kekasihku

Dan pedang di genggaman adalah sahabatku

Timbangan adalah penuntunku untuk berkata bijak

Ternyata aku salah menduga

Pedangku tumpul

Timbanganku berat sebelah

Kekasihku mulai menjauhi

Aku kira, perdamaian adalah tujuanku

Tapi, di tanganku sendiri ada sepucuk senjata

Mengarah kepada seorang bocah laki-laki yang menangis

Aku kira, di hadapanku bertebaran butiran cahaya mutiara

Kilatnya hilang dalam silau; mengilatkan mataku

Tapi, kurasa hanya kemiskinan menelikung

Aku kira, gelap tempat terbaik untuk bersembunyi

Tapi, temanku cuma ular kepala dua

Dan menyuruhku berlari

Menyembunyikan cahaya

Sekarang, aku sekarat

Karena racun-racun yang menyebar

Dari jiwa-jiwa mati

Sawaludin Permana, Jakarta, 20 Oktober 2000

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

SUARA!!

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Belakangan hari ini banyak orang meributkan suara. Entah itu di radio, televisi, surat kabar, bahkan oborolan yang berseliweran di warung kopi, angkutan umum, sampai pusat-pusat perbelanjaan, semua orang sedang meributkan sebuah “suara”. Kalau mau dipikir sih ya, sekarang saja kita pun sedang bersuara. Hahaha, lain soal kalau yang diperbincangkan bukan suara yang seperti itu.

Ada yang bilang makelar suara, jual beli suara, patungan suara, penimbun suara, bahkan “suara siluman” juga ikut andil dalam perkara suara menyuarai ini. Ketika melihat orang-orang sibuk mendagangkan suara mereka, yang mendengar pun ikut mengkalkulasikan suaranya sendiri. Apakah akan membarternya dengan suara yang didengarnya di tengah hiruk-pikuk panggung goyang ngebor, ngecor, gergaji, atau apalah sebutannya, yang jelas, suara-suara itu timbul tenggelam dalam hingar-bingar dan kebisingan yang memekakan telinga itu.

Walhasil, siapa yang membeli dan siapa yang dibeli menjadi kabur, konsep menawarkan jual beli suara sontak mendadak pelik. Apa yang diributkan, siapa yang diperkarakan, apa memperbicangkan si apa dan apa-apanya menjadi kehilangan substansi, semua mendadak hilang ketika sound system mulai ikut-ikutan mengeluarkan suaranya, tidak mau kalah, meski ia tidak tahu apa yang sedang disuarakan, yang jelas, nyaring saja dahulu, makna dan isi disemburkan belakangan saja. Toh, asal terdengar jelas, semua orang senang, tidak gelisah, biar itu hanya beberapa jam saja setelah mengganti bajunya dengan baju yang baru saja diberikan secara cuma-cuma namun mengandung unsur yang tidak cuma-cuma itu mampu menyusupkan mimpi-mimpi dari telinga ke jantung mereka langsung tanpa operasi by pass.

Lain lagi di warung kopi seberang jalan sana, hanya karena memperbincangkan sebuah suara, apakah ia akan memberikan suaranya kepada orang lain atau tidak, tiba-tiba menjadi perkara serius. Jual beli suara ini berujung menjadi jual beli otot, tantangan berupa “elu jual, gue beli” menjadi dagangan murah meriah namun memiliki ekses yang mahal dan tidak tanggung-tanggung, nyawa pun bisa dipertaruhkan di sana hanya karena sebuah suara yang belun jelas nota benenya mau di-kemana-kan nantinya malah berujung dalam ruang UGD dengan tambahan beberapa sulaman dan jahitan di tubuh.

Dalam banyak hal kehidupan, sebuah “suara” bisa menentukan jalan hidup. Misal, sebuah suara hati dalam diri seseorang juga akan menentukan tindak tanduknya dalam menjalani kehidupannya. Tergantung apakah ia akan meng-iya-kan suara hatinya atau menolak mentah-mentah itu urusan pribadi masing-masing. Urusan satu suara pun bisa menentukan sebuah perjalanan sebuah bangsa yang sedang dalam tahap urusan demokrasi. Pilihan satu suara yang dijatuhkan sanggup menyetir roda pemerintahan dalam kurun periode tertentu, yang berimbas pada kehidupan berbangsa dan bernegara kepada warganya, yang bermula dari suara hati untuk membarter suaranya dengan orang-orang yang mewakilkan suaranya itu. Karena saking kecewanya, ada juga yang menolak membarter suaranya dengan janji-janji apapun yang diiming-imingkan ke depan wajahnya dengan tetap berdalih “suaraku adalah milikku” dan menjadi slogan yang menyebar layaknya sebuah virus, hanya karena sebuah kekecewaan kepada janji yang tidak pernah tertuntaskan telah menjadi sebuah budaya tersendiri dalam sebuah proses berdemokrasi.

Dalam kehidapan sekarang dengan teknologi yang sudah jauh melampaui angan-angan sebelumnya, bahkan dari penciptanya, suara-suara itu kini mampu bertransformasi dalam berbagai bentuk, tidak hanya didengar, dilipat, dikompres dalam arus listrik, bahkan suara itu sudah mampu menyusup dalam pikiran seseorang tanpa pernah diketahui siapa pun. Suara-suara itu lalu mentransferkan energinya mulai dari lingkup pribadi ke lingkup keluarga, lingkungan, pergaulan, sistem-sistem sosial. Suatu suara bisa saling mempengaruhi satu sama lain dan memiliki posisi tawar yang sama untuk menang, kalah, atau berada di tengah-tengah sampai menunggu kesempatan untuk menang atau beresiko kalah.

Untung kepada mereka yang memiliki otoritas sendiri atas dirinya dan suara yang dimilikinya. Kontrak politik atas suara yang dibarter bisa dimungkinkan kalau semuanya berjalan lancar, tidak hanya sekedar basa-basi dan tanda tangan di atas kertas fotokopi semata. Hanya karena sebuah suara, banyak orang rela untuk bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik lagi dari sekarang, tentunya dengan resiko kegagalan demi kegagalan. Hanya suara yang jelas-jelas keluar dari nurani sajalah tetap menuntaskan janji-janji atas suara yang telah dibarter kepadanya dan tetap bekerja keras meski gagal, dikucilkan, diabaikan.

Jadi, suara siapa yang mesti dikedepankan terlebih dahulu? Salam suara!! lhaa…??

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Orang Biasa

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Juli 2009

Penyamun mabuk

Terhentak Terkesima

Ketika samar;

Ia mendengar


Perempuan itu berkata:

“Aku ini orang biasa.

Tapi aku masih perawan.”



Sawaludin Permana, Jakarta, 16 Maret ‘99

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Kerinduan Eksistensi

Ditulis oleh permanas di/pada 14 Mei 2009

Bagi sebagian orang pengakuan akan keberadaan mereka adalah penghargaan yang tak pernah ternilai. Adanya orang lain adalah berarti beradanya mereka secara utuh sebagai pribadi maupun sebagai makhluk sosial di mana mereka hidup dan berada. Sementara keterasingan diri adalah sebuah penderitaan yang menjauhkan mereka dari rasa peng-aktual-an akan keberadaan mereka. Dan keterasingan adalah apa yang mereka ingin coba jauhi di tengah hiruk pikuk peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka tidak ingin ketinggalan satu informasi apapun sebagai salah satu bentuk pengungkapan akan keberadaan mereka.

Ketika ‘sendirian’ itu sudah begitu mengikat, sesuatu memberontak. Gelisah adalah awal dari pemberontakan itu sendiri, bergulat dengan keterasingan yang berusaha untuk ditolaknya. Cara apa pun bisa ditempuh sejauh kesanggupannya untuk melawan keterasingan itu sendiri. Banyak orang menyebut keadaan seperti itu adalah sebagai sebuah pelarian. Atau, bisa saja, hanya sekedar berlari. Jika tidak ingin disebut sebagai ‘pelarian’.

Mempertentangkan eksistensi diri dengan kebutuhan sosial akan kehadiran individu dalam suatu kelompok atau lingkungan bisa saja rumit bisa saja tidak, tergantung kemauan si individu atau si selompok itu menerima atau menolak kehadiran satu sama lainnya dalam satu lingkungan yang sama. Dan penolakan memang tidak diharapkan dalam sebuah proses ‘mengada’.  Saya coba akan merujuk kepada sebuah kota besar super sibuk yang tidak pernah tidur sedikit pun, di mana waktu begitu sempitnya, sampai-sampai hanya sekedar saling menyapa pun orang sudah tidak punya waktu untuk itu. Waktu benar-benar dihitung secara cermat dan tepat, bagi mereka yang tidak ingin ketinggalan satu apa pun dalam pergerakan waktu yang tak kenal lelah, dan untuk menjadi selalu yang terdepan. Apa yang terjadi ketika suatu rasa gelisah menghentak mereka? Ya, jika saya hidup seperti itu, saya akan benar-benar merasa terasing. Saya tidak ada, saya ada jika hanya pada saat saya memburu waktu bersama orang-orang yang juga memburu waktu mereka. Yang menyamakan kami hanya ketika memburu waktu itu, setelah itu, individu-individu adalah pribadi yang tertutup. Dan satu-satunya yang ditakuti adalah kematian. Seperti ketika Heidegger bilang, “Ketakutan terbesar manusia dalam sejarah hidupnya adalah menghadapi kematian”. Jadi ketika keberadaan saya mulai terancam, saya juga mulai mencurigai kematian sebagai penyebab hilangnya keberadaan saya untuk hidup dan mengada, sampai-sampai saya mencoba menipu kematian dan mengakalinya agar keberadaan saya sendiri tetap utuh. Meski saya tahu kalau saya tidak mungkin memenangi pertarungan ketika melawan kematian atas keberadaan saya sendiri.

Hidup memang ironis, tapi merasa sendiri adalah sesuatu hal yang sangat keterlaluan dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Penolakan atas diri pribadi adalah sebuah penyiksaan yang tidak dapat diterima begitu saja. Dan kehilangan akan sesuatu yang berharga memang bisa mengurangi keberadaan diri sendiri.***

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Tanpa henti

Ditulis oleh permanas di/pada 17 April 2009

baru saja kutikam

seseorang

yang hidup dalam nadiku

sekarang,

ia malah menjadi hantu

dan merangkaki

aliran darahku

sambil terus menampar dan memaki …

“Kenapa kau menyerah?!”

berulang-ulang

tanpa henti

memperkosa nuraniku

merobek-robek logikaku

dan mencuri hatiku

aku

tak mampu

mengangkat kepalaku

permanas/Jakarta, 170409/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , | 3 Komentar »

Marry Anne Clark (1975 – 2002 ): “Aku ingin hidup sedikit lebih lama”

Ditulis oleh permanas di/pada 8 April 2009

“Dulu aku mampu berdiri, aku melihat lintasan itu menantangku. Sekarang ia merayakan kemenangannya atasku. Tapi aku masih sanggup untuk lantang duduk di sini, meski hanya menggunakan kursi roda. Aku terlalu lama merindukannya, Tom,” kata Marry pelan. Perempuan itu tampak kurus pucat, ia duduk pada kursi roda dan Tom berdiri di belakang Marry.

Dulu Marry adalah seorang pelari tercepat di kelasnya, 100 meter baginya hanya sejengkal saja dengan kakinya yang indah dan panjang. Beberapa penghargaan telah melingkari lehernya dengan berbagai medali, tangannya telah banyak memeluk rangkaian bunga yang semerbak. Namun, itu dulu, sekarang Marry cuma menatap lintasan itu menggaris kosong. Biasanya setiap pagi ia latihan di tempat itu sampai Tom, suaminya, harus menjemput dan mengingatkan agar jangan terlalu keras dengan dirinya. Dan suatu ketika, kecelakaan itu terjadi.

Marry tergelincir, membuat dirinya tersuruk ke luar lintasan dan membentur pagar penghalang dengan keras. Kakinya patah dan pergelangan kakinya menggeser hingga menyebabkan pembengkakan dan penyumbatan aliran darah. Marry sangat membutuhkan pertolongan medis dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan, di situlah awal petaka bagi dirinya. Sesuatu yang tidak diinginkan, Marry harus hidup bersama dengan penyakit yang mengerikan itu. Ia hanya menunggu penyakit itu memakannya hidup-hidup. Marry tidak akan menyerah begitu saja, tidak, Marry ingin hidup beberapa tahun lebih lama lagi bersama Tom, bersama orang-orang terdekat yang begitu Marry sayangi. Ia akan tetap berjuang. Marry tahu itu. Dan, Tom juga sangat mencintainya.

“Sudahlah, sayang, kau sudah mengalahkan lintasan itu. Baik dulu maupun sekarang, kau telah menang atasnya,” jawab Tom penuh kasih sayang kepada Marry. Tom berjongkok di depan kursi roda Marry. Tom menatap begitu dalam mata perempuan yang ada di hadapannya, ia tahu ia akan berbagi apa pun kepada Marry, begitu juga sebaliknya. Penderitaan yang mereka alami berdua.

“Tak seharusnya kesalahan itu terjadi padaku. Kalau jarum yang menembus kulitku itu telah mengandung sesuatu yang akan memakanku hidup-hidup,” kata Marry lagi. Kali ini nadanya seakan menyesali apa yang telah terjadi atas dirinya. Marry mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Ia melihat seorang perempuan muda sedang berlatih pada lintasan kesukaannya, Marry iri melihat kaki yang indah dan panjang itu, seperti miliknya. Marry menundukkan pandangannya kepada kakinya yang telah cacat. “Aku benci kaki ini, aku benci kaki ini,” hentak Marry tiba-tiba, ia ingin menolak kenyataan dirinya tapi tidak mampu untuk bergerak sejengkal pun dari kursi roda.

“Sayang, kau harus tabah. Kau tangguh, kau akan mampu melewati semua ini.”

“Sampai kapan, Tom, Sampai kapan? Kau tahu aku sudah kalah sejak terakhir kali aku melintasi lintasan itu. Aku tidak sanggup lagi, Tom.”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, kau masih memiliki aku. Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu barang sekejap pun, tidak akan, Marry, tidak akan,” rujuk Tom. Sekarang Marry mencoba bersandar dalam pelukan Tom. Ada suatu kekuatan baru menghantarkannya kepada Marry. Ia ingin bersemangat lagi, ia tahu ia tidak kalah. Perasaan ini hanya sementara. Marry tahu itu.

“Bawa aku pergi dari sini, Tom,” bilang marry. Tom melepaskan pelukannya.

“Baiklah, kau memang tidak perlu lagi melihat masa lalu di sini. Kau adalah dirimu yang sekarang ini aku lihat, sayangku,” kata Tom sambil mendorong kursi roda Marry menjauh dari lintasan merah itu. Marry agak menoleh sedikit, kembali ia melihat perempuan muda itu kini berlalu dengan gemulai, seakan ia tidak berlari, ia melayang, ia terbang, ia mengalahkan lintasan itu seperti dirinya dulu yang mengalahkannya. Marry ingin kembali ke sana, ia tahu ia sudah tidak dapat lagi, maka ia hanya menatap ke depan saja. Hidup bukanlah di belakang, Marry harus menantang sesuatu yang baru dengan melawan sekuat tenaganya sampai ia benar-benar tidak sanggup lagi untuk meneruskan semuanya.

“Ya, bawalah aku pergi, Tom. Atau, bawalah aku terbang,” bisik Marry dalam hati, ada setitik air mata membelah wajahnya yang putih pucat itu.

***

Rumah sakit Angel saat itu sedang ramai, tiba-tiba saja sebuah ambulan menyerobot masuk ke depan pintu UGD dan menarik sebuah tempat tidur dorong untuk meletakkan seorang pasien yang baru saja mengalami patah tulang dan penyumbatan aliran darah pada tulang kakinya.

“Marry Clark, seorang pelari, mengalami patah tulang dan penyumbatan pada tulang dan pergelangan kaki. Segera hubungi dr. David, ia akan menangani segera kasus ini,” kata seorang petugas medis yang mengantar seorang pasien bernama Marry Clark. Seorang perawat bergegas mengganti petugas medis itu dan dan yang lainnya segera menghubungi dr. David, ahli tulang pada rumah sakit itu.

Marry masih tidak sadarkan diri, ia pingsan. Tak lama setelah itu dr. David sudah ada di sana dan menangani kasus Marry. Dr. David dibantu beberapa orang perawat segera memasang beberapa alat elektronik penunjang kehidupan, sebuah infus sudah menggantung di sana dan detak jantung Marry terlihat tidak stabil.

“Sekarang dia sudah stabil. Kondisinya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selain kakinya. Aku akan memindai lukanya,” kata dr. David, seorang perawat segera menuruti perintah dr. David. “Adakah seseorang yang bisa dihubungi untuk memberitahukan keadaan Marry Clark di sini?” tanya dr. David lagi.

“Suaminya sedang menunggu di luar,” jawab perawat yang lain sambil menggantungkan infus dan mengikuti tempat tidur dorong di mana Marry terbaring.

***

Ruangan putih itu begitu hening, yang ada hanya suara kecil dari alat deteksi jantung Marry. ia terbujur kaku di tempat tidur yang juga berwarna putih bersih, ia masih memejamkan kedua matanya.

Tapi, ada sesuatu yang berubah, Marry berada dalam lintasan merah yang selalu ditantangnya selama ini, ia berlari, dan terus, sampai Marry merasa ia sedang tidak berlari di sana, dia terbang, Marry melayang. Gerakan itu begitu lambat, ia melihat orang yang meneriakinya supaya lebih bersemangat pada bangku-bangku yang terjajar di sepanjang pinggiran lintasan, seakan asing. Marry tidak tahu kenapa ia ada di sana, ia hanya tahu kalau ia sedang berlari, tidak, dia terbang dan melayang di sana. Marry mengalahkan lintasan itu. Marry juga melihat Tom di sana. Dan tiba-tiba saja sesuatu membuatnya kehilangan keseimbangan, kecepatan yang tinggi itu tidak dapat dikendalikan, orang-orang yang melihat kejadian itu hanya dapat berdiri kaku dan melihat Marry semakin terlontar jauh ke depan. Begitu juga dengan Tom, tangannya menggapai tapi tidak sampai ke tangan Marry, ia menggenggam kosong sementara Marry semakin terpuruk.

“Tidaaaaaakkkk…!” teriak Marry. Ia terbangun. Pandangannya hanya menatap langit-langit ruangan di mana Marry terbujur kaku di sana. Ia tidak dapat merasakan kakinya, tidak, ia bahkan tidak mampu menggerakkannya. Marry tidak dapat merasakan tubuhnya dari dari pinggang sampai ujung jari kakinya. “Apa yang terjadi dengan kakiku? Bukankah aku tadi… tidak, tidak ini tidak mungkin. Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi,” kata Marry mencoba menenangkan dirinya, ia tahu dirinya selalu dapat dikendalikan. Apakah kali ini ia akan berhasil mengendalikan dirinya, ia masih terbujur kaku pada ruangan yang hening dan sepi itu, cuma irama detak jantungnya saja yang terasa semakin kencang.

***

“Hai, Marry, kuharap kau baik-baik saja,” sapa Hill dan Clint, tetangga mereka, ketika pasangan itu berkunjung ke rumah Marry. Hill membawa beberapa makanan kecil untuk dinikmati pada acara bersantai mereka sore itu.

“Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir,” jawab Marry sambil mengayuh kursi roda ke arah mereka dan menyalaminya dengan senyuman khas milik Marry. ia tahu, Tom jatuh cinta kepada dirinya hanya karena ia selalu dapat tersenyum apa pun yang terjadi. Marry selalu mampu tersenyum.

“Di mana Tom?” tanya Clint sambil memperhatikan sekeliling ruangan dan tidak mendapati sedikit batang hidung Tom.

“Ia masih di belakang. Kalau dia mendengar suaramu pasti ia akan segera menyudahi pekerjaannya.”

“Pasti dia sedang mengutak-atik mobil rongsok itu di garasi belakang.”

“Ya, aku rasa kau tepat sekali, Clint. Tom selalu menghamburkan waktu luangnya dengan mobil tua itu.”

“Betapa bodohnya dia membiarkan seorang bidadari seorang diri di dalam sini,” pikir Clint sambil berlalu ke belakang dan memanggil tom dari garasi.

“Lelaki memang begitu, bukan. Tapi, kau juga tidak perlu risaukan hal itu, aku telah mendapat lebih dari yang kubutuhkan kepada Tom,” jawab Marry lagi dan membiarkan Clint menemui Tom.

“Apa yang sedang kau lakukan itu, Marry?” tanya Hill ketika melihat rajutan kecil pada pangkuan Marry.

“Hanya pekerjaan iseng saja,” jawab Marry dan segera menaruh rajutan itu. Ia ingin menyembunyikan perasaannya kepada Hill. Marry tidak ingin bercerita tentang perasaannya yang satu itu. Sayang, Hill sudah memperhatikan lebih dahulu, Marry tahu kalau Hill adalah satu-satunya tetangga yang memperhatikan dirinya. Sejak tetangga mereka mengetahui Marry terinfeksi penyakit itu, banyak tetangga mulai menjauhinya, bahkan mulai mengasingkannya. Tom tidak memperdulikan mereka. Bagi Tom, Marry saja sudah cukup membuatnya bahagia, apa pun yang terjadi atas diri mereka. Tom tidak peduli.

“Aku rasa tidak,” jawab Hill sambil duduk pada sofa dekat Marry.

“Apa maksudmu, Hill?”

“Aku rasa kau kesepian. Kau membutuhkan lebih dari Tom dan kami.”

“Aku…, aku tidak mengerti.”

“Kau membutuhkan kehadiran yang lain, sesuatu yang kau kandung dan kau lahirkan dari rahimmu sendiri.”

“Seorang anak? Hill, kau tahu aku tidak dapat melakukan itu sejak aku mengalami semua penderitaan ini. Terlebih dengan penyakit yang harus kulawan.”

“Kau bisa mengadopsi.”

“Dengan keadaan seperti ini. Kau sendiri? Kau sudah lama bersama Clint. Kau pun belum mampu melakukannya.”

“Kau mengalihkan pembicaraan, Marry.”

“Itu sama saja. Tapi tidak apa-apa. Hei, apa yang kau bawa itu?”

“Brownies. Kau mau?”

“Ya, beri aku sedikit saja.”

“Sebentar. Kupotongkan untukmu,” kata Hill sambil menuju ke dapur untuk mengambil pisau dan beberapa buah piring untuk potongan kecil brownies itu. Pada celah dinding jendela, Hill melihat suaminya dan Tom masih saja bercanda dan tertawa di belakang sana. “Dasar laki-laki, mereka tidak akan pernah merasa dewasa,” kata Hill dalam hati dan kembali ke dalam menemui Marry. Sekarang Marry meneruskan rajutannya. Tidak ada yang disembunyikan Marry kepada Hill. Ia rasa Hill benar akan perasaannya. Biar Tom memberi perhatian yang lebih kepadanya, tetap saja ada sesuatu yang seakan hilang dari bagian dari dirinya. Ia tidak sanggup melakukannya, meski Tom tidak terlalu mempermasalahkan hal yang satu itu.

***

“Kau akan baik-baik saja, Marryku sayang. Aku tahu kau akan begitu,” kata Tom pelan seakan membisiki Marry yang masih tertidur ketika Tom menjenguknya pagi itu.

“Permisi,” seorang perawat mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan putih itu. Bagi Tom semua yang ada di tempat itu seakan sama, bahkan pakaian suster itu pun tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Perawat tersebut melakukan pemeriksaan rutin, mengecek denyut jantung Marry dan merapikan posisi tidur Marry. Marry masih belum bergerak sedikit pun.

Tom agak menjauh dan menatap keluar jendela. Ia teringat perkataan dr. David yang memberitahu kalau Marry, setelah ia mengalami cidera itu, perkiraan dr. David meleset, pendarahan dalam kaki Marry membuatnya menjadi lumpuh. Dr. David menjelaskan kalau kasus yang dialami Marry adalah kasus yang langka dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Pikiran itu mengiang di kepala Tom ketika ia melihat keluar jendela dari kamar 209 di lantai 3, di bawahnya ia melihat seseorang dengan susah payah mengayuh kursi roda. Ia akan melihat Marry akan berlaku seperti itu. Selain mengalami kelumpuhan, ia juga didiagnosa terjangkit virus HIV dan pihak rumah sakit mengklaim bahwa peralatan medis mereka seluruhnya higenis dan memisahkan pasien berdasarkan penyakit mereka, terlebih penyakit berbahaya dan menular.

“Tuhan, kau sedang memberi ujian dalam hidup kami. Orang yang kucintai sekarang tidak bisa merasakan kakinya, ia tidak bisa lagi merasakan betapa begitu indahnya melayang dalam udaramu yang sejuk. Ia seorang pelari yang handal, tapi kau merenggut apa yang paling dibutuhkannya, kebanggaannya. Dan sekarang, ia juga harus hidup bersama penyakit yang sangat memantikan. Tapi aku tahu, kau tahu apa yang terbaik untuk kami jalani,” kata Tom dalam hati.

“Tom,” tiba-tiba Tom mendengar Marry memanggilnya dengan lirih sekali. Tom langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas menghampiri Marry. Tom duduk di samping Marry sambil menggenggam tangan kanan Marry. Marry membalasnya.

“Ya, sayangku,” jawab Tom mesra sambil memberi ciuman pada kening Marry.

“Terima kasih, Tom, karena kau ada di sini,” kata Marry lagi setelah ciuman hangat di keningnya telah memberinya sebuah kekuatan.

“Ada yang ingin kukatakan, Sayang, tapi…., ah…, aku tidak sanggup mengatakannya,” kata Tom. Ia ingin menangis, tapi tidak ingin memperburuk keadaan Marry. Ia takut.

“Tidak apa-apa, Sayangku, aku sudah tahu. Kau tidak perlu mengatakannya, aku hanya butuh kau untuk menjalani semua penderitaan ini. Kau tahu aku tangguh, bukankah aku sudah mengalahkan banyak rintangan, kau tahu aku akan mampu melewati semua ini. Aku hanya butuh kau di sampingku,” kata Marry sambil mengusap kepala Tom yang jatuh ke dalam dekapan Marry. Ia tahu, Tom ingin menyembunyikan air matanya dari dirinya. Marry selalu tahu itu.

“Dokter bilang, kau tidak akan merasakan kakimu lagi, kau lumpuh. Mereka tidak bisa mengobatimu karena kasus yang mereka temukan kepadamu sangat langka terjadi. Terakhir mereka bilang kau juga didiagnosa telah terjangkiti virus HIV. Pihak rumah sakit mengklaim kalau itu bukan kesalahan mereka. Aku takut kehilangan kau, Marry, aku tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya,” kata Tom lagi.

“Kita akan menjalaninya, Tom sayang, kau tahu itu. Aku sudah tahu, Tuhan juga tahu, kita sanggup melawannya. Aku tidak akan menuntut siapa-siapa atas kesalahan itu. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat yang pucat ini. Apakah wajahku menjadi sama dengan warna dinding itu,Tom?”

Tom mengangkat kepalanya dan menemukan Marry begitu lemah. Tom juga tahu, virus itu sudah mulai menjamah kekebalan tubuh Marry. “Kau tetap terlihat cantik, Marry-ku sayang. Ah, kau selalu tahu kalau aku jatuh cinta padamu dari kecantikan yang kulihat sekarang.”

“Kau berbohong padaku. Kau tahu aku sudah tidak lagi cantik sekarang.”

“Aku tahu.”

“Kau selalu tahu, Sayangku.”

***

“Kau harus terbiasa dengan keadaanku yang sekarang ini, Tom. Aku hanya butuh kau, tidak dengan yang lainnya,” kata Marry setelah mereka baru sampai di depan rumah. Tom membantu Marry keluar dari mobil dan mencoba berusaha duduk di kursi roda yang sudah menunggunya, dan akan menjadi teman Marry setiap hari.

“kau berhasil, Marry,” kata Tom setelah Marry duduk pada kursi rodanya. Biar kudorong,” lanjut Tom.

“Sayang, aku masih sanggup melakukan hal ini sendiri. Biarlah aku yang melakukannya, sekarang, kau ambil saja barang-barang itu di bagasi,” suruh Marry dan ia bergegas menuju rumah. Rasanya, bagi Marry, itu sudah bertahun-tahun lamanya Marry meninggalkan rumah yang dicintainya bersama dengan Tom.

“Baiklah.” Tom harus bergegas, takut Marry membutuhkannya di dalam.

Hari-hari pertama pulang dari rumah sakit agak asing bagi Marry, tapi Tom selalu mendukung. Tom selalu membesarkan hati Marry agar ia selalu kuat dalam menghadapi cobaan yang sudah menunggunya di luar sana. Berita tentang Marry cepat menyebar ke daerah sekitar, ketika Marry berjemur di halaman depan setiap pagi, orang-orang yang melewati rumah mereka, seakan ada yang berubah dalam tatapan itu. Marry tidak mengerti, tapi ia tidak peduli. Padahal sebelum ia seperti sekarang ini, banyak dari mereka mengelu-elukan dirinya atas apa yang telah diraihnya. Sekarang pandangan itu berubah, mereka semakin menjauh. Kecuali Hill dan Clint, mereka berdua selalu memperhatikan perkembangan Marry, meski mereka tahu, Marry sering terlihat sakit dan lemah.

“Kau terlihat tidak sehat, Sayang,” bisik Tom. “Lebih baik kita kembali ke dalam dan beristirahat.” Tom mendorong kursi roda Marry. Marry tidak menjawab, sesekali ia terbatuk dan nafasnya terlalu rapat.

“Aku ingin merebahkan diriku dekat jendela, Tom,” pinta Marry pelan. Tom menuruti. Memang di dekat jendela ada sebuah sofa berwarna biru muda yang nyaman disediakan Tom untuk Marry.

***

Lain hari, Marry tampak terlihat sehat dan ceria. Marry pasti selalu mengajak Tom untuk berjalan-jalan ketika suasana hatinya sedang cerah. Kesempatan itu dipergunakan dengan baik oleh Tom. Maka ia akan mengajak Hill dan Clint untuk turut serta mengobrol di taman terdekat, tidak jauh dari rumah mereka.

“Kau tampak sehat, Marry,” sapa Hill ketika mereka sudah sampai pada taman yang teduh. Semilir angin menerpa wajah Marry, ia memang sedang ceria sekarang. Tidak dengan Tom.

“Aku selalu begitu, bukankah begitu, Tom, Sayang?” tanya Marry.

“Kau tahu, kau selalu berseri sepanjang hari seperti kembang musim semi dan buah cerry yang berwarna indah. Kau selalu tahu itu,” kata Tom. Ia berbohong kepada Marry. Tom ingin pergi sejenak dari sana, bersembunyi dan menangis sebisanya. Tapi tidak, Tom tidak bodoh seperti itu, ia bukan pecundang. Ia adalah kekasih Marry, seorang perempuan yang teguh dan kuat ada ditangannya. Tom tidak akan menyia-nyiakannya.

“Ya, kau selalu begitu Marry. bukan begitu, Tom?” sambung Clint lagi sambil menyodorkan sebuah minuman kaleng kepada Tom.

“Ya, ia selalu saja begitu. Terima kasih,” jawab Tom memaksakan senyumnya.

***

“Aku ingin kembali melihat lintasan merah itu lagi, Tom. Maukan kau membawaku ke sana?” pinta Marry. Ia semakin bertambah pucat.

“Tapi lebih baik kita tunggu saja sampai kau merasa baikan.”

“Aku merasa sehat. Ayolah, Sayang, sebentar saja,” bujuk Marry. Tom tidak dapat menolaknya, takut Marry menjadi sedih.

“Rasanya sudah terlalu lama sekali, Tom. Sayang aku tidak bisa mengalahkan lintasan itu lagi. Tapi, bawalah aku ke jalur itu, Tom, bawalah aku berkeliling sekali saja. Aku rindu untuk melintasinya,” pinta Marry lagi.

“Baiklah, Sayang. Tapi apa kau nanti tidak kelelahan, kau harus selalu menjaga kesehatanmu, jangan memaksakan dirimu sendiri.”

“Kumohon, sekali ini saja.”

“Baiklah, sekali ini saja,” jawab Tom dan membiarkan dirinya membawa Marry mengelilingi lintasan merah itu.

Dalam bayangan Marry, ia mengenangkan sorakan-sorakan ramai mengarah kepadanya. Karena ia bagaikan bidadari yang lincah ketika berada di lintasan itu, ia merasa terbang, melayang, ia bahagia bisa melakukannya lagi. Biar sekarang sorakan riang itu hanya ada dalam bayangannya saja. Pandangan Marry semakin redup, sesekali Tom mendengar Marry menarik nafas, ia sedikit batuk dan lalu kembali menyandar pada sandaran kursi rodanya.

“Sebaiknya kita kembali pulang, Sayang,” kata Tom membujuk agar Marry tidak terlalu bersikeras berlama-lama di tempat itu.

“Aku lelah. Kalau begitu bawalah aku kembali. Tapi kau tahu, aku iri kepada perempuan yang ada di sana, ia memiliki kaki yang indah dan panjang seperti yang pernah aku miliki,” kata Marry.

“Kau tetap memiliki kaki yang indah dan bagus, lebih bagus dari gadis itu.”

“Kau bergurau, Tom.”

“Aku tidak sedang bergurau. Aku sungguh-sungguh, Sayang. Itu benar.”

“Aku percaya. Sekarang aku bisa merebahkan diriku.”

***

Pagi itu sungguh cerah, burung-burung merpati beterbangan dengan bebasnya, awan-awan itu berarak tenang seperti tidak ada satu hal pun yang terjadi di sana. Ketika seorang laki-laki yang berusaha tidak mengeluarkan airmatanya, berdiri sambil memandangi batu nisan yang di kiri dan kanannya membentuk pahatan anak-anak dengan sayap pada punggung mereka. Laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun untuk beberapa saat. Mencoba mengabaikan rasa kehilangan, tapi tidak sanggup dilakukannya.

Marry Anne Clark, 1975 – 2002. Di sini terbaring lelap seorang perempuan yang telah melalui hari-harinya yang berat dengan tegar dan sabar. Sekarang dan selamanya, ia telah pergi dengan damai dalam keberkahan naungan Tuhan. Istri dari Tom Clark, yang tetap mencintainya sampai kapan pun.

Begitulah Tom berdiri di hadapan batu nisan Marry. Tom meletakkan sekuntum mawar yang masih wangi, mencium batu nisan Marry seakan ia benar-benar mencium kening Marry.

“Selamat jalan, Sayang,” kata Tom pelan dan meninggalkan makam Marry dengan hati yang masih sedih.***

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »