Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘burung’

Marry Anne Clark (1975 – 2002 ): “Aku ingin hidup sedikit lebih lama”

Ditulis oleh permanas di/pada 8 April 2009

“Dulu aku mampu berdiri, aku melihat lintasan itu menantangku. Sekarang ia merayakan kemenangannya atasku. Tapi aku masih sanggup untuk lantang duduk di sini, meski hanya menggunakan kursi roda. Aku terlalu lama merindukannya, Tom,” kata Marry pelan. Perempuan itu tampak kurus pucat, ia duduk pada kursi roda dan Tom berdiri di belakang Marry.

Dulu Marry adalah seorang pelari tercepat di kelasnya, 100 meter baginya hanya sejengkal saja dengan kakinya yang indah dan panjang. Beberapa penghargaan telah melingkari lehernya dengan berbagai medali, tangannya telah banyak memeluk rangkaian bunga yang semerbak. Namun, itu dulu, sekarang Marry cuma menatap lintasan itu menggaris kosong. Biasanya setiap pagi ia latihan di tempat itu sampai Tom, suaminya, harus menjemput dan mengingatkan agar jangan terlalu keras dengan dirinya. Dan suatu ketika, kecelakaan itu terjadi.

Marry tergelincir, membuat dirinya tersuruk ke luar lintasan dan membentur pagar penghalang dengan keras. Kakinya patah dan pergelangan kakinya menggeser hingga menyebabkan pembengkakan dan penyumbatan aliran darah. Marry sangat membutuhkan pertolongan medis dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan, di situlah awal petaka bagi dirinya. Sesuatu yang tidak diinginkan, Marry harus hidup bersama dengan penyakit yang mengerikan itu. Ia hanya menunggu penyakit itu memakannya hidup-hidup. Marry tidak akan menyerah begitu saja, tidak, Marry ingin hidup beberapa tahun lebih lama lagi bersama Tom, bersama orang-orang terdekat yang begitu Marry sayangi. Ia akan tetap berjuang. Marry tahu itu. Dan, Tom juga sangat mencintainya.

“Sudahlah, sayang, kau sudah mengalahkan lintasan itu. Baik dulu maupun sekarang, kau telah menang atasnya,” jawab Tom penuh kasih sayang kepada Marry. Tom berjongkok di depan kursi roda Marry. Tom menatap begitu dalam mata perempuan yang ada di hadapannya, ia tahu ia akan berbagi apa pun kepada Marry, begitu juga sebaliknya. Penderitaan yang mereka alami berdua.

“Tak seharusnya kesalahan itu terjadi padaku. Kalau jarum yang menembus kulitku itu telah mengandung sesuatu yang akan memakanku hidup-hidup,” kata Marry lagi. Kali ini nadanya seakan menyesali apa yang telah terjadi atas dirinya. Marry mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Ia melihat seorang perempuan muda sedang berlatih pada lintasan kesukaannya, Marry iri melihat kaki yang indah dan panjang itu, seperti miliknya. Marry menundukkan pandangannya kepada kakinya yang telah cacat. “Aku benci kaki ini, aku benci kaki ini,” hentak Marry tiba-tiba, ia ingin menolak kenyataan dirinya tapi tidak mampu untuk bergerak sejengkal pun dari kursi roda.

“Sayang, kau harus tabah. Kau tangguh, kau akan mampu melewati semua ini.”

“Sampai kapan, Tom, Sampai kapan? Kau tahu aku sudah kalah sejak terakhir kali aku melintasi lintasan itu. Aku tidak sanggup lagi, Tom.”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, kau masih memiliki aku. Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu barang sekejap pun, tidak akan, Marry, tidak akan,” rujuk Tom. Sekarang Marry mencoba bersandar dalam pelukan Tom. Ada suatu kekuatan baru menghantarkannya kepada Marry. Ia ingin bersemangat lagi, ia tahu ia tidak kalah. Perasaan ini hanya sementara. Marry tahu itu.

“Bawa aku pergi dari sini, Tom,” bilang marry. Tom melepaskan pelukannya.

“Baiklah, kau memang tidak perlu lagi melihat masa lalu di sini. Kau adalah dirimu yang sekarang ini aku lihat, sayangku,” kata Tom sambil mendorong kursi roda Marry menjauh dari lintasan merah itu. Marry agak menoleh sedikit, kembali ia melihat perempuan muda itu kini berlalu dengan gemulai, seakan ia tidak berlari, ia melayang, ia terbang, ia mengalahkan lintasan itu seperti dirinya dulu yang mengalahkannya. Marry ingin kembali ke sana, ia tahu ia sudah tidak dapat lagi, maka ia hanya menatap ke depan saja. Hidup bukanlah di belakang, Marry harus menantang sesuatu yang baru dengan melawan sekuat tenaganya sampai ia benar-benar tidak sanggup lagi untuk meneruskan semuanya.

“Ya, bawalah aku pergi, Tom. Atau, bawalah aku terbang,” bisik Marry dalam hati, ada setitik air mata membelah wajahnya yang putih pucat itu.

***

Rumah sakit Angel saat itu sedang ramai, tiba-tiba saja sebuah ambulan menyerobot masuk ke depan pintu UGD dan menarik sebuah tempat tidur dorong untuk meletakkan seorang pasien yang baru saja mengalami patah tulang dan penyumbatan aliran darah pada tulang kakinya.

“Marry Clark, seorang pelari, mengalami patah tulang dan penyumbatan pada tulang dan pergelangan kaki. Segera hubungi dr. David, ia akan menangani segera kasus ini,” kata seorang petugas medis yang mengantar seorang pasien bernama Marry Clark. Seorang perawat bergegas mengganti petugas medis itu dan dan yang lainnya segera menghubungi dr. David, ahli tulang pada rumah sakit itu.

Marry masih tidak sadarkan diri, ia pingsan. Tak lama setelah itu dr. David sudah ada di sana dan menangani kasus Marry. Dr. David dibantu beberapa orang perawat segera memasang beberapa alat elektronik penunjang kehidupan, sebuah infus sudah menggantung di sana dan detak jantung Marry terlihat tidak stabil.

“Sekarang dia sudah stabil. Kondisinya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selain kakinya. Aku akan memindai lukanya,” kata dr. David, seorang perawat segera menuruti perintah dr. David. “Adakah seseorang yang bisa dihubungi untuk memberitahukan keadaan Marry Clark di sini?” tanya dr. David lagi.

“Suaminya sedang menunggu di luar,” jawab perawat yang lain sambil menggantungkan infus dan mengikuti tempat tidur dorong di mana Marry terbaring.

***

Ruangan putih itu begitu hening, yang ada hanya suara kecil dari alat deteksi jantung Marry. ia terbujur kaku di tempat tidur yang juga berwarna putih bersih, ia masih memejamkan kedua matanya.

Tapi, ada sesuatu yang berubah, Marry berada dalam lintasan merah yang selalu ditantangnya selama ini, ia berlari, dan terus, sampai Marry merasa ia sedang tidak berlari di sana, dia terbang, Marry melayang. Gerakan itu begitu lambat, ia melihat orang yang meneriakinya supaya lebih bersemangat pada bangku-bangku yang terjajar di sepanjang pinggiran lintasan, seakan asing. Marry tidak tahu kenapa ia ada di sana, ia hanya tahu kalau ia sedang berlari, tidak, dia terbang dan melayang di sana. Marry mengalahkan lintasan itu. Marry juga melihat Tom di sana. Dan tiba-tiba saja sesuatu membuatnya kehilangan keseimbangan, kecepatan yang tinggi itu tidak dapat dikendalikan, orang-orang yang melihat kejadian itu hanya dapat berdiri kaku dan melihat Marry semakin terlontar jauh ke depan. Begitu juga dengan Tom, tangannya menggapai tapi tidak sampai ke tangan Marry, ia menggenggam kosong sementara Marry semakin terpuruk.

“Tidaaaaaakkkk…!” teriak Marry. Ia terbangun. Pandangannya hanya menatap langit-langit ruangan di mana Marry terbujur kaku di sana. Ia tidak dapat merasakan kakinya, tidak, ia bahkan tidak mampu menggerakkannya. Marry tidak dapat merasakan tubuhnya dari dari pinggang sampai ujung jari kakinya. “Apa yang terjadi dengan kakiku? Bukankah aku tadi… tidak, tidak ini tidak mungkin. Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi,” kata Marry mencoba menenangkan dirinya, ia tahu dirinya selalu dapat dikendalikan. Apakah kali ini ia akan berhasil mengendalikan dirinya, ia masih terbujur kaku pada ruangan yang hening dan sepi itu, cuma irama detak jantungnya saja yang terasa semakin kencang.

***

“Hai, Marry, kuharap kau baik-baik saja,” sapa Hill dan Clint, tetangga mereka, ketika pasangan itu berkunjung ke rumah Marry. Hill membawa beberapa makanan kecil untuk dinikmati pada acara bersantai mereka sore itu.

“Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir,” jawab Marry sambil mengayuh kursi roda ke arah mereka dan menyalaminya dengan senyuman khas milik Marry. ia tahu, Tom jatuh cinta kepada dirinya hanya karena ia selalu dapat tersenyum apa pun yang terjadi. Marry selalu mampu tersenyum.

“Di mana Tom?” tanya Clint sambil memperhatikan sekeliling ruangan dan tidak mendapati sedikit batang hidung Tom.

“Ia masih di belakang. Kalau dia mendengar suaramu pasti ia akan segera menyudahi pekerjaannya.”

“Pasti dia sedang mengutak-atik mobil rongsok itu di garasi belakang.”

“Ya, aku rasa kau tepat sekali, Clint. Tom selalu menghamburkan waktu luangnya dengan mobil tua itu.”

“Betapa bodohnya dia membiarkan seorang bidadari seorang diri di dalam sini,” pikir Clint sambil berlalu ke belakang dan memanggil tom dari garasi.

“Lelaki memang begitu, bukan. Tapi, kau juga tidak perlu risaukan hal itu, aku telah mendapat lebih dari yang kubutuhkan kepada Tom,” jawab Marry lagi dan membiarkan Clint menemui Tom.

“Apa yang sedang kau lakukan itu, Marry?” tanya Hill ketika melihat rajutan kecil pada pangkuan Marry.

“Hanya pekerjaan iseng saja,” jawab Marry dan segera menaruh rajutan itu. Ia ingin menyembunyikan perasaannya kepada Hill. Marry tidak ingin bercerita tentang perasaannya yang satu itu. Sayang, Hill sudah memperhatikan lebih dahulu, Marry tahu kalau Hill adalah satu-satunya tetangga yang memperhatikan dirinya. Sejak tetangga mereka mengetahui Marry terinfeksi penyakit itu, banyak tetangga mulai menjauhinya, bahkan mulai mengasingkannya. Tom tidak memperdulikan mereka. Bagi Tom, Marry saja sudah cukup membuatnya bahagia, apa pun yang terjadi atas diri mereka. Tom tidak peduli.

“Aku rasa tidak,” jawab Hill sambil duduk pada sofa dekat Marry.

“Apa maksudmu, Hill?”

“Aku rasa kau kesepian. Kau membutuhkan lebih dari Tom dan kami.”

“Aku…, aku tidak mengerti.”

“Kau membutuhkan kehadiran yang lain, sesuatu yang kau kandung dan kau lahirkan dari rahimmu sendiri.”

“Seorang anak? Hill, kau tahu aku tidak dapat melakukan itu sejak aku mengalami semua penderitaan ini. Terlebih dengan penyakit yang harus kulawan.”

“Kau bisa mengadopsi.”

“Dengan keadaan seperti ini. Kau sendiri? Kau sudah lama bersama Clint. Kau pun belum mampu melakukannya.”

“Kau mengalihkan pembicaraan, Marry.”

“Itu sama saja. Tapi tidak apa-apa. Hei, apa yang kau bawa itu?”

“Brownies. Kau mau?”

“Ya, beri aku sedikit saja.”

“Sebentar. Kupotongkan untukmu,” kata Hill sambil menuju ke dapur untuk mengambil pisau dan beberapa buah piring untuk potongan kecil brownies itu. Pada celah dinding jendela, Hill melihat suaminya dan Tom masih saja bercanda dan tertawa di belakang sana. “Dasar laki-laki, mereka tidak akan pernah merasa dewasa,” kata Hill dalam hati dan kembali ke dalam menemui Marry. Sekarang Marry meneruskan rajutannya. Tidak ada yang disembunyikan Marry kepada Hill. Ia rasa Hill benar akan perasaannya. Biar Tom memberi perhatian yang lebih kepadanya, tetap saja ada sesuatu yang seakan hilang dari bagian dari dirinya. Ia tidak sanggup melakukannya, meski Tom tidak terlalu mempermasalahkan hal yang satu itu.

***

“Kau akan baik-baik saja, Marryku sayang. Aku tahu kau akan begitu,” kata Tom pelan seakan membisiki Marry yang masih tertidur ketika Tom menjenguknya pagi itu.

“Permisi,” seorang perawat mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan putih itu. Bagi Tom semua yang ada di tempat itu seakan sama, bahkan pakaian suster itu pun tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Perawat tersebut melakukan pemeriksaan rutin, mengecek denyut jantung Marry dan merapikan posisi tidur Marry. Marry masih belum bergerak sedikit pun.

Tom agak menjauh dan menatap keluar jendela. Ia teringat perkataan dr. David yang memberitahu kalau Marry, setelah ia mengalami cidera itu, perkiraan dr. David meleset, pendarahan dalam kaki Marry membuatnya menjadi lumpuh. Dr. David menjelaskan kalau kasus yang dialami Marry adalah kasus yang langka dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Pikiran itu mengiang di kepala Tom ketika ia melihat keluar jendela dari kamar 209 di lantai 3, di bawahnya ia melihat seseorang dengan susah payah mengayuh kursi roda. Ia akan melihat Marry akan berlaku seperti itu. Selain mengalami kelumpuhan, ia juga didiagnosa terjangkit virus HIV dan pihak rumah sakit mengklaim bahwa peralatan medis mereka seluruhnya higenis dan memisahkan pasien berdasarkan penyakit mereka, terlebih penyakit berbahaya dan menular.

“Tuhan, kau sedang memberi ujian dalam hidup kami. Orang yang kucintai sekarang tidak bisa merasakan kakinya, ia tidak bisa lagi merasakan betapa begitu indahnya melayang dalam udaramu yang sejuk. Ia seorang pelari yang handal, tapi kau merenggut apa yang paling dibutuhkannya, kebanggaannya. Dan sekarang, ia juga harus hidup bersama penyakit yang sangat memantikan. Tapi aku tahu, kau tahu apa yang terbaik untuk kami jalani,” kata Tom dalam hati.

“Tom,” tiba-tiba Tom mendengar Marry memanggilnya dengan lirih sekali. Tom langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas menghampiri Marry. Tom duduk di samping Marry sambil menggenggam tangan kanan Marry. Marry membalasnya.

“Ya, sayangku,” jawab Tom mesra sambil memberi ciuman pada kening Marry.

“Terima kasih, Tom, karena kau ada di sini,” kata Marry lagi setelah ciuman hangat di keningnya telah memberinya sebuah kekuatan.

“Ada yang ingin kukatakan, Sayang, tapi…., ah…, aku tidak sanggup mengatakannya,” kata Tom. Ia ingin menangis, tapi tidak ingin memperburuk keadaan Marry. Ia takut.

“Tidak apa-apa, Sayangku, aku sudah tahu. Kau tidak perlu mengatakannya, aku hanya butuh kau untuk menjalani semua penderitaan ini. Kau tahu aku tangguh, bukankah aku sudah mengalahkan banyak rintangan, kau tahu aku akan mampu melewati semua ini. Aku hanya butuh kau di sampingku,” kata Marry sambil mengusap kepala Tom yang jatuh ke dalam dekapan Marry. Ia tahu, Tom ingin menyembunyikan air matanya dari dirinya. Marry selalu tahu itu.

“Dokter bilang, kau tidak akan merasakan kakimu lagi, kau lumpuh. Mereka tidak bisa mengobatimu karena kasus yang mereka temukan kepadamu sangat langka terjadi. Terakhir mereka bilang kau juga didiagnosa telah terjangkiti virus HIV. Pihak rumah sakit mengklaim kalau itu bukan kesalahan mereka. Aku takut kehilangan kau, Marry, aku tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya,” kata Tom lagi.

“Kita akan menjalaninya, Tom sayang, kau tahu itu. Aku sudah tahu, Tuhan juga tahu, kita sanggup melawannya. Aku tidak akan menuntut siapa-siapa atas kesalahan itu. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat yang pucat ini. Apakah wajahku menjadi sama dengan warna dinding itu,Tom?”

Tom mengangkat kepalanya dan menemukan Marry begitu lemah. Tom juga tahu, virus itu sudah mulai menjamah kekebalan tubuh Marry. “Kau tetap terlihat cantik, Marry-ku sayang. Ah, kau selalu tahu kalau aku jatuh cinta padamu dari kecantikan yang kulihat sekarang.”

“Kau berbohong padaku. Kau tahu aku sudah tidak lagi cantik sekarang.”

“Aku tahu.”

“Kau selalu tahu, Sayangku.”

***

“Kau harus terbiasa dengan keadaanku yang sekarang ini, Tom. Aku hanya butuh kau, tidak dengan yang lainnya,” kata Marry setelah mereka baru sampai di depan rumah. Tom membantu Marry keluar dari mobil dan mencoba berusaha duduk di kursi roda yang sudah menunggunya, dan akan menjadi teman Marry setiap hari.

“kau berhasil, Marry,” kata Tom setelah Marry duduk pada kursi rodanya. Biar kudorong,” lanjut Tom.

“Sayang, aku masih sanggup melakukan hal ini sendiri. Biarlah aku yang melakukannya, sekarang, kau ambil saja barang-barang itu di bagasi,” suruh Marry dan ia bergegas menuju rumah. Rasanya, bagi Marry, itu sudah bertahun-tahun lamanya Marry meninggalkan rumah yang dicintainya bersama dengan Tom.

“Baiklah.” Tom harus bergegas, takut Marry membutuhkannya di dalam.

Hari-hari pertama pulang dari rumah sakit agak asing bagi Marry, tapi Tom selalu mendukung. Tom selalu membesarkan hati Marry agar ia selalu kuat dalam menghadapi cobaan yang sudah menunggunya di luar sana. Berita tentang Marry cepat menyebar ke daerah sekitar, ketika Marry berjemur di halaman depan setiap pagi, orang-orang yang melewati rumah mereka, seakan ada yang berubah dalam tatapan itu. Marry tidak mengerti, tapi ia tidak peduli. Padahal sebelum ia seperti sekarang ini, banyak dari mereka mengelu-elukan dirinya atas apa yang telah diraihnya. Sekarang pandangan itu berubah, mereka semakin menjauh. Kecuali Hill dan Clint, mereka berdua selalu memperhatikan perkembangan Marry, meski mereka tahu, Marry sering terlihat sakit dan lemah.

“Kau terlihat tidak sehat, Sayang,” bisik Tom. “Lebih baik kita kembali ke dalam dan beristirahat.” Tom mendorong kursi roda Marry. Marry tidak menjawab, sesekali ia terbatuk dan nafasnya terlalu rapat.

“Aku ingin merebahkan diriku dekat jendela, Tom,” pinta Marry pelan. Tom menuruti. Memang di dekat jendela ada sebuah sofa berwarna biru muda yang nyaman disediakan Tom untuk Marry.

***

Lain hari, Marry tampak terlihat sehat dan ceria. Marry pasti selalu mengajak Tom untuk berjalan-jalan ketika suasana hatinya sedang cerah. Kesempatan itu dipergunakan dengan baik oleh Tom. Maka ia akan mengajak Hill dan Clint untuk turut serta mengobrol di taman terdekat, tidak jauh dari rumah mereka.

“Kau tampak sehat, Marry,” sapa Hill ketika mereka sudah sampai pada taman yang teduh. Semilir angin menerpa wajah Marry, ia memang sedang ceria sekarang. Tidak dengan Tom.

“Aku selalu begitu, bukankah begitu, Tom, Sayang?” tanya Marry.

“Kau tahu, kau selalu berseri sepanjang hari seperti kembang musim semi dan buah cerry yang berwarna indah. Kau selalu tahu itu,” kata Tom. Ia berbohong kepada Marry. Tom ingin pergi sejenak dari sana, bersembunyi dan menangis sebisanya. Tapi tidak, Tom tidak bodoh seperti itu, ia bukan pecundang. Ia adalah kekasih Marry, seorang perempuan yang teguh dan kuat ada ditangannya. Tom tidak akan menyia-nyiakannya.

“Ya, kau selalu begitu Marry. bukan begitu, Tom?” sambung Clint lagi sambil menyodorkan sebuah minuman kaleng kepada Tom.

“Ya, ia selalu saja begitu. Terima kasih,” jawab Tom memaksakan senyumnya.

***

“Aku ingin kembali melihat lintasan merah itu lagi, Tom. Maukan kau membawaku ke sana?” pinta Marry. Ia semakin bertambah pucat.

“Tapi lebih baik kita tunggu saja sampai kau merasa baikan.”

“Aku merasa sehat. Ayolah, Sayang, sebentar saja,” bujuk Marry. Tom tidak dapat menolaknya, takut Marry menjadi sedih.

“Rasanya sudah terlalu lama sekali, Tom. Sayang aku tidak bisa mengalahkan lintasan itu lagi. Tapi, bawalah aku ke jalur itu, Tom, bawalah aku berkeliling sekali saja. Aku rindu untuk melintasinya,” pinta Marry lagi.

“Baiklah, Sayang. Tapi apa kau nanti tidak kelelahan, kau harus selalu menjaga kesehatanmu, jangan memaksakan dirimu sendiri.”

“Kumohon, sekali ini saja.”

“Baiklah, sekali ini saja,” jawab Tom dan membiarkan dirinya membawa Marry mengelilingi lintasan merah itu.

Dalam bayangan Marry, ia mengenangkan sorakan-sorakan ramai mengarah kepadanya. Karena ia bagaikan bidadari yang lincah ketika berada di lintasan itu, ia merasa terbang, melayang, ia bahagia bisa melakukannya lagi. Biar sekarang sorakan riang itu hanya ada dalam bayangannya saja. Pandangan Marry semakin redup, sesekali Tom mendengar Marry menarik nafas, ia sedikit batuk dan lalu kembali menyandar pada sandaran kursi rodanya.

“Sebaiknya kita kembali pulang, Sayang,” kata Tom membujuk agar Marry tidak terlalu bersikeras berlama-lama di tempat itu.

“Aku lelah. Kalau begitu bawalah aku kembali. Tapi kau tahu, aku iri kepada perempuan yang ada di sana, ia memiliki kaki yang indah dan panjang seperti yang pernah aku miliki,” kata Marry.

“Kau tetap memiliki kaki yang indah dan bagus, lebih bagus dari gadis itu.”

“Kau bergurau, Tom.”

“Aku tidak sedang bergurau. Aku sungguh-sungguh, Sayang. Itu benar.”

“Aku percaya. Sekarang aku bisa merebahkan diriku.”

***

Pagi itu sungguh cerah, burung-burung merpati beterbangan dengan bebasnya, awan-awan itu berarak tenang seperti tidak ada satu hal pun yang terjadi di sana. Ketika seorang laki-laki yang berusaha tidak mengeluarkan airmatanya, berdiri sambil memandangi batu nisan yang di kiri dan kanannya membentuk pahatan anak-anak dengan sayap pada punggung mereka. Laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun untuk beberapa saat. Mencoba mengabaikan rasa kehilangan, tapi tidak sanggup dilakukannya.

Marry Anne Clark, 1975 – 2002. Di sini terbaring lelap seorang perempuan yang telah melalui hari-harinya yang berat dengan tegar dan sabar. Sekarang dan selamanya, ia telah pergi dengan damai dalam keberkahan naungan Tuhan. Istri dari Tom Clark, yang tetap mencintainya sampai kapan pun.

Begitulah Tom berdiri di hadapan batu nisan Marry. Tom meletakkan sekuntum mawar yang masih wangi, mencium batu nisan Marry seakan ia benar-benar mencium kening Marry.

“Selamat jalan, Sayang,” kata Tom pelan dan meninggalkan makam Marry dengan hati yang masih sedih.***

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Ular dan Gagak

Ditulis oleh permanas di/pada 23 Maret 2009

Hari sabtu kemarin petang, ketika saya sedang bersantai menikmati sore yang tenang sambil meminum kopi dan membaca, tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh tamu tak diundang, tamu itu berwujud seekor ular. Meski pun hanya seekor ular kebun yang tidak berbahaya, ia tetap seekor ular. Untungnya kali ini ia sedang tidak ingin apa-apa, mungkin hanya sekedar lewat saja barangkali. Maka dengan rasa berteman, saya mengambil sapu lantai, tidak, bukan untuk memukulnya, tetapi dengan lembut saya mengarahkan si ular itu untuk kembali saja ke kebun karena percuma ia tidak akan menemukan apa-apa di tempat beradanya saya. Saya melakukan seprofesional mungkin seperti yang dilakukan dalam film-film dokumenter, jika kita melakukan kelembutan dengan lingkungan liar di sekitar kita, tentunya ia akan bertindak ramah, sepertinya hukum rimba tersebut masih berlaku di tempat saya yang notabenenya hampir sedikit sekali tanah terbuka dan rumput bisa tumbuh dengan sahaja. Ular itu tidak berbalik untuk berusaha menggigit saya, sebaliknya ia mengikuti arahan saya dengan berjalan kembali ke dalam semak-semak dekat rumah saya. Posisi saya, kaki saya dan ular itu tidak lebih dari setengah meter, jadi betapa dekatnya jika ia ingin menggigit saya, tapi tidak dilakukannya. Ular itu lebih memilih berdamai dengan lingkungannya dengan tidak melakukan kekasaran dan kebrutalan yang tidak perlu, yang jika saja ia lakukan bisa mengakibatkan nyawanya melayang secara sia-sia.

Saya jadi tersenyum sendiri, bernafas lega ketika ular itu kembali masuk ke dalam semak-semak. Untung ia bertemu dengan saya, pikir saya ketika itu, jika tidak, bisa saja kebrutalan atas dirinya dapat terjadi dan membuat dirinya kehilangan nyawa. Saya teringat ayah saya sendiri, ketika melihat sosok ular ia langsung mencari pentungan dan berusaha membunuh ular itu sebagai tamu tak diundang yang bisa membahayakan seluruh anggota keluarga. Untung saja, pikiran saya menolak melakukan pembunuhan itu. Saya lebih memilih untuk membiarkannya tetap lepas di alam dan menjadi salah satu rantai yang tidak hilang secara paksa dalam kehidupan. Saya pikir lagi, binatang ya tetap binatang dengan naluri binatang, yaitu untuk bertahan hidup dan meneruskan generasinya. Saya akhirnya mengerti kenapa kita harus menjaga lingkungan tetap lestari dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan, karena ia juga milik jutaan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi ini.

Sementara pada hari minggu sorenya, ketika saya juga sedang santai mendengarkan musik kesenangan saya, menjelang maghrib, tiba-tiba saja seekor burung gagak besar dan hitam hinggap pada palangan kayu tepat di atas kepala saya. Ya, kami saling menatap, gagak itu seakan tidak takut kepada saya, malah ia mencoba mengukur ketakutan saya kepadanya dengan tetap menatap saya dengan tajam. Akhirnya saya memberanikan diri, mencoba menggapainya, bukan untuk menangkapnya. Saya julurkan tangan saya sebagai ungkapan persahabatan, pada mulanya, ia agak enggan saya dekati, semakin dekat, ia menggigit tangan saya, ternyata tidak sakit, atau ia melakukannya dengan tidak seluruh kekuatannya, saya rasa gigitan itu sebagai ungkapan kepercayaannya kepada saya dan membalas rasa persahabatan saya kepadanya.

Lalu saya berusaha meraih kepalanya, ia masih menggigit jari-jari saya, sebagai sikap protes atas tindakan saya yang melampaui batas kepatutannya kepada gagak tersebut. Beberapa kali saya coba, dan beberapa kali ia menggigit, ia menyerah. Saya berhasil mengelus kepalanya, dan ia ternyata mengeti kalau saya tidak berusaha menangkapnya melainkan mencoba memberi saling rasa pengertian antara saya dengan dia. Jadi ia diam saja ketika saya memeriksa bagian tubuh lainnya, ini saya lakukan, apakah ia bertindak mendekati saya untuk meminta bantuan saya karena ia mengalami luka atau ia hanya sekedar menyapa saya dan bermain-main dengan saya. Ternyata tidak ada satu luka sedikit pun di tubuhnya. Saya baru tahu, ternyata di luar bulunya yang hitam semua, sampai ujung kaki dan paruhnya, di balik bulu-bulu hitam itu melapis bulu-bulu putih di dalamnya. Di mana anggapan semua orang seluruh bulu burung gagak adalah hitam semua, tidak dengan gagak yang menyapa saya sore itu. Tidak memakan waktu banyak mengenai kedekatan kami, ia sudah mempercayai saya sebagai seorang sahabat, begitu juga sebaliknya. Saya melakukannya persis seperti yang saya lakukan ketika saya bertemu dengan ular kemarin sore. Saya memberi isyarat kalau saya tidak akan berusaha menyakitinya, dan itu berhasil, hasilnya sama seperti yang saya lakukan dengan gagak yang menghampiri saya.

Saya tidak habis pikir, sebenarnya pertanda apa yang coba diberitahukan Tuhan kepada saya dengan membuat kedua binatang itu menghampiri saya, memang tidak ada yang melihat saya melakukannya, kecuali ibu saya ketika saya sedang bermain dengan burung gagak itu, tapi ia tidak berkata apa-apa sementara saya asyik bercengkrama dengan burung yang konon sulit sekali ditangkap, sore itu ia malah mendatangi saya dan bermain dengan saya. Sesungguhnya dengan bertemu dengan kedua binatang itu saja saya sudah sangat bersyukur sekali, karena melalui kedua binatang itu saya mampu berinteraksi dengan kehidupan liar di sekitar saya tanpa bersusah payah dan membayar ongkos yang mahal. Saya menyetuh burung liar itu gratis dan bersahaja. Bahkan ketika adzan maghrib sudah berkumandang, burung gagak itu masih saja mengikuti saya, sebagai ungkapan ia belum puas bercengkrama dengan saya. Saya hanya tersenyum, ia diam saja, kemudian ia berlalu terbang. Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu kembali dengan burung itu atau tidak. Yang pasti, saya akan tetap mengingatnya sebagai salah satu teman dan sahabat, begitu juga dengan ular yang saya temui. Dengan jarak yang terlalu dekat, kami memberi saling pengertian untuk tidak menyakiti satu sama lain. Ular itu tidak menggigit saya dan saya tidak membunuhnya.

Dan saya senang, telah bersahabat dengan kedua binatang tersebut. Jika gagak itu kembali bertandang, saya akan menghadiahinya sepotong roti. Dan ia mungkin akan memberikan kepercayaannya kembali kepada saya sebagai seorang kawan. Saya rasa itu cukup adil. (kisah ini nyata saya alami, 21-22 maret 2009)

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Laut Menyanyi

Ditulis oleh permanas di/pada 12 Maret 2009

“Ini takdir kita, anakku, meskipun nasib ada dikepalan kita dan kau berhak untuk mengubah nasibmu sendiri yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita mesti besyukur, menerima dengan lapang dada dan menjaganya sebaik mungkin apa-apa yang telah Tuhan takdirkan.”

“Maksud Abah, apakah yang kita terima dan kita jaga dalam kehidupan ini? Anang hanya tahu kalau nasib tergantung dengan apa yang kita lakukan sementara angin selalu berbisik kepada gunung dan pohon-pohon, mereka menyembunyikan rahasia alam yang diberikan langit kepada ibu bumi. Mestikah kita harus mencarinya dengan takdir dan keterbatasan kita?”

***

Aku masih ingat ketika kecil dulu, Abah selalu mengajakku pergi melihat pantai dan laut, selalu mengajariku tentang kehidupan. Menurutnya laut dan garis pantai itu, tempat bertemunya air dan daratan, Abah menyimbolkannya sebagai keterbatasan manusia. Camar yang beterbangan mengejar gelombang ombak, ia pernah berkata, camar itu dihubungkan sebagai pengantar antara langit dan bumi, kita mesti berguru kepadanya. Kita akan tahu kelak kenapa camar menjadi pengantar langit dan bumi.

Jelas sekali terdengar gemuruh ombak menampari batu karang, aku kagum batu karang itu masih kokoh meskipun hingga sekarang, semuanya masih seperti dulu. “Laut itu menyanyi, anakku, kalau engkau ingin tahu.” Itu kata Abah, kata-katanya masih kuingat sampai sekarang.

“Lihatlah ke sana,” kata Abah, sambil mengarahkan jarinya dari tangan kekar tapi penuh kelembutan itu ke arah cakrawala tempat langit seakan menginjakkan kakinya di sana. Aku masih terpaku, diam menatap tempat yang dimaksud Abah. Penghormatannya terhadap alam sangat dalam. Ia tersenyum kemudian meneruskan ucapannya. “Di sana kau dapat menemukan rahasia itu meski dengan keterbatasan kita di sini. Ciumlah aroma laut dan genggamlah erat-erat pasir ini, belajarlah layaknya manusia di bumi ini. Meskipun kau berguru kepada guru atau belajar kepada ikan, tapi tetapkan hatimu, anakku, jangan kau melebihi keterbatasanmu. Betapa mimpi tak memiliki batas, tapi ia adalah ilusi yang sangat berbahaya andai kau tidak mau membatasinya. Ini kenyataan kita, anakku, ingatlah siapa diri kita kelak.”

Laut itu, tempat bermuaranya semua air tetapi ia menjaganya agar tetap jernih dan indah. Makhluk-makhluk yang berlindung di dalamnya dan nelayan-nelayan yang mengarungi gelombangnya, lalu burung-burung yang melabuhkan impiannya di pantai, laut itu memang menyanyi dengan gembira, semuanya berdendang. Aku mengarunginya, menyenanginya, bersatu dengannya, dan merangkulinya. Ia menjadi salah satu guru, aku belajar darinya dan mencintainya.

Hari ini kucium lagi aroma laut, menggenggam erat pasir kemudian berdiri di bibir pantai, buihnya menyentuh kakiku. Kembali aku mengenangkan seperti seorang murid yang pulang kepada gurunya setelah ia mengarungi nasibnya. Kutatap lagi cakrawala, namun aku belum pernah menyentuh kakinya meskipun ia berdiri di sana, hanya ombak yang menyalami ketika aku datang kepadanya.

“Bukan cuma ombak yang menyalami kedatangan kita ke laut, tapi lihatlah, seluruh alam menatap gembira kepada kita dan pulau-pulau itu tersenyum walau ia tak pernah bicara betapa senangnya ia kalau kita bersenda gurau dengannya,” kata Abah lagi ketika aku masih diam menatap sejauh mata memandang lautan luas itu.

“Senja sudah datang, Bah, di ujung cakrawala matahari semakin merendam dirinya di sana. Apakah ia terlalu lelah sehingga ingin segera menarik selimut mega dan tertidur. Apakah laut akan berhenti bernyanyi kalau gelap datang, apakah kegembiraan itu akan sirna karena semuanya terlelap dalam mimpinya, lalu siapakah yang menyambut bintang-bintang di sana dan menemani rembulan ketika ia berdiri di langit sana?”

“Laut akan tetap menyanyi, anakku, meskipun tak ada yang mendengarnya. Ia akan tetap bernyanyi untuk menyambut bintang dan rembulan. Malam di sini akan tetap terlihat indah meskipun semuanya tertidur dan kegembiraan di sini tak akan sirna meskipun gelap menyelimuti. Sekarang mari kita pulang dan biarkan laut ini tetap menyanyi.”

Semua sunyi sekarang dan aku pun melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Kelak aku akan kembali untuk mengulangkan dan mendengarkan, membiarkan waktu membius malam dan hari-hari selanjutnya. Tapi, meskipun demikian ada yang tak berubah. Seperti kata Abah, laut itu tetap menyanyi. Hingga sekarang aku masih mendengarnya kembali menyanyi.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Dongeng Burung Liar

Ditulis oleh permanas di/pada 10 Maret 2009

“Bu, kenapa bapak belum pulang juga?”

“Sabarlah, Ni, nanti bapakmu juga kembali,” jawab Ibu kepada Ani sedikit membisik.

Di rumah gubuk itu hanya mereka berdua, hanya lampu minyak yang menerangi sepetak ruangan itu menggambarkan dua sosok manusia bercumbu dan bertarung dengan kegelisahannya. Seorang bocah kecil bernama ani, mencumbu mimpi-mimpinya yang hanya cermin wajah di depan dinding bilik berbincang dengan bayangannya sendiri, sementara seorang ibu yang selalu menjaga anaknya bertarung melawan perasaan gelisah, antara harapan dan keputus asaan yang menggelayuti mereka.

“Bukankah bapak perginya sudah lama? Ani lelah menunggu, Bu. Ani sudah tidak tahan lagi menahan lapar,” tak lama ani bertanya lagi sambil menatap ibunya dengan penuh pengharapan lalu memegangi perutnya yang sudah agak cekung.

“Sabarlah sedikit lagi. Sekarang tidur saja dulu, biar ibu yang menunggu bapakmu sementara kamu tidur.”

“Bu,Kenapa Tuhan membiarkan kita menderita sendiri di sini sedang di tempat lain orang-orang tertawa lepas sambil memegang piring penuh makanan. Apa tuhan sudah tidak peduli lagi kepada kita ya, Bu?” tanya ani lagi dan merebahkan kepalanya di kaki ibunya. Ibu hanya menari nafas panjang dan terdiam tak tahu mesti menjawab apa.

“Kenapa kamu punya pikiran seperti itu, bukannya Tuhan tidak peduli kepada kita, tapi ini adalah cobaan hidup yang mengajarkan kita untuk selalu tabah dan sabar. Apakah kamu ingat apa yang pernah dikatakan bapakmu kalau seekor burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung di sangkar emasnya. Nah, kita pun harus demikian,” jawab Ibu, lalu tangannya kemudian mengusap-usap kepala Ani dan merapikan selimut kotak-kotak milik Ani. Di situ terselip sebuah boneka buaya yang mulutnya menganga menampakkan taring tajam siap menerkam.

“Kenapa mesti demikian, Tuhan menciptakan kita semua kan dalam keadaan yang sama, derajat dan kedudukan yang sama di matan-Nya.”

“Ya, memang begitu keadaannya, kita memang semua sama di hadapan-Nya. Hanya amal dan perbuatannya saja yang membedakan satu sama lainnya. Artinya tidak semua kesenangan itu mendatangkan kebahagiaan, hanya kesederhannaan yang terbungkus timbang rasa bijaksana yang dapat bertahan lama. Sekarang kamu mengerti?”

“Mengerti, Bu. Ani ingat kalau burung liar itu seperti yang pernah diceritakan bapak, maukah Ibu menceritakannya kembali untuk Ani?”

“Ibu pasti mendongengkannya untukmu, asal setelah itu kamu langsung tidur ya. Biar ibu yang menunggu bapakmu.”

“Baik, Bu.”

“Sekarang ibu akan bercerita. Begini, burung terbang untuk mencari makan. Tidak mengandalkan siapa pun kecuali kepada kedua sayapnya. Ia kibaskan sayap itu dengan sekuat tenaga dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Ketika ia berada di atas, ia tidak berlaku congkak maupun merasa dirinya paling bagus dan paling indah. Burung terbang bukan untuk senang-senang, apalagi memamerkan keindahan serta kelebihan dirinya. Tidak, bukan itu yang dicari oleh seekor burung.”

“Lantas apa yang dicari seekor burung bila ia terbang di atas sana?”

“Burung terbang untuk mencari makan, seperti yang ibu bilang tadi, untuk melepaskan rasa lapar dan haus dirinya. Walaupun ia mendapat sedikit makanan, tapi ia bukannya berkecil hati atas apa yang ia peroleh, malah sebaliknya ia merasa bangga. Bangga atas apa yang telah diperolehnya, biar sedikit, ia mendapatkan dengan tenaganya sendiri. Berarti ia telah mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tidak berpijak dengan bantuan orang lain,” Ibu berhenti sejenak untuk memeriksa apakah Ani sudah tidur atau belum.

“Terus apa lagi, Bu?” kata ani yang ternyata belum tidur. Ibu hanya tersenyum kecil dan melanjutkan cerita itu sekedar menunggu waktu yang mulai larut.

“Sekarang, burung yang masih berada di sarangnya itulah kamu saat ini. Untuk terbang saja ia belum mampu, namun demikian ia percaya terhadap dirinya sendiri kalau ia pun bisa terbang seperti burung dewasa. Sambil mengepak-kepakkan sayapnya yang mulai ditumbuhi bulu yang sudah bagus. Dalam hatinya tumbuh kepercayaan yang sangat kuat untuk berani berkata dengan yakin, ‘saya bisa, saya harus bisa, saya yakin pasti bisa’. Semakin lama kepakannya semakin mantap dan lama-lama ia pun dapat terbang seperti yang lainnya. Karena apa? Selain niat dan belajar, ia percaya akan kemampuannya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan burung lain untuk memberinya makanan.

“Setelah ia dapat terbang tinggi melayang-layang di angkasa, ia tidak merasa bangga, malah semakin sadar bahwa tantangan hidup serta tanggung jawab atas dirinya semakin besar seperti badai yang siap melahapnya sewaktu-waktu jika ia lalai. Karenanya ia harus terus berjuang agar tetap bertahan hidup dari ganasnya kehidupan ini. Begitulah kira-kira perumpamaan antara burung dengan kehipan yang kita jalani ini. Ibu harap agar kamu dapat memahaminya sebagai salah satu pelajaran yang dapat ibu berikan. Tapi jangan lupa, masih banyak yang mesti kamu pelajari dari kehidupan ini yang sudah disediakan oleh alam dan kehidupan itu sendiri. Karena proses belajar tidak mengenal usia, di mana pun, kapan pun, asal kita punya tekad yang bulat untuk belajar dan memahami, di situ kita dapat belajar.”

Sesekali suara jangkrik menyelinap masuk ke dalam gubuk mereka, semilir angin juga ikut menyusup ke dalam membuat dingin ruangan itu. Keheningan malam di luar bukanlah suatu kebisuan yang terjadi, tapi sebuah kedamaian yang tersembunyi di antara bayangan lampu minyak yang tersamar sinaran rembulan menyatu dalam lindungan ketenangan malam.

“Kenapa Tuhan menciptakan alam semesta ini, Bu?”

“Alam diciptakan Tuhan, karena alam semesta di dunia ini bukan hanya untuk dinikmati saja, alam semesta ini diciptakan Tuhan juga untuk dipahami, dimengerti, dan kemudian dipelajari oleh kita semua agar alam ini tetap lestari dan tidak rusak. Alam sudah banyak sekali memberikan pelajaran yang berguna dan bermanfaat untuk kita, karena itu tugas kamulah sebagai generasi penerus untuk tetap mempelajari segala seluk beluk alam yang terkadungn di dalamnya. Karena bukanlah sesuatu yang mustahil kalau di balik setiap keindahan mengandung banyak pelajaran kalau kita mau mengaitkannya ke dalam kehidupan ini dengan amat jeli menangkap setiap gerak-gerik alam. Maka kita akan menemukan salah satu pelajaran yang alam berikan sebagai pengalaman yang berharga agar kelak dalam menjalani hidup ini kita selalu dalam jalan yang benar dan selalu ingat kepada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu yang terkandung di dalam alam semesta ini, juga sebagai salah satu guru dalam kehidupan kita ini. Sekarang kamu paham?”

“Paham, Bu.”

“Kalau begitu sekarang tidurlah, hari sudah larut dan jangan berkata apa-apa lagi.”

Ani pun tertidur walau sambil menahan perut yang lapar sejak pagi tadi. Bapaknya pergi ke kota yang hanya berbekal keterbatasan kemampuan mencoba mengadu peruntungan untuk sesuap nasi buat dibawa pulang sebagai buah tangan ala kadarnya untuk anak dan isterinya yang sekarang menunggu antara keputus asaan dan harapan yang terus bergumul. Tinggallah ibunya seorang diri bertajuk bayangan wajah yang mulai diselimuti kepasrahan untuk tabah dan bersabar.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

PIKIR!

Ditulis oleh permanas di/pada 25 Februari 2009

Pagi yang cukup indah walau panas matahari sangat menyengat kulit, maklumlah, sekarang kan sudah musim kemarau. Jadi ya, sah-sah saja kalau matahari unjuk gigi, yang penting asal jangan unjuk rasa. Wah, bisa-bisa gelap total bumi kita kalau sampai matahari berunjuk rasa. Makanya jangan macam-macam sama alam –bukan Alam yang pelantun ‘Mbah Dukun’ itu lho maksud saya- jangan bisanya hanya memanfaatkan dan merusak saja bisanya, iya toh!

Coba bayangkan kalau langit ini menangis tersedu-sedu dan menjerit sekeras-kerasnya, membuat kita ketakutan dan merasa kita tidak dapat berbuat apa pun selain menatap rumah kita terendam air mata langit yang meluap karena tidak mau berhenti menangisnya menatap hutan-hutan yang gundul cepak seperti bocah lima tahun digunduli lantaran banyak koreng di setiap bagian kepalanya, hehehehe, masa sih bisa seperti itu?

“Lho, bisa saja! Apa sih yang tidak mungkin terjadi di dunia ini?” kata Abah Kirman, tiba-tiba saja ia datang sambil memegang segelas kopi hitam di tangan kanannya dan di sela-sela jari hitamnya terselip sebatang rokok kretek yang tinggal setengah dihisap mulut berbibir tebal itu.

Abah Kirman lalu ikut duduk di sebelah saya yang waktu itu pun sedang asyik menyeruput kopi pagi dan menghisap rokok kretek juga di atas bale-bale depan rumah, sambil menatapi kekaguman keelokan alam raya dan burung-burung ‘emprit’ (burung gereja) terbang bergerombol menghampiri para petani yang sedang memanen hasil jerih payahnya. Lantas burung itu pergi begitu saja sehabis petani-petani itu selesai memanen padinya, gembala kerbau dan kerbaunya yang sama-sama kurus karena stok rumput dan beras menipis di bumi yang katanya subur ini. Sungguh sangat kontras sekali.

“Sruuuuttt!” langsung saja lamunan saya terganggu oleh suara mulut Abah Kirman yang menyeruput kopinya dengan semangat juang itu, maklumlah, Abah Kirman pada jaman dahulu adalah seorang pejuang yang sangat gigih mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu jalannya agak pincang, kakinya yang sebelah kanan tertembus peluru tentara Belanda, untung saja Letnan Sujono menolong dan membawa Abah Kirman ke tempat aman yang jauh dari medan pertempuran setelah akhirnya Letnan Sujono pun gugur dalam pertempuran itu. Sayang, Abah Kirman tidak tahu di mana Letnan Sujono di makamkan.

Dentuman meriam dan bredelan suara senapan mesin milik Belanda itu masih sangat jelas di dalam ingatan Abah Kirman dan mungkin ia akamn masih tetap ingat jasa-jasa Letnan Sujono yang telah menyelamatkannya. Berbagai pertempuran telah dilewatinya, pengalaman-pengalaman pahit dan manis telah direguknya, sekarang ia hanya tinggal menjadi saksi sejarah yang telah terlupakan. Tenggelam dalam lautan sunyi. Kosong.

Saya jadi teringat sesuatu, waktu itu saya tengah duduk di sebuah bus kota jurusan Blok M duduk bagian belakang sebelah pojok kanan, di dalam sebuah bus itu sudah ada yang menunggui seorang pengamen, ia mengenakan kaos berwarna merah gombrong dan bercelana jeans biru langit, memegang sebuah gitar biasa, tapi di bagian depannya ada gambar elang menyorot tajam. Setelah penumpang penuh dan bus memasuki areal jalan tol, barulah pengamen itu membawakan lagunya, ia membawakan lagu berjudul ‘Dust In The Wind’. Wah saya terkesima sekali saat itu, habis suaranya itu lho, mendayu-dayu seperti angin sepoi di pinggir laut.

Pasa saat melantunkan lirik yang berbunyi ‘All we are dust in the wind…. Al we are dust in the wind’, saya sempat berpikir, apa iya ya, kita semua cuma debu di dalam angin. Sebegitu ekstremnya ya? Tak apalah, namanya juga hanya sebuah lagu, yang penting cukup terhibur. Iya ndak?

Dan, pada saat membawakan lagu yang kedua, dia menyanyikan lagu barat lagi, saya pikir mana lagu Indonesianya ya, weleeh…. yo uwis lah, kebanyakan mikir nanti malah tambah ruwet kepala saya. Saya pernah mendengar lagunya, tapi tidak tahu apa judulnya, pasti yang penggemar klasik rock pada tahu semua, apalagi yang suka mendengar radio di M 97 FM (kalau tidak salah sekarang menjadi 95.1 FM deh sebelum ada penertiban gelombang radio) itu yang khusus membawakan lagu-lagu rock era 60 -80 an, kalau saya tidak salah lho ya. Begini lho liriknya –moga-moga tidak salah lagi- ‘If you leaving, close the door, i’m not expecting men here anymore’, selebihnya samar-samar karena suara bus yang menggema di dalam mobil, dan tiba-tiba, ‘When the blind men cry….’ kemudian hilang lagi sampai lagu itu selesai, dan terus mengeluarkan kantong permen dari bagian belakang celana jeansnya, mengedarkan kepada setiap penumpang dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas uang yang disumbangkannya. Setelah keluar dari pintu tol, ia langsung turun untuk kemudian mengejar-ngejar bus lainnya dan mungkin menyanyikan lagu yang sama lagi di sana.

Padahal, sebelum naik bus itu, di terminal Bekasi, saya sempat mengobrol sebentar dengan seseorang yang biasa diam di terminal tersebut, ia juga terbiasa menjadi ‘timer’ bus-bus yang ‘ngetem’ di terminal Bekasi. Sudah tujuh bulan katanya ia bekerja seperti itu, meski dalam hati ingin segera berhenti dari pekerjaan itu. Tapi dia sempat berpikir lagi ingin bekerja apa, sedangkan mencari kerja di jaman sekarang sungguh! Sangat sulit. Ia saja di PHK dari pekerjaannya yang tujuh bulan lalu di tinggalkannya karena alasan pengurangan pegawai. Waduh! Kacau. Lha, saya saja masih nganggur alias tidak punya pekerjaan. Hehehehehe, bener, enggak bo’ong, suer.

Tapi, ya sudahlah, mau dikata apalagi, memang negara sekarang sedang susah. Asal masih bisa makan, bisa merokok, kumpul sama keluarga, itu juga masih bisa menghilangkan ganjalan hati. Asal tidak makan hati.

“Kenapa tidak mau, bukannya makan hati itu baik untuk menambah darah, menambah kesehatan tubuh. Biar tetap segar dan tidak loyo, seperti kamu yang kurus kering,” kata Abah Kirman. Lah ini, makanya jangan salah dengar biar jangan salah paham.
“Kalau itu memang benar, Bah. Tapi yang saya sedang pikirkan bukan itu,” jawab saya sedikit kesal.

“Memang apa yang sedang kau pikirkan? Hidup ini bukan cuma untuk dipikirkan, nikmati saja hidupmu itu. Sudah, jangan pikirkan yang macam-macam atau kau memang sedang memikirkan yang macam-macam.”

“Apa saya sedang terlihat berpikir yang macam-macam?”

“”Oalaaah, nduk, nduk…,” kata Abah Kirman sambil menggelengkan kepalanya lantas berdiri dan pergi meninggalkan saya yang masih terlihat sedikit ndumel itu. Sebenarnya saya tidak kesal, apa yang mesti dikesalkan ya? Mungkin biasalah, dalam menghadapi orang tua seperti Abah Kirman, kakek-kakek berumur 80 tahunan itu dan tampaknya masih terlihat cukup sehat meskipun pendengarannta mulai berkurang dan pikirannya kembali seperti anak kecil –tapi tidak juga ah, seperti yang saya rasakan.-

Dulu Abah Kirman lama tinggal di Klaten, walau ia sendiri berawal dari Jawa Barat, dan sekarang ia menetap di daerah pinggiran kita Jakarta. Kalau saya, wah hubungan saya dengan Abah Kirman saja saya tidak tahu harus mulai dari mana. Pokoknya sulitlah untuk dijelaskan. Turun-temurun, beranak-pinak, turunan lagi, nah, turunan yang setelah turunan itulah mungkin posisi saya bila ditilik dari sudut Abah Kirman. Hehehehe, susah apa ndak? Saya sendiri saja bingung.

“Apanya yang bingung? Tertawa kok sendiri-sendiri, mbok ya, bagi-bagi gitu lho, biar tidak disangka kurang waras,” sambung Iman yang waktu itu tidak sengaja lewat di depan saya dan tengah cengengesan sendirian. Masa sih, saya sudah tidak waras lagi.

“Apa iya, saya sudah gika?”

“Ya, ndak juga.”

“Masa sih?”

“Buktinya kamu menanyakan kepada saya.”

“Lha, bukannya sampeyan yang tadi bilang saya begitu?”

“Lha, masa juga sih, apa iya begitu?”

“Weleh, weleh, weleh….,” kata saya yang nyerocos seperti Si Komo itu yang kalau ia lewat jalanan pasti macet. Untungnya saya bukan Si Komo, jadi tidak perlu membuat jalan sampai macet panjang. Tapi, apa iya, jalan-jalan masih suka macet.

Syukur si Iman itu sudah cepat menyingkir dari hadapan saya, kalau tidak, waaduh, ya, tidak apa-apa juga sih. Memangnya mau saya apakan si Iman itu, tidak baik berbuat kasar apalagi terhadap teman, terlebih terhadap saudara sendiri. Ya, kalau ingin hidup nyaman, enak, damai, tentram, harus bisa begitu. Jangan bisanya dikit-dikit sikut, pukul, jotos. Pantas saja, banyak yang bilang negara kita negara yang garang dan ganas. Yang bilang siapa ya. Untung saya orangnya sangat kalem dan lembut, hehehehe.
Matahari tambah tinggi di atas angkasa, tepat di atas bumi kita, yang kata para ilmuwan dan pengamat lingkungan, ozon di atas atsmosfer kita sudah ‘bolong’ karenapolutan di bumi kita meningkat. Kalau saja langit bisa ditambal, pikir saya, pasti cukup mudah untuk memperbaikinya, iya.

“Nah kan, kamu berpikir yang macam-macam lagi, ingat ini dunia nyata bukan impian yang ada di kepalamu itu, yang kosong seperti tong kosong karena kebanyakan bengong,” kata Abah Kirman dan itu membuatku sedikit kaget. Lha, datangnya saja tiba-tiba, seakan seperti malaikat maut yang datang untuk menjemput, bahkan ia sendiri yang pantas dijemputnnya.

Benar kita tidak punya kekuatan apa-apa di alam semesta ini, seperti kita bergantung pada akar yang lapuk, atau seperti di bawah naungan yang hampa. Meskipun sekarang alam cukup ramah untuk didekati dan kita dapat bercumbu dengannya, tapi bukan mustahil suatu saat ia akan menunjukkan kekuatannya.kalau sudah begitu, kita tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa dan terus berdoa.

“Sekarang, ayo kita makan. Ayo, jangan terlalu banyak berhayal,itu kurang baik,” kata Abah lagi dan menyadarkanku dari lamunan yang berkepanjangan.

“Ayolah, kalau begitu, mumpung masih bisa makan, hehehehehe….”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Nina dan Burung Liar

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Februari 2009

“Bu,” kata Nina pelan waktu ia dalam pelukan ibunya pada pembaringan yang cuma beralaskan tikar lusuh dan plastik kumal. Rumah mereka ada di pinggiran pembuangan sampah, begitu juga teman-teman Nina yang lainnya. Malam itu hanya gubuk milik mereka yang lampu minyaknya masih menyala.

“Iya, Nina,” jawab Ibu Nina dengan belaian lembutnya mengusap rambut Nina.

“Benarkah kalau burung yang liar dapat terbang bebas sekehendak hatinya? Biar tubuhnya kurus tap ia lebih bahagia daripada burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung,” sambung Nina lagi, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat ibunya tersenyum.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tadi siang Nina lihat burung Pakde Nur sepertinya merasa kesepian dan iri waktu beberapa burung pipit hinggap pada gundukan sampah dan melahap serpihan makanan dengan riang bersama teman-temannya. Nyanyinya merdu, tidak seperti burung Pakde Nur. Ia menatapnya dengan sedih.”

“Apakah ia benar-benar merasa sedih dan kesepian? Tapi kalau kau ingin tahu apakah burung yang bebas dan liar itu lebih bahagia, tentunya ia akan merasa bahagia kalau ia ingin. Begitu pula dengan burung kicau milik Pakde Nur.”

“Bagaimana dengan kita sendiri, Bu?”

“Kita pun akan berlaku serupa seandainya kita ada bersama-sama dengan mereka.”

“Tapi Nina akan lebih senang menjadi burung kurus dan liar itu.”

“Lalu?”

“Nina akan terbang dan hinggap di mana pun yang Nina suka dan senangi, asal itu membuat Nina senang.”

“Kalau begitu kau akan menjadi seperti apa yang kau inginkan.”

“Dan Nina akan membawa ibu serta dan menunjukkan tempat yang paling indah yang pernah kita datangi.”

“Tentu ibu akan bersamamu.”

“Tapi, mungkinkah ada tempat seperti itu, Bu?”

“Tempat seperti apa yang kau maksud?”

“Tempat di mana kita bisa merasa bahagia dan ceria, tidak ada kesedihan-kesedihan dan air mata, tidak ada pertengkaran. Rumah kita pasti akan penuh dengan tumbuhan dan kembang-kembang lalu kita akan undang banyak kupu-kupu dan kumbang untuk bergabung bersama kita. Membagi kebahagiaan itu bukankah hal yang paling indah kan, Bu”

“Itu memang suatu keindahan tersendiri. Tetapi tahukah kamu kalau keindahan adalah keindahan itu sendiri. Kau juga pasti tahu tentang nyanyi burung liar itu, Nina. Kau juga harus ingat, burung yang terbang tinggi itu bukanlah untuk bersenang-senang melainkan ia juga tetap mencoba bertahan hidup. Maka dilawannyalah angin yang kencang di atas sana. Ia tahu, kalau ia lemah pasti tidak akan mampu bertahan dari kehidupannya.”

“Lalu apa yang akan dilakukannya?”

“Ia akan terus berjuang untuk tetap hidup.”

“Apakah kita akan mampu bertahan, Bu?”

“Kita pasti akan mampu melewati semua ini, Nina, asal kita yakin terlebih dulu kalau kita mampu mengalahkan semua ini,” jawab ibu Nina. Setelah itu ia menyuruh Nina segera tidur karena pagi nanti masih banyak yang harus dikerjakan oleh mereka berdua.

Esoknya, seperti biasa, Nina bersama ibunya mencari kardus bekas, botol plastik atau besi tua yang dapat mereka temukan pada kumpulan sampah yang terhampar di sekitar pembuangan sampah. Sekali lagi Nina melihat kumpulan burung liar itu kembali hinggap pada pelupuk matanya. Burung-burung itu kembali mencari serangga yang bersembunyi di balik sampah-sampah yang membusuk. Nina semakin jauh dari ibunya yang terus saja memperhatikan mobil truk yang mengangkut sampah dan di belakangnya banyak sekali pemulung menguntit, padahal mobil itupun belum berhenti memuntahkan muatannya.

Dan tahu-tahu saja Nina sudah sampai di depan rumah Pakde Nur, pemilik rumah timbangan yang membayar hasil yang didapat oleh para pemulung di sekitar pembuangan sampah itu, termasuk ibunya. Nina melihat Pakde Nur masih saja memperhatikan burung kesayangannya ketika Nina semakin mendekat ke arah Pakde Nur, Nina sekarang berdiri di belakangnya, ia memperhatikan juga apa yang tengah diperhatikan Pakde Nur.

“Seandainya saja ia dapat terbang bebas,” kata Nina tiba-tiba tanpa sengaja. Pakde Nur sedikit kaget mendengar suara Nina dan tidak menyangka kalau sejak tadi Nina berada di belakang dirinya. Pakde Nur tersenyum mendengar suara Nina yang polos itu.

“Kenapa kamu ingin seperti itu, Nina?” tanya Pakde Nur sambil tangannya mengusap kepala Nina, tapi Nina masih saja memperhatikan burung yang tergantung pada sebuah tiang bersama sangkarnya yang terbuat dari kayu dan bercat emas, berkilau bermandikan cahaya matahari.

“Nina lebih senang kalau ia dapat terbang bebas,kalau ia masih terkurung ia akan bersedih karena kedua sayapnya tidak berguna untuk membawanya ke tempat-tempat yang dapat membuatnya senang,” jawab Nina.

“Darimana kamu tahu kalau burung milik Pakde itu senang atau tidak senang, padahal Pakde menyediakan sangkar yang bagus dan makanan yang banyak untuk dirinya. Tentu saja menurut pakde ia lebih senang, karena di luar sana kan banyak pemangsa yang dapat menerkamnya, sedang di dalam sana ia akan terlindungi.”

“Kalau begitu, kedua sayap miliknya tidak akan berguna, meski ia punya bulu-bulu yang indah pada tubuhnya,” jawab Nina lagi.

“Hahaha, Nina…, Nina,” kata Pakde Nur tertawa pelan dan hangat. Pakde Nur lalu berjongkok dekat Nina dan tetap memperhatikan burung yang tergantung itu bersama Nina. “Apa kamu menyarankan Pakde untuk melepaskan burung itu?” lanjut Pakde Nur.

“Itu kata Pakde, tapi kalau seandainya begitu, apakah Pakde mau melepasnya?”

“Entahlah. Tapi apakah itu akan membuat kamu senang seandainya Pakde melepasnya agar ia dapat menikmati alam bebas yang seharusnya memang dia berada di sana?” tanya Pakde lagi.

“Tentu akan senang, asal pakde juga merasa senang dengan apa yang Pakde lakukan.”

“Hahahahaha…., ah, Nina, Nina. Tahu tidak, sebenarnya Pakde juga merasa kasihan dengan burung itu. Tapi, baiklah, Pakde akan melepasnya kalau itu dapat membuat kamu senang. Mungkin burung itu akan berterima kasih kepadamu, Nina,” kata Pakde Nur sambil menuju arah tiang yang menggantung sangkar burung miliknya lalu menurunkannya. “Tapi pakde ingin kamu yang melepasnya. Kamu mau kan?”

“Benarkah, Pakde?”

“Tentu, Nina. Justru itu yang membuat Pakde senang bila kamu yang melepasnya. Sekarang ambillah sangkar ini dan lepaskanlah burung itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan, burung itu mungkin akan berterima kasih padamu,” kata Pakde Nur lagi sambil menyerahkan sangkar itu kepada Nina.

“Terima kasih, Pakde,” kata Nina. Ia lalu mengeluarkan burung itu. “Sekarang kebebasanlah milikmu, wahai burung, sekarang terbanglah sesukamu dan pergilah ke tempat-tempat yang indah. Tentu kamu akan menyukainya ketimbang sangkar ini,” sambung Nina lagi.

Maka, terbanglah burung itu, semakin tinggi dan terus semakin tinggi meninggalkan Nina dan Pakde Nur di bawahnya untuk dapat menemukan tempat-tempat yang indah dan menyenangkan seperti apa yang telah disuruh Nina kepadanya. Nina terus berlalu mengikuti arah burung itu terbang. Ia terus saja berlari berusaha mengejar.

“Terima kasih, Pakde Nur!” teriak Nina dari jauh setelah burung itu terbang semakin tinggi sambil melambaikan tangannya kepada Pakde Nur. Pakde Nur hanya tertawa dan ia pun membalas lambaian tangan Nina.

“Hahaha…. Yah, burung itu mungkin akan lebih senang menjadi bebas ketimbang terkurung,” kata Pakde Nur pelan setelah Nina hilang dari pandangannya dan bayangannya tenggelam di antara gundukan-gundukan sampah itu.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »