Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘cahaya’

Aku Kira

Ditulis oleh permanas di/pada 7 Juli 2009

Aku kira, kalau keadilan itu adalah kekasihku

Dan pedang di genggaman adalah sahabatku

Timbangan adalah penuntunku untuk berkata bijak

Ternyata aku salah menduga

Pedangku tumpul

Timbanganku berat sebelah

Kekasihku mulai menjauhi

Aku kira, perdamaian adalah tujuanku

Tapi, di tanganku sendiri ada sepucuk senjata

Mengarah kepada seorang bocah laki-laki yang menangis

Aku kira, di hadapanku bertebaran butiran cahaya mutiara

Kilatnya hilang dalam silau; mengilatkan mataku

Tapi, kurasa hanya kemiskinan menelikung

Aku kira, gelap tempat terbaik untuk bersembunyi

Tapi, temanku cuma ular kepala dua

Dan menyuruhku berlari

Menyembunyikan cahaya

Sekarang, aku sekarat

Karena racun-racun yang menyebar

Dari jiwa-jiwa mati

Sawaludin Permana, Jakarta, 20 Oktober 2000

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Aku Terjebak

Ditulis oleh permanas di/pada 3 Maret 2009

Aku terjebak, terjerumus dalam dunia hitam dan aku tak tahu mesti ke mana. Satu-satunya yang kutahu aku pergi ke tempat di mana aku bisa bebas terbang melayang seperti burung yang pergi ke mana pun dia suka. Biar orang mau bilang apa, biar otang mau melakukan apa, tidak peduli kalau dunia ini terus bergerak atau tidak, atau waktu semakin meruncingkan jarumnya dan menusuk manusia-manusia pemimpi dan penidur. Aku sendiri seorang pemimpi dan terjerat selimutnya sendiri. Aku semakin terlilit.

Malam menjadi jubah megah,menutup tubuh-tubuh kurus yang telah dicemar oleh dosa-dosanya sendiri dan menjadi tuhan kegelapan. Menyusuri lorong seperti tikus-tikus menyusuri comberan dan menggerogoti tong sampah untuk mengais makanan busuk. Merenda malam dengan tawa kesakitan lalu menghiasnya bersama kumpulan orang buangan dari dunia yang tak bahagia. Siapa mereka, siapa aku, semua sama sekarang dalam mangkuk kesialan.

Aku lari, aku bersembunyi dari kenyataan, seperti pengecut yang lari sebelum berkelahi. Api membara dalam jiwa ini padam, musnah dihembus ketakutannya sendiri. Sementara lampu-lampu membiaskan sinarannya di antara kebisingan malam. Aku menyingkir, menjauh, mencari kesunyian dan merangkuli sambil mencumbunya. Keremangan cahaya kota itu menjadi pudar dan hanya tinggal keangkuhan di sana, lelap.

Setiap malam, orang buangan dari dunia yang tak bahagia itu, mereka selalu datang, bicara dari hati ke hati, tertawa lepas dan bebas meskipun gelap menghimpit dada mereka yang membuat sakit dan sesak. Di sini kumpulan manusia pemimpi dan penidur bersatu, melayangkan pikiran dan melupakan semua menjadi ganjalan hati dan rintangan kebebasan. Di sini semua lepas, tak ada ikatan.

Bercerita tentang dunia penuh keramahan dan senyuman, bukan perang dan saling curiga dari dunia yang mereka huni sekarang adalah dunia yang tak bahagia, selalu membayangkan dunia penuh kebahagiaan, entah itu terletak di bumi sebelah mana.

Aku lihat dalam mata mereka,masih ada harapan bersemayam di sana dan hati yang meluap-luap untuk mencari sesuatu yang hilang, bagian dari diri mereka masing-masing yang belum mereka rasakan dan mereka temukan. Rindu ini tersimpan begitu lama hampir tak pernah dibuka untuk diingat-ingat tentang apa yang mereka rindukan. Aku rindu diriku yang dulu dan mereka rindukan diri mereka masing-masing dan memang ada sesuatu yang hilang, yang dirindukan di sini.

Hanya dalam kegelapan aku dapat menjadi sesuatu, hanya dalam gelap semua terasa begitu terang, indah, gemerlap, bukankah karena gelap cahaya begitu dirindukan dan diinginkan meskipun kegelapan tidak pernah dianggap sebagai sebagai ibu dari cahaya. Dan penerang dari bumi yang lama tertutup selimut hitamnya.

Aku bebas sekarang dari lubang yang membuatku terjerumus dan terjebak, aku benar-benar seperti apa yang aku inginkan sekarang. Hampir seperti burung itu, terbang lintasi dunianya sendiri dan merentangkan sayapnya lebar-lebar. Ini bukan lagi kesunyian dan tidak lagi jeritan yang membelah buaian malam. Ini sebuah kemenangan bukan sebuah retorika atau kata-kata kosong belaka. Bumi ini tetap bergerak dan jarum waktu tetap berputar. Yang terjadi bukanlah sebuah kesia-siaan.

Bangun, kawan, lekas kita pergi dari sini dan mengarungi kehidupan kita masing-masing. Bukan pemimpi kita sekarang, bukan penidur kita sekarang. Tetap, bagian dari sejarah waktu kita sekarang. Bukan lagi saatnya kita terlelap, ini bukan sebuah akhir tapi awal dari kebangkitan kita untuk membangun kehidupan. Ayo lekas, jangan terlelap ketika orang-orang menjaga hari-hari mereka. Aku katakan ini kepadamu.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sang Penari

Ditulis oleh permanas di/pada 19 Februari 2009

Samar, dari kejauhan terdengar suara genta memecah kesunyian yang membungkus malam. Di balik kehampaan jiwa yang mencari perlindungan, seorang perempuan tengah berdiri sambil menggerakkan tangannya perlahan dan dengan lembut mengitari kegelapan mengikuti suara genta ditabuh. Ia menari menangisi nasib tapi tidak merengek menjatuhkan diri dan menghentak bongkahan tanah, cuma air mata menerangi wajah pucat di antara riasan-riasan yang meluntur.

Warna-warna kelam melekat di tubuh gemulai. Genta itu masih mengiringi gerakan kesedihan, atau tarian tanpa alur cerita. Hanya kebisuankah untuk melewati malam ini atau makna-makna asing yang jauh dari pemahamankah ingin dijelaskan. Mungkinkah kata-kata tak dapat mengungkapkan bahasa gerak yang menginginkan pengertian kalau ia mencoba bicara. Dengar, adakah suara berbisik di tengah kesunyian ini, tidakkah ada yang mendengar. Ah, diri ini pun mempertanyakannya.

Tak ada suara, tak ada gerak, genta ini berhenti ditabuh. Perempuan yang menari di atas kesedihannya, ia tersungkur, lumpuh, sejenak dentingan dawai kecapi mengisi kekosongan dan membiarkan genta itu terlupakan dan nyanyian mengganti gerak yang tertunda, menyairkan jelmaan suara hati, bukan kesunyian yang dilewati atau makna-makna yang tak dapat dijelaskan. Kata-kata itu dapat mengerti bahasa gerak. Bukan bisikan yang tersurat, tapi suara-suara penuh pertanyaan meminta jawab.

Kenapa di samping perempuan itu pohon-pohon menggugurkan daunnya sementara ini adalah musim bersemi yang seharusnya menghadirkan aneka macam bunga untuk digunakan pada prosesi upacara ritual. Ranting mengering, kuncup-kuncup terkulai layu dan mati, menggagalkan mimpi kalau yang terjadi bukanlah tarian keceriaan penuh senda gurau. Ke mana kesendirian ini harus dipercayakan untuk ditentang atau dicintai, ke mana mesti meminta jawab.

“Perempuan, katakan kalau kesedihanmu itu bukan beban, tarianmu bukan kegelisahan dan nyanyimu bukan kata-kata yang tak didengar, karena masih ada yang ingin melindungimu.”

“Engkau, kesedihanku adalah untuk membuang beban, tarianku adalah belahan jiwaku dan nyanyiku adalah memang kata-kata yang ingin didengar, dan aku membutuhkan seorang pelindung.”

“Perempuan, air matamu bak permata tak terpermanai harganya, engkau adalah penari dan gerakanmu selalu sarat makna. Ungkapkanlah sebuah syair untukku malam ini.”

“Oh, Rembulan, mestikah aku mengadu kepadamu kalau aku ini hanyalah makhluk lemah hingga lidahku pun merasa kelu untuk mengatakan kalimat-kalimat keindahan. Jiwaku selalu rapuh setiap topeng-topeng hayalan menggerogoti kepolosanku sebagai seorang perempuan.”

“Perempuan, tanpa itu semua engkau sendiri adalah sesuatu yang sangat berharga, pertanyaan hatimu, carilah jawabnya tatkala engkau dalam kesendirian. Biarlah ini menjadi rahasia kita.”

“Engkau, malam tanpamu pun tak mempunyai arti lebih. Lewat naungan cahaya ini aku menari untukmu walau sepi menjadi pengiringku.”

Penari yang menari dalam gelap dan mencintai sunyi tak dapat dipahami kecuali ada yang menuntunnya. Kenapa rembulan dapat mencairkan hati batu perempuan penari itu sementara ada tangan-tangan yang ingin menariknya dari sana dan mendakwa rembulan telah merampasnya dari kehidupan nyata. Lewat tarian perempuan itu, menyangkal kalau rembulan menjadi terhukum, bukan hanya langit yang bersedih dan ancamannya adalah tak ada keindahan di setiap malam tanpa dirinya. Ia bergerak dengan pelan namun memiliki kekuatan.

Rasakan kekuatan gaib tarian-tarian yang selalu hadir dalam setiap sendi-sendi kehidupan, mantra-mantra, iringan tabuhan genta dan gendang, gerakan pun semakin cepat mengundang ruh-ruh untuk bergabung menikmati tarian penyambut kedatangan dan pengantar kepergian. Siapa yang dirasuki tak pernah sadar kalau tarian ini memiliki kekuatan. Pemangsa dan mangsa menjadi judul dari semuanya tatkala malam menyeret gelap sebagai sekutu dan menyembahkan tumbal untuk perjamuan ruh-ruh yang kehilangan jiwanya. Tarian tetap ada untuk mengabarkan kegelisahan serta ketakutan mereka. Syair diperdengarkan, membuat jernih raut muka dan bangkit dari kesadaran.

Kerincing yang terikat di kaki penari itu menggetak-getakkan tirai kabut menyelubungi mata hati mengibaskan badannya mengusir kabut yang semakin menutup penglihatan. Sebatang kayu kering mulai membawanya menghindari ketersesatan mencari jalan lurus dari kebutaannya meraba serakan daun-daun kering terhampar di tanah. Bertanya-tanya dalam dirinya apa yang mesti dilakukan bila semua berhenti bergerak dan berdentang untuk dijadikan petunjuk sementara cahaya redup pun tak ada dari penglihatan. Hilang begitu saja tanpa jejak. Ia berhenti menari, mengingkari janjinya kepada rembulan, untuk menanyakan kepada waktu di mana tempatnya berada saat ini yang tenggelam dalam kebimbangan mencari jati diri.

“Suatu waktu, terkadang kegelisahan bukanlah keadaan yang mesti dikhawatirkan, malah mungkin mulai timbul kesadaran. Perempuan yang bertanya pada dirinya sendiri selalu mencari ketenangan antara ketidakseimbangan yang melemahkan dirinya dan menguatkan jiwa dari kerapuhan. Orang menjadi kuat karena belajar dari kesalahan serta memahami kekurangannya. Engkau pun seharusnya demikian, dapat belajar dari pengalaman yang diberikan oleh kehidupan.” Tiba-tiba lantunan syair menyelinap ke dalam telinga. Tak ada rupa. Hanya suara sayup tertangkap dalam keterbatasan jarak pandang.

“Rembulan, engkaukah itu? Aku hanya seorang penari, apa yang mesti aku ketahui sementara sebagian orang menganggapku buruk dan hina. Haruskan aku menari untuk mengiringi kematianku sendiri dan mengubur dalam-dalam jelmaan makna dalam gerakan tubuh untuk membungkam kata-kata yang tak sempat terungkap lidah. Mengangkat gerakan dan mengunci mulut adalah kematian pikiran yang jatuhnya sama saja. Untuk apa hidup itu sendiri dalam keadaan demikian?”

“Hidup bukanlah untuk main-main. Hidup adalah apa yang membuat kehidupan menjadi hidup. Hidup tidak bisa mengikat gerakan tapi membebaskannya, juga bukan mengunci mulut rapat-rapat untuk mematikan pikiran. Tapi gerakan dan kata-kata menyatu dalam kehidupan dan itu membuat semuanya menjadi tampak lebih hidup. Tarian melengkapi alur dan gerak menjadi indah agar kehidupan ini tidak menjadi statis. Kau seharusnya merasa bangga dengan dirimu.”

Semilir angin menyingkapi kabut-kabut tebal menjadi tetesan embun dan menempeli daun-daun yang berserakan di tanah. Kesejukan mulai terasa dalam kebimbangan, perempuan itu mulai menggerakkan tangannya kembali dengan penuh rasa bebas pengungkapan jiwa-jiwa tertawan yang mencari perlindungan di bawah cahaya rembulan. Bayangan keindahan memenuhi janji dalam tarian penyambut keberkahan.

“O, Rembulan, gerakanku adalah gambaran cahayamu membelah diriku seperti daun yang diterobos oleh sinaranmu ketika malam. Tak lagi diri ini gundah mengiringi tarian kematian sekaligus kelahiran, karena kau menemani.”

Suara-suara sunyi itu semakin samar terdengar dan berubah menjadi hening, dari kejauhan tak tampak apa pun juga, hanya pohon-pohon kering mematung di sana. Semua lenyap ditelan kegelapan yang masih misteri. Waktu berjalan mundur melewati apa yang telah dilalui untuk dipertanyakan lagi.***permanas/gang kresna/2001

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Seorang Pelarian……

Ditulis oleh permanas di/pada 17 November 2008

Hah, kadang aku merasa sebagai seorang pelarian, tapi tidak tahu sesungguhnya aku berlari dari apa dan bagaimana aku bisa sebagai seorang pelarian. Nyatanya aku selalu berlari, berlari dari kenyataan, berlari dari tugas, berlari dari tanggung jawab, berlari dari keramaian, dan terlebih lagi, dan ini yang paling buruk dari pelarianku, aku lari dari diriku sendiri.

Rasa kecewa memang bisa membuat seseorang gelap mata, tidak mengakui kegagalan sebagai kenyataan yang harus ditelan sendirian. Terlebih ketika kau harus dipaksa mengakui sesuatu yang tidak pernah kau lakukan. Dan itu akan semakin memperburuk keadaan.

Biasanya aku memiliki tempat pelarianku sendiri, tidak dimana-mana. Aku hanya menenggelamkan diriku sendiri dalam kegelapan, membungkam cahaya sekaligus merindukan suaranya. Ah, bahkan cahayapun tidak pernah bersuara, atau mendesis. Baiklah, sekarang aku menjadi seorang pelarian tanpa tahu apa yang membuatku berlari dari sesuatu, dan aku belum memutuskan kapan harus berhenti. Karena sejauh yang aku tahu, aku paling benci menunggu.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Bintang Jatuh

Ditulis oleh permanas di/pada 15 September 2008

Allahu Akbar!! aku rasa itu ucapan yang spontan aku keluarkan ketika pukul satu 14 ramadhan 1429 h = 14 september 2008 m, waktu aku keluar rumah dan mendongak ke atas langit yang cerah. satu meteor yang cukup terang berekor panjang melintas tepat di depan mata dan kepalaku sekitar sepersekian detik melintas dengan cepat sekali.

dan tiba-tiba saja aku merasa menjadi seseorang yang religius sekali -padahal jujur, jarang aku shalat- bukan karena kebetulan. sebenarnya, sebelumnya aku berkelakar dalam hati dengan Tuhanku itu. mengingat ini kali keduanya aku melihat bintang jatuh pada bulan ramadhan, satu kali aku lupa tahunnya dan tahun itu bukan hanya sekedar bintang jatuh melainkan hujan meteor, sungguh! aku jujur! beberapa kali lainnya di luar bulan ramadhan. aku rindu sekali ingin melihat sebuah meteor jatuh dihadapanku, atau sesuatu seperti setitik cahaya menyerupai bintang tapi tiba-tiba ia bergerak perlahan dan menghilang di balik kabut langit, atau bola api raksasa yang terbang pendek, percayalah, aku pernah juga melihatnya dengan jelas! dan beberapa kali aku mendongak ke langit tanpa sesuatu pun terjadi. dan tiba-tiba saja SLASSSSHHHHHHHHH!! sesuatu bergerak dengan cepat sekali dan sangat terang! aku bercanda, dan Tuhan aku mengabulkan permintaanku, meski aku berkelakar dalam hati, tapi sungguh itu benar-benar terjadi, kawan!

Tuhanku itu menghentikan candaku dan emngubah hatiku menjadi sebuah perenungan yang panjang, tapi hatiku penuh dengan kegembiraan yang meluap! kau tahu, energinya sampai sekarang masih mampu membuatku tetap tersenyum! camkan itu. tiada habisnya aku tersenyum dan mengingat kembali peristiwa malam itu, kenapa aku tahu tepat pukul satu, setelah kejadian itu aku langsung memeriksa jam dinding, dan ya, memang tepat pukul satu dini hari. itu sebelum sahur yak!

tiba-tiba juga, aku menjadi salah seorang yang sangat beruntung di dunia ini, selain permohonanku terkabul malam itu juga. aku mengingat peristiwa malam Lailatul Qadar, pertama kali Al Quran diturunkan ke bumi, pertama kali gunung, sungai, pohon-pohon, semua makhluk bumi tunduk menerima kehadirannya. dan, Masya Allah! andai saja malam itu benar-benar malam yang selalu di cari orang-orang yang zuhud, sungguh mereka sangat beruntung sekali dan Allah akan membalasnya ribuan kali, Insya Allah. mungkin aku akan menyesal karena tidak melakukan apa-apa selain spontan mengucapkan takbir, tanpa aku suruh, tubuh, jiwa, dan ragaku sudah tunduk terlebih dahulu mendahului aku.

kau tahu, aku memang selalu dipenuhi dengan keberuntungan! tentu saja aku mengucapkan permohonan kembali, dalam hati tentunya, setelah melihat bintang jatuh itu, kalau mitos itu benar-benar dimungkinkan ya, setidaknya tidak ada salahnya mencoba dan mengucapkan beberapa keinginanku untuk kembali dikabulkan, hehehehe, kapan lagi kesempatan datang, pikirku. tidak perlulah aku sebutkan di sini.

dulu aku pernah mengucapkan begini, kalau aku gagal jadi penulis, aku akan jadi juru masak. Tsui Hark (sutradara film laga) bilang, bekerjalah seperti seorang juru masak, coba berbagai hal baru, hasilnya mungkin masakan kelas satu, mungkin juga tidak! ya akhirnya aku memilih jadi jruu masak kalau cita-cita pertamaku gagal. kalau aku gagal jadi juru masak, aku memilih menjadi seorang astronomer. itu bukan ide gila, kawan! aku sungguh-sungguh, aku menyukai malam, aku menyukai bintang-bintang, planet dan pergerakan awan-awan kosmik dan menunggu kelahiran bintang baru! aku ingin menjadi salah satu penyaksi!

aku memang bukan satu-satunya saksi yang sering melihat betapa indahnya sebuah bintang jatuh (baca: meteor) tapi aku sangat berterima kasih sekali kepada Tuhanku, aku diberi kesempatan menjadi salah seorang penyaksi dari sekian banyak orang. terima kasih, Tuhan

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Semesta

Ditulis oleh permanas di/pada 12 September 2008

“Bumi ini bukan milik kita, Istriku. Tapi keindahannya ada di tangan kita dan dalam rangkulan keheningan malam betapa kita terkagum dengan keelokan yang hidup di dalamnya. Kita merasa begitu kerdil, namun kekerdilan kita tetap menjadi satu kesatuan keindahan itu sendiri. Kita adalah refleksi dari realitas keindahan itu sendiri.”

“Benar, Suamiku. Kau dan aku, dan kita semua bukanlah sesuatu yang terpisah dari alam. Semua itu berasal dari dari satu sumber kekuatan gaib di mana setiap kita memiliki sumber-sumber kekuatan gaib itu, di dalam diri kita. Ketika setiap orang mulai mematri malamnya dengan selimut mimpi, batinku selalu ingin bicara dengan hati meluap-luap dan tumpah ke dalam telaga kejernihan pikiran, menari-nari bersama peri yang merubah dirinya menjadi lautan cahaya. Aku tidak tenggelam di dalamnya, tapi kedamaian yang kutemukan di sana ketika malam tidak lagi berubah gelap. Ada bagian dari diriku di sana dan ingin segera kukumpulkan kepingan-kepingan kehidupan yang membuat malam ini begitu indah dan gemerlap.”

“Ada yang bersembunyi, Istriku, di balik bayangan kita sendiri dan selalu menguntit sementara kita lengah dengan keasyikan dalam kealpaan kita. Kita kosong dan tak ada sesuatu yang dapat mengisi kekosongan kita dan kita menjadi takut dalam kesendirian lalu membuangnya jauh-jauh ketika gelap menjamah bagian-bagian dari diri kita. Mengikat cahaya dengan erat sehingga kita menjadi buta mengenali diri kita sendiri. Aku takut, Istriku, seandainya aku dipasung oleh kebutaanku sendiri dan tak satupun tongkat untuk menuntunku mencari setitik cahaya. Meskipun setitik, aku takut tak dapat menemukannya.”

“ada gelombang besar dan dahsyat dalam kegelisahanmu, Suamiku, yang membuatmu menjadi buta sementara kilat menyilaukan matamu dan angin taufan mengacaukan penalaranmu dan juga pemikiranmu hingga sedemikian rancunya. Jangan kegusaranmu kau jadikan tameng untuk tak melihat lagi ke dalam kejernihan. Kau harus sadar. Kau masih memiliki kekuatan gaib itu untuk membuang semua kegelisahanmu. Itu yang akan menjadi tongkat dan menuntunmu ke dalam lautan cahaya, keindahan alam semesta ada di sekeliling kita. Bilakah keindahan tak kau inginkan lagi, apa yang akan kau lakukan dalam hidupmu sendiri. Tak seharusnya kau bertanya kepadaku, tanyakan itu kepada dirimu.”

Dingin terus merambat dari bibir cakrawala dan menutup kubah langit, belum terjamah oleh bayang-bayang kesemuan. Lautan menjadi selimut yang mendera batu karang di pulau kesunyian dan menjadi musik pengiring syair-syair alam, terucap dari bibir kekaguman alam raya, dan malam ini tetap memainkan perannya.

“Istriku, kita masih beruntung bisa menatap langit malam dengan bintang-bintangnya yang terang. Sampaikan kesadaranku ini pada pencipta semesta yang memiliki seluruh kekuatan yang tersebar di antara kita. Kita akan tetap menjadi gelisah dan gelap dalam kekerdilan kita andai kekerdilan kita bukan merupakan satu kesatuan dari alam semesta ini.”

“Akan aku sampaikan kesadaranmu dan juga kesadaranku sebagai seorang yang bersyukur atas keindahan yang terletak di kedua belah tangan kita dan di antara ruh dan jiwa kita. Meskipun alam raya ini bukan milik kita, aku akan menjaganya dengan kekuatan cinta kita.”

“Semoga alam raya ini terjaga keindahannya. Semoga saja, Istriku. Semoga saja.”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »