Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘CERPEN’

Purnama di Kampung Mah Tong

Ditulis oleh permanas di/pada 4 November 2009

Sawaludin Permana

Musim gugur baru saja mengetuk. Daun-daun mati warna coklat tua berserakan dan akhirnya kembali mengarungi udara kosong, menemui tempat lain yang kering dan gersang. Baru saja pohon-pohon itu melepaskan keteduhannya, sekarang ia telanjang dan ranting-ranting mencakar langit. Burung yang singgah dan lelah itu tidak akan pernah kembali lagi. Kesepian cuma sebuah awal dari keterasingan yang sangat menakutkan, atau ketakutan itu yang kesepian.

Lalu, ada perempuan menyendiri mendiami tempat sunyi setelah tahu ia tidak bisa melihat untuk kedua kali. Apa yang dilihat cuma gelap, tatapan yang terbuka kelopaknya itu kosong, sinarnya pergi jauh. Ia tahu musim gugur telah sampai di telapak kakinya tapi tidak tahu keindahannya. Ingin mengerti kalau sesuatu yang pergi itu adalah untuk membiarkan yang baru lahir. Ia menatapnya, tapi kosong. Biar jendela terbuka, ia hanya merasakan angin saja, tidak mampu melihat sesuatu bergerak dengan gemulai.

“Aku tahu, aku tidak mampu melihat kembali apa-apa yang dilukiskan dunia sekarang ini, aku tidak tahu lagi apa yang membuat burung-burung menyanyi atau daun-daun bergemerisik. Lagunya hanya mampu kudengar tapi tidak tahu di mana ia menyanyi atau desirnya mengayun. Haruskah aku meratapi apa yang sudah hilang. Tidak, aku tidak sebodoh itu. Sekarang yang menuntunku hanya tangan kurus dan hanya diam memandang jendela yang aku tidak tahu apa yang sedang dilukisnya kepadaku. Aku tidak tahu,” kata Marai, rambut panjang terlepas dan jatuh mengikuti pundaknya. Wajah Marai pucat, tangannya gemetar, dingin. Baju putih yang dikenakannya seakan tenggelam bersama dirinya, jauh dari jendela. Marai seperti lukisan mati dalam bingkai yang lusuh dan tidak bercahaya.

“Waktu cahaya itu pergi dari pandanganmu bukan berarti kau tidak layak lagi meneruskan hidup, bukan berarti lentera yang kau pegang telah padam. Meski tak dapat melihat, lentera yang ada padamu akan mampu menerangi yang lain dalam gelap. Kau masih sanggup menuntun dirimu sendiri,” ucap Nang Anai ketika ia membuka pintu kamar Marai dan mendengar kata anaknya. Hati perempuan tua itu miris, meski ia tidak tahu harus berbuat apa, Nang Anai hanya mampu membesarkan hati Marai. Nang Anai merasa, hanya karena gelap, bukan berarti tidak ada cahaya bersembunyi di baliknya. Marai masih saja memandang ke luar jendela.

“Bilang, Nang, kenapa ini yang harus terjadi? Bilang, Nang, bilang,” kata Marai lagi sambil menangis. Nang Anai tidak mampu bicara dan melihat Marai menjatuhkan dirinya ke lantai meratap sejadi-jadinya. Nang ingin menghampiri, kakinya terpaku pada lantai, ia tidak sanggup melangkah untuk mengangkat kepala Marai. Perempuan tua itu hanya mampu memandangi Marai melelehkan airmatanya pada lantai kayu.

*** ***

Malam terang bulan. Saat itu kampung Mah Tong baru saja merayakan panen besar, para penduduk baik tua maupun muda saling berbaur pada alun-alun kampung dan keramaian itu diisi dengan puji-pujian dan nyanyi riang saling bercampur dengan tawa anak-anak.

Di antaranya ada Marai, gadis belia itu dengan semangat menyala melingkar bersama gadis-gadis lainnya dalam tarian mengelilingi api unggun. Tarian dipersembahkan kepada Dewi Kesuburan dan Dewa Hujan agar keberkahan yang mereka rasakan akan tetap berlanjut sampai tahun-tahun mendatang, menjauhkan petaka dan bencana dari kampung Mah Tong dan penduduk serta tanahnya yang subur membentang sampai ujung bukit.

Ada satu pasang mata terus menguntit gerak Marai ketika ia melepaskan senyumnya dengan mata berbinar saling memberi kehangatan dalam lingkaran yang tak pernah terputus selama tarian itu melingkari api unggun. Satu mata itu tidak akan pernah lepas lagi, ketika Marai sadar ada yang menguntit geraknya sejak tadi, lalu segera membalas pandangan itu dengan kehangatan yang sama, malah lebih membakar dari api di hadapan Marai. Ia tahu, ada sesuatu di antara batas yang perlahan mulai terjalin dan akan terus membentuk rajutan-rajutan halus membentang di antara mereka. Gelap kemudian berbaur dengan tubuh Marai

Jung terlihat bingung, menyusup di antara desakan-desakan keramaian yang menyembunyikan pandangannya terhadap Marai. Seakan kumpulan keramaian itu sengaja menculik Marai dari Jung, meski Jung terus menyusup dan membelah kumpulan itu. Jung hampir jatuh, tapi ada tangan halus segera menggapai tangannya. Jung terperangah mengetahui siapa yang menggenggam tangannya dengan lembut dan ramah, sama seperti senyuman dan sebaris gigi putih bersih, membuat Jung tersihir.

“Kau pandang aku begitu lama, sekarang luluhkan hatiku,” kata Marai setelah Jung sudah berdiri dan mereka berhadapan. Sama seperti adat yang biasa dilakukan di kampung Mah Tong, setiap laki-laki yang menyukai perempuan dan membuatnya jatuh hati maka laki-laki itu harus menyusun serangkaian kata untuk dapat meluluhkan perempuan yang disukanya agar dapat sampai ke dalam pelukannya. Tapi sebelum itu ia harus menaklukkan hati sang gadis.

“Apa yang harus aku katakan lebih jauh. Tanpa aku mengatakannya, kau sudah membuatku tenggelam dalam pandangan yang membakar, tapi kau tidak membuatku menjadi arang. Kau malah menghidupkanku lebih jauh dari sekarang,” balas Jung.

“Kalau begitu kau harus lebih berusaha agar dapat meluluhkan hatiku,” balas Marai dan pergi meninggalkan Jung dikeramaian.

“Apa ini berarti kau menyuruhku untuk mendapatkanmu. Ah, bodohnya aku tidak menanyakan siapa namanya. Oh, bodohnya aku,” bisik Jung dalam hati mengetahui kesempatan baik baru saja lepas dari genggamannya.  “Ahahahahaha…..! Aku jatuh cinta!” akhirnya kata Jung seakan ingin memberitahukan perasaannya kepada dunia dan meneriaki telinga malam. Itu hal biasa di kampung Mah Tong. Pasti dalam setiap keramaian, beberapa pasang muda-mudi bertemu pasti akan meneriaki kata yang sama, mereka jatuh cinta kepada apa yang telah membakarnya dan lupa kepada sekelilingnya, bahkan kepada diri mereka sendiri, termasuk Jung.

“Jung, ia selalu saja begitu,” kata seseorang yang melihat berlari serupa orang kesurupan dan menabraki orang-orang.

“Ya, musim ini bagus. Selain panen melimpah, banyak orang muda jatuh cinta. Seperti Jung, tapi ia lebih bahagia dari yang lainnya,” sambung orang tua lain lagi ketika melihat Jung sudah hilang dari matanya.

“Pemuda beruntung. Tapi siapa gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta seperti itu. Semoga saja bukan gadis-gadis seberang yang menyusup ke sini. Jika begitu, itu petaka baginya, juga bagi kita.”

“Siapa yang tahu selain Jung sendiri. Yang pasti malam ini banyak berkah terlimpahkan pada kampung kita.”

“Ya, ya, aku setuju satu hal, mungkin aku juga akan jatuh cinta.”

“Kau sudah tua. Mau kau kemanakan perempuan tua yang menemanimu sejak masa gadisnya telah kau lamar, he?”

“Tua bukan berarti tidak bisa merasakan jiwa muda sedang dirundung cinta. Aku ingin merasakan sekali lagi sebelum sesuatu terjadi padaku.”

“Aku janji akan mengantarmu ke kuburmu, tentu itu tidak akan kulewatkan dalam sejarah hidupku.”

“Begitu juga aku,” dan kata-kata itu pun saling melengkapi sampai keceriaan dan tawa membius mereka sepanjang malam.

*** ***

“Pagi ini ladang menungumu, Jung, cangkul itu harus kau tajamkan sekali lagi, sabit itu harus kau ayunkan tinggi-tinggi. Rumput telah menantangmu,” kata Nang Mhak.

“Nanti saja,” jawab Jung pelan. Sepagian itu Jung masih saja bermalas-malasan bersandar pada tiang kayu dan menggantungkan kakinya. Menantang cahaya matahari.

“Jung, kau tidak ke ladang?” panggil Phak ketika ia melintas di depan rumah Jung.

“Kau saja duluan, aku menyusul,” jawab Jung.

Yang mengganggu pikiran Jung sekarang adalah seorang gadis yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu, yang telah membuatnya jatuh hati karena senyuman dan permintaan meluluhkan hatinya kepada Jung. Sayang, Jung lupa menanyakannya.

“Jung, lekaslah pergi ke ladang. Hari sudah terlampau siang,” bujuk Nang Mhak lagi.

“Baiklah,” jawab Jung seakan berat untuk bangun dan menggapai cangkul di dekat tiang. Berjalan menuruni tangga pun dirinya seakan melayang tanpa tujuan.

Dari jauh, baru Phak saja mengayunkan cangkulnya di sana. Jung menghampiri Phak yang masih saja mengayunkan cangkulnya, Phak menoleh sebentar hanya untuk melayangkan senyum tipis, cara khas menyalami orang di kampung Mah Tong. Jung membalas senyum itu sambil duduk. Di antara tanah-tanah kosong, setelah pesta panen, sekarang juga sekosong hati Jung.

“Kau tidak ingin melepaskan cangkulmu barang sebentar, Phak?” tanya Jung akhirnya.

“Bukankah kau seharusnya segera memegang batang cangkul itu dan menghujamkannya pada tanah yang basah ini?” Phak malah balik bertanya.

“Aku belum ingin.”

“Kenapa?”

“Oh, Phak, sekarang ini kau seorang laki-laki dewasa. Kita besar bersama, bermain bersama, bertengkar dan baik lagi secara bersama-sama. Tapi kau masih tidak tahu juga?”

“Kau yang bodoh, bagaimana aku tahu kalau kau tidak beritahu aku,” balas Phak dan tetap sambil mengayunkan cangkulnya.

“Aku jatuh cinta, Phak. Temanmu ini sedang jatuh cinta,” jawab Jung sambil memegang dada dengan kedua tangannya seakan membanggakan perasaan yang sedang dirundungnya kepada Phak.

“Hah, hanya itu. Jatuh cinta,” sambung Phak tanpa ekspresi apa-apa.

“Ya, aku jatuh cinta,” kata Jung lagi membanggakan.

“Kepada siapa kau jatuh cinta kalau begitu?”

“Aku tidak tahu. Setidaknya aku mengenalinya dan akan aku cari lebih jauh tentangnya.”

“Ke mana kau akan cari tahu kalau kau cuma mengenalinya dalam gelap dan samar. Hah, aku rasa kaulah yang bodoh. Cinta memang membuat siapa saja berlaku bodoh,” kata Phak lagi.

“Setidaknya aku mencintai seorang gadis, itu yang tetap membuatku tetap waras.”

“Waras kalau kau menemui cinta yang  waras pula. Sekarang, aku rasa, kau sedang tidak waras, Jung.”

“Karena aku sedang jatuh cinta. Dan sekarang, biarkan aku sendiri untuk menikmati apa yang ingin aku rasakan. Mungkin aku akan menemukannya dalam mimpi,” jawab Jung dan meninggalkan Phak sendiri dengan cangkulnya.

“Aku tidak akan mengganggu, malah kau yang menganggu pekerjaanku sekarang. Kapan kau akan mengayunkan cangkulmu, Jung,” tanya Phak lagi.

“Nanti, Phak, nanti. Dalam mimpi.”

“Tidak dalam mimpiku.”

“Yah, tidak juga dalam mimpiku,” jawab Jung dan akhirnya sekarang Jung meninggalkan Phak yang sudah penuh keringat. Jung semakin jauh berjalan, ia masih saja mendukung cangkul di pundaknya dan tidak tahu kalau ia semakin jauh dari ladangnya.

*** ***

Pada sisi lain di kampung Mah Tong, ada sebuah sungai mengalir sejak lama di dataran itu. Dulunya sungai kecil dan tenang itu adalah parit yang disediakan untuk menjebak pihak lawan yang bersebrangan. Di bawahnya tertancap banyak bambu runcing siap melumat siapa saja yang terperosok. Ketika perang pecah, parit itu telah penuh dengan tubuh-tubuh beku dan darah membanjiri tanah dalam parit karena terlalu banyaknya tubuh terperosok. Hujan mengguyur deras mengisi celah parit sehingga membelah kampung Mah Tong menjadi dua bagian. Parit yang dulunya banjir oleh darah dari tubuh yang saling bermusuhan, sekarang berubah menjadi aliran sungai yang jernih. Ketenangannya memendam sejarah pahit dan cerita yang terus mengalir sejauh aliran itu akan bermuara. Sungai itu terlalu panjang untuk mencari pelabuhannya hingga tidak ada lagi yang ingin memikirkan terlalu jauh.

Sekarang, keheningan sungai itu diisi oleh tembang-tembang yang dinyanyikan oleh gadis-gadis yang mencuci pakaian dan merendam diri mereka dalam aliran sungai tersebut. Salah satunya adalah Marai, ia merendamkan tubuhnya di sana sambil ikut mendendang bersama dengan yang lainnya.

“Semalam memangnya kau pergi ke mana, sampai seisi kampung mencarimu, Marai?” tanya Ahm ingin tahu.

“Aku hanya ingin mencari suasana baru saja.”

“Tidak lainnya?” tanya Nhak sambil mendekati Marai.

“Aku ada bersamanya,” Sambung Mai tersenyum menggoda Marai. “Kami pergi ke pesta panen di kampung seberang, meski itu melanggar peraturan adat. Tapi kan kita tidak ketahuan. Semalam, aku lihat ia berhadapan dengan seorang pria gagah dan tampan,” tambah Mai lagi.

“Wah, benarkah seperti itu, Marai? Betapa beruntungnya kau bertemu dengannya. Apa kau mengatakan kepadanya untuk meluluhkan hatimu” tanya Ahm lagi. Marai semakin tersipu.

“Aku bilang seperti yang kau bilang, Ahm,” jawab Marai sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam air. Mendengar jawaban Marai yang lainnya semakin memandang satu sama lain, lalu mereka tertawa bersama-sama.

“Kau benar-benar gadis nakal, Marai,” kata Nhak ketika Marai sudah menyembulkan kepalanya dari dalam air sambil kembali menyiramkan air kepada Marai.

“Betapa beruntungnya pria itu,” kata Mai mencoba membayangkan bagaimana rupa wajah pria yang telah membuat Marai merasa seperti itu.

“Kau memang sungguh gadis nakal,” ulang Ahm menggoda.

“Sayangnya aku tidak tahu siapa dia,” jawab Marai dan itu membuat teman-temannya diam mendengar perkataan Marai yang terakhir itu.

“Kalau kau bersikeras, kau akan bertemu dengannya kelak,” bisik Nhak dan meneruskan nyanyinya sendiri.

*** ***

Ada dendang kecil dinyanyikan Marai di depan jendela kamarnya, ia melihat bulan itu sudah bulat penuh. Bayangan sinarnya seperti lentera redup. Marai tidak tahu apakah hatinya senang atau sedih. Ia jatuh cinta, tapi tidak tahu kepada siapa. Marai mendendang menunggui malam, atau menunggu ada yang menjemputnya. Ia ingin tidur tapi tidak bisa.

“Sayang, aku ingin berhenti berdendang dan langsung melelapkan pikiranku dan menemani tikar itu agar tidak merasa dingin. Aku ingin, tapi juga tidak ingin menghentikan dendang ini. Ataukah aku sedang merindu,” bisik Marai kepada dirinya sendiri di depan jendela yang menghadap kepada bulan dan malam yang kelam. Kamarnya meredup.

*** ***

Jung gelisah. Dalam tidurnya ia berada dalam sebuah pertempuran, Jung lihat sungai itu mengalir di antara bukit yang membelah kampung Mah Tong berubah kembali menjadi parit-parit. Jung mendengar banyak teriakan, kesakitan dan semangat yang membakar mereka untuk mengayunkan pedang. Ada satu wajah dikenali Jung lewat cerita ibunya, akrab dengan pikirannya dan tatapan itu begitu hangat, ia ingin berteduh di antara kelopak mata itu, atau Jung akan menghampiri dan mendekap erat tubuh itu. Jung berlari, ia ingin mendekat, wajah dan tubuh itu ingin dipeluk Jung. Sayang, sebelum tangan Jung sampai, tubuh itu telah terhempas jatuh ke dalam parit, sebilah pedang menyerempet tubuh itu dan melemparkannya ke dalam parit. Jung ingin menggapai dan meraih tangan yang mengembang kepadanya tapi tidak sampai dan merelakan kehilangan tatapan yang hangat kepada dirinya.

Jung tidak sanggup menatap ke bawah, ia ingin pergi dari tanah pertempuran itu dan ingin menemukan kesunyian di tempat lain, tapi tidak dilakukan, sesuatu menariknya kembali, sebuah wajah yang juga dikenali Jung beberapa waktu lalu, tapi ia tidak tahu siapa namanya.

Jung menerobos setiap teriakan yang datang ke arah telinganya dan mendorong jauh tubuh-tubuh yang jatuh ke arahnya, ia kembali ke tengah tanah pertempuran. Ada yang masih berdiam di sana, ada kelembutan yang tidak bisa dibiarkan berada di tempat seperti itu, ia ingin mengajak pergi dan menggapai tangan itu dan ia akan mengajaknya pergi. Yang dilihatnya tadi terulang kembali, baru saja Jung ingin menarik tangan itu, ada bayangan melesat dan membuat tubuh itu kembali menghempas dan masuk kembali ke dalam parit-parit. Jung diam di antara teriakan-teriakan yang terus menjelma.

“Tidaaaaaaaaaak!” teriak Jung dan langsung bangkit dari tidurnya. “Apakah ini pertanda,” bisik Jung pelan sambil menelusuri mimpi yang baru di alaminya.

*** ***

Sejak pertemuannya dengan Jung, Marai selalu menyendiri dan tidak ingin lagi keluar rumah. Kali ini, Marai keluar rumah, berjalan sendirian melewati tanah luas dan sungai yang membelah kampung Mah Tong, menyebrangi batas yang seharusnya tidak boleh dilalui. Marai melanggar batasan tanah adat dan semakin jauh dari tempatnya. Ada yang melihat Marai menyebrangi sungai itu dan memberitahu Nang Anai serta tetua kampung Mah Tong agar segera menjemput Marai supaya tidak terjadi sesuatu yang bisa mencelakai Marai. Tapi itu sudah terlambat.

Marai semakin jauh menelusuri bagian lain dari kampung Mah Tong dan menemukan apa yang ingin ditemukannya. Jung menaruh cangkulnya perlahan, seperti sentuhan itu yang menyuruhnya dan membalikkan tubuhnya. Marai sudah ada di hadapan Jung dan ia tersenyum kecil.

“Kau lupa mencariku untuk meluluhkan hatiku,” kata Marai akhirnya setelah Jung tidak bicara dan ia hanya menatap Marai. Jung masih diam.

“Bagaimana seharusnya aku meluluhkan hatimu sementara aku yang lebih dulu jatuh cinta dan membiarkanmu seorang diri dan menunggu terlalu lama. Siapa namamu?”

“Marai, Ksatria. Kau seharusnya berjuang sejak aku menyuruhmu menaklukkanku, kau tidak seharusnya membuatku terlalu lama menunggu sampai aku mencarimu. Aku melawan semua demi kau menaklukkanku,” jawab Marai.

“Apakah aku….”

“Jangan tunggu lebih lama atau sesuatu akan bergemuruh seperti halilintar dan itu akan memisahkan kita. Badainya terlalu besar untuk kuraih dan kurenangi. Kau atau aku tidak akan sanggup. Haruskah aku mengorbankan semuanya demi orang yang kutantang untuk meluluhkanku. Jawabannya adalah, kau harus menaklukanku. Maka, bawa aku sekarang.”

Tapi itu sudah terlambat, beberapa orang dari pihak Jung mengetahui itu, melihat hal demikian, Jung ingin melawan, lembut tangan Marai mencegahnya dan mengisyaratkan untuk pergi saja dari badai yang akan menenggelamkan. Jung membatalkan niatnya dan mengajak Marai pergi dari tempat tersebut, mencoba menghindar dari arak-arakan. Jung tidak mengerti, ia sendiri pun tidak mengerti kenapa hal seperti ini harus dirintangi dengan adat seperti itu. Jung melawan apa yang seharusnya tidak dilawan, tapi ia menarik tangan Marai dan sekarang ia yang akan melawannya, bukan Marai yang akan melindunginya.

“Aku tidak bisa lagi melindungimu, Jung, kurelakan kau pergi dengan restuku. Aku tidak bisa membela kalian, sekarang pergilah,” kata Nang Mhak ketika Jung datang kepada ibunya sambil membawa Marai di hadapannya. Jung tidak menyesal, waktu seakan begitu cepat berkelebat. Jung pergi membawa Marai dengan restu ibunya. Tapi Jung tidak tahu apakah restu ibunya dapat menyelamatkan dirinya dan Marai atau tidak. Jung tidak pernah tahu sampai akhirnya Jung dicegah di tengah jalan oleh arak-arakan dari pihak kampung Jung.

“Kalian telah melanggar perjanjian yang seharusnya telah mendamaikan semua yang ada di sini, kalian telah melangkahi sumpah-sumpah yang telah ditulis dalam adat. Sekarang hukum kalian tidak lepas dari semua sumpah yang diucapkan di atas leluhur kalian sendiri dan kalian telah menginjak-injak bagai sampah,” kata salah seorang tetua.

“Apa arti semua itu, sumpah itu tidak dilanggar, malah semakin dihormati bila yang dibela adalah dua hati yang dipisah hanya karena hal itu,” jawab Marai.

“Kau telah dibutakan, maka kau akan kembali dengan hati yang gelap dan pandangan yang buta,” jawab salah seorang lagi dan melemparkan debu ke mata Marai, perlakuan itu membuat Marai tidak dapat melihat dan matanya terasa perih, ia tidak sanggup lagi melihat. Marai merasa buta, gelap dan perih.

Melihat hal itu, Jung langsung membela marai dan menggapai tangan Marai agar tidak jatuh. Namun Jung ikut terjatuh melihat Marai kehilangan kendali karena pandangannya menjadi gelap dan tidak bisa mengenali Jung lagi selain dari suaranya. Akhirnya Jung melihat kesempatan, sebilah pedang yang terikat di pinggang seseorang, Jung menyambarnya dan ia ayunkan kepada orang yang telah membutakan Marai.

“Kau tidak akan berbuat bodoh, bukan?” kata seseorang.

“Tidak ada yang bodoh dalam mempertahankan apa yang telah membuatnya mampu untuk mencintai. Kalianlah yang telah dibutakan,” jawab Jung. Matanya nanar menerobos kumpulan itu. Jung menyambarkan pedangnya ke segala arah, hampir mengenai seseorang. Dan tiba-tiba saja, satu sayatan dalam mengenai pungung Jung dan membuatnya tersungkur seketika. Jung tidak lagi meneruskan apa yang ingin diperjuangkannya. Jung tidak merasa kalah.

“Kau sudah membayar dari apa yang kau langgar, dengan dirimu sendiri. Dan, kau yang dibutakan, telah kehilangan cahaya dari matamu sendiri. Kau juga telah membayarnya,” kata seseorang. “Kalian telah melihat mereka sudah membayar apa yang mereka langgar. Tidak ada lagi  urusan kalian di sini, sekarang kalian harus pergi. Tidak ada lagi hutang yang mesti dilunasi sekarang,” lanjutnya dan kumpulan kemarahan itu pergi dengan sendirinya.

“Terima kasih,” kata Marai, meski ia sudah kehilangan kedua pandangannya, tapi tidak telinganya.

“Tidak perlu. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi aku tidak dapat menghentikannya. Maafkan aku, Jung,” jawab seseorang yang ternyata adalah Phak.

“Kau sudah melakukan yang seharusnya, terima kasih, Phak,” kata Jung pelan dan setelah itu Jung pergi untuk selamanya.

*** ***

“Sekarang aku sudah menjadi orang yang didiamkan dalam kamarnya sendiri yang sempit. Biar cahaya itu meluaskannya, aku tidak mampu memandangya selain merasakan sesuatu membakar. Sayang, diri ini tidak ikut lumat dan menguap,” ucap Marai di depan jendela kamarnya.

Beberapa hari setelah itu, Nang Anai menemukan Marai tergantung kaku. Nang Anai merelakannya, itu sudah menjadi keputusan Marai sendiri, ia pergi melepaskan apa yang terasa berat di pundaknya, mencari cahaya lain, mencari apa yang telah membuatnya merasa dihargai, ia berkorban untuk kembali, untuk bersatu dengan apa yang telah dikorbankan Jung untuk dirinya. Konon, setelah Marai dikuburkan, ada yang melihat sosoknya berjalan dengan gembira dengan seseorang yang dicintainya, pada setiap purnama menggantungkan dirinya pada langit malam yang sunyi dan dingin hingga bulan berikutnya kembali muncul.

 

Tamat

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Laut Menyanyi

Ditulis oleh permanas di/pada 12 Maret 2009

“Ini takdir kita, anakku, meskipun nasib ada dikepalan kita dan kau berhak untuk mengubah nasibmu sendiri yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita mesti besyukur, menerima dengan lapang dada dan menjaganya sebaik mungkin apa-apa yang telah Tuhan takdirkan.”

“Maksud Abah, apakah yang kita terima dan kita jaga dalam kehidupan ini? Anang hanya tahu kalau nasib tergantung dengan apa yang kita lakukan sementara angin selalu berbisik kepada gunung dan pohon-pohon, mereka menyembunyikan rahasia alam yang diberikan langit kepada ibu bumi. Mestikah kita harus mencarinya dengan takdir dan keterbatasan kita?”

***

Aku masih ingat ketika kecil dulu, Abah selalu mengajakku pergi melihat pantai dan laut, selalu mengajariku tentang kehidupan. Menurutnya laut dan garis pantai itu, tempat bertemunya air dan daratan, Abah menyimbolkannya sebagai keterbatasan manusia. Camar yang beterbangan mengejar gelombang ombak, ia pernah berkata, camar itu dihubungkan sebagai pengantar antara langit dan bumi, kita mesti berguru kepadanya. Kita akan tahu kelak kenapa camar menjadi pengantar langit dan bumi.

Jelas sekali terdengar gemuruh ombak menampari batu karang, aku kagum batu karang itu masih kokoh meskipun hingga sekarang, semuanya masih seperti dulu. “Laut itu menyanyi, anakku, kalau engkau ingin tahu.” Itu kata Abah, kata-katanya masih kuingat sampai sekarang.

“Lihatlah ke sana,” kata Abah, sambil mengarahkan jarinya dari tangan kekar tapi penuh kelembutan itu ke arah cakrawala tempat langit seakan menginjakkan kakinya di sana. Aku masih terpaku, diam menatap tempat yang dimaksud Abah. Penghormatannya terhadap alam sangat dalam. Ia tersenyum kemudian meneruskan ucapannya. “Di sana kau dapat menemukan rahasia itu meski dengan keterbatasan kita di sini. Ciumlah aroma laut dan genggamlah erat-erat pasir ini, belajarlah layaknya manusia di bumi ini. Meskipun kau berguru kepada guru atau belajar kepada ikan, tapi tetapkan hatimu, anakku, jangan kau melebihi keterbatasanmu. Betapa mimpi tak memiliki batas, tapi ia adalah ilusi yang sangat berbahaya andai kau tidak mau membatasinya. Ini kenyataan kita, anakku, ingatlah siapa diri kita kelak.”

Laut itu, tempat bermuaranya semua air tetapi ia menjaganya agar tetap jernih dan indah. Makhluk-makhluk yang berlindung di dalamnya dan nelayan-nelayan yang mengarungi gelombangnya, lalu burung-burung yang melabuhkan impiannya di pantai, laut itu memang menyanyi dengan gembira, semuanya berdendang. Aku mengarunginya, menyenanginya, bersatu dengannya, dan merangkulinya. Ia menjadi salah satu guru, aku belajar darinya dan mencintainya.

Hari ini kucium lagi aroma laut, menggenggam erat pasir kemudian berdiri di bibir pantai, buihnya menyentuh kakiku. Kembali aku mengenangkan seperti seorang murid yang pulang kepada gurunya setelah ia mengarungi nasibnya. Kutatap lagi cakrawala, namun aku belum pernah menyentuh kakinya meskipun ia berdiri di sana, hanya ombak yang menyalami ketika aku datang kepadanya.

“Bukan cuma ombak yang menyalami kedatangan kita ke laut, tapi lihatlah, seluruh alam menatap gembira kepada kita dan pulau-pulau itu tersenyum walau ia tak pernah bicara betapa senangnya ia kalau kita bersenda gurau dengannya,” kata Abah lagi ketika aku masih diam menatap sejauh mata memandang lautan luas itu.

“Senja sudah datang, Bah, di ujung cakrawala matahari semakin merendam dirinya di sana. Apakah ia terlalu lelah sehingga ingin segera menarik selimut mega dan tertidur. Apakah laut akan berhenti bernyanyi kalau gelap datang, apakah kegembiraan itu akan sirna karena semuanya terlelap dalam mimpinya, lalu siapakah yang menyambut bintang-bintang di sana dan menemani rembulan ketika ia berdiri di langit sana?”

“Laut akan tetap menyanyi, anakku, meskipun tak ada yang mendengarnya. Ia akan tetap bernyanyi untuk menyambut bintang dan rembulan. Malam di sini akan tetap terlihat indah meskipun semuanya tertidur dan kegembiraan di sini tak akan sirna meskipun gelap menyelimuti. Sekarang mari kita pulang dan biarkan laut ini tetap menyanyi.”

Semua sunyi sekarang dan aku pun melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Kelak aku akan kembali untuk mengulangkan dan mendengarkan, membiarkan waktu membius malam dan hari-hari selanjutnya. Tapi, meskipun demikian ada yang tak berubah. Seperti kata Abah, laut itu tetap menyanyi. Hingga sekarang aku masih mendengarnya kembali menyanyi.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Dongeng Burung Liar

Ditulis oleh permanas di/pada 10 Maret 2009

“Bu, kenapa bapak belum pulang juga?”

“Sabarlah, Ni, nanti bapakmu juga kembali,” jawab Ibu kepada Ani sedikit membisik.

Di rumah gubuk itu hanya mereka berdua, hanya lampu minyak yang menerangi sepetak ruangan itu menggambarkan dua sosok manusia bercumbu dan bertarung dengan kegelisahannya. Seorang bocah kecil bernama ani, mencumbu mimpi-mimpinya yang hanya cermin wajah di depan dinding bilik berbincang dengan bayangannya sendiri, sementara seorang ibu yang selalu menjaga anaknya bertarung melawan perasaan gelisah, antara harapan dan keputus asaan yang menggelayuti mereka.

“Bukankah bapak perginya sudah lama? Ani lelah menunggu, Bu. Ani sudah tidak tahan lagi menahan lapar,” tak lama ani bertanya lagi sambil menatap ibunya dengan penuh pengharapan lalu memegangi perutnya yang sudah agak cekung.

“Sabarlah sedikit lagi. Sekarang tidur saja dulu, biar ibu yang menunggu bapakmu sementara kamu tidur.”

“Bu,Kenapa Tuhan membiarkan kita menderita sendiri di sini sedang di tempat lain orang-orang tertawa lepas sambil memegang piring penuh makanan. Apa tuhan sudah tidak peduli lagi kepada kita ya, Bu?” tanya ani lagi dan merebahkan kepalanya di kaki ibunya. Ibu hanya menari nafas panjang dan terdiam tak tahu mesti menjawab apa.

“Kenapa kamu punya pikiran seperti itu, bukannya Tuhan tidak peduli kepada kita, tapi ini adalah cobaan hidup yang mengajarkan kita untuk selalu tabah dan sabar. Apakah kamu ingat apa yang pernah dikatakan bapakmu kalau seekor burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung di sangkar emasnya. Nah, kita pun harus demikian,” jawab Ibu, lalu tangannya kemudian mengusap-usap kepala Ani dan merapikan selimut kotak-kotak milik Ani. Di situ terselip sebuah boneka buaya yang mulutnya menganga menampakkan taring tajam siap menerkam.

“Kenapa mesti demikian, Tuhan menciptakan kita semua kan dalam keadaan yang sama, derajat dan kedudukan yang sama di matan-Nya.”

“Ya, memang begitu keadaannya, kita memang semua sama di hadapan-Nya. Hanya amal dan perbuatannya saja yang membedakan satu sama lainnya. Artinya tidak semua kesenangan itu mendatangkan kebahagiaan, hanya kesederhannaan yang terbungkus timbang rasa bijaksana yang dapat bertahan lama. Sekarang kamu mengerti?”

“Mengerti, Bu. Ani ingat kalau burung liar itu seperti yang pernah diceritakan bapak, maukah Ibu menceritakannya kembali untuk Ani?”

“Ibu pasti mendongengkannya untukmu, asal setelah itu kamu langsung tidur ya. Biar ibu yang menunggu bapakmu.”

“Baik, Bu.”

“Sekarang ibu akan bercerita. Begini, burung terbang untuk mencari makan. Tidak mengandalkan siapa pun kecuali kepada kedua sayapnya. Ia kibaskan sayap itu dengan sekuat tenaga dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Ketika ia berada di atas, ia tidak berlaku congkak maupun merasa dirinya paling bagus dan paling indah. Burung terbang bukan untuk senang-senang, apalagi memamerkan keindahan serta kelebihan dirinya. Tidak, bukan itu yang dicari oleh seekor burung.”

“Lantas apa yang dicari seekor burung bila ia terbang di atas sana?”

“Burung terbang untuk mencari makan, seperti yang ibu bilang tadi, untuk melepaskan rasa lapar dan haus dirinya. Walaupun ia mendapat sedikit makanan, tapi ia bukannya berkecil hati atas apa yang ia peroleh, malah sebaliknya ia merasa bangga. Bangga atas apa yang telah diperolehnya, biar sedikit, ia mendapatkan dengan tenaganya sendiri. Berarti ia telah mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tidak berpijak dengan bantuan orang lain,” Ibu berhenti sejenak untuk memeriksa apakah Ani sudah tidur atau belum.

“Terus apa lagi, Bu?” kata ani yang ternyata belum tidur. Ibu hanya tersenyum kecil dan melanjutkan cerita itu sekedar menunggu waktu yang mulai larut.

“Sekarang, burung yang masih berada di sarangnya itulah kamu saat ini. Untuk terbang saja ia belum mampu, namun demikian ia percaya terhadap dirinya sendiri kalau ia pun bisa terbang seperti burung dewasa. Sambil mengepak-kepakkan sayapnya yang mulai ditumbuhi bulu yang sudah bagus. Dalam hatinya tumbuh kepercayaan yang sangat kuat untuk berani berkata dengan yakin, ‘saya bisa, saya harus bisa, saya yakin pasti bisa’. Semakin lama kepakannya semakin mantap dan lama-lama ia pun dapat terbang seperti yang lainnya. Karena apa? Selain niat dan belajar, ia percaya akan kemampuannya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan burung lain untuk memberinya makanan.

“Setelah ia dapat terbang tinggi melayang-layang di angkasa, ia tidak merasa bangga, malah semakin sadar bahwa tantangan hidup serta tanggung jawab atas dirinya semakin besar seperti badai yang siap melahapnya sewaktu-waktu jika ia lalai. Karenanya ia harus terus berjuang agar tetap bertahan hidup dari ganasnya kehidupan ini. Begitulah kira-kira perumpamaan antara burung dengan kehipan yang kita jalani ini. Ibu harap agar kamu dapat memahaminya sebagai salah satu pelajaran yang dapat ibu berikan. Tapi jangan lupa, masih banyak yang mesti kamu pelajari dari kehidupan ini yang sudah disediakan oleh alam dan kehidupan itu sendiri. Karena proses belajar tidak mengenal usia, di mana pun, kapan pun, asal kita punya tekad yang bulat untuk belajar dan memahami, di situ kita dapat belajar.”

Sesekali suara jangkrik menyelinap masuk ke dalam gubuk mereka, semilir angin juga ikut menyusup ke dalam membuat dingin ruangan itu. Keheningan malam di luar bukanlah suatu kebisuan yang terjadi, tapi sebuah kedamaian yang tersembunyi di antara bayangan lampu minyak yang tersamar sinaran rembulan menyatu dalam lindungan ketenangan malam.

“Kenapa Tuhan menciptakan alam semesta ini, Bu?”

“Alam diciptakan Tuhan, karena alam semesta di dunia ini bukan hanya untuk dinikmati saja, alam semesta ini diciptakan Tuhan juga untuk dipahami, dimengerti, dan kemudian dipelajari oleh kita semua agar alam ini tetap lestari dan tidak rusak. Alam sudah banyak sekali memberikan pelajaran yang berguna dan bermanfaat untuk kita, karena itu tugas kamulah sebagai generasi penerus untuk tetap mempelajari segala seluk beluk alam yang terkadungn di dalamnya. Karena bukanlah sesuatu yang mustahil kalau di balik setiap keindahan mengandung banyak pelajaran kalau kita mau mengaitkannya ke dalam kehidupan ini dengan amat jeli menangkap setiap gerak-gerik alam. Maka kita akan menemukan salah satu pelajaran yang alam berikan sebagai pengalaman yang berharga agar kelak dalam menjalani hidup ini kita selalu dalam jalan yang benar dan selalu ingat kepada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu yang terkandung di dalam alam semesta ini, juga sebagai salah satu guru dalam kehidupan kita ini. Sekarang kamu paham?”

“Paham, Bu.”

“Kalau begitu sekarang tidurlah, hari sudah larut dan jangan berkata apa-apa lagi.”

Ani pun tertidur walau sambil menahan perut yang lapar sejak pagi tadi. Bapaknya pergi ke kota yang hanya berbekal keterbatasan kemampuan mencoba mengadu peruntungan untuk sesuap nasi buat dibawa pulang sebagai buah tangan ala kadarnya untuk anak dan isterinya yang sekarang menunggu antara keputus asaan dan harapan yang terus bergumul. Tinggallah ibunya seorang diri bertajuk bayangan wajah yang mulai diselimuti kepasrahan untuk tabah dan bersabar.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Sajak Ranting Kering

Ditulis oleh permanas di/pada 3 Maret 2009

Lelah aku melangkah menelusuri jalan setapak yang membentang panjang di hadapan, dan rumput mati menyelimuti hamparan tanah penuh debu ini. Kegersangan menjadi raja di antara celah waktu sementara air dijadikan kesejukan yang suci untuk penawar racun yang bersarang di rongga tenggorokan. Burung nazar adalah utusan malaikat maut, bertengger gagah mengabarkan kalau malam ini seseorang akan pergi meninggalkan hidupnya. Mungkin saja itu aku, atau siapapun yang sedang menunggu kematian.

Langit di atas sana menggantungkan purnama sebagai pemeran lentera, bintang sebagai pernik penghias latar cakrawala sehingga gelap tak tampak kelam menutup hari. Tidakkah kau lihat perempuan gypsy yang menari liar di panggung ini ingin mengatakan kalau hidup ini cuma sejenak, kenapa tidak dinikmati saja waktu yang sedikit itu. Sayang, waktu yang singkat ini cukup mampu membuatnya tua dalam kehidupan, itu terlihat dari banyaknya kerutan menempel di wajahnya yang penuh riasan dan anting-anting. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan hidup karena tidak menggalinya.

Pengembaraan yang tak berujung ini telah menemukanku kepada seorang tua bijaksana. Ia selalu bersyair tentang penyesalan-penyesalannya yang membangun kuil, namun di masa tuanya ia hanya menempati sepetak gubuk untuk ditinggali. Ia mengatakan kepadaku, kau pemuda, apa yang ingin kau ungkapkan dalam kehidupan? Jadilah angin yang dapat menggerakkan daun-daun dan menghadirkan kesejukan. Ia tak dapat dilihat, tapi rasakan sentuhannya menyapu kulitmu. Jangan bekerja memohon pamrih, namun katakan janjimu dengan sedikit kata-kata, setelah itu lakukan apa yang mesti dilakukan. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan tanda tanya.

Tapi, orang bijak yang bicara tentang angin itu mengandung awan hitam dan guntur yang membawa badai dalam dirinya.”Awan hitam adalah nafsu yang buta dan guntur adalah pedang yang akan memotong-motong jiwa dan merusak akal sehat. Jadilah angin baik yang akan mendatangkan kebajikan untuk orang banyak, dengan begitu akan menyelamatkan hidupmu”. Ia berkata lagi, menjawab pertanyaan diri lalu menghilang di antara kabut tebal.

Aku merenungi kehidupan ini dipenuhi teka-teki yang harus dijawab. Bersandar pada apa yang telah dilalui, menjadi setetes air ketimbang buih-buih di lautan, menjadi bunga sukarela penyedia nektar bagi lebah-lebah pekerja, atau menjadi diri sendiri yang selalu mencoba untuk berbuat baik. Hidup ini sendiri pun adalah merupakan kebaikan dan sebuah teka-teki yang masih harus dipecahkan.

Pengkhianatan adalah malapetaka yang membawa kehancuran dan kegelisahan dari mimpi buruk, pengkhianatan tidak selalu sama dengan hati nurani, apa yang diucapkan belum tentu sesuai dengan tindakan. Musuh paling berbahaya adalah seorang teman yang menusuk punggung sahabat karibnya sendiri dan teman yang baik adalah musuh yang menghargai lawan, tapi jangan memandangnya telalu tinggi. Kawan dan musuh adalah pemangsa yang bersembunyi di balik gelap dan kesunyian, ketidak hati-hatian adalah ibu nasib buruk dari peruntungan baik bagi pengintai yang tak pernah memejamkan matanya sedetik pun juga. Kelengahan mengajarkan apa arti kewaspadaan bagi yang ingin selamat.

Wajah-wajah kesakitan terpajang dari jiwa-jiwa terpasung yang membutuhkan kebebasan dan kerinduan akan belaian tangan halus milik seorang ibu dari anak laku-laki, meronta menagih haus dan kasih sayang. Syair-syair terucap manis menenangkan gundah merangkuli malam dengan tangan-tangan kesedihan. Aku terkubur oleh mimpi seorang pembunuh yang membuang rasa kemanusiaannya dari hati nurani dan keluguannya sebagai manusia, mimpinya adalah untuk membunuh dirinya sendiri, sedang aku adalah saksi terpilihnya. Lewat kesaksianku ia membunuh diri sekaligus kemanusiaannya, nyawa pun menjadi tak berarti apa-apa.

Bisikan angin menerobos jendela-jendela kehidupan, membuat terjaga seorang bocah yang belum diceritakan dongeng untuk tidurnya. Ada saat membiarkan mata dibuai rasa kantuk dan melindungi tubuh di balik selimut tebal dan hangat. Pertarungan mimpi dan kenyataan adalah kata-kata yang tak pernah ada kesudahannya, selalu menyita waktu dan meminta banyak korban.

Aku mengira semakin menjauhkan diri akan menciptakan damai dari kebisingan, saatnya untuk berhenti melarikan diri dari kejaran ketakutan. Semakin aku berlari semakin kuat ketakutan mengikat lubang pernafasan, setelah itu kematian menjadi hak untukku. Aku tak dapat mengelak dari kebenaran, cepat atau lambat aku akan menjadi terdakwa dan terhukum. Jiwaku akan terjatuh seperti daun kering lepas dari ranting dihembuskan angin dan tergeletak di atas tanah tandus, membiarkanku terpendam untuk selamanya. Kematian menjadi tak berarti, kesalahan-kesalahan akan terus menghantui, hati nurani menghitam seperti arang. Ranting yang ditinggalkan akan terus belajar dari kehidupan, tunas-tunas batu akan terus tumbuh membangkitkan kesadaran untuk mengorek sejarah hidup dan aku menjadi tak berarti apa-apa di hadapan matanya.

Pohon kering di padang ini, ranting mencakar langit kegelapan dan mengacau rembulan yang sedang bersinar. Kabut perlahan turun membasahi debu yang rindu akan sentuhan air membelai petak-petak tanah. Di sana seorang perempuan tengah mengumpulkan ranting yang jatuh dari pohon-pohon keheningan, mengikat dan menggendongnya di punggung untuk dibawa pulang. Pundak penuh goresan kasar milik perempuan itu seperti surat tertulis di atas secarik kertas putih bercerita tentang perjalanan hidup penuh penderitaan yang sedang menunggu seorang anak yang pulang dari pelariannya.

Di dekat perapian perempuan itu duduk terdiam, memandang api melumat kayu dengan lahap. Pintu rumah dibiarkan terbuka sehingga hamparan tanah kering terlihat dengan jelas dari dalam dan bulan yang sempurna. Bayangan pemangsa jelas beterbangan mengitari langit-langit berkabut. Seluruh hidupnya digunakan hanya untuk menunggu dan bertahan dengan sebuah harapan.

Kelelahan ini membawaku kembali pulang, melewati lagi jalan setapak yang mengantarkanku pergi, sekarang ia membawaku pulang dengan kerinduan-kerinduan untuk bercerita tentang sesuatu yang belum diungkapkan. Rumah di kaki langit yang gersang itu adalah rumahku, dan perempuan pengumpul kayu ranting itu adalah ibuku. Pintu yang dibiarkan terbuka itu ingin aku menutupnya. Bersimpuh di kaki seorang ibu yang penuh dengan kesucian. Bila ikan milik lautan, ia akan kembali ke lautan,. Dia ibuku yang tak dapat menolak kepulangan anaknya untuk meminta maaf, aku mengakhiri apa yang telah aku mulai. Sekarang ia dapat beristirahat dan membiarkan matanya tertutup untuk selamanya dengan damai. Aku meletakkannya dalam kesunyian di bawah pohon yang rantingnya mencakar langit gelap, menaburinya dengan bunga dan doa.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Komentar »

Aku Terjebak

Ditulis oleh permanas di/pada 3 Maret 2009

Aku terjebak, terjerumus dalam dunia hitam dan aku tak tahu mesti ke mana. Satu-satunya yang kutahu aku pergi ke tempat di mana aku bisa bebas terbang melayang seperti burung yang pergi ke mana pun dia suka. Biar orang mau bilang apa, biar otang mau melakukan apa, tidak peduli kalau dunia ini terus bergerak atau tidak, atau waktu semakin meruncingkan jarumnya dan menusuk manusia-manusia pemimpi dan penidur. Aku sendiri seorang pemimpi dan terjerat selimutnya sendiri. Aku semakin terlilit.

Malam menjadi jubah megah,menutup tubuh-tubuh kurus yang telah dicemar oleh dosa-dosanya sendiri dan menjadi tuhan kegelapan. Menyusuri lorong seperti tikus-tikus menyusuri comberan dan menggerogoti tong sampah untuk mengais makanan busuk. Merenda malam dengan tawa kesakitan lalu menghiasnya bersama kumpulan orang buangan dari dunia yang tak bahagia. Siapa mereka, siapa aku, semua sama sekarang dalam mangkuk kesialan.

Aku lari, aku bersembunyi dari kenyataan, seperti pengecut yang lari sebelum berkelahi. Api membara dalam jiwa ini padam, musnah dihembus ketakutannya sendiri. Sementara lampu-lampu membiaskan sinarannya di antara kebisingan malam. Aku menyingkir, menjauh, mencari kesunyian dan merangkuli sambil mencumbunya. Keremangan cahaya kota itu menjadi pudar dan hanya tinggal keangkuhan di sana, lelap.

Setiap malam, orang buangan dari dunia yang tak bahagia itu, mereka selalu datang, bicara dari hati ke hati, tertawa lepas dan bebas meskipun gelap menghimpit dada mereka yang membuat sakit dan sesak. Di sini kumpulan manusia pemimpi dan penidur bersatu, melayangkan pikiran dan melupakan semua menjadi ganjalan hati dan rintangan kebebasan. Di sini semua lepas, tak ada ikatan.

Bercerita tentang dunia penuh keramahan dan senyuman, bukan perang dan saling curiga dari dunia yang mereka huni sekarang adalah dunia yang tak bahagia, selalu membayangkan dunia penuh kebahagiaan, entah itu terletak di bumi sebelah mana.

Aku lihat dalam mata mereka,masih ada harapan bersemayam di sana dan hati yang meluap-luap untuk mencari sesuatu yang hilang, bagian dari diri mereka masing-masing yang belum mereka rasakan dan mereka temukan. Rindu ini tersimpan begitu lama hampir tak pernah dibuka untuk diingat-ingat tentang apa yang mereka rindukan. Aku rindu diriku yang dulu dan mereka rindukan diri mereka masing-masing dan memang ada sesuatu yang hilang, yang dirindukan di sini.

Hanya dalam kegelapan aku dapat menjadi sesuatu, hanya dalam gelap semua terasa begitu terang, indah, gemerlap, bukankah karena gelap cahaya begitu dirindukan dan diinginkan meskipun kegelapan tidak pernah dianggap sebagai sebagai ibu dari cahaya. Dan penerang dari bumi yang lama tertutup selimut hitamnya.

Aku bebas sekarang dari lubang yang membuatku terjerumus dan terjebak, aku benar-benar seperti apa yang aku inginkan sekarang. Hampir seperti burung itu, terbang lintasi dunianya sendiri dan merentangkan sayapnya lebar-lebar. Ini bukan lagi kesunyian dan tidak lagi jeritan yang membelah buaian malam. Ini sebuah kemenangan bukan sebuah retorika atau kata-kata kosong belaka. Bumi ini tetap bergerak dan jarum waktu tetap berputar. Yang terjadi bukanlah sebuah kesia-siaan.

Bangun, kawan, lekas kita pergi dari sini dan mengarungi kehidupan kita masing-masing. Bukan pemimpi kita sekarang, bukan penidur kita sekarang. Tetap, bagian dari sejarah waktu kita sekarang. Bukan lagi saatnya kita terlelap, ini bukan sebuah akhir tapi awal dari kebangkitan kita untuk membangun kehidupan. Ayo lekas, jangan terlelap ketika orang-orang menjaga hari-hari mereka. Aku katakan ini kepadamu.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

PIKIR!

Ditulis oleh permanas di/pada 25 Februari 2009

Pagi yang cukup indah walau panas matahari sangat menyengat kulit, maklumlah, sekarang kan sudah musim kemarau. Jadi ya, sah-sah saja kalau matahari unjuk gigi, yang penting asal jangan unjuk rasa. Wah, bisa-bisa gelap total bumi kita kalau sampai matahari berunjuk rasa. Makanya jangan macam-macam sama alam –bukan Alam yang pelantun ‘Mbah Dukun’ itu lho maksud saya- jangan bisanya hanya memanfaatkan dan merusak saja bisanya, iya toh!

Coba bayangkan kalau langit ini menangis tersedu-sedu dan menjerit sekeras-kerasnya, membuat kita ketakutan dan merasa kita tidak dapat berbuat apa pun selain menatap rumah kita terendam air mata langit yang meluap karena tidak mau berhenti menangisnya menatap hutan-hutan yang gundul cepak seperti bocah lima tahun digunduli lantaran banyak koreng di setiap bagian kepalanya, hehehehe, masa sih bisa seperti itu?

“Lho, bisa saja! Apa sih yang tidak mungkin terjadi di dunia ini?” kata Abah Kirman, tiba-tiba saja ia datang sambil memegang segelas kopi hitam di tangan kanannya dan di sela-sela jari hitamnya terselip sebatang rokok kretek yang tinggal setengah dihisap mulut berbibir tebal itu.

Abah Kirman lalu ikut duduk di sebelah saya yang waktu itu pun sedang asyik menyeruput kopi pagi dan menghisap rokok kretek juga di atas bale-bale depan rumah, sambil menatapi kekaguman keelokan alam raya dan burung-burung ‘emprit’ (burung gereja) terbang bergerombol menghampiri para petani yang sedang memanen hasil jerih payahnya. Lantas burung itu pergi begitu saja sehabis petani-petani itu selesai memanen padinya, gembala kerbau dan kerbaunya yang sama-sama kurus karena stok rumput dan beras menipis di bumi yang katanya subur ini. Sungguh sangat kontras sekali.

“Sruuuuttt!” langsung saja lamunan saya terganggu oleh suara mulut Abah Kirman yang menyeruput kopinya dengan semangat juang itu, maklumlah, Abah Kirman pada jaman dahulu adalah seorang pejuang yang sangat gigih mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu jalannya agak pincang, kakinya yang sebelah kanan tertembus peluru tentara Belanda, untung saja Letnan Sujono menolong dan membawa Abah Kirman ke tempat aman yang jauh dari medan pertempuran setelah akhirnya Letnan Sujono pun gugur dalam pertempuran itu. Sayang, Abah Kirman tidak tahu di mana Letnan Sujono di makamkan.

Dentuman meriam dan bredelan suara senapan mesin milik Belanda itu masih sangat jelas di dalam ingatan Abah Kirman dan mungkin ia akamn masih tetap ingat jasa-jasa Letnan Sujono yang telah menyelamatkannya. Berbagai pertempuran telah dilewatinya, pengalaman-pengalaman pahit dan manis telah direguknya, sekarang ia hanya tinggal menjadi saksi sejarah yang telah terlupakan. Tenggelam dalam lautan sunyi. Kosong.

Saya jadi teringat sesuatu, waktu itu saya tengah duduk di sebuah bus kota jurusan Blok M duduk bagian belakang sebelah pojok kanan, di dalam sebuah bus itu sudah ada yang menunggui seorang pengamen, ia mengenakan kaos berwarna merah gombrong dan bercelana jeans biru langit, memegang sebuah gitar biasa, tapi di bagian depannya ada gambar elang menyorot tajam. Setelah penumpang penuh dan bus memasuki areal jalan tol, barulah pengamen itu membawakan lagunya, ia membawakan lagu berjudul ‘Dust In The Wind’. Wah saya terkesima sekali saat itu, habis suaranya itu lho, mendayu-dayu seperti angin sepoi di pinggir laut.

Pasa saat melantunkan lirik yang berbunyi ‘All we are dust in the wind…. Al we are dust in the wind’, saya sempat berpikir, apa iya ya, kita semua cuma debu di dalam angin. Sebegitu ekstremnya ya? Tak apalah, namanya juga hanya sebuah lagu, yang penting cukup terhibur. Iya ndak?

Dan, pada saat membawakan lagu yang kedua, dia menyanyikan lagu barat lagi, saya pikir mana lagu Indonesianya ya, weleeh…. yo uwis lah, kebanyakan mikir nanti malah tambah ruwet kepala saya. Saya pernah mendengar lagunya, tapi tidak tahu apa judulnya, pasti yang penggemar klasik rock pada tahu semua, apalagi yang suka mendengar radio di M 97 FM (kalau tidak salah sekarang menjadi 95.1 FM deh sebelum ada penertiban gelombang radio) itu yang khusus membawakan lagu-lagu rock era 60 -80 an, kalau saya tidak salah lho ya. Begini lho liriknya –moga-moga tidak salah lagi- ‘If you leaving, close the door, i’m not expecting men here anymore’, selebihnya samar-samar karena suara bus yang menggema di dalam mobil, dan tiba-tiba, ‘When the blind men cry….’ kemudian hilang lagi sampai lagu itu selesai, dan terus mengeluarkan kantong permen dari bagian belakang celana jeansnya, mengedarkan kepada setiap penumpang dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas uang yang disumbangkannya. Setelah keluar dari pintu tol, ia langsung turun untuk kemudian mengejar-ngejar bus lainnya dan mungkin menyanyikan lagu yang sama lagi di sana.

Padahal, sebelum naik bus itu, di terminal Bekasi, saya sempat mengobrol sebentar dengan seseorang yang biasa diam di terminal tersebut, ia juga terbiasa menjadi ‘timer’ bus-bus yang ‘ngetem’ di terminal Bekasi. Sudah tujuh bulan katanya ia bekerja seperti itu, meski dalam hati ingin segera berhenti dari pekerjaan itu. Tapi dia sempat berpikir lagi ingin bekerja apa, sedangkan mencari kerja di jaman sekarang sungguh! Sangat sulit. Ia saja di PHK dari pekerjaannya yang tujuh bulan lalu di tinggalkannya karena alasan pengurangan pegawai. Waduh! Kacau. Lha, saya saja masih nganggur alias tidak punya pekerjaan. Hehehehehe, bener, enggak bo’ong, suer.

Tapi, ya sudahlah, mau dikata apalagi, memang negara sekarang sedang susah. Asal masih bisa makan, bisa merokok, kumpul sama keluarga, itu juga masih bisa menghilangkan ganjalan hati. Asal tidak makan hati.

“Kenapa tidak mau, bukannya makan hati itu baik untuk menambah darah, menambah kesehatan tubuh. Biar tetap segar dan tidak loyo, seperti kamu yang kurus kering,” kata Abah Kirman. Lah ini, makanya jangan salah dengar biar jangan salah paham.
“Kalau itu memang benar, Bah. Tapi yang saya sedang pikirkan bukan itu,” jawab saya sedikit kesal.

“Memang apa yang sedang kau pikirkan? Hidup ini bukan cuma untuk dipikirkan, nikmati saja hidupmu itu. Sudah, jangan pikirkan yang macam-macam atau kau memang sedang memikirkan yang macam-macam.”

“Apa saya sedang terlihat berpikir yang macam-macam?”

“”Oalaaah, nduk, nduk…,” kata Abah Kirman sambil menggelengkan kepalanya lantas berdiri dan pergi meninggalkan saya yang masih terlihat sedikit ndumel itu. Sebenarnya saya tidak kesal, apa yang mesti dikesalkan ya? Mungkin biasalah, dalam menghadapi orang tua seperti Abah Kirman, kakek-kakek berumur 80 tahunan itu dan tampaknya masih terlihat cukup sehat meskipun pendengarannta mulai berkurang dan pikirannya kembali seperti anak kecil –tapi tidak juga ah, seperti yang saya rasakan.-

Dulu Abah Kirman lama tinggal di Klaten, walau ia sendiri berawal dari Jawa Barat, dan sekarang ia menetap di daerah pinggiran kita Jakarta. Kalau saya, wah hubungan saya dengan Abah Kirman saja saya tidak tahu harus mulai dari mana. Pokoknya sulitlah untuk dijelaskan. Turun-temurun, beranak-pinak, turunan lagi, nah, turunan yang setelah turunan itulah mungkin posisi saya bila ditilik dari sudut Abah Kirman. Hehehehe, susah apa ndak? Saya sendiri saja bingung.

“Apanya yang bingung? Tertawa kok sendiri-sendiri, mbok ya, bagi-bagi gitu lho, biar tidak disangka kurang waras,” sambung Iman yang waktu itu tidak sengaja lewat di depan saya dan tengah cengengesan sendirian. Masa sih, saya sudah tidak waras lagi.

“Apa iya, saya sudah gika?”

“Ya, ndak juga.”

“Masa sih?”

“Buktinya kamu menanyakan kepada saya.”

“Lha, bukannya sampeyan yang tadi bilang saya begitu?”

“Lha, masa juga sih, apa iya begitu?”

“Weleh, weleh, weleh….,” kata saya yang nyerocos seperti Si Komo itu yang kalau ia lewat jalanan pasti macet. Untungnya saya bukan Si Komo, jadi tidak perlu membuat jalan sampai macet panjang. Tapi, apa iya, jalan-jalan masih suka macet.

Syukur si Iman itu sudah cepat menyingkir dari hadapan saya, kalau tidak, waaduh, ya, tidak apa-apa juga sih. Memangnya mau saya apakan si Iman itu, tidak baik berbuat kasar apalagi terhadap teman, terlebih terhadap saudara sendiri. Ya, kalau ingin hidup nyaman, enak, damai, tentram, harus bisa begitu. Jangan bisanya dikit-dikit sikut, pukul, jotos. Pantas saja, banyak yang bilang negara kita negara yang garang dan ganas. Yang bilang siapa ya. Untung saya orangnya sangat kalem dan lembut, hehehehe.
Matahari tambah tinggi di atas angkasa, tepat di atas bumi kita, yang kata para ilmuwan dan pengamat lingkungan, ozon di atas atsmosfer kita sudah ‘bolong’ karenapolutan di bumi kita meningkat. Kalau saja langit bisa ditambal, pikir saya, pasti cukup mudah untuk memperbaikinya, iya.

“Nah kan, kamu berpikir yang macam-macam lagi, ingat ini dunia nyata bukan impian yang ada di kepalamu itu, yang kosong seperti tong kosong karena kebanyakan bengong,” kata Abah Kirman dan itu membuatku sedikit kaget. Lha, datangnya saja tiba-tiba, seakan seperti malaikat maut yang datang untuk menjemput, bahkan ia sendiri yang pantas dijemputnnya.

Benar kita tidak punya kekuatan apa-apa di alam semesta ini, seperti kita bergantung pada akar yang lapuk, atau seperti di bawah naungan yang hampa. Meskipun sekarang alam cukup ramah untuk didekati dan kita dapat bercumbu dengannya, tapi bukan mustahil suatu saat ia akan menunjukkan kekuatannya.kalau sudah begitu, kita tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa dan terus berdoa.

“Sekarang, ayo kita makan. Ayo, jangan terlalu banyak berhayal,itu kurang baik,” kata Abah lagi dan menyadarkanku dari lamunan yang berkepanjangan.

“Ayolah, kalau begitu, mumpung masih bisa makan, hehehehehe….”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Cuma Senja di Pantai

Ditulis oleh permanas di/pada 20 Februari 2009

“Kamu bilang Pak Har itu orangnya galak dan cuek ya, Din?” tanya Tiar ketika mereka asyik berjalan di lorong sekolah mereka.

“Aku cuma bilang kalau Pak Har itu orangnya tidak bisa diajak bicara.”

“Aku rasa, dia orangnya enak. Di kelas juga bisa mengajak teman-teman enjoy dengan mata pelajarannya.”

“Tetap saja aku pada pendirianku. Aku benci dia.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Tapi aku tidak peduli kalau dia itu guru kita atau bukan, tiba-tiba saja aku benci kepadanya,” jawab Dina dan mereka pun telah sampai di depan kelas mereka.

Seperti biasa, pada pukul tujuh lewat lima belas menit bel tanda pejaran dimulai berbunyi, beberapa siswa yang masih di luar segera saja masuk ke kelas masing-masing. Lilian, Hengky, Danu, Ria dan Neni datang belakangan setelah Pak Har tiba lebih dulu dari mereka.

“Kenapa kalian terlambat?” tanya Pak Har tenang dan berwibawa, tapi tetap dengan senyum yang bersahaja.

“Macet, Pak. Jadi lama deh di mobil,” jawab Lilian cepat dan sedikit manja.

“Iya, Pak,” serempak mereka membenarkan jawaban Lilian.

“Soalnya, tadi di jalan ada kecelakaan, Pak. Itu juga yang membuat kami jadi terlambat,” jelas Hengky yang sedikit kurus dan jerawat memenuhi wajahnya.

“Begitu?” tanya Pak Har kembali.

“Ya, begitulah, Pak. Jadi, sekarang kami boleh duduk nih, Pak?” tanya Hengky lagi.

“Baiklah. Kalian boleh duduk. Tapi ingat, jangan terulang lagi.”

“Itu pun kalau besok tidak ada yang tabrakan lagi, Pak,” sambung Ria.

“Huuuuuu….!” teriak yang lainnya sampai ruangan kelas mereka menjadi ramai.

***

Dear diary, tulis Dina, sekarang hujan turun, aku rasa gerimisnya mungkin sama dengan perasaanku kepada Pak Har. Aku memang benci kepadanya, setidaknya itu kukatakan kepada teman-teman. Aku berbohong. Haaaaah, semakin dalam aku menarik nafas semakin aku merasa bersalah kepada Pak Har. Waktu sebelum aku mengatakan kalau aku suka kepadanya. Aku malu, itulah kejujuranku. Ya, aku mengatakan kalau aku suka kepada Pak Har. Sebelum aku mengatakan aku suka kepadanya, sikapnya selalu baik dan ramah, ia bisa menjadi tempatku untuk bicara dan mungkin mencoba untuk tersenyum kalau hatiku sedang tidak enak. Di rumah, selain kamar dan kau, diary, tidak ada yang dapat bicara kepadaku. Dinding itu pengap, warna-warnanya hampa dan lantainya tak dapat digunakan untuk menari. Karena itu aku hanya merebahkan diriku sendiri dan bicara dengan kau. Entah aku tersenyum atau menangis karena aku…. Kesepiankah aku? Ah, Pak Har, baginya aku hanya remaja yang menjadi muridnya, tidak lebih dan aku tidak bisa mengharapkan lebih dari yang bisa diberikannya kepadaku dan kepada murid-muridnya yang lain. Diary, here is my own self.

Dina lalu menutup buku itu dan menaruhnya di bawah kasurnya, merebahkan diri kembali menatap pagu kamar. Tidak ada yang dapat ditemukan di sana.

“Kesepiankah aku, Cermin?” tanyanya sedikit memelas, “Aku tidak terlalu buruk, biar tidak cantik. Semua orang senang padaku, aku juga menyenangi mereka. Tapi, Pak Har itu, kalau sehari saja aku tidak bicara dengannya, aku akan menjadi kesepian. Ah, terlalu kekanak-kanakan,” lanjut Dina lagi dan kemudian menghempaskan cermin itu jauh dari dirinya.

Lampu kamar dimatikan dan tubuh Dina hanya terdampar pada pembaringan, mencoba bermimpi. Atau membuat mimpi itu dicoba menjadi seperti kenyataan. Ah, betapa bodohnya, mimpi seperti apa yang bisa dibuat layaknya kenyataan. Biar nyata, itu subyektif. Tapi, Dina tetap bermimpi. Dalam samar gelap kamarnya, bibir yang sedang tersenyum itu tidak dibuat-buat. Sekarang Dina sedang membuat mimpinya sendiri, rasanya bukan mimpi buruk

***

“Iya, tapi kenapa harus Pak Har sih, Din?” tanya Tiar heran ketika Dina memberitahu kalau dirinya suka kepada Pak Har dan ia telah mengatakannya kepada Pak Har. “Din, dia itukan guru kita,” lanjut Tiar.

“Iya, aku tahu,”jawab Dina sambil ceberut dan kesal.

“Tapi kenapa harus Pak Har sih, memangnya cowok-cowok di sekolah ini tidak ada yang kamu sukai?”

“Itulah masalahnya, aku rasa ada beberapa cowok yang suka terhadapku. Tapi aku lebih suka kepada Pak Har, Tiar.”

“Lantas?”

“Ternyata perasaan Pak Har tidak sama dengan apa yang kurasakan, ia menganggap aku sama dengan murid-murid lainnya. Perhatiannya tidak lebih sebagai guru, pembimbing dan orang tua, atau sebagai apalah. Aku tidak peduli. Karena itu sekarang aku jadi membencinya, Tiar.”

“Oooo, jadi itu penyebabnya, aku mengerti sekarang. Berarti kamu yang salah tanggap dan salah mengenai Pak Har, Din. Tapi, tidak ada yang salah, semua memang terjadi begitu saja, tapi….”

“Apa seharusnya aku minta maaf akan tindakan itu?”

“Aku rasa tidak perlu, bukan berarti pula Pak Har tidak memaafkan. Tanpa diminta pun ia akan tetap memafkan.”

“Kenapa?”

“Aduh, Dina, karena ia guru kita, orang tua kita, pembimbing kita.”

“tapi aku akan tetap minta maaf, tapi aku juga tetap benci kepadanya.”

“Haaaah, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Din. Cinta dan benci, aku rasa itu hampir tidak ada bedanya. Sudahlah, aku ingin ke kelas sekarang,” kata Tiar dan meninggalkan Dina duduk sendiri di bangku kantin yang juga mulai sepi

***

Pukul dua sore Dina baru pulang dari sekolah, namun, ketika sampai di dalam, ia merasakan kembali apa yang dirasakan olehnya setiap saat di rumah itu. Ia hanya menuju kamar yang baginya sendiri lebih sempit dari ruangan penjara di mana pun di dunia. Sesak sekali perasaannya. Dina melihat ke luar, awan-awan yang sejak tadi mengikuti langkahnya dan berat karena apa yang dikandungnya. Sekarang awan itu memuntahkan apa yang dikandungnya, hujan turun dengan deras, baginya awan itu lebih beruntung dapat menumpahkan segala isi hatinya kapan dan di mana pun, sekehendak hatinya ia berteriak dan kilat menjelmakannya.

Setelah hujan turun, Dina keluar dari rumah dengan wajah yang tampak lebih murung dari biasanya, tidak tahu apakah hujan itu sama dengan perasaannya, sama ketika hujan saat ia tuliskan pada garis-garis buku di diarynya. Nyatanya ia hanya mengikuti kehendak langkahnya dan membiarkan berjalan sendiri tanpa ia akan tahu akan berhenti di mana. Satu-satunya yang ia tahu, ketika sampai di rumah tadi, mendapati ruang-ruang begitu kosong, lengang, hari ini seharusnya menjadi hari ceria dan menyenangkan, tawa dan senyum seharusnya juga melukis pada wajah Dina yang sekarang tampak murung.

“Seperti hari-hari biasa, cuma aku dan bayanganku sendiri, biar dunia ini penuh sesak, memang itu yang dapat kulalui sekarang,” kata Dina pelan. Ia mencoba menghibur hatinya saja sambil terus melangkah keluar meninggalkan rumah besar bercat putih di belakangnya, dan merasa tak perlu ia harus menoleh ke belakang.

“Taksi!” cegat Dina di pinggir jalan. “Pantai, Pak,” kata Dina pelan dan taksi itu pun melaju mengikuti suara yang membisikinya tanpa pernah berkata-kata lagi.

Dalam taksi itu Dina kembali diam memandangi kelebatan-kelebatan yang lewat dari celah jendela, atau ia menatap kilatan-kilatan pikirannya sendiri yang mengawang semakin jauh meninggalkan dirinya. Sekarang pun ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh dirinya sendiri. Dina hanya merasa lengang dalam hatinya.

“Sudah sampai, Non,” kata supir taksi. Dina sedikit kaget dan menghentakkan kepalannya pelan, mengumpulkan kesadaran dirinya. Membayar ongkos taksi dan ketika keluar segera udara lembab menerpa Dina. Laut itu masih sangat mendung cakrawalanya, tapi sedikit bulatan matahari mencoba merobeknya sampai saat senja di kaki langit.

Ia kembali berjalan menyusuri pinggiran pantai, meski pada saat itu pantai terlalu sepi. Dina tidak peduli. Ombak sedikit bergulung di pantai dan mengejar kaki Dina, ia tidak mengelak, membiarkan gelombang itu melumat kaki dan sepatunya hingga basah. Riak gelombang itu seperti tampak gembira ketika menyentuh kaki Dina, maka kembali ia menawarkan senyumnya untuk dibalas.

***

“Senja yang indah ini tidak baik jika dinikmati seorang diri,” kata seseorang tiba-tiba ketika Dina duduk pada bangku taman yang menghadap ke pantai dan laut sedang menunggu senja lelap dalam panggkuan cakrawala. “Boleh saya duduk?” tanyanya lagi.

“Silahkan,” kata Dina datar dan tidak menghiraukan.

“Senja hampir hilang, langit mendung dan sekarang tampaknya saya juga duduk di sebelah dewi yang sedang murung. Tapi, eh, apa benar nama kamu Dewi?” tanyanya lagi. Kata-katanya yang terakhir ternyata bisa membuat Dina sedikit tersenyum, biar berusaha ditutupi, tapi lesung pipinya tidak dapat menyembunyikan senyuman itu.

“Bukan,” akhirnya dijawab pula oleh Dina.

“Kalau begitu, siapakah tuan puteri sesungguhnya, sementara hamba yang bernama Jaka yang hina dina ini memberanikan diri untuk bertanya.”

“Namaku Dina dan aku bukan tuan puteri yang sedang kau cari, pengelana yang bernama Jaka.”

“Setidaknya aku bisa membuatmu tersenyum, bukan?”

“Gombal.”

“Tetap saja kau tersenyum. Eh, dengar, apa bangku ini ada yang menunggu selain aku?”

“Kenapa?”

“Soalnya, kalau tidak ada yang menunggu berarti beruntung pulalah. Dan tidak enak melihat senja tenggelam seorang diri. Tidak dapat berbagi cerita.”

“Memang apa yang dapat kau ceritakan?”

“Memang kau mau mendengar cerita apa?”

“Bisanya hanya mengganggu.”

“Aku tidak sedang mengganggu siapa-siapa. Aku hanya sedang menunggu seseorang. Setidaknya aku ikuti kata mimpiku, biar mereka bilang aku bodoh.”

“Siapa yang bilang kau bodoh?”

“Ah, kau tak perlu tahu.”

“Siapa yang kau tunggu?”

“Seseorang, tepat seperti sekarang. Eh, tunggu dulu, jangan-jangan…, jangan-jangan aku sudah bertemu.”

“Apa yang kau temui?”

“kamu. Kau sendiri?”

“Aku juga sudah menemukannya sejak tadi.”

“Waaaaaaahhh?!”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sang Penari

Ditulis oleh permanas di/pada 19 Februari 2009

Samar, dari kejauhan terdengar suara genta memecah kesunyian yang membungkus malam. Di balik kehampaan jiwa yang mencari perlindungan, seorang perempuan tengah berdiri sambil menggerakkan tangannya perlahan dan dengan lembut mengitari kegelapan mengikuti suara genta ditabuh. Ia menari menangisi nasib tapi tidak merengek menjatuhkan diri dan menghentak bongkahan tanah, cuma air mata menerangi wajah pucat di antara riasan-riasan yang meluntur.

Warna-warna kelam melekat di tubuh gemulai. Genta itu masih mengiringi gerakan kesedihan, atau tarian tanpa alur cerita. Hanya kebisuankah untuk melewati malam ini atau makna-makna asing yang jauh dari pemahamankah ingin dijelaskan. Mungkinkah kata-kata tak dapat mengungkapkan bahasa gerak yang menginginkan pengertian kalau ia mencoba bicara. Dengar, adakah suara berbisik di tengah kesunyian ini, tidakkah ada yang mendengar. Ah, diri ini pun mempertanyakannya.

Tak ada suara, tak ada gerak, genta ini berhenti ditabuh. Perempuan yang menari di atas kesedihannya, ia tersungkur, lumpuh, sejenak dentingan dawai kecapi mengisi kekosongan dan membiarkan genta itu terlupakan dan nyanyian mengganti gerak yang tertunda, menyairkan jelmaan suara hati, bukan kesunyian yang dilewati atau makna-makna yang tak dapat dijelaskan. Kata-kata itu dapat mengerti bahasa gerak. Bukan bisikan yang tersurat, tapi suara-suara penuh pertanyaan meminta jawab.

Kenapa di samping perempuan itu pohon-pohon menggugurkan daunnya sementara ini adalah musim bersemi yang seharusnya menghadirkan aneka macam bunga untuk digunakan pada prosesi upacara ritual. Ranting mengering, kuncup-kuncup terkulai layu dan mati, menggagalkan mimpi kalau yang terjadi bukanlah tarian keceriaan penuh senda gurau. Ke mana kesendirian ini harus dipercayakan untuk ditentang atau dicintai, ke mana mesti meminta jawab.

“Perempuan, katakan kalau kesedihanmu itu bukan beban, tarianmu bukan kegelisahan dan nyanyimu bukan kata-kata yang tak didengar, karena masih ada yang ingin melindungimu.”

“Engkau, kesedihanku adalah untuk membuang beban, tarianku adalah belahan jiwaku dan nyanyiku adalah memang kata-kata yang ingin didengar, dan aku membutuhkan seorang pelindung.”

“Perempuan, air matamu bak permata tak terpermanai harganya, engkau adalah penari dan gerakanmu selalu sarat makna. Ungkapkanlah sebuah syair untukku malam ini.”

“Oh, Rembulan, mestikah aku mengadu kepadamu kalau aku ini hanyalah makhluk lemah hingga lidahku pun merasa kelu untuk mengatakan kalimat-kalimat keindahan. Jiwaku selalu rapuh setiap topeng-topeng hayalan menggerogoti kepolosanku sebagai seorang perempuan.”

“Perempuan, tanpa itu semua engkau sendiri adalah sesuatu yang sangat berharga, pertanyaan hatimu, carilah jawabnya tatkala engkau dalam kesendirian. Biarlah ini menjadi rahasia kita.”

“Engkau, malam tanpamu pun tak mempunyai arti lebih. Lewat naungan cahaya ini aku menari untukmu walau sepi menjadi pengiringku.”

Penari yang menari dalam gelap dan mencintai sunyi tak dapat dipahami kecuali ada yang menuntunnya. Kenapa rembulan dapat mencairkan hati batu perempuan penari itu sementara ada tangan-tangan yang ingin menariknya dari sana dan mendakwa rembulan telah merampasnya dari kehidupan nyata. Lewat tarian perempuan itu, menyangkal kalau rembulan menjadi terhukum, bukan hanya langit yang bersedih dan ancamannya adalah tak ada keindahan di setiap malam tanpa dirinya. Ia bergerak dengan pelan namun memiliki kekuatan.

Rasakan kekuatan gaib tarian-tarian yang selalu hadir dalam setiap sendi-sendi kehidupan, mantra-mantra, iringan tabuhan genta dan gendang, gerakan pun semakin cepat mengundang ruh-ruh untuk bergabung menikmati tarian penyambut kedatangan dan pengantar kepergian. Siapa yang dirasuki tak pernah sadar kalau tarian ini memiliki kekuatan. Pemangsa dan mangsa menjadi judul dari semuanya tatkala malam menyeret gelap sebagai sekutu dan menyembahkan tumbal untuk perjamuan ruh-ruh yang kehilangan jiwanya. Tarian tetap ada untuk mengabarkan kegelisahan serta ketakutan mereka. Syair diperdengarkan, membuat jernih raut muka dan bangkit dari kesadaran.

Kerincing yang terikat di kaki penari itu menggetak-getakkan tirai kabut menyelubungi mata hati mengibaskan badannya mengusir kabut yang semakin menutup penglihatan. Sebatang kayu kering mulai membawanya menghindari ketersesatan mencari jalan lurus dari kebutaannya meraba serakan daun-daun kering terhampar di tanah. Bertanya-tanya dalam dirinya apa yang mesti dilakukan bila semua berhenti bergerak dan berdentang untuk dijadikan petunjuk sementara cahaya redup pun tak ada dari penglihatan. Hilang begitu saja tanpa jejak. Ia berhenti menari, mengingkari janjinya kepada rembulan, untuk menanyakan kepada waktu di mana tempatnya berada saat ini yang tenggelam dalam kebimbangan mencari jati diri.

“Suatu waktu, terkadang kegelisahan bukanlah keadaan yang mesti dikhawatirkan, malah mungkin mulai timbul kesadaran. Perempuan yang bertanya pada dirinya sendiri selalu mencari ketenangan antara ketidakseimbangan yang melemahkan dirinya dan menguatkan jiwa dari kerapuhan. Orang menjadi kuat karena belajar dari kesalahan serta memahami kekurangannya. Engkau pun seharusnya demikian, dapat belajar dari pengalaman yang diberikan oleh kehidupan.” Tiba-tiba lantunan syair menyelinap ke dalam telinga. Tak ada rupa. Hanya suara sayup tertangkap dalam keterbatasan jarak pandang.

“Rembulan, engkaukah itu? Aku hanya seorang penari, apa yang mesti aku ketahui sementara sebagian orang menganggapku buruk dan hina. Haruskan aku menari untuk mengiringi kematianku sendiri dan mengubur dalam-dalam jelmaan makna dalam gerakan tubuh untuk membungkam kata-kata yang tak sempat terungkap lidah. Mengangkat gerakan dan mengunci mulut adalah kematian pikiran yang jatuhnya sama saja. Untuk apa hidup itu sendiri dalam keadaan demikian?”

“Hidup bukanlah untuk main-main. Hidup adalah apa yang membuat kehidupan menjadi hidup. Hidup tidak bisa mengikat gerakan tapi membebaskannya, juga bukan mengunci mulut rapat-rapat untuk mematikan pikiran. Tapi gerakan dan kata-kata menyatu dalam kehidupan dan itu membuat semuanya menjadi tampak lebih hidup. Tarian melengkapi alur dan gerak menjadi indah agar kehidupan ini tidak menjadi statis. Kau seharusnya merasa bangga dengan dirimu.”

Semilir angin menyingkapi kabut-kabut tebal menjadi tetesan embun dan menempeli daun-daun yang berserakan di tanah. Kesejukan mulai terasa dalam kebimbangan, perempuan itu mulai menggerakkan tangannya kembali dengan penuh rasa bebas pengungkapan jiwa-jiwa tertawan yang mencari perlindungan di bawah cahaya rembulan. Bayangan keindahan memenuhi janji dalam tarian penyambut keberkahan.

“O, Rembulan, gerakanku adalah gambaran cahayamu membelah diriku seperti daun yang diterobos oleh sinaranmu ketika malam. Tak lagi diri ini gundah mengiringi tarian kematian sekaligus kelahiran, karena kau menemani.”

Suara-suara sunyi itu semakin samar terdengar dan berubah menjadi hening, dari kejauhan tak tampak apa pun juga, hanya pohon-pohon kering mematung di sana. Semua lenyap ditelan kegelapan yang masih misteri. Waktu berjalan mundur melewati apa yang telah dilalui untuk dipertanyakan lagi.***permanas/gang kresna/2001

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Nina dan Burung Liar

Ditulis oleh permanas di/pada 2 Februari 2009

“Bu,” kata Nina pelan waktu ia dalam pelukan ibunya pada pembaringan yang cuma beralaskan tikar lusuh dan plastik kumal. Rumah mereka ada di pinggiran pembuangan sampah, begitu juga teman-teman Nina yang lainnya. Malam itu hanya gubuk milik mereka yang lampu minyaknya masih menyala.

“Iya, Nina,” jawab Ibu Nina dengan belaian lembutnya mengusap rambut Nina.

“Benarkah kalau burung yang liar dapat terbang bebas sekehendak hatinya? Biar tubuhnya kurus tap ia lebih bahagia daripada burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung,” sambung Nina lagi, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat ibunya tersenyum.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tadi siang Nina lihat burung Pakde Nur sepertinya merasa kesepian dan iri waktu beberapa burung pipit hinggap pada gundukan sampah dan melahap serpihan makanan dengan riang bersama teman-temannya. Nyanyinya merdu, tidak seperti burung Pakde Nur. Ia menatapnya dengan sedih.”

“Apakah ia benar-benar merasa sedih dan kesepian? Tapi kalau kau ingin tahu apakah burung yang bebas dan liar itu lebih bahagia, tentunya ia akan merasa bahagia kalau ia ingin. Begitu pula dengan burung kicau milik Pakde Nur.”

“Bagaimana dengan kita sendiri, Bu?”

“Kita pun akan berlaku serupa seandainya kita ada bersama-sama dengan mereka.”

“Tapi Nina akan lebih senang menjadi burung kurus dan liar itu.”

“Lalu?”

“Nina akan terbang dan hinggap di mana pun yang Nina suka dan senangi, asal itu membuat Nina senang.”

“Kalau begitu kau akan menjadi seperti apa yang kau inginkan.”

“Dan Nina akan membawa ibu serta dan menunjukkan tempat yang paling indah yang pernah kita datangi.”

“Tentu ibu akan bersamamu.”

“Tapi, mungkinkah ada tempat seperti itu, Bu?”

“Tempat seperti apa yang kau maksud?”

“Tempat di mana kita bisa merasa bahagia dan ceria, tidak ada kesedihan-kesedihan dan air mata, tidak ada pertengkaran. Rumah kita pasti akan penuh dengan tumbuhan dan kembang-kembang lalu kita akan undang banyak kupu-kupu dan kumbang untuk bergabung bersama kita. Membagi kebahagiaan itu bukankah hal yang paling indah kan, Bu”

“Itu memang suatu keindahan tersendiri. Tetapi tahukah kamu kalau keindahan adalah keindahan itu sendiri. Kau juga pasti tahu tentang nyanyi burung liar itu, Nina. Kau juga harus ingat, burung yang terbang tinggi itu bukanlah untuk bersenang-senang melainkan ia juga tetap mencoba bertahan hidup. Maka dilawannyalah angin yang kencang di atas sana. Ia tahu, kalau ia lemah pasti tidak akan mampu bertahan dari kehidupannya.”

“Lalu apa yang akan dilakukannya?”

“Ia akan terus berjuang untuk tetap hidup.”

“Apakah kita akan mampu bertahan, Bu?”

“Kita pasti akan mampu melewati semua ini, Nina, asal kita yakin terlebih dulu kalau kita mampu mengalahkan semua ini,” jawab ibu Nina. Setelah itu ia menyuruh Nina segera tidur karena pagi nanti masih banyak yang harus dikerjakan oleh mereka berdua.

Esoknya, seperti biasa, Nina bersama ibunya mencari kardus bekas, botol plastik atau besi tua yang dapat mereka temukan pada kumpulan sampah yang terhampar di sekitar pembuangan sampah. Sekali lagi Nina melihat kumpulan burung liar itu kembali hinggap pada pelupuk matanya. Burung-burung itu kembali mencari serangga yang bersembunyi di balik sampah-sampah yang membusuk. Nina semakin jauh dari ibunya yang terus saja memperhatikan mobil truk yang mengangkut sampah dan di belakangnya banyak sekali pemulung menguntit, padahal mobil itupun belum berhenti memuntahkan muatannya.

Dan tahu-tahu saja Nina sudah sampai di depan rumah Pakde Nur, pemilik rumah timbangan yang membayar hasil yang didapat oleh para pemulung di sekitar pembuangan sampah itu, termasuk ibunya. Nina melihat Pakde Nur masih saja memperhatikan burung kesayangannya ketika Nina semakin mendekat ke arah Pakde Nur, Nina sekarang berdiri di belakangnya, ia memperhatikan juga apa yang tengah diperhatikan Pakde Nur.

“Seandainya saja ia dapat terbang bebas,” kata Nina tiba-tiba tanpa sengaja. Pakde Nur sedikit kaget mendengar suara Nina dan tidak menyangka kalau sejak tadi Nina berada di belakang dirinya. Pakde Nur tersenyum mendengar suara Nina yang polos itu.

“Kenapa kamu ingin seperti itu, Nina?” tanya Pakde Nur sambil tangannya mengusap kepala Nina, tapi Nina masih saja memperhatikan burung yang tergantung pada sebuah tiang bersama sangkarnya yang terbuat dari kayu dan bercat emas, berkilau bermandikan cahaya matahari.

“Nina lebih senang kalau ia dapat terbang bebas,kalau ia masih terkurung ia akan bersedih karena kedua sayapnya tidak berguna untuk membawanya ke tempat-tempat yang dapat membuatnya senang,” jawab Nina.

“Darimana kamu tahu kalau burung milik Pakde itu senang atau tidak senang, padahal Pakde menyediakan sangkar yang bagus dan makanan yang banyak untuk dirinya. Tentu saja menurut pakde ia lebih senang, karena di luar sana kan banyak pemangsa yang dapat menerkamnya, sedang di dalam sana ia akan terlindungi.”

“Kalau begitu, kedua sayap miliknya tidak akan berguna, meski ia punya bulu-bulu yang indah pada tubuhnya,” jawab Nina lagi.

“Hahaha, Nina…, Nina,” kata Pakde Nur tertawa pelan dan hangat. Pakde Nur lalu berjongkok dekat Nina dan tetap memperhatikan burung yang tergantung itu bersama Nina. “Apa kamu menyarankan Pakde untuk melepaskan burung itu?” lanjut Pakde Nur.

“Itu kata Pakde, tapi kalau seandainya begitu, apakah Pakde mau melepasnya?”

“Entahlah. Tapi apakah itu akan membuat kamu senang seandainya Pakde melepasnya agar ia dapat menikmati alam bebas yang seharusnya memang dia berada di sana?” tanya Pakde lagi.

“Tentu akan senang, asal pakde juga merasa senang dengan apa yang Pakde lakukan.”

“Hahahahaha…., ah, Nina, Nina. Tahu tidak, sebenarnya Pakde juga merasa kasihan dengan burung itu. Tapi, baiklah, Pakde akan melepasnya kalau itu dapat membuat kamu senang. Mungkin burung itu akan berterima kasih kepadamu, Nina,” kata Pakde Nur sambil menuju arah tiang yang menggantung sangkar burung miliknya lalu menurunkannya. “Tapi pakde ingin kamu yang melepasnya. Kamu mau kan?”

“Benarkah, Pakde?”

“Tentu, Nina. Justru itu yang membuat Pakde senang bila kamu yang melepasnya. Sekarang ambillah sangkar ini dan lepaskanlah burung itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan, burung itu mungkin akan berterima kasih padamu,” kata Pakde Nur lagi sambil menyerahkan sangkar itu kepada Nina.

“Terima kasih, Pakde,” kata Nina. Ia lalu mengeluarkan burung itu. “Sekarang kebebasanlah milikmu, wahai burung, sekarang terbanglah sesukamu dan pergilah ke tempat-tempat yang indah. Tentu kamu akan menyukainya ketimbang sangkar ini,” sambung Nina lagi.

Maka, terbanglah burung itu, semakin tinggi dan terus semakin tinggi meninggalkan Nina dan Pakde Nur di bawahnya untuk dapat menemukan tempat-tempat yang indah dan menyenangkan seperti apa yang telah disuruh Nina kepadanya. Nina terus berlalu mengikuti arah burung itu terbang. Ia terus saja berlari berusaha mengejar.

“Terima kasih, Pakde Nur!” teriak Nina dari jauh setelah burung itu terbang semakin tinggi sambil melambaikan tangannya kepada Pakde Nur. Pakde Nur hanya tertawa dan ia pun membalas lambaian tangan Nina.

“Hahaha…. Yah, burung itu mungkin akan lebih senang menjadi bebas ketimbang terkurung,” kata Pakde Nur pelan setelah Nina hilang dari pandangannya dan bayangannya tenggelam di antara gundukan-gundukan sampah itu.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Nyanyian Jangkrik

Ditulis oleh permanas di/pada 14 Januari 2009

Warung Mak Siti, warung yang berada di belakang pembuangan sampah itu, yang juga biasa dijadikan pangkalan pengamen, pemulung serta para tukang semir sepatu, berbaur dengan bau busuk menyengat. Gulungan asap dari pembakaran sampah menemani lalat yang beterbangan dimana-mana menjadi pemandangan biasa di sekeliling warung Mak Siti. Tapi, toh, mereka yang makan dan minum atau hanya sekedar mengobrol sambil menguyup kopi tak pernah merasa mengeluh. Pikir mereka di mana lagi bisa mendapat makanan murah meriah selain di warung Mak Siti, apalagi bagi mereka yang penghasilannya cuma dari sampah di sekitar sini.

Di sana Tole sengaja duduk di pojok, pikirannya melayang meninggalkan badan yang kurus, matanya lalu tertuju ke arah kerumunan para pemulung mengejar-ngejar truk sampah yang baru saja datang. Mereka berhamburan setelah sampah itu diturunkan, berlomba mengais rejeki di antara gundukan-gundukan sampah diujung sana.

“Persetan! Siapa yang peduli mengurusi perempuan itu,” kata Tole setelah membuang wajahnya dari kumpulan para pemulung. Sudah tiga hari ini Tole tidak menyentuh gitar bututnya, ia cuma bermalas-malasan di warung Mak Siti, ditemani segumpal awan hitam menggelayuti kepalanya. Andai saja waktu itu pak Sakir tidak bicara mengenai ibunya, orang yang selama ini tidak pernah ditemuinya, tiba-tiba muncul dari mulut pak Sakir.

Antara percaya dan tidak tentang omongan pak Sakir, Tole masih menimbang-nimbang. Benarkah ibunya yang diharapkan selama ini kehadirannya cuma seorang perempuan malam.

Sayangnya, Tole tidak punya ingatan apapun, Kadun, bapaknya sendiri tidak pernah bercerita apa-apa. Kali kemarin ketika Kadun pulang dalam keadaan mabuk, ia hanya bisa mengamuk dan mengoceh tidak karuan waktu ditanya Tole, benarkah kalau ibunya itu hanya wanita penghibur seperti yang dikatakan pak Sakir tempo hari. “Anak tidak tahu diuntung, jangan kau sebut-sebut perempuan itu lagi. Aku muak mendengarnya. Lagipula tahu apa si Sakir itu, mencampuri urusan orang,” bentak Kadun sambil melempar Tole dengan asbak rokok. Oleh karena itu Tole enggan pulang, satu-satunya tempat hanya warung Mak Siti dimana Tole biasa mangkal untuk sekedar singgah.

Mentari sepertinya sudah mulai malas senja ini dan ingin segera menarik selimut dari peraduan mega, karenanya membuat hari semakin merambat gelap. Lampu-lampu pijar di pinggir jalan mulai memperjelas cahayanya, bekerlipan laksana kunang-kunang berkerumun di antara sela-sela kegelapan.

Tole belum juga beranjak dari warung Mak Siti, remang cahaya membuatnya menjadi malas untuk bangun. Kalau sudah begitu dunia menjadi sempit untuk ditinggali, melihatnya saja sudah tidak karuan. Apa jadinya Tole malam ini, hanya ditemani nyamuk-nyamuk dan lalat-lalat keletihan mengitari kubangan sampah yang teronggok bersama bangkai seekor tikus buduk. Anak jalanan yang sudah menjadi tulang punggung trotoar itu masih melintasi lubang-lubang jalanan, menghitungi sampah yang beterbangan. Ceritanya menjadi angin lalu, terlupakan begitu saja seperti debu. Tak pernah menjadi perhatian.

Tak perlu lagi Tole memikirkan Kadun, bapaknya yang pecundang dan Jumirah, nama ibunya. Kesesakan hati sedikit terasa ringan, tak perlu lagi diingat. Mereka menertawakan nasibnya sendiri. Biar waktu sedikit bergulir dan orang-orang sibuk mencumbu mimpinya yang tak pernah sadar kenyataan ini membuat mereka terseret-seret.

Bila saja malam ini tak perlu terjadi, atau mungkin hidup ini sendiri tak perlu lagi berjalan, apakah Kadun dan Jumirah tak pernah menurunkannya ke dunia. “Ah, itu namanya menentang takdir,” pikir Tole di antara kesadarannya yang tinggal setengah itu. Tole berusaha bangkit meninggalkan tempat itu, biar sempoyongan ia tetap berjalan menelusuri lorong-lorong jalan.

Kelelahannya semakin menusuk jantung kehidupan dan tatapannya bertambah kosong, kian tak terarah. Ia kini bersandar di antara tembok-tembok tua yang menyambung dengan gerbang waktu, mengantarnya kepada sebuah mimpi. Langkah kaki yang gontai membawakan tubuh dekil dan penuh dengan luka-luka menganga, Tole cuma membiarkannya semakin membusuk. Melarikan diri dari kejaran ketidakpedulian yang mengantarnya kepada maut. Biar keringat membanjiri tubuh kumal, ia akan memberikan kebebasan dari jeruji-jeruji besi.

Biar saja malam semakin meninggi di atas sana dengan bulan yang bisu setelah hujan mengguyur hari ini. Tole tetap melangkahkan kakinya, tak peduli setan-setan memperhatikannya karena tidak ikut bergabung malam ini dan menari-nari di atas panggung tanpa cahaya dan tanpa pertunjukan. Tinggal keramaian dan ketidaktahuan mereka yang menyaksikan, dan dingin pun mulai menyelimuti keheningan, tak tahu apa lagi akan terjadi setelah ini.

Hanya Tole dan kesendiriannya malam ini disisa-sisa keheningan, di sudut tempat tidur dalam rumah bilik. Ia tahu, dan mungkin saja ia tidak tahu sama sekali, kalau kedua orang tuanya kini sudah pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Tole lalu mengabil gambar ibunya dari bawah tempat tidur. Potret itu seperti mendamaikan hati setiap ia gelisah.

“Ibu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu seperti dalam mimpi. Tidak, tidak, itu tidak akan terjadi malam ini. Tapi nanti, kelak aku ingin, kita tak akan pernah terpisahkan.” Tole membakar potret itu bersama angan-angannya.

“Perempuan memang cuma perempuan, dan wanita penghibur juga tetap seorang perempuan. Tapi ingat, ‘Le, dia itu tetap ibumu. Perempuan yang melahirkan kau ke dunia ini,” bilang Mak Siti tempo hari.

Tak sadar Tole membiarkan potret yang sudah terbakar itu jatuh ke atas kasur. Ia hanya menidurkan badannya yang kelelahan dan langsung dibuai mimpi-mimpi. Api sangat cepat merambat dan melahap apa saja yang dilewati. Dalam sekejap mata, rumah bilik itu sudah terbakar hangus. Membiarkan seorang anak tertidur selamanya. Tinggal suara jangkrik menembus kegelapan malam yang meninggalkan sebuah cerita menjadi kesunyian.***mei 2001.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »