Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘cinta’

Purnama di Kampung Mah Tong

Ditulis oleh permanas di/pada 4 November 2009

Sawaludin Permana

Musim gugur baru saja mengetuk. Daun-daun mati warna coklat tua berserakan dan akhirnya kembali mengarungi udara kosong, menemui tempat lain yang kering dan gersang. Baru saja pohon-pohon itu melepaskan keteduhannya, sekarang ia telanjang dan ranting-ranting mencakar langit. Burung yang singgah dan lelah itu tidak akan pernah kembali lagi. Kesepian cuma sebuah awal dari keterasingan yang sangat menakutkan, atau ketakutan itu yang kesepian.

Lalu, ada perempuan menyendiri mendiami tempat sunyi setelah tahu ia tidak bisa melihat untuk kedua kali. Apa yang dilihat cuma gelap, tatapan yang terbuka kelopaknya itu kosong, sinarnya pergi jauh. Ia tahu musim gugur telah sampai di telapak kakinya tapi tidak tahu keindahannya. Ingin mengerti kalau sesuatu yang pergi itu adalah untuk membiarkan yang baru lahir. Ia menatapnya, tapi kosong. Biar jendela terbuka, ia hanya merasakan angin saja, tidak mampu melihat sesuatu bergerak dengan gemulai.

“Aku tahu, aku tidak mampu melihat kembali apa-apa yang dilukiskan dunia sekarang ini, aku tidak tahu lagi apa yang membuat burung-burung menyanyi atau daun-daun bergemerisik. Lagunya hanya mampu kudengar tapi tidak tahu di mana ia menyanyi atau desirnya mengayun. Haruskah aku meratapi apa yang sudah hilang. Tidak, aku tidak sebodoh itu. Sekarang yang menuntunku hanya tangan kurus dan hanya diam memandang jendela yang aku tidak tahu apa yang sedang dilukisnya kepadaku. Aku tidak tahu,” kata Marai, rambut panjang terlepas dan jatuh mengikuti pundaknya. Wajah Marai pucat, tangannya gemetar, dingin. Baju putih yang dikenakannya seakan tenggelam bersama dirinya, jauh dari jendela. Marai seperti lukisan mati dalam bingkai yang lusuh dan tidak bercahaya.

“Waktu cahaya itu pergi dari pandanganmu bukan berarti kau tidak layak lagi meneruskan hidup, bukan berarti lentera yang kau pegang telah padam. Meski tak dapat melihat, lentera yang ada padamu akan mampu menerangi yang lain dalam gelap. Kau masih sanggup menuntun dirimu sendiri,” ucap Nang Anai ketika ia membuka pintu kamar Marai dan mendengar kata anaknya. Hati perempuan tua itu miris, meski ia tidak tahu harus berbuat apa, Nang Anai hanya mampu membesarkan hati Marai. Nang Anai merasa, hanya karena gelap, bukan berarti tidak ada cahaya bersembunyi di baliknya. Marai masih saja memandang ke luar jendela.

“Bilang, Nang, kenapa ini yang harus terjadi? Bilang, Nang, bilang,” kata Marai lagi sambil menangis. Nang Anai tidak mampu bicara dan melihat Marai menjatuhkan dirinya ke lantai meratap sejadi-jadinya. Nang ingin menghampiri, kakinya terpaku pada lantai, ia tidak sanggup melangkah untuk mengangkat kepala Marai. Perempuan tua itu hanya mampu memandangi Marai melelehkan airmatanya pada lantai kayu.

*** ***

Malam terang bulan. Saat itu kampung Mah Tong baru saja merayakan panen besar, para penduduk baik tua maupun muda saling berbaur pada alun-alun kampung dan keramaian itu diisi dengan puji-pujian dan nyanyi riang saling bercampur dengan tawa anak-anak.

Di antaranya ada Marai, gadis belia itu dengan semangat menyala melingkar bersama gadis-gadis lainnya dalam tarian mengelilingi api unggun. Tarian dipersembahkan kepada Dewi Kesuburan dan Dewa Hujan agar keberkahan yang mereka rasakan akan tetap berlanjut sampai tahun-tahun mendatang, menjauhkan petaka dan bencana dari kampung Mah Tong dan penduduk serta tanahnya yang subur membentang sampai ujung bukit.

Ada satu pasang mata terus menguntit gerak Marai ketika ia melepaskan senyumnya dengan mata berbinar saling memberi kehangatan dalam lingkaran yang tak pernah terputus selama tarian itu melingkari api unggun. Satu mata itu tidak akan pernah lepas lagi, ketika Marai sadar ada yang menguntit geraknya sejak tadi, lalu segera membalas pandangan itu dengan kehangatan yang sama, malah lebih membakar dari api di hadapan Marai. Ia tahu, ada sesuatu di antara batas yang perlahan mulai terjalin dan akan terus membentuk rajutan-rajutan halus membentang di antara mereka. Gelap kemudian berbaur dengan tubuh Marai

Jung terlihat bingung, menyusup di antara desakan-desakan keramaian yang menyembunyikan pandangannya terhadap Marai. Seakan kumpulan keramaian itu sengaja menculik Marai dari Jung, meski Jung terus menyusup dan membelah kumpulan itu. Jung hampir jatuh, tapi ada tangan halus segera menggapai tangannya. Jung terperangah mengetahui siapa yang menggenggam tangannya dengan lembut dan ramah, sama seperti senyuman dan sebaris gigi putih bersih, membuat Jung tersihir.

“Kau pandang aku begitu lama, sekarang luluhkan hatiku,” kata Marai setelah Jung sudah berdiri dan mereka berhadapan. Sama seperti adat yang biasa dilakukan di kampung Mah Tong, setiap laki-laki yang menyukai perempuan dan membuatnya jatuh hati maka laki-laki itu harus menyusun serangkaian kata untuk dapat meluluhkan perempuan yang disukanya agar dapat sampai ke dalam pelukannya. Tapi sebelum itu ia harus menaklukkan hati sang gadis.

“Apa yang harus aku katakan lebih jauh. Tanpa aku mengatakannya, kau sudah membuatku tenggelam dalam pandangan yang membakar, tapi kau tidak membuatku menjadi arang. Kau malah menghidupkanku lebih jauh dari sekarang,” balas Jung.

“Kalau begitu kau harus lebih berusaha agar dapat meluluhkan hatiku,” balas Marai dan pergi meninggalkan Jung dikeramaian.

“Apa ini berarti kau menyuruhku untuk mendapatkanmu. Ah, bodohnya aku tidak menanyakan siapa namanya. Oh, bodohnya aku,” bisik Jung dalam hati mengetahui kesempatan baik baru saja lepas dari genggamannya.  “Ahahahahaha…..! Aku jatuh cinta!” akhirnya kata Jung seakan ingin memberitahukan perasaannya kepada dunia dan meneriaki telinga malam. Itu hal biasa di kampung Mah Tong. Pasti dalam setiap keramaian, beberapa pasang muda-mudi bertemu pasti akan meneriaki kata yang sama, mereka jatuh cinta kepada apa yang telah membakarnya dan lupa kepada sekelilingnya, bahkan kepada diri mereka sendiri, termasuk Jung.

“Jung, ia selalu saja begitu,” kata seseorang yang melihat berlari serupa orang kesurupan dan menabraki orang-orang.

“Ya, musim ini bagus. Selain panen melimpah, banyak orang muda jatuh cinta. Seperti Jung, tapi ia lebih bahagia dari yang lainnya,” sambung orang tua lain lagi ketika melihat Jung sudah hilang dari matanya.

“Pemuda beruntung. Tapi siapa gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta seperti itu. Semoga saja bukan gadis-gadis seberang yang menyusup ke sini. Jika begitu, itu petaka baginya, juga bagi kita.”

“Siapa yang tahu selain Jung sendiri. Yang pasti malam ini banyak berkah terlimpahkan pada kampung kita.”

“Ya, ya, aku setuju satu hal, mungkin aku juga akan jatuh cinta.”

“Kau sudah tua. Mau kau kemanakan perempuan tua yang menemanimu sejak masa gadisnya telah kau lamar, he?”

“Tua bukan berarti tidak bisa merasakan jiwa muda sedang dirundung cinta. Aku ingin merasakan sekali lagi sebelum sesuatu terjadi padaku.”

“Aku janji akan mengantarmu ke kuburmu, tentu itu tidak akan kulewatkan dalam sejarah hidupku.”

“Begitu juga aku,” dan kata-kata itu pun saling melengkapi sampai keceriaan dan tawa membius mereka sepanjang malam.

*** ***

“Pagi ini ladang menungumu, Jung, cangkul itu harus kau tajamkan sekali lagi, sabit itu harus kau ayunkan tinggi-tinggi. Rumput telah menantangmu,” kata Nang Mhak.

“Nanti saja,” jawab Jung pelan. Sepagian itu Jung masih saja bermalas-malasan bersandar pada tiang kayu dan menggantungkan kakinya. Menantang cahaya matahari.

“Jung, kau tidak ke ladang?” panggil Phak ketika ia melintas di depan rumah Jung.

“Kau saja duluan, aku menyusul,” jawab Jung.

Yang mengganggu pikiran Jung sekarang adalah seorang gadis yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu, yang telah membuatnya jatuh hati karena senyuman dan permintaan meluluhkan hatinya kepada Jung. Sayang, Jung lupa menanyakannya.

“Jung, lekaslah pergi ke ladang. Hari sudah terlampau siang,” bujuk Nang Mhak lagi.

“Baiklah,” jawab Jung seakan berat untuk bangun dan menggapai cangkul di dekat tiang. Berjalan menuruni tangga pun dirinya seakan melayang tanpa tujuan.

Dari jauh, baru Phak saja mengayunkan cangkulnya di sana. Jung menghampiri Phak yang masih saja mengayunkan cangkulnya, Phak menoleh sebentar hanya untuk melayangkan senyum tipis, cara khas menyalami orang di kampung Mah Tong. Jung membalas senyum itu sambil duduk. Di antara tanah-tanah kosong, setelah pesta panen, sekarang juga sekosong hati Jung.

“Kau tidak ingin melepaskan cangkulmu barang sebentar, Phak?” tanya Jung akhirnya.

“Bukankah kau seharusnya segera memegang batang cangkul itu dan menghujamkannya pada tanah yang basah ini?” Phak malah balik bertanya.

“Aku belum ingin.”

“Kenapa?”

“Oh, Phak, sekarang ini kau seorang laki-laki dewasa. Kita besar bersama, bermain bersama, bertengkar dan baik lagi secara bersama-sama. Tapi kau masih tidak tahu juga?”

“Kau yang bodoh, bagaimana aku tahu kalau kau tidak beritahu aku,” balas Phak dan tetap sambil mengayunkan cangkulnya.

“Aku jatuh cinta, Phak. Temanmu ini sedang jatuh cinta,” jawab Jung sambil memegang dada dengan kedua tangannya seakan membanggakan perasaan yang sedang dirundungnya kepada Phak.

“Hah, hanya itu. Jatuh cinta,” sambung Phak tanpa ekspresi apa-apa.

“Ya, aku jatuh cinta,” kata Jung lagi membanggakan.

“Kepada siapa kau jatuh cinta kalau begitu?”

“Aku tidak tahu. Setidaknya aku mengenalinya dan akan aku cari lebih jauh tentangnya.”

“Ke mana kau akan cari tahu kalau kau cuma mengenalinya dalam gelap dan samar. Hah, aku rasa kaulah yang bodoh. Cinta memang membuat siapa saja berlaku bodoh,” kata Phak lagi.

“Setidaknya aku mencintai seorang gadis, itu yang tetap membuatku tetap waras.”

“Waras kalau kau menemui cinta yang  waras pula. Sekarang, aku rasa, kau sedang tidak waras, Jung.”

“Karena aku sedang jatuh cinta. Dan sekarang, biarkan aku sendiri untuk menikmati apa yang ingin aku rasakan. Mungkin aku akan menemukannya dalam mimpi,” jawab Jung dan meninggalkan Phak sendiri dengan cangkulnya.

“Aku tidak akan mengganggu, malah kau yang menganggu pekerjaanku sekarang. Kapan kau akan mengayunkan cangkulmu, Jung,” tanya Phak lagi.

“Nanti, Phak, nanti. Dalam mimpi.”

“Tidak dalam mimpiku.”

“Yah, tidak juga dalam mimpiku,” jawab Jung dan akhirnya sekarang Jung meninggalkan Phak yang sudah penuh keringat. Jung semakin jauh berjalan, ia masih saja mendukung cangkul di pundaknya dan tidak tahu kalau ia semakin jauh dari ladangnya.

*** ***

Pada sisi lain di kampung Mah Tong, ada sebuah sungai mengalir sejak lama di dataran itu. Dulunya sungai kecil dan tenang itu adalah parit yang disediakan untuk menjebak pihak lawan yang bersebrangan. Di bawahnya tertancap banyak bambu runcing siap melumat siapa saja yang terperosok. Ketika perang pecah, parit itu telah penuh dengan tubuh-tubuh beku dan darah membanjiri tanah dalam parit karena terlalu banyaknya tubuh terperosok. Hujan mengguyur deras mengisi celah parit sehingga membelah kampung Mah Tong menjadi dua bagian. Parit yang dulunya banjir oleh darah dari tubuh yang saling bermusuhan, sekarang berubah menjadi aliran sungai yang jernih. Ketenangannya memendam sejarah pahit dan cerita yang terus mengalir sejauh aliran itu akan bermuara. Sungai itu terlalu panjang untuk mencari pelabuhannya hingga tidak ada lagi yang ingin memikirkan terlalu jauh.

Sekarang, keheningan sungai itu diisi oleh tembang-tembang yang dinyanyikan oleh gadis-gadis yang mencuci pakaian dan merendam diri mereka dalam aliran sungai tersebut. Salah satunya adalah Marai, ia merendamkan tubuhnya di sana sambil ikut mendendang bersama dengan yang lainnya.

“Semalam memangnya kau pergi ke mana, sampai seisi kampung mencarimu, Marai?” tanya Ahm ingin tahu.

“Aku hanya ingin mencari suasana baru saja.”

“Tidak lainnya?” tanya Nhak sambil mendekati Marai.

“Aku ada bersamanya,” Sambung Mai tersenyum menggoda Marai. “Kami pergi ke pesta panen di kampung seberang, meski itu melanggar peraturan adat. Tapi kan kita tidak ketahuan. Semalam, aku lihat ia berhadapan dengan seorang pria gagah dan tampan,” tambah Mai lagi.

“Wah, benarkah seperti itu, Marai? Betapa beruntungnya kau bertemu dengannya. Apa kau mengatakan kepadanya untuk meluluhkan hatimu” tanya Ahm lagi. Marai semakin tersipu.

“Aku bilang seperti yang kau bilang, Ahm,” jawab Marai sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam air. Mendengar jawaban Marai yang lainnya semakin memandang satu sama lain, lalu mereka tertawa bersama-sama.

“Kau benar-benar gadis nakal, Marai,” kata Nhak ketika Marai sudah menyembulkan kepalanya dari dalam air sambil kembali menyiramkan air kepada Marai.

“Betapa beruntungnya pria itu,” kata Mai mencoba membayangkan bagaimana rupa wajah pria yang telah membuat Marai merasa seperti itu.

“Kau memang sungguh gadis nakal,” ulang Ahm menggoda.

“Sayangnya aku tidak tahu siapa dia,” jawab Marai dan itu membuat teman-temannya diam mendengar perkataan Marai yang terakhir itu.

“Kalau kau bersikeras, kau akan bertemu dengannya kelak,” bisik Nhak dan meneruskan nyanyinya sendiri.

*** ***

Ada dendang kecil dinyanyikan Marai di depan jendela kamarnya, ia melihat bulan itu sudah bulat penuh. Bayangan sinarnya seperti lentera redup. Marai tidak tahu apakah hatinya senang atau sedih. Ia jatuh cinta, tapi tidak tahu kepada siapa. Marai mendendang menunggui malam, atau menunggu ada yang menjemputnya. Ia ingin tidur tapi tidak bisa.

“Sayang, aku ingin berhenti berdendang dan langsung melelapkan pikiranku dan menemani tikar itu agar tidak merasa dingin. Aku ingin, tapi juga tidak ingin menghentikan dendang ini. Ataukah aku sedang merindu,” bisik Marai kepada dirinya sendiri di depan jendela yang menghadap kepada bulan dan malam yang kelam. Kamarnya meredup.

*** ***

Jung gelisah. Dalam tidurnya ia berada dalam sebuah pertempuran, Jung lihat sungai itu mengalir di antara bukit yang membelah kampung Mah Tong berubah kembali menjadi parit-parit. Jung mendengar banyak teriakan, kesakitan dan semangat yang membakar mereka untuk mengayunkan pedang. Ada satu wajah dikenali Jung lewat cerita ibunya, akrab dengan pikirannya dan tatapan itu begitu hangat, ia ingin berteduh di antara kelopak mata itu, atau Jung akan menghampiri dan mendekap erat tubuh itu. Jung berlari, ia ingin mendekat, wajah dan tubuh itu ingin dipeluk Jung. Sayang, sebelum tangan Jung sampai, tubuh itu telah terhempas jatuh ke dalam parit, sebilah pedang menyerempet tubuh itu dan melemparkannya ke dalam parit. Jung ingin menggapai dan meraih tangan yang mengembang kepadanya tapi tidak sampai dan merelakan kehilangan tatapan yang hangat kepada dirinya.

Jung tidak sanggup menatap ke bawah, ia ingin pergi dari tanah pertempuran itu dan ingin menemukan kesunyian di tempat lain, tapi tidak dilakukan, sesuatu menariknya kembali, sebuah wajah yang juga dikenali Jung beberapa waktu lalu, tapi ia tidak tahu siapa namanya.

Jung menerobos setiap teriakan yang datang ke arah telinganya dan mendorong jauh tubuh-tubuh yang jatuh ke arahnya, ia kembali ke tengah tanah pertempuran. Ada yang masih berdiam di sana, ada kelembutan yang tidak bisa dibiarkan berada di tempat seperti itu, ia ingin mengajak pergi dan menggapai tangan itu dan ia akan mengajaknya pergi. Yang dilihatnya tadi terulang kembali, baru saja Jung ingin menarik tangan itu, ada bayangan melesat dan membuat tubuh itu kembali menghempas dan masuk kembali ke dalam parit-parit. Jung diam di antara teriakan-teriakan yang terus menjelma.

“Tidaaaaaaaaaak!” teriak Jung dan langsung bangkit dari tidurnya. “Apakah ini pertanda,” bisik Jung pelan sambil menelusuri mimpi yang baru di alaminya.

*** ***

Sejak pertemuannya dengan Jung, Marai selalu menyendiri dan tidak ingin lagi keluar rumah. Kali ini, Marai keluar rumah, berjalan sendirian melewati tanah luas dan sungai yang membelah kampung Mah Tong, menyebrangi batas yang seharusnya tidak boleh dilalui. Marai melanggar batasan tanah adat dan semakin jauh dari tempatnya. Ada yang melihat Marai menyebrangi sungai itu dan memberitahu Nang Anai serta tetua kampung Mah Tong agar segera menjemput Marai supaya tidak terjadi sesuatu yang bisa mencelakai Marai. Tapi itu sudah terlambat.

Marai semakin jauh menelusuri bagian lain dari kampung Mah Tong dan menemukan apa yang ingin ditemukannya. Jung menaruh cangkulnya perlahan, seperti sentuhan itu yang menyuruhnya dan membalikkan tubuhnya. Marai sudah ada di hadapan Jung dan ia tersenyum kecil.

“Kau lupa mencariku untuk meluluhkan hatiku,” kata Marai akhirnya setelah Jung tidak bicara dan ia hanya menatap Marai. Jung masih diam.

“Bagaimana seharusnya aku meluluhkan hatimu sementara aku yang lebih dulu jatuh cinta dan membiarkanmu seorang diri dan menunggu terlalu lama. Siapa namamu?”

“Marai, Ksatria. Kau seharusnya berjuang sejak aku menyuruhmu menaklukkanku, kau tidak seharusnya membuatku terlalu lama menunggu sampai aku mencarimu. Aku melawan semua demi kau menaklukkanku,” jawab Marai.

“Apakah aku….”

“Jangan tunggu lebih lama atau sesuatu akan bergemuruh seperti halilintar dan itu akan memisahkan kita. Badainya terlalu besar untuk kuraih dan kurenangi. Kau atau aku tidak akan sanggup. Haruskah aku mengorbankan semuanya demi orang yang kutantang untuk meluluhkanku. Jawabannya adalah, kau harus menaklukanku. Maka, bawa aku sekarang.”

Tapi itu sudah terlambat, beberapa orang dari pihak Jung mengetahui itu, melihat hal demikian, Jung ingin melawan, lembut tangan Marai mencegahnya dan mengisyaratkan untuk pergi saja dari badai yang akan menenggelamkan. Jung membatalkan niatnya dan mengajak Marai pergi dari tempat tersebut, mencoba menghindar dari arak-arakan. Jung tidak mengerti, ia sendiri pun tidak mengerti kenapa hal seperti ini harus dirintangi dengan adat seperti itu. Jung melawan apa yang seharusnya tidak dilawan, tapi ia menarik tangan Marai dan sekarang ia yang akan melawannya, bukan Marai yang akan melindunginya.

“Aku tidak bisa lagi melindungimu, Jung, kurelakan kau pergi dengan restuku. Aku tidak bisa membela kalian, sekarang pergilah,” kata Nang Mhak ketika Jung datang kepada ibunya sambil membawa Marai di hadapannya. Jung tidak menyesal, waktu seakan begitu cepat berkelebat. Jung pergi membawa Marai dengan restu ibunya. Tapi Jung tidak tahu apakah restu ibunya dapat menyelamatkan dirinya dan Marai atau tidak. Jung tidak pernah tahu sampai akhirnya Jung dicegah di tengah jalan oleh arak-arakan dari pihak kampung Jung.

“Kalian telah melanggar perjanjian yang seharusnya telah mendamaikan semua yang ada di sini, kalian telah melangkahi sumpah-sumpah yang telah ditulis dalam adat. Sekarang hukum kalian tidak lepas dari semua sumpah yang diucapkan di atas leluhur kalian sendiri dan kalian telah menginjak-injak bagai sampah,” kata salah seorang tetua.

“Apa arti semua itu, sumpah itu tidak dilanggar, malah semakin dihormati bila yang dibela adalah dua hati yang dipisah hanya karena hal itu,” jawab Marai.

“Kau telah dibutakan, maka kau akan kembali dengan hati yang gelap dan pandangan yang buta,” jawab salah seorang lagi dan melemparkan debu ke mata Marai, perlakuan itu membuat Marai tidak dapat melihat dan matanya terasa perih, ia tidak sanggup lagi melihat. Marai merasa buta, gelap dan perih.

Melihat hal itu, Jung langsung membela marai dan menggapai tangan Marai agar tidak jatuh. Namun Jung ikut terjatuh melihat Marai kehilangan kendali karena pandangannya menjadi gelap dan tidak bisa mengenali Jung lagi selain dari suaranya. Akhirnya Jung melihat kesempatan, sebilah pedang yang terikat di pinggang seseorang, Jung menyambarnya dan ia ayunkan kepada orang yang telah membutakan Marai.

“Kau tidak akan berbuat bodoh, bukan?” kata seseorang.

“Tidak ada yang bodoh dalam mempertahankan apa yang telah membuatnya mampu untuk mencintai. Kalianlah yang telah dibutakan,” jawab Jung. Matanya nanar menerobos kumpulan itu. Jung menyambarkan pedangnya ke segala arah, hampir mengenai seseorang. Dan tiba-tiba saja, satu sayatan dalam mengenai pungung Jung dan membuatnya tersungkur seketika. Jung tidak lagi meneruskan apa yang ingin diperjuangkannya. Jung tidak merasa kalah.

“Kau sudah membayar dari apa yang kau langgar, dengan dirimu sendiri. Dan, kau yang dibutakan, telah kehilangan cahaya dari matamu sendiri. Kau juga telah membayarnya,” kata seseorang. “Kalian telah melihat mereka sudah membayar apa yang mereka langgar. Tidak ada lagi  urusan kalian di sini, sekarang kalian harus pergi. Tidak ada lagi hutang yang mesti dilunasi sekarang,” lanjutnya dan kumpulan kemarahan itu pergi dengan sendirinya.

“Terima kasih,” kata Marai, meski ia sudah kehilangan kedua pandangannya, tapi tidak telinganya.

“Tidak perlu. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi aku tidak dapat menghentikannya. Maafkan aku, Jung,” jawab seseorang yang ternyata adalah Phak.

“Kau sudah melakukan yang seharusnya, terima kasih, Phak,” kata Jung pelan dan setelah itu Jung pergi untuk selamanya.

*** ***

“Sekarang aku sudah menjadi orang yang didiamkan dalam kamarnya sendiri yang sempit. Biar cahaya itu meluaskannya, aku tidak mampu memandangya selain merasakan sesuatu membakar. Sayang, diri ini tidak ikut lumat dan menguap,” ucap Marai di depan jendela kamarnya.

Beberapa hari setelah itu, Nang Anai menemukan Marai tergantung kaku. Nang Anai merelakannya, itu sudah menjadi keputusan Marai sendiri, ia pergi melepaskan apa yang terasa berat di pundaknya, mencari cahaya lain, mencari apa yang telah membuatnya merasa dihargai, ia berkorban untuk kembali, untuk bersatu dengan apa yang telah dikorbankan Jung untuk dirinya. Konon, setelah Marai dikuburkan, ada yang melihat sosoknya berjalan dengan gembira dengan seseorang yang dicintainya, pada setiap purnama menggantungkan dirinya pada langit malam yang sunyi dan dingin hingga bulan berikutnya kembali muncul.

 

Tamat

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

ANTARA TABRAK LARI DAN CINTA

Ditulis oleh permanas di/pada 30 Juli 2009

Awalnya saya tertawa sendiri sampai terkekeh-kekeh waktu menulis judul seperti itu, seperti sesuatu yang abstrak dan tidak mungkin. Bagaimana pikiran saya mengaitkan peristiwa tabrak lari yang notabenenya adalah suatu peristiwa tidak bertanggung jawab dan sikap tidak peduli, serampangan, sembarangan dan memuakkan, dengan perasaan agung dari sebuah rasa tertinggi manusia yaitu cinta.

Saya sendiri juga tidak habis pikir, ternyata, semua pikiran dan perasaan antara peristiwa tabrak lari dengan cinta tidak jauh berbeda kronologisnya dalam setiap kejadian tersebut. Saya menilik kepada perasaan cinta yang begitu universal dengan peristiwa tabrak lari yang tidak humanis, tidak berperikemanusiaan, tarik-menarik itulah coba saya renungkan dan mengimajinasikannya sebagai daya gravitasi kuat antara objek benda dengan bumi. Bayangkan saja, ketika si pelaku meninggalkan korban yang tak berdaya di tengan jalan, ruang-ruang kosong antara korban dan lingkungan sekitar berubah menjadi penuh dengan rasa empati yang tinggi, rasa cinta terhadap sesama membuat si korban dapat segera mendapat perhatian dan pertolongan, meski fokus pikiran sebagian tertuju kepada si pelaku, tapi lebih besar daya tarik cinta terhadap sesama itu lebih kuat dan mengantarkan si korban dengan kelembutan untuk mengurangi penderitaan dan kesakitannya sebagai korban tabrak lari.

Saya telusuri sedikit menjauh dari tempat kejadian tersebut, dan mencuri secuil rasa cinta dari sana untuk saya pahami. Mencoba mencerna kronologinya, dan mencocokkan peristiwa demi peristiwa. Jadi, saya rasa, apa yang saya lakukan itu seakan saya adalah seorang detektif yang mengendus hidung si pelaku sampai titik terjenuh saya sebagai si pencari fakta. Karena biasanya, pelaku tabrak lari hampir tidak pernah tertangkap sama sekali, hanya karma yang mampu menghukumnya barangkali menurut hemat saya. Jadi saya ibaratkan, cinta itu juga adalah sebuah kendaraan yang mampu melesat dengan cepat, dan orang yang memiliki cinta adalah si pemilik kendaraan yang mengendarai kendaraannya sesuai dengan keinginannya seberapa cepat, aman, bijaksana, lambat, atau tidak pernah menggunakan kendaraannya sama sekali itu tergantung si pemilik kendaraan itu sebagai empunya. Jadi, cinta itu bisa dibawa aman kalau orang yang merasakan perasaan itu bertanggungjawab dan memegang teguh apa yang diyakininya sebagai apa yang benar bagi dirinya. Ada yang menggunakannya serobot sana serobot sini, saling silang menyalib perasaan orang dan bertindak sebagai avonturir, meski ada juga yang tidak ingin mengendarai kendaraannya meski ia memilikinya, mungkin karena trauma jatuh bangunnya ketika mengendarai kendaraan cinta tersebut. Rasanya memang lebih sakit dari pada jatuh dari kendaraan sesungguhnya. Saya tidak berusaha untuk sok tahu, tapi saya bisa berempati juga kan.

Dan saya sangat kaget ketika saya juga menemukan fakta bahwa cinta pun bisa melakukan tabrak lari. Berapa anak yang lahir tanpa dampingan ayah mereka dan tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu mereka, bahkan kedua orang tua mereka dan keluarga mereka dari pihak ibu bapak mereka. kendaraan yang dipacu membabi buta tanpa memperhatikan sekeliling dan mekanisme yang bisa membuatnya melesat cepat bisa mencelakakan diri sendiri dan juga orang lain. Begitu juga dengan cinta.

Dan, akhirnya, mata saya tertuju kepada kendaraan tua milik saya yang setia menemani saya selama sekian tahun dan mengantar saya ke sana ke mari. Saya memandangnya dengan kasih sayang yang bertambah ketika saya sadar betapa saya menggunakan kendaraan saya dengan bijaksana mengawasi kecepatannya dan menghargai orang-orang yang juga menggunakan jalan bersama-sama dengan saya. Menyalakan mesinnya dan berkendara dengan penuh perhitungan. Sambil merenung saya berpikir, apakah saya juga menggunakan perasaan cinta saya dengan bijaksana dan penuih perhitungan seperti saya mengendarai kendaraan saya saat ini atau tidak. Hahaha…. saya tidak bisa menjawabnya.

Tiba-tiba saja…..

“BRUUKKK!!!!” Ya Tuhan, saya baru saja menabrak seseorang dengan kendaraan yang sedang saya kendarai karena memikirkan kaitan tabrak lari dengan perasaan cinta sambil berkendara. Saya belum memilih, apakah saya lari atau tidak.***

Ditulis dalam TULISAN LEPAS | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Cuma Senja di Pantai

Ditulis oleh permanas di/pada 20 Februari 2009

“Kamu bilang Pak Har itu orangnya galak dan cuek ya, Din?” tanya Tiar ketika mereka asyik berjalan di lorong sekolah mereka.

“Aku cuma bilang kalau Pak Har itu orangnya tidak bisa diajak bicara.”

“Aku rasa, dia orangnya enak. Di kelas juga bisa mengajak teman-teman enjoy dengan mata pelajarannya.”

“Tetap saja aku pada pendirianku. Aku benci dia.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Tapi aku tidak peduli kalau dia itu guru kita atau bukan, tiba-tiba saja aku benci kepadanya,” jawab Dina dan mereka pun telah sampai di depan kelas mereka.

Seperti biasa, pada pukul tujuh lewat lima belas menit bel tanda pejaran dimulai berbunyi, beberapa siswa yang masih di luar segera saja masuk ke kelas masing-masing. Lilian, Hengky, Danu, Ria dan Neni datang belakangan setelah Pak Har tiba lebih dulu dari mereka.

“Kenapa kalian terlambat?” tanya Pak Har tenang dan berwibawa, tapi tetap dengan senyum yang bersahaja.

“Macet, Pak. Jadi lama deh di mobil,” jawab Lilian cepat dan sedikit manja.

“Iya, Pak,” serempak mereka membenarkan jawaban Lilian.

“Soalnya, tadi di jalan ada kecelakaan, Pak. Itu juga yang membuat kami jadi terlambat,” jelas Hengky yang sedikit kurus dan jerawat memenuhi wajahnya.

“Begitu?” tanya Pak Har kembali.

“Ya, begitulah, Pak. Jadi, sekarang kami boleh duduk nih, Pak?” tanya Hengky lagi.

“Baiklah. Kalian boleh duduk. Tapi ingat, jangan terulang lagi.”

“Itu pun kalau besok tidak ada yang tabrakan lagi, Pak,” sambung Ria.

“Huuuuuu….!” teriak yang lainnya sampai ruangan kelas mereka menjadi ramai.

***

Dear diary, tulis Dina, sekarang hujan turun, aku rasa gerimisnya mungkin sama dengan perasaanku kepada Pak Har. Aku memang benci kepadanya, setidaknya itu kukatakan kepada teman-teman. Aku berbohong. Haaaaah, semakin dalam aku menarik nafas semakin aku merasa bersalah kepada Pak Har. Waktu sebelum aku mengatakan kalau aku suka kepadanya. Aku malu, itulah kejujuranku. Ya, aku mengatakan kalau aku suka kepada Pak Har. Sebelum aku mengatakan aku suka kepadanya, sikapnya selalu baik dan ramah, ia bisa menjadi tempatku untuk bicara dan mungkin mencoba untuk tersenyum kalau hatiku sedang tidak enak. Di rumah, selain kamar dan kau, diary, tidak ada yang dapat bicara kepadaku. Dinding itu pengap, warna-warnanya hampa dan lantainya tak dapat digunakan untuk menari. Karena itu aku hanya merebahkan diriku sendiri dan bicara dengan kau. Entah aku tersenyum atau menangis karena aku…. Kesepiankah aku? Ah, Pak Har, baginya aku hanya remaja yang menjadi muridnya, tidak lebih dan aku tidak bisa mengharapkan lebih dari yang bisa diberikannya kepadaku dan kepada murid-muridnya yang lain. Diary, here is my own self.

Dina lalu menutup buku itu dan menaruhnya di bawah kasurnya, merebahkan diri kembali menatap pagu kamar. Tidak ada yang dapat ditemukan di sana.

“Kesepiankah aku, Cermin?” tanyanya sedikit memelas, “Aku tidak terlalu buruk, biar tidak cantik. Semua orang senang padaku, aku juga menyenangi mereka. Tapi, Pak Har itu, kalau sehari saja aku tidak bicara dengannya, aku akan menjadi kesepian. Ah, terlalu kekanak-kanakan,” lanjut Dina lagi dan kemudian menghempaskan cermin itu jauh dari dirinya.

Lampu kamar dimatikan dan tubuh Dina hanya terdampar pada pembaringan, mencoba bermimpi. Atau membuat mimpi itu dicoba menjadi seperti kenyataan. Ah, betapa bodohnya, mimpi seperti apa yang bisa dibuat layaknya kenyataan. Biar nyata, itu subyektif. Tapi, Dina tetap bermimpi. Dalam samar gelap kamarnya, bibir yang sedang tersenyum itu tidak dibuat-buat. Sekarang Dina sedang membuat mimpinya sendiri, rasanya bukan mimpi buruk

***

“Iya, tapi kenapa harus Pak Har sih, Din?” tanya Tiar heran ketika Dina memberitahu kalau dirinya suka kepada Pak Har dan ia telah mengatakannya kepada Pak Har. “Din, dia itukan guru kita,” lanjut Tiar.

“Iya, aku tahu,”jawab Dina sambil ceberut dan kesal.

“Tapi kenapa harus Pak Har sih, memangnya cowok-cowok di sekolah ini tidak ada yang kamu sukai?”

“Itulah masalahnya, aku rasa ada beberapa cowok yang suka terhadapku. Tapi aku lebih suka kepada Pak Har, Tiar.”

“Lantas?”

“Ternyata perasaan Pak Har tidak sama dengan apa yang kurasakan, ia menganggap aku sama dengan murid-murid lainnya. Perhatiannya tidak lebih sebagai guru, pembimbing dan orang tua, atau sebagai apalah. Aku tidak peduli. Karena itu sekarang aku jadi membencinya, Tiar.”

“Oooo, jadi itu penyebabnya, aku mengerti sekarang. Berarti kamu yang salah tanggap dan salah mengenai Pak Har, Din. Tapi, tidak ada yang salah, semua memang terjadi begitu saja, tapi….”

“Apa seharusnya aku minta maaf akan tindakan itu?”

“Aku rasa tidak perlu, bukan berarti pula Pak Har tidak memaafkan. Tanpa diminta pun ia akan tetap memafkan.”

“Kenapa?”

“Aduh, Dina, karena ia guru kita, orang tua kita, pembimbing kita.”

“tapi aku akan tetap minta maaf, tapi aku juga tetap benci kepadanya.”

“Haaaah, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Din. Cinta dan benci, aku rasa itu hampir tidak ada bedanya. Sudahlah, aku ingin ke kelas sekarang,” kata Tiar dan meninggalkan Dina duduk sendiri di bangku kantin yang juga mulai sepi

***

Pukul dua sore Dina baru pulang dari sekolah, namun, ketika sampai di dalam, ia merasakan kembali apa yang dirasakan olehnya setiap saat di rumah itu. Ia hanya menuju kamar yang baginya sendiri lebih sempit dari ruangan penjara di mana pun di dunia. Sesak sekali perasaannya. Dina melihat ke luar, awan-awan yang sejak tadi mengikuti langkahnya dan berat karena apa yang dikandungnya. Sekarang awan itu memuntahkan apa yang dikandungnya, hujan turun dengan deras, baginya awan itu lebih beruntung dapat menumpahkan segala isi hatinya kapan dan di mana pun, sekehendak hatinya ia berteriak dan kilat menjelmakannya.

Setelah hujan turun, Dina keluar dari rumah dengan wajah yang tampak lebih murung dari biasanya, tidak tahu apakah hujan itu sama dengan perasaannya, sama ketika hujan saat ia tuliskan pada garis-garis buku di diarynya. Nyatanya ia hanya mengikuti kehendak langkahnya dan membiarkan berjalan sendiri tanpa ia akan tahu akan berhenti di mana. Satu-satunya yang ia tahu, ketika sampai di rumah tadi, mendapati ruang-ruang begitu kosong, lengang, hari ini seharusnya menjadi hari ceria dan menyenangkan, tawa dan senyum seharusnya juga melukis pada wajah Dina yang sekarang tampak murung.

“Seperti hari-hari biasa, cuma aku dan bayanganku sendiri, biar dunia ini penuh sesak, memang itu yang dapat kulalui sekarang,” kata Dina pelan. Ia mencoba menghibur hatinya saja sambil terus melangkah keluar meninggalkan rumah besar bercat putih di belakangnya, dan merasa tak perlu ia harus menoleh ke belakang.

“Taksi!” cegat Dina di pinggir jalan. “Pantai, Pak,” kata Dina pelan dan taksi itu pun melaju mengikuti suara yang membisikinya tanpa pernah berkata-kata lagi.

Dalam taksi itu Dina kembali diam memandangi kelebatan-kelebatan yang lewat dari celah jendela, atau ia menatap kilatan-kilatan pikirannya sendiri yang mengawang semakin jauh meninggalkan dirinya. Sekarang pun ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh dirinya sendiri. Dina hanya merasa lengang dalam hatinya.

“Sudah sampai, Non,” kata supir taksi. Dina sedikit kaget dan menghentakkan kepalannya pelan, mengumpulkan kesadaran dirinya. Membayar ongkos taksi dan ketika keluar segera udara lembab menerpa Dina. Laut itu masih sangat mendung cakrawalanya, tapi sedikit bulatan matahari mencoba merobeknya sampai saat senja di kaki langit.

Ia kembali berjalan menyusuri pinggiran pantai, meski pada saat itu pantai terlalu sepi. Dina tidak peduli. Ombak sedikit bergulung di pantai dan mengejar kaki Dina, ia tidak mengelak, membiarkan gelombang itu melumat kaki dan sepatunya hingga basah. Riak gelombang itu seperti tampak gembira ketika menyentuh kaki Dina, maka kembali ia menawarkan senyumnya untuk dibalas.

***

“Senja yang indah ini tidak baik jika dinikmati seorang diri,” kata seseorang tiba-tiba ketika Dina duduk pada bangku taman yang menghadap ke pantai dan laut sedang menunggu senja lelap dalam panggkuan cakrawala. “Boleh saya duduk?” tanyanya lagi.

“Silahkan,” kata Dina datar dan tidak menghiraukan.

“Senja hampir hilang, langit mendung dan sekarang tampaknya saya juga duduk di sebelah dewi yang sedang murung. Tapi, eh, apa benar nama kamu Dewi?” tanyanya lagi. Kata-katanya yang terakhir ternyata bisa membuat Dina sedikit tersenyum, biar berusaha ditutupi, tapi lesung pipinya tidak dapat menyembunyikan senyuman itu.

“Bukan,” akhirnya dijawab pula oleh Dina.

“Kalau begitu, siapakah tuan puteri sesungguhnya, sementara hamba yang bernama Jaka yang hina dina ini memberanikan diri untuk bertanya.”

“Namaku Dina dan aku bukan tuan puteri yang sedang kau cari, pengelana yang bernama Jaka.”

“Setidaknya aku bisa membuatmu tersenyum, bukan?”

“Gombal.”

“Tetap saja kau tersenyum. Eh, dengar, apa bangku ini ada yang menunggu selain aku?”

“Kenapa?”

“Soalnya, kalau tidak ada yang menunggu berarti beruntung pulalah. Dan tidak enak melihat senja tenggelam seorang diri. Tidak dapat berbagi cerita.”

“Memang apa yang dapat kau ceritakan?”

“Memang kau mau mendengar cerita apa?”

“Bisanya hanya mengganggu.”

“Aku tidak sedang mengganggu siapa-siapa. Aku hanya sedang menunggu seseorang. Setidaknya aku ikuti kata mimpiku, biar mereka bilang aku bodoh.”

“Siapa yang bilang kau bodoh?”

“Ah, kau tak perlu tahu.”

“Siapa yang kau tunggu?”

“Seseorang, tepat seperti sekarang. Eh, tunggu dulu, jangan-jangan…, jangan-jangan aku sudah bertemu.”

“Apa yang kau temui?”

“kamu. Kau sendiri?”

“Aku juga sudah menemukannya sejak tadi.”

“Waaaaaaahhh?!”

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

could you?

Ditulis oleh permanas di/pada 30 Januari 2009

when Cupid see

one men and one women

he know what he want to do

he want make miracle

to put

two heart

to become one

like roses

with shadow

never separated

could you to beloved

could you?

cause

i do

tangerang/des’08/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

in her silence

Ditulis oleh permanas di/pada 11 November 2008

dream

came

in to my sleep.

near

after

the long night,

a smiling face;

looking at me.

in her silence;

a man can lost his mind.

permanas/tangerang/oktober 08

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Hujan dan Aku

Ditulis oleh permanas di/pada 4 November 2008

Aku rasa semua orang setuju kalau hujan adalah berkah yang tak ternilai harganya, dan pemberian Tuhan yang paling mahal, jika tidak sekarang, mungkin nanti para manusia yang tinggal di bumi akan mengakuinya bahwa hujan, terlebih, air, adalah sebuah harta yang melebihi harga sebatang emas. Dan begitulah aku menyambut awan kelabu itu berduyun-duyun memenuhi langit tepat di atas kepalaku, menatap ke atas dan alam memberinya nyawa, energi listrik saling berlompatan. Ketika semua orang masuk saat melihat kilat menyambar-nyambar dan menciumi tanah, aku hanya tertegun, tanpa sadar malah tersenyum aku rasa. Dan sejumput lentik air mulai menjamah diriku perlahan-lahan, kemudian berubah menjadi butiran sebesar jagung. Alirannya begitu kuat menderas, meluncur, menabraki wajahku, menghujamku, tapi aku menganggapnya sebagai sebuah belaian, sebuah ungkapan, sebuah pemberian makna kalau ia -hujan- telah aku hargai sebegitu tingginya karena ia utusan langit dan perantara bumi. Tidakkah kau lihat, bumi dan langit seakan menyatu ketika hujan menghampiri tanah di tempat kita berpijak. Maka, segera aku mendongak dan memanjatkan doa serta puji-pujian kepada Tuhanku.

Lalu lantunan musikal doa-doa pun mulai berebutan keluar dari mulutku hingga lidah tak mampu lagi melafalkan setiap untaian kata-kata karena sebegitu hebatnya doa-doa itu mengumpul dalam rongga mulut karena kekerdilan diriku yang tidak bisa menampung terlalu banyak doa yang menyentak seperti halilintar menyambar-nyambar dalam sepersekian detik. Aku luluh, menangis, menyesal, karena ucapan doa yang tidak selesai. Namun, hujan tetap membelaiku, merasuk malah, menungguku, membisik melalui suara gemericik yang samar dan membentuk wajah dari mosaik bermiliar tetesan air yang berlomba menciumi tanah.

“Jangan sedih, doa-doa itu telah tersurat.” Aku mendongak waktu kesamaran berubah menjadi sebuah kejelasan. Seperti orang gila aku bangkit dan berlari-lari, aku kira seperti yang sering aku lakukan semasa kecil ketika bermandi-mandi hujan, basah-basahan dan berlarian tanpa arah mengelilingi lapangan luas, aku menganggapnya sebuah euforia singkat, sebuah kesenangan, sebuah ekstasi berlebihan. Aku kembali seperti anak-anak ketika hujan adalah berarti sebuah kesenangan. Dan, yah, aku kegirangan! Pada saat yang sama, seluruh orang di kampungku mengangap kalau aku sudah gila.

+++ +++

Aku melihat ketelanjanganku sendiri adalah sebagai sebuah anugrah yang tidak terbantahkan ketika semua orang menutup-nutupi kemaluan mereka sendiri dan menganggapnya adalah tabu kalau menghargai ketelanjangan sebagai sebuah kegembiraan yang patut dirayakan. Maka, sekali lagi mereka menganggapku sinting, kali ini mereka menertawakanku, sampai anak cucu mereka pun ikut-ikutan tanpa tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Aku terpojok, mereka mengepung. Aku lari, mereka mengarak! Aku diam, mereka ikut bisu. Menunggu aku membuat kelakuan baru yang bisa saja membikin mereka tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ketelanjanganku adalah sebuah eforia kampung. Setiap pagi mereka menunggu ketelanjanganku, ketimbang mereka menunggu matahari pagi, diriku lebih mereka tunggu.

Akhirnya, aku pun terlibat dengan perasaan girang yang tak kepalangan karena pasti mereka menunggu diriku lewat di depan pintu-pintu rumah. Dengan santai, senyumku mulai merekah, ketelanjanganku mulai aku lupakan dan beralih kepada bibirku yang pecah dan hitam untuk kupersembahkan kepada penunggu setiaku yang setiap pagi pasti akan berbaris pada halaman rumah mereka. Yah, mereka menunggu. Aku pun berlalu.

Wajah-wajah sahaja itu mengiang, mengambang dan lalu terbang melintasi awan-awan kelabu di antara kegembiaraan yang kuciptakan sendiri, sebenarnya hanya aku yang menganggapnya seperti itu, tapi biar saja, setidaknya mereka senang dengan apa yang kulakukan meski kejujuranku sendiri menjadi taruhannya. Dan aku sedih ketika kejujuran dan ketelanjanganku tidak dihargai. Mereka menertawakannya, dan aku menganggapnya itu adalah sebuah kejujuran, dan bagiku, mereka juga telanjang. Mereka menelanjangi diri mereka sendiri .

Dan, sekali lagi hujan menaungi ketelanjanganku sebagai manusia seutuhnya dan sebagai manusia yang di-manusiawi-kan alam. Ketika aku lari dalam badai, hujan merestuiku.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Rumah ini kubangun untukmu

Ditulis oleh permanas di/pada 22 Oktober 2008

Baik, baik, aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan menantang matahari untukmu, aku akan melawan kebisingan, membungkusnya dan akan kuhadiahkan untukmu kelak, hadiah yang kubungkus dari dunia yang terbengkalai. Tidak, bukan untuk menghinamu, tapi untuk memberitahu, masih ada yang harus diperhatikan selain nyamuk-nyamuk pada telingamu ketika lelap.

Sekarang aku jauh dari tempatmu berada, aku temukan tempat baru melebihi bukit-bukit di belakang pekarangan rumahmu. Tempat sederhana tapi kekayaannya bukan hanya sekedar bukit yang kau simpan dalam ingatan dan pada punggung rumahmu. Tempatku tidak indah, keindahannya akan terpancar kalau kau menghargai betapa tempat ini akan memberi kehangatan yang tidak dibuat-buat, bukan seperti perapian di ruang tengah dimana biasa kau bermanja-manja dengan kaki terselubung kaus kaki sambil membaca berita tentang orang-orang saling mengejar dan memukul. Miris aku melihatnya.

Sebentar lagi akan ada rumah berdiri di sini, aku bicara dengan pohon-pohon dan mata angin kemana sebaiknya rumahku dihadapkan, ke arah matahari terbitkah, atau ke arah matahari tenggelamkah, atau menyimpang dari keduanya. Aku ingin rumahku tidak memiliki atap, karena aku ingin tidur sambil memandang langit ketika malam. Membincangkan bintang yang saling memamerkan lentik cahaya mereka masing-masing dan bulan selalu saja menjadi penengah di antara mereka. Yah, aku bangun rumah itu dengan membuat bata dari rasa perih ketika harus meninggalkan rumahmu, dan jejak dibelakangnya aku kumpulkan untuk menjadi tiang penyangga. Rindu akan menjadi pintu-pintu di setiap kamar, karena begitu melintasinya, aku seakan berada di rumah kita. Maksudku, rumahmu sekarang.

Aku pergi karena tidak ingin ada kemarahan-kemarahan menjelma di antara kita dan di antara orang-orang yang kita kasihi. Aku tidak kalah, hanya mengalah. Bukan menghindari konflik, tapi bukankah melenyapkan pertempuran memakan sedikit korban daripada mengibarkan bendera perang dan bertempur untuk mempertahankan kebebasan masing-masing. Itu akan membuat banyak orang dan hati terluka. Tapi kita bukan korban. Aku bukan korban.

Maka, seperti para pelukis, aku akan menuangkan kata-kata sebagai cat di atas palet, dan kertas polos itu serupa kanvas, aku akan terbiasa melukis wajah dan senyummu melalui kata-kata. Di rumah yang kubangun, ada ruang khusus di mana semua kata-kata menjadi lukisan dirimu, bayangan yang akan terus ada, bila aku tidak ada, semoga ada orang lain menjaganya. Ruangan itu bercat warna merah dan berlantai kayu. Aku membuatnya sehangat mungkin. Meski hanya lukisan, aku tidak ingin citra itu kedinginan ketika aku tinggalkan sendiri.

Sebenarnya aku tidak ingin apa-apa lagi, tapi seandainya diijinkan, aku ingin kau sekali lagi menjadi tamuku dan makan malam di beranda belakang rumah ini, tempatku. Maka kau akan lihat kelopak-kelopak bunga yang kurawat akan menyambutmu dengan keindahan mereka. Setidaknya mereka  menyambutmu, meski kau sudah berusia enam puluh tahun ketika datang ke rumah ini dan menjadi tamuku. Akan kupastikan mereka tetap menyambutmu. Tapi aku tidak berharap banyak.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

jika kau lakukan…

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Oktober 2008

cintaku bukan cinta dalam sastra
cintaku bukan cinta dalam lagu
cintaku terlalu sunyi untuk diungkap
tak bisa dibagi-bagi

cintaku adalah cinta itu sendiri
cintaku tak mengundang juga tak diundang
senyap adalah tempat tersendiri untuk cintaku
tapi, yah, begitulah cintaku terbangun

aku menikmati cintaku sendiri
ia tak bisa kau curi
ia tak bisa kau rampas
ia tak bisa kau bunuh

jika kau lakukan
aku yang akan mengejarmu lebih dahulu.

permanas/230908/pernah aku tulis juga untuk yahoo answer/sekarang buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Dik

Ditulis oleh permanas di/pada 16 Oktober 2008

Dik,

Kesendirian ini mengingatkanku pada

Rumah yang lama kita tinggalkan.

Dendam yang harus segera dituntaskan,

Aku ingin membunuh kerinduan itu

Tapi tidak bisa.

Dik,

Di belakangku

Sejarah terserak begitu saja.

Photo-photo usang

Yang menggantung di bilik rumah kita

Siapa yang merawatnya sekarang?

Ah, semakin lama

Semakin ingin kutumpas saja

Semua rasa yang mengganggu

Tidurku ini.

Lain hari,

Aku bergelut sampai pingsan.

Luka-luka laki-laki yang kesepian

Dibalut kain yang basah air mata.

Hanya kekosongan menonton.

Selebihnya,

Cuma perahu-perahu tanpa penumpang.

Dan aku menunggu,

Dermaga dengan perahu yang tak kunjung pergi.***kampungmelayu/permanas/141008/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

peziarah

Ditulis oleh permanas di/pada 9 Oktober 2008

aku ini hanyalah seorang peziarah

yang tersesat

ke taman jingga

milik orang lain

lebah-lebah itu pun

saling berebut hinggap

pada rekah kelopak.

aku ini hanyalah seorang penyaksi

kau tersenyum

dan mereka tunduk

kau harus bangga

aku ini hanyalah seorang penyaksi;

kubilang padamu.***kampung melayu/pedati/09.10.08/buat a.p.r

Ditulis dalam PUISI | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »