Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘dunia’

Aku Terjebak

Ditulis oleh permanas di/pada 3 Maret 2009

Aku terjebak, terjerumus dalam dunia hitam dan aku tak tahu mesti ke mana. Satu-satunya yang kutahu aku pergi ke tempat di mana aku bisa bebas terbang melayang seperti burung yang pergi ke mana pun dia suka. Biar orang mau bilang apa, biar otang mau melakukan apa, tidak peduli kalau dunia ini terus bergerak atau tidak, atau waktu semakin meruncingkan jarumnya dan menusuk manusia-manusia pemimpi dan penidur. Aku sendiri seorang pemimpi dan terjerat selimutnya sendiri. Aku semakin terlilit.

Malam menjadi jubah megah,menutup tubuh-tubuh kurus yang telah dicemar oleh dosa-dosanya sendiri dan menjadi tuhan kegelapan. Menyusuri lorong seperti tikus-tikus menyusuri comberan dan menggerogoti tong sampah untuk mengais makanan busuk. Merenda malam dengan tawa kesakitan lalu menghiasnya bersama kumpulan orang buangan dari dunia yang tak bahagia. Siapa mereka, siapa aku, semua sama sekarang dalam mangkuk kesialan.

Aku lari, aku bersembunyi dari kenyataan, seperti pengecut yang lari sebelum berkelahi. Api membara dalam jiwa ini padam, musnah dihembus ketakutannya sendiri. Sementara lampu-lampu membiaskan sinarannya di antara kebisingan malam. Aku menyingkir, menjauh, mencari kesunyian dan merangkuli sambil mencumbunya. Keremangan cahaya kota itu menjadi pudar dan hanya tinggal keangkuhan di sana, lelap.

Setiap malam, orang buangan dari dunia yang tak bahagia itu, mereka selalu datang, bicara dari hati ke hati, tertawa lepas dan bebas meskipun gelap menghimpit dada mereka yang membuat sakit dan sesak. Di sini kumpulan manusia pemimpi dan penidur bersatu, melayangkan pikiran dan melupakan semua menjadi ganjalan hati dan rintangan kebebasan. Di sini semua lepas, tak ada ikatan.

Bercerita tentang dunia penuh keramahan dan senyuman, bukan perang dan saling curiga dari dunia yang mereka huni sekarang adalah dunia yang tak bahagia, selalu membayangkan dunia penuh kebahagiaan, entah itu terletak di bumi sebelah mana.

Aku lihat dalam mata mereka,masih ada harapan bersemayam di sana dan hati yang meluap-luap untuk mencari sesuatu yang hilang, bagian dari diri mereka masing-masing yang belum mereka rasakan dan mereka temukan. Rindu ini tersimpan begitu lama hampir tak pernah dibuka untuk diingat-ingat tentang apa yang mereka rindukan. Aku rindu diriku yang dulu dan mereka rindukan diri mereka masing-masing dan memang ada sesuatu yang hilang, yang dirindukan di sini.

Hanya dalam kegelapan aku dapat menjadi sesuatu, hanya dalam gelap semua terasa begitu terang, indah, gemerlap, bukankah karena gelap cahaya begitu dirindukan dan diinginkan meskipun kegelapan tidak pernah dianggap sebagai sebagai ibu dari cahaya. Dan penerang dari bumi yang lama tertutup selimut hitamnya.

Aku bebas sekarang dari lubang yang membuatku terjerumus dan terjebak, aku benar-benar seperti apa yang aku inginkan sekarang. Hampir seperti burung itu, terbang lintasi dunianya sendiri dan merentangkan sayapnya lebar-lebar. Ini bukan lagi kesunyian dan tidak lagi jeritan yang membelah buaian malam. Ini sebuah kemenangan bukan sebuah retorika atau kata-kata kosong belaka. Bumi ini tetap bergerak dan jarum waktu tetap berputar. Yang terjadi bukanlah sebuah kesia-siaan.

Bangun, kawan, lekas kita pergi dari sini dan mengarungi kehidupan kita masing-masing. Bukan pemimpi kita sekarang, bukan penidur kita sekarang. Tetap, bagian dari sejarah waktu kita sekarang. Bukan lagi saatnya kita terlelap, ini bukan sebuah akhir tapi awal dari kebangkitan kita untuk membangun kehidupan. Ayo lekas, jangan terlelap ketika orang-orang menjaga hari-hari mereka. Aku katakan ini kepadamu.

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Rasa sebuah ’rasa’

Ditulis oleh permanas di/pada 19 Februari 2009

Setajam apakah perasaan yang kita miliki selama ini, apakah itu mampu membuatmu merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati, pada saat tertentu memang mampu menggugah dan kemungkinan besar merubah paradigma kita tentang kehidupan, bahkan tentang diri kita sendiri. Dan antipati membuat dinding dari batu bata keangkuhan dan kesombongan secara terus menerus. Bagaimana kita merasakan rasa sebuah ’rasa’? Saya kira lidah-lidah nalar kita membiarkan kita belajar menemukan atau merasakan sendiri, tanpa ada satu panduan apapun di tangan!

Bagaimana rasa itu bisa menjelma dalam cecapan kehidupan kita, melalui pengalaman seseorang diajar menempa dirinya, membentuk dirinya. Rasa pahit dan getir yang diajar kehidupan mampu membuat seseorang bisa lebih memaknai diri yang mewujud dalam sikap sabar dan tenang, bahkan lebih bijaksana dalam menanggapi situasi yang dihadapi. Rasa manis dan senang yang diberikan kehidupan juga mampu membuat siapa saja bahagia dengan apa yang diraihnya. Pun tak jarang kedua rasa tersebut, pahit atau manis dalam merasakan kehidupan, tetap bisa menimbulkan sisi negatifnya, tergantung seseorang itu mampu atau tidak mengendalikan perasaannya.

Rasa getir dalam menjalani kehidupan, bisa saja membuat kita menjadi gelap mata dengan mengambil jalam pintas yang serba instan, misal, karena tekanan kehidupan yang berat, terutama ekonomi, membuat seseorang terjerumus dalam dunia kejahatan dan menjadi pelaku dan fungsi kejahatan. Entah itu pencurian, penjarahan, perampokan, atau lebih dahsyat lagi, melakukan manipulasi dan korupsi! Pun tak jarang, rasa bahagia atau kesenangan hidup bila kita telah meraihnya tidak luput dari sikap gelap mata, superior, merasa dirinya adalah yang paling baik, sombong, congkak. Jadi, rasa sebuah ’rasa’ itu memang sangat individu sekali, ketika kita mencicipi sebuah makanan dari piring yang sama, bisa saja menimbulkan rasa berlainan dari masing-masing orang tergantung ketajaman dan keluasan pengalamannya dalam mengungkapkan sebuah ’rasa’ tersebut. Lha, bisa saja kan, baso yang berada pada tangan Anda ketika saya cicipi saya katakan, ”Baso ini kok rasanya manis sekali ya.” Lha, padahal baso yang ada di tangan Anda sesungguhnya berasa pedas dan gurih menurut pencecapan lidah Anda. Persepsi pribadi memang sangat membingungkan, apalagi bila berhadapan dengan persepsi publik. Lha, kadang-kadang saya sendiri bingung dengan persepsi ’rasa’ saya sendiri, apalagi kalau saya menanggapi persepsi Anda.

Mungkin dengan cara inilah sebuah tenggang rasa dimunculkan, ia hadir sebagai penengah dan peredam dari berbagai macam persepsi dari milyaran penduduk bumi yang kadang, saya rasa, ’rasa’ yang aneh menurut penalaran saya. Bagaimana persepsi Anda tentang dunia? Jutaan persepsi akan lahir dari jutaan orang yang Anda tanyai tentang dunia, bahkan mungkin, Anda pun akan mempertahankan persepsi Anda tentang dunia dibanding persepsi orang-orang yang Anda tanyai. Lha, pasti saya pun akan mempertahankan argumen saya tentang dunia, kalau Anda mempertanyakannya kepada saya, selama persepsi saya benar menurut saya tentang dunia yang anda tanyakan itu. Jadi, apapun persepsi sebuah ’rasa’, rasakan sendiri, pertentangkan sendiri, dan temukan jawaban dari pertentangan itu. Dan pasti persepsi itu akan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditentangkan kepadanya. Dan ’rasa’ apapun yang anda rasakan hanya persepsi anda sendiri yang akan memberitahu rasa tersebut. Selamat mencicipi.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Sinting

Ditulis oleh permanas di/pada 17 November 2008

Sinting. Entah kenapa orang selalu memanggilku dengan sebutan itu. Tapi, adakah kegilaan dalam diriku ini sedemikian rupa? Aku memang dibebaskan dan dimerdekakan sehingga apapun yang kulakukan –karena tidak biasa dan di luar kebiasaan- tetap dianggap tidak ada kewarasan di sana.

Dunia memang aneh, Kawan, meskipun kita menatapnya dengan wajar dan manusiawi. Bahkan di tempatku sendiri dimana setiap orang bebas melakukan apapun dan menganggap dirinya sebagai apapun tanpa terkecuali. Ini duniaku –tempat tinggalku memang di Rumah Sakit Jiwa- juga kawan-kawanku yang lainnya. Tapi bagiku ini adalah tempat dimana kegilaan menjadi kewarasan yang universal dan mendunia. Bukankah dunia ini dibangun atas dasar kegilaan yang dilandasi dengan kewarasan yang dimiliki oleh masing-masing orang?

”Dasar sinting! Orang gila! Biarkan saja. Jangan didekati!” begitulah keadaanku setiap hari. Yang aneh lagi, tidak sedikit orang yang lebih waras bertanya kepadaku tentang hal yang aneh-aneh pula. Bukankah kewarasannya lebih gila daripada kewarasanku yang sudah dianggap gila kata mereka yang menganggap dirinya sendiri adalah orang sangat waras.

Dunia ini memang sungguh unik dan menarik dengan segala hukum-hukumnya sendiri. Untung aku dimerdekakan oleh kesintinganku dan tidak menjadi budak waktu sementara mereka terus mengejar-ngejar waktu yang sama setiap hari, tapi tak pernah bosan dan lelah. Bahkan orang waraspun dapat berbuat lebih gila daripada diriku.

O… bumi , o… angkasa raya, o…. langit….keindahanmu seperti keindahan yang ada dalam keindahanku yang tak pernah diindahkan. Betapa kau mengerti aku dan kau menaungiku dengan sayap-sayapmu, terbentang lebar sampai delapan penjuru, dibiarkan aku olehmu sementara aku terlelap dalam pangkuan malammu. Menjagaku sampai aku kembali membuka kedua kelopak mata yang seperti kumpulan bunga dalam taman, membuka kelopaknya lebar-lebar menyambut sinaran embun padi dan fajar menghangatkan kembali pembaringan orang-orang yang terlelap. Tapi aku bebas, seperti sepasang kupu-kupu bermandikan embun dalam mangkuk mahkota bunga-bunga dan tak ada yang mengintipnya. Cuma aku dan diriku sendiri dan kegilaanku. Betapa aku terkagum-kagum hingga mengulanginya setiap hari, bila masih ada fajar kembali di sini. Namun aku tak pernah bosan dan kegilaanku ini beralasan untuk mengulanginya kembali.

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Rumah ini kubangun untukmu

Ditulis oleh permanas di/pada 22 Oktober 2008

Baik, baik, aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan menantang matahari untukmu, aku akan melawan kebisingan, membungkusnya dan akan kuhadiahkan untukmu kelak, hadiah yang kubungkus dari dunia yang terbengkalai. Tidak, bukan untuk menghinamu, tapi untuk memberitahu, masih ada yang harus diperhatikan selain nyamuk-nyamuk pada telingamu ketika lelap.

Sekarang aku jauh dari tempatmu berada, aku temukan tempat baru melebihi bukit-bukit di belakang pekarangan rumahmu. Tempat sederhana tapi kekayaannya bukan hanya sekedar bukit yang kau simpan dalam ingatan dan pada punggung rumahmu. Tempatku tidak indah, keindahannya akan terpancar kalau kau menghargai betapa tempat ini akan memberi kehangatan yang tidak dibuat-buat, bukan seperti perapian di ruang tengah dimana biasa kau bermanja-manja dengan kaki terselubung kaus kaki sambil membaca berita tentang orang-orang saling mengejar dan memukul. Miris aku melihatnya.

Sebentar lagi akan ada rumah berdiri di sini, aku bicara dengan pohon-pohon dan mata angin kemana sebaiknya rumahku dihadapkan, ke arah matahari terbitkah, atau ke arah matahari tenggelamkah, atau menyimpang dari keduanya. Aku ingin rumahku tidak memiliki atap, karena aku ingin tidur sambil memandang langit ketika malam. Membincangkan bintang yang saling memamerkan lentik cahaya mereka masing-masing dan bulan selalu saja menjadi penengah di antara mereka. Yah, aku bangun rumah itu dengan membuat bata dari rasa perih ketika harus meninggalkan rumahmu, dan jejak dibelakangnya aku kumpulkan untuk menjadi tiang penyangga. Rindu akan menjadi pintu-pintu di setiap kamar, karena begitu melintasinya, aku seakan berada di rumah kita. Maksudku, rumahmu sekarang.

Aku pergi karena tidak ingin ada kemarahan-kemarahan menjelma di antara kita dan di antara orang-orang yang kita kasihi. Aku tidak kalah, hanya mengalah. Bukan menghindari konflik, tapi bukankah melenyapkan pertempuran memakan sedikit korban daripada mengibarkan bendera perang dan bertempur untuk mempertahankan kebebasan masing-masing. Itu akan membuat banyak orang dan hati terluka. Tapi kita bukan korban. Aku bukan korban.

Maka, seperti para pelukis, aku akan menuangkan kata-kata sebagai cat di atas palet, dan kertas polos itu serupa kanvas, aku akan terbiasa melukis wajah dan senyummu melalui kata-kata. Di rumah yang kubangun, ada ruang khusus di mana semua kata-kata menjadi lukisan dirimu, bayangan yang akan terus ada, bila aku tidak ada, semoga ada orang lain menjaganya. Ruangan itu bercat warna merah dan berlantai kayu. Aku membuatnya sehangat mungkin. Meski hanya lukisan, aku tidak ingin citra itu kedinginan ketika aku tinggalkan sendiri.

Sebenarnya aku tidak ingin apa-apa lagi, tapi seandainya diijinkan, aku ingin kau sekali lagi menjadi tamuku dan makan malam di beranda belakang rumah ini, tempatku. Maka kau akan lihat kelopak-kelopak bunga yang kurawat akan menyambutmu dengan keindahan mereka. Setidaknya mereka  menyambutmu, meski kau sudah berusia enam puluh tahun ketika datang ke rumah ini dan menjadi tamuku. Akan kupastikan mereka tetap menyambutmu. Tapi aku tidak berharap banyak.

Ditulis dalam DARI HATI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Bagaimana rasanya jika aku mengajak seorang perempuan berdansa?

Ditulis oleh permanas di/pada 21 Oktober 2008

Aku ingin tahu bagaimana rasanya mengajak seorang perempuan yang tengah duduk seorang diri dan mengenakan gaun malam miliknya yang paling indah untuk dikenakan malam itu, malam di mana musim semi bernaung di bawahnya dengan angin sedikit mendesir, untuk berdansa Waltz. Atau hanya sekedar tarian biasa saja dengan iringan musik klasik dan nada yang sendu. Sebuah perasaan Platonis! Yaa, mungkin aku terinspirasi dengan sebuah film yang baru saja aku ingat, sebenarnya sudah lama sekali, kau tahu Al Pacino, bukan? The Scent of Women, aku lupa, kira-kira begitulah judulnya. Ia memerankan tokoh buta yang frustasi dan ingin menghabisi segera hidupnya, aku tidak tahu, apakah ia sudah tidak punya alasan lagi untuk meneruskan hidupnya atau tidak, aku lupa jalan ceritanya. Sayang sekali. Tapi yang tidak pernah aku lupa ketika ia mengajak dansa seorang perempuan di sebuah restoran apik. Kau tahu, aku membayangkan bagaimana seandainya aku menjadi Al Pacino di sana dan mengajak perempuan itu berdansa? Hah! Tokoh yang buta tapi bisa segera mengetahui parfum apa yang digunakan perempuan itu hanya dengan melalui udara, dan dengan tepat mendeskripsikan sifatnya hanya dengan melalui merk parfum yang digunakan perempuan itu. Bravo! Bravo!

Dan gaun itu pun melayang-layang diayun oleh dekapan yang kuat milik Al Pacino, aku lupa apa perempuan itu tahu kalau tokoh kita itu buta atau tidak ya. Ia hanya diberitahu oleh pemuda yang mengantarnya berjalan-jalan seberapa luas ruang dansa yang akan digunakannya nanti ketika berdansa dengan perempuan yang menebarkan aroma khas dan unik, buktinya cukup kuat untuk menarik Al Pacino mengajaknya berdansa. Sekejap saja senyum rekah mengembang dari bibir perempuan dalam dekapan Al Pacino, begitu juga sebaliknya, ia lupa kalau ia buta. Aku jadi bertanya kembali dengan diriku, bagaimana rasanya kalau aku yang mengajaknya berdansa? Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh selain tersandung atau menginjak kaki perempuan yang aku ajak dansa itu, hahaha, sementara pikiran itu kusingkirkan dan membiarkan anganku mengingat kembali keindahan ketika Al Pacino mengajak perempuan di restoran itu berdansa. Atau aku akan menggubah puisi untuk mengingat betapa indah ketika laki-laki dan perempuan melakukan sebuah tarian, atau sebuah ritual sakral, yang suci, yang tak terbantahkan, yang hakiki. Dan, betapa baiknya Tuhan menciptakan perempuan dari bagian diri seorang laki-laki, karena ia dibuat Tuhan untuk melengkapi kehidupan seorang laki-laki. Ah, betapa beruntungnya mereka.

Yah, mungkin suatu hari nanti, kelak. Saat aku tengah berjalan-jalan dan menemukan seorang perempuan yang mengenakan gaun terindahnya sedang duduk menunggu, mudah-mudahan sih ia tidak sedang menunggu kekasihnya, hahaha, maka aku ingin mendekat kepadanya dan segera aroma parfum menyeruak dari tubuhnya dan tanpa ragu aku semakin mendekat kepadanya dan lalu…, ia mendongak untuk melihat lebih jelas siapa yang menghampirinya, atau mengganggu ketenangannya, atau ia malah senang karena seseorang mungkin akan menemaninya malam ini, atau ia telah menemukan ’belahan jiwanya’ (hahaha… PD amat!) –yah, aku kan sedang bercerita, sah-sah saja dong- dan aku bilang dengan suara yang paling lembut yang pernah aku miliki dan… dan… dan…

”Would you like to dance with me? In the shining of the moonlight, would you?” kubilang. Aku pakai bahasa inggris bukan untuk menghianati bahasa ibuku, tapi karena hayalanku sekarang tengah berada di Venice, hehehe…. tapi, ia tetap menatapku, tidak tersenyum, atau merasa terganggu, atau tersinggung barangkali. Tapi ia tetap dingin sedingin kabut yang menghembus di antara kami waktu itu.

”Would you?” aku bilang sekali lagi. Hah, susah memang kalau kita menanggapi sesuatu yang tidak sesuai harapan. Ia malah bangun, sedikit meminum anggur merah terbaik yang pernah ada di dunia, sedikit lagi mereguk dengan perlahan, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, lalu tepat di atas kepalaku, anggur merah itu terjun bebas dari bibir gelas dan menerjang ubun-ubun kepalaku. Wah! kasetnya kusut neh, aku pikir dalam hati, atau penulis skenarionya lagi mabuk, atau sutradaranya benar-benar sudah sinting barangkali! Dan tiba-tiba saja!

”Permanas, banguuuuuun! Sudah siang! Cepat isi tempayan! Mak mau masak!” yah, suara cempreng milik ibuku lagi dan segera menandakan kalau liburanku di Venice telah berakhir, hehehe, back to nature, I guess. Hah, gak boleh orang ngimpi seneng aja nih nyak-nyak, bukannya ngasih kesempatan yang muda-muda merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja yang sedang puber, hehehe….

”Klontraaangg….grasakk…gabrukkk…!” aku rasa nyak marah-marah lagi nih, tempayannya belum juga penuh. Ya, sudahlah, sampai nanti lagi. Besok, itu tempayan akan aku ganti dengan kolam sepanjang sepuluh meter di dapur, biar puas minum air, hehehe… adios!

Ditulis dalam UNIK | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Somplak

Ditulis oleh permanas di/pada 14 Agustus 2008

Kalau mau dipikir-pikir, apa sih hidup itu, apa maunya, apa sih yang kita cari di sini, dunia ini. Lho, kan setiap orang punya kehendaknya masing-masing, masak ya mau dipaksakan begitu. Boleh saja kalau punya pikiran itu, kalau mau diperkarakan mestinya harus dipertanyakan kepada diri sendiri, apakah merugikan orang lain atau tidak, syukur-syukur imbasnya tidak kepada diri sendiri, pun yang ada di sekitar kita.masalahnya kan hanya berguna atau tidak berguna. Itu saja kok. Apa susahnya punya pikiran seperti itu.

“Jadi orang itu mesti kritis lho, Kar, supaya tidak gampang dikibuli, dibohongi. Setidaknya kita mampu mendeteksi gejala-gejalanya agar virus tidak menyebar kemana-mana, supaya sekitar kita tidak gampang lekas sakit,” kata Eyang Samijo. Rokok lintingannya masih mengepul-ngepul di sekitar bibir hitam dan diantara kulit wajah Eyang Samijo yang legam. Masih saja hayalan itu mengawang-awang ke sana, saying tetap akan berhenti di sana, tidak di tempat lain dan waktu yang juga lain. Butek, keruh, hitam, busuk, sama seperti air di pinggir kali. Apa iya seperti itu ya?

“Masak sih, Eyang? Kalau begitu, jangan-jangan malahan kepulan asap rokok lintingan Eyang yang meracuni semua udara di sini, pengap!” jawabku enteng. Ia sendiri yang memproklamirkan supaya berpikir demikian. Jadi ya mau tidak mau ia juga harus mampu menerima konsekuensi dari perkataannya itu. Habis mau apa lagi, membantah tidak bisa, nanti katanya melawan, berontak, kurang ajar, tidak tahu sopan santun, dan entah apalagi embel-embel yang nyangkut di belakang kata-kata itu. Jangan-jangan malah memang seperti itu kejadiannya. Bisa repot jadinya nanti. Waduh! Bisa kacau ini.

“Ya ndak mesti gitu juga, Karyo, masak aku harus sumpal mulutmu itu. Ya ndak bisa seperti demikian.”

“Oooo…, syukurlah kalau begitu, Eyang Samijo.”

“Lagipula aku juga tidak ingin kalau mulutku ikut-ikutan disumpal. Lha, nanti aku tidak bisa menghisap lintingan daun kaung ini, bagaimana hayo?”

“Ya, jangan mengganggu udara sekitar dong, Eyang. Kasihan kan cucumu ini, datang jauh-jauh cuma buat merusak paru-paru. Kalau untuk itu sih tidak usah datang kemari. Jakarta saja sudah lebih dari cukup.”

“Masak?” masih lintingan itu bermain di mulutnya.

“Tidak usah diragukan lagi, Eyang. Mulut Eyang itu lebih kalah daripada bibir knalpot bus yang sudah kayak kaleng krupuk itu tapi untungnya masih bisa ngangkut siapa pun yang rela berdesak-desakan untuk bisa mendapat tempat duduk yang murah. Asal sampai tujuan pun juga sudah untung. Ketimbang bayar mahal tapi simpanan dapur kependel sama itu ongkos. Wah, bisa-bisa isteri cucumu ini kebakaran jenggot, Eyang.”

“Lha, memangnya isterimu punya jenggot apa?”

“Ya, ndak mesti juga seperti itu, Eyang. Masak seperti tidak tahu pepatah saja. Memangnya unur lanjut itu digunakan untuk apa saja sampai kias semudah itu tidak bisa dimengerti.”

“Bukan karena usia sudah melar he, Karyo. Meski ada benarnya.”

“Nah, ngaku kan?”

“Juga bukan hanya itu saja masalahnya, Eyangmu ini kan sudah melewati masa-masa yang begitu panjang dan melelahkan. Jadi segala ingatan itu mesti diproses lebih dahulu, biar lambat tapi memang begitu untuk ukuran kepala yang katamu itu sudah tidak layak pakai yang justru untuk mengenang kembali semua ingatan-ingatan masa lampau itu di saat sekaranglah untuk diingat-ingat lagi. Tapi bukan sebagai seseorang yang kembali menjadi anak kecil, setidaknya kembali kepada kesadaran bahwa semua itu telah jauh terlewati.”

“Apa itu?”

“Ya, masa-masa yang telah lalu. Sekarang malah kau sendiri yang menanyakan dan jangan berpikiran kalau aku sudah pikun ya, tidak baik. Ingatanku ini masih baik-baik saja. Setidaknya begitulah menurutku.”

“Ya, terserah Eyang sajalah,” jawabku. Eyang Samijo hampir mengeluarkan seluruh bola matanya, apa ia ingin marah atau hanya ingin menegaskan lebih jaul lagi ya, sayangnya aku tidak mau ambil pusing. Karena sudah kepuru pusing, lebih baik berdamai dan tidak perlu perang mulut yang berkepanjangan yang malah nantinya bisa menjadi perang dingin, a lot dan memuakkan. Terlalu banyak urat leher tertarik yang malah nantinya bisa bertambah panjang urusan dan mengundang penyakit yang serba parah dan serba salah. Malah mungkin serba salah kaprah. Mengingat jaman sekarang banyak penyakit yang tidak tahu asal mulanya, bahkan dengan obat yang sama sekali sukar ditemukan. “Tapi Eyang jangan marah seperti itu, cucumu ini tidak secara sengaja mencoba untuk meledek atau sesuatu hal yang seperti itu, sama sekali tidak terlintas pikiran itu,” kataku. Sayangnya pikiran nakal dalam kepalaku juga tidak mau mengalah dan malah semakin menjadi-jadi hingga pada suatu saat kosong terlintas pikiran kalau eyangku ternyata terlalu kolot pikirannya, sudah ketinggalan jaman, tidak layak pakai, meski ia bersembunyi dengan dalih kalau pikirannya baik-baik saja, dan memang akan baik-baik saja sejauh menurut pengertiannya yang tidak pernah mau mengerti urusan jaman sekarang yang tahunya hanya urusan jaman dulu saja. Huh! Dasarnya saja memang kolot ya, akan tetap kolot meski bagaimana pun corak yang dipertontonkannya.

Justru sayangnya, ternyata di sinilah letak akal permasalahannya yang sudah menjadi musuh bebuyutan sejak dulu yang ternyata juga adalah tepat di depan mata dan belum tentu semua orang dapat melihatnya. Sayang Eyang masih juga tetap pada tempatnya berpijak, kalau saja ia mau sedikit melangkah maju barang sebentar dan melihat keluar, betapa dunia itu sekarang tidak seperti pada masanya ia melihat dalam bayangan ingatannya. Aku cuma, seandainya diperkenankan di hadapan eyangku dan juga seandainya ia juga tidak berkurang pendengarannya, ingin aku berteriak kalau “DUNIA SUDAH SANGAT JAUH BERUBAH, EYANG. JADI SADARLAH!” untung itu tidak kulakukan. Lha, memangnya aku cucu seperti apa berlaku seperti itu terhadap orang tua, meski kadang sikapnya bisa sangat menjengkelkan sekali.

“Jangan berteriak, aku masih sanggup mendengar, biar sudah berkurang pendengaranku tapi masih cukup peka untuk menangkap bisikan-bisikan itu. Hati-hati saja, telinga ini masih berfungsi, mataku masih awas, biar sedikit rabun tapi masih dapat melihat lubang jarum dalam matamu he, orang muda. Dasar anak jaman sekarang,” kata Eyang Samijo. Aduh sekali lagi ia membuat lintingan baru, pasti sebentar lagi lintingan kaung itu akan lumat di bibirnya.

“Bukannya ndak mau mengalah, Eyang, tapi kalau ada pikiran yang rasa-rasanya menyimpang daripada kebenaran apa salahnya kan kalau diluruskan. Biar itu butuh keberanian dan dapat saja dianggap berontak, untuk kebenaran apa salahnya sedikit mengalah begitu lho,” jawabku. Ah, benar saja, rokok kaung itu kembali menguap dan asapnya memenuhi seluruh ruangan. Sepertinya aku sesak nafas atau ruangan ini seperti kamar gas yang sengaja khusus disiapkan hanya untukku saja. Aduh, sial. Lagi-lagi aku tidak bisa menghirup udara segar.

“Kalau ndak suka, keluar saja. Toh, di sana ada banyak udara yang kau butuhkan,” Eyang Samijo menasehati.

“Seharusnya Eyang saja yang berhenti menghisap barang seperti itu, tidak baik, merusak paru-paru, lingkungan dan entah apa lagi yang dapat ditimbulkan olehnya.”

“Kalau aku berhenti akan ada banyak orang kehilangan pekerjaan mereka, kalau tidak ada orang seperti aku ini, rumah-rumah sakit dan toko-toko obat akan sepi pembeli. Kamu sendiri yang bilang kalau mencari pekerjaan di jaman sekarang benar-benar sulit, bahkan ada rumor segala yang mengatakan kalau tidak ada koneksi atau kerabat dekat tidak mendapat pekerjaan, benar ndak?”

“Waduh, kena pukulan balik aku, lihai juga Eyang Samijo,” pikirku dalam hati.

“Benar ndak he, Karyo?” tanya Eyang Samijo lagi melihatku hanya melamun saja memikirkan apa yang barusan dikatakan oleh Eyang Samijo. Ada benarnya juga tidak ada benarnya lamunku lagi. Tidak memandang Eyang, biar ia tetap serius memperhatikanku.

“Entahlah, Eyang, saya tidak bisa menjawabnya untuk sementara. Atau memang dunia ini sudah kacau, atau seperti ember somplak yang sudah tidak dapat lagi ditambal.”

“Hah, kalau begitu itu urusanmu sekarang untuk meneruskan dunia ini. Masaku tinggal hanya menunggu sambil menonton. Terakhir yang kuingat dan terus menerus menjadi mimpi yang juga akan menghantui sisa hidupku kalau aku akan berakhir hanya pada sebuah lubang dan di atasnya tertancap batu nisan yang bertuliskan ‘bukan siapa-siapa’, bereskan,” kata Eyang Samijo sambil tersenyum dan matanya berkaca-kaca.

“Mati aku!”***permanas 170105

Ditulis dalam CERPEN | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Men-jadi Relawan Dunia

Ditulis oleh permanas di/pada 13 Juni 2008

Kalau merujuk kepada kata ’Pemanasan Global’, hal utama yang terlintas dalam benak setiap orang adalah dampak lingkungan yang berubah drastis pada saat ini. Gas-gas rumah kaca yang terperangkap pada atsmosfir, suhu udara yang meningkat, penggundulan hutan secara membabi buta, ekspoitasi air tanah yang berlebihan, dan entah berapa lagi perusakan lingkungan yang terus terjadi setiap harinya di belahan bumi yang lain. Hei, bahkan ada yang mengatakan kalau dunia saat ini adalah bagaikan tong sampah raksasa. Sebegitu dahsyatnya-kah hingga tempat manusia bernaung selama ini dikatakan dengan ekstrim. Lantas solusi apa yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah global tersebut?

Banyak mungkin yang bisa ditawarkan andaikata pertanyaan itu dilontarkan dan digaungkan kepada dunia, dan realisasinya, semua itu akan kembali kepada kesadaran dan nurani setiap manusia yang menyadari betapa pentingnya masalah itu harus diselesaikan.

Menjadi relawan dunia adalah solusi lain. Jadi relawan dunia adalah satu hal. Mulailah menjadi agen perubahan dari diri sendiri sekarang juga. Kalau orang membuang sampah sesuka hati mereka, mulailah memunguti sampah yang terlihat dan menaruhnya di tempat yang benar dan telah disediakan, antara organik, non organik, dan daur ulang. Jika banyak orang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, mulailah sekarang juga beralih ke angkutan massa, meski di Indonesia angkutan transportasi publik belum sepenuhnya dapat dikatakan layak, setidaknya kita sudah mulai mengurangi emisi gas buang dari kendaraan yang kita gunakan sehari-hari. Bila banyak orang lebih suka menebang pohon yang bisa menaungi generasi penerus dunia di masa datang, sekarang tanamlah pohon sebanyak mungkin yang bisa kau tanam. Dan banyak orang menggunakan air dengan tidak bijaksana, mulai saat ini gunakan air dengan seperlunya, begitu juga dengan semua sumber daya yang bisa kita gunakan dan temukan. Tidak ada hal apa pun yang bisa merubah sesuatu selain perbuatan yang berguna untuk menyelamatkan dunia di masa datang.

Bagaimana kita bisa meninggalkan warisan yang berguna untuk generasi yang akan datang kalau investasi sumberdaya tidak dikelola dengan bijaksana. Maka kau tidak menyisakan apa-apa selain meninggalkan petaka kepada anak-anak dunia yang telah kau lahirkan.***permanas/110608

Ditulis dalam OPINI | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »