Kalau mau dipikir-pikir, apa sih hidup itu, apa maunya, apa sih yang kita cari di sini, dunia ini. Lho, kan setiap orang punya kehendaknya masing-masing, masak ya mau dipaksakan begitu. Boleh saja kalau punya pikiran itu, kalau mau diperkarakan mestinya harus dipertanyakan kepada diri sendiri, apakah merugikan orang lain atau tidak, syukur-syukur imbasnya tidak kepada diri sendiri, pun yang ada di sekitar kita.masalahnya kan hanya berguna atau tidak berguna. Itu saja kok. Apa susahnya punya pikiran seperti itu.
“Jadi orang itu mesti kritis lho, Kar, supaya tidak gampang dikibuli, dibohongi. Setidaknya kita mampu mendeteksi gejala-gejalanya agar virus tidak menyebar kemana-mana, supaya sekitar kita tidak gampang lekas sakit,” kata Eyang Samijo. Rokok lintingannya masih mengepul-ngepul di sekitar bibir hitam dan diantara kulit wajah Eyang Samijo yang legam. Masih saja hayalan itu mengawang-awang ke sana, saying tetap akan berhenti di sana, tidak di tempat lain dan waktu yang juga lain. Butek, keruh, hitam, busuk, sama seperti air di pinggir kali. Apa iya seperti itu ya?
“Masak sih, Eyang? Kalau begitu, jangan-jangan malahan kepulan asap rokok lintingan Eyang yang meracuni semua udara di sini, pengap!” jawabku enteng. Ia sendiri yang memproklamirkan supaya berpikir demikian. Jadi ya mau tidak mau ia juga harus mampu menerima konsekuensi dari perkataannya itu. Habis mau apa lagi, membantah tidak bisa, nanti katanya melawan, berontak, kurang ajar, tidak tahu sopan santun, dan entah apalagi embel-embel yang nyangkut di belakang kata-kata itu. Jangan-jangan malah memang seperti itu kejadiannya. Bisa repot jadinya nanti. Waduh! Bisa kacau ini.
“Ya ndak mesti gitu juga, Karyo, masak aku harus sumpal mulutmu itu. Ya ndak bisa seperti demikian.”
“Oooo…, syukurlah kalau begitu, Eyang Samijo.”
“Lagipula aku juga tidak ingin kalau mulutku ikut-ikutan disumpal. Lha, nanti aku tidak bisa menghisap lintingan daun kaung ini, bagaimana hayo?”
“Ya, jangan mengganggu udara sekitar dong, Eyang. Kasihan kan cucumu ini, datang jauh-jauh cuma buat merusak paru-paru. Kalau untuk itu sih tidak usah datang kemari. Jakarta saja sudah lebih dari cukup.”
“Masak?” masih lintingan itu bermain di mulutnya.
“Tidak usah diragukan lagi, Eyang. Mulut Eyang itu lebih kalah daripada bibir knalpot bus yang sudah kayak kaleng krupuk itu tapi untungnya masih bisa ngangkut siapa pun yang rela berdesak-desakan untuk bisa mendapat tempat duduk yang murah. Asal sampai tujuan pun juga sudah untung. Ketimbang bayar mahal tapi simpanan dapur kependel sama itu ongkos. Wah, bisa-bisa isteri cucumu ini kebakaran jenggot, Eyang.”
“Lha, memangnya isterimu punya jenggot apa?”
“Ya, ndak mesti juga seperti itu, Eyang. Masak seperti tidak tahu pepatah saja. Memangnya unur lanjut itu digunakan untuk apa saja sampai kias semudah itu tidak bisa dimengerti.”
“Bukan karena usia sudah melar he, Karyo. Meski ada benarnya.”
“Nah, ngaku kan?”
“Juga bukan hanya itu saja masalahnya, Eyangmu ini kan sudah melewati masa-masa yang begitu panjang dan melelahkan. Jadi segala ingatan itu mesti diproses lebih dahulu, biar lambat tapi memang begitu untuk ukuran kepala yang katamu itu sudah tidak layak pakai yang justru untuk mengenang kembali semua ingatan-ingatan masa lampau itu di saat sekaranglah untuk diingat-ingat lagi. Tapi bukan sebagai seseorang yang kembali menjadi anak kecil, setidaknya kembali kepada kesadaran bahwa semua itu telah jauh terlewati.”
“Apa itu?”
“Ya, masa-masa yang telah lalu. Sekarang malah kau sendiri yang menanyakan dan jangan berpikiran kalau aku sudah pikun ya, tidak baik. Ingatanku ini masih baik-baik saja. Setidaknya begitulah menurutku.”
“Ya, terserah Eyang sajalah,” jawabku. Eyang Samijo hampir mengeluarkan seluruh bola matanya, apa ia ingin marah atau hanya ingin menegaskan lebih jaul lagi ya, sayangnya aku tidak mau ambil pusing. Karena sudah kepuru pusing, lebih baik berdamai dan tidak perlu perang mulut yang berkepanjangan yang malah nantinya bisa menjadi perang dingin, a lot dan memuakkan. Terlalu banyak urat leher tertarik yang malah nantinya bisa bertambah panjang urusan dan mengundang penyakit yang serba parah dan serba salah. Malah mungkin serba salah kaprah. Mengingat jaman sekarang banyak penyakit yang tidak tahu asal mulanya, bahkan dengan obat yang sama sekali sukar ditemukan. “Tapi Eyang jangan marah seperti itu, cucumu ini tidak secara sengaja mencoba untuk meledek atau sesuatu hal yang seperti itu, sama sekali tidak terlintas pikiran itu,” kataku. Sayangnya pikiran nakal dalam kepalaku juga tidak mau mengalah dan malah semakin menjadi-jadi hingga pada suatu saat kosong terlintas pikiran kalau eyangku ternyata terlalu kolot pikirannya, sudah ketinggalan jaman, tidak layak pakai, meski ia bersembunyi dengan dalih kalau pikirannya baik-baik saja, dan memang akan baik-baik saja sejauh menurut pengertiannya yang tidak pernah mau mengerti urusan jaman sekarang yang tahunya hanya urusan jaman dulu saja. Huh! Dasarnya saja memang kolot ya, akan tetap kolot meski bagaimana pun corak yang dipertontonkannya.
Justru sayangnya, ternyata di sinilah letak akal permasalahannya yang sudah menjadi musuh bebuyutan sejak dulu yang ternyata juga adalah tepat di depan mata dan belum tentu semua orang dapat melihatnya. Sayang Eyang masih juga tetap pada tempatnya berpijak, kalau saja ia mau sedikit melangkah maju barang sebentar dan melihat keluar, betapa dunia itu sekarang tidak seperti pada masanya ia melihat dalam bayangan ingatannya. Aku cuma, seandainya diperkenankan di hadapan eyangku dan juga seandainya ia juga tidak berkurang pendengarannya, ingin aku berteriak kalau “DUNIA SUDAH SANGAT JAUH BERUBAH, EYANG. JADI SADARLAH!” untung itu tidak kulakukan. Lha, memangnya aku cucu seperti apa berlaku seperti itu terhadap orang tua, meski kadang sikapnya bisa sangat menjengkelkan sekali.
“Jangan berteriak, aku masih sanggup mendengar, biar sudah berkurang pendengaranku tapi masih cukup peka untuk menangkap bisikan-bisikan itu. Hati-hati saja, telinga ini masih berfungsi, mataku masih awas, biar sedikit rabun tapi masih dapat melihat lubang jarum dalam matamu he, orang muda. Dasar anak jaman sekarang,” kata Eyang Samijo. Aduh sekali lagi ia membuat lintingan baru, pasti sebentar lagi lintingan kaung itu akan lumat di bibirnya.
“Bukannya ndak mau mengalah, Eyang, tapi kalau ada pikiran yang rasa-rasanya menyimpang daripada kebenaran apa salahnya kan kalau diluruskan. Biar itu butuh keberanian dan dapat saja dianggap berontak, untuk kebenaran apa salahnya sedikit mengalah begitu lho,” jawabku. Ah, benar saja, rokok kaung itu kembali menguap dan asapnya memenuhi seluruh ruangan. Sepertinya aku sesak nafas atau ruangan ini seperti kamar gas yang sengaja khusus disiapkan hanya untukku saja. Aduh, sial. Lagi-lagi aku tidak bisa menghirup udara segar.
“Kalau ndak suka, keluar saja. Toh, di sana ada banyak udara yang kau butuhkan,” Eyang Samijo menasehati.
“Seharusnya Eyang saja yang berhenti menghisap barang seperti itu, tidak baik, merusak paru-paru, lingkungan dan entah apa lagi yang dapat ditimbulkan olehnya.”
“Kalau aku berhenti akan ada banyak orang kehilangan pekerjaan mereka, kalau tidak ada orang seperti aku ini, rumah-rumah sakit dan toko-toko obat akan sepi pembeli. Kamu sendiri yang bilang kalau mencari pekerjaan di jaman sekarang benar-benar sulit, bahkan ada rumor segala yang mengatakan kalau tidak ada koneksi atau kerabat dekat tidak mendapat pekerjaan, benar ndak?”
“Waduh, kena pukulan balik aku, lihai juga Eyang Samijo,” pikirku dalam hati.
“Benar ndak he, Karyo?” tanya Eyang Samijo lagi melihatku hanya melamun saja memikirkan apa yang barusan dikatakan oleh Eyang Samijo. Ada benarnya juga tidak ada benarnya lamunku lagi. Tidak memandang Eyang, biar ia tetap serius memperhatikanku.
“Entahlah, Eyang, saya tidak bisa menjawabnya untuk sementara. Atau memang dunia ini sudah kacau, atau seperti ember somplak yang sudah tidak dapat lagi ditambal.”
“Hah, kalau begitu itu urusanmu sekarang untuk meneruskan dunia ini. Masaku tinggal hanya menunggu sambil menonton. Terakhir yang kuingat dan terus menerus menjadi mimpi yang juga akan menghantui sisa hidupku kalau aku akan berakhir hanya pada sebuah lubang dan di atasnya tertancap batu nisan yang bertuliskan ‘bukan siapa-siapa’, bereskan,” kata Eyang Samijo sambil tersenyum dan matanya berkaca-kaca.
“Mati aku!”***permanas 170105