Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Tentang Pengharapan

Posted by permanas pada 16 Februari 2008

Mungkin tidak semua yang kita mau dalam kehidupan ini berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan, meski dengan upaya dan perencanaan matang toh itu tidak menjadi patokan bahwa itu dapat berhasil dan berjalan dengan baik.

Apakah mungkin juga mulut yang emosi akan terus mengeluarkan sumpah serapah, menghina perkerjaan tetap Tuhan sebagai pemegang status quo ketika harapan-harapan itu berubah drastis menjadi pepesan kosong. Angin semerbak yang mengundang selera makan pun berubah menjadi rasa mual dan menjengkelkan. Apa pun akan terlihat sembrono kalau apa yang kita inginkan tidak tercapai.

Memang manusiawi, bahkan terlalu manusiawi, manusia dibekali dengan sikap dan kondisi yang paling super sempurna diantara ciptaan Tuhan lainnya. Biarpun pada dasarnya semua ciptaan Tuhan adalah sempurna. Tapi hanya manusia sajalah diantara ciptaan-ciptaan lainnya yang bisa memprotes. Hei, aku pernah berkata ketika ada salah satu keinginan mendesak tidak tercapai dengan segera, Tuhan tidak adil, Tuhan brengsek, dan segenap perkataan lainnya yang mungkin menyakiti perasaan Tuhan sebagai pemilik saham tunggal semesta ini. Mudah-mudahan saja Tuhan berhati besar sebesar semesta miliknya ketika menghadapi manusia-manusia kalap, dan manusia yang tidak kalap menghadapi manusia kalap lainnya. Karena sering kali manusia inilah yang menjadi korban kekalapan manusia lain. Kesabaran tidak pernah memiliki batasan atau tepian, manusialah yang terganjal keterbatasannya ketika harus menampung kesabaran didalam dirinya.

O iya, suatu sore ketika mau berangkat pergi ke suatu tempat. Di halte bus aku mengutuk bus yang ingin kutumpangi itu karena selama dua setengah jam menunggu bus yang tidak kunjung muncul. Sumpah serapah aku pun meledak ketika melihat waktu dari telepon selular yang di taruh dalam tas menunjukkan pukul setengah enam sore. Pasti akan kemalaman ini, pikirku. Akhirnya pikiran aku mulai mengusut-usut kejadian yang telah terjadi sebelumnya. Aku mulai mengutuk keadaan sebelum berangkat, kenapa aku tidak berangkat lebih awal, kenapa bus itu tidak melewati rute biasa saja. Maklumlah kadangkala ketika menjelang sore, di kotaku, Tangerang, beberapa angkutan umum tidak melewati rute biasa yang dilewati pagi dan siang hari. Maka plus kutukanku pun merujuk pada angkutan yang ingin aku tumpangi. “Untuk buang uang saja kok mesti susah-susah ya.” Rutukku dalam hati. Maka secara sengaja atau tidak sengaja, menurutku, aku pun kembali mengucapkan kata-kata kotor yang memalukan kalau sampai disuarakan dengan lantang. Ada semacam kegeraman yang tersembunyi yang siap meledak. Sesekali aku mengucapkan istighfar, memohon ampun kepada Tuhan karena mengutuknya hanya karena bus yang ingin kunaiki itu tidak muncul dihadapan, sesuai dalam alam pikiranku dengan waktu yang sudah di perkiraan. Ternyata keadaan membuat apa yang kukehendaki melenceng sangat jauh dari harapan.

Untung saja ada pikiran lain yang mendesak, lebih mendesak mungkin ketimbang harus terus mengutuk dan tidak pernah sampai di tujuan. Akhirnya aku naik mobil lain mencoba rute tak lazim yang bisa mengantarkanku ketempat tujuan awal, karena bukan tujuanku untuk mengutuk bus, waktu, bahkan Tuhan. Tujuanku adalah ke tempat yang ingin aku tuju pada sore hari itu dengan cara apa pun. Akhirnya aku sedikit damai ketika memutuskan merubah rute yang kurencanakan secara mendadak, setelah rencana sebelumnya gagal total. Rencana kali ini lebih berhasil, biar bertambah biaya perjalanan, waktu yang terbuang sia-sia, sampai juga aku pada tujuan semula dengan selamat.

Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di kepalaku. Kepada siapa aku harus minta maaf atas semua kutukan yang kuucapkan sebelumnya ya. Dengan sedikit tersenyum, karena aku mengutuknya dalam hati, jadi ya aku mengungkapkan permintaan untuk minta maaf ya di dalam hati pulalah akhirnya. Meski dengan rasa malu kepada diriku, juga kepada Tuhan, waktu, dan bus tersebut. Aku menyadari dengan sumpah serapah itu ternyata banyak sekali yang aku omeli dalam hati. Dari armada bus saja ada supir, kenek, dan seluruh staff karyawan armada bus itu yang tidak dapat terbilang lagi, belum lagi kesalahan mengutuk waktu, dan lebih fatal lagi, aku mengutuk Tuhan! Yang notabenenya adalah penciptaku sendiri dan semua semesta.

Mungkin aku juga akan sakit hati seandainya aku menciptakan manusia, karena satu hal atas kesalahan sesuatu, maka manusia itu harus mengutukku sebagai penciptanya. Kalau aku sih sudah pasti akan mencabut hak hidupnya dan menyiksanya sekejam yang dapat aku bayangkan. Mudah-mudahan Tuhan-ku itu sangat pemurah dan pemaaf sehingga tidak perlu melakukan apa yang aku umpamakan tadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: