Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Trilogi Sompret!

Posted by permanas pada 20 Februari 2008

Sompret 1

waktu sore

bapak pulang dengan tampang kusut

dia bilang

besok dia tidak lagi masuk kerja

di pabrik benang

matanya mengisahkan huruf besar

yang dimusuhi para buruh

P H K

lengkap dengan embel-embel

dan segala kebijakan

yang tidak pernah dapat

dimengerti olehnya

begitu juga dengan tunjangan

yang tidak jelas kasak-kusuknya

bapak cuma gerutu

”sompret!” katanya

waktu mau masak

ibu bilang sama bapak

kompor karatannya, ngadat

sumbunya buntung

ia haus

ia mogok

ia tidak mau menyala

dia mau tunjukkan sikap

bapak diam saja

”sompret!” ibu bilang

waktu mau berangkat sekolah

joni anak sulung

jono anak kedua

jeni anak bungsu

mereka datangi

bapak yang lagi diam

ibu yang lagi unjuk rasa

dan memasang poster ’dapur tidak ngebul’

mereka bilang

ongkos naik, uang jajan minta tambah subsidi,

uang sekolah belum lunas, uang buku terkatung-katung,

bahkan uang bangunan sekolah sampai sekarang masih hutang

”sompret!” bapak sama ibu bilang

”memang serba sompret!” joni, jono, dan jeni bilang

Sompret 2

betapa rancunya

melihat Indonesia sekarang ini

antara antrean panjang

dana kompensasi BBM

dan kerusuhan yang timbul karenanya

jalan-jalan menjadi ajang

pertunjukan perasaan-perasaan

dan teatrikal seadanya

dicoba untuk menguraikan

sumpah serapah

yang tak pernah dapat diungkapkan

bus-bus kota

menjadi ajang pertarungan

kenek dan penumpang

”uang narik cuma cukup buat setoran sama solar”

keluh seorang supir

”tambah ongkos berarti harus super irit buat biaya hidup”

keluh penumpang sambil tarik napas

tambah lagi jalan semakin sempit

kendaraan berjubal, macet …

’BBM naik, rakyat teriak”

ungkap sebuah poster

”sompret!”

kata demonstran

kata supir

kata kenek

kata penumpang

kata buruh

kata pengusaha

kata ibu

kata bapak

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

kata …

Sompret 3

sekarang

negara bimbang

pengusaha garuk-garuk kepala

lapangan kerja tidak ada

PHK menjadi kebijakan praktis perusahaan

rakyat sengsara

dolar naik

harga minyak bumi semakin mencekik

ekonomi kembang kempis

pabrik-pabrik gulung tikar

angka kemiskinan dan pengangguran

semakin parah

”sompret!”

belum lagi korupsi

yang sudah menggurita

menjadi warisan turun temurun

yang tidak pernah terselesaikan

sampai kapan

kita akan menjadi negara

SOMPRET … …

Jakarta, 7 Desember 2005/Permanas

NB: naskah ini pernah dilombakan pada lomba cipta puisi Minyak Tanah yang diadakan oleh Dewan Kesenian Tangerang bekerja sama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI)

Dikirim pada tanggal 8 Desember 2005 (tidak ada kabarnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: