Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

“Meong”

Posted by permanas pada 11 Juni 2008

Dia bukan siapa-siapa, semua juga tahu itu, bahkan orang sudah biasa melihatnya berkeliaran kemana saja dengan seenaknya, cuek bebek dan dengan gaya khas ia berjalan menerobos setiap pintu yang terbuka begitu saja. Justru karena kelakuannya itu ia seakan telah menjadi sesuatu yang patut diperbincangkan, terlebih para pembantu, yang paling senang sekali mengobrol dengan bahasan isu-isu yang lewat dengan angin dingin dikuping tetapi panas di hati. Malahan itu barang yang laku keras ketimbang cabai atau tomat ketika tukang sayur sudah parkir di perempatan gang.

Bukan hanya mereka, ternyata nyonya-nyonya mereka pun, bukan hanya nyonya-nyonya mereka, anehnya, suami-suami dari nyonya mereka juga ikut-ikutan resah dibuatnya. Mulut mereka tidak pernah diam dan otaknya dipaksa terus untuk mengingat setiap gerak-gerik dia. Tapi dia bukan siapa-siapa. Mata dan giginya tajam, memiliki tubuh hitam yang membuat dirinya tidak terdekteksi dan berkamuflase dengan gelap. Itu penyamaran yang paling baik selama ini dan selalu berhasil! Karena keberhasilannya itulah yang juga membuat para suami-suami dari nyonya-nyonya mereka yang juga tuan dari pembantu-pembantu itu tak pernah lelap tidurnya dan selalu mengintai. Matanya mendelik dari balik tirai kamar yang digelapkan. Itu memang sengaja.

Suatu malam, Tuan Besar Atma di dalam rumahnya yang juga paling besar dari rumah sekitarnya tampak gelisah sekali. Ia mundar-mandir tidak karuan dalam ruangan besar gelap dan pengap. Wajahnya mengkerut dengan lipatan besar di keningnya. Sedikit keringat menjentik dari atas pelipis. Sementara yang lainnya telah tertidur pulas.

“Aneh!” desis Tuan Atma dan telunjuk kanannya diusap pada batang hidungnya yang melengkung besar. Tampak Tuan Besar Atma memang memiliki segalanya yang besar-besar, semua lekat di dirinya. “Tapi tidak ada yang aneh, di situlah letak keanehannya,” sambungnya lagi dan menghempaslah tubuh besar itu di atas sofa berwarna biru tua yang juga besar.

“KRAK!” tiba-tiba sebuah suara derak terdengar dari luar jendela. Tuan Atma tersentak dari sofanya dan segera bangkit menyelinap ke dalam gelap, menarik tirai sedikit. Piyama merah tuanya melambai seperti terserap oleh kepengapan ruangan itu. Wajah angkuhnya kembali melemah, tidak ada apa-apa tertangkap oleh matanya. Tuan Atma kembali ke tempatnya semula, rebah dengan pikiran mengawang lalu mimpi menggodanya di sana dan lupa menemani isterinya.

### ###

Pagi memang tetap saja pagi. Perannya tidak pernah berubah untuk mengawali hari, semua juga terjadi seperti pagi-pagi yang sebelumnya. Tapi belakangan paginya sedikit lain dari yang sudah-sudah, dua minggu persisnya. Sumbernya dari para pembantu-pembantu itu juga yang mengobrol seliwer sana seliwer sini di depan sayuran kangkung, daun singkong dan entah sayuran apa lagi. Tiga ekor ayam broiler tergantung pasrah di palangan gerobak sayur, berjajar dengan ikan asin dan toge yang sudah di timbang-timbang.

“Masak kamu tidak percaya apa yang barusan aku katakan?” kata salah seorang pembantu.

“Jangan dulu percaya sebelum ada buktinya. Bahkan, biar sudah dilihat pun belum pasti kita bisa membuktikannya,” sahut yang lain lagi.

“Itu juga bisa. Tapi mata harus lebih awas, hati-hati, itu kunci utama. Kalau tidak, kita bisa terus kecolongan. Herannya kok ya tidak pernah ketahuan begitu.”

“Iya, iya, iya.”

“Kalau begitu, kita harus lebih waspada lagi.”

“Lho, iya. Orang yang waspada saja masih bisa kecolongan. Apalagi kita yang jarang sekali waspada.”

“Memangnya ada isu apa lagi sih? Kok kelihatannya serius sekali,” kata tukang sayur yang sejak tadi mendengarkan dengan sedikit kesal karena melihat barang dagangannya hanya dipegang-pegang dan belum ada satu pun pembantu membeli dagangannya, karena sibuk dengan obrolan mereka.

“Itu lho, Kang,” sahut salah seorang, dan ketika hendak melanjutkan omongannya sudah dibekap oleh pembantu yang ada di sebelahnya mengisyaratkan untuk tidak melanjutkan perkataannya.

“Baru saja aku katakan. Ingat, kita harus hati-hati, jaga pembicaraan kita,” kata yang membekap.

“Tapi kan sejak tadi dia memang sudah mendengarkan pembicaraan kita.”

“Celaka! Kita kecolongan lagi,” lanjut yang lain dan membuat tukang sayur itu malah bertambah tidak mengerti dan ia memang benar-benar tidak mengerti.

Kemudian mereka saling diam, tidak ada yang mau angkat bicara, karena takut kecolongan! Itu pun sudah kebablasan. Ketika mereka telah kembali pulang ke rumah tuannya masing-masing, pintu-pintu telah melongo, menganga seperti luka-luka yang memborok di hati mereka. Mereka sadar, tapi tidak tahu.

“Kita sudah kecolongan lagi……….!” teriak salah seorang pembantu.

“Aku juga!”

“Aku juga!”

“Aku juga!”

“Aku juga!” saling bergantian mengisi kelengangan di gang komplek mereka.

### ###

Akhirnya, mau tidak mau, atas dasar laporan dari pembantu-pembantu mereka dan isu-isu yang telah melayang kesana kemari, mau tidak mau dan harus mau. Rapat rahasia digelar, mengingat kewaspadaan sudah tidak lagi diperhitungkan sebagai dasar pertahanan. Para suami dari nyonya-nyonya dan tuan dari pembantu-pembantu, duduk dalam satu meja lingkar dan dalam satu udara yang penuh asap rokok, menutupi wajah-wajah yang penuh ketegangan.

“Rupanya ada yang mau main kucing-kucingan,” buka salah seorang tuan dengan nada bicara meyakinkan.

“Itu bukan kucing-kucingan,” sahut tuan yang lain.

“Lantas, apalagi kalau bukan itu.”

“Tahu dari mana?”

“Firasat saya mengatakan demikian.”

“Jangan terlalu mengandalkan firasat. Setidaknya logika saya mengatakan begitu.”

“Saya rasa dua-duanya sangat penting.”

“Atas dasar apa?”

“Akal saya memberitahu. Saya rasa, saudara-saudara semua setuju akan hal itu.”

“Tapi kita juga harus berani berimajinasi.”

“Siapa yang akan kita jadikan tumbal untuk berimajinasi kalau begitu. Karena kita belum tahu apa-apa.”

“Yang pasti bukan kita.”

Terus begitu sampai larut dan hampir-hampir tidak ada ujung, terasa terlalu panjang untuk dilalui dan mereka belum juga memiliki titik terang yang jelas, tidak tahu apa yang akan dikatakan. Pikiran mereka telah benar-benar buntu dan tidak ada jalan lain selain diam dengan perasaan masing-masing untuk berlindung. Mereka memang tidak menemukan jawaban.

### ###

“Pa! Bangun, Pa!” teriak Nyonya Mukti kepada suaminya ketika ia bangun tidur dan melihat jendela kamarnya terbuka. Tuan Mukti tidak bereaksi apa-apa, mendelik sebentar dan melanjutkan tidurnya. “Pa! Kita telah kecolongan. Lihat, lihat itu! Jendela kamar kita terbuka lebar. Kita sudah kecolongan,” lanjut Nyonya Mukti. Tapi setelah matanya liar ke seluruh ruangan kamarnya, semua tampak rapi, semua tetap pada tempatnya, tidak ada yang acak-acakan, biasa saja. Tapi kenapa jendela kamar itu terbuka, padahal ia ingat telah menutupnya semalam. Lalu angin pagi dan udara sejuk berhembus masuk dari jendela yang sudah terbuka itu.

Ternyata tidak hanya rumah keluarga Mukti kejadian itu nampak. Di rumah tetangga mereka pun telah terjadi peristiwa yang sama pula. Dan, pagi yang indah itu pun telah berubah menjadi pagi yang penuh dengan tanda tanya. Semua terbuka, semua yang terkunci terbuka dengan sendirinya. Tidak ada yang tahu siapa pelaku sesungguhnya. Gunjingan itu merujuk pada satu hal. Sesuatu yang biasa-biasa saja, dia yang selalu dengan seenaknya lewat dengan sesuka hati, dia yang ternyata biasa-biasa saja menjadi tumbal imajinasi komplek tersebut. Tapi dia tidak peduli. Buktinya, ia tetap tenang-tenang saja dan terus mengais lubang sampah mereka tanpa peduli. Di sudut sepi semua berkumpul, memperhatikannya, dia cuma melengos sebentar dan terus berlalu.

“Pasti dia, tidak salah lagi. Saya yakin itu.”

“Hus! Pelan-pelan, nanti kedengaran olehnya.”

“”Alaaah, kedengaran juga tidak mengapa. Toh, saya juga yakin kalau dia itu pelakunya.”

“Jangan menuduh sembarangan sebelum ada bukti-bukti jelas. Belum tentu dia itu bersalah. Belum ada milik kita yang hilang, bukan?”

“Itu memang benar. Tapi kenapa ia sengaja membuka semua yang terkunci rapat-rapat. Itu mengganggu ketenangan kita.”

“Saya tahu, saya tahu.”

“Kita ikuti saja dia.”

“Jangan! Biarkan dia sendiri yang menuntun kita untuk tahu apakah benar kalau dia itu pelakunya.”

“Caranya?”

“Tidak ada cara lain. Kita harus segera bertindak.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Kita tunggu malam tiba, baru kita bisa menemukan jawaban yang selama ini belum kita temukan,” kata Tuan Mukti dan itu pun masih sangat diragukan. Apa boleh buat mereka kembali membubarkan diri dengan tanda tanya yang besar terlukis di pelupuk mata mereka dan kening berkerut.

Tapi tidak sampai di situ saja, pada sebuah bangku kayu panjang di bawah pohon tua, para pembantu sedang asyik beristirahat sambil menggendong anak majikan mereka untuk di bawa jalan-jalan. Dan tak pelak lagi, bisikan-bisikan itu masih mengganggu benak mereka, keresahan itu telah membuat mereka gelisah dan bekerja ekstra pada malam hari. Tapi selalu saja mereka tidak tahu dan selalu kecolongan, walau pernah ada yang sampai begadang di depan pintu. Kali saja dia kepergok sewaktu menjahili pintu-pintu yang terkunci demi untuk mengetes kewaspadaan mereka. Mereka selalu kecolongan dan ketika membuka mata yang masih samar, angin pagi sudah menjamah kulit mereka. Pintu itu terbuka kembali!

“Ini gila! Betul-betul gila kita dibuatnya,” celoteh seorang pembantu yang tengah berdiri sambil menggendong anak laki-laki dan tangan kanannya sibuk menjejalkan botol susu pabrikan ke mulut bocah kecil itu.

“Kita semua memang telah gila. Lebih gila lagi kita tetap tidak tahu kenapa semua itu terjadi dan kenapa kita yang harus super ekstra bekerja demi hanya untuk menjaga pintu-pintu dan jendela. Tidak ada lagi yang aman rupanya. Bahkan, mungkin, salah satu dari kita pelakunya. Atau, jangan-jangan…” mendelik ke arah sesuatu yang tengah masa bodoh berlenggak-lenggok, berjalan di atas bayangannya sendiri.

“Gila, malah gila kalau kita mengarah ke sana. Mana bisa dia melakukan semua itu sampai kita terus-terusan di landa gelisah, bodoh!”

“Dunia tidak ada yang mustahil.”

“Terserah.”

“Terserah.” Dan isu dibiarkan dengan terserah.

### ###

Perlahan tapi pasti, senja itu turun dari langit biru dan menggantinya dengan malam yang senyap, lengang sekali, bahkan bulan pun tidak mau keluar. Ia menyelipkan dirinya pada awan dan membiarkan dirinya tenggelam di sana. Tapi bintang sedikit cemburu, inginnya merobek keheningan di bawah sana.

Sengaja semua lampu sedikit yang dinyalakan sehingga hanya samar-samar saja setiap sudut terlihat. Semua berkumpul pada satu sudut, menunggu saat di mana semua itu harus diakhiri setelah kegelisahan sampai pada puncaknya. Geram ingin melumat habis semua ganjalan dengan tanda tanya yang besar.

Sesuatu berkelebat, semua pasang mata tertuju pada satu sosok, dia berjalan santai. Tidak peduli dirinya diamati dari balik keremangan dan ia terus saja berjalan dan terus, dan terus, mendekati, tepat di hadapan, di balik persembunyian, sampai dia melewati kembali. Tidak ada yang mau memulai lebih dulu hingga dia selamat dan semakin meninggalkan mereka di belakang, menyisakan jejak yang masih basah dan kumpulan itu masih terus mengintai langkah yang tanpa suara itu.

Kumpulan itu terus menguntit tanpa diketahui, yang dikuntit terus saja berjalan tanpa peduli. Dan, pada sebuah halaman rumah yang luas, rumput jepang tertata rapi pada taman yang indah dan asri, melompat pada pagar dengan hanya sekali lompatan membuat kumpulan itu melongo. Tapi rautnya tampak biasa-biasa saja. Dan, lalu, “KRAK!”.

“Meooooooong!”

Saling berpandangan dalam satu kumpulan di balik semak yang terlindungi dari cahaya.***permanas/Kota Bambu/2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: