Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

TENTANG KITA

Posted by permanas pada 9 September 2008

Engkau dan aku, kita merasa ada sesuatu yang hilang di sini, antara kekosongan dan kehampaan. Aku berjalan melewati liku-liku kehidupan serta kerlip lampu yang mulai padam. Samar kulihat engkau tengah pandangi matahati yang di setiap sudutnya terpancar lelehan darah menghitam. Jangan tatap aku seperti itu.

Dulu kita lalui taman yang di sekelilingnya bertebaran bunga bermacam warna dan kupu-kupu bermain kian kemari menyapa pagi dengan riang gembira, tawa lepas tak lagi ada dilekukkan bibirmu yang menawan. Engkau hanya mendiami kesunyianmu sendiri.

Kalau saja hujan hari ini tak jadi menurunkan butiran airnya, ingin kembali aku mengajakmu menghidupkan kenangan masa lalu, membuka lembaran lama dan mengingatnya lagi. Di tanganku ini tergenggam sepucuk surat, semalam aku menuliskannya untukmu. Bila kau ingin mengintip sisa hidupku, semua tersimpan dengan rapih di sampul berwarna biru tua ini.

Ingatkah kau? Waktu itu sedang duduk bersenda gurau di atas sebuah rakit bambu beratap jerami, sejenak engkau tersenyum menampakkan barisan gigi putih berseri. Lalu semilir angin menabrak rambut hitam milikmu dan tergerai, engkau membiarkannya terurai. Aku tatap sejurus lamanya dalam keterpakuan yang diselingi riak air sungai. Engkau mengatakan, bila waktu membolehkan kita berlama-lama di sini, adakah kelak ia, waktu, mengijinkan kita untuk selalu bersama dalam suka atau duka, senang atau susah. Mungkinkan itu terjadi?

Semenjak itu terbersit sebuah harapan dalam diriku kalau kau menghendaki kita untuk selalu bersatu meski lautan memberi jarak yang teramat jauh di antara kita. Engkau bertanya dan mengungkapkankan segenap perasaanmu kepadaku. Aku tidak pernah menjawabnya. Hanya saja, aku akan berusaha agar itu menjadi kenyataan.

Rakit merapat, hari yang lelah ini menggeliat maju mengikuti guratan cahaya yang mulai surut di kaki langit. Masa lalu memang tidak ada yang seindah masa depan, namun demikian ingatan tentang kita tak sedikitpun ingin kubuang. Karena engkau, aku bertahan hidup dengan sebuah alasan.

Alangkah malam memberi kedamaiannya lewat cara yang misteri, sehingga apapun yang bersembunyi di baliknya selalu sunyi dari kata-kata. Engkau juga diam dan membisu di sana, terkulai layuh dengan tatapan yang amat kosong. Bilakah kau berseri kembali seperti saat kita menyatakan janji kita masing-masing, tak ada lagi kesedihan ketika menyelami raut wajah yang tertutup sehelai kain.

Kita pernah minum dari gelas yang sama dan dibesarkan dalam kehidupan yang sama. Kenapa tak sedikitpun keceriaan kau berikan, bahkan kesedihanpun tak juga kau berikan. Kau membiarkan dirimu tenggelam dalam kesendirian yang membuat kau tak kukenali lagi. Kau telah berubah menjadi orang asing.

Langkah yang kulalui menjadi terhentak berhenti, waktu tiba-tiba kau tak kulihat lagi diujung sana, di bawah rindang pohon mahoni, tempat kau biasa menyendiri. Tidak seperti biasanya orang berkerumun di tempat yang sunyi itu. Yang kutahu kau tak ada lagi di sana.

*** ***

Kau telah pergi kini dan meninggalkan kisah yang teramat sayang dilupakan. Cuma kerinduan kau titipkan di sini, selebihnya kau arungi hidupmu sendiri. Mawar yang telah mengering di dekat pusaramu telah diganti dengan yang lebih segar. Lumut hijau yang menempel tak lagi menutupi namamu.

Kau tak dapat mendengar suaraku lagi, tapi andai kau masih mendengar, kau akan tahu kalau aku masih menyayangimu. Betapa dingin semakin menyelimuti udara di sekitar sini, entah kenapa aku masih duduk memandangi batu yang mengukir panjang namamu. Mulai samar oleh kabut. Bulan di sini tampak tenang menunggui kita berbincang dan jangkrik membuatnya menjadi tidak terlalu hening.

Sekali lagi terbayang dibenakku ketika kita bersama menelusuri jalan di pinggir kota saat sore menjelang, matahari menyemburat lembayung dan burung-burung merpati beterbangan di antaranya. Kau begitu terkagum-kagum melihat mereka terbang dengan bebas di angkasa dan ingin seperti layaknya mereka kelak kemudian hari.

Lama sekali kau memandangi mereka, sampai tak terasa matahari sudah tak tampak lagi di ujung senja. Hari terlalu cepat berganti dan kita dibiarkan renta menginsyafi diri masing-masing. Sabar kau menuntunku untuk tetap dapat berdiri dan melangkahkan kaki yang terpasung.

Sekarang, kau tak melihatku kembali berjalan menapaki rerumputan basah berselimut embun, kau pergi mendahului janjimu dan kata-kata indah yang belum sempat untuk dijawab. Sungguhkah? Kelak bila fajar pagi menampakkan wajahnya, kau mengatakan kalau cahaya hangat menerpa wajahku, di situ akan ada jawabannya dari janji yang telah kau katakan. Maka akan kutunggu pagi ini bersamamu, karena sebentar lagi fajar mulai merekahkan sinarnya.

Semalaman aku berbincang dan bicara sendiri dengan kau yang tetap membisu, tak sabar aku menunggu pagi untuk menghangatkan tubuh yang mulai membeku. Ah, ayam jantan dan kicauan burung liar sudah terdengar kini dikejauhan dan aku mengerti sekarang kenapa kau menyuruhku mencari jawab atas kata-katamu karena pagi ini mengabarkan kalau di dalamnya tersimpan sebuah harapan untukku.

Di kaki langit, awan sudah berwarna kuning keemasan. Sekiranya aku tak ada di sini tak cahaya matahari menerpa wajahku dan tak jua kutemukan jawaban dari pertanyaan yang kau tinggalkan, adakah ia, waktu, mengijinkan kita untuk selalu bersama. Mungkinkah itu terjadi? Kita memang tak dapat bertemu kembali dan bersama seperti dulu, tapi mungkin, suatu saat kita dapat bersatu lagi. Biar Tuhan yang membawaku kepadamu.

Kali ini aku yang akan pergi meninggalkanmu di tempat sunyi ini sendirian, karena sisa hidupku belum selesai. Di sini kutinggalkan surat yang belum kau buka dan akan tetap dibiarkan tertutup. Suatu waktu akan kuganti bunga yang kering dengan bunga yang lebih segar, bila putaran waktu membawaku kemari lagi.

Kau arungi kesunyianmu sendiri, aku pun menjalani hidupku sendiri. Aku akan tetap selalu mengingatmu, biar dapat mengenangkan kembali. Di depan jalan sudah membentang panjang. Sekarang aku akan pergi. Selamat tinggal kekasih.***agustus 2001.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: