Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Boneka Kali

Posted by permanas pada 15 September 2008

Ini malam, malam tenang. Tadi sore sampai selepas maghrib hujan baru selesai mengguyur tanah yang rindu becek itu. Sekarang dahaga itu lepas. Ia mengalir lewat kali jembatan gantung yang goyang kena angin, air hitam tambah hitam, ini malam, memang malam tenang. Bercermin pada kilauan lampu di pinggiran kali yang jadi tempat mendekam gubuk-gubuk. Lampu minyak juga masih sambar meliuk. Tari pongah pada gelap.

Cuma dua bocah masih lari-lari, seakan sembunyi dan coba menyusup, membelah tanah becek dan genangan yang keruh itu dihentak berkali-kali. Sekarang mereka berdiri di tengah-tengah jembatan gantung, bersandar pada tali baja sebelah kiri. Dan di bawah satu rakit masih lalu lalang antara pinggir satu mengantar pinggir lain. Siapa yang mengantar siapa yang di antar, tak pernah jelas. Lampunya samar, saungnya terlalu landai menutup. Dua bocah itu masih mengamati, waktu dua orang laki-laki berhenti dan turun dari rakit lalu menaiki tanggul menuju kumpulan gubuk-gubuk. Sekarang, malam tidak lagi pernah tenang.

“Njo,” bilang Kunti. Njo tidak menoleh, ia geming. Pikiran Njo tersihir oleh kerlip lampu dari ombak kali jembatan gantung. “Njo.” Sekali lagi Kunti bilang. Njo masih geming.

“Ibu kita, mungkin sekarang mereka sudah kembali senyum, Kunti,” akhirnya Njo bilang kepada Kunti tapi masih diam, mata Njo masih tajam menusuk gubuk-gubuk yang jongkok di pinggiran kali itu.

“Ibumu mungkin, ibuku belum tentu.”

“Kenapa?” tanya Njo, pandangannya patah, sekarang kening Njo berkerut.

“Ia sakit, meringis sejak kemarin. Kunti disuruh pergi. Kunti lari.”

“Tidur?”

“Gerbong kereta langsam jawa yang parkir,” jawab Kunti.

“Sekarang?”

“Ketemu Njo, terus kita di sini, jembatan gantung,” kata Kunti lagi.

“Ibu kamu bagaimana?”

“Tidak tahu.”

“Bapak kamu?”

“Bapak kamu sendiri, Njo? Apa kamu tahu bapak kamu?” tanya Kunti. Ada dua pertanyaan di sana yang mesti di jawab Njo.

“Tidak tahu.”

“Kalau begitu kita sama.”

“Sekarang kita mau kemana?” tanya Njo lagi. Kunti geleng kepala sambil merapatkan tubuhnya, kasih lewat dua perempuan berdandan menor menuju kumpulan gubuk-gubuk itu.

“Kunti tidak pernah takut mau pergi kemana. Ibu diajari supaya tidak takut. Lalu Kunti diajari pula supaya tidak takut. Karena itu sekarang Kunti jadi berani, jadi, ibu suruh Kunti pergi.

“Kenapa kamu disuruh pergi sama ibu kamu?”

“Kata ibu supaya Kunti tidak melihat ibu pergi ke tempat lain. Kalau Kunti masih di dekat ibu, ibu tidak akan bisa pergi.”

“Pergi kemana?”

“Ibu kamu sendiri?”

“Kunti belum jawab pertanyaan Njo.” Njo memaksa.

“Kunti tidak dikasih tahu ibu.”

“Ibu Njo masih ada di sana, ia senang-senang. Njo juga disuruh pergi, jangan ganggu. Kalau Njo ganggu, Njo sama ibu tidak bisa makan,” jawab Njo.”

“Sekarang kita mau kemana?” tanya Kunti gantian. Njo geming lagi.

Tapi Kunti tidak mau tunggu lama-lama. Kunti tarik tangan Njo buat pergi dari jembatan gantung. Njo sama Kunti lalu lewati pengemis tua yang mangkal di ujung jembatan itu. Ia tidur, tapi mangkuknya masih dipegang erat-erat. Ada beberapa receh tergeletak di sana yang mungkin bisa menghangatkan tubuh mereka dengan segelas sekoteng, bisa diminum berdua. Njo mencegah Kunti punya pikiran seperti itu, Kunti cuma mengangkat kedua bahunya dan berlalu begitu saja meninggalkan pikiran itu, masih sedikit mengganggunya, tapi tidak dilakukan. Sekarang Njo yang menuntun Kunti jalan, sedikit menjauh dari gubuk-gubuk di sana, sedikit gelap. Ada pagar besi yang berlubang, cukup untuk meloloskan badan kecil mereka. Njo menerobos duluan kemudian disusul Kunti, sebentar suara klakson kereta dan lampu sorot wajah mereka, sedikit silau sebelum akhirnya kembali lenyap dan sepi.

Satu kereta baru saja parkir di sana, satu jalur panjang diisi gerbong-gerbong kosong. Njo memanjat naik, Kunti juga. Waktu baru selangkah, seseorang membentak supaya pergi. Suara, cuma suara di antara gelap dan dua nafas yang tersengal saling menimpali. Njo tidak peduli sambil meninggalkan suara itu lalu mencari gerbong yang lebih terang. Satu gerbong di gandengan tengah ada yang dibias sinar. Seperti peraturan biasa, tidak duduk, hanya tangan-tangan kecil itu merogoh-rogoh kolong bangku mencari sesuatu.

“Kunti,” panggil Njo di pintu gerbong sambil memegang bungkusan kertas. Kunti mendekat sambil membuka bungkusan yang dikasih Njo.

“Nasi. Belum basi,” kata Kunti ketika melihat isi bungkusan itu.

“Kamu mau?” tanya Njo.

“Belum lapar.”

“Apa yang kamu dapat?”

“Boneka-bonekaan.”

“Kamu mau kasih nama siapa?”

“Susi. Seperti nama ibu dikumpulannya.”

“Kita kembali saja.”

“Kemana?”

“Kamu bisa diam di tempat Njo. Biar Njo yang bilang, pasti ibu mau,” kata Njo meyakinkan Kunti.

“Susi boleh ikut?”

“Susi boleh ikut tentunya,Kunti,” jawab Njo sambil mengajak Kunti menuruni gerbong kosong itu, kembali melewati jalan sebelumnya. Kembali melewati jalan gelap, pagar besi, sebentar lagi sampai pinggiran jembatan gantung, lalu akan ke gubuk Njo buat bilang supaya Kunti boleh tinggal sama mereka.

Kunti sama Njo tiba-tiba tersentak dan tidak dapat melangkahkan kakinya lagi, mereka kaku, takut, tidak percaya, tidak tahu harus berbuat apa. Dimata Njo sama Kunti, segerombolan orang tengah berarakan menuju kumpulan gubuk-gubuk di pinggir kali, termasuk gubuk Njo, rumah Njo, tempat Njo dan ibunya berteduh sama tidur, juga punya yang lainnya yang dekat dengan gubuk Njo. Arakan itu mengangkat tongkat kayu yang ujungnya penuh dengan jilatan api, sambil teriak-teriak, mereka, ditatapan mata Njo sama Kunti, tongkat kayu itu terlempar dan jatuh di atap gubuk Njo lalu menjilatnya sampai lumat, sampai habis terbakar. Sorakan itu kian gembira diantara bentakan-bentakannya. Njo mau nangis waktu banyak teriakan minta tolong dari dalam gubuk Njo. Njo dengar ibunya teriak kesakitan. Njo mau berlari dan menolong, menjawab jeritan ibunya. Njo tidak bisa, ia kaku, bahkan ia tidak bisa menangis, genggaman Njo semakin keras mengapit tangan Kunti, kelu. Kunti ingin melepas gapitan tangan Njo yang semakin kencang, tapi tidak bisa.

Beberapa orang melihat Njo sama Kunti, garang mencoba mendekati dan menangkap. Njo tahu, lalu menarik tangan Kunti lagi mengisyaratkan supaya lari, jangan sampai tertangkap, jangan sampai dilumat kemarahan mereka. Maka Njo sama Kunti lari melewati jembatan gantung itu, ombak dari aliran kali mengilatkan api yang melahap gubuk-gubuk di pinggiran kali jembatan gantung dan membiaskannya pada dua sosok yang terus berlari.

“Boneka Kunti! Njo, boneka Kunti!” teriak Kunti. Boneka Kunti tersangkut kawat baja. Njo mencoba melepaskan tapi tetap tidak bisa. Njo menarik keras tangan Kunti buat terus berlari, jangan tertangkap! Tangan Kunti lepas, tak kuasa menahan. Boneka Kunti yang baru saja didapatnya lepas dan melayang jatuh ke dalam kali jembatan gantung. Kunti hampir menangis, ia menahannya, ingat ibunya supaya Kunti berani. Kunti tidak lagi menoleh, masih terus berlari bersama Njo. Di belakangnya, beberapa orang masih mengejar. Tidak tahu kapan harus berhenti dan di mana.

Njo sama Kunti masih terus berlari sampai sekarang.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: