Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Masalah yang Seribu Satu Macam

Posted by permanas pada 13 Oktober 2008

Masalah, persoalan sekitar hidup dan kehidupan, membuat kita pusing tujuh keliling, terlebih kalau kita tidak punya jalan keluarnya, kepala rasanya mau copot dibuatnya. Ada yang menanggapinya dengan sangat serius sekali, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada juga yang masa bodoh. Y ang penting hidup mesti terus dilanjutkan. Lha, habis karena masalah sepele saja mesti menghabisi hidup. Sayang, hidup itu kan cuma sekali dan setiap kehidupan mungkin hampir pasti memiliki masalahnya sendiri. Cuma, ya itu, tergantung bagaimana cara kita menanggapi dan menyikapinya saja. Hidup mesti tetap berlanjut, jangan tenggelam dalam masalah, sebaliknya bagaimana memikirkan cara untuk keluar dari masalah yang membuat hidup kita bermasalah.

“Memangnya kamu punya masalah apa, sampai nyerocos tidak karuan seperti itu?” tanya Pakde Har, yang wakil dari pak RW itu, tiba-tiba saja muncul dari belakang saya. Pakde Har langsung memesan kopi pahit kepada Ceu Fatimah, pemilik kedai kopi itu yang selalu menyediakan mie rebus, kacang hijau dan ketan hitam, serta aneka minuman hangat maupun dingin yang selalu siap saji.

“Oh, Pakde Har. Saya kira siapa.”

“Memangnya kamu kira saya ini siapa, sampai kagetnya juga membuat saya terkesima.”

“Memang, dia itu dari dulu sifatnya selalu begitu, suka membesar-besarkan masalah. Sejengkal, baginya bisa menjadi sehasta,” sambung Ceu Fatimah lalu menaruh kopi pesanan Pakde Har di depannya.

“Ndak lho, Pakde, kok tidak biasa-biasanya mampir kemari seperti sebuah sidak (Inspeksi Mendadak) saja,” jawab saya sambil malu-malu kucing karena ketahuan habis menyolong ikan asin di dapur tetangga.

Pakde Har hanya senyum-senyum kecil saja sambil terus menguyup kopinya. Kalau ditanya apa masalah saya, wah, siapa sih yang tidak punya masalah dalam hidupnya. Iya nggak? “Lha, begini lho, Pakde,” cerita saya kepada Pakde Har. “Pakde kan tahu kalau saya ini hanya pegawai kecil, sudah beristri dan memiliki tiga anak yang semuanya sekolah. Sementara harga bahan pokok bagaikan mimpi diawang-awang dan sulit sekali untuk meraihnya.”

“Sekaragn maksud kamu apa?”

“Maksud saya, begini lho, Pakde, aduh, saya jadi malu. Mau bilang bagaimana, ya.”

“Ayo, bilang saja, kenapa mesti malu-malu,” desak Pakde Har kepada saya. Sementara Ceu Fatimah hanya menonton saja bisanya dan lalu membuang wajahnya setelah saya kembali menatapnya. Masalah memang tidak ada habis-habisnya kalau hanya dipikirkan saja, sementara untuk mulai menghilangkannya saja pun juga malah menambah masalah lagi. Ibarat gali lubabg tutupm lubang.

“Maksud saya, ini pun kalau ada lho, Pakde. Maksud saya saya mau pinjam uang kepada Pakde untuk bayar uang sekolah anak-anak yang sudah nunggak dua bulanan ini,” kata saya yang pada saat itu tengah menundukkan kepala dan memasang wajah agak memelas guna menarik simpat Pakde. Pakde har har cuma manggut-manggutkan kepalanya, saya tidak tahu apa Pakde mencoba mengerti atau memang benar-benar tidak mengerti ya, dengan apa yang barusan saya katakan. Saya berdoa dalam hati mudah-mudahan saja Pakde memberikan saya uang pinjaman. Dalam segala hal berusaha, pastikan kalau kita selalu berdoa kepada Tuhan, siapa tahu setiap usaha kita selalu dikabulkan dan diluluskan.

Kenapa Pakde lama benar mikirnya ya, ia belum sama sekali mengeluarkan kata-kata. Pakde lalu menyeruput kopinya lagi, saya ikuti juga menyeruput kopi saya. Begini rasanya ya, menunggu berharap-harap berkata ‘iya’ dan semoga tidak mengatakan ‘tidak’.

“Oh…,” kata Pakde Har kemudian setelah saya menunggu agak lama. “Saya kira ada apa, hanya masalah uang saja, toh. Memangnya kamu butuh berapa?” tanya Pakde har lagi. Syukurlah, ternyata Pakde Har tidak berkata ‘tidak’, mudah-mudahan besok anak-anak saya dapat membayar uang sekolaj yang sudah ditagih melulu oleh guru mereka.

“Ndak banyak kok, Pakde, cuma dua ratus ribu rupiah saja. Itupun kalau Pakde ada, kalau tidak ada, setengahnya juga ndak apa-apa. Yang penting anak saya dapat membayar uang sekolahnya,” jawab saya sedikit pelan.

“Iya, kalau ada maunya saja, pura-pura inilah, itulah, lantas buntu-buntutnya pinjam uang. Hutang kopi kamu saja masih nunggak, eh, masih berani pinjam uang. Sama Pakde lagi. Mestinya, gimana gitu lho caranya…”

“Gimana caranya maksud Eceu?” potong saya yang sedikit mulai kesal lantaran malu meskipun kata-katanya memang benar. Kebenaran yang dikatakan dengan cara yang salah, sungguh sangat menyakitkan siapa pun yang mendengar kebenaran itu. Akhirnya saya hanya diam saja.

“Eeee, kok malah jadi ribut begini,” kata Pakde Har menengahkan saya dan Ceu Fatimah. “Dalam situasi yang memang sedang susah begini, Ceu Fatimah tidak seharusnya berkata seperti itu. Malah kita harus saling tolong menolong. Toh, bukan mustahil suatu saat kita pun butuh pertolongan orang lain. Benar, ndak?”

“Benar, Pakde,” kata saya dan Ceu Fatimah berbarengan.

“Ya sudah. Kebetulan saya sedang ada rejeki, kamu tidak usah pinjam uang kepada saya. Anggap saja ini bantuan saya untuk kamu, agar anak-anakmu itu tetap dapat melanjutkan sekolahnya,” kata Pakde Haer sambil mengeluarkan uang dari saku celananya, beberapa uang ratusan ribu menyembul dari saku celananya.

“Aduh! Terima kasih banyak, Pakde. Saya tidak tahu harus bilang apa kepada Pakde. Saya hanya mampu bilang terima kasih kepada Pakde dan Pakde tidak usah khawatir saya akan menggunakan uang ini dengan sebaik-baiknya. Juga, saya tidak akan melupakan jasa Pakde har yang sangat berarti ini,” kata saya dengan hati meluap-luap.

“Ya sudah, sekarang kamu pulang sana, biar uang itu lekas dibayarkan oleh anak kamu. Biar kopinya saya yang bayar, yang penting kamu lekas pulang,” kata Pakde lagi. Saya pun langsung pulang, tentu saja saya sangat senang sekali, ternyata masih banyak orang baik di dunia ini yang masih disediakan Tuhan, pikir saya sambil berjalan pulang ke rumah kontrakan saya yang berada paling pojok di ujung jalan buntu itu.

Satu masalah terselesaikan dan setumpuk masalah lagi yang juga minta ikut diselesaikan masih menunggu di kepala, seperti bom waktu yang setiap saat dapat meledak, booom!, hancur berkeping-keping. Kalau diibaratkan besi, mungkin badan saya seperti besi itu yang sudah berkarat di mana-mana dan mungkin sudah tidak layak jual karena saking tuanya dan sudah keropos itu.

Di luar banyak masalah, di dalam pun pasti ada masalah, seperti cerita dongeng dengan masalah yang seribu satu macam saja rupanya. Padahal negeri dongeng belum tentu punya banyak masalah seperti yang ada di rumah saya. Masalah dengan anak istri, masalah dengan tetangga, belum lagi masalah dengan pemilik kontrakan yang juga ikut-ikutan menagih uang sewa rumah. Hidup dengan sistem irit dan hemat yang mengambil falsafah ‘kencangkan ikat pinggang’ kemudian lama-lama malah sering mengurut dada. Belum lagi seribu embel-embel permintaan anak-anak yang ingin ini ingin itu. Pemecahan yang sangat memusingkan kepala.

“Begitu saja kok dipikirkan, Pak, Pak, mbok ya mesti sabar. Mungkin saja kita sedang diuji oleh yang maha kuasa. Siapa tahu nanti hidup kita lebih baik, yang pentingkan kita sudah berusaha dengan sepenuh hati. Mbok ya nrimo saja,” kata istri saya yang waktu itu sedang berdiskusi dari hati ke hati di atas kasur bersama saya, emmbahas masalah sekitar kepemimpinan rumah tangga agar tetap bisa berjalan lancar dan stabil.

Istri saya memang benar, tapi kan kalau kita menerima saja keadaan tanpa tindak lanjut yang komprehensif, apa kita menerima saja keadaan itu sementara perut anak istri kelaparan. Siapa sih yang mau ‘nrimo’ hal seperti itu. Akhirnya keputusan akhir tetap berada di tangan saya, demi kelancaran anggaran dasar rumah tangga, saya akan pinjam uang kas milik kantor di tempat saya bekerja.

“Saya tahu dan mengerti keadaan Saudara,” kata atasan saya yang menjabat kepala bagian keuangan itu. “Tapi kan Saudara tahu sendiri kalau perusahaan kita sedang mengalami masalah yang mungkin lebih rumit daripada masalah Saudara sendiri. Sementara uang pinjaman Saudara bulan lalu pun belum Saudara lunasi. Jadi, saya mohon agar Saudara pun dapat memahaminya,” kata pak Sanusi, atasan saya, dengan sedikit persuasif. Saya keluar dari ruangan pak Sanusi bersama langkah kaki yang lemah lunglai, menuruni tangga menuju tempat kerja saya di sebuah ruang besar dan panjang serta berisi robot-robot yang juga besar dan hanya membutuhkan sedikit manusia untuk mengendalikannya. Apa suatu saat robot-robot itu akan menggantikan pekerjaan manusia ya, pikir saya sambil menatap kosong ruangan itu karena terdesak kembali oleh pikiran-pikiran yang membuat masalah pusing tujuh keliling.

“Kalau begitu, jual saja motor Vespa Bapak untuk usaha yang lain, seperti berjualan, begitu, Pak. Siapa tahu milik kita adanya dalam usaha kita berdagang, daripada setiap hari selalu menyediakan uang untuk membeli bensin,” kata istri saya, ketika pulang tidak membawa hasil.

“Di jual, motor bapak mau Ibu jual! Ibu kan tahu kalau motor itu satu-satunya harta warisan. Masak mau dijual begitu saja.”

“Daripada kita tidak punya pilihan lain, apa Bapak punya pilihan selain itu?’ tanya istri saya tambah sengit. Wah, kalau begini terus bisa terjadi keributan dan perpecahan dalam keluarga. Untung saja saya berpikir menggunakan dengan akal bukannya dengan amarah, kalau begitu kan bisa menambah masalah lagi, malah bisa tambah ruwet.

“Kalau itu maunya Ibu ya sudahlah, motor itu Bapak jual saja. Sekarang yang menjadi pikiran Bapak, Ibu mau jualan apa?”

“Apa saja.”

“Lho, kok, apa saja.”

“Ya, apa saja. Yang pentin kan hala dan menghasilkan uang. Begitu lho maksud Ibu.”

“Ya sudahlah kalau itu mau Ibu. Yang penting sekarang bagaimana aar motor Bapak itu memiliki harga jual yang memadai dan tidak terjual dengan harga rendah.”

“terserah Bapak. Cukup untuk modal saja pun Ibu sudah senang,” jawab istri saya dengan entengnya. Lha, laku saja belum. Lagi pula Vespa itu mau dijual berapa.

Ya sudah, beberapa hari kemudian motor Vespa peninggalan ayah saya dijual ke teman saya. Namun tetap berat hati saya melepaskannya. Di rumah kontrakan saya pun ternyata diijinkan untuk membangun warung kecil di depannya dan sisa dari membangun warung itu digunakan untuk modal dagang. Mulai dari sembako, jajanan kecil, minuman ringan, rokok, pokoknya apa sajalah yang penting bisa dijual dan halal. Itu saja sudah cukup untuk istri saya. Asal ada untuk anak sekolah saja, waah, girangnya bukan main.

Meskipun sekarang saya berangkat bekerja menggunakan angkutan umum, melihat segalanya makin membaik dan masalah mulai berkurang saja, hati saya juga ikut-ikutan senang. Pakde Har pun ikut senang melihat saya tidak uring-uringan lagi setiap hari di warung Ceu Fatimah. Ternyata juga, kalau semua beres yang pasti orang lain juga ikut senang dan sekarang bagaimana sebaliknya mulai menolong orang lain dari apa yang bisa kita bantu, selain mengutang di warung saya tentunya. Iya, tidak, hahahaha….****permanas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: