Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Hujan dan Aku

Posted by permanas pada 4 November 2008

Aku rasa semua orang setuju kalau hujan adalah berkah yang tak ternilai harganya, dan pemberian Tuhan yang paling mahal, jika tidak sekarang, mungkin nanti para manusia yang tinggal di bumi akan mengakuinya bahwa hujan, terlebih, air, adalah sebuah harta yang melebihi harga sebatang emas. Dan begitulah aku menyambut awan kelabu itu berduyun-duyun memenuhi langit tepat di atas kepalaku, menatap ke atas dan alam memberinya nyawa, energi listrik saling berlompatan. Ketika semua orang masuk saat melihat kilat menyambar-nyambar dan menciumi tanah, aku hanya tertegun, tanpa sadar malah tersenyum aku rasa. Dan sejumput lentik air mulai menjamah diriku perlahan-lahan, kemudian berubah menjadi butiran sebesar jagung. Alirannya begitu kuat menderas, meluncur, menabraki wajahku, menghujamku, tapi aku menganggapnya sebagai sebuah belaian, sebuah ungkapan, sebuah pemberian makna kalau ia -hujan- telah aku hargai sebegitu tingginya karena ia utusan langit dan perantara bumi. Tidakkah kau lihat, bumi dan langit seakan menyatu ketika hujan menghampiri tanah di tempat kita berpijak. Maka, segera aku mendongak dan memanjatkan doa serta puji-pujian kepada Tuhanku.

Lalu lantunan musikal doa-doa pun mulai berebutan keluar dari mulutku hingga lidah tak mampu lagi melafalkan setiap untaian kata-kata karena sebegitu hebatnya doa-doa itu mengumpul dalam rongga mulut karena kekerdilan diriku yang tidak bisa menampung terlalu banyak doa yang menyentak seperti halilintar menyambar-nyambar dalam sepersekian detik. Aku luluh, menangis, menyesal, karena ucapan doa yang tidak selesai. Namun, hujan tetap membelaiku, merasuk malah, menungguku, membisik melalui suara gemericik yang samar dan membentuk wajah dari mosaik bermiliar tetesan air yang berlomba menciumi tanah.

“Jangan sedih, doa-doa itu telah tersurat.” Aku mendongak waktu kesamaran berubah menjadi sebuah kejelasan. Seperti orang gila aku bangkit dan berlari-lari, aku kira seperti yang sering aku lakukan semasa kecil ketika bermandi-mandi hujan, basah-basahan dan berlarian tanpa arah mengelilingi lapangan luas, aku menganggapnya sebuah euforia singkat, sebuah kesenangan, sebuah ekstasi berlebihan. Aku kembali seperti anak-anak ketika hujan adalah berarti sebuah kesenangan. Dan, yah, aku kegirangan! Pada saat yang sama, seluruh orang di kampungku mengangap kalau aku sudah gila.

+++ +++

Aku melihat ketelanjanganku sendiri adalah sebagai sebuah anugrah yang tidak terbantahkan ketika semua orang menutup-nutupi kemaluan mereka sendiri dan menganggapnya adalah tabu kalau menghargai ketelanjangan sebagai sebuah kegembiraan yang patut dirayakan. Maka, sekali lagi mereka menganggapku sinting, kali ini mereka menertawakanku, sampai anak cucu mereka pun ikut-ikutan tanpa tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Aku terpojok, mereka mengepung. Aku lari, mereka mengarak! Aku diam, mereka ikut bisu. Menunggu aku membuat kelakuan baru yang bisa saja membikin mereka tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ketelanjanganku adalah sebuah eforia kampung. Setiap pagi mereka menunggu ketelanjanganku, ketimbang mereka menunggu matahari pagi, diriku lebih mereka tunggu.

Akhirnya, aku pun terlibat dengan perasaan girang yang tak kepalangan karena pasti mereka menunggu diriku lewat di depan pintu-pintu rumah. Dengan santai, senyumku mulai merekah, ketelanjanganku mulai aku lupakan dan beralih kepada bibirku yang pecah dan hitam untuk kupersembahkan kepada penunggu setiaku yang setiap pagi pasti akan berbaris pada halaman rumah mereka. Yah, mereka menunggu. Aku pun berlalu.

Wajah-wajah sahaja itu mengiang, mengambang dan lalu terbang melintasi awan-awan kelabu di antara kegembiaraan yang kuciptakan sendiri, sebenarnya hanya aku yang menganggapnya seperti itu, tapi biar saja, setidaknya mereka senang dengan apa yang kulakukan meski kejujuranku sendiri menjadi taruhannya. Dan aku sedih ketika kejujuran dan ketelanjanganku tidak dihargai. Mereka menertawakannya, dan aku menganggapnya itu adalah sebuah kejujuran, dan bagiku, mereka juga telanjang. Mereka menelanjangi diri mereka sendiri .

Dan, sekali lagi hujan menaungi ketelanjanganku sebagai manusia seutuhnya dan sebagai manusia yang di-manusiawi-kan alam. Ketika aku lari dalam badai, hujan merestuiku.

Satu Tanggapan to “Hujan dan Aku”

  1. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

    permanas menjawab: terima kasih atas apresiasinya. kalau itu berguna untuk orang banyak silahkan tautkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: