Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Kaki Langit

Posted by permanas pada 11 November 2008

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari kelak, kita cuma bisa melangkah mencari nasib kita sendiri sementara takdir menguntit di belakang –atau malah sudah menunggu di depan-. Aku mengarungi lautan waktu yang tak kenal lelah sampai melintasi batas-batas kesadaranku sebagai manusia dan aku mengetahui kalau kita –manusia- selalu ingin melangkahi keterbatasannya sendiri.

Ini bukan pertarunganku saja, tapi juga pertarungan kita. Masing-masing menjadi medan laga di mana peperangan terjadi antara kita dengan diri kita sendiri. Aku katakan ini kepada diriku sendiri kalau aku tidak terdiri dari satu. Ada ‘diri’-ku yang lain di sini, di jiwaku, yang tanpa sadar pernah berkata kalau diri ini adalah satu kesatuan. Padahal, ternyata, tidak!

Semua semakin terbuka lebar ketika mega menarik tirai fajar, semakin jernih dan jelas seperti embun jatuh ke pelukan sang ibu pertiwi dan mewartakan kalau peperangan ini tak mengenal akhir dan tak ada menang atau kalah, tidak menawan atau tertawan. Tapi kita tidak di pasung melainkan dibebaskan. Aku membebaskan diriku sendiri, bersahaja.

Alam ini tidak bisu meskipun tak dapat mengungkapkan kata-katanya sendiri, tapi kita dengar gemerisik daun kering jatuh melayang dihamparan tanah karena terjatuh dari rantingnya. Daun itu tidak sia-sia, ia rela karena ia tahu pucuk daun yang baru kan segera bermunculan mengantikan dirinya. Kita tak cuma mendengar tapi kita juga belajar melihat ke dalam, melihat kepada kesadaran diri kita sendiri. Dan ternyata, kita dapati, kalau alam ini pun mencoba m,emahami dirnya sendiri.

Hidup kita terbatas meskipun lautan waktu tak mengenal tepi, kita mencoba mencari banyak cara untuk membuat hidup yang terbatas ini menjadi seakan-akan tak terbatas dan mencoba mengingkari kalau kita memiliki keterbatasan. Kalau gagal, kita akan terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Tubuh kita akan hancur, remuk dan semua itu menjadi sia-sia.

Hidup ini bukan hanya sekedar tarian, tapi seluruh tarian menghiasi kehidupan ini, bukan hanya sekedar gerak dan alunan musik melainkan semua gerakan kita menjadi simbol dalam kehidupan ini dan musik menjadi alunan jiwa yang mendayu-dayu, namun tidak tenggelam dalam air mata juga bukan nyanyian kegundahan tapi nyanyian kedamaian yang lahir dari hati yang gundah karena hidup ini tetap melangkah maju.

Kita melayani diri kita dan hari melayani dirinya sendiri sampai senja di kaki langit. Dan, orang-orang yang kelelahan bersandar pada nasib yang tergenggam erat di tangannya meskipun jalan-jalan masih terlihat ramai. Ada semacam kerinduan yang dalam bersarang dan mengeramkan telurnya, telur dari induk kerinduan yang tak terobati. Kita mengisahkannya. Aku rasa, aku baru saja menangis!

Di kaki langit sana, tempat cakrawala membangun kerajaannya, senja mulai menyeret tudung gelap dan kita hanya diberi sedikit lilin penalaran dan cermin untuk melihat wajah kita masing-masing. Aku ingin menunjuk malam sebagai meja sidang, bulan sebagai hakim, dan bintang sebagai juri, sementara kita sebagai terdakwa sekaligus pembela.

Ini dunia, dan dunia tak pernah dianggap bodoh meskipun banyak kebodohan dan ketololan berjangkit di dalam tubuhnya. Kita membela diri kita sendiri karena didakwa bodoh dan tolol, dan menghakimi orang yang mencela kita. Tapi kita dihakimi diri sendiri kalau ternyata perbuatan itu tidak adil dan tidak benar, apalagi dibenarkan. Inilah dunia yang di dalamnya banyak terjadi sandiwara dan ternyata kalau ingin menjadi sesuatu dunia inilah tempat yang cocok. Di sini, di kaki langit, tempat kita berdiri, tempat kita berjalan dan tempat kita menjadi sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: