Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Amang Malang

Posted by permanas pada 8 Januari 2009

“Selamat pagi, Mawar. Selamat pagi, Kupu Mimi, Selamat Pagi, Tuan Kumbang,” kata Kancil pagi itu ketika ia sampai pada sebuah taman dengan kumpulan bunga-bunga yang indah. Ada si Pesolek Mawar yang melenggak-lenggok menggoda si Tuan Kumbang dan Kupu Mimi.

“Selamat pagi juga untukmu wahai, Kancil,” kata mereka serempak membalas ucapan si Kancil yang juga rupa-rupanya sedang bergembira. Terlebih si Pesolek Mawar.

“Terima kasih kembali,” jawab Kancil pula. “Wah, apa jadinya ya kalau di hutan ini tidak ada kalian semua. Pasti tidak akan pernah ada pagi secerah dan seindah ini,” lanjut Kancil.

“Ah, kau berkata jujur atau hanya menggoda saja, Kancil,” celoteh Mawar sambil senyum simpul.

“Iya, Kancil. Tidak biasanya kau bersikap seperti ini,” sambung Kupu Mimi lagi, sementara Tuan Kumbang sedang asyik masyuk menikmati sari madu kembang rerumputan yang juga ada di sana. Tentu, kembang-kembang itu menyambut gembira ketika Tuan Kumbang hinggap di antara kelopak-kelopak mereka yang bermandikan embun-embun dan siraman matahari pagi. Sorak sorai mereka pun tentu mengundang kumbang-kumbang lain untuk bergabung dengan si Tuan Kumbang.

Kemudian tiba-tiba Jalu hutan berkokok dengan nyaring untuk membangunkan mereka yang masih terlelap dalam tidurnya, dan suaranya menggema ke seleruh pelosok kampung hutan yang damai itu. Lain lagi dengan si Amang, penghuni pohon besar di samping kumpulan taman kembang-kembang itu. Ia tidak mempedulikan ajakan Jalu hutan untuk bangun dan menikmati pagi yang sangat cerah itu. Ketika yang lain sudah bangun dan ikut menikmati cahaya matahari, Amang malah kembali merebahkan tubuhnya pada dahan yang paling besar dan mulutnya menguap selebar gua di kaki gunung sana.

“Ah, dasar si Amang. Setiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan, apa dia tidak tahu ya, kalau hidup itu tidak hanya diisi dengan berlaku seperti itu,” kata Kancil lagi ketika ia menoleh ke pohon yang menjadi rumah si Amang.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Kancil,” rujuk Mawar. “Ia tidak seperti yang kau sangka, buktinya, setiap hari ia selalu memuji keindahan diriku ini.”

“Itu bagimu, bagiku tidak. Suatu hari ia akan merasakannya,” kata Kancil lagi. Setelah berkata demikian ia lalu pergi kembali masuk ke dalam hutan melewati semak yang masih basah.

Waktu si Kancil sedang asyik berjalan di pinggiran hutan sambil bersiul menikmati harinya yang cerah itu, ia dikejutkan oleh suara senapan. Suaranya sangat memekakan telinga. Kancil lalu bersembunyi dalam rerimbunan rumput. “Duar!!” sekali lagi suara senapan itu meletus membuat burung-burung kicau itu berhenti bernyanyi dan berhamburan menyelamatkan dirinya masing-masing. Maka, seketika saja hutan itu berubah menjadi hening. Sunyi, tidak ada gurauan tupai atau bajing yang biasa melintasi ranting-ranting, tidak ada lagi nyanyi kicau milik si Merdu yang biasa pagi sekali bernyanyi di ujung dedaunan.

“Apa yang terjadi, ya?” bisik Kancil dalam hati. Ia tidak tahu kalau dari balik pohon itu ada seorang pemburu masih bersembunyi  dan ia pun terkejut ketika orang itu sudah ada di belakang dirinya.

“Duar!” sekali lagi senapan itu meletus. Untung Kancil cukup sigap dan gesit. Kali ini nyawanya selamat, tembakan si pemburu itu meleset.

“Celaka, peluru itu hampir menembus dagingku,” pikir Kancil sambil berlari sekencangnya menabrak semua yang ada dihadapannya. “Aku harus memberitahu teman-teman agar mereka luput dari pemburu itu.”

Namun Kancil lupa sesuatu, ia meninggalkan jejak yang sangat jelas sekali. Oleh pemburu itu, jejak bekas Kancil diikutinya sampai kemanapun Kancil berhenti. Kancil kemudian kembali ke taman yang berada di dalam hutan. Pada saat itu Mawar si pesolek masih saja mengurusi wajahnya sambil senyum-senyum pada cermin embun. Sayang Kupu Mimi dan Tuan Kumbang sudah terbang jauh sekali, padahal ia ingin meminta bantuan untuk memberitahu kejadian itu pada teman-teman yang lain agar berhati-hati.

“Kenapa nafasmu tersengal, Kancil? Seperti kau habis dikejar oleh hantu rawa-rawa,” tanya Mawar setelah Kancil dekat dengannya.

“Ada pemburu, hampir saja peluru itu melumat tubuhku,” cerita Kancil.

“Untung kau selamat. Lantas apa yang akan kau perbuat?” tanya mawar lagi.

“Aku mau minta tolong kepada Kupu Mimi dan Tuan Kumbang untuk memberitahu kabar ini kepada teman-teman supaya berhati-hati. Sayang mereka sudah pergi semuanya.”

“Kau bisa memberitahu si Amang, ia kan masih tidur di sana,” kata Mawar sambil tangkainya menunjuk kepada si Amang yang pulas. Ia tidak tahu kalau bahaya tengah mengancamnya.

“Hai, Amang! Ayo bangunlah dan lekas bersembunyi,” teriak Kancil dari bawah pohon.

“Kau jangan ganggu tidurku, Kancil. Aku tahu itu hanya akal bulusmu saja, lebih baik kau ganggu saja yang lain. Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu,” kata Amang tidak peduli ucapan Kancil, malah ia membalikkan tubuhnya dan meneruskan tidurnya.

“Tapi kali ini aku sungguh-sungguh,” kata Kancil lagi mencoba meyakinkan amang. Sayang Amang tetap tidak mendengarkan. Amang kemudian menutup telinganya agar tidak mendengar suara Kancil lagi dari bawah.

“Duaaaarrr!!!” tiba-tiba sebuah letusan senapan kembali terdengar diiringi suara Amang yang kesakitan dan terjatuh dari pohon. Satu peluru menembus dadanya. Amang menatap Kancil sebentar, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi lalu menutup kedua matanya.

“Terlambat,” kata Kancil pelan. Ia sedih. Sekarang si Amang tidak ada lagi. Si pesolek Mawar segera menyuruh Kancil untuk lari dan sembunyi supaya tidak menjadi sasaran kedua bagi para pemburu.

Tak lama setelah itu, seorang pemburu keluar dari balik rerimbunan rumput-rumput dan mendapati si Amang sudah tergeletak di sana. Pemburu itu tersenyum kecil, meletakkan senjatanya dan mengikat si Amang untuk di bawa pulang dan memamerkan hasil buruannya itu kepada teman-temannya. Di matanya mengilat, merayakan kemenangan atas diri Amang. Setelahnya, bayangan pemburu itu hilang ditelan kesunyian.***

2 Tanggapan to “Amang Malang”

  1. sakurasyaoran said

    amang itu binatang apa sih?

    permanas menjawab:
    biasanya nama amang itu digunakan dalam fabel untuk menyebut orang utan. saya juga kurang tahu pasti, saya hanya memberi nama tokoh saya yang berupa orang utan itu dengan sebutan ‘amang’ saja. tanpa maksud apa-apa.

  2. dicky said

    Jadi inti ceritanya kita jangan malas2an kayak si amang? Atau jangan sering bohong kayak kancil?
    Nice story btw

    permanas menjawab: kedua-duanya (tapi interpretasinya terserah sidang pembaca). bukankah memang seharusnya seperti itu, maksudnya untuk tidak selalu bermalas-malasan setiap saat dan tidak mengumbar kebohongan kepada siapapun. sebenarnya aku juga termasuk tipe orang pemalas sih, hehehehe…, tapi bukan pembohong lho! setidaknya aku berjuang untuk tidak diperbudak kemalasan itu sendiri. jadi, kenapa kita tidak melakukan hal-hal yang penting dalam hidup kita mulai sekarang. ayo kita rubah dunia, kawan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: