Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Nyanyian Jangkrik

Posted by permanas pada 14 Januari 2009

Warung Mak Siti, warung yang berada di belakang pembuangan sampah itu, yang juga biasa dijadikan pangkalan pengamen, pemulung serta para tukang semir sepatu, berbaur dengan bau busuk menyengat. Gulungan asap dari pembakaran sampah menemani lalat yang beterbangan dimana-mana menjadi pemandangan biasa di sekeliling warung Mak Siti. Tapi, toh, mereka yang makan dan minum atau hanya sekedar mengobrol sambil menguyup kopi tak pernah merasa mengeluh. Pikir mereka di mana lagi bisa mendapat makanan murah meriah selain di warung Mak Siti, apalagi bagi mereka yang penghasilannya cuma dari sampah di sekitar sini.

Di sana Tole sengaja duduk di pojok, pikirannya melayang meninggalkan badan yang kurus, matanya lalu tertuju ke arah kerumunan para pemulung mengejar-ngejar truk sampah yang baru saja datang. Mereka berhamburan setelah sampah itu diturunkan, berlomba mengais rejeki di antara gundukan-gundukan sampah diujung sana.

“Persetan! Siapa yang peduli mengurusi perempuan itu,” kata Tole setelah membuang wajahnya dari kumpulan para pemulung. Sudah tiga hari ini Tole tidak menyentuh gitar bututnya, ia cuma bermalas-malasan di warung Mak Siti, ditemani segumpal awan hitam menggelayuti kepalanya. Andai saja waktu itu pak Sakir tidak bicara mengenai ibunya, orang yang selama ini tidak pernah ditemuinya, tiba-tiba muncul dari mulut pak Sakir.

Antara percaya dan tidak tentang omongan pak Sakir, Tole masih menimbang-nimbang. Benarkah ibunya yang diharapkan selama ini kehadirannya cuma seorang perempuan malam.

Sayangnya, Tole tidak punya ingatan apapun, Kadun, bapaknya sendiri tidak pernah bercerita apa-apa. Kali kemarin ketika Kadun pulang dalam keadaan mabuk, ia hanya bisa mengamuk dan mengoceh tidak karuan waktu ditanya Tole, benarkah kalau ibunya itu hanya wanita penghibur seperti yang dikatakan pak Sakir tempo hari. “Anak tidak tahu diuntung, jangan kau sebut-sebut perempuan itu lagi. Aku muak mendengarnya. Lagipula tahu apa si Sakir itu, mencampuri urusan orang,” bentak Kadun sambil melempar Tole dengan asbak rokok. Oleh karena itu Tole enggan pulang, satu-satunya tempat hanya warung Mak Siti dimana Tole biasa mangkal untuk sekedar singgah.

Mentari sepertinya sudah mulai malas senja ini dan ingin segera menarik selimut dari peraduan mega, karenanya membuat hari semakin merambat gelap. Lampu-lampu pijar di pinggir jalan mulai memperjelas cahayanya, bekerlipan laksana kunang-kunang berkerumun di antara sela-sela kegelapan.

Tole belum juga beranjak dari warung Mak Siti, remang cahaya membuatnya menjadi malas untuk bangun. Kalau sudah begitu dunia menjadi sempit untuk ditinggali, melihatnya saja sudah tidak karuan. Apa jadinya Tole malam ini, hanya ditemani nyamuk-nyamuk dan lalat-lalat keletihan mengitari kubangan sampah yang teronggok bersama bangkai seekor tikus buduk. Anak jalanan yang sudah menjadi tulang punggung trotoar itu masih melintasi lubang-lubang jalanan, menghitungi sampah yang beterbangan. Ceritanya menjadi angin lalu, terlupakan begitu saja seperti debu. Tak pernah menjadi perhatian.

Tak perlu lagi Tole memikirkan Kadun, bapaknya yang pecundang dan Jumirah, nama ibunya. Kesesakan hati sedikit terasa ringan, tak perlu lagi diingat. Mereka menertawakan nasibnya sendiri. Biar waktu sedikit bergulir dan orang-orang sibuk mencumbu mimpinya yang tak pernah sadar kenyataan ini membuat mereka terseret-seret.

Bila saja malam ini tak perlu terjadi, atau mungkin hidup ini sendiri tak perlu lagi berjalan, apakah Kadun dan Jumirah tak pernah menurunkannya ke dunia. “Ah, itu namanya menentang takdir,” pikir Tole di antara kesadarannya yang tinggal setengah itu. Tole berusaha bangkit meninggalkan tempat itu, biar sempoyongan ia tetap berjalan menelusuri lorong-lorong jalan.

Kelelahannya semakin menusuk jantung kehidupan dan tatapannya bertambah kosong, kian tak terarah. Ia kini bersandar di antara tembok-tembok tua yang menyambung dengan gerbang waktu, mengantarnya kepada sebuah mimpi. Langkah kaki yang gontai membawakan tubuh dekil dan penuh dengan luka-luka menganga, Tole cuma membiarkannya semakin membusuk. Melarikan diri dari kejaran ketidakpedulian yang mengantarnya kepada maut. Biar keringat membanjiri tubuh kumal, ia akan memberikan kebebasan dari jeruji-jeruji besi.

Biar saja malam semakin meninggi di atas sana dengan bulan yang bisu setelah hujan mengguyur hari ini. Tole tetap melangkahkan kakinya, tak peduli setan-setan memperhatikannya karena tidak ikut bergabung malam ini dan menari-nari di atas panggung tanpa cahaya dan tanpa pertunjukan. Tinggal keramaian dan ketidaktahuan mereka yang menyaksikan, dan dingin pun mulai menyelimuti keheningan, tak tahu apa lagi akan terjadi setelah ini.

Hanya Tole dan kesendiriannya malam ini disisa-sisa keheningan, di sudut tempat tidur dalam rumah bilik. Ia tahu, dan mungkin saja ia tidak tahu sama sekali, kalau kedua orang tuanya kini sudah pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Tole lalu mengabil gambar ibunya dari bawah tempat tidur. Potret itu seperti mendamaikan hati setiap ia gelisah.

“Ibu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu seperti dalam mimpi. Tidak, tidak, itu tidak akan terjadi malam ini. Tapi nanti, kelak aku ingin, kita tak akan pernah terpisahkan.” Tole membakar potret itu bersama angan-angannya.

“Perempuan memang cuma perempuan, dan wanita penghibur juga tetap seorang perempuan. Tapi ingat, ‘Le, dia itu tetap ibumu. Perempuan yang melahirkan kau ke dunia ini,” bilang Mak Siti tempo hari.

Tak sadar Tole membiarkan potret yang sudah terbakar itu jatuh ke atas kasur. Ia hanya menidurkan badannya yang kelelahan dan langsung dibuai mimpi-mimpi. Api sangat cepat merambat dan melahap apa saja yang dilewati. Dalam sekejap mata, rumah bilik itu sudah terbakar hangus. Membiarkan seorang anak tertidur selamanya. Tinggal suara jangkrik menembus kegelapan malam yang meninggalkan sebuah cerita menjadi kesunyian.***mei 2001.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: