Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Nina dan Burung Liar

Posted by permanas pada 2 Februari 2009

“Bu,” kata Nina pelan waktu ia dalam pelukan ibunya pada pembaringan yang cuma beralaskan tikar lusuh dan plastik kumal. Rumah mereka ada di pinggiran pembuangan sampah, begitu juga teman-teman Nina yang lainnya. Malam itu hanya gubuk milik mereka yang lampu minyaknya masih menyala.

“Iya, Nina,” jawab Ibu Nina dengan belaian lembutnya mengusap rambut Nina.

“Benarkah kalau burung yang liar dapat terbang bebas sekehendak hatinya? Biar tubuhnya kurus tap ia lebih bahagia daripada burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung,” sambung Nina lagi, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat ibunya tersenyum.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tadi siang Nina lihat burung Pakde Nur sepertinya merasa kesepian dan iri waktu beberapa burung pipit hinggap pada gundukan sampah dan melahap serpihan makanan dengan riang bersama teman-temannya. Nyanyinya merdu, tidak seperti burung Pakde Nur. Ia menatapnya dengan sedih.”

“Apakah ia benar-benar merasa sedih dan kesepian? Tapi kalau kau ingin tahu apakah burung yang bebas dan liar itu lebih bahagia, tentunya ia akan merasa bahagia kalau ia ingin. Begitu pula dengan burung kicau milik Pakde Nur.”

“Bagaimana dengan kita sendiri, Bu?”

“Kita pun akan berlaku serupa seandainya kita ada bersama-sama dengan mereka.”

“Tapi Nina akan lebih senang menjadi burung kurus dan liar itu.”

“Lalu?”

“Nina akan terbang dan hinggap di mana pun yang Nina suka dan senangi, asal itu membuat Nina senang.”

“Kalau begitu kau akan menjadi seperti apa yang kau inginkan.”

“Dan Nina akan membawa ibu serta dan menunjukkan tempat yang paling indah yang pernah kita datangi.”

“Tentu ibu akan bersamamu.”

“Tapi, mungkinkah ada tempat seperti itu, Bu?”

“Tempat seperti apa yang kau maksud?”

“Tempat di mana kita bisa merasa bahagia dan ceria, tidak ada kesedihan-kesedihan dan air mata, tidak ada pertengkaran. Rumah kita pasti akan penuh dengan tumbuhan dan kembang-kembang lalu kita akan undang banyak kupu-kupu dan kumbang untuk bergabung bersama kita. Membagi kebahagiaan itu bukankah hal yang paling indah kan, Bu”

“Itu memang suatu keindahan tersendiri. Tetapi tahukah kamu kalau keindahan adalah keindahan itu sendiri. Kau juga pasti tahu tentang nyanyi burung liar itu, Nina. Kau juga harus ingat, burung yang terbang tinggi itu bukanlah untuk bersenang-senang melainkan ia juga tetap mencoba bertahan hidup. Maka dilawannyalah angin yang kencang di atas sana. Ia tahu, kalau ia lemah pasti tidak akan mampu bertahan dari kehidupannya.”

“Lalu apa yang akan dilakukannya?”

“Ia akan terus berjuang untuk tetap hidup.”

“Apakah kita akan mampu bertahan, Bu?”

“Kita pasti akan mampu melewati semua ini, Nina, asal kita yakin terlebih dulu kalau kita mampu mengalahkan semua ini,” jawab ibu Nina. Setelah itu ia menyuruh Nina segera tidur karena pagi nanti masih banyak yang harus dikerjakan oleh mereka berdua.

Esoknya, seperti biasa, Nina bersama ibunya mencari kardus bekas, botol plastik atau besi tua yang dapat mereka temukan pada kumpulan sampah yang terhampar di sekitar pembuangan sampah. Sekali lagi Nina melihat kumpulan burung liar itu kembali hinggap pada pelupuk matanya. Burung-burung itu kembali mencari serangga yang bersembunyi di balik sampah-sampah yang membusuk. Nina semakin jauh dari ibunya yang terus saja memperhatikan mobil truk yang mengangkut sampah dan di belakangnya banyak sekali pemulung menguntit, padahal mobil itupun belum berhenti memuntahkan muatannya.

Dan tahu-tahu saja Nina sudah sampai di depan rumah Pakde Nur, pemilik rumah timbangan yang membayar hasil yang didapat oleh para pemulung di sekitar pembuangan sampah itu, termasuk ibunya. Nina melihat Pakde Nur masih saja memperhatikan burung kesayangannya ketika Nina semakin mendekat ke arah Pakde Nur, Nina sekarang berdiri di belakangnya, ia memperhatikan juga apa yang tengah diperhatikan Pakde Nur.

“Seandainya saja ia dapat terbang bebas,” kata Nina tiba-tiba tanpa sengaja. Pakde Nur sedikit kaget mendengar suara Nina dan tidak menyangka kalau sejak tadi Nina berada di belakang dirinya. Pakde Nur tersenyum mendengar suara Nina yang polos itu.

“Kenapa kamu ingin seperti itu, Nina?” tanya Pakde Nur sambil tangannya mengusap kepala Nina, tapi Nina masih saja memperhatikan burung yang tergantung pada sebuah tiang bersama sangkarnya yang terbuat dari kayu dan bercat emas, berkilau bermandikan cahaya matahari.

“Nina lebih senang kalau ia dapat terbang bebas,kalau ia masih terkurung ia akan bersedih karena kedua sayapnya tidak berguna untuk membawanya ke tempat-tempat yang dapat membuatnya senang,” jawab Nina.

“Darimana kamu tahu kalau burung milik Pakde itu senang atau tidak senang, padahal Pakde menyediakan sangkar yang bagus dan makanan yang banyak untuk dirinya. Tentu saja menurut pakde ia lebih senang, karena di luar sana kan banyak pemangsa yang dapat menerkamnya, sedang di dalam sana ia akan terlindungi.”

“Kalau begitu, kedua sayap miliknya tidak akan berguna, meski ia punya bulu-bulu yang indah pada tubuhnya,” jawab Nina lagi.

“Hahaha, Nina…, Nina,” kata Pakde Nur tertawa pelan dan hangat. Pakde Nur lalu berjongkok dekat Nina dan tetap memperhatikan burung yang tergantung itu bersama Nina. “Apa kamu menyarankan Pakde untuk melepaskan burung itu?” lanjut Pakde Nur.

“Itu kata Pakde, tapi kalau seandainya begitu, apakah Pakde mau melepasnya?”

“Entahlah. Tapi apakah itu akan membuat kamu senang seandainya Pakde melepasnya agar ia dapat menikmati alam bebas yang seharusnya memang dia berada di sana?” tanya Pakde lagi.

“Tentu akan senang, asal pakde juga merasa senang dengan apa yang Pakde lakukan.”

“Hahahahaha…., ah, Nina, Nina. Tahu tidak, sebenarnya Pakde juga merasa kasihan dengan burung itu. Tapi, baiklah, Pakde akan melepasnya kalau itu dapat membuat kamu senang. Mungkin burung itu akan berterima kasih kepadamu, Nina,” kata Pakde Nur sambil menuju arah tiang yang menggantung sangkar burung miliknya lalu menurunkannya. “Tapi pakde ingin kamu yang melepasnya. Kamu mau kan?”

“Benarkah, Pakde?”

“Tentu, Nina. Justru itu yang membuat Pakde senang bila kamu yang melepasnya. Sekarang ambillah sangkar ini dan lepaskanlah burung itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan, burung itu mungkin akan berterima kasih padamu,” kata Pakde Nur lagi sambil menyerahkan sangkar itu kepada Nina.

“Terima kasih, Pakde,” kata Nina. Ia lalu mengeluarkan burung itu. “Sekarang kebebasanlah milikmu, wahai burung, sekarang terbanglah sesukamu dan pergilah ke tempat-tempat yang indah. Tentu kamu akan menyukainya ketimbang sangkar ini,” sambung Nina lagi.

Maka, terbanglah burung itu, semakin tinggi dan terus semakin tinggi meninggalkan Nina dan Pakde Nur di bawahnya untuk dapat menemukan tempat-tempat yang indah dan menyenangkan seperti apa yang telah disuruh Nina kepadanya. Nina terus berlalu mengikuti arah burung itu terbang. Ia terus saja berlari berusaha mengejar.

“Terima kasih, Pakde Nur!” teriak Nina dari jauh setelah burung itu terbang semakin tinggi sambil melambaikan tangannya kepada Pakde Nur. Pakde Nur hanya tertawa dan ia pun membalas lambaian tangan Nina.

“Hahaha…. Yah, burung itu mungkin akan lebih senang menjadi bebas ketimbang terkurung,” kata Pakde Nur pelan setelah Nina hilang dari pandangannya dan bayangannya tenggelam di antara gundukan-gundukan sampah itu.

2 Tanggapan to “Nina dan Burung Liar”

  1. Angin hitam said

    Wally, Topik said you’ll be marry at June this year. Is truth (or dare)?. If true, congrat’s for you and sorry for your wife candidate. Did i know the poor girl who’s been marry you? Or, it just spam news from siborokokok?
    permanas: that just was spam messages.. if true, i only hope that women who i married, she happy marry me because she choose me to spend all of her time with me… i’ll happy if she happy too.. and she not a poor girls because marry me. i want she is the only one most happiness women who feel that great life with me, and she will born my sunsine child with smile. i have a dream, and want it came true, may God make it real, ameen..

  2. Angin hitam said

    Btw, jadi ini cerita burung pakde yang di elus2 nina, terus keluar…….
    hayoooooooooo, jangan pada ngeres……
    permanas menjawab: bukan, intinya… siapa saja pasti akan lebih merasa bahagia jika kebebasan diri adalah miliknya, bukan dikekang seperti burung kicau milik Pakde Nur itu… orang yang bebas akanlebih bahagia daripada orang yang terpenjara bukan?? mudah-mudahan seperti itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: