Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Sang Penari

Posted by permanas pada 19 Februari 2009

Samar, dari kejauhan terdengar suara genta memecah kesunyian yang membungkus malam. Di balik kehampaan jiwa yang mencari perlindungan, seorang perempuan tengah berdiri sambil menggerakkan tangannya perlahan dan dengan lembut mengitari kegelapan mengikuti suara genta ditabuh. Ia menari menangisi nasib tapi tidak merengek menjatuhkan diri dan menghentak bongkahan tanah, cuma air mata menerangi wajah pucat di antara riasan-riasan yang meluntur.

Warna-warna kelam melekat di tubuh gemulai. Genta itu masih mengiringi gerakan kesedihan, atau tarian tanpa alur cerita. Hanya kebisuankah untuk melewati malam ini atau makna-makna asing yang jauh dari pemahamankah ingin dijelaskan. Mungkinkah kata-kata tak dapat mengungkapkan bahasa gerak yang menginginkan pengertian kalau ia mencoba bicara. Dengar, adakah suara berbisik di tengah kesunyian ini, tidakkah ada yang mendengar. Ah, diri ini pun mempertanyakannya.

Tak ada suara, tak ada gerak, genta ini berhenti ditabuh. Perempuan yang menari di atas kesedihannya, ia tersungkur, lumpuh, sejenak dentingan dawai kecapi mengisi kekosongan dan membiarkan genta itu terlupakan dan nyanyian mengganti gerak yang tertunda, menyairkan jelmaan suara hati, bukan kesunyian yang dilewati atau makna-makna yang tak dapat dijelaskan. Kata-kata itu dapat mengerti bahasa gerak. Bukan bisikan yang tersurat, tapi suara-suara penuh pertanyaan meminta jawab.

Kenapa di samping perempuan itu pohon-pohon menggugurkan daunnya sementara ini adalah musim bersemi yang seharusnya menghadirkan aneka macam bunga untuk digunakan pada prosesi upacara ritual. Ranting mengering, kuncup-kuncup terkulai layu dan mati, menggagalkan mimpi kalau yang terjadi bukanlah tarian keceriaan penuh senda gurau. Ke mana kesendirian ini harus dipercayakan untuk ditentang atau dicintai, ke mana mesti meminta jawab.

“Perempuan, katakan kalau kesedihanmu itu bukan beban, tarianmu bukan kegelisahan dan nyanyimu bukan kata-kata yang tak didengar, karena masih ada yang ingin melindungimu.”

“Engkau, kesedihanku adalah untuk membuang beban, tarianku adalah belahan jiwaku dan nyanyiku adalah memang kata-kata yang ingin didengar, dan aku membutuhkan seorang pelindung.”

“Perempuan, air matamu bak permata tak terpermanai harganya, engkau adalah penari dan gerakanmu selalu sarat makna. Ungkapkanlah sebuah syair untukku malam ini.”

“Oh, Rembulan, mestikah aku mengadu kepadamu kalau aku ini hanyalah makhluk lemah hingga lidahku pun merasa kelu untuk mengatakan kalimat-kalimat keindahan. Jiwaku selalu rapuh setiap topeng-topeng hayalan menggerogoti kepolosanku sebagai seorang perempuan.”

“Perempuan, tanpa itu semua engkau sendiri adalah sesuatu yang sangat berharga, pertanyaan hatimu, carilah jawabnya tatkala engkau dalam kesendirian. Biarlah ini menjadi rahasia kita.”

“Engkau, malam tanpamu pun tak mempunyai arti lebih. Lewat naungan cahaya ini aku menari untukmu walau sepi menjadi pengiringku.”

Penari yang menari dalam gelap dan mencintai sunyi tak dapat dipahami kecuali ada yang menuntunnya. Kenapa rembulan dapat mencairkan hati batu perempuan penari itu sementara ada tangan-tangan yang ingin menariknya dari sana dan mendakwa rembulan telah merampasnya dari kehidupan nyata. Lewat tarian perempuan itu, menyangkal kalau rembulan menjadi terhukum, bukan hanya langit yang bersedih dan ancamannya adalah tak ada keindahan di setiap malam tanpa dirinya. Ia bergerak dengan pelan namun memiliki kekuatan.

Rasakan kekuatan gaib tarian-tarian yang selalu hadir dalam setiap sendi-sendi kehidupan, mantra-mantra, iringan tabuhan genta dan gendang, gerakan pun semakin cepat mengundang ruh-ruh untuk bergabung menikmati tarian penyambut kedatangan dan pengantar kepergian. Siapa yang dirasuki tak pernah sadar kalau tarian ini memiliki kekuatan. Pemangsa dan mangsa menjadi judul dari semuanya tatkala malam menyeret gelap sebagai sekutu dan menyembahkan tumbal untuk perjamuan ruh-ruh yang kehilangan jiwanya. Tarian tetap ada untuk mengabarkan kegelisahan serta ketakutan mereka. Syair diperdengarkan, membuat jernih raut muka dan bangkit dari kesadaran.

Kerincing yang terikat di kaki penari itu menggetak-getakkan tirai kabut menyelubungi mata hati mengibaskan badannya mengusir kabut yang semakin menutup penglihatan. Sebatang kayu kering mulai membawanya menghindari ketersesatan mencari jalan lurus dari kebutaannya meraba serakan daun-daun kering terhampar di tanah. Bertanya-tanya dalam dirinya apa yang mesti dilakukan bila semua berhenti bergerak dan berdentang untuk dijadikan petunjuk sementara cahaya redup pun tak ada dari penglihatan. Hilang begitu saja tanpa jejak. Ia berhenti menari, mengingkari janjinya kepada rembulan, untuk menanyakan kepada waktu di mana tempatnya berada saat ini yang tenggelam dalam kebimbangan mencari jati diri.

“Suatu waktu, terkadang kegelisahan bukanlah keadaan yang mesti dikhawatirkan, malah mungkin mulai timbul kesadaran. Perempuan yang bertanya pada dirinya sendiri selalu mencari ketenangan antara ketidakseimbangan yang melemahkan dirinya dan menguatkan jiwa dari kerapuhan. Orang menjadi kuat karena belajar dari kesalahan serta memahami kekurangannya. Engkau pun seharusnya demikian, dapat belajar dari pengalaman yang diberikan oleh kehidupan.” Tiba-tiba lantunan syair menyelinap ke dalam telinga. Tak ada rupa. Hanya suara sayup tertangkap dalam keterbatasan jarak pandang.

“Rembulan, engkaukah itu? Aku hanya seorang penari, apa yang mesti aku ketahui sementara sebagian orang menganggapku buruk dan hina. Haruskan aku menari untuk mengiringi kematianku sendiri dan mengubur dalam-dalam jelmaan makna dalam gerakan tubuh untuk membungkam kata-kata yang tak sempat terungkap lidah. Mengangkat gerakan dan mengunci mulut adalah kematian pikiran yang jatuhnya sama saja. Untuk apa hidup itu sendiri dalam keadaan demikian?”

“Hidup bukanlah untuk main-main. Hidup adalah apa yang membuat kehidupan menjadi hidup. Hidup tidak bisa mengikat gerakan tapi membebaskannya, juga bukan mengunci mulut rapat-rapat untuk mematikan pikiran. Tapi gerakan dan kata-kata menyatu dalam kehidupan dan itu membuat semuanya menjadi tampak lebih hidup. Tarian melengkapi alur dan gerak menjadi indah agar kehidupan ini tidak menjadi statis. Kau seharusnya merasa bangga dengan dirimu.”

Semilir angin menyingkapi kabut-kabut tebal menjadi tetesan embun dan menempeli daun-daun yang berserakan di tanah. Kesejukan mulai terasa dalam kebimbangan, perempuan itu mulai menggerakkan tangannya kembali dengan penuh rasa bebas pengungkapan jiwa-jiwa tertawan yang mencari perlindungan di bawah cahaya rembulan. Bayangan keindahan memenuhi janji dalam tarian penyambut keberkahan.

“O, Rembulan, gerakanku adalah gambaran cahayamu membelah diriku seperti daun yang diterobos oleh sinaranmu ketika malam. Tak lagi diri ini gundah mengiringi tarian kematian sekaligus kelahiran, karena kau menemani.”

Suara-suara sunyi itu semakin samar terdengar dan berubah menjadi hening, dari kejauhan tak tampak apa pun juga, hanya pohon-pohon kering mematung di sana. Semua lenyap ditelan kegelapan yang masih misteri. Waktu berjalan mundur melewati apa yang telah dilalui untuk dipertanyakan lagi.***permanas/gang kresna/2001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: