Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Manusia

Posted by permanas pada 27 Februari 2009

Jadi apa yang membuat seseorang harus merangkak di bawah bayangannya sendiri, justru pada saat ia benar-benar sendirian. Kerinduan kah? Pencarian makna kah? Atau kesejatian? Lalu kenapa ia harus rela melepaskan semua yang ada pada dirinya, apakah kesia-siaan selama ini yang melingkungi, kebosanan yang terus saja menguntit. Ah, bayangan itu tidak pernah menguntit, bahkan ia adalah seorang kawan.

Apa yang kau bicarakan dalam kesendirian, dirimu kah? Orang-orang di sekitarmu kah? Orang-orang yang pernah dekat denganmu atau orang-orang yang telah pergi jauh melampaui masamu sendiri? Tentu saja aku membicarakan diriku ketika hanya kelengangan yang ada. Aku memang mencari ingatan tentang orang-orang di sekitarku, orang-orang yang pernah dekat dan orang-orang yang pergi dari kehidupanku. Kau tahu, sejarah itu berguna hanya ketika kita melihat kembali masa lalu. Tapi, bukankah memang itu fungsi sejarah, sebagai jendela untuk pergi ke masa lalu. Melihat orang-orang yang pernah ada yang mengukirkan tinta dari pena miliknya sendiri, dan menulis sejarah di sana.

Masing-masing kita menorehkan tinta sejarah dalam lembaran waktu, adakalanya lembaran itu saling menjalin satu dengan lainnya, adakalanya tidak pernah bersinggungan sama sekali. Ada saatnya waktumu dan waktuku bersentuhan, ada kalanya kau tidak pernah tahu siapa aku, bahkan aku tidak tahu siapa kau. Tapi sejarah tetap tertoreh di masing-masing lembaran. Sejarah waktumu dan sejarah hidupku. Kita hanya sebagian dari keseluruhan. Potongan yang jika disatukan akan mewujud menjadi sesuatu yang agung dan dahsyat.

Manusia ditakdirkan sendirian, ia harus menggeliat keluar dari keterasingan dirinya sendiri. Manusia juga ditakdirkan sebagai pemberontak. Sebagai pemberontak maka ia merobek-robek nasib yang digariskan untuknya, ia bisa merubah dan mengganti menurut pikirannya sendiri. Semesta berdiri di belakang manusia sehingga kehendak apapun akan dengan mudah terjadi melalui cara-cara yang tidak pernah dapat diduga-duga. Keberadaan adalah cara lain manusia membunuh kesendirian dan keterasingannya. Jadi, aku sendiri pun harus merangkak melewati bayanganku dan mencari keberadaan yang aku rasa, aku belum mampu menemukan kesejatiannya, dan menduga-duga, pada satu saat, manusia dan kemanusiaan bukanlah identik, bahkan bukan saudara kembar, dan tidak pernah manusiawi. Manusia pada satu sisi tertentu tidaklah manusiawi dan jauh dari rasa kemanusiaan. Dan di lain pihak, aku harus dipaksa benar-benar percaya, keberadaan manusia di bumilah yang tidak manusiawi. Dan harus tetap percaya, bahwa beradanya manusia di bumi adalah berarti beradanya ‘keberadaannya’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: