Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Dongeng Burung Liar

Posted by permanas pada 10 Maret 2009

“Bu, kenapa bapak belum pulang juga?”

“Sabarlah, Ni, nanti bapakmu juga kembali,” jawab Ibu kepada Ani sedikit membisik.

Di rumah gubuk itu hanya mereka berdua, hanya lampu minyak yang menerangi sepetak ruangan itu menggambarkan dua sosok manusia bercumbu dan bertarung dengan kegelisahannya. Seorang bocah kecil bernama ani, mencumbu mimpi-mimpinya yang hanya cermin wajah di depan dinding bilik berbincang dengan bayangannya sendiri, sementara seorang ibu yang selalu menjaga anaknya bertarung melawan perasaan gelisah, antara harapan dan keputus asaan yang menggelayuti mereka.

“Bukankah bapak perginya sudah lama? Ani lelah menunggu, Bu. Ani sudah tidak tahan lagi menahan lapar,” tak lama ani bertanya lagi sambil menatap ibunya dengan penuh pengharapan lalu memegangi perutnya yang sudah agak cekung.

“Sabarlah sedikit lagi. Sekarang tidur saja dulu, biar ibu yang menunggu bapakmu sementara kamu tidur.”

“Bu,Kenapa Tuhan membiarkan kita menderita sendiri di sini sedang di tempat lain orang-orang tertawa lepas sambil memegang piring penuh makanan. Apa tuhan sudah tidak peduli lagi kepada kita ya, Bu?” tanya ani lagi dan merebahkan kepalanya di kaki ibunya. Ibu hanya menari nafas panjang dan terdiam tak tahu mesti menjawab apa.

“Kenapa kamu punya pikiran seperti itu, bukannya Tuhan tidak peduli kepada kita, tapi ini adalah cobaan hidup yang mengajarkan kita untuk selalu tabah dan sabar. Apakah kamu ingat apa yang pernah dikatakan bapakmu kalau seekor burung yang gemuk dan kenyang tapi terkurung di sangkar emasnya. Nah, kita pun harus demikian,” jawab Ibu, lalu tangannya kemudian mengusap-usap kepala Ani dan merapikan selimut kotak-kotak milik Ani. Di situ terselip sebuah boneka buaya yang mulutnya menganga menampakkan taring tajam siap menerkam.

“Kenapa mesti demikian, Tuhan menciptakan kita semua kan dalam keadaan yang sama, derajat dan kedudukan yang sama di matan-Nya.”

“Ya, memang begitu keadaannya, kita memang semua sama di hadapan-Nya. Hanya amal dan perbuatannya saja yang membedakan satu sama lainnya. Artinya tidak semua kesenangan itu mendatangkan kebahagiaan, hanya kesederhannaan yang terbungkus timbang rasa bijaksana yang dapat bertahan lama. Sekarang kamu mengerti?”

“Mengerti, Bu. Ani ingat kalau burung liar itu seperti yang pernah diceritakan bapak, maukah Ibu menceritakannya kembali untuk Ani?”

“Ibu pasti mendongengkannya untukmu, asal setelah itu kamu langsung tidur ya. Biar ibu yang menunggu bapakmu.”

“Baik, Bu.”

“Sekarang ibu akan bercerita. Begini, burung terbang untuk mencari makan. Tidak mengandalkan siapa pun kecuali kepada kedua sayapnya. Ia kibaskan sayap itu dengan sekuat tenaga dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Ketika ia berada di atas, ia tidak berlaku congkak maupun merasa dirinya paling bagus dan paling indah. Burung terbang bukan untuk senang-senang, apalagi memamerkan keindahan serta kelebihan dirinya. Tidak, bukan itu yang dicari oleh seekor burung.”

“Lantas apa yang dicari seekor burung bila ia terbang di atas sana?”

“Burung terbang untuk mencari makan, seperti yang ibu bilang tadi, untuk melepaskan rasa lapar dan haus dirinya. Walaupun ia mendapat sedikit makanan, tapi ia bukannya berkecil hati atas apa yang ia peroleh, malah sebaliknya ia merasa bangga. Bangga atas apa yang telah diperolehnya, biar sedikit, ia mendapatkan dengan tenaganya sendiri. Berarti ia telah mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tidak berpijak dengan bantuan orang lain,” Ibu berhenti sejenak untuk memeriksa apakah Ani sudah tidur atau belum.

“Terus apa lagi, Bu?” kata ani yang ternyata belum tidur. Ibu hanya tersenyum kecil dan melanjutkan cerita itu sekedar menunggu waktu yang mulai larut.

“Sekarang, burung yang masih berada di sarangnya itulah kamu saat ini. Untuk terbang saja ia belum mampu, namun demikian ia percaya terhadap dirinya sendiri kalau ia pun bisa terbang seperti burung dewasa. Sambil mengepak-kepakkan sayapnya yang mulai ditumbuhi bulu yang sudah bagus. Dalam hatinya tumbuh kepercayaan yang sangat kuat untuk berani berkata dengan yakin, ‘saya bisa, saya harus bisa, saya yakin pasti bisa’. Semakin lama kepakannya semakin mantap dan lama-lama ia pun dapat terbang seperti yang lainnya. Karena apa? Selain niat dan belajar, ia percaya akan kemampuannya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan burung lain untuk memberinya makanan.

“Setelah ia dapat terbang tinggi melayang-layang di angkasa, ia tidak merasa bangga, malah semakin sadar bahwa tantangan hidup serta tanggung jawab atas dirinya semakin besar seperti badai yang siap melahapnya sewaktu-waktu jika ia lalai. Karenanya ia harus terus berjuang agar tetap bertahan hidup dari ganasnya kehidupan ini. Begitulah kira-kira perumpamaan antara burung dengan kehipan yang kita jalani ini. Ibu harap agar kamu dapat memahaminya sebagai salah satu pelajaran yang dapat ibu berikan. Tapi jangan lupa, masih banyak yang mesti kamu pelajari dari kehidupan ini yang sudah disediakan oleh alam dan kehidupan itu sendiri. Karena proses belajar tidak mengenal usia, di mana pun, kapan pun, asal kita punya tekad yang bulat untuk belajar dan memahami, di situ kita dapat belajar.”

Sesekali suara jangkrik menyelinap masuk ke dalam gubuk mereka, semilir angin juga ikut menyusup ke dalam membuat dingin ruangan itu. Keheningan malam di luar bukanlah suatu kebisuan yang terjadi, tapi sebuah kedamaian yang tersembunyi di antara bayangan lampu minyak yang tersamar sinaran rembulan menyatu dalam lindungan ketenangan malam.

“Kenapa Tuhan menciptakan alam semesta ini, Bu?”

“Alam diciptakan Tuhan, karena alam semesta di dunia ini bukan hanya untuk dinikmati saja, alam semesta ini diciptakan Tuhan juga untuk dipahami, dimengerti, dan kemudian dipelajari oleh kita semua agar alam ini tetap lestari dan tidak rusak. Alam sudah banyak sekali memberikan pelajaran yang berguna dan bermanfaat untuk kita, karena itu tugas kamulah sebagai generasi penerus untuk tetap mempelajari segala seluk beluk alam yang terkadungn di dalamnya. Karena bukanlah sesuatu yang mustahil kalau di balik setiap keindahan mengandung banyak pelajaran kalau kita mau mengaitkannya ke dalam kehidupan ini dengan amat jeli menangkap setiap gerak-gerik alam. Maka kita akan menemukan salah satu pelajaran yang alam berikan sebagai pengalaman yang berharga agar kelak dalam menjalani hidup ini kita selalu dalam jalan yang benar dan selalu ingat kepada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu yang terkandung di dalam alam semesta ini, juga sebagai salah satu guru dalam kehidupan kita ini. Sekarang kamu paham?”

“Paham, Bu.”

“Kalau begitu sekarang tidurlah, hari sudah larut dan jangan berkata apa-apa lagi.”

Ani pun tertidur walau sambil menahan perut yang lapar sejak pagi tadi. Bapaknya pergi ke kota yang hanya berbekal keterbatasan kemampuan mencoba mengadu peruntungan untuk sesuap nasi buat dibawa pulang sebagai buah tangan ala kadarnya untuk anak dan isterinya yang sekarang menunggu antara keputus asaan dan harapan yang terus bergumul. Tinggallah ibunya seorang diri bertajuk bayangan wajah yang mulai diselimuti kepasrahan untuk tabah dan bersabar.

Satu Tanggapan to “Dongeng Burung Liar”

  1. Zaki said

    Tulisanmu mengena lagi. Entahlah, aku yang terlalu lemah atau memang benar tulisanmu itu tulisan yang mampu menggambarkan sebuah pengalaman hidup bapak dan emakku…
    Aku…seandainya Tuhan memberiku sayap, aku ingin terbang dan membantu orang2 yang membutuhkanku(lihat video AFTER DARK-asian kung-fu generation).

    Tuhan begitu adil padaku. Dia telah memberikan berbagai hal yang sangat kuhargai dan kusayangi. Keluarga, sahabat, guru2, senior2, dan mungkin suatu ketika nanti Dia akan memberiku hal yang lebih menakjubkan lagi.
    Di dunia ini aku belajar banyak hal. Selama 15tahun ini mungkin aku telah menyia2kan waktuku, namun sekarang saat sisa umurku tinggal sedikit Tuhan memberiku anugerah lagi. Tuhan masih mengijinkanku untuk kembali kepada jalanNya.

    Mungkin mata yang kumiliki bukanlah mata yang indah bagi orang lain, namun bagiku mata ini sangat indah dan berarti karena dengan mata ini kumampu melihat dan belajar dari dunia ini.
    Aku bukan orang yang padai berkata. Bukan orang yang padai dalam segala hal. Namun pasti, kelahiranku di dunia ini bukanlah sesuatu yang ada dengan sia2. Pasti Tuhan mengijinkan aku terlahir untuk terus menjadi seseorang yang berguna untuk smua orang yang kumiliki.
    [komenku ngga nyambung ya? Maaf.] oy, aku minta tolong. Boleh? Aku minta dibuatkan puisi atau cerpen ato apalah yang pasti di dalamx mengungkap bahwa mereka yg kumiliki sangat berarti(kirim ke email ku). Tolong ya kang? Namun jika tidak sempat tidak masalah. Terima kasih. InsyaALLOH kapan2 kunjung lagi.

    permanas menjawab: hahahaha…. padahal aku menulisnya semudah mungkin agar bisa dicerna semua orang… hikhikhikhiks… yah, sudah kubilang kan, setiap orang memiliki unikumnya sendiri-sendiri, bukan nasib atau takdir yang menentukan (semua bisa dirubah) tergantung kita mau merubah diri kita atau tidak! pernah mendengar teori ‘mestakung’ nah gunakan kekuatan itu untuk merubah apa yang ingin kita rubah (atau baca saja buku ‘the secret’ rahasia-rahasia terbesar kehidupan untuk menolak apa yang tidak suka dan meraih apa yang kita inginkan, semua sudah tersedia, tinggal kita menginginkan atau menolaknya… itu terserah kita sendiri! hei, semesta selalu berada di belakang diri kita. dan jika kau tengah mengalami kesakitan, ingat ini ‘your mind can heal you!‘ untuk masalah menulis sesuatu untuk kamu, baiklah, Insya Allah, aku akan membuatnya untukmu…. jadi, tetaplah tersenyum, karena dunia selalu mengharapkan kau seperti itu.. ayolah.. tersenyum sekarang juga.. nah, begitu kan lebih baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: