Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Marry Anne Clark (1975 – 2002 ): “Aku ingin hidup sedikit lebih lama”

Posted by permanas pada 8 April 2009

“Dulu aku mampu berdiri, aku melihat lintasan itu menantangku. Sekarang ia merayakan kemenangannya atasku. Tapi aku masih sanggup untuk lantang duduk di sini, meski hanya menggunakan kursi roda. Aku terlalu lama merindukannya, Tom,” kata Marry pelan. Perempuan itu tampak kurus pucat, ia duduk pada kursi roda dan Tom berdiri di belakang Marry.

Dulu Marry adalah seorang pelari tercepat di kelasnya, 100 meter baginya hanya sejengkal saja dengan kakinya yang indah dan panjang. Beberapa penghargaan telah melingkari lehernya dengan berbagai medali, tangannya telah banyak memeluk rangkaian bunga yang semerbak. Namun, itu dulu, sekarang Marry cuma menatap lintasan itu menggaris kosong. Biasanya setiap pagi ia latihan di tempat itu sampai Tom, suaminya, harus menjemput dan mengingatkan agar jangan terlalu keras dengan dirinya. Dan suatu ketika, kecelakaan itu terjadi.

Marry tergelincir, membuat dirinya tersuruk ke luar lintasan dan membentur pagar penghalang dengan keras. Kakinya patah dan pergelangan kakinya menggeser hingga menyebabkan pembengkakan dan penyumbatan aliran darah. Marry sangat membutuhkan pertolongan medis dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan, di situlah awal petaka bagi dirinya. Sesuatu yang tidak diinginkan, Marry harus hidup bersama dengan penyakit yang mengerikan itu. Ia hanya menunggu penyakit itu memakannya hidup-hidup. Marry tidak akan menyerah begitu saja, tidak, Marry ingin hidup beberapa tahun lebih lama lagi bersama Tom, bersama orang-orang terdekat yang begitu Marry sayangi. Ia akan tetap berjuang. Marry tahu itu. Dan, Tom juga sangat mencintainya.

“Sudahlah, sayang, kau sudah mengalahkan lintasan itu. Baik dulu maupun sekarang, kau telah menang atasnya,” jawab Tom penuh kasih sayang kepada Marry. Tom berjongkok di depan kursi roda Marry. Tom menatap begitu dalam mata perempuan yang ada di hadapannya, ia tahu ia akan berbagi apa pun kepada Marry, begitu juga sebaliknya. Penderitaan yang mereka alami berdua.

“Tak seharusnya kesalahan itu terjadi padaku. Kalau jarum yang menembus kulitku itu telah mengandung sesuatu yang akan memakanku hidup-hidup,” kata Marry lagi. Kali ini nadanya seakan menyesali apa yang telah terjadi atas dirinya. Marry mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Ia melihat seorang perempuan muda sedang berlatih pada lintasan kesukaannya, Marry iri melihat kaki yang indah dan panjang itu, seperti miliknya. Marry menundukkan pandangannya kepada kakinya yang telah cacat. “Aku benci kaki ini, aku benci kaki ini,” hentak Marry tiba-tiba, ia ingin menolak kenyataan dirinya tapi tidak mampu untuk bergerak sejengkal pun dari kursi roda.

“Sayang, kau harus tabah. Kau tangguh, kau akan mampu melewati semua ini.”

“Sampai kapan, Tom, Sampai kapan? Kau tahu aku sudah kalah sejak terakhir kali aku melintasi lintasan itu. Aku tidak sanggup lagi, Tom.”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, kau masih memiliki aku. Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu barang sekejap pun, tidak akan, Marry, tidak akan,” rujuk Tom. Sekarang Marry mencoba bersandar dalam pelukan Tom. Ada suatu kekuatan baru menghantarkannya kepada Marry. Ia ingin bersemangat lagi, ia tahu ia tidak kalah. Perasaan ini hanya sementara. Marry tahu itu.

“Bawa aku pergi dari sini, Tom,” bilang marry. Tom melepaskan pelukannya.

“Baiklah, kau memang tidak perlu lagi melihat masa lalu di sini. Kau adalah dirimu yang sekarang ini aku lihat, sayangku,” kata Tom sambil mendorong kursi roda Marry menjauh dari lintasan merah itu. Marry agak menoleh sedikit, kembali ia melihat perempuan muda itu kini berlalu dengan gemulai, seakan ia tidak berlari, ia melayang, ia terbang, ia mengalahkan lintasan itu seperti dirinya dulu yang mengalahkannya. Marry ingin kembali ke sana, ia tahu ia sudah tidak dapat lagi, maka ia hanya menatap ke depan saja. Hidup bukanlah di belakang, Marry harus menantang sesuatu yang baru dengan melawan sekuat tenaganya sampai ia benar-benar tidak sanggup lagi untuk meneruskan semuanya.

“Ya, bawalah aku pergi, Tom. Atau, bawalah aku terbang,” bisik Marry dalam hati, ada setitik air mata membelah wajahnya yang putih pucat itu.

***

Rumah sakit Angel saat itu sedang ramai, tiba-tiba saja sebuah ambulan menyerobot masuk ke depan pintu UGD dan menarik sebuah tempat tidur dorong untuk meletakkan seorang pasien yang baru saja mengalami patah tulang dan penyumbatan aliran darah pada tulang kakinya.

“Marry Clark, seorang pelari, mengalami patah tulang dan penyumbatan pada tulang dan pergelangan kaki. Segera hubungi dr. David, ia akan menangani segera kasus ini,” kata seorang petugas medis yang mengantar seorang pasien bernama Marry Clark. Seorang perawat bergegas mengganti petugas medis itu dan dan yang lainnya segera menghubungi dr. David, ahli tulang pada rumah sakit itu.

Marry masih tidak sadarkan diri, ia pingsan. Tak lama setelah itu dr. David sudah ada di sana dan menangani kasus Marry. Dr. David dibantu beberapa orang perawat segera memasang beberapa alat elektronik penunjang kehidupan, sebuah infus sudah menggantung di sana dan detak jantung Marry terlihat tidak stabil.

“Sekarang dia sudah stabil. Kondisinya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selain kakinya. Aku akan memindai lukanya,” kata dr. David, seorang perawat segera menuruti perintah dr. David. “Adakah seseorang yang bisa dihubungi untuk memberitahukan keadaan Marry Clark di sini?” tanya dr. David lagi.

“Suaminya sedang menunggu di luar,” jawab perawat yang lain sambil menggantungkan infus dan mengikuti tempat tidur dorong di mana Marry terbaring.

***

Ruangan putih itu begitu hening, yang ada hanya suara kecil dari alat deteksi jantung Marry. ia terbujur kaku di tempat tidur yang juga berwarna putih bersih, ia masih memejamkan kedua matanya.

Tapi, ada sesuatu yang berubah, Marry berada dalam lintasan merah yang selalu ditantangnya selama ini, ia berlari, dan terus, sampai Marry merasa ia sedang tidak berlari di sana, dia terbang, Marry melayang. Gerakan itu begitu lambat, ia melihat orang yang meneriakinya supaya lebih bersemangat pada bangku-bangku yang terjajar di sepanjang pinggiran lintasan, seakan asing. Marry tidak tahu kenapa ia ada di sana, ia hanya tahu kalau ia sedang berlari, tidak, dia terbang dan melayang di sana. Marry mengalahkan lintasan itu. Marry juga melihat Tom di sana. Dan tiba-tiba saja sesuatu membuatnya kehilangan keseimbangan, kecepatan yang tinggi itu tidak dapat dikendalikan, orang-orang yang melihat kejadian itu hanya dapat berdiri kaku dan melihat Marry semakin terlontar jauh ke depan. Begitu juga dengan Tom, tangannya menggapai tapi tidak sampai ke tangan Marry, ia menggenggam kosong sementara Marry semakin terpuruk.

“Tidaaaaaakkkk…!” teriak Marry. Ia terbangun. Pandangannya hanya menatap langit-langit ruangan di mana Marry terbujur kaku di sana. Ia tidak dapat merasakan kakinya, tidak, ia bahkan tidak mampu menggerakkannya. Marry tidak dapat merasakan tubuhnya dari dari pinggang sampai ujung jari kakinya. “Apa yang terjadi dengan kakiku? Bukankah aku tadi… tidak, tidak ini tidak mungkin. Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi,” kata Marry mencoba menenangkan dirinya, ia tahu dirinya selalu dapat dikendalikan. Apakah kali ini ia akan berhasil mengendalikan dirinya, ia masih terbujur kaku pada ruangan yang hening dan sepi itu, cuma irama detak jantungnya saja yang terasa semakin kencang.

***

“Hai, Marry, kuharap kau baik-baik saja,” sapa Hill dan Clint, tetangga mereka, ketika pasangan itu berkunjung ke rumah Marry. Hill membawa beberapa makanan kecil untuk dinikmati pada acara bersantai mereka sore itu.

“Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir,” jawab Marry sambil mengayuh kursi roda ke arah mereka dan menyalaminya dengan senyuman khas milik Marry. ia tahu, Tom jatuh cinta kepada dirinya hanya karena ia selalu dapat tersenyum apa pun yang terjadi. Marry selalu mampu tersenyum.

“Di mana Tom?” tanya Clint sambil memperhatikan sekeliling ruangan dan tidak mendapati sedikit batang hidung Tom.

“Ia masih di belakang. Kalau dia mendengar suaramu pasti ia akan segera menyudahi pekerjaannya.”

“Pasti dia sedang mengutak-atik mobil rongsok itu di garasi belakang.”

“Ya, aku rasa kau tepat sekali, Clint. Tom selalu menghamburkan waktu luangnya dengan mobil tua itu.”

“Betapa bodohnya dia membiarkan seorang bidadari seorang diri di dalam sini,” pikir Clint sambil berlalu ke belakang dan memanggil tom dari garasi.

“Lelaki memang begitu, bukan. Tapi, kau juga tidak perlu risaukan hal itu, aku telah mendapat lebih dari yang kubutuhkan kepada Tom,” jawab Marry lagi dan membiarkan Clint menemui Tom.

“Apa yang sedang kau lakukan itu, Marry?” tanya Hill ketika melihat rajutan kecil pada pangkuan Marry.

“Hanya pekerjaan iseng saja,” jawab Marry dan segera menaruh rajutan itu. Ia ingin menyembunyikan perasaannya kepada Hill. Marry tidak ingin bercerita tentang perasaannya yang satu itu. Sayang, Hill sudah memperhatikan lebih dahulu, Marry tahu kalau Hill adalah satu-satunya tetangga yang memperhatikan dirinya. Sejak tetangga mereka mengetahui Marry terinfeksi penyakit itu, banyak tetangga mulai menjauhinya, bahkan mulai mengasingkannya. Tom tidak memperdulikan mereka. Bagi Tom, Marry saja sudah cukup membuatnya bahagia, apa pun yang terjadi atas diri mereka. Tom tidak peduli.

“Aku rasa tidak,” jawab Hill sambil duduk pada sofa dekat Marry.

“Apa maksudmu, Hill?”

“Aku rasa kau kesepian. Kau membutuhkan lebih dari Tom dan kami.”

“Aku…, aku tidak mengerti.”

“Kau membutuhkan kehadiran yang lain, sesuatu yang kau kandung dan kau lahirkan dari rahimmu sendiri.”

“Seorang anak? Hill, kau tahu aku tidak dapat melakukan itu sejak aku mengalami semua penderitaan ini. Terlebih dengan penyakit yang harus kulawan.”

“Kau bisa mengadopsi.”

“Dengan keadaan seperti ini. Kau sendiri? Kau sudah lama bersama Clint. Kau pun belum mampu melakukannya.”

“Kau mengalihkan pembicaraan, Marry.”

“Itu sama saja. Tapi tidak apa-apa. Hei, apa yang kau bawa itu?”

“Brownies. Kau mau?”

“Ya, beri aku sedikit saja.”

“Sebentar. Kupotongkan untukmu,” kata Hill sambil menuju ke dapur untuk mengambil pisau dan beberapa buah piring untuk potongan kecil brownies itu. Pada celah dinding jendela, Hill melihat suaminya dan Tom masih saja bercanda dan tertawa di belakang sana. “Dasar laki-laki, mereka tidak akan pernah merasa dewasa,” kata Hill dalam hati dan kembali ke dalam menemui Marry. Sekarang Marry meneruskan rajutannya. Tidak ada yang disembunyikan Marry kepada Hill. Ia rasa Hill benar akan perasaannya. Biar Tom memberi perhatian yang lebih kepadanya, tetap saja ada sesuatu yang seakan hilang dari bagian dari dirinya. Ia tidak sanggup melakukannya, meski Tom tidak terlalu mempermasalahkan hal yang satu itu.

***

“Kau akan baik-baik saja, Marryku sayang. Aku tahu kau akan begitu,” kata Tom pelan seakan membisiki Marry yang masih tertidur ketika Tom menjenguknya pagi itu.

“Permisi,” seorang perawat mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan putih itu. Bagi Tom semua yang ada di tempat itu seakan sama, bahkan pakaian suster itu pun tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Perawat tersebut melakukan pemeriksaan rutin, mengecek denyut jantung Marry dan merapikan posisi tidur Marry. Marry masih belum bergerak sedikit pun.

Tom agak menjauh dan menatap keluar jendela. Ia teringat perkataan dr. David yang memberitahu kalau Marry, setelah ia mengalami cidera itu, perkiraan dr. David meleset, pendarahan dalam kaki Marry membuatnya menjadi lumpuh. Dr. David menjelaskan kalau kasus yang dialami Marry adalah kasus yang langka dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Pikiran itu mengiang di kepala Tom ketika ia melihat keluar jendela dari kamar 209 di lantai 3, di bawahnya ia melihat seseorang dengan susah payah mengayuh kursi roda. Ia akan melihat Marry akan berlaku seperti itu. Selain mengalami kelumpuhan, ia juga didiagnosa terjangkit virus HIV dan pihak rumah sakit mengklaim bahwa peralatan medis mereka seluruhnya higenis dan memisahkan pasien berdasarkan penyakit mereka, terlebih penyakit berbahaya dan menular.

“Tuhan, kau sedang memberi ujian dalam hidup kami. Orang yang kucintai sekarang tidak bisa merasakan kakinya, ia tidak bisa lagi merasakan betapa begitu indahnya melayang dalam udaramu yang sejuk. Ia seorang pelari yang handal, tapi kau merenggut apa yang paling dibutuhkannya, kebanggaannya. Dan sekarang, ia juga harus hidup bersama penyakit yang sangat memantikan. Tapi aku tahu, kau tahu apa yang terbaik untuk kami jalani,” kata Tom dalam hati.

“Tom,” tiba-tiba Tom mendengar Marry memanggilnya dengan lirih sekali. Tom langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas menghampiri Marry. Tom duduk di samping Marry sambil menggenggam tangan kanan Marry. Marry membalasnya.

“Ya, sayangku,” jawab Tom mesra sambil memberi ciuman pada kening Marry.

“Terima kasih, Tom, karena kau ada di sini,” kata Marry lagi setelah ciuman hangat di keningnya telah memberinya sebuah kekuatan.

“Ada yang ingin kukatakan, Sayang, tapi…., ah…, aku tidak sanggup mengatakannya,” kata Tom. Ia ingin menangis, tapi tidak ingin memperburuk keadaan Marry. Ia takut.

“Tidak apa-apa, Sayangku, aku sudah tahu. Kau tidak perlu mengatakannya, aku hanya butuh kau untuk menjalani semua penderitaan ini. Kau tahu aku tangguh, bukankah aku sudah mengalahkan banyak rintangan, kau tahu aku akan mampu melewati semua ini. Aku hanya butuh kau di sampingku,” kata Marry sambil mengusap kepala Tom yang jatuh ke dalam dekapan Marry. Ia tahu, Tom ingin menyembunyikan air matanya dari dirinya. Marry selalu tahu itu.

“Dokter bilang, kau tidak akan merasakan kakimu lagi, kau lumpuh. Mereka tidak bisa mengobatimu karena kasus yang mereka temukan kepadamu sangat langka terjadi. Terakhir mereka bilang kau juga didiagnosa telah terjangkiti virus HIV. Pihak rumah sakit mengklaim kalau itu bukan kesalahan mereka. Aku takut kehilangan kau, Marry, aku tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya,” kata Tom lagi.

“Kita akan menjalaninya, Tom sayang, kau tahu itu. Aku sudah tahu, Tuhan juga tahu, kita sanggup melawannya. Aku tidak akan menuntut siapa-siapa atas kesalahan itu. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat yang pucat ini. Apakah wajahku menjadi sama dengan warna dinding itu,Tom?”

Tom mengangkat kepalanya dan menemukan Marry begitu lemah. Tom juga tahu, virus itu sudah mulai menjamah kekebalan tubuh Marry. “Kau tetap terlihat cantik, Marry-ku sayang. Ah, kau selalu tahu kalau aku jatuh cinta padamu dari kecantikan yang kulihat sekarang.”

“Kau berbohong padaku. Kau tahu aku sudah tidak lagi cantik sekarang.”

“Aku tahu.”

“Kau selalu tahu, Sayangku.”

***

“Kau harus terbiasa dengan keadaanku yang sekarang ini, Tom. Aku hanya butuh kau, tidak dengan yang lainnya,” kata Marry setelah mereka baru sampai di depan rumah. Tom membantu Marry keluar dari mobil dan mencoba berusaha duduk di kursi roda yang sudah menunggunya, dan akan menjadi teman Marry setiap hari.

“kau berhasil, Marry,” kata Tom setelah Marry duduk pada kursi rodanya. Biar kudorong,” lanjut Tom.

“Sayang, aku masih sanggup melakukan hal ini sendiri. Biarlah aku yang melakukannya, sekarang, kau ambil saja barang-barang itu di bagasi,” suruh Marry dan ia bergegas menuju rumah. Rasanya, bagi Marry, itu sudah bertahun-tahun lamanya Marry meninggalkan rumah yang dicintainya bersama dengan Tom.

“Baiklah.” Tom harus bergegas, takut Marry membutuhkannya di dalam.

Hari-hari pertama pulang dari rumah sakit agak asing bagi Marry, tapi Tom selalu mendukung. Tom selalu membesarkan hati Marry agar ia selalu kuat dalam menghadapi cobaan yang sudah menunggunya di luar sana. Berita tentang Marry cepat menyebar ke daerah sekitar, ketika Marry berjemur di halaman depan setiap pagi, orang-orang yang melewati rumah mereka, seakan ada yang berubah dalam tatapan itu. Marry tidak mengerti, tapi ia tidak peduli. Padahal sebelum ia seperti sekarang ini, banyak dari mereka mengelu-elukan dirinya atas apa yang telah diraihnya. Sekarang pandangan itu berubah, mereka semakin menjauh. Kecuali Hill dan Clint, mereka berdua selalu memperhatikan perkembangan Marry, meski mereka tahu, Marry sering terlihat sakit dan lemah.

“Kau terlihat tidak sehat, Sayang,” bisik Tom. “Lebih baik kita kembali ke dalam dan beristirahat.” Tom mendorong kursi roda Marry. Marry tidak menjawab, sesekali ia terbatuk dan nafasnya terlalu rapat.

“Aku ingin merebahkan diriku dekat jendela, Tom,” pinta Marry pelan. Tom menuruti. Memang di dekat jendela ada sebuah sofa berwarna biru muda yang nyaman disediakan Tom untuk Marry.

***

Lain hari, Marry tampak terlihat sehat dan ceria. Marry pasti selalu mengajak Tom untuk berjalan-jalan ketika suasana hatinya sedang cerah. Kesempatan itu dipergunakan dengan baik oleh Tom. Maka ia akan mengajak Hill dan Clint untuk turut serta mengobrol di taman terdekat, tidak jauh dari rumah mereka.

“Kau tampak sehat, Marry,” sapa Hill ketika mereka sudah sampai pada taman yang teduh. Semilir angin menerpa wajah Marry, ia memang sedang ceria sekarang. Tidak dengan Tom.

“Aku selalu begitu, bukankah begitu, Tom, Sayang?” tanya Marry.

“Kau tahu, kau selalu berseri sepanjang hari seperti kembang musim semi dan buah cerry yang berwarna indah. Kau selalu tahu itu,” kata Tom. Ia berbohong kepada Marry. Tom ingin pergi sejenak dari sana, bersembunyi dan menangis sebisanya. Tapi tidak, Tom tidak bodoh seperti itu, ia bukan pecundang. Ia adalah kekasih Marry, seorang perempuan yang teguh dan kuat ada ditangannya. Tom tidak akan menyia-nyiakannya.

“Ya, kau selalu begitu Marry. bukan begitu, Tom?” sambung Clint lagi sambil menyodorkan sebuah minuman kaleng kepada Tom.

“Ya, ia selalu saja begitu. Terima kasih,” jawab Tom memaksakan senyumnya.

***

“Aku ingin kembali melihat lintasan merah itu lagi, Tom. Maukan kau membawaku ke sana?” pinta Marry. Ia semakin bertambah pucat.

“Tapi lebih baik kita tunggu saja sampai kau merasa baikan.”

“Aku merasa sehat. Ayolah, Sayang, sebentar saja,” bujuk Marry. Tom tidak dapat menolaknya, takut Marry menjadi sedih.

“Rasanya sudah terlalu lama sekali, Tom. Sayang aku tidak bisa mengalahkan lintasan itu lagi. Tapi, bawalah aku ke jalur itu, Tom, bawalah aku berkeliling sekali saja. Aku rindu untuk melintasinya,” pinta Marry lagi.

“Baiklah, Sayang. Tapi apa kau nanti tidak kelelahan, kau harus selalu menjaga kesehatanmu, jangan memaksakan dirimu sendiri.”

“Kumohon, sekali ini saja.”

“Baiklah, sekali ini saja,” jawab Tom dan membiarkan dirinya membawa Marry mengelilingi lintasan merah itu.

Dalam bayangan Marry, ia mengenangkan sorakan-sorakan ramai mengarah kepadanya. Karena ia bagaikan bidadari yang lincah ketika berada di lintasan itu, ia merasa terbang, melayang, ia bahagia bisa melakukannya lagi. Biar sekarang sorakan riang itu hanya ada dalam bayangannya saja. Pandangan Marry semakin redup, sesekali Tom mendengar Marry menarik nafas, ia sedikit batuk dan lalu kembali menyandar pada sandaran kursi rodanya.

“Sebaiknya kita kembali pulang, Sayang,” kata Tom membujuk agar Marry tidak terlalu bersikeras berlama-lama di tempat itu.

“Aku lelah. Kalau begitu bawalah aku kembali. Tapi kau tahu, aku iri kepada perempuan yang ada di sana, ia memiliki kaki yang indah dan panjang seperti yang pernah aku miliki,” kata Marry.

“Kau tetap memiliki kaki yang indah dan bagus, lebih bagus dari gadis itu.”

“Kau bergurau, Tom.”

“Aku tidak sedang bergurau. Aku sungguh-sungguh, Sayang. Itu benar.”

“Aku percaya. Sekarang aku bisa merebahkan diriku.”

***

Pagi itu sungguh cerah, burung-burung merpati beterbangan dengan bebasnya, awan-awan itu berarak tenang seperti tidak ada satu hal pun yang terjadi di sana. Ketika seorang laki-laki yang berusaha tidak mengeluarkan airmatanya, berdiri sambil memandangi batu nisan yang di kiri dan kanannya membentuk pahatan anak-anak dengan sayap pada punggung mereka. Laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun untuk beberapa saat. Mencoba mengabaikan rasa kehilangan, tapi tidak sanggup dilakukannya.

Marry Anne Clark, 1975 – 2002. Di sini terbaring lelap seorang perempuan yang telah melalui hari-harinya yang berat dengan tegar dan sabar. Sekarang dan selamanya, ia telah pergi dengan damai dalam keberkahan naungan Tuhan. Istri dari Tom Clark, yang tetap mencintainya sampai kapan pun.

Begitulah Tom berdiri di hadapan batu nisan Marry. Tom meletakkan sekuntum mawar yang masih wangi, mencium batu nisan Marry seakan ia benar-benar mencium kening Marry.

“Selamat jalan, Sayang,” kata Tom pelan dan meninggalkan makam Marry dengan hati yang masih sedih.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: