Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Kerinduan Eksistensi

Posted by permanas pada 14 Mei 2009

Bagi sebagian orang pengakuan akan keberadaan mereka adalah penghargaan yang tak pernah ternilai. Adanya orang lain adalah berarti beradanya mereka secara utuh sebagai pribadi maupun sebagai makhluk sosial di mana mereka hidup dan berada. Sementara keterasingan diri adalah sebuah penderitaan yang menjauhkan mereka dari rasa peng-aktual-an akan keberadaan mereka. Dan keterasingan adalah apa yang mereka ingin coba jauhi di tengah hiruk pikuk peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka tidak ingin ketinggalan satu informasi apapun sebagai salah satu bentuk pengungkapan akan keberadaan mereka.

Ketika ‘sendirian’ itu sudah begitu mengikat, sesuatu memberontak. Gelisah adalah awal dari pemberontakan itu sendiri, bergulat dengan keterasingan yang berusaha untuk ditolaknya. Cara apa pun bisa ditempuh sejauh kesanggupannya untuk melawan keterasingan itu sendiri. Banyak orang menyebut keadaan seperti itu adalah sebagai sebuah pelarian. Atau, bisa saja, hanya sekedar berlari. Jika tidak ingin disebut sebagai ‘pelarian’.

Mempertentangkan eksistensi diri dengan kebutuhan sosial akan kehadiran individu dalam suatu kelompok atau lingkungan bisa saja rumit bisa saja tidak, tergantung kemauan si individu atau si selompok itu menerima atau menolak kehadiran satu sama lainnya dalam satu lingkungan yang sama. Dan penolakan memang tidak diharapkan dalam sebuah proses ‘mengada’.  Saya coba akan merujuk kepada sebuah kota besar super sibuk yang tidak pernah tidur sedikit pun, di mana waktu begitu sempitnya, sampai-sampai hanya sekedar saling menyapa pun orang sudah tidak punya waktu untuk itu. Waktu benar-benar dihitung secara cermat dan tepat, bagi mereka yang tidak ingin ketinggalan satu apa pun dalam pergerakan waktu yang tak kenal lelah, dan untuk menjadi selalu yang terdepan. Apa yang terjadi ketika suatu rasa gelisah menghentak mereka? Ya, jika saya hidup seperti itu, saya akan benar-benar merasa terasing. Saya tidak ada, saya ada jika hanya pada saat saya memburu waktu bersama orang-orang yang juga memburu waktu mereka. Yang menyamakan kami hanya ketika memburu waktu itu, setelah itu, individu-individu adalah pribadi yang tertutup. Dan satu-satunya yang ditakuti adalah kematian. Seperti ketika Heidegger bilang, “Ketakutan terbesar manusia dalam sejarah hidupnya adalah menghadapi kematian”. Jadi ketika keberadaan saya mulai terancam, saya juga mulai mencurigai kematian sebagai penyebab hilangnya keberadaan saya untuk hidup dan mengada, sampai-sampai saya mencoba menipu kematian dan mengakalinya agar keberadaan saya sendiri tetap utuh. Meski saya tahu kalau saya tidak mungkin memenangi pertarungan ketika melawan kematian atas keberadaan saya sendiri.

Hidup memang ironis, tapi merasa sendiri adalah sesuatu hal yang sangat keterlaluan dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Penolakan atas diri pribadi adalah sebuah penyiksaan yang tidak dapat diterima begitu saja. Dan kehilangan akan sesuatu yang berharga memang bisa mengurangi keberadaan diri sendiri.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: