Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

pengkhianatan itu….

Posted by permanas pada 27 Oktober 2009

Jangan terlalu percaya jika tidak ingin dikhianati. Begitulah kira-kira yang terlintas dalam benak saya ketika mulai mempercayakan sesuatu kepada orang lain, terutama masalah emosional. Semakin lama pikiran saya itu semakin menggila dan terus menghantui, karena bukannya mustahil kepercayaan yang saya berikan itu bisa berujung kepada pengkhianatan, karena kepercayaan saya yang tanpa curiga itu. Alhasil, saya benar-benar dibuat meradang meski saya sering mensugesti diri saya sendiri bahwa semua akan baik-baik saya mengenai kepercayaan yang saya berikan kepada orang lain itu.

Permasalahan lain muncul ketika saat  membaca suatu kalimat, jangan mempercayai siapapun selain diri sendiri. Dan saya semakin mati kutu dibuatnya hanya karena sebuah masalah yang saya percayakan kepada orang lain dan itu membuat saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan dan tidak bisa apa-apa selain uring-uringan, mundar-mandir dan melongo di depan pintu tempat tinggal saya, dan pintu-pintu lain yang sengaja dibiarkan terbuka. Ketakutan saya ini semakin membuat saya habis akal, tidak bisa berpikir sedikit lebih jauh dari permasalahan percaya mempercayai, dan karena takut akan dikhianati dan dahsyatnya dampak pengkhianatan kepada diri sendiri dan lingkungan.

Anehnya, apapun masalahnya saya tetap mempercayakan pemecahan itu kepada orang lain yang saya percayakan tapi saya tidak benar-benar percaya kepadanya. Setiap gerak dan geriknya selalu saya perhatikan, tidak luput barang sejenak pun dan apapun yang ditulis, dibicarakan, di mana dia dan kapan dia pergi, informasi itu selalu saya peroleh dari sumber-sumber yang selalu saya dapatkan sesuai kebutuhan saya. lebih gila lagi, sumber-sumber itu mengatakan dengan jujur, lebih jujur dan lebih valid daripada apa yang dikatakan orang yang saya percayakan permasalahan yang saya percayakan kepadanya tapi tetap tidak saya percaya sepenuhnya. dan itu memang benar-benar gila. saya telah berubah menjadi seorang paranoid. meski beralasan ketidakpercayaan saya, tetap saja itu paranoid.

Saya, mau tidak mau, harus berdamai dengan diri sendiri,  keadaan, lingkungan, dan orang yang saya percayakan tersebut dengan mengatakan bahwa saya memang tidak pernah percaya kepadanya, meski mencoba menyerahkan masalah saya dengan tetap dimata-matai, saya tetap tidak percaya. Selesai sudah. Walhasil, saya mengikuti apa kata kalimat yang saya baca tempo hari: “Jangan mempercayai siapapun selain diri sendiri”. Dan, ya, saya tidak percaya siapa-siapa sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: