Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

Purnama di Kampung Mah Tong

Posted by permanas pada 4 November 2009

Sawaludin Permana

Musim gugur baru saja mengetuk. Daun-daun mati warna coklat tua berserakan dan akhirnya kembali mengarungi udara kosong, menemui tempat lain yang kering dan gersang. Baru saja pohon-pohon itu melepaskan keteduhannya, sekarang ia telanjang dan ranting-ranting mencakar langit. Burung yang singgah dan lelah itu tidak akan pernah kembali lagi. Kesepian cuma sebuah awal dari keterasingan yang sangat menakutkan, atau ketakutan itu yang kesepian.

Lalu, ada perempuan menyendiri mendiami tempat sunyi setelah tahu ia tidak bisa melihat untuk kedua kali. Apa yang dilihat cuma gelap, tatapan yang terbuka kelopaknya itu kosong, sinarnya pergi jauh. Ia tahu musim gugur telah sampai di telapak kakinya tapi tidak tahu keindahannya. Ingin mengerti kalau sesuatu yang pergi itu adalah untuk membiarkan yang baru lahir. Ia menatapnya, tapi kosong. Biar jendela terbuka, ia hanya merasakan angin saja, tidak mampu melihat sesuatu bergerak dengan gemulai.

“Aku tahu, aku tidak mampu melihat kembali apa-apa yang dilukiskan dunia sekarang ini, aku tidak tahu lagi apa yang membuat burung-burung menyanyi atau daun-daun bergemerisik. Lagunya hanya mampu kudengar tapi tidak tahu di mana ia menyanyi atau desirnya mengayun. Haruskah aku meratapi apa yang sudah hilang. Tidak, aku tidak sebodoh itu. Sekarang yang menuntunku hanya tangan kurus dan hanya diam memandang jendela yang aku tidak tahu apa yang sedang dilukisnya kepadaku. Aku tidak tahu,” kata Marai, rambut panjang terlepas dan jatuh mengikuti pundaknya. Wajah Marai pucat, tangannya gemetar, dingin. Baju putih yang dikenakannya seakan tenggelam bersama dirinya, jauh dari jendela. Marai seperti lukisan mati dalam bingkai yang lusuh dan tidak bercahaya.

“Waktu cahaya itu pergi dari pandanganmu bukan berarti kau tidak layak lagi meneruskan hidup, bukan berarti lentera yang kau pegang telah padam. Meski tak dapat melihat, lentera yang ada padamu akan mampu menerangi yang lain dalam gelap. Kau masih sanggup menuntun dirimu sendiri,” ucap Nang Anai ketika ia membuka pintu kamar Marai dan mendengar kata anaknya. Hati perempuan tua itu miris, meski ia tidak tahu harus berbuat apa, Nang Anai hanya mampu membesarkan hati Marai. Nang Anai merasa, hanya karena gelap, bukan berarti tidak ada cahaya bersembunyi di baliknya. Marai masih saja memandang ke luar jendela.

“Bilang, Nang, kenapa ini yang harus terjadi? Bilang, Nang, bilang,” kata Marai lagi sambil menangis. Nang Anai tidak mampu bicara dan melihat Marai menjatuhkan dirinya ke lantai meratap sejadi-jadinya. Nang ingin menghampiri, kakinya terpaku pada lantai, ia tidak sanggup melangkah untuk mengangkat kepala Marai. Perempuan tua itu hanya mampu memandangi Marai melelehkan airmatanya pada lantai kayu.

*** ***

Malam terang bulan. Saat itu kampung Mah Tong baru saja merayakan panen besar, para penduduk baik tua maupun muda saling berbaur pada alun-alun kampung dan keramaian itu diisi dengan puji-pujian dan nyanyi riang saling bercampur dengan tawa anak-anak.

Di antaranya ada Marai, gadis belia itu dengan semangat menyala melingkar bersama gadis-gadis lainnya dalam tarian mengelilingi api unggun. Tarian dipersembahkan kepada Dewi Kesuburan dan Dewa Hujan agar keberkahan yang mereka rasakan akan tetap berlanjut sampai tahun-tahun mendatang, menjauhkan petaka dan bencana dari kampung Mah Tong dan penduduk serta tanahnya yang subur membentang sampai ujung bukit.

Ada satu pasang mata terus menguntit gerak Marai ketika ia melepaskan senyumnya dengan mata berbinar saling memberi kehangatan dalam lingkaran yang tak pernah terputus selama tarian itu melingkari api unggun. Satu mata itu tidak akan pernah lepas lagi, ketika Marai sadar ada yang menguntit geraknya sejak tadi, lalu segera membalas pandangan itu dengan kehangatan yang sama, malah lebih membakar dari api di hadapan Marai. Ia tahu, ada sesuatu di antara batas yang perlahan mulai terjalin dan akan terus membentuk rajutan-rajutan halus membentang di antara mereka. Gelap kemudian berbaur dengan tubuh Marai

Jung terlihat bingung, menyusup di antara desakan-desakan keramaian yang menyembunyikan pandangannya terhadap Marai. Seakan kumpulan keramaian itu sengaja menculik Marai dari Jung, meski Jung terus menyusup dan membelah kumpulan itu. Jung hampir jatuh, tapi ada tangan halus segera menggapai tangannya. Jung terperangah mengetahui siapa yang menggenggam tangannya dengan lembut dan ramah, sama seperti senyuman dan sebaris gigi putih bersih, membuat Jung tersihir.

“Kau pandang aku begitu lama, sekarang luluhkan hatiku,” kata Marai setelah Jung sudah berdiri dan mereka berhadapan. Sama seperti adat yang biasa dilakukan di kampung Mah Tong, setiap laki-laki yang menyukai perempuan dan membuatnya jatuh hati maka laki-laki itu harus menyusun serangkaian kata untuk dapat meluluhkan perempuan yang disukanya agar dapat sampai ke dalam pelukannya. Tapi sebelum itu ia harus menaklukkan hati sang gadis.

“Apa yang harus aku katakan lebih jauh. Tanpa aku mengatakannya, kau sudah membuatku tenggelam dalam pandangan yang membakar, tapi kau tidak membuatku menjadi arang. Kau malah menghidupkanku lebih jauh dari sekarang,” balas Jung.

“Kalau begitu kau harus lebih berusaha agar dapat meluluhkan hatiku,” balas Marai dan pergi meninggalkan Jung dikeramaian.

“Apa ini berarti kau menyuruhku untuk mendapatkanmu. Ah, bodohnya aku tidak menanyakan siapa namanya. Oh, bodohnya aku,” bisik Jung dalam hati mengetahui kesempatan baik baru saja lepas dari genggamannya.  “Ahahahahaha…..! Aku jatuh cinta!” akhirnya kata Jung seakan ingin memberitahukan perasaannya kepada dunia dan meneriaki telinga malam. Itu hal biasa di kampung Mah Tong. Pasti dalam setiap keramaian, beberapa pasang muda-mudi bertemu pasti akan meneriaki kata yang sama, mereka jatuh cinta kepada apa yang telah membakarnya dan lupa kepada sekelilingnya, bahkan kepada diri mereka sendiri, termasuk Jung.

“Jung, ia selalu saja begitu,” kata seseorang yang melihat berlari serupa orang kesurupan dan menabraki orang-orang.

“Ya, musim ini bagus. Selain panen melimpah, banyak orang muda jatuh cinta. Seperti Jung, tapi ia lebih bahagia dari yang lainnya,” sambung orang tua lain lagi ketika melihat Jung sudah hilang dari matanya.

“Pemuda beruntung. Tapi siapa gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta seperti itu. Semoga saja bukan gadis-gadis seberang yang menyusup ke sini. Jika begitu, itu petaka baginya, juga bagi kita.”

“Siapa yang tahu selain Jung sendiri. Yang pasti malam ini banyak berkah terlimpahkan pada kampung kita.”

“Ya, ya, aku setuju satu hal, mungkin aku juga akan jatuh cinta.”

“Kau sudah tua. Mau kau kemanakan perempuan tua yang menemanimu sejak masa gadisnya telah kau lamar, he?”

“Tua bukan berarti tidak bisa merasakan jiwa muda sedang dirundung cinta. Aku ingin merasakan sekali lagi sebelum sesuatu terjadi padaku.”

“Aku janji akan mengantarmu ke kuburmu, tentu itu tidak akan kulewatkan dalam sejarah hidupku.”

“Begitu juga aku,” dan kata-kata itu pun saling melengkapi sampai keceriaan dan tawa membius mereka sepanjang malam.

*** ***

“Pagi ini ladang menungumu, Jung, cangkul itu harus kau tajamkan sekali lagi, sabit itu harus kau ayunkan tinggi-tinggi. Rumput telah menantangmu,” kata Nang Mhak.

“Nanti saja,” jawab Jung pelan. Sepagian itu Jung masih saja bermalas-malasan bersandar pada tiang kayu dan menggantungkan kakinya. Menantang cahaya matahari.

“Jung, kau tidak ke ladang?” panggil Phak ketika ia melintas di depan rumah Jung.

“Kau saja duluan, aku menyusul,” jawab Jung.

Yang mengganggu pikiran Jung sekarang adalah seorang gadis yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu, yang telah membuatnya jatuh hati karena senyuman dan permintaan meluluhkan hatinya kepada Jung. Sayang, Jung lupa menanyakannya.

“Jung, lekaslah pergi ke ladang. Hari sudah terlampau siang,” bujuk Nang Mhak lagi.

“Baiklah,” jawab Jung seakan berat untuk bangun dan menggapai cangkul di dekat tiang. Berjalan menuruni tangga pun dirinya seakan melayang tanpa tujuan.

Dari jauh, baru Phak saja mengayunkan cangkulnya di sana. Jung menghampiri Phak yang masih saja mengayunkan cangkulnya, Phak menoleh sebentar hanya untuk melayangkan senyum tipis, cara khas menyalami orang di kampung Mah Tong. Jung membalas senyum itu sambil duduk. Di antara tanah-tanah kosong, setelah pesta panen, sekarang juga sekosong hati Jung.

“Kau tidak ingin melepaskan cangkulmu barang sebentar, Phak?” tanya Jung akhirnya.

“Bukankah kau seharusnya segera memegang batang cangkul itu dan menghujamkannya pada tanah yang basah ini?” Phak malah balik bertanya.

“Aku belum ingin.”

“Kenapa?”

“Oh, Phak, sekarang ini kau seorang laki-laki dewasa. Kita besar bersama, bermain bersama, bertengkar dan baik lagi secara bersama-sama. Tapi kau masih tidak tahu juga?”

“Kau yang bodoh, bagaimana aku tahu kalau kau tidak beritahu aku,” balas Phak dan tetap sambil mengayunkan cangkulnya.

“Aku jatuh cinta, Phak. Temanmu ini sedang jatuh cinta,” jawab Jung sambil memegang dada dengan kedua tangannya seakan membanggakan perasaan yang sedang dirundungnya kepada Phak.

“Hah, hanya itu. Jatuh cinta,” sambung Phak tanpa ekspresi apa-apa.

“Ya, aku jatuh cinta,” kata Jung lagi membanggakan.

“Kepada siapa kau jatuh cinta kalau begitu?”

“Aku tidak tahu. Setidaknya aku mengenalinya dan akan aku cari lebih jauh tentangnya.”

“Ke mana kau akan cari tahu kalau kau cuma mengenalinya dalam gelap dan samar. Hah, aku rasa kaulah yang bodoh. Cinta memang membuat siapa saja berlaku bodoh,” kata Phak lagi.

“Setidaknya aku mencintai seorang gadis, itu yang tetap membuatku tetap waras.”

“Waras kalau kau menemui cinta yang  waras pula. Sekarang, aku rasa, kau sedang tidak waras, Jung.”

“Karena aku sedang jatuh cinta. Dan sekarang, biarkan aku sendiri untuk menikmati apa yang ingin aku rasakan. Mungkin aku akan menemukannya dalam mimpi,” jawab Jung dan meninggalkan Phak sendiri dengan cangkulnya.

“Aku tidak akan mengganggu, malah kau yang menganggu pekerjaanku sekarang. Kapan kau akan mengayunkan cangkulmu, Jung,” tanya Phak lagi.

“Nanti, Phak, nanti. Dalam mimpi.”

“Tidak dalam mimpiku.”

“Yah, tidak juga dalam mimpiku,” jawab Jung dan akhirnya sekarang Jung meninggalkan Phak yang sudah penuh keringat. Jung semakin jauh berjalan, ia masih saja mendukung cangkul di pundaknya dan tidak tahu kalau ia semakin jauh dari ladangnya.

*** ***

Pada sisi lain di kampung Mah Tong, ada sebuah sungai mengalir sejak lama di dataran itu. Dulunya sungai kecil dan tenang itu adalah parit yang disediakan untuk menjebak pihak lawan yang bersebrangan. Di bawahnya tertancap banyak bambu runcing siap melumat siapa saja yang terperosok. Ketika perang pecah, parit itu telah penuh dengan tubuh-tubuh beku dan darah membanjiri tanah dalam parit karena terlalu banyaknya tubuh terperosok. Hujan mengguyur deras mengisi celah parit sehingga membelah kampung Mah Tong menjadi dua bagian. Parit yang dulunya banjir oleh darah dari tubuh yang saling bermusuhan, sekarang berubah menjadi aliran sungai yang jernih. Ketenangannya memendam sejarah pahit dan cerita yang terus mengalir sejauh aliran itu akan bermuara. Sungai itu terlalu panjang untuk mencari pelabuhannya hingga tidak ada lagi yang ingin memikirkan terlalu jauh.

Sekarang, keheningan sungai itu diisi oleh tembang-tembang yang dinyanyikan oleh gadis-gadis yang mencuci pakaian dan merendam diri mereka dalam aliran sungai tersebut. Salah satunya adalah Marai, ia merendamkan tubuhnya di sana sambil ikut mendendang bersama dengan yang lainnya.

“Semalam memangnya kau pergi ke mana, sampai seisi kampung mencarimu, Marai?” tanya Ahm ingin tahu.

“Aku hanya ingin mencari suasana baru saja.”

“Tidak lainnya?” tanya Nhak sambil mendekati Marai.

“Aku ada bersamanya,” Sambung Mai tersenyum menggoda Marai. “Kami pergi ke pesta panen di kampung seberang, meski itu melanggar peraturan adat. Tapi kan kita tidak ketahuan. Semalam, aku lihat ia berhadapan dengan seorang pria gagah dan tampan,” tambah Mai lagi.

“Wah, benarkah seperti itu, Marai? Betapa beruntungnya kau bertemu dengannya. Apa kau mengatakan kepadanya untuk meluluhkan hatimu” tanya Ahm lagi. Marai semakin tersipu.

“Aku bilang seperti yang kau bilang, Ahm,” jawab Marai sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam air. Mendengar jawaban Marai yang lainnya semakin memandang satu sama lain, lalu mereka tertawa bersama-sama.

“Kau benar-benar gadis nakal, Marai,” kata Nhak ketika Marai sudah menyembulkan kepalanya dari dalam air sambil kembali menyiramkan air kepada Marai.

“Betapa beruntungnya pria itu,” kata Mai mencoba membayangkan bagaimana rupa wajah pria yang telah membuat Marai merasa seperti itu.

“Kau memang sungguh gadis nakal,” ulang Ahm menggoda.

“Sayangnya aku tidak tahu siapa dia,” jawab Marai dan itu membuat teman-temannya diam mendengar perkataan Marai yang terakhir itu.

“Kalau kau bersikeras, kau akan bertemu dengannya kelak,” bisik Nhak dan meneruskan nyanyinya sendiri.

*** ***

Ada dendang kecil dinyanyikan Marai di depan jendela kamarnya, ia melihat bulan itu sudah bulat penuh. Bayangan sinarnya seperti lentera redup. Marai tidak tahu apakah hatinya senang atau sedih. Ia jatuh cinta, tapi tidak tahu kepada siapa. Marai mendendang menunggui malam, atau menunggu ada yang menjemputnya. Ia ingin tidur tapi tidak bisa.

“Sayang, aku ingin berhenti berdendang dan langsung melelapkan pikiranku dan menemani tikar itu agar tidak merasa dingin. Aku ingin, tapi juga tidak ingin menghentikan dendang ini. Ataukah aku sedang merindu,” bisik Marai kepada dirinya sendiri di depan jendela yang menghadap kepada bulan dan malam yang kelam. Kamarnya meredup.

*** ***

Jung gelisah. Dalam tidurnya ia berada dalam sebuah pertempuran, Jung lihat sungai itu mengalir di antara bukit yang membelah kampung Mah Tong berubah kembali menjadi parit-parit. Jung mendengar banyak teriakan, kesakitan dan semangat yang membakar mereka untuk mengayunkan pedang. Ada satu wajah dikenali Jung lewat cerita ibunya, akrab dengan pikirannya dan tatapan itu begitu hangat, ia ingin berteduh di antara kelopak mata itu, atau Jung akan menghampiri dan mendekap erat tubuh itu. Jung berlari, ia ingin mendekat, wajah dan tubuh itu ingin dipeluk Jung. Sayang, sebelum tangan Jung sampai, tubuh itu telah terhempas jatuh ke dalam parit, sebilah pedang menyerempet tubuh itu dan melemparkannya ke dalam parit. Jung ingin menggapai dan meraih tangan yang mengembang kepadanya tapi tidak sampai dan merelakan kehilangan tatapan yang hangat kepada dirinya.

Jung tidak sanggup menatap ke bawah, ia ingin pergi dari tanah pertempuran itu dan ingin menemukan kesunyian di tempat lain, tapi tidak dilakukan, sesuatu menariknya kembali, sebuah wajah yang juga dikenali Jung beberapa waktu lalu, tapi ia tidak tahu siapa namanya.

Jung menerobos setiap teriakan yang datang ke arah telinganya dan mendorong jauh tubuh-tubuh yang jatuh ke arahnya, ia kembali ke tengah tanah pertempuran. Ada yang masih berdiam di sana, ada kelembutan yang tidak bisa dibiarkan berada di tempat seperti itu, ia ingin mengajak pergi dan menggapai tangan itu dan ia akan mengajaknya pergi. Yang dilihatnya tadi terulang kembali, baru saja Jung ingin menarik tangan itu, ada bayangan melesat dan membuat tubuh itu kembali menghempas dan masuk kembali ke dalam parit-parit. Jung diam di antara teriakan-teriakan yang terus menjelma.

“Tidaaaaaaaaaak!” teriak Jung dan langsung bangkit dari tidurnya. “Apakah ini pertanda,” bisik Jung pelan sambil menelusuri mimpi yang baru di alaminya.

*** ***

Sejak pertemuannya dengan Jung, Marai selalu menyendiri dan tidak ingin lagi keluar rumah. Kali ini, Marai keluar rumah, berjalan sendirian melewati tanah luas dan sungai yang membelah kampung Mah Tong, menyebrangi batas yang seharusnya tidak boleh dilalui. Marai melanggar batasan tanah adat dan semakin jauh dari tempatnya. Ada yang melihat Marai menyebrangi sungai itu dan memberitahu Nang Anai serta tetua kampung Mah Tong agar segera menjemput Marai supaya tidak terjadi sesuatu yang bisa mencelakai Marai. Tapi itu sudah terlambat.

Marai semakin jauh menelusuri bagian lain dari kampung Mah Tong dan menemukan apa yang ingin ditemukannya. Jung menaruh cangkulnya perlahan, seperti sentuhan itu yang menyuruhnya dan membalikkan tubuhnya. Marai sudah ada di hadapan Jung dan ia tersenyum kecil.

“Kau lupa mencariku untuk meluluhkan hatiku,” kata Marai akhirnya setelah Jung tidak bicara dan ia hanya menatap Marai. Jung masih diam.

“Bagaimana seharusnya aku meluluhkan hatimu sementara aku yang lebih dulu jatuh cinta dan membiarkanmu seorang diri dan menunggu terlalu lama. Siapa namamu?”

“Marai, Ksatria. Kau seharusnya berjuang sejak aku menyuruhmu menaklukkanku, kau tidak seharusnya membuatku terlalu lama menunggu sampai aku mencarimu. Aku melawan semua demi kau menaklukkanku,” jawab Marai.

“Apakah aku….”

“Jangan tunggu lebih lama atau sesuatu akan bergemuruh seperti halilintar dan itu akan memisahkan kita. Badainya terlalu besar untuk kuraih dan kurenangi. Kau atau aku tidak akan sanggup. Haruskah aku mengorbankan semuanya demi orang yang kutantang untuk meluluhkanku. Jawabannya adalah, kau harus menaklukanku. Maka, bawa aku sekarang.”

Tapi itu sudah terlambat, beberapa orang dari pihak Jung mengetahui itu, melihat hal demikian, Jung ingin melawan, lembut tangan Marai mencegahnya dan mengisyaratkan untuk pergi saja dari badai yang akan menenggelamkan. Jung membatalkan niatnya dan mengajak Marai pergi dari tempat tersebut, mencoba menghindar dari arak-arakan. Jung tidak mengerti, ia sendiri pun tidak mengerti kenapa hal seperti ini harus dirintangi dengan adat seperti itu. Jung melawan apa yang seharusnya tidak dilawan, tapi ia menarik tangan Marai dan sekarang ia yang akan melawannya, bukan Marai yang akan melindunginya.

“Aku tidak bisa lagi melindungimu, Jung, kurelakan kau pergi dengan restuku. Aku tidak bisa membela kalian, sekarang pergilah,” kata Nang Mhak ketika Jung datang kepada ibunya sambil membawa Marai di hadapannya. Jung tidak menyesal, waktu seakan begitu cepat berkelebat. Jung pergi membawa Marai dengan restu ibunya. Tapi Jung tidak tahu apakah restu ibunya dapat menyelamatkan dirinya dan Marai atau tidak. Jung tidak pernah tahu sampai akhirnya Jung dicegah di tengah jalan oleh arak-arakan dari pihak kampung Jung.

“Kalian telah melanggar perjanjian yang seharusnya telah mendamaikan semua yang ada di sini, kalian telah melangkahi sumpah-sumpah yang telah ditulis dalam adat. Sekarang hukum kalian tidak lepas dari semua sumpah yang diucapkan di atas leluhur kalian sendiri dan kalian telah menginjak-injak bagai sampah,” kata salah seorang tetua.

“Apa arti semua itu, sumpah itu tidak dilanggar, malah semakin dihormati bila yang dibela adalah dua hati yang dipisah hanya karena hal itu,” jawab Marai.

“Kau telah dibutakan, maka kau akan kembali dengan hati yang gelap dan pandangan yang buta,” jawab salah seorang lagi dan melemparkan debu ke mata Marai, perlakuan itu membuat Marai tidak dapat melihat dan matanya terasa perih, ia tidak sanggup lagi melihat. Marai merasa buta, gelap dan perih.

Melihat hal itu, Jung langsung membela marai dan menggapai tangan Marai agar tidak jatuh. Namun Jung ikut terjatuh melihat Marai kehilangan kendali karena pandangannya menjadi gelap dan tidak bisa mengenali Jung lagi selain dari suaranya. Akhirnya Jung melihat kesempatan, sebilah pedang yang terikat di pinggang seseorang, Jung menyambarnya dan ia ayunkan kepada orang yang telah membutakan Marai.

“Kau tidak akan berbuat bodoh, bukan?” kata seseorang.

“Tidak ada yang bodoh dalam mempertahankan apa yang telah membuatnya mampu untuk mencintai. Kalianlah yang telah dibutakan,” jawab Jung. Matanya nanar menerobos kumpulan itu. Jung menyambarkan pedangnya ke segala arah, hampir mengenai seseorang. Dan tiba-tiba saja, satu sayatan dalam mengenai pungung Jung dan membuatnya tersungkur seketika. Jung tidak lagi meneruskan apa yang ingin diperjuangkannya. Jung tidak merasa kalah.

“Kau sudah membayar dari apa yang kau langgar, dengan dirimu sendiri. Dan, kau yang dibutakan, telah kehilangan cahaya dari matamu sendiri. Kau juga telah membayarnya,” kata seseorang. “Kalian telah melihat mereka sudah membayar apa yang mereka langgar. Tidak ada lagi  urusan kalian di sini, sekarang kalian harus pergi. Tidak ada lagi hutang yang mesti dilunasi sekarang,” lanjutnya dan kumpulan kemarahan itu pergi dengan sendirinya.

“Terima kasih,” kata Marai, meski ia sudah kehilangan kedua pandangannya, tapi tidak telinganya.

“Tidak perlu. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi aku tidak dapat menghentikannya. Maafkan aku, Jung,” jawab seseorang yang ternyata adalah Phak.

“Kau sudah melakukan yang seharusnya, terima kasih, Phak,” kata Jung pelan dan setelah itu Jung pergi untuk selamanya.

*** ***

“Sekarang aku sudah menjadi orang yang didiamkan dalam kamarnya sendiri yang sempit. Biar cahaya itu meluaskannya, aku tidak mampu memandangya selain merasakan sesuatu membakar. Sayang, diri ini tidak ikut lumat dan menguap,” ucap Marai di depan jendela kamarnya.

Beberapa hari setelah itu, Nang Anai menemukan Marai tergantung kaku. Nang Anai merelakannya, itu sudah menjadi keputusan Marai sendiri, ia pergi melepaskan apa yang terasa berat di pundaknya, mencari cahaya lain, mencari apa yang telah membuatnya merasa dihargai, ia berkorban untuk kembali, untuk bersatu dengan apa yang telah dikorbankan Jung untuk dirinya. Konon, setelah Marai dikuburkan, ada yang melihat sosoknya berjalan dengan gembira dengan seseorang yang dicintainya, pada setiap purnama menggantungkan dirinya pada langit malam yang sunyi dan dingin hingga bulan berikutnya kembali muncul.

 

Tamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: